Futuh Ruum Eps 08

“Maaf, saya tidak bisa!” Kata Paus dengan lemah. Dia menunduk menatap lantai marmer di bawahnya. Sementara tubuhnya yang gemetar sudah tidak bisa ditahannya lagi. Uskup Ferdinand dengan susah-payah memeganginya.

 

Khalifah tersenyum kecil dan mengangguk pelan.

 

“Terima kasih banyak atas jawaban anda,” katanya.

 

“Apa yang akan anda lakukan, Khalifah? Tolong kasihani kami, ampuni kami. Tolong jangan ganggu ketenangan kami.” Paus sudah memelas.

 

Khalifah menggeleng perlahan.

 

“Anda jangan berpikir bahwa kami pengganggu. Sebab kami hanya menyampaikan kebenaran, dan kebenaran ini bisa diuji. Kami hanya menyerukan sesuatu yang sudah sama-sama kita ketahui. Jika kita menengok ke belakang, mungkin anda tahu, Kepausanlah yang telah menyebabkan musnahnya jutaan umat manusia. Bahkan bukan cuma para tentara yang berperang, tapi juga orang-orang yang tidak bersalah, rakyat sipil, wanita, anak-anak, orangtua. Kami tidak pernah menemukan toleransi pada setiap tindakan Kepausan. Selama ratusan tahun kami dibantai, selama ratusan tahun pula Kepausan merestui setiap pembunuhan yang dilakukan atas diri kami bahkan hingga sekarang. Dengan kata lain, kedatangan kami kemari adalah untuk menghentikan Kepausan dari semua dosa itu. Sebab semua itu hanyalah hawa nafsu. Kedatangan kami adalah untuk membebaskan umat manusia dari penjajahan hawa nafsu yang membelenggu, menuju penyembahan kepada Allah Tuhan kita semua.”

 

Sunyi-senyap tiba-tiba mengambang. Yang terdengar hanyalah suara pelan kidung-kidung suci di kejauhan. Selama beberapa detik tak ada yang bicara. Semuanya tenggelem dalam alam pikiran masing-masing.

 

“Maaf, Khalifah, kami tidak bisa.” Kata Paus pelan.

 

“Baiklah,” sahut Khalifah. “Apapun yang terjadi, apapun yang anda katakan, jatuhnya kota ini ke tangan kami adalah janji Tuhan dan Rasul kami. Tidak ada kuasa apapun yang bisa menghentikannya. Kami akan mengirimkan angkatan perang kami untuk mengambil alih kota ini. Jika anda melakukan perbuatan-perbuatan yang mengindikasikan perlawanan terhadap kami, maka kami akan menghancurkan anda dan setiap pergerakan itu, tandanya anda telah menghalang-halangi sampainya keagungan Islam kepada umat manusia. Tapi jika anda tidak melakukan semua perbuatan itu, maka diri anda akan terjaga…”

 

Mendengar semua kata-kata Khalifah itu, Paus ambruk ke lantai. Dia jatuh terduduk, tak kuat lagi menopang tubuhnya. Dia menangis tersedu-sedu, dan tiba-tiba dia mengacungkan telunjuknya kepada Khalifah, dan membelalak.

 

“Anda tidak tahu apa yang sedang anda lakukan. Semua tindakan anda ini akan memicu perang besar!”

 

“Justru kami akan membebaskan umat manusia dari tirani kepemimpinan Kepausan yang sejak dulu telah menebarkan malapetaka kepada umat manusia. Baiklah, silakan anda pikirkan lagi semua yang telah kami sampaikan. Jangan salah mengambil keputusan, sebab anda sendiri yang akan menanggung konsekuensinya. Kami pamit!”

 

Khalifah dan Jenderal Ali Khan berbalik kemudian melangkah keluar Basilika Santo Petrus. Menyisakan kegundahan yang amat kental di hati Paus dan semua orang yang ada di ruangan keramat bagi orang Kristen itu.

 

000

Downing Street Nomor Sepuluh seolah-olah runtuh oleh gelegar kemarahan. Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi, sedang menghadap Perdana Menteri Inggris, David Cameron. Dan apa yang mereka bicarakan benar-benar membuat mereka tegang.

 

“Kita mesti menyerukan seluruh Eropa untuk mengobarkan perang salib untuk melawan invasi Khilafah ke Roma. Mereka sedang terus mempersiapkan diri untuk menyerang Roma, kita tidak bisa tinggal diam,” Berlusconi bicara dengan menggebu-gebu. “Kalau kita terlambat sedikit saja, Roma akan porak-poranda. Kita sudah tidak punya cara lain selain perang salib. Bapa Suci pun mendorong hal itu.”

 

“Memang sudah seharusnya begitu,” sahut Cameron. “Tapi nampaknya kami sudah tidak bisa memenuhi apa yang anda katakan. Masa-masa perang salib sudah lama berlalu.”

 

Berlusconi serta-merta bangkit dari kursinya dan mencondongkan tubuhnya kepada Cameron. “Apa yang terjadi pada anda? Mengapa anda bicara seperti ini? Apakah anda tidak mencintai agama anda sendiri? Mereka akan menyerang, tahta suci sudah di ambang perang, mengapa anda bicara seperti ini?”

 

“Saya mengerti semua yang anda rasakan.”

 

“Jika anda mengerti sebenarnya anda tidak pantas bicara seperti tadi.”

 

“Pahamilah sesuatu bahwa anda tidak bisa mendapatkan semua yang anda inginkan. Ide anda memang bagus sekali dan memang sudah seharusnya dilakukan, tapi anda tidak bisa memaksa saya untuk menuruti apa yang anda inginkan. Kondisi setiap negara pastilah berbeda-beda, dan saya mengambil keputusan seperti ini karena memandang kondisi Inggris saat ini.”

 

“Memangnya apa yang sedang terjadi pada Inggris? Bukannya Inggris adalah sebuah negara besar yang menguasai berbagai sumberdaya di dunia ini? Mengapa tidak berani keluar berperang melawan orang-orang Islam itu? Apalagi tahta suci sedang terancam, bukankah itu adalah sebuah alasan yang kuat untuk kita mengobarkan perang salib? Masa-masa perang salib telah berlalu adalah suara-suara sumbang yang harus dibuang jauh-juah dari kamus kita.”

 

“Anda tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Inggris sekarang ini, dan anda tidak perlu tahu akan hal itu. Yang pasti Inggris menolak upaya perang salib karena masanya telah berlalu. Yang harus kita pakai sekarang adalah cara-cara beradab dengan diplomasi dan perudingan.”

 

“Bagaimana mungkin kita berunding dengan orang-orang yang tidak menghendaki perundingan sama sekali? Bagaimana mungkin kita memakai cara beradab dengan orang-orang barbar yang hanya menginginkan perang?”

 

“Apapun yang anda katakan, Inggris tetap menolak perang. Itulah keputusan final dari saya, dan anda tidak bisa memaksa saya untuk melaksanakan apapun yang anda katakan.”

 

“Sekarang aku sadar bahwa Inggris memang benar-benar pengecut.”

 

“Terserah anda.”

 

Tanpa bicara apa-apa dan tanpa pamit sedikit pun Berlusconi berlalu dengan geram. Langkahnya gontai ditemani perasaan hatinya yang muram. Cameron hanya bisa menatap punggung Berlusconi yang kian menjauh. Tinggallah dia bergumam sendiri di dalam hati.

 

Kalau kau tahu, jika Inggris menghalang-halangi apa yang ingin dilakukan Khilafah, pastilah fasilitas angkatan perang Inggris akan diledakkan dengan sekali tekan tombolnya. Mereka telah berhasil menanamkan bom dengan teknologi yang kami sanggup jinakkan. Posisi Inggris telah mereka kunci.

FUTUH RUUM EPS 07

“Ketahuilah sesuatu, Tuan Perdana Menteri, ditaklukkannya tahta Vatikan dan kota Roma sudah dijanjikan Rasul kami ribuan tahun yang lalu. Silakan anda duduk manis dan memerhatikan apa yang akan terjadi nanti. Jika anda memasang badan untuk menghalangi kami mewujudkan janji Rasul kami itu, saya akan mengerahkan tentara Islam untuk menghancurkan anda. Silakan anda camkan itu, sebab saya tidak pernah main-main dengan kata-kata saya.” Khalifah Muhammad Hasanuddin menatap Berlusconi dengan tajam.

“ANDA MENGANCAM SAYA!!!” Berlusconi membelalak pada Khalifah. Telunjuknya sudah teracung lagi kepada Khalifah.

“BERLUSCONI! SAYA BILANG DIAM!!!” Biji mata Napolitano seolah akan melompat keluar dari tempurung kepalanya. Dia terlonjak dari kursinya dan berkacak pinggang di hadapan Berlusconi. “Bukan siapa-siapa yang merendahkan Italia, tapi sikap dan kata-kata andalah yang merendahkan negara kita. SEKARANG ANDA KELUAR DARI SINI.”

Tak ada seorang pun yang menyangka apa yang akan terjadi hari itu, pertemuan tingkat tinggi antara dua negara itu menjadi ajang percekcokan yang sengit. Khalifah diam saja, wajahnya datar dan tangannya dilipatnya di depan dadanya. Dia duduk tegak menatap presiden dan perdana menteri Italia itu saling berhadap-hadapan.

Berlusconi bangkit dari kursinya dan menatap mata Napolitano dalam-dalam. “Seperti yang saya katakan tadi, Tuan Presiden, sikap saya ini demi masa depan negara kita dan juga demi agama kita. Orang ini berbahaya, begitu juga setiap manuvernya, karena itu kita harus selalu mewaspadainya. Kalau kita bersikap lembek kepadanya, nanti kita sendiri yang akan dihancurkannya seperti apa yang dia katakan tadi. Jelas-jelas dia mengatakan bahwa dia akan menyerang tahta suci Vatikan untuk memenuhi janji Rasulnya, apakah kita masih meragukan semua itu? Bukankah semua itu mestinya membuat kita bersikap yang seharusnya?”

Khalifah tiba-tiba ikut berdiri, dia menatap Napolitano dan Berlusconi bergantian. Dengan gagah dia bicara.

“Baiklah kalau begitu. Dengan semua pembicaraan kali ini aku memutuskan untuk menghentikan semua perjanjian dan kerjasama antara Khilafah Islamiyah dengan Italia, karena memang kondisi yang ada sudah tidak memungkinkan lagi untuk kedua negara menjalin hubungan,” Khalifah mengembuskan napasnya. “Aku ingin menekankan satu hal sekali lagi. Takluknya Roma adalah janji Rasul dan Tuhan kami. Tidak akan pernah ada satu orang pun yang bisa menghentikannya. Jika ada pihak-pihak yang mencoba menghalanginya, maka mereka akan hancur dengan kuasa yang dimiliki Tuhan kami. Silakan pertahankan apa yang jadi pandangan anda, silakan pertahankan juga semua sikap anda, Roma akan tetap takluk untuk Islam. Dan jika waktunya telah tiba, anda tidak perlu khawatir, Islam tidaklah sama dengan agama-agama dan ideologi-ideologi yang lain. Dalam penaklukan, kami dilarang membantai. Tentu anda ingat apa yang telah dilakukan orang-orang Kristen ketika menaklukan Jerusalem? Pembantaian, hingga darah menggenang sampai mata kaki. Jika anda mau, silakan anda halangi penaklukan itu. Tandanya anda menghancurkan diri anda sendiri. Demikian, saya mohon undur diri.”

Khalifah melangkahkan kakinya menuju ambang pintu Istana Quirinal. Dia pergi begitu saja, tanpa menoleh lagi kepada para pejabat tinggi Italia itu. Sementara Napolitano dan Berlusconi terhenyak. Tapi tiba-tiba Napolitano terlonjak, dia segera berjalan cepat mengejar langkah Khalifah.

“Tuan Khalifah, tunggu sebentar. Tuan, mohon tunggu sebentar.”

Karena ingin menghargai Napolitano, Khalifah menghentikan langkahnya. Dia berbalik menghadap Napolitano. Kedua pemimpin negara besar itu bertemu muka kembali.

“Tolong maafkan semua yang sudah terjadi. Bukan maksud kami tidak menghormati anda. Saya sendiri tidak menyangka Berlusconi akan bersikap seperti tadi. Saya mohon maaf sebesar-besarnya.”

“Setidaknya perdana menteri telah mengeluarkan semua isi hatinya.”

“Mohon maafkan saya, Tuan Khalifah, sebenarnya saya agak segan menanyakan hal ini, tapi apakah benar negara Khilafah akan menaklukan Roma dan menduduki Vatikan?”

“Seperti yang sudah saya katakan dari tadi, hal itu adalah janji Tuhan dan Rasul kami. Silakan anda perhatikan apa yang akan terjadi nanti. Terima kasih banyak, Tuan Presiden, ada banyak hal yang masih harus saya selesaikan. Saya pamit.”

Khalifah berbalik dan pergi. Tinggallah Napolitano dengan lutut yang gemetar dan dada bergemuruh. Alis Berlusconi berkerut menatap punggung Khalifah.

000

Basilika Santo Petrus di kota Vatikan dilumuri sinar redup dari lilin yang panjang. Gereja besar yang dibangun selama lebih dari seratus tahun itu kokoh dan luar biasa. Dan Khalifah Muhammad Hasanuddin yang disertai Jenderal Sayf Ali Khan telah berdiri tegak di sana, di hadapan altarnya yang megah. Di dekat altar itu, Paus Benediktus XIII telah mengahadapkan wajahnya kepada Khalifah. Pemimpin spiritual Kristen sedunia itu ditemani oleh pembantu pribadinya, Uskup Ferdinand. Dua puluh orang pasukan Garda Swiss mengawal pertemuan itu.

“Adalah sebuah kehormatan bagi saya untuk bisa menerima Khalifah di tempat yang kudus ini,” Paus menyambut. Tubuhnya yang sudah lemah, bungkuk, dan ringkih begitu memprihatinkan. Uskup Ferdinand setia di sisi Paus. Suaranya agak gemetar, seakan ada rasa takut di dalamnya. “Apakah ada hal yang bisa saya bantu?”

Khalifah berdiri tegak, begitu juga Jenderal Ali Khan. Mata mereka berdua terarah pada wajah keriput Paus.

“Sebuah kehormatan pula bagi kami,” kata Khalifah. “Kedatangan kami kemari adalah untuk menawarkan sesuatu yang amat berharga kepada anda. Saya percaya anda belum pernah mendapatkan tawaran seperti ini, dan mungkin seluruh paus pun belum pernah mendapatkannya.”

“Tawaran apakah itu, Khalifah? Sebenarnya bukan hanya tawaran itu, tapi hadirnya anda di sini pun telah mengejutkan dunia Kristen. Belum pernah terjadi sepanjang sejarah dunia ini ada seorang muslim yang berdiri di hadapan tahta suci Vatikan kemudian menawarkan sesuatu.”

“Allah-lah yang Maha berkehendak. Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu. Dialah yang telah memudahkan kami untuk bisa melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan seorang pun itu,” sahut Khalifah.

Tangan kisut Paus menjadi gemetar. Tongkat emas yang digenggamnya turut gemetar. “Apakah yang ingin anda sampaikan?”

Terbit senyum tipis di hadapan Khalifah. “Saya ingin mengajak anda, masuklah anda ke dalam Islam, maka anda akan selamat di dunia dan akhirat. Marilah kita gunakan akal dan intelektualitas kita untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, kemudian membuka hati kita untuk menerima kebenaran itu dengan ikhlas dan tunduk kepadanya. Marilah masuk ke dalam Islam.”

Lutut Paus semakin gemetar hingga dia hampir-hampir tidak bisa lagi menopang tubuhnya sendiri. Uskup Ferdinand segera mengambilkan kursi, dan Paus segera didudukkan di sana.

“Ajakan anda adalah sebuah ajakan yang amat besar,” kata Paus, hampir-hampir suaranya terjebak di tenggorokannya. “Ini adalah sebuah ajakan yang amat berat, dan juga ada konsekuensi yang amat berat di dalamnya. Apakah anda menyadari semua itu?”

“Saya sangat sadar dengan semua kata yang keluar dari mulut saya,” kata Khalifah. “Dan saya harap seruan saya tersebut bisa dipahami maknanya.”

“Saya menyadari ajakan ini, hanya saja akan terjadi hal yang amat besar jika saya memenuhi ajakan anda.”

“Apakah dengan demikian anda menolaknya?”

Paus mengembuskan napasnya dan mengangguk pelan. “Saya tidak bisa menerima tawaran anda ini.”

“Baiklah, jika demikian saya akan menawarkan hal lain. Anda dipersilakan untuk tetap memeluk agama anda, dan tetap menjadi pemimpin spiritual agama Kristen, namun serahkan kekuasaan kota ini kepada kami. Seluruh harta, darah, nyawa, seluruh gereja, dan kebebasan anda serta seluruh umat Kristen untuk menjalankan agama anda akan kami jamin, dengan kompensasi anda membayar jizyah setiap tahun. Kesejahteraan anda pun akan kami jamin.”

“Maaf, Khalifah, semua ini adalah tawaran yang sangat berat bagi saya. Tidakkah anda mengerti perasaan saya tentang betapa beratnya hati saya mendapatkan tawaran seperti ini? Saya dicekam kebingungan dan ketakutan setiap hari menunggu detik-detik hingga tiba pada hari ini. Saya tidak bisa menerima tawaran anda, dan tahukah anda, dengan apa yang ada lakukan pada hari ini, semua ini bisa memicu perang salib yang baru, atau bahkan perang dunia ketiga yang mengerikan?”

“Terima kasih banyak saya ucapkan atas semua perhatian dan kekhawatiran anda. Hanya saja silakan anda perhatikan semua tawaran saya ini. Semua yang anda khawatirkan tadi biarlah kami yang memikirkannya.” Suara Khalifah tetap tenang dan berwibawa.

Paus menggeleng pelan. Uskup Ferdinand ikut gemetar mendengar semua seruan Khalifah. Dia berpikir, jika dia ada di posisi Paus, pasti dia sudah kebingungan hendak menjawab apa.

“Maaf, saya tidak bisa.”

Sambil mengembuskan napas kecewa, Paus memutuskan.

Ada senyum tipis terkembang di wajah Khalifah. Dia pun akan mengambil keputusan.

000

FUTUH RUUM [EPISODE 6]

Istana Quirinal yang megah berdiri kokoh di bukit Quirinal, salah satu dari tujuh bukit tertinggi di Italia. Istana itu dibangun oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1573, dan telah bertahun-tahun lamanya menjadi tempat tinggal para Paus dan raja-raja Italia. Dan kini, istana itu menjadi Istana Kepresidenan Italia.

 

Hari masih pagi ketika Khalifah kaum muslim, Muhammad Hasanuddin, diterima dengan hormat oleh Presiden Italia, Giorgio Napolitano, dan Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi, di dalam sebuah ruangan yang megah. Seperti biasa, Khalifah tetap tampil dengan jas hitamnya yang sederhana dan sorban putih dengan selendang sorban menjuntai di bahu kanannya. Ketampanan dan pancaran ketakwaan menguar dari dirinya. Membuatnya menjadi lelaki yang disegani walau usianya masih relatif muda. Kedatangannya ke Italia bukan untuk pelesiran seperti kebiasaan pejabat-pejabat sebuah negara di kawasan Asia Tenggara yang dahulu bernama Indonesia, namun untuk menjalin sebuah perjanjian bertetangga baik dengan Italia. Dan perjanjian ini bukan sekadar perjanjian, ada manuver politik yang sangat menawan di belakangnya.

 

“Senang sekali bisa menjalin kerjasama yang baik dengan negara Khilafah,” kata Napolitano. Kepala botaknya berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi. Kulitnya yang pucat berbintik-bintik hitam. Sebuah kacamata berbingkai perak bertengger di wajahnya. Sofa yang empuk berwarna merah menjadi alas duduknya yang nyaman.

 

Di sisi Napolitano, Silvio Berlusconi duduk manis sambil menyilangkan kakinya. Tatapan matanya menyirat sesuatu yang tidak menyenangkan terhadap Khalifah Hasanuddin. Wajahnya masam saja. Sebenarnya sikap seperti itu tidak pantas jika diperlihatkan oleh seorang pejabat negara yang sedang menerima tamu negara. Tak ada yang tahu, ada sesuatu yang besar yang mengganggu hati Berlusconi dengan kedatangan Khalifah ke Italia.

 

“Kami juga merasa senang sekali bisa menjalin hubungan yang saling menguntungkan ini dengan Italia,” kata Khalifah. Senyumnya penuh wibawa. Suaranya yang berat menambah kebesarannya.

 

“Tapi kenapa perjanjian ini hanya berlaku efektif selama lima tahun saja, Khalifah?” Tanya Napolitano.

 

“Itulah yang diajarkan Allah swt. Dan RasulNya. Aku hanya seorang hamba Allah, dengan demikian aku mesti menaati aturanNya.”

 

Napolitano mengangguk-anggukkan kepalanya yang telah keriput. “Mohon maaf jika aku terlalu banyak bertanya, aku hanya seorang lelaki tua yang punya rasa ingin tahu yang tinggi. Tidakkah sistem teokrasi ini akan menimbulkan kediktatoran yang mengerikan, Khalifah?”

 

Khalifah Hasanuddin tersenyum tipis, “Sistem Khilafah bukanlah teokrasi atau kediktatoran, Tuan Presiden, sistem Khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang unik dan khas, yang diajarkan langsung oleh utusan Allah, dan diamalkan oleh kaum muslimin selama ribuan tahun. Aku bukanlah raja yang setiap perkataannya adalah hukum yang wajib ditaati. Aku juga seorang hamba yang wajib hanya menaati aturan Allah dan RasulNya, juga harus memerintah seluruh rakyatku dengan aturan itu.”

 

Napolitano memerhatikan Khalifah dengan saksama. Berlusconi diam saja.

 

“Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad adalah sumber hukum yang wajib aku terapkan di tengah-tengah rakyatku. Quran dan Sunnah itulah yang telah menyelamatkan umat Islam dari petaka demokrasi pada masa-masa kelam kaum muslimin dahulu. Demokrasi-lah salah satu sebab kaum muslim menderita dan porak-poranda. Mereka yang objektif dan bersedia membuka mata hatinya pasti akan segera meninggalkan demokrasi yang ketinggalan jaman itu.

 

Orang ini seenaknya saja bicara, batin Berlusconi, apa dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa Italia menganut demokrasi? Wajah Berlusconi semakin masam.

 

“Ohh begitu,” gumam Napolitano.

 

“Apa yang sebenarnya anda inginkan dengan perjanjian ini?” Tiba-tiba Berlusconi buka suara, padahal dari tadi dia diam saja.

 

Mendapat pertanyaan yang tendensius dari Berlusconi, Khalifah tersenyum kecil. Dengan elegan dia mengubah posisi duduknya, dan kembali menatap mata Berlusconi dalam-dalam.

 

“Aku menginginkan kebaikan, kemakmuran, dan kemenangan, bagi Islam, negaraku, dan rakyatku,” katanya.

 

“Apakah hanya itu?” Tuntut Berlusconi.

 

“Seluruh maksud lain yang mungkin sekarang ada di pikiran anda sudah termasuk di dalam jawabanku tadi, Tuan Perdana Menteri.”

 

“Aku tahu,” ekspresi wajah Berlusconi semakin tidak mengenakkan, “bahwa anda ingin mengadakan pernyerbuan ke Vatikan. Anda ingin menyerang Vatikan dan menguasainya. Aku tahu itu. Karena itulah anda mengirimkan banyak diplomat ke berbagai negara di Eropa untuk menjalin gencatan senjata agar anda bisa dengan aman mengerahkan pasukan ke Vatikan.”

 

“Kalau pun memang benar begitu, semua yang anda katakan tadi sudah tercakup dalam jawabanku. Apakah harus aku ulangi? Tujuanku adalah kebaikan, kemakmuran, dan kemenangan bagi Islam, negaraku, dan rakyatku!” Khalifah tetap berada dalam ketenangannya semula. Bahkan dia menghadapi seluruh serangan kata-kata Perdana Menteri Italia itu dengan wajah tersenyum. “Lagipula kalau memang apa yang anda katakan itu benar, semua itu urusanku. Bukan urusan anda.”

 

“Anda egois,” Berlusconi sudah mengacungkan telunjuknya kepada Khalifah. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. “Demi kepentingan anda sendiri, anda akan menyerang wilayah lain yang merupakan kota suci dan simbol persatuan umat Kristen di dunia. Apakah kami orang Kristen pernah menyerang kota suci anda? Kami tidak pernah mengusik tanah orang Arab itu.”

 

“Tolong tenangkan diri anda, Perdana Menteri,” kata Napolitano. Dia mulai gugup. Keringat dingin bercucuran di dahinya.

 

Khalifah masih tetap dengan senyum tipisnya. “Biarkan saja, Tuan Presiden. Biarkan Tuan Perdana Menteri mencurahkan semua yang ada di dalam hatinya, selagi aku masih ada di sini. Apakah anda sudah selesai, Tuan Berlusconi?”

 

“Keegoisan anda akan menyebabkan kehancuran dan pembunuhan, serta perang besar. Aku tahu anda akan melakukan ini semua.”

 

“Berlusconi, dari mana anda tahu semua ini? Jangan menuduh sembarangan. Jangan membuat malu Italia di depan tamu negara. Kuasai dirimu.” Napotalitano membelalak kepada bawahannya itu. “Apa buktinya Khilafah akan menyerang Vatikan? Jangan bicara seenaknya.”

 

“Walaupun belum ada bukti kuatnya tapi saya yakin dia akan melakukan itu semua, Tuan Presiden. Indikasinya jelas, dia membuat banyak perjanjian damai dengan berbagai negara di Eropa dan yang tertinggal hanya Italia dan Vatikan saja. Dia bermaksud mengamankan posisinya dari negara-negara yang lain lebih dulu, baru dia akan menyerbu Vatikan. Aku yakin itu!!!”

 

“JANGAN BICARA SEMBARANG!!!” Napolitano telah kehilangan kesabaran. Dia menggebrak meja yang ada di depannya dan membelalak kepada Perdana Menterinya. “Anda tidak pantas menjadi Perdana Menteri Italia, anda tidak punya sopan santun. Membuat malu negara di depan tamu negara yang terhormat.”

 

Khalifah Hasanuddin masih memampang senyum tipis di wajahnya tatkala melihat percekcokan antarpejabat tinggi Italia itu. Sayangnya Berlusconi termasuk orang yang keras kepala.

 

“Semua yang saya katakan adalah untuk melindungi negara kita, untuk melindungi kota suci Vatikan dan untuk melindungi agama kita. Orang di depan kita ini pasti akan menghancurkan kita suatu saat. DAN AKU TIDAK INGIN SEMUA ITU TERJADI.”

 

“DIAM!!!” Napolitano menyalak. “DIAM KUBILANG!!!”

 

“Sabar, tuan-tuan, sabar. Jangan terbawa emosi,” Khalifah angkat bicara dan ekspresinya tetap tenang. “Kita bicarakan semuanya baik-baik. Aku berharap anda jangan bersikap seperti itu lagi, tuan perdana Menteri. Jika anda bicara baik-baik pun aku bisa mendengarnya. Tolong tenangkan diri anda, kita bicarakan semuanya baik-baik.”

 

“Bagaimana aku bisa bicara dengan santainya jika di hadapanku ada orang yang akan menghancurkan semua peradaban Kristen?”

 

“Apakah Yesus mengajarkan semua ini kepada anda? Tidak menghargai orang lain? Berkata kasar? Malulah pada diri anda sendiri!” Semua senyum di wajah Khalifah telah hilang. Matanya yang terang dan tajam menatap lurus kepada Berlusconi. Perdana Menteri Rusia itu ciut, dia membuang muka.

 

“Anda sudah cukup bicara, sekarang dengarkan kata-kata saya!” Suara Khalifah tegas. “Bila anda mengatakan bahwa saya akan menyerang Vatikan, itu terserah anda. Jika saya mau, sekali saya melambaikan tangan, seluruh kaum muslim akan bergerak serentak untuk menaklukkan Vatikan. Jika anda berkata bahwa orang Kristen tidak pernah berusaha menyerang Makkah, berarti nilai sejarah anda sangat buruk. Raja Kristen Abrahah dari Yaman pernah berusaha menyerang Mekkah. Cuma itu? Tidak, pada abad pertengahan seorang bangsawan bangsa Franks bernama Reynald de Chatillon juga pernah mencoba menyerang Mekkah. Tapi mereka semua gagal. Jika anda berkata bahwa saya akan jadi ancaman dan pengobar perang, akan menyababkan pembunuhan dan pembantaian, apakah anda ingat apa yang pernah dilakukan Italia pada abad lalu terhadap kami, kaum muslim? Di Libya, Italia membantai kaum muslim. Italia membantai orangtua dan anak-anak kami, memerkosa wanita-wanita kami, menghancurkan rumah-rumah kami. Tapi coba lihat apa yang kami lakukan terhadap orang-orang Kristen, sudah banyak negeri yang kami taklukan, tapi kami tidak pernah membantai orang Kristen yang tidak bersalah. Justru kami melindungi dan mengayomi mereka semua. Anda tahu, sudah ratusan tahun kami kuasai Konstantinopel, tapi mengapa sampai hari ini masih banyak orang Kristen yang tinggal di sana? Itu semua karena kami melindungi dan mengayomi mereka. Jika apa  yang anda katakan itu benar, jika kami adalah penyebab pembantaian, pasti orang-orang Kristen sudah lama punah dari Konstantinopel.”

 

Beberapa detik lamanya Khalifah terdiam, namun tatapan matanya tidak teralihkan sedikit pun dari wajah Berlusconi. Perdana Menteri Italia itu salah tingkah. “Ketahuilah sesuatu, Tuan Perdana Menteri, ditaklukkannya Tahta Vatikan, dan kota Roma, sudah dijanjikan Rasul kami ribuan tahun yang lalu. Silakan anda duduk manis, dan memerhatikan apa yang akan terjadi nanti. Jika anda memasang badan untuk menghalangi kami mewujudkan janji Rasul kami itu, saya akan kerahkan tentara Islam untuk menghancurkan anda. Silakan anda camkan itu, sebab saya tidak pernah main-main dengan kata-kata saya.” [bersambung]

FUTUH RUUM [EPISODE 5]

Dmitri Medvedev, Presiden Rusia gemetar. Apa yang dia rasakan dirasakan pula oleh perdana menterinya, Vladimir Putin. Mereka berdua sedang tegak berdiri di dalam sebuah aula yang megah, di Istana Kremlin, Moscow.

Dinding-dinding aula di istana Kremlin itu penuh dengan lukisan-lukisan. Berbagai lukisan itu tidak tergambar di atas bingkai, tetapi memang tergambar di atas dinding aula. Sebuah lampu kristal yang besar dan indah sekali menggelantung di tengah-tengah ruangan. Seutas rantai yang kuat terjulur dari langit-langit dan mencengkeram lampu hias itu. cahaya yang benderang berpijar dari sana, menerangi seluruh ruangan. Pada dindingnya tertempel pula lampu dinding dengan desain yang menawan. Di lantai, karpet warna merah terhampar luas menutupi seluruh ruangan. Di tengah-tengah aula itu, sofa-sofa telah berjajar. Sofa-sofa itu disusun membentuk huruf “U”.

Di depan jajaran sofa yang indah-indah itu, Dmitri Medvedev dan Vladimir Putin telah berdiri menunggu. Beberapa pejabat teras pemerintah Rusia pun turut hadir. Mereka semua menatap ke ambang pintu aula.

Tak lama kemudian, yang ditunggu-tunggu itu datanglah. Di ambang pintu aula muncul tiga orang laki-laki gagah. Mereka melangkah bersisian. Yang di tengah, Khalifah Muhammad Hasanuddin. Seperti biasa, ia mengenakan jas hitamnya yang sederhana, tak ketinggalan surban putihnya. Sepatunya yang hitam mengilap menjejak karpet merah dengan agung dan penuh wibawa. Dialah pemimpin besar dari sebuah negara besar, Khilafah Islamiyah. Sebuah negara besar yang telah mempersatukan seluruh negeri kaum muslim di dunia di bawah satu kepemimpinan seorang Khalifah. Sebuah negara yang diwariskan Rasulullah saw. sendiri kepada umatnya. Sebuah negera yang dijalankan berdasarkan hukum dari langit.

Melangkah di sebelah kanan Khalifah adalah Panglima Tinggi Khilafah Islamiyah, Jenderal Sayf Ali Khan. Dialah pemimpin militer Khilafah Islamiyah yang telah berhasil menahan serangan besar-besaran Amerika Serikat ketika Khilafah pertama kali berdiri. Dia pulalah yang telah merebut kembali tanah suci Palestina ke tangan kaum muslim dan menghilangkan negara Israel Yahudi dari peta dunia. Dia seorang pria yang tangguh dan kuat, tak ubahnya Salahuddin al Ayubi.

Di sebelah kiri Khalifah melangkahlah Duta Besar Khilafah untuk Rusia, Tayyip Effendi. Dubes Tayyip mengenakan kopiah tinggi khas turki, sebab dia memang orang turki. Dubes Tayyip sangat fasih berbahasa Rusia, sehingga dialah yang dipilih Khalifah untuk mengelola hubungan Khilafah dengan Rusia. Selain itu dia juga seorang akademisi yang telah sekian lama malang melintang di kancah hubungan internasional, khususnya dengan Rusia.

Khalifah Hasanuddin, Jenderal Ali Khan, dan Dubes Tayyip sedang mengadakan kunjungan bilateral dengan Rusia. Mereka akan mengikat sebuah perjanjian damai dan perjanjian ekonomi selama sepuluh tahun. Namun selain itu, ada manuver tersembunyi dari persetujuan Khilafah dengan Rusia. Kunjungan kerja keluar negeri haruslah murni untuk kemaslahatan kaum muslimin, bukan untuk plesiran.

Ketika Medvedev dan Putin menatap para pejabat tinggi Khilafah Islamiyah itu melangkah, ada sehelai kegentaran yang nyata terpampang di depan mata mereka. Medvedev saling menggenggam tangannya di belakang tubuhnya, berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa dia gemetaran. Putin menelan ludah. Dan setiap kali dia ulangi lagi perbuatan itu, semakin sulit saja dia menelan ludah.

Dengan senyuman yang ramah Medvedev dan Putin mempersilakan para pejabat teras Khilafah itu duduk di sofa. Mereka duduk saling berhadap-hadapan. Para pejabat pemerintahan Rusia duduk di sofa barisan belakang, tepat di belakang Medvedev dan Putin.

“Senang sekali bisa menerima kunjungan Khalifah dan koleganya di negeri kami,” Medvedev membuka percakapan.

“Kami yang sangat tersanjung dengan sambutan dan keramahtamahan Tuan Presiden, Tuan Perdana Menteri, serta seluruh jajaran pemerintahan Rusia,” kata Khalifah Hasanuddin dalam bahasa Rusia yang fasih. “Dan saya harap, persetujuan kita kali ini bisa menguntungkan kedua belah pihak.”

“Hal itu jugalah yang kami harapkan,” kata Putin.

Beberapa detik berlalu, kesunyian mengudara, tidak ada satupun dari mereka yang bicara. Seakan-akan ada kecanggungan yang aneh yang dirasakan oleh para petinggi pemerintahan Rusia itu ketika berhadapan dengan Khalifah. Ada pancaran wibawa yang agung yang keluar dari Khalifah Hasanuddin. Wajahnya yang tampan dan kedalaman ilmunya membuat siapapun menghormatinya, walaupun dia masih muda.

“Setelah jangka waktu sepuluh tahun berlalu, kira-kira bagaimana kelanjutan persetujuan kita?” Senyum merekah di wajah Medvedev. Dia membuka topik pembicaraan baru untuk menetralkan setitik kegundahan hatinya.

“Yang Mahatahu hanyalah Allah,” sahut Khalifah. “Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Yang akan kami lakukan saat ini adalah menepati seluruh isi persetujuan ini dan menjaganya baik-baik. Itu jugalah yang kami himbau kepada tuan-tuan tentunya. Semoga dengan sikap saling menghormati ini, kerjasama yang saling menguntungkan di antara kita bisa terus berlanjut.”

 

000

It’s an honour for me to see you, Prime Minister of England, Mr. David Cameron,”  Khalifah Hasanuddin menatap tajam pria berambut pirang yang duduk di hadapannya.

Oh, it’s also a pleasure for me to meet the Caliph of the Khilafah State,” jawab David Cameron.

Pertemuan antara Khilafah Islamiyah dengan Kerajaan inggris sedang berlangsung di kantor Perdana Menteri Inggris, di Downing Street nomor sepuluh. Khalifah duduk di sofa ruang tamu berhadap-hadapan dengan Perdana Menteri Inggris, David Cameron.

I believe, the bilateral agreement of peace and trade will provide us many benefits,” Khalifah menggerakkan tangannya saat sedang bicara. “I hope we can hold this agreement carefully.”

Obviously,” sahut Cameron singkat saja.

“Kami dengan amat sungguh-sungguh ingin sekali menekankan himbauan ini, Tuan Perdana Menteri.” Senyum tipis membayang di wajah Khalifah, namun sorot matanya memancarkan sorot ketegasan yang gagah. Sebelum itu tak pernah ada seorang muslim pun yang mampu melakukannya. Inggris telah lama memegang kendali atas negeri-negeri kaum mulsim. Telah lama menginjak-injak tanah kaum muslim. Dan kaum muslim tak ubahnya budak di bawah jejak lars Inggris. Kini keadaan berubah setelah keberadaan Khilafah Islamiyah.

“Maksud anda?” Tanya Cameron. Ada tanda tanya terlukis di wajah Perdana Menteri Inggris itu.

Khalifah bicara dengan halus dan lembut. Suaranya penuh wibawa, dengan tempo yang tertata. Dia meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua belah pahanya. Punggungnya bersandar dengan nyaman di sofa. Dan apa yang akan dia katakan akan membuat gentar seluruh Inggris Raya.

“Sejarah mengungkapkan bahwa dahulu Inggrislah yang turut campur tangan dalam konspirasi meruntuhkan Khilafah Islamiyah. Inggris menyuplai dana, senjata, bantuan logistik, dan banyak hal lagi kepada pemberontak. Inggris menghembuskan paham nasionalisme sehingga kaum muslim terpecah-belah dan Khilafah Islamiyah berantakan. Anda tahu, Tuan Perdana Menteri, seberapa jahatnya apa yang telah dilakukan Inggris bagi Khilafah Islamiyah dan kaum muslim?”

Cameron terpaku menatap Khalifah. Ekspresinya datar, ia sudah kebingungan mencari kata-kata.

“Karena perbuatan Inggris,” lanjut Khalifah, “ribuan bahkan jutaan anak-anak kami tewas menjadi korban. Ribuan bahkan jutaan wanita kami diperkosa. Ribuan bahkan jutaan umat kami kehilangan rumah dan harta bendanya.”

“Mengapa anda menyalahkan Inggris atas apa yang terjadi pada muslim, Khalifah,” gumam Cameron. Sebelah alisnya terangkat, jantungnya berdegup kencang.

Sudah tidak ada lagi senyum di wajah Khalifah. Tatapan mata Khalifah setajam pedang yang siap menusuk sanubari. “Saya bukan menyalahkan Inggris. Saya hanya mengingatkan Inggris tentang seberapa besar dosa yang telah dilakukan Inggris kepada kaum muslim. Dan siapapun yang berdosa, pasti akan mendapatkan balasan atas dosa-dosanya. Sekali lagi saya tekankan kepada anda, Tuan Perdana Menteri, pegang teguh perjanjian yang sudah kita sepakati ini. Kesalahan-kesalahan yang dahulu jangan diulangi lagi. Jika saya temukan gelagat yang kurang baik dari Inggris…”

Khalifah Hasanuddin duduk tegak, kemudian ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Cameron, “… akan saya serukan seluruh kaum muslim untuk melaksanakan jihad akbar melawan Inggris, hingga bendera Union Jack tidak akan pernah berkibar lagi sampai hari kiamat. Do I make myself clear, Mr. Prime Minister?”

Cameron gemetar, keringat dingin tiba-tiba bercucuran dari keningnya. Dia tak bisa menjawab apa-apa. Hanya anggukan pelan saja yang bisa dia lakukan.

“Good!” Gumam Khalifah. [Bersambung]