Tugas yang mana ya? Apakah tugas dari Mr. Brian? Ataukah tugas dari Mrs. Laila? Apa ada tugas yang lain?
“Walah, sampean bengong lagi, Riski?? Riski???” dia sengaja menjentikkan jemarinya di depan wajahku. Dia pikir aku tak mendengarkannya.
“Ohh, astaghfirullah, bukuku!!!” tugas dari Mr. Brian yang harus dikumpulkan besok terjatuh.
“Riski!! Sampean mau kemana? Aku belum selesai ngomong sama sampean to. . . .”
Di mana aku menjatuhkan barang sepenting itu? Sialan. Kenapa di saat seperti ini??!!! Tak adakah waktu lain atau barang yang lain saja yang hilang begitu? Ya Allah, bantu aku menemukannya.
Gedung fakultas teknik kampus Mulawarman itu lumayan luas loh. Nyari satu buku catatan yang hilang aja rasanya kayak nyari biji beras dalam lumpur. Ampun deh, keringat dan bau ketiak bisa-bisa mencemari siang bolong yang syahdu ini. Bayangin aja, manusia-manusia kelaparan yang baru keluar dari kelas juga bejibun numpuk menuh-menuhin pelataran gedung itu pada sibuk ngeliatin. Coba dibantu ya khan??? Biar dah, cium nih keringat gue!!!
“Riski!!!!”
“Astaghfirullahal ‘adzim!!!” ini akhwat apa enggak tau sopan santun ya?? Ngaget-ngagetin orang yang bukan mahramnya di depan umum. Oke kalau dia nggak merasa malu, tapi aku kan yang malu. Mau taruh di mana muka ini????
“Hei, eloe kayak baru ngeliat setan aja sih. Ini gue, Cinta. Lupa ya eloe. Yang tadi pagi bantuin eloe pungutin buku-buku eloe itu… loe pasti ingat gue donk…”
Dasar ini akhwat. Matanya bulat seperti boneka-boneka Barbie punya adikku di rumah. Sapuan eyeshadow brownie tipis itu manis sekali di matanya. Oh, ya ampun dia juga memakai eyeliner dan maskara seperti mamaku. Duhai hati, kelipan matanya menggoda iman ini. Astaghfirullahal ‘adzim, duhai hati, kau tak punya hak melihat kecantikannya. Akhwat seperti dia tak punya kelayakan untuk kau miliki, Riski. Duhai Rabb-ku, ampuni hati ini.
Ghodul bashor, ghodul bashor Riski. Tundukan pandanganmu.
“Afwan, apa anti melihat buku agenda biru saya?”
“What’s?? nama gue Cinta, bukan Anti. Aduuh, apa gue mesti kenalan lagi ya sama eloe??”
“Afwan saya ulangi, apa kamu melihat buku agenda biru saya? Saya kehilangan benda itu baru saja.”
Dia nampaknya seperti berpikir sesuatu. Apa dia akan mengulur-ngulur waktu? Oh, astaghfirullah… teguhkan hatiku dari iblis bermata indah ini ya Allah.
“Apa ini buku yang eloe maksud?” ia menunjukkan sebuah buku agenda bersampul biru gotic. Ya aku mengenal buku itu.
“Syukron, anti menemukannya. Boleh saya minta?” kuraih buku itu namun ia menariknya secepat kilat dariku.
“Hei, tunggu dulu.” Ia memainkan bukuku dengan jemari-jemari mungilnya.
“Astaghfirullahal ‘adzim, anti mempermainkan saya?!” aku meninggikan suara satu oktaf, hati dan wajah ini sudah sangat menahan rasa malu. Ingin rasanya aku sembunyi di lubang semut saat itu juga. Mata para pemburu gossip membelalak lebar menunggu reaksi akhwat di depanku ini.
“Enggak, gue cuma mau menawarkan sesuatu sama eloe. Yaa, itung-itung timbal balik karena gue udah nyelamatin buku eloe ini.”
“Afwan, saya tak mengerti. Bukankah itu barang saya, dan masih dalam hak milik saya?” dia benar-benar ingin mempermainkan aku rupanya. Astaghfirullahal ‘adzim.
“Oke, gue persingkat. Buku eloe gue kembaliin, asalkan eloe mau jalan sama gue? Bagaimana?”
Degg!!!
‘Audzubillahiminassyaithanirrajim. Ya Allah, andaikan akhwat di hadapanku ini mengenakan hijabnya dengan sempurna. Menutupi rambutnya sesempurna perintah-Mu dalam surah An Nuur ayat 31. Mengulurkan jilbabnya sepanjang tubuhnya sesempurna hukum-Mu dalam surah Al Ahzab ayat 59. Tentu aku tak bersusah payah menasehati atau menghindarinya seperti sekarang ini ya Allah…
Bila pun ia mengenakan hijab selayaknya demikian. Aku tak akan inginkan dia berjalan berdampingan di sampingku selama ia bukan mahram ataupun istriku. Tentu hanya manusia tak berakhlak yang menginginkan hal itu terjadi. Bukankah Allah pun telah menjanjikan seorang pendamping yang sesuai terhadap diri setiap insan. Wanita baik-baik akan mendapatkan lelaki baik pula. Dan sebaliknyapun demikian. Lelaki baik-baik akan mendapatkan wanita baik pula. Apa aku terlalu hina dan pantas mendapatkan akhwat tak berakhlak di hadapanku ini?
“Kalau begitu anti harus menikah dengan saya dulu?? Bersedia?” mungkin itu akan menjadi pertanyaan yang memborbardir keteguhan hatinya. Mungkin saja.
“What’s?” mata bulatnya membesar seperti ingin keluar dari tempurungnya. Walau begitu ia tetaplah iblis bermata indah. “Gila loe!!! Gue masih pengen kuliah!!”
“So, kita enggak bisa jalan bareng kalau begitu.”
“Berarti loe nolak tawaran gue??? Kalau gitu buku eloe akan tetap sama gue!”
“Enggak masalah, kalau anti suka. Buku itu buat anti saja. Saya bisa membuatnya lagi.” Jurus terakhir, ikhlas. Hahaha.
“Pokoknya gue tunggu sampai eloe nerima tawaran gue. Eloe bisa temuin gue kapanpun untuk ngambil buku ini…” Ia menyimpan buku agendaku itu ke dalam tas Gucci merahnya tergesa-gesa. Mungkin ia tak tahan dengan penolakkanku.
Hei, akhwat bermata indah. Tak semua keinginanmu bisa terkabulkan dengan cara seperti itu. Tak semua lelaki terjebak dalam tipu muslihat kecantikanmu. Cantikmu malah sarang neraka dunia bagi kami yang takut tergoda olehmu.
Hei, akhwat bermata indah. Tata akhlakmu dalam bingkai ketaatan. Hijablah cantikmu hanya untuk suamimu. Jangan biarkan lelaki asing menatapmu dengan tergiur oleh pesonamu. Cukuplah bidadari surga yang akan cemburu melihatmu karena akhlakmu. Duhai akhwat bermata indah, kau cantik tapi tak berakhlak.
***
Senin, 26 November
“Riski, ayolah masuk ke team volley kita. Andri baru keluar kemarin, team lagi kekurangan pemain nih.” Damar si kapten team memergokiku di kantin saat siang bolong, matahari merah itu menggantung tinggi di atas kepala. Panasnya cuaca, pedasnya kuas bakso Mang Joni, panas dan pedas lagi ocehan si Damar ini.
“Sorry, aku enggak bisa Mar.”
“Kenapa bro? gue lihat-lihat eloe jago juga tuh main volley kemarin sama Mirwan. Ayolah bro…”
Ini orang, apa enggak ngerti bahasa penolakanku ya? Kayaknya sangat jelas tuh kedengarannya. Bukan maksudku engak suka main volley atau benci sama orang-orang di dalam teamnya Damar. Kostum mereka itu loh, pamer aurat. Bukan hanya itu sih, kalau masuk dalam team atlet apapun juga sama aja, pasti banyak akhwat genit yang pada nontonin. Ogah ah tebar pesona, tebar dosa kali.
“Sorry, kamu cari orang lain aja ya. Aku enggak bisa.” Lebih menggiurkan baksonya Mang Joni ketimbang jadi pemain volley.
“Riski, nih ada yang naruh di lokermu tadi pagi. Sorry gue ambil, tapi enggak gue buka kok. Suer!!!” Si Bino albino menyodorkan sebuah bungkusan persegi tertutup rapi oleh kertas kado berdesign batik.
“Jazakallah, Bino. Dari siapa?”
“Hahhaa, mana gue tau. Kayaknya Mirwan tuh yang tau. Eloe tanya aja sama dia.” Begitu selesai menyampaikan hal tersebut ia berlalu meninggalkan jamaah pengunjung kantin yang mulai ramai.
“Mirwan!!”
“Ya??”
“Afwan, kata Bino, ente tau siapa yang memberikan ini untuk ana??”
“Sampean buka saja, nanti sampean tau dewe sopo sing kasih iki untuk sampean to Ris?”
Tampilan bungkusnya menawan, seperti akhwat-akhwat modis yang tampil eksis di luar sana. Lirik sedikit bisa kena denda. Bah, mahal amat yea.
“Ini kan buku agenda ana?” apakah akhwat itu?
Dia kembali walau hanya sekilas. Kini aroma kehadirannya tak sewangi sampo di mini market seperti waktu itu. Wanginya selembut sapuan angin. Tak berbau. Mata bulatnya tak bersapu bubuk pewarna kali ini. Polesan lipgloss di bibir ranumnya pun tak nampak sama sekali. Asli. Geraian rambut itu tak akan pernah terlihat lagi kini. Apa lagi body gitar spanyolnya. Hijab itu telah menjulur setinggi tubuhnya. Allah… kokohkan iman ini. Duhai hati, jangan kau gelitik aku seperti ini. Astaghfirullah, dia bukan mahramku. Maafkan segala penyakit hati ini. Engkaulah yang sanggup membolak-balik hati.
Assalamu’alaikum wr wb.
Teruntuk akhi Riski. Afwan bila mana sebelumnya ana telah bersikap tidak baik terhadap akhi. Ana mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini buku agenda akhi yang dulu ana simpan. Afwan lagi, ana dengan khilaf telah membuka buku agenda akhi dan membacanya. Namun dari sana ana banyak belajar tentang Islam. Alhamdulillah, mungkin dari sana Allah mencambuk ana.
Wassalamu’alaikum wr wb.