SEJARAH SERU : HILANGNYA SUMUR ZAMZAM

Majalahdrise.com – Semua orang pasti tahu Sumur Zamzam. Sebuah sumber air pemberian Allah swt. yang sejak ribuan tahun lalu selalu mengalir dan nggak pernah kering. Sumber air yang luar biasa banget ini sudah diminum oleh jutaan bahkan mungkin milyaran orang, dan nggak abis-abis. Tapi tahukan D’Riser bahwa Sumur Zamzam dahulu bukan seperti apa yang kita lihat sekarang ini?

Bahkan pernah terjadi bahwa Sumur Zamzam ini hilang dari peradaban umat manusia. Nah lho! Zaman dahulu kala, ribuan tahun lalu, jauh sebelum masa Nabi Muhammad saw., lembah Mekah adalah tempat yang gersang dan sepi. Tak ada satu pun orang yang mau tinggal di sana. Sebagaimana dikisahkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya, datanglah Nabi Ibrahim as. bersama istrinya, Hajar, dan putranya yang masih bayi, Ismail.

Sesampainya di lembah itu, Ibrahim menurunkan Hajar dan Ismail dengan penuh kesedihan dan sambil menangis, kemudian berpaling dan hendak pergi. Hajar takut dan tidak mengerti tentang mengapa suaminya tega meninggalkannya di tempat yang amat sunyi itu.

“Mengapa kami ditinggalkan di sini?” Tanya Hajar sambil menarik-narik lengan baju Ibrahim, sementara tangannya yang lain menggendong Ismail. Ibrahim tidak sanggup menjawab dan hanya menangis. Hajar terus mengikuti suaminya yang hendak pergi dan terus bertanya, namun tak kunjung mendapat jawaban. Tetapi Hajar tahu bahwa suaminya adalah seorang nabi, maka dia pun bertanya seperti ini. “Apakah semua ini perintah Allah kepadamu?”

Ibrahim tak sanggup bersuara, dan hanya mengangguk pelan. Saat mendapat jawaban seperti itu, Hajar melepaskan pegangan tangannya kepada lengan baju Ibrahim, kemudian berkata,

“Kalau begitu, Allah takkan menelantarkan kami.”

Hajar pun melepaskan pegangan tangannya pada lengan baju Ibrahim, kemudian melepas suaminya pergi. Sebuah pertunjukan kepasrahan, kesabaran, dan keikhlasan yang tiada bandingannya. Singkat cerita, Allah pun menolong Hajar dan Ismail dengan memancarkan Sumur Zamzam (beberapa riwayat menyebutkan air itu terpancar karena kepak sayap Jibril di atas pasir). Saat air itu memancar, Hajar segera membendungnya sambil berkata

“zamzam… zamzam…”, yang artinya

“berkumpullah… berkumpullah,” dari bahasa Babilonia kuno.

Memancarnya air itu membawa kebahagiaan. Tak lama kemudian, datanglah rombongan Bani Jurhum yang berasal dari Yaman. Mereka hendak pindah ke negeri Syam karena tempat tinggal mereka tepatnya di negeri Saba telah berubah menjadi gersang. Ketika mereka melewati Mekah dan bertemu dengan Hajar dan Ismail beserta sumur Zamzam, mereka tidak jadi ke negeri Syam, tetapi malah tinggal di Mekah. Terbentuklah perkampungan awal Bani Jurhum di Mekah. Bani Jurhum ini orangnya santun dan sopan-sopan. Hajar dan Ismail pun tinggal bersama-sama mereka.

Waktu pun berlalu, Ismail tumbuh makin dewasa dan Mekah semakin ramai. Ismail pun diangkat menjadi nabi dan menikah dengan gadis dari Bani Jurhum. Ismail pun mendakwahkan tauhid kepada Bani Jurhum dan seluruh penduduk Mekah hingga mereka semuanya beriman. Saat itu tak ada yang menyembah berhala, hanya Allah swt. Ketika Ibrahim datang ke Mekah, Allah memerintahkan ayah dan anak itu untuk membangun kembali Ka’bah yang dahulu pernah dibangun oleh kakek moyang manusia, Adam as.

Sepeninggal para nabi itu, Bani Jurhum dan seluruh penduduk Mekah tetap menyembah Allah swt. Waktu pun berlalu, datanglah serangan dari sebuah kabilah Arab yang ganas, Bani Khuza’ah. Mereka tertarik dengan kota Mekah dan Sumur Zamzam dan mereka tertarik untuk menguasainya. Bani Khuza’ah ini berasal dari Yaman juga, hanya saja karakter mereka buas dan ganas. Mereka juga tidak menyembah Allah swt. Mereka pun menyerang Bani Jurhum dan kota Mekah, hingga mereka berhasil menguasai kota suci itu.

Saat keadaan makin genting, dan Bani Jurhum merasa bahwa mereka akan kalah, mereka menimbun Sumur Zamzam agar Bani Khuza’ah tidak bisa mengambil airnya. Sumur Zamzam pun menghilang. Ratusan tahun kemudian, Sumur Zamzam berhasil ditemukan kembali oleh seorang lelaki yang kemudian menjadi penguasa kota itu, dia adalah kakek Nabi Muhammad saw. sendiri, Abdul Muthallib.[]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 54

GARDEN OF DEATH

Majalahdrise.com – Mangkatnya Rasulullah saw. pada 632 Masehi adalah musibah yang amat besar bagi umat Islam. Kabilah-kabilah murtad pada nongol hampir di seluruh jazirah Arab. Ada juga kabilah yang ogah bayar zakat dan bahkan, sebagaimana yang dikisahkan Imam Ibnu Katsir, solat Jumat cuma dilaksanakan di Makkad dan Madinah. Parah banget nggak sih?

Khalifah Abu Bakar ra. kemudian mengambil tindakan tegas untuk memerangi semua kalangan yang dimurkai Allah itu. Salah satu kabilah terkuat yang murtad adalah Bani Hanifah yang tinggal di kawasan Yamamah. Mereka dipimpin oleh seorang lelaki yang mengaku nabi, Musailamah al-Kadzab. Khalifah Abu Bakar mengirim jenderalnya yang terbaik, Khalid bin Walid, untuk menumpas gerombolan murtad ini. Perang Yamamah pun pecah antara tentara Islam di bawah pimpinan Khalid bin Walid dan bani Hanifah di bawah pimpinan Musailamah al-Kadzab.

Imam Ibnu Katsir mengisahkan dalam Bidayah wan Nihayah: “Pada peperangan ini tampak kesabaran dan keuletan para sahabat yang tiada bandingannya. Mereka terus menerus maju ke arah musuh hingga Allah menaklukkan musuh, dan orang kafir lari tungganglanggang. Kaum Muslimin terus mengejar mereka sambil menebas leher-leher mereka, dan mengayunkan pedang ke arah mana saja yang mereka maui. Maka terdesaklah orang-orang kafir hingga Kebun Kematian (Hadiqatul Maut). Para sahabat dan pasukan Islam dengan semangat jihad yang berkobar terus menekan pasukan kafir. Salah seorang penguasa Yamamah, Muhakkam bin Thufail, memberi isyarat kepada anak buahnya agar membuka gerbang besar kebun itu dan seluruh pasukan kaum murtad itu masuk ke dalam kebun. Naasnya, Muhakkam bin Thufail yang sedang berpidato untuk memerintahkan anak buahnya masuk ke dalam kebun harus tewas di tangan Abdurrahman bin Abu Bakar.

Abdurrahman melepaskan sebatang anak panah ke leher Muhakkam hingga dia tewas. Sayangnya, pasukan kaum murtad itu berhasil memasuki kebun dan hanya beberapa orang saja yang berhasil dikejar dan dihabisi oleh pasukan Islam. Gerbang kebun itu pun ditutup rapat-rapat dan dikunci dari dalam. Musailamah dan pasukannya dari kalangan kaum murtad itu berlindung di dalam kebun. Mereka mengira bisa menipu maut dengan cara seperti itu.

Padahal Allah swt. berfirman: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,” (An-Nisa’: 78). Pasukan Islam mengepung perkebunan yang dipagari oleh tembok yang cukup tinggi itu. Mereka tertahan oleh tumpukan-tumpukan batu dan tanah liat. Datanglah seorang sahabat bernama al- Bara’ bin Malik: “Wahai kaum Muslimin, lemparkan aku ke dalam perkebunan itu.” Maka beberapa prajurit Muslim pun mengangkat al-Bara’ di atas sebuah perisai dan menopangnya untuk naik ke tembok dan kemudian melompat hingga ke bagian dalam tembok.

Begitu mendarat di bagian dalam perkebunan, al-Bara’ segera diserang oleh beberapa pasukan musuh, namun dengan gigih al-Bara’ berjuang hingga pada akhirnya ia berhasil membukakan gerbang perkebunan itu. Ketika melihat gerbang sudah menganga lebar, tanpa membuang-buang waktu, pasukan Islam menyerbu masuk, mengalir deras bagai air bah. Pasukan murtad yang sudah gelagapan itu kocar-kacir dan menemui kematian mereka di bawah tebasan pedang kaum Muslimin. Peperangan yang sengit pecahlah di dalam perkebunan orang-orang Yamamah itu. Pasukan Islam berjuang habis-habisan untuk melenyapkan kekuatan orang-orang murtad yang dipimpin Musailamah al- Kadzab, namun pertanyaannya di manakah sang nabi palsu itu?

Sepasang mata dari seorang budak hitam mengawasi peperangan itu dengan jeli. Ia adalah Wahsyi bin Harb, pembantu Jubair bin Muth’im. Saat itu ia telah masuk Islam, dan berjihad bersama pasukan kaum Muslimin. Dulu, pada Perang Uhud ketika ia masih musyrik, ia berperang di pihak kaum Quraisy dan dengan lemparan tombaknya yang jitu, ia membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah Muhammad saw. Dengan tombak yang sama, Wahsyi menyusuri medan perang itu untuk memburu Musailamah al-Kadzab.

Ia ingin menebus kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Dengan amat sabar Wahsyi memburu mangsanya, hingga dia melihat sosok Musailamah di kejauhan. Pada salah satu bagian dari perkebunan itu ada sebuah tembok yang retak, Musailamah sedang berdiri di depan tembok itu dan mengawasi peperangan. Beberapa orang prajuritnya melindunginya, tanpa mengetahui bahwa maut sedang mengintainya. Musailamah sedang berada dalam keadaan galau yang amat sangat karena ia menyaksikan pertahanannya di perkebunan itu sudah berhasil ditembus dan pasukannya sudah terdesak. Tiba-tiba tubuh Musailamah kejangkejang seperti orang ayan. Dari mulutnya keluar busa yang menjijikkan, dan orangorang mengetahui bahwa dia sedang kerasukan. Setan yang merasuki tubuhnya itulah yang membisikkan kata-kata yang dia klaim sebagai wahyu.

Wahsyi mencium sebuah kesempatan yang sangat baik. Ia mencari sebuah posisi yang tepat sambil menenteng tombaknya. Dengan tatapan yang tajam diacungkannya tombaknya, tak ubahnya malaikat maut yang sedang membidik sasarannya. Tepat, tombak itu melesat cepat dan menembus dada Musailamah hingga ke punggungnya. Nabi palsu itu tewas seketika. Itulah akhir dari petualangan dan kesesatannya. Dengan cepat Abu Dujanah Simak bin Kharasyah melesat ke arahnya dan menebaskan pedangnya hingga Musailamah tersungkur dan mati. “Aduhai malangnya nasib pemimpin kita, dia dibunuh oleh budak hitam,” pekik para wanita yang berlindung di dalam sebuah bangunan di kebun itu. Di sanalah berakhirnya petualangan dan kekufuran Musailamah al Kadzab.[]

DI MUAT DI MAJALAH DRISE EDISI 53

DUA ABDULLAH DI MEDAN PERANG

Majalahdrise.com – Semasa hidup Rasulullah saw. pernah  terjadi dua buah perang yang di  dalamnya terlibat dua orang bernama  Abdullah. Abdullah yang pertama adalah  Abdullah bin Rawahah, yang kedua,  Abdullah bin Qim’ah. Abdullah pertama  adalah seorang Muslim dan menjadi  pahlawan Islam, sementara Abdullah kedua  adalah seorang musyrik dan telah  memerangi Rasulullah saw., lalu  mendapatkan kematian yang sangat buruk.

Medan perang yang mencatat nama  Abdullah bin Rawahah adalah medan  Perang Mu’tah. Pada perang ini, pasukan  Islam berhadapan dengan pasukan Romawi  Bizantium untuk yang pertama kali. Jumlah pasukan musuh jauh lebih  banyak, dan hal itu cukup menggoyang  nyali pasukan Muslim hingga muncullah  suara-suara untuk meminta pasukan  bantuan kepada Rasulullah saw. Namun  dengan gagah berani Abdullah bin Rawahah  menguatkan kembali tekad dan semangat  jihad di hati pasukan Islam. Sebagaimana  diperintahkan Rasulullah saw., Abdullah bin  Rawahah mengambilalih komando pasukan  setelah Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi  Thalib gugur di medan perang. Ia berjuang  habis-habisan hingga ia sendiri gugur  sebagai syahid. Di tengah-tengah para  sahabatnya di Madinah, Rasulullah  bersabda: “Mereka bertiga diangkatkan ke  tempatku, di surga.”

Abdullah yang pertama telah  mendapatkan tempat terbaik di surga.  Berbeda halnya dengan Abdullah yang  kedua, Abdullah bin Qim’ah. Mungkin kita jarang sekali mendengar namanya,  walaupun dia pernah melakukan sesuatu  yang amat memilukan. Kisahnya bisa kita  telusuri dari Perang Uhud. Pasukan Islam kalah dalam perang  ini. Sebuah kekalahan yang pertama bagi  pasukan Islam dalam peperangan.  Kekalahan ini terjadi karena kemaksiatan  pasukan panah yang mengabaikan perintah  Rasulullah saw. untuk tetap berada di atas  bukit, apa pun yang terjadi. Pada awalnya  pasukan Islam berhasil menguasai keadaan,  dan ‘terlihat’ menang. Sebagian pasukan  panah yang ditempatkan di atas bukit  tergoda dengan harta rampasan perang  (ghanimah).

Mereka pun turun dari bukit  walaupun pemimpin mereka, Abdullah bin  Jabir, telah memberikan peringatan keras.  Ketika itulah pasukan kavaleri yang dipimpin  Khalid bin Walid (saat itu masih kafir),  mengitari bukit yang sudah tidak terjaga  dan mendadak muncul dari barisan  belakang pasukan Islam. Kekacauan pun  terjadi, pasukan Islam kocar-kacir.  Kemenangan yang tadinya sudah di depan  mata, sirna entah ke mana. Rasulullah saw. menghadapi  keadaan terdesak. Pasukan musuh sudah  mengepungnya, sementara pasukan Islam  sudah berhamburan entah ke mana.  Beberapa orang sahabat mati-matian  membela dan melindungi Rasulullah saw.

Mereka menjadikan diri mereka sendiri  sebagai tameng hidup bagi sang Nabi.  Serangan yang ditujukan kepada diri  Rasulullah saw. amatlah hebat sehingga  beliau pun mendapatkan luka-luka. Salah seorang kafir Quraisy yang  dengan beringas menyerang Rasul adalah jarang sekali mendengar namanya,  walaupun dia pernah melakukan sesuatu  yang amat memilukan. Kisahnya bisa kita  telusuri dari Perang Uhud. Pasukan Islam kalah dalam perang  ini. Sebuah kekalahan yang pertama bagi  pasukan Islam dalam peperangan.  Kekalahan ini terjadi karena kemaksiatan  pasukan panah yang mengabaikan perintah  Rasulullah saw. untuk tetap berada di atas  bukit, apa pun yang terjadi. Pada awalnya  pasukan Islam berhasil menguasai keadaan,  dan ‘terlihat’ menang. Sebagian pasukan  panah yang ditempatkan di atas bukit  tergoda dengan harta rampasan perang  (ghanimah).

Mereka pun turun dari bukit  walaupun pemimpin mereka, Abdullah bin  Jabir, telah memberikan peringatan keras.  Ketika itulah pasukan kavaleri yang dipimpin  Khalid bin Walid (saat itu masih kafir),  mengitari bukit yang sudah tidak terjaga  dan mendadak muncul dari barisan  belakang pasukan Islam. Kekacauan pun  terjadi, pasukan Islam kocar-kacir.  Kemenangan yang tadinya sudah di depan  mata, sirna entah ke mana. Rasulullah saw. menghadapi  keadaan terdesak. Pasukan musuh sudah  mengepungnya, sementara pasukan Islam  sudah berhamburan entah ke mana.  Beberapa orang sahabat mati-matian  membela dan melindungi Rasulullah saw.

Mereka menjadikan diri mereka sendiri  sebagai tameng hidup bagi sang Nabi.  Serangan yang ditujukan kepada diri  Rasulullah saw. amatlah hebat sehingga  beliau pun mendapatkan luka-luka. Salah seorang kafir Quraisy yang  dengan beringas menyerang Rasul adalah Rasulullah saw., dia sesumbar: “Ambillah  gigi itu dariku, aku adalah Abdullah bin  Qim’ah.” Rasulullah saw. menyahut: “Allah  swt. pasti akan menghinakanmu.”

Maka  apa yang kemudian terjadi pada Abdullah  bin Qim’ah adalah tragedi. Abdurrahman bin Zaid bin Jabir  kembali mengisahkan, setelah usai Perang  Uhud, semuanya kembali ke kediamannya  masing-masing, begitu juga Abdullah bin  Qim’ah. Suatu hari, ia kembali  menggembalakan kambing-kambingnya di  puncak sebuah bukit terjal di pinggiran kota  Makkah. Jumlah kambingnya cukup banyak  dan ia berjalan di tengah-tengah  kerumunan kambing-kambingnya.

Tiba-tiba  ada seekor kambing jantan yang marah dan  menanduknya hingga ia tersungkur di  tanah. Si kambing tidak sudi berhenti, dan  terus menyeruduk Abdullah bin Qim’ah  hingga luka-luka, dan si kambing pun  seolah belum puas. Ia terus menyeruduk  hingga Abdullah bin Qim’ah terdorong ke  tepian bukit terjal itu dan terjatuh. Di dasar  bukit itu ia tewas dengan tubuh terkoyak-koyak. Sebuah akhir tragis dari orang yang  melempar wajah Rasulullah saw.[]

 

di muat di majalah remaja islam drise edisi 52

Sejarah seru : Borgia dan kegilaannya

Majalahdrise.com – Belum pernah ada mimpi buruk di  Vatikan seburuk ketika Keluarga  Borgia menggenggam kekuasaan  kepausan. Mereka tamak banget akan  kekuasaan dan nggak mau berhenti untuk  memperkaya diri sendiri dan keluarganya.  Puncak degradasi moral ini dibawa oleh  Paus Alexander VI alias Rodrigo Borgia.  Seorang Paus dari Keluarga Borgia yang  amat memalukan, dan sangat mencoreng  pamor tahta kepausan sampai sekarang. Rodrigo Lanzol dilahirkan pada 1  Januari 1431 dari Keluarga Borgia yang  sangat berkuasa. Pada abad pertengahan,  para Paus diangkat dari keluarga-keluarga  kaya dan berpengaruh di Eropa, hingga  sebenarnya terjadi persaingan diantara  keluarga-keluarga itu untuk mengangkat  orang-orangnya ke tahta kepausan.

Persaingan ini seringkali berdarah-darah.  Beberapa keluarga yang berpengaruh itu  antara lain Keluarga Medici, Barberini,  Orsini, de la Rovere, dan tentu saja Keluarga  Borgia. Perjalanan Rodrigo diawali dari  pamannya, Paus Kallistus III. Dengan nama  asli Alonso Borgia, si Tua Bangka Paus  Kallistus III mengangkat keluarga dekatnya  pada jabatan-jabatan basah dan  mentereng. Salah satunya adalah Rodrigo  yang diangkat menjadi Kardinal pada 1456.

Padahal secara tradisional seharusnya  jabatan Kardinal dipegang oleh seorang  yang sudah tua, dan Rodrigo belumlah layak  untuk itu. Orang-orang menyangka Kallistus  akan cepat mati karena sudah tua, tapi  ternyata orang tua ini masih bisa bertahan  hidup cukup lama untuk mengangkat  Rodrigo menjadi Wakil Pemimpin Gereja  pada 1457, dan jabatan ini menjadikannya  sebagai orang kedua setelah Paus sendiri.  Rodrigo tidak menyia-nyiakan kesempatan  ini, dengan jabatan ini dia mengeruk  kekayaan yang amat banyak. Setelah  menunggu  selama 34  tahun, pada 11  Agustus 1492,  akhirnya  Rodrigo  diangkat  menjadi Paus,  dengan gelar  Paus Alexander  VI. Pada 26  Agustus  diadakanlah  upacara  penobatan yang  mewah dan  megah, bahkan  dikatakan  melebihi kemegahan penobatan kaisar-kaisar  Romawi. Prosesi berjalan sepanjang 3 km  dan terdiri dari 10.000 penunggang kuda,  seluruh pegawai rumah tangga kepausan,  para duta besar negara-negara  asing dan  para kardinal yang menunggang kuda,  masing-masing dikawal oleh 12 pria dalam  rombongannya.

Rodrigo sendiri menunggang  kuda yang dihiasi dengan sebuah kanopi  yang melindunginya dari sengatan sinar  matahari bulan Agustus. Pawai itu berjalan  pelan menembus kerumunan di kedua sisi  jalan. Berbagai slogan yang beberapa  diantarnya berisi penghinaan lugas atas  Rodrigo tertempel di tiang-tiang di sisi jalan.  Udara panas dan kerumunan yang padat itu  membuat Rodrigo pingsan hingga dua kali.  Namun semua itu tidak menghalanginya  untuk berbisnis dengan jabatan yang  dipegangnya. Pada masa inilah dia membawa  kegelapan bagi Vatikan yang memang sudah  gelap. Perilaku asusila yang selama ini selalu  dilakukannya ternyata tidak pernah berhenti.  Bahkan lebih parah lagi, dia membawa  pelacur-pelacur ke dalam tempat yang  dianggap paling suci bagi orang Kristen.

Dia  sering kali mengadakan pesta-pesta asusila  yang istilahnya dilembutkan menjadi ‘Pesta  Kebun’. Ketika Rodrigo terpilih menjadi Paus  dengan jalan suap dan intimidasi, Kardinal  Giovanni de Medici yang kelak menjadi Paus  Leo X  mengatakan:  “Sekarang kita  berada dalam  kekuasaan seekor  serigala,  kemungkinan  serigala paling  serakah yang  pernah dikenal  dunia. Dan bila  kita tidak  melarikan diri, tak  dapat dihinari lagi  bahwa ia pun  akan melahap  kita semua.” Pada  menjelang akhir  hayatnya, Rodrigo mengalami pendarahan secara  rutin. Diduga dia menderita Malaria. Ada  juga yang mengatakan bahwa dia diracun.  Pada 18 Agustus 1503 dia mati dan berita  kematiannya dirahasiakan selama  beberapa hari. Kematian dan cuaca bulan  Agustus yang panas telah mengubah  jenazah Rodrigo sehingga mayatnya  menjadi sesuatu yang amat mengerikan  untuk dilihat.

Kematian Rodrigo tidak ditangisi,  bahkan kutukan dan hujatan menghujani  setelah kematiannya. Setiap Paus yang  wafat akan mendapatkan Misa Requiem  dan akan dihadiri orang ramai, tetapi misa  untuk Rodrigo hanya dihadiri 4 orang saja.  Francesco Picollomini, yang menggantikan  Rodrigo sebagai Paus Pius III, melarang  diadakannya misa-misa tambahan bagi  Rodrigo. “Merupakan penghujatan untuk  mendoakan orang yang terkutuk,” katanya. Kematiannya ini membuat sanak  keluarganya panik, sebab mereka tentunya  tidak akan bisa menikmati semua  kemewahan yang selama ini ada karena  Rodrigo masih memegang jabatannya.  Setelah terjadi penjarahan dan  perampokan dari sanak keluarganya  sendiri, berita kematian Rodrigo barulah  diumumkan.

Semua ini persis seperti apa  yang disampaikan Allah swt. dalam  Alquran, “Sesungguhnya orang-orang kafir  dari golongan ahli kitab dan musyrik berada  dalam neraka Jahanam. Merekalah seburuk-buruknya makhluk.” (Al-Bayyinah: 6) []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise edisi 51