‘Udah Putusin Aja’ @FelixSiauw, Keren!

Buku “Udah Putusin Aja!”-nya Felix Siauw, Fenomenal!

“Bukan tidak adanya jodoh yang harus kita takutkan.
Melainkan kehilangan kehormatan dan kemuliaan diri yang seharusnya kita takutkan.” [Felix Siauw]

Udah putusin aja @felixsiauwIslamic Book Fair terbesar di Jakarta kembali menyapa para pecinta buku. Tahun 2013 menjadi agenda penyelengaraan ke-12 pesta buku tahunan yang selalu penuh kejutan. Gimana nggak, IBF kali ini pun menyemarakkan semangat dunia perbukuan dengan membanting harga dengan diskon hingga 70%!  Belum lagi kehadiran banyak penulis dan pembicara yang sudah malang melintang di dunia perbukuan dan pastinya tak lagi diragukan kemampuannya. Wajar kalo IBF 2013 bikin ngiler redaksi drise tuk mampir. Go!

Continue reading ‘Udah Putusin Aja’ @FelixSiauw, Keren!

Seminar Sinematografi Bersama IMAGO

4th Bogor Islamic Book Fair

Seminar Sinematografi Bersama IMAGO-“Mengubah Dunia Lewat Film”

“Akal tidak berkembang kecuali dengan tiga hal; Berpikir secara kontinyu, membaca buku-buku pemikiran dan bangkit untuk berkarya dalam hidup.” [as-Sibaa’i]

Seminar sinematografi

Menginjak Februari 2013, Bogor ngadain pagelaran 4th Bogor Islamic Book Fair 2013. Jauh-jauh hari sudah terpajang iklan dan baliho di depan Plaza Masjid Raya Jl. Pajajaran 10 Bogor yang menjadi tempat acara. IBF kali ini sukses ‘menyeret’ orang-orang yang sudah tak diragukan lagi kualitas ke’aliman dan keilmuannya. Sebut saja Aa Gym, Ustadz Felix Siauw dan Salim A. Fillah. Weew. Jelaslah semua tergiur. Termasuk redaksi.

Untuk itulah D’Rise pun menyengaja datang kesana (9/02) untuk menjemput inspirasi dan hikmah tentang psikologi dan dunia perfilm-an. Seminar sinematografi juga cukup membuat pengunjung hepi karena jadi dapat banyak ‘ilmu baru mengenai dunia perfilm-an di negeri ini.

Emang nggak terlalu banyak yang hadir di acara seminar sinematografi ini (mungkin karena cuaca juga agak mendung dan benarlah, memang hujan cukup besar pada akhirnya). Cukup disesalkan juga (bukan hujannya, tapi pesertanya yang sedikit). Padahal, acara ini bagus sekali. Terutama untuk kita-kita yang mungkin punya minat lebih dalam dunia film. Ya kalau nggak atau belum punya cita-cita untuk kelak bikin film, setidaknya penikmat film lah.

Kang Dudy selaku pembicara pun mengiyakan bahwa yang namanya film itu efeknya sama atau bahkan jauh lebih besar dari sebuah bacaan karena film melibatkan bukan hanya audio melainkan juga visual. Ada banyak hal menarik yang disampaikan oleh Kang Dudy. Diantaranya adalah, mengenai film Indonesia yang banyak beredar di negeri ini, yang sebenarnya kualitasnya payah dan buruk. Banyak yang beranggapan film yang sukses adalah film yang banyak ditonton. Padahal itu bukan satu-satunya faktor sukses. Karena untuk diketahui, film maker Indonesia itu menang di pemasarannya. Bukan di sinematografinya lebih-lebih isi cerita. Apalagi beberapa sutradara kita (misal Hanung Bramantyo, Joko Anwar, Marsha Timothy) yang pada akhirnya menjadi mafia film. Kang Dudy mengatakan, “Kita bukan bicara tentang konspirasi. Tapi kita bicara mengenai kondisi real perfilm-an di negeri ini.”

Bisa dilihat sebagai contohnya, film-film yang mengusung tema feminisme, kebebebasan atau yang terkesan nyata menyudutkan ummat Islam bisa tayang di bioskop, ditonton oleh banyak kalangan. Baik yang awam dan yang paham. Seperti film Wanita Berkalung Sorban. Di satu sisi, film Sang Murobbi yang dari sisi alur cerita lebih bagus, tidak bisa tayang di bioskop. Jawabannya, karena tidak memiliki uang banyak. Tak ada back up dana.

Banyak sekali yang disampaikan oleh beliau tentang dunia perfilm-an secara teori dan teknis. Juga tentang perkembangan film-film luar, baik Asia dan Barat yang juga menjadi konsumsi remaja. Kang Dudy bilang, banyak yang suka film Korea karena katanya romantis. Padahal kalau mau lihat film romantis, mending lihat film Perancis sekalian. Romantisnya nggak menye-menye melainkan cerdas.

Dan dari seluruh isi konten dari seminar ini, hanya satu hal penting yang ingin redaksi sampaikan, yakni sengatan energi yang terpancar. seminarini punya keseriusan yang cukup besar juga untuk memperjuangkan dan melawan kebathilan.

IMAGO (Inspirasi Muda Bogor) adalah sebuah komunitas yang diharapkan bisa ada, berkembang dan maju. Menyusul komunitas yang ada di Yogyakarta, Semarang dan beberapa kota lainnya di Jawa selain Barat. Ada pesan Kang Dudy yang paling menarik di seminar ini. Yakni, untuk kita-kita yang sedang belajar menekuni dunia perfilm-an (film maker), bagi yang awal-awal, janganlah dulu dipusingkan mengenai kaidah-kaidah baku. Membuat film bukan pembelajaran tata bahasa. Jadi, tabrak semua kaidah dulu dengan tentu meyakini, kita bisa membuat film dengan warna ideologi kita. Tetapi meski pun begitu. Meski pun terkesan jadi sangat seadanya, tentu profesionalitas pun harus dimiliki. Jangan sampai seadanya jadi semaunya. Berkarya dengan baik. Belajar perlahan namun penuh kepastian. Menggigit!

So, D’Riser, jangan mau kalah dengan misi dan gerak IMAGO. Berkaryalah! Sekarang juga! Lakukan apa yang bisa kita lakukan. Seminar ini juga semakin meyakinkan D’Rise bahwa ini pun salah satu perjuangan yang dilakukan oleh orang yang muak dengan kekufuran. Perjuangan di jalan ALLAH nyatanya bukan hanya kita sendiri yang menempuhnya. Banyak orang di luar sana yang juga sibuk berjuang. Tak ada alasan lagi untuk kita berleha-leha. D’Rise harap, perjuangan kita pun bisa lebih baik. Jangan hanya menelan inspirasi, tetapi berkaryalah! Untuk dakwah. [Hikari]

Konferensi Remaja Indonesia

[Khilafah, Negara yang Melindungi dan Menyejahterakan Remaja]

[DRise-#029] Lebih dari 1500 remaja hadir di Auditorium Sport Center Ragunan, Jakarta (16/12) lalu dalam Konferensi Remaja Islam. Mereka membuat remuk wajah orang-orang yang linglung dan pesimis dengan kapabilitas Syari’at Islam sebagai pemecah segala problematika ummat. Mereka terus membara dengan perjuangannya yang luar biasa. Mereka tetap yakin terhadap kualitas hukum ALLAH yang hanya diterapkan oleh negara-lah yang sanggup menyejahterakan manusia. Karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Rahmatan lil ‘aalamiin. Syari’at Islam yang harus diwujudkan dalam bentuk negara itulah bernama Khilafah.

Continue reading Konferensi Remaja Indonesia