Kumismu itu, Bang!

Majalahdrise.com – Kalau kita lihat foto-foto perwira Belanda yang berasal dari tahun 1800-an, ternyata kumisnya baplang-baplang kaya burung walet lagi terbang. Saking baplangnya tu kumis, sampe-sampe bibir dan mulutnya ketutupan semuanya. Kebayang banget kalo lagi makan, nasinya bakal belepotan di kumis. Bisa juga bumbu rendang atau kuah opor pada nyangkut di kumis. Hal yang sama juga terjadi pada teh dan kopi, kumis baplang akan dengan efektif menyaring ampas teh dan kopi.

Kalau diperhatikan lagi, biasanya perwira-perwira Belanda itu kedua ujung kumisnya pada runcing dan mencuat ke atas. Lucu banget keliatannya. Apa nggak geli ya punya kumis segondrong itu?

Sesuatu yang lagi ngetren pastinya akan selalu silih berganti di setiap zaman. Pada abad 19 semasa hidupnya para perwira Belanda itu, mungkin kumis baplang lagi ngetren, dan orang yang punya kumis baplang bakal dipandang ganteng dan keren. Ketika zaman berubah, maka tren pun berubah lagi. Pada dekade tahun 70-an dan 80-an, kumis menjadi tren lagi. Penyebabnya karena aktor masa lalu muncul dengan kumis yang mentereng. Mulai dari Roy Marten dengan kumis tipisnya hingga pemilik kumis tebal seperti Slamet Rahardjo, Sophan Sophian, Benyamin, dll. Terakhir sosok gagah berani Brama Kumbara yang muncul di film Saur Sepuh membuat pamor kumis makin menanjak. Pada dekade 90-an dimulailah fase cowok-cowok ‘bening’ yang tergabung dalam boyband (hehe). Karena para personil boyband yang ganteng-ganteng itu nggak pake kumis, tren kumis seolah-olah jadi tenggelam. Orang yang keukeuh pake kumis bakalan dicap guru killer (ups!).

Sekitar akhir 2013, tren kumis mulai merebak lagi. Aktor-aktor berkumis mulai dijadikan acuan, seperti Johny Depp dan Adam Levine. Di Indonesia, aktor-aktor berkumis sebut saja Tora Sudiro. Beberapa artis lainnya kini pun terlihat memelihara kumis, sebutlah Giring Nidji, Darius Sinatria, dan Chico Jericho.

Kumis memang melambangkan kejantanan dan kemachoan. Menurut Dr. Moeslan Saradhawarni, SpOG MARS yang pakar seksolog itu, kumis merupakan perkembangan alamiah sekunder pria dewasa. Pertumbuhan kumis sama normalnya seperti perubahan suara dan perkembangan jakun. Beliau pun menyebut bahwa kumis sangat laki-laki, karena tingkat kelebatannya diukur dari tinggi rendahnya hormon Androgen milik pria. Jadi cowok berkumis sebenarnya macho banget gitu lokhhh!

Terkait dengan perkumisan, Islam punya aturan sendiri lho. Pertama, kepribadian alias sifat dan karakter seorang cowok nggak dipandang dari kumisnya. Mentang-mentang kumisnya baplang dianggap macho. Atau sebaliknya kumis tipis atau gak ada kumisnya dibilang bencong. Sebab nyatanya ada juga lho cowok yang nggak bakat berkumis. Jadi kumisnya tumbuh semaunya tergandung mood alias nggak rata. Walau udah diolesin minyak firdaus biar tumbuh lebat, tetapi tetep aja keriting. Kemachoan seorang cowok tergantung dari cara berfikir dan sikapnya dalam keseharian. Jika keduanya dilandasi dengan Islam, maka pastilah ia adalah cowok macho dunia akhirat. Bravo!!!

Kedua, seorang muslim disunahkan untuk mencukur kumis dan memelihara jenglot, eh jenggot untuk membedakan kita dengan orang kafir seperti kaum Majusi penyembah api. Rasul saw mengingatkan, dari Abu Hurairah juga diriwayatkan oleh Muslim:“Bedakanlah kalian dengan orang-orang Majusi, karena sesungguhnya mereka (orang-orang Majusi) memendekkan jenggot dan memanjangkan kumisnya.

Nah driser, kalo kamu termasuk cokum alias cowok berkumis rajin-rajin deh dipotong tuh kumis biar nggak berantem dengan bulu hidung. Selain rapi dan tambah cakep, ngikutin sunah Rasul juga lho. Untuk yang gak bakat jadi cokum, santai aja. Getolin deh ibadah dan dakwahnya. Biar skala ketakwaannya meningkat dan bahagia dunia akhirat. Yuk! [@SayfMuhammadIsa]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 41

Cowok Sok Pahlawan

Fenomena “cowok sok pahlawan” ini bakal keliatan banget di dalam aktifitas pacaran. Di dalam aktifitas baku syahwat ini, cowok bisa jadi sangat sok pahlawan kalo di depan pacarnya. Dia bakal jadi yang paling perhatian, paling sayang, dan bahkan paling ngebelain kalo ada nyamuk yang hinggap di tubuh pacarnya. Tapi kepengecutan bakal langsung muncul kalo tu cowok udah ditanya soal kapan datang melamar. Biasanya mereka cuman bakal ngejawab, “udah kita jalanin aja dulu”, atau “kita mengalir aja dulu.” Padahal semua jawaban itu cuman buat ngeles doang.

Kepengecutan juga bakal tampak kalau udah terjadi hal-hal yang fatal, seperti hamil di luar nikah. Ketika ceweknya datang sambil mewek terus minta pertanggungjawaban, dia malah melongo nggak bisa berbuat apa-apa, dan ujung-ujungnya kabur begitu aja. Semua tindakan cowok yang sok pahlawan ini akan terlihat sangat jelas di dalam aktifitas pacaran.

Fenomena “cowok sok pahlawan” ini juga keliatan banget dari solidaritas nggak jelas anak-anak yang suka tawuran. Kalo ada temennya yang diejek atau dipalak sekolah lain, mereka dengan lantangnya akan membela kawannya itu, kalau perlu mereka akan menyerang balik siswa dari sekolah yang melakukan tindakan itu. Atau kalo ada temennya yang pacarnya direbut sama anak sekolah lain, mereka juga akan bertindak membelanya. Ujung-ujungnya adalah tawuran yang terjadi di tengah jalan dan pinggir jalan. Yang kayak begini ini bukannya pahlawan, tetapi kriminal. Karena mereka melakukan pembelaan kepada hal-hal yang nggak penting dan nggak ada artinya sama sekali.

Driser, emang wajar kalo cowok punya sifat kepahlawanan. Udah bawaannya dari lahir kelees…. Biologi para cowok didominasi hormon-hormon macam testosteron yang mendorong mereka jadi agresif, hasrat berburu kekuatan sosial, ambisi dan kemandirian. Cowok juga lebh banyak diisi hormon vasopressin yang bikin cowok jadi mementingkan teritorialitas, hierarki, kompetisi dan ketekunan. Cowok emang dikaruniai untuk menunjukkan keberanian dan semangatnya, juga mengorbankan diri untuk kehormatan dan kekuasaan. Termasuk, keberanian mengambil resiko untuk orang yang dicintainya. Cowok sejati emang the hero!

Tapi perlu dibedakan cowok yang sok pahlawan dengan yang berjiwa pahlawan. Bedanya ada dalam soal ketulusan. Cowok yang sok pahlawan berbuat baik karena ada udang dibalik bakwan. Ia menolong orang karena cari muka atau mengharapkan balasan dari orang yang ditolongnya. Sementara mereka yang berjiwa pahlawan, menolong tanpa pamrih atau imbalan. Tujuannya murni cari pahala. Jadi siapa saja dia tolong, nggak ngeliat status sosial atau level kecakepan. Mau akhwat ‘macan’alias manis dan cantik atau nenek-nenek yang keriput bin bau tanah, sama-sama ditolong tanpa imbalan.

Jiwa pahlawan itu lahir dari pemahaman tentang kehidupan, pahala, dan surga. Cara memupuknya gampang aja. Kenali Islam lebih dalam dengan rutin ikut pengajian. Karena hanya Islam yang bisa kikis sifat sok pahlawan sekaligus menyuburkan keikhlasan. Dengan sendirinya, jiwa pahlawan menjadi bagian dari pribadi kita. Siap menolong sesama walau tanpa liputan media massa atau sorotan kamera. Ikhlas lillahi ta’ala. Siap?! [@SayfMuhammadIsa]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

Cowok Maho! Jijaynya Kaum Gay

 Semakin hari kaum gay makin nggak malu-malu lagi nunjukin eksistensinya. Mereka semakin menuntut masyarakat untuk mengakui keberadaan mereka. Mereka juga menuntut masyarakat agar nggak memandang mereka sebelah mata. Apalagi pake mata kaki. Karena menurut mereka, menjadi gay itu bukan mau mereka, udah ketentuan dari ‘sononya’ mereka itu harus menjadi gay (ada-ada aja). Ada juga yang bilang bahwa jadi gay itu adalah salah satu pilihan yang merupakan hak asasi. “Terserah gue dong, mau jadi gay kek, mau nggak kek.” Dan katanya, semua orang harus menghormati keputusan seseorang tentang orientasi seksualnya dengan menjadi gay. Waduh, makin kacau aja nih!!!

Kalo kita telusuri gimana aktivitas dan gerak mereka untuk mendapatkan pengakuan, kita bakal tahu bahwa ada kekuatan-kekuatan global yang mendukung mereka. Yuk disimak!

Tahun 1920-an, komunitas homoseks mulai bermunculan di kota-kota besar di Hindia Belanda. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya sekitar tahun 1968, istilah wadam dimunculkan buat menggantikan istilah bencong atau banci yang kesannya lebih merendahkan. Setahun berikutnya, didirikan organisasi wadam pertama, Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD), yang difasilitasi oleh Gubernur DKI Djakarta Raya, Ali Sadikin. Di masa rezim Soeharto, istilah wadam diganti lagi menjadi waria, sebab para ulama nggak suka dengan istilah wadam. Seolah-olah istilah wadam ini memplesetkan nama Nabi Adam as. (bener juga ya).

Organisasi gay pertama, Lambda Indonesia, didirikan tahun 1982. Berdirinya organisasi ini memicu didirikannya organisasi serupa pada tahun 80-an dan 90-an. Lambda Indonesia ini termasuk organisasi homo tertua dan terbesar di Asia Tenggara lho. Ngeri banget kan!! Organisasi ini melakukan banyak aktifitas, di antaranya mengadakan berbagai pertemuan kaum homo, mengkampanyekan kesadaran dan kebanggaan akan status mereka sebagai homo, dan menyebarkan buletin Gaya Hidup Ceria. Lambda Indonesia kemudian dibubarkan pada tahun 1990-an.

Bulan Agustus 1987, Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara yang kemudian dipendekkan menjadi Gaya Nusantara, didirikan di Pasuruan dan Surabaya sebagai penerus Lambda Indonsia. Mereka menerbitkan buku seri Gaya Nusantara.

Kongres Lesbian dan Gay Indonesia (KLGI) pertama diselenggarakan pada bulan Desember 1993 di Kaliurang, Yogyakarta. Kongres ini diikuti oleh 40 peserta dari Jakarta sampai Ujungpandang. Dihasilkanlah 6 butir ideologi pergerakan gay dan lesbian Indonesia. Bulan Desember 1995, diadakan lagi KLGI di Lembang dengan jumlah peserta yang lebih banyak dari sebelumnya (perekrutan mereka berhasil). Diputuskanlah Gaya Nusantara sebagai koordinator jaringan gay dan lesbian di Indonesia. KLGI III diadakan di Denpasar Bali dan baru pada kongres ketiga inilah wartawan dari luar diizinkan meliput jalannya sidang kaum homo itu.

Kontes waria dalam ajang Pemilihan Miss Waria Indonesia digelar di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat. Gubernur Sutiyoso menyumbang uang Rp. 100 juta (stres banget!). Sebanyak 30 waria bergabung dalam ajang ini, dan Olivia Lauren, waria asal Jakarta, terpilih sebagai Miss Waria Indonesia 2005. Penyematan tiara dilakukan langsung oleh Miss Waria 2004 Megi Megawati (itu nama kalau malam, kalau siang namanya Totok Sugiarto). Pemenang ajang ini katanya akan dikirim untuk ikut ajang internasional. Emang udah pada setres semua.

Kalau kita buka situs gayanusantara.or.id, di situ akan kita temukan bahwa gerakan kaum homo ini murni berdasarkan pada ide kebebasan berekspresi yang berasal dari ideologi kapitalisme-sekular. Kondisi sosial yang liberal (bebas) inilah yang dipuja-puja oleh mereka. Sistem yang menjijikan ini telah menjerumuskan masyrakat pada jurang kenistaan. Kambing aja nggak ada yang homo, lha ini orang?!

Driser, berkembangnya kehidupan homoseks hanya terjadi di negeri-negeri yang aturan hidupnya steril dari syariat Islam. Ini disebabkan mereka menjadikan kebebasan individu di bawah lindungan demokrasi sebagai panglima tertinggi yang wajib dihormati. Catet tuh!

Hawa kebebasan individu yang ditawarkan demokrasi mengizinkan mereka mengibarkan bendera Pelangi sebagai simbol komunitas kaum homoseks. Ibarat oase di tengah panasnya padang pasir, kebebasan itu juga memancarkan sebuah asa bagi mereka untuk membuka diri tanpa takut mengalami diskriminasi. Sehingga perkawinan sejenis (gay) yang mulai banyak disyahkan di beberapa negara Eropa, kudu diterima sebagai sebuah konsekwensi dari kebebasan individu.

Dan jika paham permisif ini dibiarkan, boleh jadi kita akan memanen kebejatan moral masyarakat di masa yang akan datang. Penularan HIV/AIDS atau mewabahnya Penyakit Menular Seksual semakin meningkat. Haruskah azab yang Allah timpakan pada kaum Nabi Luth terulang di negeri kita? Naudzubillahi min dzalik

Kalo negeri kita tercinta bebas dari perilaku jahiliyah macam kaum gay yang bikin jijay, nggak ada pilihan kecuali Negara mau pake Syariah Islam buat ngatur rakyatnya. Titik![Isa]

di muat di Majalah Remaja islam Drise Edisi #38

Cowok Anti tawuran

tawuran Yang namanya remaja cowok pastinya seneng banget kalau kelihatan keren, gagah, dan macho. Ya iyalah, masa pengen keliatan gemulai bak putri solo. Emang cowok apaan. Karena ingin kelihatan keren, gagah, dan macho, anak cowok bakal melakukan apapun untuk mewujudkannya. Bagus sih kalo yang diperbuatnya tindakan yang positif dan prestatif. Bisa bermanfaat buat orang lain. Sayangnya, yang banyak dikerjain justru sifatnya desktruktif alias merusak dan merugikan orang lain. Hadeuh!

Salah satu ekspresi remaja cowok biar keliatan gagah adalah ikut tawuran. Nah lho! Kian hari, tawuran seolah jadi kegiatan ekstra kulikuler. Lantaran beberapa sekolah udah punya musuh bebuyutannya sendiri dari sekolah lain sebagai ‘lawan tanding’. Dan kalau kedua sekolah yang udah jadi musuh bebuyutan ini ketemu di tengah jalan, maka yang terjadi kemudian adalah pertempuran besar. Dan alasan dari semua kekacauan yang kerap berujung pada pertumpahan darah itu lebih sering karena hanya ingin terlihat keren, gagah, dan macho.

Data yang dikutip dari tribunnews.com menggambarkan bahwa remaja di negeri ini sudah darurat tawuran. Sepanjang tahun 2013 yang lalu terjadi 112 kasus tawuran yang menewaskan 12 siswa. Bahkan Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, menyatakan bahwa tawuran ini sudah menjalar juga ke daerah. “Total kasus di seluruh Indonesia mencapai 255 kasus dengan total tewas 20 orang, terbanyak memang di Jakarta,” kata Arist. Jumlah ini meningkat sekitar 50 persen dibanding tahun 2012 yang hanya 128 kasus. “Karena itu, tahun ini merupakan tahun darurat terhadap kekerasan anak,” ujar Ketua Umum Komnas Anak,  Arist Merdeka Sirait.

Nah lho ngeri banget kan? Padahal sebab-sebab tawuran itu lebih sering karena hal-hal sepela duapele demi gengsi dan biar terlihat keren dan disegani. Gara-gara saling lirik kemudian bisa saling bunuh. Gara-gara rebutan cewek sampe bertaruh nyawa. Karena saling menyoraki kemudian saling menyakiti. Malah ada yang lantaran saling bully di sosial media, ujung-ujungnya memakan korban jiwa. Haduuhh geleng-geleng kepala.

Driser, ayo kita ingatkan diri kita dan teman-teman kita untuk berhenti dari rutinitas tawuran. Tawuran nggak bikin diri kita mulia dihadapan manusia, apalagi dihadapan Allah swt. Yang ada, justru diri kita jadi terhina karena dikalahkan oleh hawa nafsu. Tawuran juga nggak bikin persoalan tuntas. Yang ada, tambah runyam. So, daripada sibuk mikirin aksi balas dendam lebih baik salurkan gelora jiwa muda kita ke arah positif. Seperti dengan aktif mengenal Islam lebih dalam. Selain bisa membentengi diri dari godaan hawa nafsu, dengan mengaji juga membuat peran kita sebagai generasi harapan umat lebih maksimal. Ayo, tinggalkan tawuran dan aktif di pengajian! []

BOX

Tips dan Trik Menghindari Tawuran

Berikut ini beberapa tips dan trik untuk D’Riser untuk menjauh dari berbagai peristiwa tawuran yang ada di sekitar kita.

  1. Ketahuilah musuh bebuyutan sekolah kita, kalau ada. Dengan mengetahui hal ini kita akan lebih waspada jika bertemu dengan anak-anak dari sekolah yang jadi musuh bebuyutan kita itu.
  2. Usahakan untuk selalu melewati jalan yang ramai. Jangan suka lewat jalan yang sepi. Terutama tempat nongkrong sekolah yang didaulat jadi musuh bebuyutan.
  3. Siapkan kaos ganti untuk menghindari sweeping dalam angkutan umum oleh pelajar yang lagi cari masalah dengan sekolah lain.
  4. Jika mendengar suara ribut-ribut ada yang tawuran, segeralah menghindar. Jangan malah penasaran. Apalagi sampe ikut ambil bagian.
  5. Kalo ada masalah dengan teman sekolah sendiri, atau sekolah lain upayakan jalan damai. Pake otak, bukan pake otot.
  6. Jauhi teman-teman sekolah yang jadi aktifis tawuran. Terutama saat mereka tengah bersiap-siap melakukan peperangan. Dekati mereka saat suasana lagi kalem bin adem. Ingatkan tentang bahaya tawuran dan kerugiannya di dunia akhirat.
  7. Ajak para aktifis tawuran untuk gabung di pengajian bersama kita. Salurkan kreatifitas dan jiwa muda mereka untuk menyuarakan kebenaran.

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #37