FUTUH RUUM (EPISODE 4)

Pangkalan militer pusat Khilafah Islamiyah di Hejaz baru saja memulai aktifitasnya pada sebuah pagi yang cerah. Jenderal Sayf Ali Khan mengenakan seragam hijaunya dengan balok pangkat bintang empat bertengger wibawa di kedua belah bahunya. Ia melangkah di koridor utama Markas Besar Angkatan Bersenjata Khilafah Islamiyah, menuju kantornya. Sepatu pantovelnya berdetak cepat di lantai yang dingin, menandakan bahwa ia sedang terburu-buru, sebab ia sedang ditunggu.

Jenderal Ali Khan berbelok di sudut, menuju ujung ruangan yang tertutup pintu ganda yang di sana tergantung namanya. Ia menghampiri pintu itu dan membukanya. Di dalam, telah hadir lima orang pria yang menunggunya. Begitu melihat sang pemimpin militer telah masuk, kelima pria itu serentak berdiri dan menghormat dengan gaya militer yang kaku. Jenderal Ali Khan mengangguk saja dengan senyum tipis, kemudian mempersilakan mereka duduk di sofa ruang tamu. Ia pun turut mengambil tempat di sofa itu.

Ruangan kantor perwira tinggi Khilafah Islamiyah itu cukup luas. Namun ruangan itu hanya dibagi dua bagian saja, ruang tamu di bagian depan, dan ruang kerja persis di sebelah ruang tamu.

“Kehadiran saudara sekalian sesuai dengan jadwal,” kata Ali Khan, ia menatap tajam pada tamu-tamunya. “Kuharap operasi intelijen Futuh Ruum pun berhasil dengan baik.”

Empat dari lima orang tamu Jenderal Ali Khan memakai kaos oblong dan celana jins longgar saja. Cuma seorang yang mengenakan pakaian resmi berupa jas dan celana panjang hitam, juga kemeja putih dengan dasi, cukup perlente. Orang yang rapi jali itu adalah Kepala Badan Intelijen Khilafah Islamiyah, Izzatuddin Malik. Empat orang sisanya adalah agen-agen intelijen Khilafah Islamiyah.

“Kehadiran kami di sini untuk mengiformasikan bahwa operasi Futuh Ruum telah berhasil dilaksanakan dengan sangat gemilang,” kata Izzatuddin Malik. Ia mengedarkan pandangannya kepada keempat orang anak buahnya. “Seluruh pemimpin tim sengaja kuhadirkan di sini untuk melaporkan secara langsung kepada anda, Jenderal.”

Masing-masing pemimpin tim intelijen itu mengeluarkan sebuah wadah pipih yang berisi piringan DVD dari saku celana mereka. Kemudian mereka meletakkan kepingan DVD itu di atas meja di hadapan Ali Khan.

“Operasi Futuh Ruum oleh Tim Umar berhasil dengan baik,” kata salah satu dari empat komandan tim itu, yang memakai kaos oblong bertuliskan “Khilafah Islamiyah”. Ia biasa dikenal sebagai Agen 1. “Kami berhasil menyusup ke basis militer Inggris, dan inisiasi bisa dilakukan kapan saja. Insyaallah jika Inggris ikut campur dalam Futuh Ruum, mereka tak akan pernah bisa bergerak lagi. Seluruh laporan jalannya Operasi Futuh Ruum ke Inggris termuat di dalam DVD ini.”

“Dengan pertolongan Allah pun Tim Khalid berhasil menjalankan misi,” kata orang kedua. Ia duduk persis di sebelah Agen 1. Ia memakai kaos oblong putih polos dan celana jins. Dialah Agen 2. “Insyaallah Rusia takkan bisa bergerak lagi.”

“Bagus! Alhamdulillah,” sahut Ali Khan. Ia menoleh kepada orang ketiga, dialah agen 3.

“Teknologi inisiator baru kita memang sebuah terobosan, dan telah melumpuhkan semua detektor musuh. Tim Ali berhasil menjalankan misi. Posisi Prancis telah diamankan.”

“Bagus sekali! Selanjutnya.”

Agen terakhir, Agen 4, tersenyum lebar. “Laporanku tak jauh beda dengan kawan-kawan. Jerman telah berhasil dilumpuhkan tanpa mereka sadari.”

“Luar biasa sekali! Kuucapkan selamat kepada tim intelijen,” dengan pandangan mata yang tajam Ali Khan menatap seluruh anak buahnya. “Akan kutekankan sekali lagi bahwa posisi intelijen dalam Futuh Ruum sangatlah penting. Tetaplah seperti ini, laksanakanlah tugas-tugas selanjutnya dengan tanpa cela. Keberhasilan misi saudara sekalian akan sangat menentukan suksesnya Futuh Ruum. Tim Intelijen Khilafah Islamiyah adalah tim intelijen terbaik, sebab berhasil mewujudkan bisyarah Rasulullah, Futuh Ruum.

000

Khalifah Muhammad Hasanuddin berdiri tegak kepala. Ia menawarkan senyum tipis yang ramah dan menatap lurus kepada Herman van Rompuy, Presiden Dewan Eropa. Pagi yang indah di Brussel, Belgia, akan menjadi pagi yang bersejarah. Di hadapan puluhan kilatan lampu blitz kamera mereka bertukar senyum dan berjabat tangan. Ruang konferensi pers di gedung Uni Eropa itu telah didekor sedemikian rupa untuk acara penandatanganan perjanjian hubungan bilateral dan perdamaian selama 10 tahun. Baru kali itu, seorang muslim bisa berdiri sama tegak dan begitu dihormati di tengah-tengah komunitas Uni Eropa, dialah pemimpin seluruh kaum muslim, Muhammad Hasanuddin.

Dua orang yang dihormati itu telah duduk di belakang meja. Mereka menghadapi beberapa helai kertas yang telah tersusun rapi di dalam sebuah map yang indah. Kertas-kertas itulah yang harus mereka tandatangani.

Khalifah mengambil pena yang telah tersedia, ia menandatangani helai kertas pertama dengan tenang. Mengapa ia bisa setenang itu sebab draft peranjian itu disusun oleh Khilafah Islamiyah dan diterima Uni Eropa hampir tanpa reserve. Saat ia hendak menandatangani lembar kedua, ia melirik pada van Rompuy.

Lelaki tua yang kepalanya telah hampir botak semua itu terlihat ragu-ragu. Lembar pertama pun belum selesai ia tandatangani. Tangannya agak gemetar. Ia menatap tulisan-tulisan di atas kertas itu dengan nanar. Walaupun seluruh poin perjanjian itu sangat menguntungkan kedua belah pihak, ia masih khawatir dengan hal-hal yang tidak diketahuinya.

“Is there any problem, Mr. President?” Khalifah menoleh pelan pada van Rompuy. Khalifah kaum muslim itu mahir menggunakan tujuh bahasa: Inggris, Arab, Prancis, Jerman, Ibrani, Yunani, dan Belanda.

“No… No… This is a good agreement,” sahut van Rompuy dengan agak gagap.

“I believe it gives benefits to us all,” sambut Khalifah dengan senyuman. “But, why do you look so hard to sign it?”

Van Rompuy tersenyum getir, ia menoleh pada Khalifah dan melontarkan pertanyaan yang menggelikan. “What exactly do you want behind this, Caliph?”

Khalifah menatap mata van Rompuy dalam-dalam dan tersenyum lagi. “I want glorious victory, for Islam and Muslims.”

“I know…” van Rompuy membubuhkan tanda tangannya di helaian-helaian kertas itu. Perjanjian itu telah disepakati. (bersambung)

FUTUH RUUM (EPISODE 3)

Wajah pria itu menunduk di hadapan salib besar, yang di sana Yesus Kristus meregang nyawa, yang menurut keyakinannya, untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Altar suci itu diterangi lilin-lilin tinggi. Cahayanya berpendar menerangi redup segala sisi. Pria itu kemudian menyentuhkan tangannya ke dahi, kemudian dadanya, membentuk tanda salib. Pria itu bertubuh gemuk, berkepala botak, jas hitamnya yang rapi menunjukkan bahwa dia orang penting. Dan memang dia benar-benar orang penting, dia adalah Presiden Republik Italia, Silvio Berlusconi.

Kegundahan yang aneh merambat di hati Berlusconi. Dia menengadah, menatap wajah patung Yesus Kristus yang berlumuran darah. Hatinya mengharapkan jawaban atas kekhawatirannya itu. Hembusan napas kekecewaan dilepaskan lubang hidungnya, jawaban belum dia temukan. Dia berdoa sekuat-kuatnya kepada tuhannya di kota suci Vatikan, tempat bersemayamnya para martir dan para pahlawan. Tempat di mana doa-doa dikabulkan. Tiba-tiba dia terkesiap, ada seseorang yang hadir di sisinya.

“Bapa Suci,” kata Berlusconi agak terkejut.

Ternyata yang hadir adalah Paus Benediktus XIII. Mahkota Kepausan bertengger anggun di kepalanya. Tongkatnya dia genggam, seolah-olah berat sekali. Jubah kebesarannya memang benar-benar kebesaran, sampai menyeret-nyeret di lantai. Tubuhnya ringkih sekali, berjalan saja sulit. Dia selalu ditemani uskup Ferdinand.

Altar itu sepi begitu juga Vatikan, Berlusconi memang berkunjung ke Vatikan pada saat-saat yang tidak biasa.

“Anda sedang berdoa, Presiden?” sapa Paus.

Berlusconi mengangguk saja.

“Anda jarang datang kemari, namun hari ini anda datang, mungkin ada masalah yang belum anda pecahkan??”

Berlusconi merengut, ia sadar kata-kata Paus adalah sindiran baginya. Saat ada masalah besar dia baru mengingat tuhan. Dia mengangguk, namun tak berkata apa-apa. Rupanya kegundahan telah menguasai hatinya.

“Ada yang bisa kubantu?” Paus menunduk kepada patung Yesus Kristus.

Berlusconi tersenyum tipis, “Cuma mencari sedikit ketenangan.”

“Anda datang ke tempat yang tepat. Tapi selain kepada tuhan, anda juga bisa menyampaikan masalah anda kepadaku, sebab kurasa masalah anda pastilah masalah yang berat. Karena itulah kulihat anda di sini sekarang.”

Berlusconi tersindir lagi, dia semakin malu. “Memang ada masalah, Bapa, tapi masalah ini belum terjadi. Mungkin ini cuma ketakutanku saja.”

“Masalah apakah itu?”

“Mungkin kau memikirkannya juga, Bapa, tentang Khilafah.”

Paus memaksakan senyum di wajahnya, sebuah senyum yang berat. Dia juga merasakan kekhawatiran di hati Presiden Italia itu. “Ada apa dengan Khilafah?”

“Jangan pura-pura tak tahu, Bapa. Tegaknya Khilafah adalah guncangan hebat bagi kita semua. Aku benar-benar tak menyangka, padahal dinas intelijen dahulu telah kutugaskan untuk menghancurkan setiap gerak orang-orang Islam yang bertujuan menegakkan Khilafah, sudah banyak orang yang dibunuh untuk menghentikan semua itu, tapi ternyata semuanya telah terlanjur berjalan dan akhirnya Khilafah itu pun tegak. Kalau dia sudah tegak, sulit sekali untuk menghancurkannya lagi. Aku tahu siapa mereka, Bapa, mereka tak akan diam. Mereka pasti akan datang ke sini, menginjak-injak ruangan ini, entah kapan. Dan dalam perjalanan mereka ke sini, mereka pasti akan menghancurkan Italia.” Akhirnya isi hati Berlusconi tertumpah sudah pada Paus Benedictus.

“Aku tahu,” sahut Paus. “Mungkin kekhawatiranku tentang hal itu lebih dalam lagi daripada anda. Aku tahu, setelah Khilafah tegak, hari-hari penuh duka itu akan datang juga. Tapi aku akan tetap berada di sini, apapun yang terjadi. Walau pun mungkin kota ini akan jatuh juga ke tangan mereka. Aku akan selalu berdoa, kalau memang tuhan menghendaki kota ini jatuh ke tangan mereka, mungkin itulah yang terbaik.”

“Tidak, Bapa,” Berlusconi menggeleng pelan. “Kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kalau mereka memang datang ke sini, kita harus melawannya. Akan aku kerahkan semua kekuatan kita. Akan aku serukan semua orang Kristen di dunia ini agar turut memerangi mereka. Kalau memang perang suci seperti dulu harus berkobar, maka akan aku kobarkan dia.”

Tangan kisut Paus Benedictus terangkat, dia menepuk bahu Berlusconi yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya. “Aku merestui anda, dan tuhan pun merestui hambanya yang dengan segenap tenaga membelanya. Lakukanlah segala daya upaya untuk menghentikan langkah Khilafah.”

Berlusconi mengangguk dengan teguh.

000

Sinar emas matahari menaungi daratan Thrace, di kota Istanbul. Beberapa tahun yang lalu ketika Khilafah Islamiyah belum tegak, kota itu termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik Turki. Ketika Khilafah tegak, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak untuk taat pada Khalifah dan menolak untuk menggabungkan wilayah itu ke dalam naungan Khilafah Islamiyah. Akhirnya dikirimkanlah angkatan bersenjata Khilafah untuk membubarkan pemerintahan kufur Erdogan. Kaum muslim yang tinggal di Turki sendiri sebenarnya menunggu-nunggu datangnya pasukan Khilafah itu, untuk membebaskan mereka dari cengkeraman hukum-hukum kufur dan zhalim demokrasi yang diterapkan Erdogan beserta antek-anteknya. Erdogan sendiri mendapatkan hukuman diasingkan ke pulau Nusa Kambangan.

Di Istanbul, sejak dua tahun yang lalu telah dibangun pangkalan militer Khilafah Islamiyah yang dinamai Pangkalan Militer Mehmed al Fatih. Sebanyak tiga puluh ribu prajurit angkatan darat Khilafah islamiyah menempati kompleks pangkalan militer yang luas itu. Beratus-ratus tank dijajarkan di sana, belum lagi berbagai alat perang lainnya. Tak jauh dari sana membentanglah lapangan terbang Angkatan Udara Khilafah Islamiyah. Pesawat-pesawat tempur dibariskan memanjang. Seluruh kendaraan perang dan peralatan tempur itu dibuat di dalam negeri, oleh Pabrik industri alat-alat perang yang bernama Darul Harb.

Pagi itu, para prajurit telah berbaris rapi dalam sebuah apel akbar. Seragam loreng telah terpasang di tubuh para prajurit, dengan baret hijau. Senapan otomatis dipanggul di bahu mereka, dan mereka diam seperti patung. Di depan barisan mereka ada sebatang tiang bendera. Sehelai bendera militer Khilafah yang besar berkibar megah. Bendera itu warna hitam, dengan tulisan syahadat warna putih. Di sisi tiang bendera itu ada sebuah panggung, ada dua orang yang tegak di atas panggung itu. Mereka adalah Khalifah Muhammad Hasanuddin sebagai Panglima Besar angkatan bersenjata Khilafah Islamiyah, dan Jenderal Sayf Ali Khan sebagai Panglima Tinggi angkatan bersenjata Khilafah Islamiyah.

Komadan apel yang berdiri tegak seorang diri persis di depan panggung itu kemudian memekik.

“TAKBIIIRRR!!!”

“ALLAAAAHU AKBAR!”

Dengan serempak seluruh prajurit Khilafah itu bertakbir dengan membusungkan dada, dalam posisi tetap tegak dan memanggul senjata. Setelah takbir membahana mendadak sunyi datang kembali.

Khalifah maju selangkah, mendekati corong mikrofon yang ada di hadapannya. Jenderal Sayf Ali Khan setia menyertainya. Seperti biasa, Khalifah hanya mengenakan jas hitam sederhana dan sehalai sorban yang membungkus kepalanya. Ia selalu berpenampilan seperti itu sebab memang hanya jas hitam itulah yang ia punya. Hidupnya sangatlah sederhana hanya dengan santunan dari Khilafah. Matanya yang tajam menyapu seluruh barisan prajurit Khilafah Islamiyah, otaknya tak henti bekerja. Setelah memuji Allah dan bersolawat kepada Rasulullah Saw. junjungan alam, ia memulai pidatonya.

“Yaaa… ayyuhal juyuuusy… Teruslah persiapkan diri, sebab jihad bisa saja terjadi besok hari ketika matahari belum lagi tinggi. Kalian tidak akan pernah tahu, kemana kalian akan diberangkatkan berjihad. Namun, kemana pun kalian berangkat, di sanalah kasih sayang Allah dan surga. Teruslah persiapkan diri, teruslah bersiaga, sebab mungkin tak lama lagi aku akan turun berjihad bersama kalian…”

Khalifah tak panjang berkata-kata, ia segera mengakhiri pembicaraannya. Ketika ia akan menuruni panggung itu, ia menghampiri Jenderal Ali Khan dan berbisik.

“Persiapkan terus pasukan. Istandul akan jadi salah satu titik penyerangan ke Roma.”

“Perintah dilaksanakan.” Jenderal Ali Khan berdiri tegak dan menatap tajam pada Khalifah.

000

Futuh Ruum Eps 02

Bendera putih berukir kalimat syahadat warna hitam berkibar di cakrawala biru. Kemegahannya tak terperi, sebab ia akan menguasai dunia sebentar lagi. Tiang bendera setinggi dua puluh meter tertancap tegak, mengawal Khilafah Islamiyah tumbuh dan bergerak. Di hadapan tiang bendera itu berdirilah Baytul Khilafah, sebuah istana megah yang jadi pusat pemerintahan Khilafah Islamiyah. Baytul Khilafah bukanlah istana Khalifah. Rumah dinas Khalifah yang sederhana terletak tak jauh di belakang Baytul Khilafah.

 

Gedung pusat pemerintahan Khilafah Islamiyah itu berarsitektur gaya Arab. Ada sepuluh kubah warna emas di puncaknya, tiang-tiangnya kokoh berukir ayat-ayat Allah. Berbagai ruangan di dalamnya menjadi kantor bagi bawahan Khalifah mengurus segala perkara, pada kompleks gedung itu pulalah terdapat Baytul Mal. Setiap hari selalu ada aktivitas di sana, Baytul Khilafah hampir tak pernah tidur. Jika rakyat memiliki kesusahan, mereka tinggal datang ke Baytul Khilafah, dan mereka pasti pulang dengan terpecahkannya kesusahan itu. Di dalam gedung itulah Khalifah kaum muslim mengatur berbagai strategi dan langkah untuk meluaskan kekuasaan Khilafah hingga penjuru dunia.

Pada lantai paling tinggi di kompleks Baytul Khilafah itu, sebuah rapat sangat penting sedang berjalan. Rapat itu dihadiri oleh Khalifah Muhammad Hasanuddin, dua orang Mu’awin (pembantu) Khalifah; Mahmoud Shaleh dan Zahir Abbas, Amirul Jihad; Jenderal Sayf Ali Khan, dan Kepala Badan intelijen Khilafah Islamiyah; Izzatuddin Malik.

Ruangan rapat itu berukuran sedang. Keputusan-keputusan penting kerap kali lahir di ruangan itu. Di dalamnya tersusun meja-meja melingkar, ada papan tulis dan proyektor, ada layar dan peta. Kursi-kursi yang sederhana mengelilingi meja. Tak ada kursi-kursi empuk, yang tersedia hanya kursi-kursi kayu sederhana yang diduduki para pelayan umat itu. Bahkan Khalifah kaum muslim tidak duduk di kursi empuk, ia duduk di kursi kayu, sama dengan pejabat-pejabat yang lain. Di seluruh dindingnya terpasang rak-rak buku yang dipenuhi oleh buku. Berbagai dokumen penting pun tersusun rapi dengan urutan tertentu, sehingga Khalifah bisa mengambil berkas-berkas tersebut dengan mudah. Dan ketika itu pembicaraan penting sedang berlangsung.

 

Khalifah Hasanuddin duduk di salah satu ujung meja, pada layar yang ada di belakangnya tersorot peta dunia besar dari proyektor. Di atas meja, di hadapan Khalifah, sebuah laptop menyala, cahaya dari monitornya terpancar ke wajah Khalifah. Ia bertopang dagu menatap monitor di laptop itu.

 

“Perkembangan yang kita raih Alhamdulillah cukup baik,” Khalifah sepintas menatap bawahan-bawahannya yang serius memerhatikan kata-katanya. Seperti biasa, ia tampil dengan jas hitam sederhana tanpa dasi, sebuah sorban warna putih bertengger sederhana di kepalanya. Ia masih muda, namun kebijaksanaannya mengalahkan orang tua. Ia seorang yang faqih fiddin, wara’, sekaligus visioner. “Amerika telah hancur-hancuran setelah kita menggempur pangkalan militer mereka di berbagai wilayah kaum muslim, sekaligus mengusir mereka. Operasi intelijen kita pun berhasil meledakkan beberapa reaktor nuklir mereka. Angkatan bersenjata mereka telah kalah. Perjanjian pun telah diikat oleh Khalifah Ahmad Rahimahullah selama sepuluh tahun. Palestina telah berhasil kita bebaskan, Israel telah hilang dari peta dunia dan kaum Yahudi telah direlokasi dari sana. Yang masih tertinggal adalah, Roma.”

 

Khalifah bangkit dari kursinya, ia menggerakkan jemarinya kepada keyboard di laptopnya, di layar terpampang peta Eropa, wilayah Italia dan Vatikan berwarna merah. Mata Khalifah menatap kepada bawahan-bawahannya. “Kota kedua setelah konstantinopel yang akan ditaklukkan oleh kaum muslimin. Dahulu Sultan al Fatih tidak sempat bergerak menaklukkan Roma, saat ini kita mesti melanjutkan perjuangannya.”

 

000

 

Istana Kremlin di Moscow seolah akan rubuh karena kegalauan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev. Dia melangkah dengan gusar menyusuri koridor-koridor panjang istana itu bersama dengan Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin. Langkah dua lelaki berambut pirang itu menggema di lantai koridor, mereka terlibat pembicaraan serius.

 

“Apa yang kubilang menjadi kenyataan, kalau orang-orang Islam sudah memiliki Khilafah semuanya tak akan sama lagi seperti dulu,” Medvedev mengembuskan napasnya.

 

“Semuanya salah Amerika, si bodoh Obama terlalu lembek, sekarang mereka yang hancur-hancuran,” sahut Putin.

 

“Salah kita juga, tidak segera merebut wilayah-wilayah strategis dari tangan adidaya yang sudah bangkrut seperti Amerika. Sekarang orang-orang Islam terlanjur berhasil mendirikan imperium mereka, dan semuanya jadi kacau.”

 

“Yang penting sekarang kita mempersiapkan diri, Khilafah tak akan diam saja, kalau melihat sejarah Islam, mungkin tak lama lagi mereka akan datang menginjak-injak negara kita. Untungnya sultan mereka yang baru hanya seorang pria biasa yang tidak cakap memimpin. Dia Cuma seorang mantan guru.”

 

Medvedev menghentikan langkahnya, dia pun menahan langkah Putin. Dia menatap mata Perdana Menteri Rusia itu dalam-dalam. “Jangan sekali-kali meremehkan musuh, atau kita akan celaka. Kalau bukan karena orang-orang Islam itu luar biasa, Islam tak akan pernah jadi agama yang paling banyak dianut manusia di dunia. Yang penting sekarang kita harus menggalang kekuatan.”

 

Dengan kepala penuh mereka memasuki sebuah ruangan rapat di istana Kremlin, Moscow, seluruh anggota kabinet telah menunggu di sana.

 

000

 

“Lima tahun yang lalu kita sudah kecolongan,” suara Paus Benediktus ke-13 serak dan lemah. Dia melangkah bersama seorang pembantunya, Uskup Ferdinand, di Basilika Santo Petrus, berdua saja. Tak ada pengawalan, tak ada parade, kota Vatikan sepi sekali malam itu, langitnya digelantungi awan mendung. Paus hanya mengenakan jubah sederhana yang di bagian dalamnya dilapisi baju hangat. Uskup Ferdinand mengenakan pakaian yang tak jauh berbeda.

 

“Orang-orang Islam telah berhasil mendirikan negara Khilafah mereka, kau tahu apa artinya itu?”

 

“Aku memohon petunjuk dari Bapa Suci,” sahut Uskup Ferdinand sambil menekur.

 

“Tahta suci mungkin akan hilang,” Paus menggerakkan tangannya, ke dada dan dahinya, membentuk tanda salib.

 

“Seburuk itukah yang akan terjadi, Bapa Suci??” Uskup Ferdinand menatap wajah Paus yang sayu dan muram.

 

“Dulu, bencana itu hampir saja terjadi, namun tuhan menyelamatkan kita dengan mencabut nyawa Elang yang perkasa itu.”

 

“Siapakah Elang yang perkasa itu, Bapa Suci??”

 

“Dia sultan Mehmed al Fatih, dari Turki,” Paus menggenggam tangan Uskup Ferdinand dengan gemetar, dia terbatuk.

 

“Dan Khilafah adalah induk elang, yang akan menelurkan ribuan elang yang tak kalah tangguh seperti sultan Mehmed al Fatih. Mungkin tak lama lagi, sultan akan berdiri di hadapan kita, kemudian menaklukkan kota ini, seperti janji Nabi mereka.” Bersambung. [Sayf Muhammad Isa].

Futuh Ruum eps 01

Ribuan kaum muslim telah berkumpul di  Raudhotul Islam, sebuah landmark dari  RKhilafah Islamiyah yang luas. Khilafah  Islamiyah adalah sebuah negara global bagi  kaum muslimin. Khilafah Islamiyah adalah  rumah bagi seluruh kaum muslimin di dunia.  Walaupun orang ramai berdesak-desakan di taman yang megah itu, Raudhotul  Islam, semuanya tertib dan kerumunan laki-laki  tetap terpisah dari kerumunan perempuan.

 

Mereka berdiri menghadap ke satu titik, kepada  sebuah panggung yang ada di tengah-tengah  taman itu. jantung mereka berdebar-debar,  mereka sedang menunggu pelantikan Khalifah  yang baru, Khalifah yang kedua. Setelah puluhan tahun menderita  karena ketiadaan Khilafah Islamiyah, pada  akhirnya kaum muslim berhasil menegakkannya  kembali, mereka mengangkat seorang Khalifah  untuk mewakili mereka melaksanakan syariat  Islam secara kaffah, Khalifah yang pertama itu  bernama Ahmad, ia seorang ulama.

 

Setelah lima  tahun memimpin dengan penuh dedikasi dan  pengorbanan, Khalifah Ahmad wafat dalam  damai. Ia telah berhasil mempersatukan negeri-negeri Islam yang lain yang masih berada di  bawah pemerintahan kufur; membangun dan  mengonsolidasi kekuatan Khilafah dan semua  aparaturnya; berhasil membubarkan semua  pangkalan militer negara-negara kafir dari  wilayah kaum muslim; dan berhasil mengambil  kembali semua sumber daya alam yang dahulu  –ketika Khilafah Islamiyah belum tegak- dikeruk  habis-habisan oleh kaum kapitalis barat melalui  perusahaan multinasional dan penguasa-penguasa muslim yang melacurkan diri menjadi  antek penjajah; ia juga berhasil mengerahkan  jihad akbar kaum muslim untuk menahan  serangan Uni Eropa ke wilayah Khilafah  Islamiyah.

 

Amirul Mukminin itu kini telah wafat,  dan kewajiban kaum muslim adalah  mengangkat seorang pemimpin yang baru  menegakkan syariat Islam dan mengemban  dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Selama  tiga hari, tokoh-tokoh umat yang menjadi ahlul  halli wal ‘aqdi memilih Khalifah yang baru, dan  hari ini, seluruh kaum muslim di dunia sedang  menanti pelantikan pemimpin mereka. Raudhotul Islam sudah penuh sesak.  Taman yang keindahannya tak terperi itu  menjadi kebanggaan kaum muslim, sekaligus  menjadi salah satu landmark Khilafah Islamiyah.

 

Taman itu meniru keindahan taman-taman  surga, luasnya 5000 hektar, ia menjadi tempat  bertamasya kaum muslim. Pepohonan tumbuh  subur menyejukkan, ada kebun-kebun bunga  beraneka warna. Sungai-sungai buatan mengalir  jernih di dalamnya, ikan-ikan berenang bebas.  Ada juga taman bermain untuk anak-anak.  Masjid al Khilafah yang megah pun terletak di  kompleks taman Raudhotul Islam. Sebatang  tiang bendera yang tinggi tegak di sisi panggung.  Bendera besar warna putih bertuliskan syahadat  warna hitam berkibar megah di langit pagi.

 

Tiap  kali ada peristiwa penting, taman itu pasti  ramai. Seluruh rakyat semakin berdebar, hari  ini pemimpin mereka dilantik untuk  meneruskan penegakan syariat Islam dan  penyebaran Islam kepada seluruh alam.  Panggung yang ada di tengah-tengah taman itu  telah tenggelam oleh lautan manusia di  sekelilingnya. Para syurthoh yang berseragam  putih berdiri tegak mengelilingi panggung  sekaligus mengendalikan keadaan. Kerumunan  massa yang berjumlah ribuan orang itu sangat  tertib, sebab mereka semua tahu ketertiban  adalah perintah Allah. Tiba-tiba semua kepala menoleh ke  langit, sebuah helikopter warna putih dengan  tulisan syahadat di kedua sisinya melayang  mendekati taman. Helai-helai angin  berhamburan, rerumputah bergoyang kencang.  Helikopter itu melayang memasuki taman,  mengapung tepat di atas panggung di tengah-tengah taman. Semua orang menengadah  sambil memicingkan mata sebab angin bertiup  kencang dari baling-baling helikopter yang besar  itu. Semua lensa kamera disorotkan kepada  helikopter itu, para reporter melaporkan apa  yang sedang terjadi, gambarnya dikirimkan ke  seluruh dunia lewat udara.

 

Sebuah pintu di sisi kanan helikopter  itu kemudian membuka, sebuah tangga tali  diulurkan ke bawah hingga ujungnya mendarat  tepat di atas panggung. Seorang demi seorang  menuruni tangga tali itu hingga tiba di  panggung. Empat orang laki-laki yang tegap dan  gagah sudah berdiri tegak di atas panggung.  Tangga tali kemudian ditarik kembali masuk ke  dalam helikopter yang kemudian melayang  pergi. Sebatang mikrofon telah tegak di sana,  seorang pria yang memakai jas hitam sederhana  kemudian menghampirinya. Empat orang lelaki  di atas panggng itu semuanya memakai jas  hitam. Lelaki itu orang arab, janggut yang kokoh  menghiasi wajahnya, matanya yang tajam  berwarna cokelat bening. Ia menatap kepada  kerumunan kaum muslim itu.

 

“Assalamu’alaikum warahmatullahi  wabarakatuh…” suara salamnya diperkeras  berkali-kali lipat. Layar-layar besar yang  menampilkan wajahnya yang tampan dipasang  di berbagai sudut Raudhotul Islam. Tiba-tiba suara salam mengguntur dari  mulut ribuan kaum muslim. Lelaki itu tersenyum  tipis. “Segala puji bagi Allah subhanahu wa  ta’ala atas segala barokah dan karunianya.  Dialah yang telah memberikan rahmat kepada  kita semua. Solawat dan salam akan selalu  tercurah kepada Rasulullah Muhammad saw.,  keluarga, dan sahabatnya. Semoga kemenangan  dan keselamatan akan selalu terlimpah kepada  kaum Muslim dan Khilafah Islamiyah. Amin. ”

“Yaa ma’syarol muslimin  rahimakumullah, perkenalkan, aku adalah  Hasan Shalih, panitia pemilihan Khalifah pada  ahlul halli wal ‘aqdi, alhamdulillah dengan  kemudahan dari Allah swt., telah berhasil dipilih  seorang Khalifah yang baru untuk kaum muslim  di seluruh dunia, untuk melaksanakan syariat  Islam dan mengemban dakwah Islam kepada  segenap penjuru alam. Dan hari ini, kita semua  akan menyaksikan pelantikan Khalifah kita yang  baru, Khalifah Muhammad Hasanuddin.

 

ALLAAAAHU AKBAR.!!!” Hasan Shalih menoleh  ke belakang, menatap kepada satu-satunya  lelaki muda bersorban di panggung itu. Ia  memakai jas hitam sederhana dengan kemeja  putih tanpa dasi di bagian dalamnya. Hasan  Shalih membuka tangannya dan mempersilakan  sang Khalifah maju. Di bawah gemuruh takbir yang  riuhrendah, Khalifah Hasanuddin melangkah  mendekati mikrofon. Usianya masih muda, baru  tiga puluh lima tahun, namun usianya itu  tidaklah menghalanginya untuk memimpin  seluruh kaum muslim di dunia. Khalifah mengucap salam, dan kaum  muslimin menyambut salam itu dengan  gelombang suara salam yang pantul memantul  di udara. Setelah memuji Allah dan berselawat  kepada Rasulullah ia mulai pidatonya. “Wahai kaum muslim, amatlah berat  amanah yang kutanggung di pundakku ini.  Apakah yang akan aku katakan di hadapan Allah  pada pengadilan di hari kiamat nanti? Ada  milyaran kaum muslim di muka bumi ini dan  semua urusannya ada di atas pundakku.  Sungguh aku takut kepada Allah, takut kalau-kalau aku lalai dalam mengemban amanah ini.  Tolong luruskan aku jika aku keliru. Bersama-sama, akan kita wujudkan kemenangan bagi  Islam dan kaum muslim. ”

“ALLAAAAAAAHU AKBAR…” Pekik takbir meledak lagi. Pelantikan itu  disaksikan seluruh dunia, kata-kata Khalifah  yang singkat itu didengar oleh semua. Begitulah  Khalifah kaum muslim, tak banyak berkata-kata,  tak banyak mengumbar janji, yang dia tahu  hanyalah mengerahkan segala daya upaya untuk  memperhatikan dan mengurusi kaum muslimin  di seluruh dunia. Wahai Allah, Tuhan seru  sekalian alam, limpahkan ridhoMu untuk  Khalifah kaum muslim. Beri dia kekuatan untuk  mewujudkan janjiMu, untuk mewujudkan cita-cita itu… amin.! (Bersambung).[Isa]

Di muat di majalah drise edisi 20