OfficeLess: Kerja Tanpa Ngantor

Semenjak internet bisa diakses dengan mudah, banyak pekerjaan kantoran yang bisa diberesin tanpa harus keluar rumah. Kondisi ini melahirkan fenomena officeless yang makin populer. Bekerja tanpa harus ngantor setiap hari. Emang bisa? Pastinya!

Penelitian dari Regus Global Economic Indicator memperlihatkan 48% dari 26 ribu manajer di 90 negara berbeda mengaku sudah tak lagi bekerja di kantor. Berikut lima alasan mengapa kantor tak diperlukan lagi untuk bekerja:

1. Perusahaan lebih hemat

Selama ini, banyak perusahaan menghabiskan dana dalam jumlah besar untuk membeli properti untuk para pegawai. Perusahaan telekomunikasi yang berbasis di Kanada, saat ini bermimpi untuk membuat para pekerjanya bisa bekerja darimana saja dan tak perlu pergi ke kantor.Perusahaan bisa berhemat, tidak lagi menghabiskan uang untuk keperluan kantor, internet, peralatan kantor dan lainnya.

2. Pegawai bisa menghemat waktu

Perjalanan ke kantor merupakan masalah besar bagi banyak pegawai di seluruh dunia. Menurut laporan dari Biro Sensus Amerika Serikat, sekitar 600 ribu pekerja di sana menghabiskan waktu 90 menit hanya untuk mencapai tempat kerjanya.Tanpa harus pergi ke kantor dan bekerja dari rumah, para pegawai dapat menghemat banyak waktu.

3. Pegawai lebih produktif

Terdapat sejumlah laporan yang membuktikan bahwa para pekerja yang bekerja dari rumah jauh lebih produktif dibandingkan mereka yang bekerja di kantor. Menurut Global Workplace Analytics, sekitar US$ 600 miliar terbuang percuma karena produktivitas pegawai terganggu akibat harus bepergian di kantor.

4. Meningkatkan kualitas hidup pegawai

Beberapa tahun lalu, para peneliti di Umea University di Swedia menemukan pasangan yang bercerai karena menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bekerja ke kantor. Bekerja dan perjalanan ke kantor merupakan salah satu yang menyebabkan para pegawai merasa stres.

5. Banyak tempat kerja baru

Lokasi apapun bisa menjadi tempat kerja yang potensial termasuk kedai kopi, rumah, atau di mana saja melalui sambungan internet. Tanpa kantor, para pegawai dapat menyediakan banyak tempat dengan suasana baru.

Driser, kalo di negeri kita tampaknya alasan kuat untuk menerapkan konsep officeless bagi karyawan adalah kemacetan di kota-kota besar selain perkembangan teknologi informasi. Kebayang nggak, kalo udah kejebak macet di ibukota, bisa tua dijalan. Masuk kantor bisa kesiangan atau klien bisnis bisa kabur lantaran kita telat meeting. Kemacetan khususnya di ibukota disebabkan angka pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang terus membludak.

Tahun 2010, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta sudah mencapai angka 6,7 juta unit, dengan komposisi kendaraan roda dua mencapai 4,3 juta unit dan kendaraan roda empat 2,4 juta unit. Kenaikan jumlah kendaraan bermotor mencapai 0,8 persen per bulan atau 11 persen per tahun. Berdasarkan data yang ada, rasio jumlah kendaraan pribadi dibandingkan dengan kendaraan umum adalah 98 persen berbanding 2 persen!

Dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang makin tinggi ini, kecepatan rata-rata lalu lintas di Jakarta hanya 20 kilometer per jam. Dengan kata lain, 60 persen waktu warga Jakarta dihabiskan di tengah kemacetan. Kerugian ekonomi akibat macet mencapai Rp27,76 triliun!

Nah driser, setelah tren paperless alias tanpa kertas dalam menyelesaikan banyak kerjaan administrasi dengan bantuan teknologi informasi, kini officeless mulai banyak dilirik. Karena yang penting adalah hasil kerjanya, bukan cuman kehadiran di kantor. Orang bule bilang, paid by result not paid by attendance. Paling ke kantor cuman buat meeting. Asyik kan. Mau? Dari sekarang, asah deh tuh skill dan ilmu yg berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi. Biar kelak bisa rasain indahnya kerja office less. Ingat ya, officeless not jobless. Watau! [@Hafidz341]

 

BOX

Kerja Tanpa Harus Ngantor…

Pembuatan website

Zaman serba online, maka kebutuhan akan sebuah situs pun terus mengalami peningkatan. Dari yang ecek-ecek sampai yang profesional, pasarnya nggak pernah abis. Apalagi dengan kehadiran CMS alias Content Management System, bikin website serasa bikin Mie. 3 menit jadi!

Content Writer

Penulis konten atau content writer yang bermodalkan kemampuan menulis dan membaca serta faktor pendukung berupa akses internet dan komputer banyak dicari lho. Banyak peluang menjadi ghost writer penulis beken atau freelance di penerbitan.

Admin Sosial Media

Kerjaan admin sosial media banyak dicarioleh perusahaan kecil ataupun besar yang ingin eksis di jejaring sosial. Nggak mesti ngantor, yang penting follower naik dan jumlah liker membludak.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40

Budaya ‘Bokis’ Sosial Media

Hari gini, remaja mana yang gak punya akun di sosial media. Entah itu twitter, facebook, path, instagram, pinterest, atau linkedin. Kalo pun ada yang belum punya, mungkin tempat tinggalnya emang belum tersentuh peradaban dunia digital. Pasti dia termasuk kategori Pejabat alias Pemuda Jaman Batu. Wkwkwk….Emangnya Flinstone?

Sosial media udah jadi rumah kedua bagi remaja. Tempat mereka berbagisuka, duka, dan pastinya curhat ala one line status. Karakter sosial media yang terbuka tanpa harus bawa surat keterangan domisili dari kelurahan saat mendaftar, memancing penggunanya untuk seenak udel nyantumin identitasnya. Walhasil, identitas palsu merajalela di jagat sosial media.

Akun palsu

Akun palsu maupun duplikat yang ada di Facebook terus bermunculan dan bertambah. Mulai dari menduplikat nama akun yang asli hingga membuat akun dengan nama yang aneh. Padahal akun-akun itu tidak dalam keadaan aktif, tetapi tetap eksis bila dicari di Facebook. Jumlahnya pun begitu fantastis.Pihak Facebook mengatakan, telah memiliki lebih dari 100 juta akun palsu maupun duplikat. Jumlah itu cukup mengejutkan karena angkanya mewakili hampir 8% pengguna aktif bulanan yang dimiliki Facebook.(http://agc.my.id/05092598/akun-palsu-di-facebook-capai-100-juta/)

Seolah biasa, pengguna sosial media ngerasa wajar aja membokis ria di dunia maya. Mulai dari penggunaan namanya yang dibikin secentil mungkin seperti “CantiCemungudhCelalu…”. Ada juga yang pasang foto profil punya orang maen comot aja biar keliatan keren. Tampang yang pas-pasan tapi foto-foto yang diuploadnya menawan. Ini modus penjahat kelamin.

Aslinya pengangguran, tapi profilnya ditulis pemilik usaha jual beli smartphone online. Biar pada yakin, statusnya dijejali gambar gadget terbaru dengan harga miring hampir terguling. Smartphone sekelas Galaxy S5 seharga 10 juta cuman dibandrol 3 juta. Bilangnya barang Black Market, jadi murah. Padahal modus penipuan. Sialnya, ada aja yang jadi korban. #TepokJidat

Banyak alasan orang pake identitas palsu di sosial media. Pertama, agar kehidupan nyatanya gak terganggu oleh perilakunya di sosial media yang suka ngebully atau bikin rusuh. Kedua, dalam rangka memuluskan cybercrime alias kejahatan online. Ketiga, untuk kepentingan marketing. Soalnya ada akun-akun sosial media yang dibuat emang buat pemasaran suatu produk atau jasa.

Nggak heran kalo di negerinya Jet Lee, pemerintah merapikan pengguna weebo (sosial media sebangsa facebook) agar daftar ulang dengan mencantumkan nama asli sesuai kartu identitas. Kaya masuk sekolah aja pake daftar ulang. Gitu deh. Kata pemerintah China, biar gampang diciduk kalo ada yang tengil ngomongin pemerintah di sosial media. Malah di Rusia muncul wacana undang-undang untuk mendenda pemilik akun palsu social media. Jumlah dendanya pun tak main-main. Pemilik akun ‘aspal’ terancam denda USD 150 ribu atau setara Rp 1,8 miliar.Nah lho?

Buat kita sebagai remaja muslim yang imut bin istiqomah, banggalah dengan nama pemberian orang tua. Sosial media tempat kita nyari pahala. Jangan dikotori dengan perilaku bokis alias berbohong ria. Biar kata orang lain nggak tahu siapa kita, tapi Allah dan Malaikat selalu melihat dan mencatat setiap amal kita. Be your self! [@Hafidz341]

BOX:Budaya Bokis Sosial Media - DRISE-ONLINE.COM

Hukum Membuat Akun Palsu di Facebook

Membuat akun palsu pada dasarnya adalah membuat akun bukan dengan nama sebenarnya. Misalnya seseorang bernama A tapi di Facebook membuat akun dengan nama B.Hukumnya secara syar’i bergantung pada faktanya (manath), berhubung faktanya tidak tunggal, melainkan ada beberapa macam, yakni sebagai berikut :

Pertama, hukumnya makruh jika nama yang digunakan tujuannya untuk menyembunyikan nama asli dan nama itu bukan nama atau panggilan sehari-hari. Misalkan seseorang bernama asli “Yono”, sehari-hari dipanggil “Yono”, tapi di Facebook membuat nama baru dengan akun “Simbah Maridjon”.

Kedua, hukumnya mubah dan tidak apa-apa, jika nama yang digunakan bukan nama asli tetapi nama itu sudah menjadi nama baru bagi yang bersangkutan dan digunakan sebagai panggilan dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan seseorang bernama asli “Sigit”, tapi di Facebook namanya “Shiddiq”, dan nama “Shiddiq” ini sudah menjadi nama baru bagi orang itu dan juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, hukumnya haram jika nama itu adalah nama atau identitas orang lain, baik orang itu sudah meninggal atau pun masih hidup. Hal itu tidak dibolehkan karena termasuk kedustaan (al kadzib) atau penipuan (al ghisy) yang telah diharamkan oleh syara’.Sabda Rasulullah SAW :”Barangsiapa menipu kami, maka dia bukan golongan kami.”(HR Bukhari no 164).

Sumber: www.syariahpublications.com

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

Nomophobia: Ponsel Bikin ‘Gila’

Dunia digital, sudah menjadi bagian yang terpisahkan dari keseharian kita. Terutama remaja yang paling doyan berselancar di dunia maya. Biar makin eksis dan trendi. Tak ayal, tuntutan untuk selalu keep in touch dengan dunia digital menjadikan gadget smartphone dan kaumnya sebagai kebutuhan hidup. Tak lagi sekedar aksesoris atau pelengkap hidup.

Walhasil, tak ada waktu tanpa kehadiran smartphone. Lagi nunggu antrian di bank, asyik chatting online. Ada jam pelajaran kosong, khusyu main subway surf, hay day, atau tebak gambar. Sesaat setlah kaki menginjak dalam gerbong kereta, langsung keluarkan ponsel android lalu terhanyut berselancar di dunia maya. Bahkan lagi rapat osis, kumpul bareng shoib gank, atau diskusi kelompok, remaja gadget mania asyik dengan dunianya sendiri. Boro-boro ngobrol dan bertukar pikiran. Yang ada, malah cekikian gak karuan.

Giliran ponsel, gadget, tablet, atau smargphonenya hilang, panik nggak ketulungan. Badan keringetan kaya lagi nahan kebelet pengen BAB. Wajahnya gelisah kaya ibu-ibu mau lahiran. Kerjaannya mondar-mandir kaya setrikaan. Kalo kamu ngerasa kaya gitu, hati-hati ah. Itu tandanya kamu terjangkit virus nomophobia. Apaan tuh?!

Nomophobia (no mobile phone phobia) adalah istilah baru, yang berarti ketakutan akan dipisahkannya pengguna dengan gadget kesayangannya. Istilah ini diperkenalkan oleh peneliti dari Inggris.

Di luar negeri sudah banyak penelitian mengenai nomophobia. Yang paling banyak dikutip adalah penelitian oleh securenvoy, sebuah perusahaan IT di Inggris. Menurut penelitian mereka, dari 1.000 responden yang menjawab polling mereka, sekitar 66 persen memiliki rasa takut kehilangan atau terpisah dari ponsel mereka.

Survei yang tak kalah menarik dilakukan oleh Chicago Tribune, di Amerika Serikat, dimana lebih dari 40 persen responden menyatakan ‘lebih baik tidak gosok gigi selama seminggu daripada pergi tanpa smartphone’.

Ada juga survei yang dilakukan oleh 11Mark, yang menyatakan bahwa 75 persen responden menggunakan smartphone di kamar mandi. Namun, tidak hanya Amerika Serikat dan Inggris saja yang terkena gangguan mental ini, namun juga Australia.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Cisco di Australia, 9 dari 10 orang berusia dibawah 30 tahun mengakui mengalami nomophobia. Survei tersebut dilakukan terhadap 3800 pemakai smartphone.

Nomophobia nggak bisa dipandang sebelah mata. Bahayanya bisa fatal. Pengidapnya akan mengalami social disorder alias males ngumpul dan berinteraksi dengan orang lain. Lantaran asyik dengan dunia dan gadgetnya. Seperti apa social disorder, simak nih!

  1. Komunikasi antar manusia secara tatap muka jadi makin jarang.
  2. Lebih suka berkomunikasi via gadget (email, chatting, Twitter, Facebook), daripada tatap muka langsung.
  3. Orang jadi jarang mengamati lingkungan sekitar, karena lebih tenggelam dengan gadgetnya. Akibatnya, rasa peduli pada sekitar berkurang, justru lebih mempedulikan isu-isu di socmed dari gadgetnya.
  4. Manusia dapat saja teralineasi oleh mesin. Masih ingat film wall-e dimana robot melayani manusia yang menjadi pemalas? Pada saat itu, manusia akan menjadi apatis dan anti sosial.

Ngeri juga ya akibat nomophobia. Lantas gimana cara ngatasinya?

Pertama, disiplin dengan gadget. Ada waktunya kita ‘pacaran’ dengan gadget. Ada waktunya, kita injakkan kaki di dunia nyata. Ngumpul bareng keluarga atau sahabat. Sterilkan gadget dalam pertemuan, rapat, ngumpul bareng yang menuntut kita untuk berinteraksi satu sama lain.

Kedua, pahami kalo gadget itu ciptaan manusia. Taro di tangan kita, bukan di hati kita. Ciee…! Jangan sampai kita diperbudak dan dikendalikan waktu kita oleh sebatang tablet.

Ketiga, banyakin aktifitas sosial. Seperti ngaji, ikut seminar, hiking, outdoor, olahraga, atau turun ke jalan dalam aksi damai protes kebijakan pemerintah yang bikin rakyat sengsara.

Kalo ketergantungan dengan gadget udah makin parah, alamat jadi pasien psikiater tuh. Makanya, sebelum itu terjadi, kendalikan gadgetmu. Jadikan gadget sebagai media mendulang ilmu dan pahala. Jangan sampai bikin hati dan mata kita buta. Tetap kita harus utamakan dunia nyata. Karena disini kita hidup. So, nomophobia? Nggak kelees…![341]

BOX: TANDA-TANDA NOMOPHOBIA

Berikut adalah tanda-tanda bahwa Anda termasuk nomophobic:

  1. Mimpi kehilangan ponsel. Apakah kamu sering mendapat mimpi buruk kehilangan ponsel lalu terbangun panik demi memastikan barang tersebut masih ada?
  2. Tidur dengan ponsel. Nggak bisa tidur tanpa meletakkan ponsel di bawah atau sebelah bantal.
  3. Terserang panik lebay bila tidak bisa menemukan ponsel. Kaya orang jantungan.
  4. Membawa ponsel ke kamar mandi. Khawatir ada update status temen yang kelewat di kasih tanda jempol atau di retweet. Hadeuh..!
  5. Mood jelek saat baterai ponsel menipis. Uring-uringan nggak jelas saat baterai ponselnya hampir habis. Mereka menjadi depresi dan kesal karena panik ponselnya akan kehabisan baterai.
  6. Flight mode. Apakah Anda termasuk orang yang segera menyalakan ponsel saat pesawat mendarat? Ini menunjukkan bahwa Anda tidak tenang saat tidak terhubung dengan ponsel.

Kalo tanda-tanda ada empat saja yang kamu rasain, hati-hati ah. Sebaiknya segera panggil psikiater. Nah lho! []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38

Pameran Foto Digital

drise-online.com – Seiring maraknya mobile photography alias fotografi ponsel, sosial media tempat berbagi foto kebanjiran akun. Dari foto momen yang unforgetable hingga aksi selfie berseliweran di sosial media. Tak cukup sekedar teks, upload foto di facebook dan twitter pun nggak pernah ketinggalan. Bahkan sekarang dipermudah cara uploadnya. Biar makin banyak foto yang berbicara di sosial media.

Selain facebook dan twitter yang udah populer di sosial media, ternyata ada juga varietas sosmed yang menghususkan dirinya tempat berbagi foto. Berikut diantaranya:

 

  1. Flickr

Flickr adalah layanan berbagi foto yang lebih dulu muncul, atau bisa dikatakan nenek moyangnya layanan berbagi foto. Sampai saat ini Flickr yang diakuisisi Yahoo! Beberapa tahun yang lalu menjadi layanan berbagi foto paling populer. Hal ini terbukti dari ada lebih dari 4.000 foto yang diunggah tiap menitnya. Menurut PCMag, angka ini naik tajam bila dibandingkan dengan 200 foto per menit yang terjadi sekitar tahun 2005.

Flickr dikembangkan oleh Ludicorp, sebuah perusahaan yang berbasiskan di Vancouver, Kanada yang dibangun pada tahun 2002. Pada tahun 2005, Yahoo! Inc. Mengambil alih Ludicorp dan Flickr. Flickr menjadi tempat asyik berbagi foto di grup dan komunitas. Flickr yang baru saja melakukan penyegaran di situsnya, hingga kini masih terus mengembangkan fitur-fitur di dalamnya. Dalam penyegaran terbaru, beberapa penawaran pengunggahan foto terbaik yang dikeluarkan Flickr pemakaian teknologi HTML 5 dan penambahan batas ukuran file.

 

  1. Instagram

Nama instagram berasal dari pengertian dari keseluruhan fungsi aplikasi ini. Kata “insta” berasal dari kata “instan”, seperti kamera polaroid yang pada masanya lebih dikenal dengan sebutan “fotoinstan”. Instagram juga dapat menampilkan foto-foto secara instan, seperti polaroid di dalam tampilannya. Sedangkan untuk kata “gram” berasal dari kata “telegram”, dimana cara kerja telegram sendiri adalah untuk mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat. Samahalnya dengan Instagram yang dapat mengunggah foto dengan menggunakan jaringan internet, sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan cepat. Oleh karena itulah Instagram berasal dari instan-telegram. Pada tanggal 9 April 2012, diumumkan bahwa Instagram akan diambil alih oleh Facebook senilai hampir $1 miliar dalam bentuk tunai dan saham.

Popularitas Instagram makin merajalela lantaran tidak hanya untuk iPhone tapi juga merambah platform Android. Instagram menawarkan belasan filter untuk membuat foto terlihat lebih cantik dan terkesan dramatis. Banyak diminati aktifis selfis.

Pengguna Instagram juga bisa membagikan fotonya di situs-situs favorit seperti Twitter dan Facebook langsung dari layanan Instagram. Namun layanan berbagi foto ciptaan Kevin Systrom itu bukan tanpa kekurangan. Foto yang dihasilkan terlalu kecil dan dikhawatirkan layanan itu nantinya akan dilibas oleh aplikasi foto lain, terutama setelah ia bernaung di bawah kekuasaan Facebook.

 

  1. 500px

500px adalah sebuah komunitas foto yang didukung oleh orang-orang kreatif di seluruh dunia yang memungkinkan Anda menemukan, berbagi, membeli atau menjual foto-foto inspirasi anda.
Versi pertama dari 500px terungkap pada hari-hari awal fotografi digital. Pada saat itu, semuanya sedikit berbeda – Internet masih sangat lambat, kamera 3,2 megapiksel adalah yang terbaik dan 500 piksel adalah ukuran yang baik untuk foto yang ditampilkan pada monitor CRT. Selama bertahun-tahun, platform 500px mengalami sejumlah revisi dan perubahan, tumbuh bersama dengan teknologi dan fotografer, dan menjaga fokus pada foto berkualitas tertinggi.

 

  1. Pinterest

Sosial media berbasis foto yang diluncurkan tahun 2010 ini terus membuntuti popularitas facebook dan twitter. Setiap bulan lebih dari 11 juta pengunjung unik malang melintang di sosial media besutan Ben Silberman dan Paul Sciarra ini. Dengan tampilan yang menarik, layanan berbagi foto di pinterest banyak diminati kaum hawa untuk sekedar narsis hingga jualan. Para penggunanya bebas mengunggah foto atau menemukan foto-foto yang menarik. Pengguna bisa berbagi foto baik melalui unggah langsung atau melalui URL dengan istilahnya ‘Pin’.

Layanan Pinterest ini, mudah sekali menelusuri foto-foto menarik sesuai kategori-kategori yang telah disusun rapi. Pengguna juga bisa membuat kumpulan foto dan kategori sendiri berdasarkan ketertarikannya, yang dikenal dengan istilah ‘Board’. Layanan sosial medianya juga sangat terasa, dengan pertemanan yang berupa ikut atau mengikuti.

Driser, membanjirnya sosial media yang jadi andalan tempat berbagi foto jangan sampe melenakan kita. Tetap jadikan sosmed buat ajang mencari ilmu, pahala, dan fulus. Gak penting unggah foto-foto selfis yang mengumbar aurat. Mending ungguh gambar inspiratif bermuatan dakwah dan foto produk. Yuk, konversi setiap waktu kita di sosial media menjadi ladang pahala. Go! [341]

di Muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #37