Logika LGBT

Majalahdrise.com – Memang sangat aneh kaum LGBT itu. Kecenderungan mereka untuk menyukai sesama jenis (secara seksual) memang tidaklah masuk akal. Bagaimana mungkin ada orang yang ‘mencintai’ sesama jenisnya dan meninggalkan lawan jenisnya? Ini benar-benar di luar logika. Tetapi seperti itulah yang terjadi saat ini, kaum Nabi Luth yang sekarang bertransformasi menjadi kaum LGBT wara-wiri meminta pengakuan dan legitimasi. Dengan menggunakan Hak Asasi Manusia dan wacana kebebasan sebagai senjata ampuh, mereka menuntut agar tingkah laku mereka yang abnormal itu dimaklumi.

Orang-orang yang sekian lama terkenal sebagai pembela HAM dan liberalisme pun bersuara mendukung LGBT. Padahal tindakan ini malah makin menunjukkan kedangkalan intelektualitas mereka. Ulil Abshar Abdala, seorang tokoh JIL yang amat terkenal, berkicau tentang LGBT di akun twitternya @ulil, semuanya bernada dukungan.

Logika LGBT - MAJALAHDRISE.COM

Lesbian, gay, biseksual, dan transgender itu bukan ancaman, setidaknya begitulah kata Ulil dalam salah satu twit-nya. “LGBT bukan ancaman. Sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Dan spesies manusia tak pernah punah karena mereka.”

Spesies manusia memang tidak punah karena mereka, untung saja Allah swt segera bertindak dengan memusnahkan kaum gay pertama (kaum Nabi Luth) sampai habis dan tidak bersisa. Kalau saja mereka dibiarkan, mungkin saja terjadi fenomena abnormal ini akan tersebar dan membawa kerusakan yang meluas. Saat ini pekerjaan kaum Luth diulangi lagi, apakah kita menunggu azab yang dulu pernah terjadi?

Memang benar bahwa LGBT sudah ada ribuan tahun yang lalu, tetapi apakah kelakuan buruk mesti kita ikuti kembali? Apakah karena LGBT sudah ada sejak ribuan tahun lalu, lantas kita memakluminya hari ini? Fitrah makhluk hidup saja menolak keberadaan LGBT, apalagi kalau ia sampai berkembang dan dirayakan di mana-mana! Makhluk paling rendah saja tertarik secara seksual dengan lawan jenisnya, bukan sesama jenisnya. Yang ada, mereka akan bertarung jika bertemu dengan makhluk sesama jenisnya, bukan saling mencintai. LGBT memang absurd. [Sayf Muhammad Isa]

 

 

Kabar dari Istanbul: WAJAH ISTANBUL HARI INI (bagian I)

drise-online.com – Saat itu, sekitar pukul 02.00 dinihari EET (Eastern European Time), pesawat KLM Royal Dutch yang membawa kamidari Bandara Internasional Schippol, Amsterdam, mendarat di Bandara Internasional Atatürk Istanbul, Turki. Tak lama, supir shuttle travel hotel yang ditugaskan untuk menjemput membawa kami membelah kesunyian kota Istanbul menuju kawasan Kota Tua Sultan Ahmet,  tempat hotel kami berada. Tak jauh dari hotel terdapat sebuah Masjid kecil dengan menaranya yang tinggi, tipikal masjid-masjid Istanbul. Hotel ini juga cukup dekat dengan Masjid Sultan Ahmet (Blue Mosque),sehingga wajar saja bila suara adzanshubuh bersahutan memasuki kamar kami.

Pagi harinya, kami sarapan di rooftop terrace hotel yang menghadap ke Laut Marmara. Sesaat saya terhenyak, memandangi Laut Marmara yang luas membentang. Saya baru menyadari bahwa Kota Istanbul terletak di sebuah semenanjung yang diapit oleh Laut Marmaradan Laut Hitam. Selat Bosporus, sebagai salah satu jalur transportasi laut tersibuk di dunia, pun membelah kota ini menjadi dua, menguhubungkan Laut Marmara di sisi selatan dan Laut Hitam di sisi utara. Tak heran bila kota ini pernah menjadi pusat peradaban Byzantine dan Ottoman Empire (Kekhilafahan Ustmaniyah).

Saat mengikuti Bosphorus Cruising Tour, seorang guide menyebut tiga nama yang paling berpengaruh bagi pembangunan Turki. Ketiga tokoh tersebut adalah Sultan MehmedII The Conqueror (Fatih Sultan Mehmet), Suleiman The Magnificent (Kanunî Sultan Süleyman), dan Mustafa Kemal Father of the Turks (Mustafa Kemal Atatürk). Sultan Mehmet II adalah salah seorang Khalifah era Ustmaniyah yang berhasil membebaskan Konstantinopel dari Imperium Romawi (Byzantine). Selanjutnya beliau mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (sekarang dikenal dengan Istanbul) dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Khilafah Ustmaniyah. Sepanjang Khilafah Ustmaniyah berdiri, sejarah mencatat masa pemerintahan Sultan Süleyman sebagai masa puncak keemasan. Di bawah kekuasaannya, Khilafah Ustmaniyah menjadi salah satu negara terkuat di dunia yang mengendalikan sebagian besar Eropa Tenggara, Asia Barat, Afrika Utara, dan Tanduk Afrika (semenanjung Afrika Timur). Sultan Süleymanpulalah yang menyempurnakan pembangunan Kota Istanbul dengan tatakota yang artistik dan bernafaskan Islam, hingga Napoleon Bonaparte menjulukinya sebagai ibukota bagi seluruh dunia.

Berdiri di taman kota Istanbul (Sultan Ahmet Square), dan melihat sekelilingnya, mengingatkan saya bahwa penaklukan Konstantinopel yang dilakukan Sultan Mehmet II, semata-mata karena dorongan sabda Rasulullah SAW, “Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.” (HR Ahmad Bin Hanbal, Al-Musnad [4/335]).Beliau dan Sultan-sultan penggantinya memiliki dorongan yang sama dalam membangun Istanbul, yakni semata-mata untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin. Bangunan-bangunan yang masih tegak berdiri di sana menjadi bukti otentik bahwa pembangunan Istanbul sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam.

Sultan Mehmet II mengubah Hagia Sophia (Ayasofya) dari sebuah gereja menjadi Masjid dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan kaum muslimin di Istanbul. Beliau juga membangun tempat tinggal sekaligus pusat pemerintahannya, Istana Topkapi (Topkapı Sarayı), berdekatan dengan masjid ini. Sebagai penopang keberlangsungan Masjid Ayasofya, sebuah pasar yang menjadipusat perniagaan warga Istanbul pun dibangun di dekatnya. Hingga hari ini pasar tersebut masih dikenal di seluruh dunia dengan nama Covered Bazaar (Kapalıçarşı).

Dekat dengan Ayasofya terdapat tempat penyimpanan air bawah tanah terbesar di masa Byzantine, Basilica Cistern (Yerebatan Sarayı). Cistern ini mensuplai kebutuhan air penduduk Kota Konstantinopel pada masa itu. Tetapi, di masa Kekhilafahan  Ustmaniyah, tidak dipergunakan lagi. Sebagai gantinya, Sultan-Sultan yang memerintah di Istanbul dari masa ke masa, membangun fountain untuk menyediakan air bersih bagi warga Kota Istanbul. Fountain ini dibangun karena keyakinan Islam akan sifat air mengalir yang suci lagi menyucikan. Tercatat lebih dari 10.000 fountain telah dibangun, diantaranya dipergunakan untuk berwudlu dan minum para warga maupun musafir. Salah satu fountain yang terkenal dan masih berfungsi hingga sekarang adalah Fountain of Sultan Ahmet III yang berada di depan pintu gerbang Istana Topkapi. Konon fountain ini untuk menyambut para tamu Sultan (musafir).

Kebiasaan menyediakan air bersih untuk diminum para musafir, masih berlangsung hingga sekarang. Di beberapa tempat di Istanbul, terutama di pasar-pasar, tersedia tangki air minum lengkap dengan gelas plastiknya. Sehingga memudahkan para wisatawan yang kehausan. Kali pertama menjumpai tangki air minum ini, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Segelas air langsung saya minum dan botol-botol persediaan air yang kami miliki pun saya isi penuh.

Itulah sebagian kesan saya tentang kota Istanbul yang dibangun para Sultan di masa Khilafah Ustmaniyah. Mereka (para Sultan Ustmaniy), menjadikan nilai-nilai dan ajaran Islam sebagai pondasi dalam membangun tatakota dan masyarakatnya. Pondasi inilah yang mengantarkan kekhilafahan Ustmaniyah menjadi negara kuat, besar dan berpengaruh secara internasional. Kesan saya yang lain tentang Istanbul, akan saya tuangkan dalam tulisan berikutnya. Terutama kesan yang muncul akibat kebijakan yang diterapkan tokoh ketiga yang disebut oleh tour guide yang saya ikuti, yaitu Mustafa Kemal Atatürk. Tungguin yaa…

Kontributor: Siska Putri (Linköping, Sweden)

di muat di Majlah Remaja Islam  D’rise edisi #38

#IndonesiaMilikAllah

drise-online.com – Gemah ripah loh jinawi alias kekayaan yang berlimpah identik dengan Indonesia. Pesona sumber daya alam Ibu Pertiwi yang bejibun bikin air liur para penjajah barat ngiler untuk mampir ke negeri kita. Dari jaman nenek moyang, hingga nenek-nenek bisa kayang, kekayaan alam baik di daratan hingga lautan nggak ada abisnya. Inilah salah satu kenikmatan yang Allah swt anugerahkan ke negeri khatulistiwa ini.

Sayangnya, keberlimpahan yang terkandung dalam kekayaan alam negeri kita belum sepenuhnya bisa dinikmati rakyat. Lantaran makin hari, makin banyak kekayaan alam yang dirampok investor asing berkedok swastanisasi. Liat aja, sebagian wilayah udara kita dikontrol oleh Singapura. Minyak dikuasai oleh Chevron. Emas juga diangkut ke AS. Batubara terbang ke Cina. Gas alam ke Jepang, Prancis, dll. Rakyat pribumi kebagian kerusakan alamnya.

Bagaimana dengan air? Setali tiga uang. Air yang sejatinya milik umum pun masih harus beli ke Asing, seperti yang terjadi di Jakarta. Saat ini hampir seluruh pengelolaan air di Jakarta dikelola pihak asing, yaitu PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) yang merupakan lini usaha perusahaan asal Perancis Suez Environnement dan bagian dari PT Astratel Nusantara lini usaha Grup ASTRA Indonesia, serta PT Aetra yang mayoritas sahamnya dimiliki perusahaan Singapura Acuatico Pte Ltd.

Sejatinya, kekayaan alam Indonesia yang berlimpah anugerah dari Allah swt bisa bener-bener dikelola oleh negara biar hasilnya bisa dinikmati rakyat. Bener sistem pengelolaan SDA-nya bener juga orang-orang yang ngaturnya. Kayanya ini cuman jadi mimpi kalo negara kita masih bermesraan dengan #Demokrasi. Lantaran sistem pemerintahan rakyat ini yang melegalkan swastanisasi kekayaan alam dan memuluskan penjajahan ekonomi melalui utang riba. Kran kebebasan kepemilikan yang diagungkan Demokrasi, bikin para investor asing dengan seenak perut menjarah kekayaan negeri. Akibat tekanan IMF, pemerintah cuman bisa gigit jari. Saatnya tinggalkan demokrasi, terapkan syariah dan khilafah. Karena Indonesia Milik Allah…[341]

di Muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #37

 

 

Pesta Telah Usai!

By Fatih Mujahid, Redaktur Tabloid Media Umat

drise-online.com – Pembangunan Masjid al-Aqsha Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar tersendat, lantaran uang sumbangan masjid yang telah diberikan oleh sejumlah calon legislatif (Caleg) gagal di kota tersebut ditarik kembali. Muhammad Daming, bendahara Masjid al Aqsha mengaku pusing karena harus mengambalikan uang sumbangan tersebut. “Sumbangannya sudah dimasukkan ke kas dan diumumkan ke publik bahwa ada caleg yang menyumbang ke masjid. (Namun) saya heran ternyata (sumbangan) diminta kembali,” ujarnya

Biaya politik yang sangat mahal membuat para Caleg mengeluarkan banyak dana untuk melanggengkan tujuannya. Segala cara telah dilakukan memasang foto dimana-mana, melakukan serangan money politic, pencitraan dengan dalih Bansos pun digunakan untuk merebut hati masyarakat, namun mereka tetap gagal dengan meninggalkan biaya utang yang sangat besar serta malu akhirnya mereka pun jadi Gila.

Pakar Ilmu Pemerintahan Universitas Pramita Indonesia Andi Azikin menilai kerasnya kompetensi dalam pemilu membuat para Caleg melakukan segala cara untuk menang, apakah dia baru saja ikut jadi Caleg maupun yang sudah dikenal. Persaingan pun sangat ketat, sebab para Caleg tidak saja bersaing dengan Caleg Partai lain tetapi juga sesama kader Partai pun saling jegal.

“Ketika semuanya mengeluarkan uang besar, yang kalah itu pasti stres berat. Karena targetnya harus menang, dan tidak siap kalah. Itu yang menyebabkan yang kalah jadi gila,” ujarnya.

Poliklinik Kejiwaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) W.Z. Johannes Kupang, Nusa Tenggara Timur, memeriksa dua Caleg yang diduga mengalami gangguan kejiwaaan. Mereka memeriksakan kondisi kejiwaan setelah mengetahui dirinya kalah pada pemilu legislatif 9 April 2014.

Pihak rumah sakit merahasiakan identitas kedua Caleg. Dua caleg itu masing-masing mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Kota Kupang dan DPRD Provinsi NTT. Keduanya diantar keluarga masing-masing ke rumah sakit.

“Suami saya terguncang karena sudah mengeluarkan banyak uang untuk membiayai pencalonan, ternyata tidak terpilih,” kata istri salah satu Caleg yang menolak namanya ditulis, Sabtu, 12 April 2014.

Lain lagi dengan Witarsa, sehari pascapencoblosan lelaki ini dibawa anggota keluarganya ke sebuah padepokan di Desa Sinarancang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Caleg dari Partai Demokrat untuk Dapil Jabar X ini mengalami stres akibat perolehan suaranya sangat minim, sehingga gagal menjadi anggota DPRD Jawa Barat. Padahal, modal yang dikeluarkannya sangat besar.

Pemilik Padepokan al-Bustomi, Ujang Busthomi mengatakan sudah tujuh orang Caleg yang datang di Padepokannya dan rata-rata mereka depresi tingkat rendah hingga sedang.”Mereka mengaku pusing, finansial sudah keluar besar tapi takut tak menang,” ujarnya.

Tindakan nekat dan tragis bahkan dilakukan seorang ibu muda dengan ini sial S yang gagal menjadi Caleg. Anggota sebuah partai asal kota Banjar, Jawa Barat ini memilih bunuh diri saat dia tidak berhasil menjadi calon anggota dewan.

Wanita itu mencalonkan diri untuk Dapil I kota Banjar dengan nomor urut 8. Namun saat mengetahui dia gagal, depresi dan bisikan setan membuat S bunuh diri dan mayatnya ditemukan di sebuah saung bambu di Dusun Limusnunggal, Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis.

Di Bali karena gagal meraih suara, I Ketut Rai, caleg Partai Golkar nomor urut 5 menutup akses jalan di sekitar rumahnya di Nusa Penida Kabupaten Klungkung. Penutupan jalan itu dilakukan dengan memasang batako di tiga tempat berbeda di sekitar rumah Ketut Rai. Akibatnya, warga, terutama tetangga Ketut Rai, kesulitan melakukan kegiatan di luar rumah.

Demokrasi bikin Gila

Pengamat Sosial Iwan Januar menilai banyaknya Caleg yang stress dan bertingkah aneh ketika gagal dalam pemilu disebabkan karena demokrasi sistem politik yang tidak manusiawi.

“Sistem ini membuat orang memuja jabatan dan materi, akhirnya mereka menjadi depresi karena besarnya modal yang telah dikeluarkan,” ujarnya.

Rincian kampanye yang menghabiskan 200 juta sampai 6 milyar rupiah, dengan biaya yang sangat besar itu memaksa para Caleg memutar otak untuk mencari dana memenuhi biaya kampanye yang sangat besar.

Kondisi ini sangat mengerikan sebab para cukong pasti akan menagih janji untuk mengembalikan modal hingga dipikiran para Caleg hanya money. Kalah jadi Gila terlilit hutang, menang jadi Gila dunia.

Driser, pesta demokrasi tahap satu telah usai. Layaknya sebuah pesta, pasca berakhir pasti banyak meninggalkan sampah. Mulai dari atribut caleg yang belum dicabut, hingga calegnya yang pada semaput. Itulah harga mahal dari sebuah demokrasi. Sistem pemerintahan buatan manusia yang bergelimang kemaksiatan dan dosa. Masih percaya demokrasi? []
di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #37