Ust Ismail Yusanto

Namanya sudah tidak asing lagi di arena pertacuran politik nasional dan internasional sebagai jurubicara Hizbut tahrir Indonesia pembawanya cool dalm dan confident dalam menyampaikan ide syariah dan khilafah, bikin hati D’Rise bergetar dan membuat mata D’Rise berkaca-kaca. Subhanallah…jalan dakwah ini memang luar biasa, karena itu pilihlah sebagai jalan hidupmu. Hontou ni. Berikut petikan wawancaranya. Silahkan disimak!

Masalah di negeri ini sangat banyak seperti negerinegeri Islam lainnya. Ada yang bilang, “Urus sajalah dulu negeri sendiri baru negeri orang lain.” Tanggapan Ustadz?

Jawab: Memang, masalah yang dihadapi oleh umat Islam di negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia, sangatlah banyak. Benar juga, bahwa kita harus konsentrasi terhadap apa yang dihadapi oleh umat Islam di negeri ini. Karena pada dasarnya dakwah memang harus dimulai dari kalangan yang paling dekat dari diri kita. Tapi tidak berarti hal itu membuat kita boleh abai terhadap persoalan yang terjadi di luar diri kita atau di luar negeri kita, karena beberapa alasan. Satu, sesungguhnya umat Islam itu bersaudara. Maka ketika saudara kita tengah didzalimi, misalnya, meski mereka tinggal jauh dari negeri ini, kita tidak boleh tinggal diam.

 Dua, akibat perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, dunia kita saat ini sudah menjadi desa besar. Keadaan satu negara sangat tergantung dan dipengaruhi oleh negara lain. Maka, sangat boleh jadi, persoalan di dalam negeri kita ini, di antaranya dipengaruhi oleh keadaan negara lain. Oleh karena itu, kita tidak lagi bisa sekadar peduli terhadap keadaan di dalam negeri. Ketiga, meski itu bukan di dalam negeri kita, tapi persoalan itu sesungguhnya adalah persoalan kita. Misalnya, penjajahan atas wilayah Palestina.

Coba kalau penjajahan itu sampai merusak Masjidil Aqsha, masak kita mau tinggal diam? Keempat, apapun persoalan yang menimpa umat saat ini, sesungguhnya hanyalah akibat dari sebuah sebab yang lebih besar, yakni tidak adanya kehidupan Islam dimana di dalamnya diterapkan Syari’ah di bawah naungan Khilafah. Oleh karena itu, perjuangan umat saat ini harus diarahkan untuk tegaknya kembali kehidupan Islam itu sehingga setiap persoalan yang ada bisa diatasi secara tuntas.

Ada juga orang yang bilang, “..kita fokus saja dengan peran kita sebagai rakyat, tak usah sok ikut campur urusan pemerintah..”, Gimana tuh Tadz?

Jawab: Memang, setiap orang memiliki peran dan tanggungjawab yang berbeda-beda, dan karenanya akan dimintai pertanggungjawab akan peran dan tanggungjawab itu. Tapi hal itu tidak berarti membolehkan kita untuk tak acuh terhadap keadaan di sekeliling kita, karena sebagai Muslim kita wajib melakukan amar makruf nahi mungkar. Dan yang paling utama, amar makruf nahi mungkar itu ditujukan kepada para penguasa, terlebih bila kita tahu mereka akan melakukan kebijakan yang bertentangan dengan Syari’ah, maka wajib bagi kita sebagai rakyat untuk menentangnya.

Sebagai Jubir HTI, Ust pernah mengalami kejadian buruk yang mengancam perjuangan dakwah seperti yang dialami Jubir HT Pakistan-Naveed Butt? Oh ya.. apakah ada perkembangan terbaru terkait Beliau?

Jawab: Alhamdulillah, hingga saat ini saya belum pernah mengalami hal buruk seperti yang dialami oleh Jurubicarajurubicara HT di berbagai negara, seperti di Pakistan. Mungkin karena negeri kita baru lepas dari era otoritarianisme Orde Baru, sehingga cara-cara seperti itu sudah tidak lazim lagi. Allahu a’lam, keadaan yang kondusif seperti ini akan berlangsung sampai kapan. Mudah-mudahan sebelum berubah, Khilafah sudah berdiri.

Ada pun mengenai keadaan Naveed Butt, kemarin saat MK, saya sempat tanyakan kepada tamu kita dari Pakistan, beliau menjawab, tidak ada satu pun orang yang tahu dimana posisinya dan bagaimana keadaannya. Keluarga juga tidak tahu.

Di Pakistan, keadaan seperti ini acap terjadi. Seseorang hilang tak tentu rimbanya. Memang penguasa di sana sangat dzalim. Kita doakan semoga beliau selamat dan bisa segera kembali kepada keluarganya serta aktif kembali berdakwah. Sejauh ini yang kita lakukan adalah memprotes dan mempertanyakan kepada penguasa Pakistan, tapi mereka sendiri juga tidak pernah bisa memberikan penjelasan yang memuaskan

Ada pendapat: “Demokrasi sama dengan Islam”, benarkah?

Jawab: Ini pendapat memang sering kita dengar. Tentu pendapat yang mengatakan demokrasi sama dengan Islam, tidaklah benar. Dari akarnya saja sudah beda. Demokrasi lahir dari sekularisme, sedang Islam bertumpu pada kalimah tauhid Laa ilaaha illa-Llah. Mungkin benar ada satu atau dua unsur dari demokrasi, misalnya tentang musyawarah, yang kebetulan ada juga dalam Islam.

Tapi adanya unsur-unsur yang sama itu tidak cukup untuk kita menyimpulkan bahwa kedua hal yang sesungguhnya berbeda itu berarti sama. Apalagi pada kenyataannya musyawarah di dalam Islam sangatlah berbeda dengan praktek musyawarah dalam demokrasi. Musyawarah dalam Islam adalah hanya salah satu cara pengambilan keputusan yang terkait dengan hal-hal teknis pelaksanaan Syari’ah. Misalnya, ketika bepergian, kita boleh bermusyawarah mau shalat di masjid mana. Tapi jangan sekali-kali bermusyawarah mau shalat atau enggak.

Sedang musyawarah dalam demokrasi merupakan cara pengambilan keputusan untuk semua hal, termasuk hal-hal yang dalam Islam sudah jelas status hukumnya, seperti haramnya riba, atau tentang pernikahan. Hal itu, di dalam demokrasi, masih bisa dimusyawarahkan apakah pernikahan sesama lelaki dan sesama perempuan (same sex marriage) itu boleh atau tidak. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya di lebih dari 10 negara Eropa saat ini, nikah sejenis telah disahkan. Sementara dalam Islam, nikah sesama jenis, dilarang keras dan pelakunya akan dihukum mati.

Sebagian orang memiliki kecemasan berlebihan terhadap Khilafah jika memimpin dunia. Khawatir terjadi diskriminasi non muslim. Tanggapan Ustadz?

Jawab: Ini ketakutan yang tak berdasar. Fakta sejarah, warga non muslim di sepanjang Khilafah Islam bisa hidup damai sejahtera. Spanyol misalnya, pernah lebih dari 700 tahun dikuasai Islam disebut Espanyol in three religions, karena selain Islam yang berkuasa, hidup damai sejahtera pula orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Irak pernah lebih dari 400 tahun menjadi pusat daulah Khilafah, dan selama itu pula hidup damai sejahtera orang-orang Nasrani yang diantaranya melahirkan tokoh bernama Thariq Azis (pernah menjabat sebagai deputi PM di masa Saddam Husein). Secara normatif, tidak ada satu pun alasan yang bisa dijadikan dasar untuk rasa takut itu. Islam melarang memaksa non Muslim masuk Islam. Islam mewajibkan perlindungan non Muslim ahludz dzimmah, harta jiwa dan kehormatannya. Pendek kata, kalau mau hidup tenteram, damai sejahtera, hiduplah di bawah al-Khilafah

 Untuk acara Muktamar Khilafah 2013 kemarin, seperti apa pencapaiannya?

Jawab: Ada beberapa capaian yang kita dapatkan dari Muktamar Khilafah lalu. Yang utama tentu saja adalah adanya peningkatan kesadaran umat, khususnya mereka yang hadir pada acara muktamar di berbagai kota di Indonesia itu, tentang arti pentingnya Khilafah bagi terwujudnya kembali ‘Izzul Islam wal Muslimin (Kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin).

Semua orang yang kita temui atau kita wawancarai usai acara, serempak menyatakan hal senada. Bahwa tegaknya kembali Khilafah sangatlah penting. Oleh karena itu, penting pula untuk terus berjuang hingga cita-cita mulia itu terwujud Peningkatan kesadaran umat berlangsung cukup signifikan. Hal itu terlihat dari membludaknya peserta setiap acara MK di berbagai daerah, juga gegap gempitanya respon peserta yang hadir di sepanjang acara. Gelora Bung Karno seakan hendak runtuh tatkala secara serempak peserta yang hadir meneriakkan takbir dan yelyel “Khilafah, Khilafah, Khilafah” berulang-ulang. Itu semua menunjukkan bahwa mereka satu hati dan pikiran dengan semua ide atau gagasan yang dicetuskan dalam MK. Kedua, adalah tumbuhnya kepercayaan umat terhadap Hizbut Tahrir.

Di tengah krisis kepercayaan terhadap partai politik, termasuk partai politik Islam, akibat berbagai kasus korupsi, Hizbut Tahrir ingin menunjukkan diri (dalam arti positif) sebagai kelompok yang masih bisa diharapkan untuk membawa umat kepada terwujudnya cita-cita. Dan kepercayaan serta dukungan itu nyata. Coba perhatikan, sungguh mustahil menggerakkan umat, yang sebagiannya berasal dari daerah yang cukup jauh, bahkan ada yang harus menempuh perjalanan darat lebih dari 24 jam, untuk hadir dalam acara Muktamar, apalagi mereka harus membeli tiket. Bila dalam diri mereka tidak ada kepercayaan kepada HT mereka tidak akan ikut bersama HT dalam Muktamar kemarin.

Kepercayaan umat itu sangat penting karena kepercayaan akan melahirkan dukungan. Ketiga, melalui Muktamar ini, berbagai pihak bisa melihat, bahwa Hizbut Tahrir terbukti mampu menyelenggarakan acara besar dengan aman, megah, meriah dan terkendali. Ini akan menepis kekhawatiran atau tudingan sementara pihak yang menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah kelompok radikal yang akan membuat onar negeri ini. Kekhawatiran dan tudingan miring seperti itu kadang tidak cukup dibantah dengan lisan, tapi juga harus dengan tindakan.

Penyelenggaraan Muktamar yang sukses, insya Allah akan menepis semua itu. Bila hal ini bisa terus kita jaga dan kita tingkatkan, pada gilirannya siapa pun yang berpikir sehat dan obyektif, tidak akan bisa menilai secara negatif kehadiran HT, bahkan akhirnya akan merasa bahwa HT diperlukan untuk membawa negara ini ke arah yang lebih baik

Pesan-pesan untuk D’Riser (pembaca D’Rise)?

 Jawab: Tidak ada kemuliaan kecuali hidup dengan dan untuk Islam, dan tidak ada kemuliaan Islam kecuali dengan penerapan Syari’ah dan tidak ada penerapan Syari’ah secara kaffah kecuali di bawah naungan daulah Khilafah. Oleh karena itu, tetaplah berjuang untuk tegaknya Syariah dan Khilafah.

Kalau hidup tidak untuk dakwah, lalu mau untuk apa? Kalau dakwah bukan untuk tegaknya Syari’ah dan Khilafah lalu mau dakwah untuk apa? Dan bagaimana Syari’ah dan Khilafah bisa tegak bila dakwah tidak dilakukan secara istiqamah? Karena itu, tetaplah dakwah secara istiqamah untuk tegaknya Syari’ah dan khilafah. [Hikari

Ust Fatih Karim : Hidup ini Penuh Pilihan, Pastikan Taqwa dalah Pilihanmu

Di usia mudanya, cowok asal Medan ini sudah menjabat  sebagai Founder dan CEO sebuah perusahaan Event  Organizer yang mumpuni. Tak hanya menekuni bisnis,  ayah beranak satu ini aktif berdakwah. Sehingga seorang Felix  Siauw bisa mengenal Islam dan sama-sama aktif berdakwah.  Kita kenalan yuk!

Pak Fatih, gimana sih sebaiknya remaja muslim  menyikapi budaya tahun baru, Vdays atau lainnya  yang ngumpet dibalik tren remaja?

Setiap muslim, apapun yang hendak dikerjakannya mestinya  mengetahui hukum syara atas perbuatannya.Ketika itu haram  ia pasti meninggalkannya dan ketika wajib bersegra ia  melaksanakannya.Perayaan tahun baru, Vdays dan sejenisnya  jelas bukan budaya islam haram ikut merayakannya karena  berarti kita sama dengan yang  merayakannya,nauzubillah..banyak mengkaji islam akan  memperkuat ketaatan kita pada Allah jauh dari Allah  mendekatkan kita pada kemaksiyatan

Sepenting apa sih kita membuat visi misi di dalam  kehidupan?

Sangat sangat penting.Visi itu adalah dream (impian). Beda  orang yang hidup punya impian dengan yang tidak  memilikinya. Semakin besar dan mulia sebuah impian  maka hidupnya semakin dinamis, kreatif, tidak mudah  menyerah dan selalu optimis dalam kehidupannya. Hari-harinya pun semakin berarti. Tidak memiliki visi berarti  mati. Bermimpi itu gratis kok. Nah visi tanpa aksi itu jadi  basi. Aksi tanpa visi namanya pake jurus dewa mabok  hahaha. Apalagi gak ada visi, dijamin jadi generasi galau!

Visi dan misi seperti apa yang mendatangkan  kemuliaan hidup?

Allah menciptakan kita dengan anugrah potensi yang luar  biasa dalam diri. Semua ditujukan agar manusia menjadi  mulia (taqwa). Bagaimana agar kita menjadi manusia  paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Jika tidak, maka  kita hina seperti binatang ternak. Semakin taqwa manusia,  maka semakin mulialah ia dihadapan rabbNya, bermanfaat  bagi seluruh manusia.  

Bapak kan seorang Da’i sekaligus pengusaha,  apa sih kunci sukses Bapak selama ini?

 Visi hidup yang jelas tergambar. Iradah (kehendak) yang  kuat dan bersabar mencapainya. Senantiasa hidup  bersama orang- orang shalih dan sudah pasti berharap  hanya pada Allah dan percaya akan janjiNya.

Materi apa saja yang Bapak bawakan dalam  mengisi kajian?

Tergantung ngisi kajian dimana. Tentu beda kebutuhan  materi di remaja dengan kalo ngisi kajian di Ibu- ibu dan  kalangan perkantoran misalnya. Tapi materi Aqidah selalu  menjadi dasar bagi semua materi lainnya

Bagaimana cara Pak Fatih mengelola kegiatan  bisnis dan dakwah yang keduanya pasti sangat  menyita perhatian?  

Saya buat prioritas. Mana yang penting dan mendesak,  yang penting namun tidak mendesak. Semua orang Allah  anugrahkan waktu yang sama. Tidak ada yang beda.  Setiap detiknya sangat berharga karena waktu akan habis  dan takkan kembali. Tapi Dakwah bagi saya adalah  sumber kemuliaan. Darinya amal kita bukan hanya  bernilai individu tapi berkah dan terus bertambah  selamanya. Rasul Saw bilang “Siapa yang menganjurkan  kebaikan maka baginya pahala seperti orang mengerjakan  kebaikannya “. Gimana gak asik tuh. Pahalanya ngalir  terus meski kita telah tiada. Investasi masa depan dunia  akhirat yang tiada rugi, ya berdakwah!

Pernahkan Bapak mengalami kegagalan  selama menjadi pengusaha, bagaimana  menyikapinya?

Gagal dan sukses itu satu paket. Jadi orang sukses pasti  pernah alami kegagalan. Tapi dari kegagalan itu kita ambil  pelajaran berharga yang sangat bermanfaat agar tidak  terulang kembali. Keledai aja gak mau  jatuh pada lubang  yang sama untuk kedua kalinya. Malu dong kalo sama  dengan keledai. Hehehe… Menyikapi kegagalan dengan  selalu yakin akan pertolongan dan janji Allah bagi orang  bersabar, dijalani dan dinikmati.

Bagi-bagi dong ke DRISER, cerita unik di balik  dunia dakwah?  

Dulu saya alergi banget liat aktifis dawah. Ngeliatnya aja  males, apalagi jadi seperti mereka. Bahkan saya selalu  menentang dan menghalangi teman-teman yang  berdakwah. Allah lembutkan hati saya dan akhirnya saya  menjadi seperti mereka. Malah sekarang saya giat  mengcloning orang agar jadikan dakwah itu hidup dan  matinya.

Pesan-pesan untuk D’Riser?

Hidup di dunia ini sebentar kok, cuma tempat  singgah.semua pasti kita tinggal kecuali amal shalih.  Perjalanan kita masih panjang. Setelah alam rahim, kita  masuk alam dunia. Belum selesai, kita akan masuk dalam  alam kubur lanjut lagi ke alam akhirat. Jadi jangan buang  waktumu dan potensimu hanya untuk maksiyat dan hura-hura. Berbuat taatlah sekarang sebelum menyesal tiada  guna. Hidup ini penuh pilihan, pastikan taqwa adalah  pilihanmu![]

Remaja Islam Harus paham Islam Secara Utuh

Pada tanggal  10 Maret 2012 kemaren, Hotel Le Palace di  Tunisia menjadi tempat lahirnya sebuah konferensi  Pperempuan internasional untuk pertama kalinya.  Ngumpulnya perempuan dengan berbagai latar belakang profesi  dari seluruh dunia itu bukan untuk ngegosip bareng atau sekedar  hang out. Tapi untuk mendapatkan gambaran sekaligus penjelasan  bagaimana Khilafah memiliki solusi jitu dan praktis bagi berbagai  masalah politik, ekonomi dan sosial yang menimpa kaum  perempuan di negara mereka. Dan tahu nggak, Hikari dari D’Rise  berkesempatan untuk ngobrol dengan salah satu delegasi dari  Indonesia. Mbak Iffah Ainur Rochmah yang menjabat sebagai Juru  Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Kita simak yuk cuplikan  obrolannya.

Pastinya, seru ya mbak waktu kemaren ikut Konferensi di  Tunisia. Bagi-bagi dong kesan-kesannya?  

Subhanallah, sungguh luar biasa. Konferensi Perempuan di Tunisia  itu benar-benar konferensi bersejarah. Tokoh-tokoh perempuan dari  negara-negara di dunia Arab, Asia Tenggara, Afrika bahkan Eropa  dan Australia hadir membawa pesan sama. Kaum perempuan dan  generasi di negara mereka sengsara dan rusak karena kapitalisme.  Mereka juga mengajak pada satu upaya perbaikan yang sama yakni  dengan menerapkan syariat Islam dan memperjuangkan Khilafah  Islamiyah.

Ada nggak sih mbak kaitannya konferensi kemaren  dengan keadaan remaja yang bobrok saat ini?  

Jelas ada kaitannya dengan remaja. Para tokoh perempuan  yang menyampaikan masalah di negara mereka juga  menyinggung kondisi generasi yang sangat memprihatinkan.  Anak-anak tidak mendapat pendidikan yang selayaknya dalam  keluarga, karena ortunya nggak faham Islam. Juga para  remaja yang lebih bangga memamerkan budaya Barat yang  menyesatkan, bergaya hidup hedonis dan tidak punya cita-cita  luhur. Di negara-negara Arab pun sudah ada model kontes  seperti di sini ada Indonesian Idol, di sana ada Arab Idol.  Kondisi remaja yang seperti ini kan nggak boleh kita sepelekan,  harus ada perbaikan. Dan perbaikannya adalah dengan  adanya aturan yang baik yang berasal dari Allah, yang  melindungi remaja dari kerusakan, termasuk dari pengaruh  budaya barat.

Apa ada Muslimah dari kalangan remaja juga yang hadir  disana?  

Ada. Beberapa remaja dari Tunisia. Beberapa remaja  membantu panitia menyiapkan acara konferensi. Juga ada  remaja dari Yaman dan Sudan yang hadir bersama ibundanya.  Mulai pagi sampai sore hampir malam, remaja-remaja itu  nggak kelihatan bete, mereka tetap konsen menyimak.  MasyaAllah sepanjang acara, para remaja juga meneriakkan yel  ‘al mar’ah turiid khilafah Islamiyah’ (kaum perempuan  menginginkan Khilafah Islamiyah). Bahkan mungkin dalam hati  para remaja itu mengikrarkan ‘al fatah turiid Khilafah islamiyah’  (Remaja ingin tegakkan Khilafah Islamiyah).

Memang dalam Konferensi Perempuan Internasional di  Tunisia kemarin apa saja yang dibahas?

Konferensi menampilkan orasi dari tokoh-tokoh perempuan 15  negara membahas tentang pandangan Islam tentang hak-hak  dan status mulia yang dimiliki perempuan, juga tentang jaminan  negara Islam (Khilafah Islamiyah) terhadap  kesejahteraan dan  pemenuhan hak kaum perempuan. Artinya  melalui konferensi ini  membongkar kebohongan orang-orang barat yang menganggap  perempuan  muslimah  membenci  syariah  Islam  karena  mengekang kebebasan perempuan.

April sarat dengan isu pembahasan emansipasi. Apa Islam mengenal istilah emansipasi? Bagaimana cara Islam  meluruskan hal ini?

Islam tidak mengenal emansipasi. Emansipasi kan berasal dari  bahasa Inggris yang artinya pembebasan, merdeka. Berarti  sebelumnya terbelenggu dan terjajah dong. Sedangkan Islam  menganggap sejak lahir perempuan sudah memiliki hak-hak dan  kedudukan yang mulia, bahkan setara dengan laki-laki jika ada  iman dan taqwa. Dalam hadits dikatakan “perempuan adalah  saudara kandung yang setara dengan laki-laki.” Mungkin  emansipasi dan kesetaraan gender memang pernah dijadikan  harapan di negara-negara barat yang dulu hidup di era  kegelapan (dark ages), perempuan mendapat diskriminasi dan  tidak punya hak apa-apa. Tapi jangan kaum muslimah, juga  remaja muslim ikut-ikutan dong! Yang ada malah emansipasi dan  kesetaraan menjadi topeng Barat untuk mengekspor budaya  rusaknya agar diadopsi perempuan muslimah

Kenapa ya Mbak, banyak sekali perempuan saat ini malah  lebih bangga dikenal sebagai wanita karir ketimbang  menjadi seorang IRT?

Benar sekali, memang bukan tanggung jawab yang ringan untuk  menjadi ibu yang melahirkan generasi dambaan umat. Tapi bisa  dibayangkan apa jadinya bangsa ini kalau ngga ada yang mau  menjadi ibu karena nggak bergengsi, beda dengan wanita karier.  Bikin bangga menyandang status sebagai wanita karier. Hari ini  terjadi demikian karena pemahaman yang lemah terhadap Islam.  Tidak memahami kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada  seorang ibu. Di sisi lain,  kampanye kesetaraan gender semakin  gencar lewat media dan kebijakan pemerintah.

Belakangan, kerasa banget semakin gencarnya gerakan  kaum feminis yang katanya berjuang untuk membela  perempuan. Menurut Mbak?

Justru sebaliknya. Bukan membenahi tapi malah menambah  masalah kaum perempuan. Kemiskinan dan kerasnya kehidupan  kapitalis kan sudah ditanggung perempuan. Mari kita fikirkan!  Dengan  semakin banyak dampak buruk gerakan feminisme-gender yang kita lihat seperti perceraian karena istri menggugat  cerai, anak-anak terlantar karena ibunya mengejar karir,  perempuan terjerat kasus-kasus korupsi dsb mestinya kan tidak  ada lagi yang mengajak pada kesetaraan gender. Tapi kok  sekarang malah semakin gencar, banyak dana-dana dari asing  digelontorkan, juga banyak organisasi gender didirikan. Berarti  ada misi khusus. Apa misi nya? Jelas menghancurkan kaum  perempuan agar tidak menjadi ibu berkualitas dan agar tidak  lahir generasi berkualitas di tengah kaum muslim. Sebuah misi  busuk yang kita wajib bongkar dan menunjukkan kesalahannya  pada umat.

Pesan-pesan untuk D’Riser?

Jadikan membaca sebagai habits untuk menambah  wawasan, dan amalkan semua pemahaman Islam yang  kalian dapatkan.

Adakah follow up terhadap para peserta Konferensi?

Ya, semua delegasi, termasuk kami bertiga delegasi Indonesia  diharapkan menyuarakan hasil konferensi ini kepada semua  kalangan. Menyampaikan ke pemerintah, tokoh-tokoh yang tidak  hadir, ke media dsb bahwa kaum perempuan di seluruh dunia saat  ini telah memiliki model perjuangan yang baru. Bukan lagi  perjuangan kesetaraan gender, tapi bekerja keras menegakkan  khilafah islamiyah. Khilafah akan menjadi contoh ideal terwujudnya  kehidupan harmonis, keluarga sakinah, perempuan berdaya, dan  generasi berkualitas. Nah, sobat D’Riser, juga bisa berperan nih.

Turut mengkampanyekan hasil konferensi internasional ini. Ikut  menyuarakan ‘Remaja smart/berkualitas hanya dengan syariah dan  khilafah’, setuju kan?

Islam sendiri, kaya gimana sih ngatur peran perempuan  dalam beraktivitas di area publik? Subhanallah perempuan diberi hak istimewa oleh Allah. Sepanjang  hidupnya, dia tidak punya kewajiban mencari nafkah. Ayahnya,  saudara laki-lakinya atau suaminya akan menanggung  seluruh  biaya hidupnya. Kalo mereka nggak mampu negara wajib  memberikan santunan. Jadi perempuan berkiprah di publik adalah  untuk menambah kemuliaan dirinya dengan mengamalkan ilmu,  menolong orang yang tidak mampu dan melaksanakan kewajiban  amar makruf nahi mungkar juga dakwah. Berkiprah di publik untuk  meningkatkan ketaqwaan, berarti nggak akan meninggalkan  kewajiban lain dong! Nggak akan melalaikan shalat, membuka  aurat apalagi mengabaikan anak dan suami. Nggak akan terjadi  itu. Kalau sekarang kan perempuan bekerja keluar rumah karena  desakan kemiskinan, dorongan kebebasan, ingin mengecap gaya  hidup barat dst. Makanya banyak yang justru menabrak rambu-rambu syariat.!

Kira-kira  apa  yang  bisa  remaja  lakukan  untuk  turut  berkontribusi menuju solusi, perubahan dan kebangkitan  umat?

Remaja Islam  harus faham Islam  secara utuh, bangga dengan  identitasnya sebagai seorang muslim. Lihatlah dalam sejarah, kita  memiliki sejarah sebagai umat yang mulia, berperadaban tinggi dan  tidak  ketinggalan  jaman/kuper karena konsisten  melaksanakan  islam. Saat ini banyak remaja terpesona budaya barat kan karena  Islam tidak diterapkan dan sejarah kejayaan Islam ditutup tutupi oleh  musuh-musuh Islam.  Karenanya manfaatkan masa muda untuk  mengajak sesama remaja turut berjuang mengembalikan kehidupan  Islam dalam naungan Khilafah

SALMAN ISKANDAR : Jadilah Penyeru Islam dengan Menulis

Penulis sudah jadi pilihan hidupnya. Sehingga  tiada hari dilewatkan tanpa menulis dan  membaca. Tak heran jika produktifitas  Senior Editor (Supervisor Lini Remaja) Penerbit Mizan  ini seolah tak terbendung. Karya tulisnya sudah banyak  menghiasi etalase toko buku. Dan Alhamdulillaah, Isa  dari Drise berkesempatan ngobrol dengan salah satu  penulis ideologis, Salman Iskandar. Lets cekidot!

Seberapa penting menulis ?

Penting dunk. Apalagi bagi saya pribadi yang dah berazzam bahwa  menulis adalah bagian dari aktualisasi diri ato wujud gharizah baqa saya  sebagai manusia. Saya mo dikenal sebagai penulis, bukan sebagai petinju,  pegulat ato yang lainnya. Jadi, ketika orang lain denger nama saya, dia pasti  langsung tahu bahwa Salman Iskandar adalah seorang penulis, bukan  petinju, pegulat ato yang lainnya. Apalagi, saya dah ngerasain gimana  asyiknya menulis, dari mulai berpayah-payah berburu referensi, bersuka ria  menikmati fee ato royalty hingga digadang-gadang oleh penerbit bak  selebriti. Trus, saya juga suka inget dengan generasi Islam dulu yang begitu  antusias menulis kitab hingga ngelupain kesenangan dunia. Mungkin, di  antara D’Riser dah tahu Imam Bukhari yang menyibukan diri menulis hadits  shahih dan menghimpunnya dalam satu kitab dengan mengabaikan  keinginannya sendiri untuk menikah hingga akhirnya tinta sejarah mencatat,  Imam Bukhari sampai akhir hayatnya tidak sempat menikah. Baginya,  menghimpun hadits-hadits shahih yang diperuntukan bagi umat, jauh lebih  penting daripada menikah yang hanya untuk kepentingan sendiri. Disinilah  arti penting menulis bagi muhadits paling otoritatif ini. Keren, kan?!

Apakah menulis bisa jadi pegangan hidup?

Jelas sangat bisa, dah banyak kok, buktinya orang-orang sukses yang  hidup dari nulis. Di level dunia, ada Dan Brown, JK Rowling, Aidh al-Qarni.  Bahkan, tukang ngedongeng kek Walt Disney, HC Andersen and tukang  ngomik kek Stan Lee. Mereka hidup survive dari nulis buku. Nah, untuk  level Indonesia ada Habiburrahman el-Shirazy, Andrea Hirata, Asma  Nadia, A. Fuady, Tasaro GK. Bahkan, yang suka ngebanyol kek Raditya  Dika ato Pidie Baiq, buku-buku mereka bisa nembus penjualan best  seller. Jadi, dari nulis buku, kita bisa dapet penghasilan. Nah, kalo  diseriusi, pasti jadi sarana kita meraih rizki dari Allah Swt. Kalo, bahasa  kerennya adalah kasbul ma’isyah. Termasuk bagi founding father negeri  ini, Bung Karno sebelum jadi RI-1 menjadikan nulis sebagai upayanya  menghidupi keluarga karena BK gak mo kerja di perusahaan milik  pemerintah kolonial.  Bahkan, dari nulis, para penulis sukses itu gak sekadar mendapatkan  pegangan hidup, tapi malah semangat menjalani kehidupan lebih baik. Mo  bukti? JK Rowling saat nulis serial Harry Potter yang ngeraih predikat mega  best seller di seluruh dunia itu, ia tulis saat masa depresi karena gak punya  kerjaan. Ato mo bukti yang lebih keren, Aidh al-Qarni nulis La Tahzan saat  di jeruji besi, Buya Hamka nulis Tafsir al-Azhar saat dibui, Bung Karno nulis  Indonesia Menggugat saat mendekam di Penjara Banceuy, Sayyid Quthub  nulis Fi Zhilal lil Qur’an saat di penjara juga. Nulis telah jadi sarana  perjuangan bagi mereka.       

Apakah menulis bisa memperbaiki generasi remaja saat ini?

Pasti ada. Apalagi kalo kita hubungkan dengan tabiat kita  sebagai Muslim. Bukankah Imam Hasan pernah bilang, nahnu du’at  qabla kulli syai’in… kami ini adalah para penyeru sebelum jadi  apapun? Nah, saat kita ngaku jadi penulis maka sebelumnya, kita  kudu nyadar bahwa kita ini adalah Muslim yang punya kewajiban  jadi penyeru. Tentu, yang diserukan itu adalah Islam. Trus, kita juga  kan dah tahu, Islam itu adalah diinulah yang diturunkan tuk ngatur  hidup manusia. Jadi, saat kita tahu bahwa hidup manusia kini dah  carut marut, termasuk kehidupan para remajanya maka untuk  ngubah itu semua, kita menyerukan Islam sebagai solusinya.  So, kalo kita mo jadi penulis maka jadilah penyeru Islam.  Ringkasnya begini, jadilah penyeru Islam dengan menulis. Tuh,  nyambung kan? Kondisi remaja kini yang dah jauh dari Islam dapat  kita perbaiki dengan mengajak mereka memahami Islam dengan  benar melalui tulisan yang kita buat. Istilahnya, berdakwah melalui  tulisan.

Bagaimana kondisi dakwah dalam tulis menulis?

Saya kira sudah cukup lumayanlah, saya lihat nyaris tiap hari,  ada saja para penulis baru ato penulis muda yang berkarya di media  massa. Di antara mereka pun dah ada yang berani mengusung ide-ide Islam sebagai arus utamanya. Bahkan, kalo kita mo jujur, setiap  jama’ah dakwah ato juga komunitas Muslim, kini dah punya media  opini yang dikelola secara profesional. Ini bisa jadi salah satu  parameter seberapa gebyar dakwah Islam telah diterima  masyarakat. Namun, kalo bicara soal dakwah Islam ideologis, saya  kira kita harus lebih berpacu lagi. Masih banyak PR yang harus kita  benahi lagi.

Bisa berbagai motivasi agar terus semangat menulis ?

Rahasianya, ya? Saya telah jatuh cinta. Maksudnya gini,  gak dibayar pun, saya dah suka nulis, apalagi dibayar secara  profesional. Jadi, emang karena saya dah mencintai aktivitas nulis ini  hingga bisa terus eksis sampe kini. Apalagi saya juga doyan baca  sejak kecil, jadi saya butuh sarana penyalurannya, yaitu dengan  nulis. Fakta juga membuktikan bahwa para penulis adalah mereka  yang terkategori maniak buku ato pembaca buku yang paling lahap.  Saya sendiri, tiap pekan selalu saja dapet buku-buku baru, makanya  tempat-tempat favorit saya adalah toko buku, book fair, lapak buku  bekas dan perpustakaan!  Terus, pada banyak forum kepenulisan, saya juga sering  ditanya soal beginian, apa motif saya hingga mo jadi penulis? Saya  bilang, motif saya ada tiga; cinta, aktualisasi diri dan kasbul  ma’isyah. Hehehe… di awal tadi dah dibilang juga, kan?

Apa pesan untuk para driser ?

Hehehe… kek mo segera mati aja, ada pesan-pesan ato  wasiat segala. Pesan apaan, ya? Ah ya, D’Riser ini kan mayoritas  para remaja, kan, ya? Kalo gitu, saya pengen ngutip  pernyataannya Imam Muhammad Abu Hamid al-Ghazali yang  bilang bahwa jihadnya anak-anak muda itu adalah membaca dan  menulis. Nah, anggap saja baca dan nulis di sini sebagai medan  perang ato arena pertempuran bagi para D’Riser. Dengan  semangat muda kalian maka berikanlah yang terbaik untuk Islam  dan umatnya demi memenangkan peperangan menghabisi  kekufuran dan kemungkaran. Hehehe… jadi inget quote-nya  penulis The Cronicles of Draculesty dan Sabil, deh… Menulis  adalah berjuang! Hayo ah, kita berjuang dan berperang melalui  tulisan. Tuh, D Rise dah siap nampung karya kreatif kalian?!