Cara Menyikapi Orang yang mengejek Kita

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Saya siswi SMP, di kelas saya berupaya untuk dakwah pada teman, namun lama-kelamaan saya menjadi di asingkan atau terasingkan, teman semua memandang saya “sebelah mata”, tapi saya berusaha sabar dan mengambil hikmahnya. Bagaimana cara menyikapi orang yang mengejek kita, apakah hanya dengan diam saja? (Nisa, Bajarmasin)

 Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Dik  Nisa yang baik, Alhamdulillah, di usia Adik yang masih  muda sudah ikut serta berdakwah, menyerukan Islam kepada teman-teman. Dakwah adalah aktivitas mulia, amanah dari Allah SWT untuk seluruh kaum muslimin. Para Nabi dan Rasul mulia dikarenakan amanah dakwah ini, begitu pula kaum muslimin yang melaksanakannya akan diberikan kemuliaan sebagaimana mereka. Berdakwah, menyeru kepada Islam adalah sebaik-baik perkataan.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebaikan dan berkata “Sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Fushilat ( 41) :33).

Allah SWT menjanjikan balasan yang besar bagi mereka yang melakukan aktivitas dakwah.  Dik Nisa yang baik,  Saya bisa merasakan apa yang Adik rasakan. Merasa sedih dan kecewa dengan sikap teman-teman.  Rasulullah saw bersabda Islam pertama kali datang dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut.

Sosok mulia Rasulullah pun tidak lepas dari ejekan saat mendakwahkan Islam.  Sudah menjadi Sunatullah ketika kita mengajak pada kebaikan, maka akan ada respon yang beragam dari orang. Sebagian menerima, dan sebagian lainnya menolak dan menganggap apa yang kita sampaikan asing alias “aneh”, sebab Islam memang sudah sangat jauh dari benak dan kehidupan kaum muslimin saat ini. Saat diejek, tentu ada perasaan kita yang tidak rela dan tidak terima. Ini adalah hal yang wajar, dikarenakan manusia mempunyai perasaan (naluri) mempertahankan diri ketika ada sesuatu yang mengusiknya.  

Subhanallah, selama ini Adik sudah berusaha untuk bersabar dan mengambil hikmah dari sikap teman tersebut. Itulah sikap terbaik seorang muslim. Ketika diejek tidak terpancing emosi, tidak membalas, tetapi bersabar menghadapinya. Allah SWT memerintahkan kita untuk bersabar dan  tidak menghiraukan sikap mereka 

Dan, janganlah kamu hiraukan gangguan-gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukup Allah sebagai pelindung ”(QS. Al-Ahzab: 48).

Kesabaran membuahkan pahala yang besar dari Allah SWT. Jadikan sikap teman yang negatif sebagai ujian untuk meningkatkan derajat kemuliaan Adik di hadapan Allah SWT.  Dik Nisa yang baik, Allah SWT melarang mengejek, mencela  orang lain. “Janganlah mencela karena bisa jadi yang dicela lebih baik dari yang mencela” (Q.S. AlHujaraat ayat 11).

Saat teman mengejek, jawablah dengan bahasa yang positif dan cobalah secara  khusus mengajaknya berbincang untuk mencari informasi penyebab ia mengejek kita, dan meluruskan pemahamannya yang salah terhadap aktivitas dakwah yang kita lakukan.  Berilah pemahaman bagaimana pandangan Allah SWT terhadap aktivitas mengejek, bisa berbincang secara langsung, memberinya buku Islam atau menjelaskan lewat medsos.

Nasihat kita diterima atau tidak, tetaplah bersikap baik pada mereka.  Do’akanlah orang yang mengejek kita dengan kebaikan. Dengan begitu, bukan mustahil orang yang tadinya menghina akan berbalik menjadi sahabat yang setia.

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia” (QS. Fushilat : 34)

Wallahu’alam…

Sindrom Nomophobia

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Mbk, kemana – mana sy bawa ponsel. Pernah sy ketinggalan ponsel di rumah, selama di kelas sy cemas, resah, alias tidak tenang. Kenapa ya, sy jadi sangat tergantung dengan handphone? (Rossa, Bulukumba) 

Wa’alaikumussalam Wr.Wr.

 Dik Rossa yang baik,  Saat ini, handphone (ponsel) memang menjadi benda yang hampir setiap orang punya dan selalu membawanya. Selain sebagai alat komunikasi, ia juga berfungsi sebagai sarana hiburan apalagi dengan semakin beragamnya media sosial yang ada. Suatu benda jika digunakan sesuai keperluan, maka akan memberikan banyak manfaat pada kita, termasuk ponsel.

Ponsel adalah alat yang dapat membantu kehidupan kita menjadi semakin mudah dan cepat. Namun jika ponsel sampai menjadikan kita hanya terpaku dan asyik dengannya (facebook, twitter, chatting, dan nonton youtube, dll) dan melupakan hal-hal lain, maka kita harus berhati – hati. Teknologi mampu memberikan manfaat, tetapi jika kita berlebihan, malah akan membawa dampak buruk bagi kita. Berlebih-lebihan dalam segala sesuatu adalah tercela dan dilarang.

“…..Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

Dik Rossa yang baik,  Jika Adik merasa resah, gelisah saat tidak bersama handphone, ada kemungkinan Adik terserang sindrom nomophobia. Sindrom nomophobia adalah perasaan takut, gelisah, cemas ketika seseorang berada jauh dari ponselnya. Saat handpone tidak bersamanya ada sesuatu yang hilang, tidak semangat, merasa serba  salah, bahkan stress. Selain panik, cemas saat ponsel tidak ada di dekatnya, tanda nomophobia lainnya yaitu merasa cemas saat baterai handphone hampir habis atau kesal saat tidak ada sinyal.

Biasanya orang – orang nomophobia menggunakan handphone dimanapun, termasuk di tempat yang tidak biasa, seperti kamar mandi, saat menyetir mobil atau motor. Mereka memakai handphone dari bangun tidur hingga tidur lagi. Saat tidurpun handphone di sisi mereka. Suka selfie atau update status. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan bersama ponsel. Mereka tidak   mematikan handphone kecuali saat kehabisan baterai. Handphone mereka selalu on 24 jam, 7 hari seminggu, 356 hari setahun.

Dik Rossa yang baik, _ Nomophobia adalah efek negatif dari smartphone dan media sosial, yang membuat orang selalu ingin mengecek media sosial, mengecek E-mail, atau ber “hahahihi” chating di instant messenger.

Orang menjadi sulit menahan keinginan melakukan kontak dengan dunia maya. Nomophobia memiliki efek buruk pada sosialisasi di dunia nyata. Ia menjadikan seseorang lebih suka menggunakan handphone untuk berhubungan dengan orang lain, daripada bertemu face to face .

Untuk mencegah nomophobia berpikirlah bahwa ponsel bukan segalanya, kontrolah diri dalam menggunakan ponsel, gunakan sesuai keperluan, matikan ponsel saat tidak dibutuhkan, matikan semua notifikasi yang tidak penting, cobalah seminggu sekali (1 x 24 jam) puasa handphone (phone free day), sibukkan diri dengan banyak aktifitas (olahraga, pengajian, dll), serta banyaklah bergaul di dunia nyata. Semoga ponsel yang kita miliki menjadi wasilah untuk kebaikan dan bukan wasilah dalam keburukan….[]

Sulit menerima kritikan

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Mbak, sy orang yang sulit menerima kritikan. Sy memilih menjauh dari bergaul dengan orang agar tidak sakit hati. Bagaimana caranya agar kita bisa menerima kritikan? (Keysa, Gowa) 

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Dik Keysa yang baik,  Memang tidak mudah untuk menerima kritikan dari orang lain. Sebagian orang bisa menerima dengan lapang dada dan menjadikan kritik sebagai pelecut untuk lebih memperbaiki diri. Sebagian lainnya tidak senang jika mendapatkan kritik.

Ada yang menjadi marah, dan tersinggung, bahkan sakit hati dan akhirnya membatasi pergaulan. Perasaan tidak senang saat mendapatkan kritikan adalah sesuatu yang wajar, sebab setiap orang punya naluri untuk mempertahankan diri.

Jika ada sesuatu yang mengusik harga dirinya, maka akan bangkit naluri tersebut. Dik Keysa yang baik,  Manusia sebagai makhluk sosial, pasti senantiasa perlu berhubungan dengan orang lain dalam kesehariannya. Tidak mungkin kita selamanya menghindari pergaulan.

Orang yang berinteraksi mengajak kebaikan pada orang lain dan mendapatkan respon negatif lebih baik, daripada seseorang yang memilih menjauh dari pergaulan, karena takut mendapat respon negatif yang tidak diinginkannya. Ketika berinteraksi dengan orang lain, hal yang wajar jika timbul beda pendapat dan adanya umpan balik atau kritikan yang ditujukan kepada kita.

Dik Keysa yang baik,  Islam mengajarkan kepada kita bagaimana memposisikan kritikan dari orang lain. Allah SWT menyeru kita untuk melakukan introspeksi atau muhasabah terhadap diri sendiri, tidak melupakan kesalahan dan tidak ujub, membanggakan kebaikan yang pernah dilakukan. Kritikan dari orang lain bisa menjadi masukan untuk muhasabah diri jika itu adalah kebenaran.

Sejatinya orang yang mengkritik dalam rangka mengingatkan dan menegur kita adalah seseorang yang menyayangi kita. Jika ada kritikan cobalah meluangkan waktu untuk mendengarkan, mempertimbangkannya, dan jika kritikan tersebut tidak benar, jangan sampai terbawa emosi dalam menanggapinya.

“Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur :22).

 “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan “(QS. Ali ‘Imran:134).

 Dik Keysa yang baik,  Tak ada gading yang tidak retak. Manusia biasa tidak luput dari salah, maka terbukalah menerima teguran, masukan dan bahkan kritikan. Pandanglah kritik secara positif. Jadikan ia sebagai umpan balik untuk mendapatkan pengetahuan tentang diri kita. Seseorang yang ingin sukses dalam kehidupannya harus mau menerima kritikan.

Kita memerlukan umpan balik untuk memberitahukan bagaimana Kita telah tumbuh, berkembang dan mengalami kemajuan, serta dimana kita berada sekarang. Umpan balik dari orang lain pada umumnya diterima jika menimbulkan kebahagiaan dan biasanya tidak diterima jika tidak enak didengar. Pandai mengambil hikmah atau pelajaran dari orang lain, akan sangat menunjang kemajuan perbaikan diri Kita.

So, jika ada yang memberi kritik membangun yang jujur, jangan cepat tersinggung. Terimalah sebagai pendorong Kita ke arah kebaikan. InsyaAllah Kita akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Allahumma aamiin…[]

Help center : Ngikutin Gaya Artis

Aslm wr.wb. Mbk, bolehkan kita berubah karena  memfigurkan kakak mentor?  (Aldi, Mlng)

 Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Aldi yang baik,

Secara alami, setiap manusia pasti  akan mengalami perubahan dalam hidupnya. Ada perubahan yang mengarah pada hal positif atau sebaliknya mengarah pada sesuatu yang negatif.  Sebaik-baik orang adalah yang tiap detik harinya selalu lebih baik dari sebelumnya.

Saat seseorang berubah, berarti  ia berusaha menjadi sosok baru, berbeda dengan sebelumnya. Perubahan ada yang bertahan menetap, atau sebaliknya hanya sementara. Semua tergantung apa motivasi yang menjadikannya berubah.  

Aldi yang baik, Seseorang memang dapat berubah  dikarenakan motivasi dari luar dirinya, semisal karena sosok figur kakak mentor.  Akan tetapi harus diingat, perubahan diri yang bukan berasal dari dalam diri sendiri, tapi sebab ikut-ikutan orang lain, atau  ingin meniru orang lain, sifat perubahannya sesaat  saja.

Tidak bertahan lama. Ia bisa hilang, seiring memudarnya pesona sosok yang kita figurkan, jika  suatu saat tampak kesalahan, dan keburukannya.     Aldi yang baik, Kita hendaklah bergantung kepada  kebenaran dan meninggalkan ketergantungan kepada figuritas. Menjadikan seseorang sebagai teladan boleh saja, tapi harus memandang dengan objektif, bahwa manusia tidak pernah luput dari salah dan khilaf.

Saat sosok yang kita figurkan melakukan kebaikan, maka kita menirunya, menjadikan motivator kebaikan. Akan tetapi jika suatu saat ia salah, maka kewajiban kita menasehatinya, bukan membencinya atau bahkan meninggalkan kebaikan yang telah kita lakukan.  Aldi yang baik, Sebagai hamba Allah, misi hidup  seorang muslim adalah meraih ridha Allah SWT. Termasuk dalam merubah diri kita ke arah yang lebih baik.

Untuk itu, perubahan diri kita seharusnya diniatkan hanya karena Allah, bukan karena uang, teman atau kakak mentor. Perubahan juga harus dilakukan dengan cara-cara yang telah ditentukan Allah SWT. Dengan niat karena Allah dan caranya benar menurut Allah, maka akan menjadikan perubahan yang kita lakukan sebagai amal yang baik.

So, jadikan motivasi berubah kita hanya karena Allah SWT. Selamat berubah menjadi pribadi luar biasa dan istimewa dihadapan-Nya. Allahumma amiin… []