Kodok (bahasa Inggris: frog) dan katak alias bangkong (b. Inggris: toad) adalah hewan amfibia yang dikenal sebagai salah satu Khewan yang bisa meramalkan datangnya hujan. Kodok dan katak kawin pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat bulan mati atau ketika menjelang hujan. Saat itu kodok-kodok jantan akan bersuara nyaring untuk memanggil betinanya, dari tepian atau tengah perairan. Beberapa jenisnya, seperti kodok tegalan (Fejervarya limnocharis) dan kintel lekat alias belentung (Kaloula baleata), kerap membentuk ‘grup nyanyi’, (bukan berarti membentuk boyband lho!).
Beberapa katak jantan berkumpul berdekatan dan berbunyi bersahut-sahutan. Suara keras kodok dihasilkan oleh kantung suara yang terletak di sekitar lehernya, yang akan menggembung besar manakala digunakan. Wokok…! Wokok…! Wokok..! Biar gak ketuker, penting deh kita bedain antara kodok dan katak.
Kedua macam hewan ini bentuknya mirip. Kodok bertubuh pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak berekor (anura:a tidak, ura ekor). Kodok umumnya berkulit halus, lembap, dengan kaki belakang yang panjang. Sebaliknya katak atau bangkong berkulit kasar berbintil-bintil sampai berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya sering pendek saja, sehingga kebanyakan kurang pandai melompat jauh.
Keistimewaan katak bin kodok, sekali bertelur bisa menghasilkan 5000-20000 telur, tergantung dari kualitas induk dan berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun. Proses pembuahannya pun terjadi di luar tubuh. Kodok jantan akan melekat di punggung betinanya dan memeluk erat ketiak si betina dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina dan merangsang pengeluaran telur.
Pada saat yang bersamaan kodok jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina. Selain sebagai peramal hujan, katak juga bisa berfungsi sebagai indikator pencemaran lingkungan. Tingkat pencemaran lingkungan pada suatu daerah bisa dilihat dari jumlah populasi katak yang ditemukan di daerah tersebut. Semakin sedikit, berarti lingkungan yang bersangkutan sudah tercemar parah.
Untuk menghadapi para pemangsanya, kodok membela diri dengan melompat jauh, mengeluarkan lendir dan racun dari kelenjar di kulitnya. Ada yang menghasilkan semacam lendir pekat yang lengket, sehingga mulut pemangsanya akan melekat erat dan susah dibuka. Bahkan ada juga kodok beracun jika dimakan.
Seperti Dendrobates pumilio, kodok berukuran 18–22 mm dengan kulit beracun dari Amerika Tengah. Segala keistimewaan katak bin kodok van bangkong, pada hakekatnya tidak ada dengan sendirinya. Namun telah diciptakan sejak kali pertama oleh Allah yang telah menciptakan katak. Allah swt menegaskan: “Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya*. ” (QS. Huud, 11:56). So, ingat katak, ingat keMahaBesaran Allah swt. Dan kita sudah sepatutnya tunduk pake aturan Allah untuk ngurus kehidupan kita. Biar selamat dunia akhirat. Amiin. [Ridwan]
SWIKEE YANG KATANYA OKE
Kodok bagi sebagian orang dianggap kotor bin jijay. Tapi di tangan koki, bisa jadi hidangan yang katanya oke. Namanya Swike. Kalau di artikan “swikee” berasal dari dialek Hokkian (Tionghoa) sui (air) dan ke K (ayam), yang merupakan slang atau penghalusan untuk menyebut kodok sebagai “ayam air”.
Penyajian makanan ini yaitu sup, digoreng kering, atau ditumis. Swikee atau sweekee merupakan salah satu jenis masakan Cina. Masakan yang dapat dikelompokkan dalam jenis sup ini berbahan dasar paha kodok ijo (kodok sawah) dengan kuah berwana coklat, berasa manis kedelei perpaduan antara taoco dan kecap. Sebagai penyedap ditaburkan irisan bawang goreng dan seledri. Buat kita sebagai seorang muslim, pastinya gak asal caplok aja Swike yang udah tersaji di meja makan.
Cari tahu dulu hukumnya meski air liur sudah menetes. Dalam Islam, mayoritas pendapat madzhab mengharamkan daging kodok. Dalam hadits riwayat Ahmad, Abu Daud dan Nasa-i, bahwa shahabat Abdur-Rahman bin Utsman berkata: Ada seorang dokter yang menyebut obat pada Rasulullah, yang diantaranya menyebut “kodok” sebagai obat, maka Rasulullah saw melarang untuk membunuh kodok “. Imam Ali As-Syaukani (pengarang buku ” Nailul Authar “), setelah menyebutkan hadits tersebut lalu berkata : larangan Rasulullah saw untuk membunuh kodok tersebut, menunjukkan HARAMNYA MAKAN KODOK “.
dansetiap yang haram untuk dimakan, haram untuk dijadikan sebagai OBAT. Driser, jangan mentang-mentang penikmat kuliner kita maen serobot aja setiap jenis makanan termasuk swike. Masih banyak kok yang lebih enak dan halal bin thoyib ketimbang makan swike. Oke?[Ridwan]