Hai Z, Masa Depan di Tanganmu

Kamu lahir antara 1995 sampai 2010? Pasti  hobi internetan, chatting, dan eksis di  media sosial. Cenderung menyukai  hal-hal berbau multimedia, gambar, foto dan video. Suka  yang serba instan dan kurang menghargai  proses. Kalianlah generasi Z. Apaan tuh?  

Sejak muncul Teori Generasi, kita dikenalkan istilah Generasi X, Y dan Z. Lengkapnya, menurut Generation  Theory ini, ada 5 generasi yang lahir setelah perang dunia kedua dengan ciri masingmasing. Pertama, Baby Boomer (lahir 1946–1964). Generasi yang lahir setelah Perang Dunia II ini memiliki banyak saudara,  banyak keturunan. Tipenya adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri. Ini generasi yang cenderung menunjung tinggi nilai-nilai kebaikan dan etika. Kedua, Generasi X (lahir 19651980).

Waktu itu baru mulai adanya personal computer (PC), video games, tv kabel, dan internet. MTV dan video games sangat digemari. Mulailah muncul tingkah negatif seperti tidak hormat pada orang tua, maniak musik punk, dan kenal ganja.

Ketiga, Generasi Y (lahir 19811994). Disebut juga generasi millenium. Mulai pakai teknologi komunikasi  instan seperti email, SMS, instant messaging dan media sosial seperti Facebook dan Twitter.  Mereka juga suka main game online. Keempat, Generasi Z (lahir 19952010). Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Yup,  inilah generasi kalian.

Generasi yang nggak bisa lepas dari internet. Maunya selalu connect. Sejak kecil udah kenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih. Generasi digital yang mahir dan keranjingan ama teknologi informasi dan berbagai aplikasi.  Sangat hobi dan eksis di dunia maya. Facebook, Twitter, Instagram atau chatroom. Melalui media ini mereka bebas berekspresi dengan apa yang dirasa dan dipikir secara spontan.

Cenderung terbiasa melakukan aktivitas dalam satu waktu secara bersamaan. Sambil chatting pake ponsel, browsing dengan laptop, dan denger musik pakai headset. Pokoknya penginnya serba cepat dan instan. Pastinya ini secara nggak langsung berpengaruh pada kepribadian. Cenderung kurang dalam berkomunikasi secara verbal, egosentris dan individualis, nggak sabaran, dan nggak menghargai proses. Kalian begitu, nggak?

Ingat Dunia Nyata

Nah, udah pasti karakter Generasi  Z seperti di atas, beda banget sama orangtua kamu yang merupakan Generasi X atau Y. Makanya, kamu musti pinter-pinter menyamakan persepsi sama orangtua. Jangan segan komunikasi sama mereka.

Kalau ortu ngajak bicara, jangan dianggap nggak penting. Bagaimanapun, ortu kamu beda karakter dan sangat mengkhawatirkan perkembangan dirimu. Sebab, tantangan mengasuh, menjaga dan membesarkanmu saat ini lebih berat. Jauh lebih berat dibanding saat mereka seusia kamu.

Sebagai generasi Z, kamu kudu tetep eksis di dunia nyata. Jangan terlampau menurutkan nafsu internetanmu yang selalu menggebu. Soalnya internetan itu emang bikin lupa waktu. Ada foto, film, video dan segala keasyikan dan hiburan di sana. Jadi, kalo lagi asyik chatting, tetap kudu pasang telinga kalau-kalau ortu membutuhkanmu.  

Kamu juga musti punya etika. Sekarang banyak orang dipenjara gara-gara nggak ngerti cara bijak memanfaatkan media sosial. Atau karena saking bablasnya, malah menjadi fitnah dan membawa nama buruk orangtua. Misal, ada ABG yang posting foto-foto seksi dan bahkan porno. Na’udzubillahi min zalik.  

Generasi Islam

Jangan lupa, kamu-kamu adalah  generasi Islam. Generasi masa depan umat. Ciri-cirinya, rata-rata kamu punya namanama islami. Betul, kan? Coba cek daftar absen di kelasmu. Pasti kau temukan namanama dengan minimal tiga kata islami di sana (ini identik dengan nama orang-orang  Arab yang umumnya tiga kata).

 _ Nah, kenapa kamu diberi nama islami? Karena masa depan Islam di pundak kalian. Sepuluh, 20 atau 30 tahun mendatang, kamu-kamulah yang akan duduk sebagai pemimpin di segala bidang. Jadi dosen, kepala sekolah, pemimpin perusahaan, ahli IT, desainer, chef, sastrawan, penulis, produser, kepala proyek, kontraktor, pejabat pemerintahan, hakim dan sebagainya.

_ So, di tangan generasi kalianlah  masa depan Islam. Kelahiran kalian ke dunia ini bukan untuk mengabdi pada peradaban Barat atau Timur yang tidak Islami. Kalian disiapkan Allah SWT melalui tangan orangtua dan para pendidik, bukan untuk melanggengkan sistem sekuler kapitalisme yang ada saat ini. Bukan pula untuk menghambakan diri pada budaya China, Korea, Jepang, dll. _ Maka, persiapkanlah diri kalian supaya menjadi pribadi Islam kafah.

So, nggak usah merasa minder jika kalian memupuk diri dengan segala hal-hal yang berbau Islam saat ini. Ngaji, baca kitab-kitab fikih, hafalan Alquran, belajar Bahasa Arab, bahkan berdakwah sesuai kemampuan. Kelihatannya nggak keren di masa sekarang, dibanding remaja-remaja umumnya yang hidupnya santai dan menggilai budaya pop seperti musik, film dan konten-konten Barat atau Timur. Tapi, justru itulah kelebihan kalian. Itu berarti kalian punya visi jauh ke depan.

Karena kalianlah perubah peradaban. _ Iya, dong! Kan malu menyandang nama islami, tapi kelakuan jauh dari nilai-nilai islam. Sebab, nama itu adalah doa. Ortu kalian mendoakan agar kalian menjadi pribadi-pribadi yang saleh dan salehah. Generasi yang kelak menjadi pengabdi dan pengendali peradaban Islam. Kalau tidak menyiapkan diri dari sekarang, kapan lagi?(*)

Haters, Jarimu harimau mu!

pofesi baru di dunia maya: haters. Ya, berbekal jari-jemari, kebencian begitu mudah  merebak di kalangan netizen. Caci maki, tuduhan keji hingga fitnah jadi menu sehari-hari. Biasanya yang jadi sasaran adalah para seleb di dunia maya. Artis, selebgram, pejabat publik, ustad ngetop dan pesohor lainnya. Terbaru, Deddy Corbuzier sampai harus menangkap haters yang bikin rusuh di lapaknya. Pelaku seorang pegawai bank bernama Antho asal Jambi. Haters ini menuding Deddy dan artis Chika Jessica dengan fitnah berbau SARA (tribunnews.com, 9/2/16).  

Rupanya, orang seperti Antho ini banyak gentayangan. Heran ya, sempetsempetnya mereka ngabisin waktu dan energi untuk menebar kebencian. Kurang  kerjaan. Berlindung di balik kebebasan  berpendapat, seenak perutnya nyetatus atau komentar miring. Kalau pepatah bilang mulutmu harimaumu, kini jarimu harimaumu. Apapun hasil ketikan burukmu, kelak akan menerkam dirimu. Panen karma. Catet!

Hate Speech

Jadi haters, berarti siap dipenjara.  Sebab di negara kita, berlaku UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Di situ ada ancaman enam tahun penjara bagi yang terbukti bikin rusuh di dunia maya. Lalu ada pasal 16 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau  denda maksimal Rp500 juta. Hujatan kebencian berbau SARA, bisa kena batunya. Ditambah lagi UU Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial, dan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2013 tentang Teknis Penanganan Konflik Sosial.

Di situ ada pasal hate speech yang jadi alat menciduk para haters ini biar kapok. Bayangkan aja, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, saat ini ada 180.000 akun media sosial yang diduga menyebar kebencian yang tengah diselidiki. Wow! Udah ada UU kok nggak bikin jera. Hatihati ya, D’Riser. 

Cermin Moral  

Membudayanya bullying dan ujaran kebencian di dunia maya, menunjukkan gagalnya demokrasi. Khususnya turunan dari doktrin hak asasi manusia (HAM) yang begitu didewakan, yakni kebebasan berpendapat. Sampai-sampai pendapat buruk dan fitnah pun boleh eksis. Ya, menurut HAM ini, orang bebas berpendapat apa aja, asal nggak mengganggu orang lain.

Nyatanya kebablasan.  Selain itu, budaya caci maki dan sumpah serapah di internet juga potret rendahnya etika masyarakat modern. Makin melek teknologi, seharusnya dibarengi dengan ketinggian akhlak. Nyatanya tidak.  Padahal para haters itu, jika ditilik pendidikannya, juga bukan orang bodoh. Buktinya melek internet. Tapi, pintar saja tanpa etika, jadinya rendahan. Inilah bumerang dalam sistem liberal yang mendewakan HAM.  

Emang, ada yang ngeles, sejatinya para pesohor itu sendirilah yang memicu kebencian. Tindak tanduk mereka emang layak dibenci. Makanya, jangan salahkan haters. Misalnya ada pesohor yang suka komentar nyeleneh, akhirnya dikecam. Ada yang suka pamer harta, akhirnya difitnah. Ada yang dituduh penghancur rumah tangga, akhirnya disumpah-serapahi. Ada yang sombongnya nggak ketulungan, jadinya dibenci tujuh turunan.  

Puas? Dapat apa setelah mencacimaki? Nothing. Ulah buruk para pesohor itu toh juga nggak berubah. Biarkan saja. Kelak, akan mendapat ganjaran sendiri. Entah di dunia atau di akhirat. Ngapain ikut-ikutan ngurusi. Hanya menambah ketenaran atas ulah minus mereka.  Mencaci orang, nggak akan menyelesaikan masalah. Juga, nggak bikin hidup si pencaci lebih baik. Toh para pencaci itu tak lebih baik daripada yang dicaci. Bahkan bisa jadi lebih buruk. Atau, minimal sama. Bercerminlah!

Benci pada Tempatnya

Kebencian dan kemarahan kita,  harus proporsional. Pas pada tempatnya. Misal, kita benci kemunkaran yang merajalela, termasuk yang dilakukan orang terkenal. Tapi, dilarang nge-bully person itu seenaknya. Pastinya kita nggak boleh jadi haters.  Apalagi sebagai muslim, segala perilaku, ucapan, ide dan gagasan kita musti terikat pada hukum syara’. Ide kebebasan itu hanya ilusi. Nggak ada. Bebas sebebasbebasnya hanya merusak.

Ya, manusia itu emang nggak bebas. Termasuk dalam berpendapat. Musti dibatasi.  Hanya pendapat yang baik dan benar saja yang boleh eksis. Yang sesuai tuntunan wahyu Allah SWT. Jemari ini pun nggak bebas ngetik. Tulisan sependek apapun pasti tercatat di buku malaikat. Musti dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta kelak.  Nasihat, ide, masukan, kritik dan saran harus membangun. Inspiratif dan solutif.

Disampaikan dengan kalimat yang baik dan konstruktif. Jadi kalo kamu nggak bisa bikin pencerahan, mending diam. Tahan jari. Nggak usah kegatelan nge-bully jika nggak sependapat dengan orang. Kita ingin,  para netizen adalah orang-orang yang  santun, cerdas, dan berakhlak mulia. Kita juga pingin, para pesohor itu  hanyalah orang-orang baik yang menebarkan aura positif bagi masyarakat. Mereka yang mampu memperbaiki jiwa-jiwa manusia digital yang kian kotor oleh debu-debu  teknologi.

 Makanya, untuk mencegah supaya nggak terinspirasi jadi haters, pilih-pilih kalo mau mem-follow pesohor ya, D’Riser. Ikuti sosok yang ngasih inspirasi kebaikan. Pasti hanya hal-hal positif aja yang dia dibagikan. Jadi nggak merangsang kedengkian.  So, mulai sekarang, putus hubungan deh sama para inspirator kebencian. Yakin deh, kalo pesohorpesohor minus itu nggak punya followers, eh…haters, ntar mati gaya sendiri. Yakin.(*)

Le Quenelle

Gool pada menit ke 40 bintang kesebelasan West Bromwich Albion, Nicolas Anelka, mencetak gol  pertama ke gawang West Ham United di Stadion Upton Park-London, Sabtu (28/12/2013).  

Usai membuat gol, Anelka berlari ke sisi kanan gawang lawan. Kemudian ia melipat tangan kiri  ke arah dada kanan, sedangkan tangan kanan lurus ke depan agak ke bawah. Itulah ekspresi yang disebut Le Quenelle. Akibat selebrasi pada laga yang berakhir imbang 3-3 tersebut, Anelka menuai kecaman. Prestasinya mencetak dua gol seperti terlupakan.

Nah lho! Aksi Nicolas Anelka membuat marah komunitas Yahudi. Telebih, selebrasi dilakukan di markas West Brom, Stadion Boleyn Ground, milik orang Yahudi. Kongres Yahudi Eropa pun meminta polisi untuk menangkap Anelka dan memberinya hukuman.

Nicolas terancam hukuman tak boleh main di lima laga di Liga Primer Inggris.  Seperti dilansir Dailymail, Nicolas Anelka akan jadi pemain West Bromwich pertama yang mendapat sanksi dari Football Association Inggris. Mantan pemain tim nasional Prancis itu dituduh bersikap rasis.

Sebab, dia dikira melakukan gerakan hormat Nazi yang dibalik. Nicolas Anelka dituduh anti-semit. Padahal, begitu banyak pesepakbola Eropa yang selama ini  ”anti-semit” karena mereka pro- Palestina. Misalnya dalam laga Sevilla kontra Devortivo La Coruna di ajang Copa Del Rey (8/1/2009), usai membuat gol, striker asal Mali Frederic Kanoute membuka bajunya untuk memperlihatkan kaos dalamnya yang bertuliskan “Palestine”. Saat itu, warga Gaza memang tengah digempur  arsenal Zionis Israel.

Gara-gara selebrasi itu, wasit mengkartu kuning Kanoute. Federasi Sepak Bola Spanyol (REF) juga mendendanya 3000 euro atau sekitar Rp 45 juta. Tapi, Kanoute sudah siap mengambil resiko. ”Itu sesuatu yang saya rasa harus saya lakukan. Setiap orang seharusnya merasa bertanggung jawab saat menyaksikan ada suatu situasi yang sangat tidak adil itu. Saya merasa 100 persen bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan dan saya tidak takut atas sanksi itu,” tuturnya kepada televisi swasta Telecinco.

Sikap membela Palestina juga ditunjukkan banyak pemain dan ex bintang lapangan hijau non-Muslim seperti Eric Cantona (ex Manchaster United), Maradona (Argentina), Pep Guardiola (pelatih Bayern Munchen), dan Christiano Ronaldo (Real Madrid). Pep Guardiola, sewaktu masih mengasuh Barcelona, menyatakan hukuman terhadap Frederic Kanoute tadi, tidak sepantasnya diberikan.

Sebab, sikap Kanoute mewakili aspirasi kemanusiaan universal.  Christiano Ronaldo, bintang asal Portugal, memberikan sepatu emasnya kepada lembaga amal klubnya dalam rangka membantu anak-anak Palestina.

Dalam lelang, sepatu emas itu laku 1,4 juta euro. Sebelumnya, saat masih di Manchester United, Inggris, dalam sebuah acara Ronaldo sengaja mengenakan kafiyeh Palestina. Akibatnya, ia dikecam habis oleh kekuatan lobi-lobi Zionis. Media massa Inggris menyebut aksi Ronaldo itu sebagai bentuk kepedulian dan solidaritasnya terhadap krisis Palestina dan warga Jalur Gaza.  

“Rasialisme, hak asasi manusia, dan hukum internasional tentang pelanggaran tindak kekerasan setiap hari muncul di negara tersebut. Ini saat yang tepat mengakhiri kekebalan hukum Israel dan memaksa untuk melakukan standardisasi kesamaan hak, keadilan, dan menghormati hukum internasional yang juga telah dilaksanakan oleh negara lainnya,” tulis Eric The King, sebutan Cantona, dalam suratnya kepada Presiden UEFA Michel Platini guna memprotes keputusan UEFA yang menjadikan Israel tuan rumah Euro U-21 tahun 2013.

“Kami, para pesepakbola Eropa, mengungkapkan rasa solidaritas kami untuk rakyat Gaza, yang hidup di bawah ancaman perang dengan harga diri dan kebebasan mereka sebagai manusia telah dikesampingkan,” tulis Kanoute di situs blog-nya, Jumat (30/11/2012) menyoal penunjukan itu. Soal Le Quenelle sendiri, tergantung penafsiran siapa.

Le Quenelle, arti harfiahnya ‘pangsit ikan’. Sedangkan menurut Kamus Arti Nama Anak, Quenelle menunjukkan karakter: ‘pemimpin yang kuat. menarik. penuh semangat, mudah beradaptasi. tidak dibuat-buat dan unik. penuh gairah. memiliki kemampuan berbicara yang baik. sering bepergian. menyukai petualangan dan hiburan.’ Kaum Yahudi mengklaim ekspresi yang dipopulerkan komedian Prancis Dieudonne Mbala Mbala itu sebagai simbol jawaban salam Nazi yang anti-semit. Namun menurut referensi sejarah, Le Quenelle justru mirip dengan gerakan The Sign of Hidden Hand atau The Sign of Devil’s Claw, yang merupakan bagian dari politik simbol gerakan Zionis Freemasonry.

Penzaliman terhadap Nicolas Anelka, menunjukkan kuatnya cengkeraman pengaruh (proxy) Yahudi terhadap Eropa hingga ke lapangan hijau. Tapi, seperti pernah dikatakan Mahathir Mohammad, proxy Yahudi bisa dikalahkan asalkan ada kemauan dan kekuatan sebuah negara.

Yup, tingkah Yahudi yang menguasai dunia udah saatnya dapat lawan yang seimbang. Dan hanya Islam dengan kekuatan negara dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah yang bakal menundukkan kecongkakan Yahudi. Saatnya umat bersatu dan bergerak mengembalikan kejayaan Islam![]

Pengasong Kondom Asing

Turut menghebohkan Peringatan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember, Kementrian  Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Komite Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) dan perusahaan sponsor menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN), 1-7 Desember 2013.

Namun belum genap sepekan berjalan, kampanye kondomisasi berdalih safe-sex itu dihentikan setelah menuai gelombang protes dari berbagai pihak. Saat menemui pendemo dari Front Pembela Islam, Staf Khusus Bidang Politik Kebijakan Kesehatan Kemenkes, Bambang Sulistomo, mengatakan, “Pekan Kondom Nasional ini bukanlah kegiatan dari Kementerian Kesehatan melainkan dari pihak swasta. Kemarin sudah dihentikan,” ujar Bambang lewat pengeras suara di hadapan laskar FPI.

Ia juga membantah ada pembagian kondom pada pelajar dan pemuda seperti yang dituduhkan FPI. Pembagian kondom hanya pada pria yang beresiko tinggi di pelabuhan, terminal dan lokalisasi. Namun, tidak butuh IQ tinggi-tinggi untuk menilai pernyataan Kemenkes itu sebagai sekadar cuci tangan.

Sebab, PKN sudah menjadi program pemerintah sejak 2009. PKN 2013 pun sudah dipublikasikan oleh Kemenkes sejak sebulan sebelumnya. Kondomisasi, termasuk lewat PKN, merupakan strategi penanggulangan HIV/AIDS yang diadopsi dari UNAIDS dan WHO sejak 1994. Programnya antara lain: kondomisasi dan pembagian jarum suntik steril. Kondomisasi dikampanyekan sebagai sarana safe-sex (seks yang aman) dengan dual protection yakni melindungi dari kehamilan tak diinginkan sekaligus dari infeksi  menular seksual termasuk HIV/AIDS.

Kampanye kondom juga dilakukan dengan membagi-bagikan kondom secara gratis di tengah-tengah masyarakat seperti mal-mal dan supermarket. Bahkan sempat juga digulirkan Program ATM (Anjungan Tunai Mandiri) kondom. Cukup  dengan memasukkan 3 koin lima ratus perak, maka akan keluar 3 boks kondom dengan 3 rasa.  

PKN di Amerika dimulai tahun 1978, menyasar mahasiswa University of California, Berkeley, Amerika. Dalam kurun 1980-1990, barulah PKN menyebar ke acara kampus lokal di universitas, sekolah tinggi, organisasi AIDS, dan organisasi keluarga berencana dan apotek .

Tapi, PKN Amerika mendapatkan penolakan luas. Misalnya pada 1995, Christian Ministries mensponsori serangkaian iklan di berbagai kampus-kampus untuk mendorong pernikahan sebagai satu-satunya cara yang tepat untuk seks sehat. Misalnya iklan berbunyi: “Cinta atau Lateks?”, dan “Siapa butuh kondom jika Anda memiliki komitmen?” dibagikan untuk melawan kegiatan PKN ini.

Seperti dikutip Prof Dadang Hawari (2006), H Jaffe (1995) dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (USCDC: United State Center of Diseases Control), menyebutkan, evaluasi PKN yang dilakukan pada 1995 amat mengejutkan, karena ternyata kematian akibat penyakit AIDS malah menjadi peringkat nomor 1 di AS, menggeser penyakit jantung dan kanker. Kemenkes bisa saja berkilah PKN tidak bagi-bagi kondom.

Tapi faktanya, di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta Selatan, DKT yang memproduksi kondom Sutra dan Fiesta menyediakan board bertulisakan AIDS berukuran 3×2 meter yang dirangkai dari kotak-kotak kondom. Pengunjung yang berminat dipersilakan untuk mengambil kotak-kotak kondom tersebut.

Namun, DKT mengatakan kegiatan ini bukan untuk menganjurkan seks bebas. “Ini bukan media penyebaran seks bebas. Karena kalau kondom nggak ada apakah seks bebas akan berkhenti juga? Kan enggak,” kata Todd Callahan, Country Manager DKT Indonesia dalam peluncuran PKN di Citos, Jakarta Selatan, Minggu (1/12/2013).

Ini juga pernyataan bohong, karena pesan kampanye kondomisasi adalah “Silakan melakukan hubungan seks bebas dengan siapa saja, asal memakai kondom.”  Di Amerika Serikat, PKN biasanya digeber pada momentum seperti Hari Valentine. Akibatnya, kampanye kondom justru semakin meningkatkan pergaulan seks bebas.

Hal ini diungkapkan Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California. Berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today, 14/4/1998). Efektivitas kondom sebagai alat pencegah penularan HIV/AIDS pun sudah banyak terbantahkan.

Seperti dikemukakan Prof Dadang Hawari (2002), efektivitas kondom diragukan (Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima, 1993); HIV masih dapat menembus kondom (Penelitian Carey [1992] dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA); Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pada kondom (yang terbuat  dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam keadaan  meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron.

Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus pori-pori kondom (Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995).  Maka, jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan (V Cline, profesor psikologi dan Universitas Utah, AS, 1995). Akhirnya, terang-benderang bahwa PKN tak lebih dari program pengasongan kondom impor. Data bisnis menunjukkan, setiap tahun Indonesia membutuhkan 190 juta kondom.

Negeri ini sudah memiliki pabrik kondom di Banjaran Bandung yang dikelola BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia. Pabrik kondom terbesar di Asia Tenggara itu mampu memproduksi sekitar 129 juta kondom pertahun. Anehnya, kondom Artika dengan 5 varian keluaran RNI hanya menguasai pangsa pasar 2%. Sedang 98% pasar kondom dikuasai oleh merek asing seperti Durex, Fiesta, dan Sutra.

Driser, sudah jelas gimana bobroknya negara kita dengan program kondom nasional. Menteri kesehatan yang berotak mesum itu jadi dalang dibalik kampanye pemerintah untuk mensponsori gaya hidup hewan, seks bebas. Nggak bisa dipungkiri lagi kalo aturan kapitalis yang dipake pemerintah buat ngatur rakyatnya, aktif memfasilitasi kemaksiatan merajalela.

Akibatnya kesengsaraan dan musibah akan terus mendera. Satu-satunya cara menghentikan wabah virus HIV/AIDS yang menular via seks bebas adalah diterapkannya syariah Islam oleh negara. Agar pelaku seks bebas kapok dengan hukuman rajam atau jilid. Masih percaya ama aturan kapitalis yang bikin rakyat sengsara? Apa kata dunia![]