Hachiko. Film Hollywood yang super exciting. Diangkat dari true story di HJepang, yang menceritakan kisah seekor anjing jenis Akita (Akita Inu bernama Hachi) yang dipelihara oleh seorang Professor (dosen musik bernama Hidesaburo Ueno).
Cerita original mengenai Hachiko ini terkenal di Jepang dengan judul filmnya: Hachiko Monogatari en doramanya: Densetsu no Akitaken Hachi (Legenda Hachi si Anjing Akita) yang pada akhirnya Amerika Serikat me-remake film tersebut dengan setting ala USA namun tidak mengubah esensi dari cerita aslinya. Banyak hal yang menarik dari film yang durasinya tidak sampai dua jam ini. Lasse Hallström selaku sutradara begitu sukses mengangkat cerita Hachiko dengan mengkombinaiskan flavour in emotion dari dua negeri sebagai kulit cerita.
Saat penulis menonton film ini, kisahnya berasa sangat nyata dan menghanyutkan perasaan. Karena seluruh adegan-adegan Hachiko tuh natural banget. Gimana saat Hachiko begitu nyaman dengan Wilson Parker, sampai mereka bisa begitu akrab dan bersahabat. Entah Hachiko yang menemukan Parker atau sebaliknya, yang jelas, Hachiko sangat beruntung karena bisa dipelihara oleh Parker yang mau mencurahkan waktu en kasih sayangnya di sela-sela berbagai kesibukannya untuk mengurus Hachi.
Inilah salah satu daya tarik film asal negeri sakura ini. Film Hachi ala Hollywood ini beralur flashback. Berawal dari adegan cucu Wilson Parker yang bernama Ronnie ditertawakan oleh teman-teman satu kelasnya karena berkata blak-blakan bahwa Pahlawannya adalah Hachiko (Anjing kakeknya). Namun, saat Ronnie mengisahkan tentang Hachi (Hachi dalam nihongo artinya delapan. Dan delapan adalah angka keberuntungan bagi orang-orang Jepang), yang terjadi adalah seluruh teman-temannya menangis terharu.
Bayangin aja, Hachiko terus menunggu Parker di stasiun sampai 10 tahun (hingga Hachi pun meninggal di stasiun tersebut) tak peduli musim en cuaca padahal Parker tak akan bisa lagi bercanda dan bermain dengan Hachi karena sudah meninggal akibat serangan jantung. Ronnie mengisahkan selama Parker (kakeknya) mengurus Hachi, terjalin kedekatan yang sangat tidak biasa. Hachi sukar jauh dari Parker dan memiliki kecemburuan jika Parker dekat dengan manusia lain sekali pun manusia itu adalah istri Parker sendiri.
Di Jepang, kisah Hachiko ini begitu menginspirasi sampai-sampai Hachiko disimbolkan sebagai lambang kesetiaan. Ada patung perunggu Hachiko yang biasa dipakai oleh orang-orang Jepang saat membuat janji. Memang sih, how crazy menjadikan anjing sebagai pahlawan. Karena ada banyak manusia hebat di dunia ini yang bisa dijadikan teladan. Apalagi sebagai muslim. Islam tentu tak kehabisan stock untuk sosok normal dan layak diteladani.
Hanya memang, film Hachiko yang mengharukan ini cukup bisa membuka mata kita, bahwa sebuah ketulusan dan kesetiaan itu sesuatu hal yang niscaya ada jika kita menghadirkannya. Bahkan hewan sekali pun, bisa merasakannya. Jadi, janganlah sekali-kali menyakiti hewan ya?! En, untuk persoalan anjing sendiri, ia adalah hewan yang sama dengan hewan-hewan lainnya.
Tidak memiliki akal sehingga reaksi atas seluruh sikap yang tampak dari mereka, bukanlah hasil dari sebuah pemikiran apalagi pemahaman. Melainkan bentukan dari sebuah pola yang diberlakukan oleh seseorang atasnya en itu dilakukan berulang-ulang. Sehingga, inilah yang sebenarnya terjadi pada kisah Hachiko. Hachiko jelas tidak mengerti kalau majikannya telah meninggal (karena anjing nggak bisa mikir), sehingga ia selalu menunggu kepulangan majikannya selama bertahun-tahun di stasiun. Parahnya, tidak ada satu orang pun di sekitar Hachiko saat itu, yang memahami bahwa Hachiko seperti itu karena sebuah bentukan (proses penerapan pola).
Yang ada, Hachiko malah diperlakukan seperti hewan yang membawa peruntungan, dan dianggap sebagai pahlawan (idola). Kawaisou desu. Ya, selamat menonton saja buat D’Riser yang kepengen nonton filmnya. Semoga bisa mengambil ibrohnya dengan benar en bisa semakin yakin bahwa kesetiaan dan ketulusan itu memang sangat mahal. Maka beruntunglah jika kita mampu melakukannya en memberikannya. En lebih dari itu, manusia bukan anjing (hewan).
Jadi, sebagai manusia, seharusnya kita yang mau en bisa menjadi pahlawan bagi agama ini. Karena kita punya segudang potensi dan kemuliaan yang jelas-jelas ALLAH SWT sendiri yang melekatkannya kepada kita, manusia. Manusia adalah makhluk mulia. Dan manusia paling mulia di sisi ALLAH SWT adalah yang paling bertaqwa. Teruslah berjuang! Maketenaide ne! Be a Hero! Hmm! [Hikari]