Sabar menghadapi musibah adalah sebesar-besar arti sabar dimana sabar itu sendiri memerlukan kesabaran pula. Bala dan musibah menunjukkan adanya perhatian dan kasih sayang Allah. Oleh itu, bersyukurlah kerana syukur yang sedemikian setinggi-tinggi arti syukur. Inilah salah satu nasehat dari Imam Syafi’i. siapa yang tidak tahu sosok satu ini beliau adalah salah satu dari imam mazhab.
Namannya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafie bin Ubaidbin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al-Muttalib (ayah Abdul Muttalib kakek Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam) bin Abdi Manaf. Beliau bertemu nasabnya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada Abdi Manaf. Beliau bergelar Nashirul hadis (pembela hadis), kerana kegigihannya dalam membela hadis dan komitmennya untuk mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Imam Syafi’i rahimahullah dilahirkan bertepatan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah oleh karena itu orang-orang berkata : “telah meninggal Imam dan lahirlah Imam”. Ibnu Hajar menambahkan,” Imam Asy-Syafi’i dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di kota Asqalan. pada tahun 150 H/767 M dan wafat di Kairo, Mesir, pada tahun 204 H/820 M.
Setiap yang membahas biografi beliau pasti membahas kecerdasannya Pada usia 7 tahun yang telah menghafal Al Qur’an. Pada usia 10 tahun beliau hafal Al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Usia 15 tahun dengan izin gurunya yang bernama Muslim bin Khalid Az-Zanji untuk berfatwa. Suatu sifat dari Imam Safi’i adalah, jika beliau melihat temannya diberi pelajaran oleh gurunya, maka pelajaran yang dipelajari oleh temannya itu dapat beliau pahami.
Demikian pula jika ada orang yang membacakan buku dihadapan Imam Syafi’i, lalu beliau mendengarkannya, secara spontan beliau dapat menghafalnya. Sehingga kata gurunya : “Engkau tak perlu belajar lagi di sini (lantaran kecerdasan dan kemampuan beliau untuk menyerap dan menghafal ilmu dengan hanya mendengarkan saja)”Subhanallah! Kesungguhan beliau mencari ilmu di buktikan dengan mengadaikan rumahnya seharga 16 dinar untuk bekal mencari Ilmu ke Yaman.
Itu pun tidak cukup sehingga Imam Syafi’i harus bekerja untuk membiayai hidupnya selama menuntut ilmu di Yaman. Bukan hanya itu Syafi’i juga sangat tekun dan tidak kenal lelah dalam belajar. Selama menuntut ilmu, Syafi’i hidup serba kekurangan dan penuh penderitaan. Diriwayatkan, pernah karena kemiskinan dan ketidakmampuannya ia terpaksa mengumpulkan kertas-kertas bekas dari kantor-kantor pemerintah atau tulang-tulang sebagai alat untuk mencatat pelajarannya.
Karena sangat mengutamakan sunah, Syafi’i menjadi sangat berhati-hati dalam menggunakan qiyas. Menurutnya, qiyas hanya dapat digunakan dalam keadaan terpaksa (darurat), yaitu dalam masalah muamalah (kemasyarakatan) yang tidak didapati teksnya (nashnya) secara pasti dan jelas di dalam Alquran atau hadits sahih, atau tidak dijumpai pada ijmak para sahabat. Dalam penggunaan qiyas, Syafi’i menegaskan harus diperhatikan nash-nash Alquran dan sunah yang telah ada. Dalam mengambil dan menetapkan suatu hukum, Syafi’i memakai lima landasan, yaitu Alquran, sunah, ijmak, qiyas, dan istidlal (penalaran).
Kelima landasan inilah yang kemudian dikenal sebagai dasar-dasar Mazhab Imam Syafi’i. Mazhab Syafi’i ini menjadi acuan di kalangan Ahlus Sunah wal Jamaah. Selain sebagai ulama ahli fikih, Syafi’i juga dikenal sebagai ulama hadits, tafsir, bahasa dan kesusastraan Arab, ilmu falak, ilmu ushul, ilmu tarikh, dan ilmu qira’ah. Walau demikian beliu masih sangat rendah hati terbukti dari nasehatnya ”tiap-tiap perkara yang saya katakan padahal Rasulullah bertentangan kepada perkataan saya, Rasulullah itulah yang lebih utama perlu dituruti.
“ Driser, itulah sosok ulama teladan yang amat sangat layak dicontoh bin ditiru semangatnya dalam menuntut ilmu. Dalam keterbatasnaya, beliau tetap gigih menuntut ilmu sebagai cermintan dari nasihatnya. Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin kerana ia dapat menjaga dan membuat kamu cemerlang di dunia dan akhirat. So, keep learn…learn…learn..and share to others![Ridwan]