Pionir Vaksinasi

Hingga zaman kiwari, vaksinasi masih menjadi bahan perdebatan baik itu di kalangan kaum muslimin ataupun non muslim. Sebagian percaya bahwa vaksin merupakan konspirasi zionis untuk mengurangi populasi manusia di dunia. Ih syerem.

Terlepas dari kontroversi tersebut, tahukah D’Riser, ternyata teknik vaksinasi dibawa ke Eropa dari Turki Utsmani lho! Mereka menyebut teknik tersebut Ashi, atau “menanam”, yang merupakan pengembangan dari tradisi pengobatan tradisional suku Turki Seljuk.

Buat D’Riser yang belum konek, vaksinasi merupakan proses medis ketika seseorang diberi organisme penyebab penyakit yang telah dilemahkan atau dalam dosis kecil, sehingga merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi untuk penyakit tertentu.

Pengembangan sebuah vaksin baru bisa memakan waktu 8-12 tahun, dan sebuah vaksin harus dites dengan sangat teliti sebelum dinyatakan aman untuk dikonsumsi publik. Bangsa Turki menemukan, jika anakanak mereka diinokulasi (inokulasi = pemasukan bakteri, virus, atau vaksin ke  dalam tubuh melalui luka atau melalui alat  yang digoreskan pada kulit) dengan cacar  sapi (cow pox) yang diambil dari tetek hewan ternak, mereka tidak akan terkena penyakit cacar (smallpox) yang lebih mematikan.

Teknik ini kemudian diperkenalkan di Eropa di kisaran tahun 1714 – 1716 M, melalui laporan yang diterima oleh Royal Society of London dari Dr. Emanuele Timonius dan Jacob Pylarini yang menjelaskan metode inokulasi dari Turki. Dr. Timonius merupakan penerjemah resmi untuk Wazir Agung Turki Utsmani Huseyn Pasha ketika Perjanjian Karlowitz tahun 1699. Walaupun penyakit cacar saat itu tengah mewabah di Inggris, laporan ilmiah itu ternyata tidak mempengaruhi pandangan para tabib di Inggris yang masih cenderung konservatif.

Teknik vaksinasi Turki ini mulai dilirik ketika Lady Mary Wortley Montagu, istri dari duta besar Inggris untuk Daulah  Sebuah perangko Turki yang diterbitkan tahun 1967 untuk memperinga ti 250 tahun vaksinasi cacar di Turki Utsmaniyah, melihat sendiri praktek vaksinasi yang dilakukan dokter-dokter Utsmani. Montagu sendiri yang sebelumnya pernah terkena penyakit cacar, sangat takjub dengan teknik tersebut, dan tanpa ragu menginokulasi anaknya dengan metode Turki.

Dari Adrianople, pada April 1717 Lady Montagu menyurati temannya Sarah Chiswel di Inggris, “… Aku akan mengatakan satu hal yang pasti akan membuatmu berharap dirimu berada disini. Penyakit cacar, yang ganas dan umum diantara kita, disini tidak berbahaya samasekali dengan penemuan Ashi. Pekerjaan itu dilakukan oleh wanitawanita tua yang akan memasukkan racun cacar ke dalam pembuluh darahmu dengan sebuah jarum besar (rasanya tidak lebih sakit dari tergores). Pasien anak-anak  bermain sepanjang hari dalam keadaan  sehat … kemudian mereka mulai terkena demam … dan dalam 8 hari mereka telah sehat seperti sedia kala ….”

Setelah Montagu kembali ke Inggris tahun 1721 ia pun menyebarkan teknik vaksinasi Turki tersebut, namun ia menghadapi penentangan sengit, bukan cuma dari kalangan gereja yang memang  sudah biasa menentang penemuan ilmiah, tetapi juga dari kalangan tabib. Mungkin mereka kira vaksin itu konspirasi Islam untuk menghancurkan Eropa kali yaa.

Namun berkat “kegigihan” Montagu, teknik Ashi akhirnya menyebar dan terbukti sukses. Sementara, dalam literatur barat disebutkan bahwa pionir vaksin adalah Edward Jenner, bahkan Jenner disebut sebagai bapak immunologi. Padahal, penemuan Jenner tercatat pada tahun 1796. Kalau istilah “vaccination” itu sih memang yang pertama kali menggunakan adalah Jenner. Namun konsep vaksinasi itu sendiri ternyata sudah dipraktekkan oleh dokterdokter Utsmani sebelum Jenner brojol ke  dunia.

Tahun 1805 Muhammad Ali Pasha diangkat sebagai Wali untuk wilayah Mesir dan Sudan, dan melakukan modernisasi di berbagai bidang, termasuk pengobatan dan vaksinasi. Muhammad Ali kemudian memelopori upaya pemberantasan penyakit cacar yang kala itu mewabah di pedesaanpedesaan Mesir.

Upayanya itu mulai terlihat  hasilnya pada tahun 1819, dan dua tahun  kemudian inokulasi diterapkan pada angkatan bersenjata Mesir serta pasukan  wajib militer dari Sudan.  Barulah pada tahun 1840, Daulah Utsmaniyah memulai upaya pengimplementasian vaksinasi untu rakyatnya dalam skala besar.

Daulah juga menetapkan undang-undang yang menyatakan bahwa vaksin cacar harus tersedia dan siap digunakan oleh masyarakat serta bebas biaya. Ketika terjadi outbreak cacar pada tahun 1845, Daulah membangun pos-pos vaksinasi di seluruh kota serta memelopori program untuk mendatangkan pelajar-pelajar dari berbagai provinsi ke Universitas Ilmu Kedokteran Daulah Utsmaniyah untuk di-training teknik vaksinasi.

Subhanallah… sangat beralasan untuk merindukan kembali kehadiran Khilafah Islamiyah ala minhaj annubuwwah. Yuk bergerak! [Isaak] Sumber: Smallpox inoculation and the Ottoman  contribution: A Brief Historiography 1001 Inventions, Muslim heritage in Our  World

Penerbang Pertama

Zaman dahulu kala, pada abad 9 masehi seorang lelaki paruh baya “nekat” melompat dari menara masjid di Cordova. Ups, ini bukan upaya bunuh diri karena putus cinta lho, tapi untuk membuktikan bahwa manusia pun bisa terbang melayang di udara. Peristiwa ini menurut sejarawan Phillip K Hitti merupakan percobaan ilmiah yang pertama kali yang dilakukan manusia untuk terbang.

Dialah Abbas ibnu Firnas, sang penerbang pertama, bukan Wright bersaudara, atau Leonardo da Vinci. Nama lengkapnya adalah Abbas AbulQasim ibnu Firnas Ibnu Wirdas al-Takurini,  lahir di kota Izn-Rand Onda, Andalusia (sekarang Ronda, Spanyol) pada tahun 810 masehi. Sebagaimana banyak ilmuwan  Muslim di zamannya, Ibnu Firnas adalah seorang polymath, yaitu ilmuwan yang  menguasai sejumlah bidang ilmu yang  berbeda-beda. Beberapa bidang ilmu yang  ditekuni Ibnu Firnas diantaranya kimia, fisika,  kedokteran, astronomi, sastra, dan juga  musik. Jadi bisa dibilang Ibnu Firnas adalah seorang tukang insinyur serba bisa.

Beberapa temuan Ibnu Firnas diantaranya adalah jam air (jam yang dikendalikan oleh aliran air yang stabil) yang disebut Al-Maqata, mekanisme untuk memproduksi gelas tak berwarna, lensa baca, alat pemotong batu kristal, berbagai planisphere (alat untuk  mengetahui bintang dan rasi bintang pada waktu tertentu) yang terbuat dari gelas, dan alat untuk simulasi pergerakan planet dan bintang. Konon di rumahnya terdapat kamar dimana orang bisa melihat bintang, awan, bahkan petir, yang dihasilkan oleh mekanisme yang terdapat di ruang bawah tanah rumahnya.

Tetapi dari sekian banyak penemuan Ibnu Firnas, yang dianggap paling spektakuler dan fenomenal adalah alat terbang buatannya. Ujicoba penerbangan pertamanya adalah ketika ia melompat dari sebuah menara masjid di Cordova pada tahun 852 masehi. Alat yang dipakai Ibnu Firnas dalam percobaan tersebut adalah semacam jubah longgar, yang dilengkapi dengan kerangka yang terbuat dari kayu, sehingga membentuk sayap. Ujicoba ini juga disaksikan oleh warga Cordova yang penasaran dengan penemuan baru Ibnu Firnas.

Sayangnya alat yang digunakan dalam percobaan ini kurang berhasil membuat Ibnu Firnas terbang melayang, tetapi, jubah yang dipakainya ternyata memperlambat laju jatuhnya Ibnu Firnas, sehingga ia hanya cedera ringan. Jubah inilah yang menjadi cikal bakal parasut. Ujicoba penerbangan Ibnu Firnas berikutnya tercatat pada tahun 875 masehi, dan dilakukan dari menara di gunung Jabal al’Arus dekat Cordoba dan disaksikan banyak  orang yang antusias dengan percobaan- percobaan Ibnu Firnas selama itu. Kali ini Ibnu Firnas menggunakan sebuah alat yang menyerupai layang gantung atau gantole yang dikendarai sendiri oleh ibnu Firnas, padahal usianya waktu itu sudah 65 tahun! Tidak heran jika banyak penonton yang mengkhawatirkan keselamatannya, bahkan sebagian menyangka Ibnu Firnas sudah gila.

Peristiwa ini direkam oleh sejarawan asal maroko, Ahmad Muhammad Al-Maqqari, yang menyebutkan bahwa berdasarkan testimoni dari beberapa penulis yang terpercaya yang mengaksikan langsung percobaan tersebut, Ibnu Firnas berhasil terbang dan menempuh jarak menempuh jarak terbang yang cukup signifikan, bahkan berhasil kembali ke tempat asalnya meluncur.

Sayangnya proses pendaratannya kurang mulus sehingga Ibnu Firnas mengalami cedera parah di punggungnya. Walaupun Ini adalah percobaan terkahir Ibnu Firnas dalam penerbangan, namun ibnu Firnas terus berkarya dalam bidang lain, sampai wafatnya 12 tahun kemudian pada tahun 887 masehi. Usaha Ibnu Firnas dalam penerbangan bukanlah usaha ilmuwan Muslim yang terakhir.

Pada tahun 1630-1632 M, Hezarfen Ahmad Celebi di Turki berhasil menyeberangi selat Bosporus di Istanbul. Ahmad melompat dari menara Galata yang tingginya 55 meter dan berhasil terbang dengan pesawat layangnya sejauh kira-kira 3 kilometer serta mendarat dengan selamat. Di Eropa, percobaan seperti yang dilakukan Ibnu Firnas baru dilakukan sekitar  135 tahun kemudian oleh Eilmer of Malmesbury, seorang rahib dari Inggris.

Menurut catatan sejarah Eilmer yang menggunakan alat yang mirip dengan Ibnu Firnas melompat dari menara gereja dan berhasil meluncur sejauh 201 meter selama 15 detik, tapi gagal mendarat sehingga kedua kakinya patah. Menurut sejarawan Lynn Townsend White, Jr., aksi Eilmer ini diduga terinspirasi dari kabar percobaan Ibnu Firnas, yang didengarnya dari Pasukan Salib.  

Ujicoba penerbangan berikutnya dilakukan oleh Leonardo da Vinci (1452-1519) dari Italia dan Otto Lilienthal (1848-1896) dari Jerman, hingga pada tahun 1900 Wilber dan Oliver Wright menyempurnakan bentuk sayap dan menambahkan mesin pada bangun pesawat dan berhasil terbang. Tapi dunia tidak akan lupa pada jasa Abbas ibnu Firnas, sang penerbang pertama. Karena jasanya itu, NASA menamai sebuah kawah di bulan dengan nama Ibnu Firnas Crater. Keren![Isaak]

Kamera Pertama

Kamera adalah salah satu penemuan terpenting yang pernah diciptakan manusia. Dengan kamera, manusia bisa Kmerekam dan menampilkan segala hal dalam bentuk gambar statis maupun bergerak, mulai dari makhluk bersel satu yang imut, sampai galaksi yang amat besar. Tapi, tahukah kamu, bahwa prinsip dasar dari semua jenis kamera yang ada, dicetuskan seribu tahun yang lalu oleh ilmuwan muslim?

Yep, ilmuwan muslim itu adalah Ibnu al-Haitham, atau dikenal juga dengan Al-Hazen. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Muhammad ibnu AlHasan ibnu Al-Haitham, lahir di Basra (Iraq) tahun 965 M dan wafat di Kairo pada tahun 1039 M. Beliau adalah salah satu ilmuwan terkemuka di abad pertengahan, dan menulis lebih dari 200 karya ilmiah.

Walaupun memiliki kontribusi penting dalam bidang matematika, astronomi, pengobatan, dan kimia, prestasinya yang paling menonjol adalah dalam bidang fisika khususnya optik. Atas prestasinya itu beliau dikenal sebagai “bapak optik dan bapak metodologi penelitian ilmiah”.

Prinsip dasar kamera ditemukan oleh Al-Haitham dalam eksperimen di dalam sebuah kamar gelap (Al-Bayt Al-Muzlim) yang memiliki lubang kecil pada salah satu dindingnya. Suatu kali di luar kamar tersebut diletakkan 5 buah lentera di depan lubang kecil, ternyata kelima lentera itu diproyeksikan di dinding yang berlawanan secara terbalik. Ketika salah satu lentera itu dihalangi, salah satu bayangan lentera di dinding itu juga hilang.

Percobaan ini membuktikan cahaya bergerak lurus, beliau juga menyadari, walaupun lim sumber cahaya itu memasuki satu lubang yang sama, tetapi kelimanya tidak bercampur menjadi satu cahaya. Fakta ini mengilhami beliau mengenai cara kerja mata. Hingga saat itu orang-orang mempercayai ajaran Plato, bahwa mata memancarkan cahaya untuk memindai benda (extramission theory), tapi Al Hazen membuktikan sebaliknya, bahwa benda-bendalah yang memantulkan cahaya yang masuk dan tercermin di dalam mata. Percobaan di kamar gelap atau AlBayt Al-Muzlim tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa latin sebagai “camera obscura”, istilah itu pertama kali digunakan oleh Johannes Kepler (1571- 1630).

Percobaan-percobaan Ibnu Al Haitham tentang optik dijelaskan dalam karyanya yang berjudul Kitab Al-Manazir atau buku optik. Menurut Bradley Steffens dalam karyanya berjudul “Ibn al-Haytham: First Scientist” mengungkapkan bahwa Kitab AlManazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. Steffens juga menyatakan bahwa Al Haitham adalah ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar ruangan ke dalam gambar dengan kamera obscura. Hingga abad ke 16, seseorang harus benarbenar masuk ke dalam ruang gelap untuk bisa mengamati objek yang dipantulkan.

Semakin kecil lubang cahaya, bayangan yang dihasilkan semakin tajam. Kepler kemudian menambahkan lensa pada lubang cahaya dan membuat kamera obscura dalam bentuk tenda, sehingga bisa dipindah-pindah. Saat itu belum ada cara untuk menyimpan bayangan yang dihasilkan kamera obscura, kecuali dengan menjiplaknya secara manual. Baru pada tahun 1685, Johann Zahn menciptakan kamera obscura yang cukup kecil untuk digunakan sebagai alat bantu gambar portabel.

Kamera foto pertama yang bisa menggambarkan citra ke dalam sebuah media secara otomatis, diciptakan oleh Joseph Nicéphore Niépce pada tahun 1826. Media yang digunakannya adalah lempengan timah yang diolesi minyak khusus. Lempengan ini disimpan di dalam kamera obscura dan terpapar selama 8 jam oleh sinar matahari yang cerah. Kamera ini kemudian disempurnakan oleh Louis JM Daguerre dengan menggunakan media berupa lempengan berlapis perak. Kamera yang disebut Daguerreotype ini menjadi populer dan sering dipergunakan untuk mengambil gambar dari tokoh-tokoh terkenal. Percobaan demi percobaan terus dilakukan untuk menyempurnakan media penyimpanan foto.

Tahun 1881 Peter Houston menciptakan kamera roll film yang pertama. Tujuh tahun kemudian George Eastman mendirikan perusahaan Kodak dan mempopulerkan kamera roll film dengan harga terjangkau, sehingga menjadikan fotografi sebagai tren baru. Seiring dengan perkembangan teknologi, tahun 1975 ditemukanlah kamera digital pertama oleh Steven Sasson, seorang teknisi dari perusahaan Kodak.

Dengan ditemukannya kamera digital, dunia potret memotret pun kini menjadi sangat praktis dan mudah dilakukan oleh siapa saja. Begitulah penemuan kamera yang diawali dengan kamera obscura karya Al-Haitham yang mampu mengubah peradaban dunia. Ironisnya, seribu tahun setelah wafatnya ibnu Al-Haitham, Basra, kota kelahirannya sendiri, dihancurkan oleh Amerika dengan misil-misil Tomahawk yang dipandu melalui kamera. Ironis![Ishaak]

ROBOTIKA PERTAMA

Kalau ditanyakan, siapakah yang paling depan di dunia  robotika, mungkin hampir semua orang kompak menjawab:  KJepang! Nggak heran, sebab Jepang memang sudah banyak  menghasilkan robot-robot super canggih seperti Doraemon,  Astroboy, Gundam dan sebagainya. Hihi, itu mah anime dong.

Di  dunia nyata, ASIMO, AIBO dan Wakamaru merupakan contoh  pencapaian Jepang di dunia robotika. Tapi tahukah kamu, ternyata  konsep robotika sudah ada sejak zaman baheula dan dipraktekkan  oleh para ilmuwan muslim sejak 1000 tahun yang lalu! Ciyus nih! Beberapa sumber menyatakan bahwa Leonardo da Vinci  yang hidup di abad 15 masehi sebagai pelopor robotika. Padahal  jauh sebelum da Vinci, telah ada Banu Musa bersaudara (Ahmad,  Muhammad dan Hasan bin Musa bin Shakir) yang hidup di abad 9  Masehi.

Banu Musa bersaudara yang hidup di masa Khilafah  Abbasiyah ini menulis Kitab Al-Hiyal, yang dikenal juga dengan  Book of Ingenious Devices, yang membedah sekitar 100 perangkat  mekanik serta cara penggunaannya. Sebagian perangkat itu  terinspirasi dari karya ilmuwan-ilmuwan terdahulu, dan  sebagiannya adalah karya cipta mereka sendiri.

Beberapa ciptaan Banu Musa bersaudara di antaranya  adalah alat suling otomatis yang merupakan pionir mesin yang bisa  diprogram. Suara suling tersebut dihasilkan dari uap panas, yang  memainkan musik sesuai dengan pola yang bisa diatur oleh  pengguna. Tiga bersaudara ini juga merancang dan membuat  berbagai macam air mancur otomatis, yang bentuk pancaran  airnya bisa berubah dari satu bentuk ke bentuk lain secara  periodik.

Ada juga perangkat otomatis lainnya seperti lampu  minyak otomatis, dan keran otomatis, kebanyakan alat-alat itu  memanfatkan tekanan air. Selain Banu Musa bersaudara, ilmuwan pelopor bidang  robotika lainnya adalah Al-Jazari (1136–1206), yang merupakan  ahli mekanika yang paling terkemuka dalam peradaban Islam.  Karya tulis beliau yang paling monumental adalah kitab Al-Jami’  Bayna ‘l-‘ilm wa-‘l-‘amal al-nafi’ fi sinat’at al-hiyal atau The Book of  Knowledge of Ingenious Mechanical Devices.  Kitab ini merupakan hasil dari  25 tahun penelitian dan praktek Al-Jazari pada berbagai perangkat mekanik.  Buku ini menjelaskan secara rinci 50 alat  yang dikelompokkan menjadi 6 kategori,  yaitu (1) Jam air dan lilin, (2) Perangkat  untuk jamuan minum (3) Perangkat  bekam dan wudhu (4) Air mancur dan  seruling otomatis (5) Mesin pompa air  (6) dan alat-alat lainya seperti kunci  kombinasi dan sebagainya.

Salah satu karya Al-Jazari  adalah jam gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda  untuk menggerakkan sistem mekanis secara otomatis, yang dalam  interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung  berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami  pengembangan Robot masa sekarang. Kini replika jam gajah  tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai  bentuk penghargaan atas karya besarnya.  

Jam gajah ini membuat Donald Routledge Hill, seorang  sejarawan sains dan teknologi sekaligus insinyur terkagum-kagum.  ”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu  penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi  untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin.” Hill  jugalah yang menerjemahkan kitab Al-Jazari ke dalam bahasa  Inggris. Karya Al-Jazari yang lain misalnya mesin robot berbentuk  sebuah perahu terapung di sebuah danau yang ditumpangi empat  robot pemain musik; dua penabuh drum, satu pemetik harpa, dan  peniup seruling.

Robot ini diciptakan untuk menghibur para tamu  kerajaan dalam suatu acara jamuan minum. Karena prestasinya tersebut maka wajar jika Al-Jazari  dinobatkan sebagai bapak robotika, dan modern engineering,  sebab temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan  mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion engine,  crankshaft, suction pump, programmable automation. Bahkan  menurut Ensiklopedia Britannica, karya-karya Leonardo da Vinci  kemungkinan besar dipengaruhi oleh automata klasik buatan Al-Jazari. So, kalau masih berpikir bahwa islam itu ketinggalan jaman,  think again![]