Derap Rantai eps 04

langkah-langkah cepat berpijak kepada butir-butir pasir yang beku, dingin, keras dan misterius. Bukit-bukit karang tertancap pada butiran pasir itu, menyaksikan peradaban manusia. Purnama akhirnya keluar juga, diselimuti selendang angin yang rawan.

Mereka akan melihat sebuah aksi keteguhan dan keikhlasan prajurit Khilafah Islamiyah saat melaksanakan misinya. Kedua prajurit itu adalah Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza. Mereka melangkah cepat di tengah-tengah kegelapan gurun pasir, berlari menyusuri tembok kota Ubullah yang menjulang tinggi.

Mereka menjaga jarak dari tembok itu sejauh kira-kira lima belas meter. Mereka sedang mencari tempat yang tepat untuk menjalankan aksi mereka. Sebuah sisi tembok yang paling gelap dan paling sedikit penjagaannya. Di setiap jarak lima belas meter, terdapat menara pengawas yang di puncaknya dihuni oleh seorang prajurit Persia. Terdapat semacam ruang di puncak menara pengawas itu, sehingga setidaknya seorang prajurit bisa berjaga di sana.

Menara-menara pengawas itu juga dilengkapi dengan obor-obor yang menyala terang. Satu demi satu menara pengawas dilintasi oleh Jabal dan Mutsana tanpa diketahui oleh prajurit Persia. Mereka terus menjaga jarak aman agar cahaya obor-obor yang tertempel di sepanjang tembok tidak menjangkau mereka. Kalau mereka sampai salah melangkah, bisa-bisa keberadaan mereka diketahui oleh para prajurit Persia di menara. Tibalah mereka pada sebuah sisi tembok yang berbatasan dengan tanah yang landai dan menurun.

Batu-batu cadas yang beringas bermunculan di permukaan tanah yang landai itu. Pada bagian tembok di sana, cahaya obor-obor tidak begitu rapat. Jarak antarmenara pengawas pun lebih jauh,  sehingga pada sisi tembok bagian itu ditelan kegelapan pekat, yang meneranginya hanya cahaya bulan. Mutsana dan Jabal terus berlari sampai ke sana. Sesampainya di sana, mereka segera mencari tempat persembunyian di balik sebongkah batu besar. Napas mereka menderu, menyisakan uap-uap air di depan hidung mereka sebab udara begitu dingin.

Namun karena mereka adalah prajuritprajurit terlatih, dengan cepat mereka dapat  menormalkan kembali deru napas mereka.  Hanya dalam beberapa detik saja mereka  bersandar pada batu besar itu untuk  beristirahat. Dengan hanya diterangi cahaya bulan, Mutsana menatap Jabal lekat-lekat. Sorot matanya menyiratkan sejuta makna. Dia mengacungkan tangan kanannya dan membuat isyarat kepada Jabal. Tanpa suara, Jabal mengangguk saja. Jabal segera bersiap, sambil berlutut dengan amat hati-hati, dia mengambil benda berbentuk panjang yang diselimuti kain tebal di punggungnya.

Dia letakkan benda itu di hadapannya kemudian dia buka selimut kain pada benda itu. Terhamparlah beberapa bentuk logam panjang dengan ukuran yang berbeda-benda yang entah apa di depan Jabal. Mutsana memerhatikan dengan saksama. Tangan Jabal yang besar merakit potongan-potongan logam itu dengan amat cekatan bahkan hanya dengan berpenerangan cahaya bulan. Dia menyambungkan bagian-bagian logam itu, mengaitkannya, memutarnya, menariknya, hingga setelah semua bagian logam itu menyatu, baru bisa diketahui benda apakah itu. Ternyata sebuah crossbow besi berukuran besar.

Crossbow kokoh itu berkilauan ditimpa cahaya bulan, dan Jabal langsung saja mengarahkan moncong  crossbow itu ke dinding kota Ubullah. Crossbow itu berdiri di atas sebuah  pilar besi yang bisa diputar, sehingga Jabal dengan mudah bisa menentukan sasaran. Setelah Jabal memasang sebuah anak panah besi berukuran panjang dan setelah semuanya siap, Mutsana melompat keluar dari batu besar itu dan berlari cepat menuju tembok.

Dia segera merapatkan punggungnya pada tembok itu dan menyatu dengan bayang-bayang pada sisi gelap tembok. Jabal mengarahkan moncong crossbow-nya pada satu titik yang tak jauh dari Mutsana kemudian melesatkan anak pahanya. Anak panah itu melesat secepat kilat dan menancap amat dalam di tembok kota Ubullah tak jauh dari Mutsana. Jabal memasang lagi anak panahnya kemudian menembakkannya lagi ke tembok. Anak panah yang kedua menancap dalam tak jauh dari anak panah yang pertama. Mutsana meraih anak panah pada tembok itu kemudian menaikinya. Dia mendaki tembok kota Ubullah yang tinggi itu dengan menggunakan anak panah yang dijajarkan Jabal sebagai anak tangga.

Setiap kali Mutsana menaiki sebatang anak panah, Jabal menembakkan anak panah lagi yang menancap di atasnya, kemudian Mutsana meraih anak panah itu untuk mendaki tembok. Tak perlu banyak menghabiskan waktu, Mutsana segera menjejak puncak tembok. Dia segera berlutut untuk menyamarkan keberadaannya. Dia membuka tas kain di punggungnya untuk mengambil sesuatu. Jabal dengan cepat membongkar crossbow itu menjadi bagian-bagian terpisah sebagaimana semula dan melapisinya lagi dengan kain tebal.

Diikatnya crossbow itu dan disandangnya melintang di bahunya. Cepatcepat dia berlari menuju tembok dan mendaki tembok melewati barisan anak panah yang dia tancapkan di tembok seperti tangga. Tak perlu menghabiskan banyak  waktu, Jabal telah hadir di dekat Mutsana di puncak tembok. “Kau turun duluan,” bisik Mutsana, yang ternyata telah menyiapkan seutar tali yang dia ulurkan ke bawah.

Dia mengikatkan tali itu kepada anak panah yang tertancap paling atas dan memeganginya agar Jabal bisa turun lebih dulu. Jabal menaati perintah Mutsana dan dengan hati-hati dia menggenggam tali itu erat-erat, kemudian menyusuri tembok sambil berpegangan kepada tali. Setelah Jabal tiba di bawah, giliran Mutsana menyusul. Mereka sudah berada di bagian dalam kota Ubullah. Bayang-bayang tembok menyamarkan keberadaan mereka. Apa yang mereka lihat di hadapan mereka adalah salah satu sudut kota Ubullah. Rumah-rumah penduduk berderet-deret di sana, sepi dan lengang, sebab malam telah cukup larut.

Mereka cepat-cepat membuka tas kain yang merek sandang dan mengeluarkan sehelai jubah serta serban. Mereka melapisi pakaian mereka yang hitam-hitam dengan jubah. Mutsana berjubah warna merah, Jabal mengenakan jubah warna putih. Mereka melepas bandana hitam mereka dan menggantinya dengan serban. “Sekarang kita cari tempat persembunyian,” bisik Mutsana. “Kau kenal kota ini, di mana baiknya kita bersembunyi?”

“Di dekat sini ada puing-puing sebuah ramai yang sudah lama diabaikan, lebih baik kita bersembunyi di sana,” kata Jabal. Mereka berjalan cepat dan sebisa mungkin menghindari cahaya dan keramaian. Tak lama kemudian mereka telah tiba di tempat yang mereka tuju. Sebuah tempat persembunyian yang amat tepat untuk menyusun langkah selanjutnya. Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

DERAP RANTAI [EPISODE 1]

Sebuah fiksi-sejarah

Matahari terik memanggang Semenanjung Arabia. Pada masa itu, ada sebuah negara yang baru saja  berkembang di sana, Khilafah Islamiyah. Dia yang pertama kali mendirikan negara itu adalah seorang nabi, Muhammad saw. Ketika dia wafat dengan berkalang kemuliaan, para sahabatnya melanjutkan kepemimpinan negara itu dengan penuh kemuliaan. Zaman dan sejarah kelak akan mencatat semua jejak yang telah mereka buat. Milyaran umat manusia di dunia akan mengikuti langkah yang mereka ambil. Penerus kepemimpinan sang Nabi di dalam negara yang diberkahi itu adalah sahabatnya sendiri, Abu Bakar.

Hari itu Abu Bakar sedang memimpin sebuah sidang yang dihadiri oleh para penasihatnya, para sahabat Nabi. Siang itu hadir pula Umar bin Khathab, orang yang selalu berseberangan dengan setan; Abdurrahmah bin Auf, saudagar tawadhu dengan sentuhan tangan emas; Usman bin Affan, lelaki pemilik dua cahaya mata; dan Ali bin Abi Thalib, gerbang ilmu sang Nabi. Mereka semua berkumpul di Saqifah bani Saidah.

Sidang berjalan agak alot hari itu, sebab banyak masalah yang harus mereka bicarakan.

“Orang-orang murtad ini memang merepotkan,” kata Abu Bakar, kegundahan menyelubungi hatinya, “belum lagi semua ini selesai, sudah muncul nabi-nabi palsu.”

“Insyaallah Khalid akan mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik,” Umar menatap wajah Abu Bakar, “Khalifah jangan khawatir, Allah akan menolong, insyaallah.”

“Insyaallah,” sahut Abu Bakar.

“Kecepatan dan kesigapan Khalid dalam memimpin angkatan perang sudah sama-sama kita lihat, dengan modal itu aku rasa Khalid akan mampu menyelesaikan semuanya dengan baik.”

Tak aneh jika munculnya kalangan orang-orang murtad dan makin menggilanya orang-orang yang mengaku nabi sangat menggusarkan hati Khalifah Abu Bakar. Sebab dialah yang paling bertanggungjawab terhadap apapun yang terjadi pada umat ini. Khalifah laksana penggembala bagi rakyatnya, dan dia akan dimintai petanggungjawaban oleh Allah atas gembalaannya itu. Dan Abu Bakar paham betul semua itu.

Di tengah-tengah sidang yang hangat di Saqifah bani Saidah itu datanglah seorang lelaki yang menunggang seekor kuda yang gagah, dia adalah Mutsana bin Harits. Mutsana dikawal oleh prajurit berkuda sebanyak dua puluh orang. Debu padang pasir beterbangan karena derap langkah kedatangan rombongan berkuda itu. Di hadapan gerbang Saqifah bani Saidah Mutsana menarik kuat-kuat tali kekang kudanya untuk menghentikan langkah kuda yang terpacu cepat itu. Dengan pedang masih tersemat di pinggang dia melompat turun dari punggung kudanya dan bergegas masuk.

“Assalamualaikum,” kata Mutsana, tangannya terangkat ketika dia mengucapkan salam.

Seluruh orang penting yang sedang duduk di dalam menyahut salam Mutsana. Dengan hampir bersamaan mereka bangkit dan menghampiri kedatangan lelaki gagah itu.

“Mutsana saudaraku,” Khalifah Abu Bakar merentangkan tangannya dan segera memeluk erat tubuh Mutsana. Seluruh sahabat pun tersenyum dan memeluk Mutsana bergiliran. Sebuah ikatan persaudaraan yang indah yang hanya ada di dalam Islam.

“Duduklah, duduk,” Abu Bakar memersilakan, “perintahkan juga seluruh prajuritmu masuk agar dihidangkan minuman untuk kalian semua.”

Mereka semua duduk dalam perasaan hati yang sedikit terobati karena kehadiran Mutsana bin Harits. Mereka telah mengetahui, kedatangan Mutsana adalah juga kedatangan sebuah kabar gembira.

“Alhamdulillah aku bisa kembali ke Madinah dengan selamat dan tidak kurang suatu apa,” kata Mutsana. “Ini semua berkat pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dan juga karena kebijaksanaan Khalifah serta para sahabat semua.”

“Alhamdulillah wallahu akbar,” Umar memuji sambil mengangkat tangannya lalu mengusapkannya ke wajahnya.

Senyum menghiasi seluruh wajah sahabat nabi yang teduh itu. Hati mereka berzikir kepada Allah dan lidah mereka selalu basah dengan kalimat-kalimat tayyibah. Merekalah generasi yang diridhoi dan meridhoi Allah.

“Bagaimana kabar yang kau bawa, wahai saudaraku Mutsana?” Abu Bakar sudah tidak sabar.

“Alhamdulillah, Khalifah,” jawab Mutsana, “pasukan kaum muslim telah berhasil merebut kota-kota di daratan Iraq, di sekitar perbatasan Khilafah Islam dengan Persia. Kota-kota itu kini telah berada di bawah kekuasaan Islam dan seluruh penduduknya telah berada di bawah perlindungan Islam.”

“Kota-kota apa saja yang telah berhasil kita rebut itu?” Tanya Usman.

“Seluruh kota yang terletak di selatan al Hirah telah berhasil kita taklukkan, Khalifah. Pasukan Persia tidak sanggup menghadapi gempuran kami yang cepat dan mematikan.”

“Alhamdulillah, semoga Allah merahmati dan memberikan kebaikan yang banyak kepadamu dan seluruh pasukan kaum muslim.” Doa Abu Bakar. Raut wajahnya yang semula keruh kemudian berubah menjadi bening dan segar, senyuman menghiasinya.

“Bagaimana pendapat sahabat sekalian dengan kabar yang dibawa Mutsana ini? Semoga Allah memudahkan semua urusan kita.” Abu Bakar melayangkan pandangannya kepada para sahabat yang hadir di Saqifah bani Saidah.

“Allah telah memudahkan kita untuk meluaskan kekuasaan Islam, dan Allah pasti akan memenangkan kita,” kata Ali bin Abi Thalib. “Kurasa saat inilah waktu yang tepat untuk menghantam Persia. Persia adalah salah satu penghalang utama dakwah Islam di dunia ini. Insyaallah kita akan meraih kemenangan karena Rasulullah telah menjanjikan bahwa Persia akan tercabik-cabik karena dahulu Kisra pernah mencabik-cabik surat Rasulullah.”

“Insyaallah,” Usman menimpali, “kabar dari Rasulullah adalah kabar kemenangan bagi kita. Khilafah Islam akan menguasai apa yang dahulu pernah dikuasai oleh Kisra.”

“Walaupun begitu tetaplah kita tidak boleh meremehkan kekuatan musuh,” pendapat Abdurrahman bin Auf, “Persia tetaplah sebuah negara besar, jika kita salah melangkah nanti merekalah yang mengambil keuntungan dari itu semua. Aku ingin menyampaikan agar kita mempersiapkan penaklukan ini dengan matang. Tahap persiapan amatlah penting, wahai Khalifah.”

“Aku sependapat dengan sahabat sekalian,” terkandung semangat yang menggebu di dalam suara Abu Bakar. “Insyaallah kemenangan kita sudah disabdakan oleh Rasulullah dahulu, hanya saja untuk meraih semua itu persiapan kita mestilah matang. Baiklah, kita semua sepakat untuk memfutuhat Iraq dan menghadapi Persia. Semoga Allah memudahkan kemenangan kita, insyaallah. Sebagai langkah pertama, aku tugaskan kepadamu Mutsana, untuk menyusup ke wilayah Persia yang terdekat dengan pebatasan kita, terutama ke al Hirah. Perintah detil untuk misimu ini akan kau dapatkan dalam bentuk surat yang akan kau terima nanti sore.”

“Siap!” Mutsana mengangguk dengan penuh semangat. Adalah sebuah kebanggaan dan kebahagiaan menerima misi dari Khalifah kaum muslim. [sayf]

Bersambung…

Follow @sayfmuhammadisa

Futuh Ruum Eps 10 tamat

Pagi memecah kegelapan, dan sangkakala belum lagi ditiupkan. Seluruh dunia akan kembali menyaksikan betapa janji Allah dan RasulNya akan kembali dibuktikan. Ketika matahari baru saja menyingsing, Angkatan Bersenjata Khilafah Islamiyah telah  bergerak menuju sasaran mereka, Roma. Khilafah akan mengepung kota itu dari darat, laut, dan udara.

 

Dari Pangkalan Militer Sultan Muhammad al Fatih di Istanbul, pesawat-pesawat tempur dan helikopter-helikopter Khilafah berseliweran cepat menuju Roma, hendak mengepung kota Vatikan. Kapal-kapal angkut yang membawa ribuan prajurit pun mengangkasa. Dari Pelabuhan Galipolli kapal-kapal perang Khilafah melepas sauh, hendak melintasi laut Mediterania dengan satu tujuan, mewujudkan janji Allah dan RasulNya, mengepung Roma. Sepuluh kapal induk yang amat besar seperti pulau mengapung pun dikerahkan untuk tujuan yang sama.

 

Dunia gentar menyaksikan semua itu. Seluruh posisi negara-negara di dunia telah dikunci, tidak ada yang berani berbuat sesuatu untuk merespon apa yang dilakukan Khilafah Islamiyah. Kemuliaan dan keagungan benar-benar hanya milik Islam dan kaum Muslim. Para wartawan dan jurnalis dari seluruh stasiun berita di dunia meliput pergerakan itu dari jarak yang aman. Mereka ingin mengabadikan apa yang mungkin sebentar lagi akan terjadi.

 

Khalifah Muhammad Hasanuddin berdiri gagah di salah satu kapal induk Khilafah Islamiyah, yang bernama Heyreddin Barbarossa. Ia melipat tangannya di depan dada sambil merasakan semilir angin pagi yang masih cukup dingin menelisik wajahnya. Di depan matanya hamparan laut yang membiru, Laut Mediterania. Para prajurit dan awak kapal berseliweran di sekitarnya melaksanakan tugas yang dibebankan ke pundak mereka. Khalifah menatap cita-cita di depan matanya, Penaklukan Roma.

 

Datanglah Jenderal Sayf Ali Khan menghampirinya. Perwira gagah asal Pakistan itu berdiri gagah di Khalifah.

 

“Bagaimana operasi Futuh Ruum kita?” Tanya Khalifah.

 

“Sampai sejauh ini semua berjalan lancar,” sahut Ali Khan. “Seluruh unit telah bergerak lewat laut dan udara ke titik-titik yang telah ditentukan. Dalam satu jam ke depan sebagian pasukan kita telah mendarat di sekitar kota Vatikan. Sebagaimana perjanjian, Italia tidak akan berbuat apa-apa.”

 

“Bagus! Uni Eropa pun kabarnya tidak akan bergerak. Perjanjian-perjanjian yang kita buat memang sangat berguna. Setelah Vatikan di tangan kita, selanjutnya kita bisa bergerak untuk menaklukkan seluruh Eropa.”

 

“Insyaallah, semoga Allah memudahkan dan melancarkan.”

 

“Anda tahu, Jenderal, Eropa adalah sarang kemaksiatan? Para pelacur berkeliaran di mana-mana, perempuan-perempuan telanjang dibiarkan, anak-cucu kaum Sodom dan Gomorah pun bebas merajalela, sebuah peradaban yang memuakkan. Dan kita akan bersihkan semua itu dari bumi Allah yang suci ini.”

 

Jenderal Ali Khan mengangguk dengan teguh. “Peradaban Islam akan menggusur seluruh budaya kufur yang ada, dan menebarkan rahmat kepada seluruh alam.”

 

Kedua orang besar di dalam jajaran pemerintahan Khilfah Islamiyah itu menatap ke depan, kepada cita-cita besar yang telah sejak ribuan tahun yang lalu telah ditetapkan kepastiannya oleh Rasulullah saw.

 

“Jika futuhat kita hari ini berasil, tandanya Allah telah memberi kemuliaan kepada kita untuk mewujudkan janji Rasulullah saw. Sejak ribuan tahun yang lalu, dan sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah swt.” Lanjut Khalifah. “Insyallah kitalah umat yang terbaik.”

 

Seluruh pasukan Khilafah Islamiyah terus melaju menuju satu tujuan, menaklukan Roma, mewujudkan janji Rasulullah saw.

 

000

Pada salah satu jendela di Basilika Santo Petrus, Paus Benedictus XVI menatap keluar dengan gemetar. Uskup Ferdinand selalu menemaninya dan kali ini dia harus memegangi tubuh ringkih Paus karena pemimpin besar Kristen itu gemetar tak tertanggungkan. Apa yang dia lihat di luar membuatnya gemetar hebat seperti itu. Seluruh Vatikan telah dikepung oleh prajurit berseragam putih-putih yang bersiap menerima perintah. Mereka adalah prajurit Khilafah Islamiyah.

 

ALLAAAHU AKBAR

ALLAAAHU AKBAR

ALLAAAHU AKBAR

 

Gema takbir menyobek langit Vatikan, menancapkan kalimat suci itu di tempat dimana kalimatullah belum pernah bergema. Dan hari itu, kalimah tayyibah bergema di jantung Kristen dunia. Dan kalimat takbir itu seolah-olah dentuman guruh yang menggedor-gedor telinga dan hati Paus serta seluruh jajaran uskupnya. Apakah hari itu adalah akhir dari agama Kristen?

 

Seluruh Vatikan penuh dengan hiruk-pikuk. Mereka berusaha menyelamatkan segala sesuatu yang perlu diselamatkan, walau pun mungkin sudah terlambat, sebab tentara Khilafah telah mengepung seluruh dinding Vatikan. Garda Swiss, pasukan resmi Kepausan, yang jumlahnya tak seberapa bersiap di berbagai posisi yang diperkirakan pasukan Khilfah akan masuk dari sana. Mereka bersiap berperang, walau mereka tahu mereka pasti kalah. Tentara Khilafah belum bergerak, karena belum ada perintah. Jika dipantau dari angkasa, terlihat bahwa Vatikan telah dikelilingi oleh lautan manusia berseragam putih. Gemuruh takbir terus digemakan oleh seluruh pasukan Khilafah, seolah akan meruntuhkan langit. Penaklukan hari itu hampir dipastikan akan berhasil.

 

Sebuah helicopter militer warna hitam melayang di atas Basilika Santo Petrus. Perlahan-lahan helicopter itu mendarat di lapangan depan gerbang Basilika Santo Petrus. Dari sana keluarlah Khalifah dan Jenderal Ali Khan. Mereka berdua melangkah menuju pintu depan basilica. Di sana telah hadir seluruh uskup di Vatikan dengan jubah-jubah mereka yang panjang. Khalifah dan Jenderal Ali Khan tegak dengan gagah di depan para uskup itu. Tak lama kemudian Paus keluar dari Basilika dengan didorong di atas kursi roda oleh uskup Ferdinand.

 

Tubuh Paus gemetar. Khalifah sampai bisa melihat dengan jelas tubuh ringkih yang gemetar itu. Paus menunduk saja di hadapan Khalifah. Semua uskup terdiam, mereka menatap Khalifah dengan penuh kepedihan. Hari ini mereka telah kalah.

 

“Serahkan kota ini kepada kami, dan kami akan menjamin kesejahteraan anda semua,” kata Khalifah. “Kami akan menerapkan syariat Islam di sini, dan anda semua akan mendapatkan jaminan keamanan untuk melaksanakan doa dan ibadah kalian. Jangan melawan kami sebab hal itu tidak ada gunanya. Jika anda melawan, kami telah siapkan pasukan kami di luar tembok kota dan akan kami rebut kota ini dengan kekuatan senjata.”

 

“Me…me…mengapa anda melakukan semua ini?” Tanya Paus dengan terbata-bata. Wajahnya mendongak kepada Khalifah. Matanya yang keriput dan kuyu menatap penuh Tanya. “Mengapa anda berbuat begini kepada kami? Apa salah kami?”

 

“Anda telah salah karena menyekutukan Allah. Anda telah menyembunyikan kebenaran, padahal akal anda tidak akan pernah bisa menyangkal agama mana yang benar, namun anda mendustakan kebenaran itu, dan tetap bertahan dengan semua kebohongan ini. Apakah anda tidak ingat, apa yang telah dilakukan Kepausan kepada umat Islam sejak dulu? Islam tidak mengajarkan kami mendendam, namun jika kekuasaan masih ada di tangan anda, anda pasti akan berbuat kezaliman yang nyata. Karena itulah kami wajib membersihkan kezaliman itu.”

 

Suara takbir terus menggema, semuanya orang di depan pintu basilica santo petrus itu terdiam. Jenderal Ali Khan menatap tajam pada Paus Benedictus. Khalifah mengembuskan napasnya.

 

“Untuk yang terakhir kali saya sampaikan,” kata Khalifah, tatapan matanya tajam kepada Paus yang ringkih itu, “serahkan kota ini, atau kami akan berjihad untuk mengambil alih  kota ini.”

 

Tiba-tiba Paus terisak. Dia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya yang keriput. Setengah dari Uskup yang berdiri di depan basilica itu pun turut menangis. Khalifah mengernyitkan dahinya menatap apa yang terjadi di hadapannya. Jenderal Ali Khan tetap dengan pembawaannya yang dingin. Pelan-pelan tangan kisut Paus bergerak merogoh saku di balik lipatan pakaiannya. Dia mengeluarkan sebuah anak kunci dari emas yang diikat pula dengan kalung dari emas, dan menyodorkannya dengan gemetar kepada Khalifah. Airmatanya berderai.

 

“Ini adalah kunci kota Vatikan, lambang dari penguasaan kota ini. Aku serahkan kota ini kepadamu. Penuhi semua janjimu.” Suara Paus serak dan parau.

 

Khalifah mengangkat tangan kanannya, meraih kunci emas itu. Digenggamnya kunci itu kuat-kuat dan dibelitkannya rantainya pada telapak tangannya.

 

“Anda jangan khawatir. Perintah Tuhan kami sangat jelas, kami pun tidak memerintah dengan hawa nafsu. Anda akan mendapatkan seluruh hak anda berdasarkan syariat.”

 

Khalifah dan Jenderal Ali Khan berbalik kemudian melangkah pergi. Mereka berjalan dengan gagah menatap kemenangan. Beberapa detik kemudian prajurit negara Khilafah mengalir masuk ke dalam kota Vatikan, tidak bisa dibendung lagi. Pasukan Garda Swiss tidak bisa berbuat apa-apa. Prajurit negara Khilafah segera mengamankan mereka dan memperlakukan mereka dengan baik. Hanya dalam beberapa menit saja hampir seluruh kota Vatikan sudah dipenuhi oleh tentara Muslim dan dimeriahkan dengan pekikan takbir yang membahana di setiap sudut Vatikan. Khalifah berdiri di hadapan pintu besar basilica santo Petrus, di undakan tangga paling atas. Ia mengangkat kunci emas yang ada di tangan kanannya tinggi-tinggi dan takbir lagi-lagi bergemuruh, gemetar. Tatapan matanya menyapu seluruh prajurit Muslim yang telah bersorak riuh di hadapannya, namun tertib dan santun, tak ada pengrusakan sedikit pun yang mereka lakukan.

 

“Hari ini janji Allah dan RasulNya sudah dibuktikan. Hari ini kemenangan dan keagungan hanyalah milik Islam dan kaum muslim. Semoga Allah merahmati kita, melimpahkan rahmat dan kesejahteraan kepada kita. ALLAAAAHU AKBAR.” [sayf]

 

FUTUH RUUM Eps 09

Suasana tegang menyelimuti ruang rapat Uni Eropa yang agung itu. Bangku-bangku dan meja panel berjajar melingkar. Semua orang tak menyangka apa yang terjadi di hadapan mereka, sebuah pertentangan tajam terjadi. Baru saja berlalu, semua anggota rapat berdiri dari kursinya dan mengangkat tangan masing-masing, hujan interupsi, dan suara-suara ketidakpuasan beterbangan di udara. Namun keadaan kembali diredam setelah ketua sidang, Charles Ashton, mengetuk palu.

 

“Saya minta semuanya tenang, dan menahan diri. Kita coba simak dulu uraian Tuan Berlusconi,” katanya. Dia mengangguk kepada Berlusconi dan memersilakannya bicara.

 

Berlusconi segera mendekatkan mikrofon di depannya dan bicara. Semua mata menatap kepadanya. “Terima kasih banyak kepada ketua yang telah memberikan kesempatan kembali kepada saya. Saya menghimbau kepada rekan-rekan agar jangan dulu antipati dengan usul yang saya sampaikan. Negara Khilafah akan menyerbu Vatikan itu bukan isapan jempol belaka. Semua indikasi sudah mengarah ke sana, dan bahkan Bapa Suci sendiri telah menginformasikan hal itu. Sudah semestinya kita semua bertindak dan tidak berdiam diri lagi. Tidak bisa tidak, Perang Suci mesti kita kobarkan lagi sebagaimana para pendahulu kita. Tidak ada jalan lain untuk menghentikan hegemoni mereka selain dengan jalan perang salib. Kita satukan kekuatan kita semua untuk menahan gempuran mereka. Kita tahu bahwa mereka bukanlah musuh yang bisa kita anggap enteng. Dahulu ketika orang-orang Islam tidak memiliki negara Khilafah kita bisa berbuat seenaknya kepada mereka, sekarang kondisinya tidaklah sama lagi. Mereka telah memiliki negara Khilafah yang akan menyatukan seluruh kekuatan dan potensi mereka. Tanpa pemimpin saja kita sudah cukup kerepotan ketika hendak melawan mereka, apalagi sekarang ketika mereka telah bersatu di bawah kepemimpinan seorang lelaki. Saya sangat menekankan agar kita segera mempersiapkan diri kita untuk perang salib.”

 

Belum selesai Berlusconi bicara, tangan-tangan telah teracung ingin menginterupsi. Namun Ashton tidak memberikan kesempatan bicara kepada mereka. Barulah setelah Berlusconi selesai, Ashton memberikan kesempatan kepada David Cameron, Perdana Menteri Inggris.

 

“Saya jelas tidak setuju dengan apa yang diusulkan oleh Tuan Berlusconi,” Cameron menggeleng pelan. “Masa-masa perang suci sudah jauh berlalu. Saat ini kita hidup di abad modern, mengapa kita masih harus memakai cara-cara abad pertengahan? Kita harus upayakan dulu diplomasi. Mereka bukan orang-orang bodoh yang tidak bisa berkompromi.”

 

“Tuan Wilders, silakan,” kata Ashton sambil menunjuk Geert Wilders yang duduk di hadapannya. Geert Wilders adalah seorang politisi Belanda yang sangat membenci Islam. Namun ketika Khilafah berdiri, sikapnya berubah total, dia menjadi sangat lembut dan sangat menghargai umat Islam. Entah apa yang terjadi padanya, sikapnya itu kontras sekali. Dia mengarahkan corong mikrofon ke mulutnya.

 

“Saya sepakat dengan Tuan Cameron. Semuanya bisa kita bicarakan baik-baik. Tidak ada hal yang tidak bisa dikompromikan,” katanya. “Apalagi Islam adalah agama yang santun dan tidak mengutamakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Sebisa mungkin kita jangan sampai memberikan sinyal-sinyal yang buruk kepada Negara Khilafah.”

 

Ashton mengembuskan napasnya, sebab dia melihat Berlusconi sudah berdiri sambil mengacungkan kedua belah tangannya seperti seorang suporter yang sedang menonton tim sepakbola kesayangannya. Ashton mengangguk sambil bertopang dagu, dan Berlusconi pun bicara.

 

“Ini bukan cara-cara abad pertengahan. Bagaimana cara kita merespon orang-orang yang tidak mengerti bahasa diplomasi. Yang mereka mau hanya perang untuk merebut Vatikan dari kita dan menghancurkan institusi suci umat Katolik. Ini bukan isapan jempol, Khalifah sendiri mengatakan hal itu. Kita meti meresponnya dengan tepat, dan respon yang tepat untuk menghadapi orang-orang seperti ini hanya perang. Bagaimana mungkin kita berdiplomasi kita jika kita berhadapan dengan orang-orang yang menodongkan senjatanya kepada kita? Itu tidak masuk akal.”

 

Tangan-tangan sudah teracung lagi, tapi tiba-tiba seorang petugas security yang rapi dengan jas hitam berlari ke dalam dan mendekati meja Ashton sebagai pemimpin sidang. Petugas itu membisikkan sesuatu kepada Ashton yang langsung terlihat heran. Ashton mengangguk kepada petugas itu. Tak membuang waktu petugas itu segera menghilang ke pintu keluar.

 

“Kita kedatangan tamu,” kata Ashton lewat mikrofonnya.

 

Semua orang menatap ke pintu masuk ruangan itu. Beberapa detik lamanya mereka menunggu, jantung mereka berdebar. Pintu itu terbuka, dua orang petugas berjas hitam tampak. Di belakang mereka melangkahlah dengan tertatih, Paus Benedictus XVI. Seperti biasa, Uskup Ferdinand menuntun tangannya. Sementara tongkat keberasarannya ditenteng oleh tangan Paus yang sebelah lagi.

 

Paus melangkah ke tengah-tengah sidang itu. Dia duduk di kursi yang telah disediakan petugas, persis di tengah-tengah ruangan yang melingkar itu. Uskup Ferdinand setia mengiringinya. Untuk menghormati Paus, Ashton turun ke depan dan turut duduk di sisi Paus. Tangannya menggenggam sebatang mikrofon, dia bicara.

 

“Sebuah kehormatan bagi sidang Uni Eropa karena Bapa Suci Benedictus XVI telah bersedia hadir di tengah-tengah kita. Tentunya ada hal penting yang akan beliau sampaikan dan kita semua harus mempersiapkan diri kita untuk menyimaknya. Baiklah, tidak memperpanjang kata-kata lagi, saya persilakan Bapa Suci untuk menyampaikan kalimat-kalimatnya.”

 

Ashton menyerahkan mikrofon di tangannya kepada Paus. Tangan kisut Paus mengambil mikrofon itu dengan gemetar seolah-oleh berat mikrofon itu lima puluh kilogram. Dengan sigap Ferdinand mengambil mikrofon di tangan Paus dan mendekatkannya ke mulut Paus. Suara deham Paus yang parau memenuhi ruangan.

 

“Salam sejahtera untuk ita semua. Saya ucapkan terima kasih kepada Tuan Ashton yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk turut bicara di dalam sebuah forum yang penting ini,” suara Paus tiba-tiba terhambat di tenggorokannya. Dia terbatuk. Setelah menenangkan dirinya, dia kembali bicara. “Ada bahaya besar yang sedang mengancam kita. Dan dunia Kristen mesti bersatu untuk melawannya.”

 

Berlusconi tersenyum tipis menatap Paus. Dia berpikir sekarang dia tidak perlu susah-susah lagi menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi kepada semua orang. Paus sendiri sudah datang untuk menyampaikannya secara langsung.

 

“Khalifah telah datang kepadaku. Dia memintaku masuk Islam, atau menggabungkan diri ke dalam wilayah kekuasaannya. Kalau aku menolak kedua tawaran ini, dia memutuskan untuk mengambil alih kota kita dengan kekuatan senjata. Dia bilang takluknya kota kita adalah janji Tuhan dan nabinya.”

Kesunyian merebak. Semua orang mendengarkan Paus bicara.

 

“Saya menolak, tentu saja. Saya mohon padanya agar mengurungkan niatnya itu, tapi dia tidak mau mendengarkan. Dia akan tetap mengirimkan pasukan perangnya untuk merebut kota kita. Gejolak terjadi di mana-mana. Umat Kristen sedunia merespon rencana itu, namun apa yang mereka bisa? Yang tetap memiliki kekuatan nyata adalah negara. Anda sekalian adalah kekuatan itu, anda semua memiliki kekuasaan. Anda memiliki senjata. Karena itulah saya meminta pertolongan kepada anda semua untuk mempersiapkan diri membela keyakinan anda, membela agama anda, membela tuhan Yesus Kristus. Aku menyerukan agar perang salib kita kobarkan kembali seperti dulu.”

 

Paus menghentikan kalimatnya, semua diam. Sunyi mendadak bangkit dan menutupi semua orang. Alam pikiran penuh dengan kilatan-kilatan memori dan semuanya tenggelam.

 

Cameron mengacungkan tangannya. Ashton mengangguk dan memberinya kesempatan bicara.

“Saya sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada Vatikan dan tahta suci. Hanya saja, saya mewakili Inggris, saya tidak bisa memberikan bantuan apa-apa selain doa yang tulus dari dalam hati saya. Inggris tidak mungkin terlibat di dalam semua ini karena Inggris telah memiliki perjanjian damai dan kerjasama bilateral dengan Negara Khilafah. Dan Inggris mesti menepati semua perjanjian yang telah dibuatnya.”

 

Geert Widers pun berdiri. “Saya pun mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya, sebab Belanda tidak bisa memberikan bantuan.”

 

Hampir semua orang kemudian menyusul Belanda dan Inggris untuk berdiri dan berbelasungkawa sebab tidak bisa memberikan bantuan kepada Vatikan. Yang bersedia mengerahkan senjatanya untuk menghalangi Negara Khilafah dalam menaklukkan Vatikan hanyalah Italia saja. Berlusconi berdiri dengan gagahnya sambil menggebrak meja. Tata kramanya entah ditaruh di mana.

 

“Kalian semuanya banci. Kalian semua bukan lelaki. Jika kalian semua tidak mau membantu melindungi tahta suci, biar Italia saja yang akan mengerahkan angkatan bersenjatanya. Semoga tuhan membakar kalian semua di dalam neraka.”

 

Suasana sepi menyelubungi ruangan itu dalam beberapa saat. Yang terdengar tiba-tiba adalah isak tangis Paus Benedictus XVI yang membahana. Air mata Paus berlinang membasahi pipinya yang keriput.

 

000

“Anda dipecat,” kata Napolitano, Presiden Republik Italia.

 

Berlusconi mengerutkan keningnya ketika dia berhadapan dengan Presiden Italia itu. “Apa maksud anda, Tuan Presiden?”

 

“Anda dipecat, dewan telah menyetujuinya. Anda tinggal menunggu surat pemecatan anda turun,” kata Napolitano lebih jelas.

 

“Mengapa saya dipecat begitu saja?” Berlusconi tak terima.

 

“Pandangan-pandangan anda yang ekstrim tidak bisa diterima dan bisa membahayakan negara.”

 

“Untuk sikap-sikap yang ekstrim seperti yang dilakukan oleh Khilafah kita juga wajib menghadapinya dengan sikap yang ekstrim. Bagaimana mungkin menghadapi kekerasan dengan lembek? Itu tidak masuk akal Tuan Presiden.”

 

“Takkan ada sikap yang ekstrim. Asalkan negara kita tidak diganggu, kita akan membiarkan mereka melakukan apapun terhadap Vatikan.”

 

“BODOH!!!” Hambur Berlusconi. “Apa anda pikir mereka akan berhenti hanya pada Vatikan? Mereka tidak akan berhenti sampai seluruh orang Kristen musnah dari muka bumi ini.”

 

“Mereka tidak begitu. Aku tahu Islam tidaklah seperti itu. Namun tak peduli apapun yang anda katakan sekarang, anda dipecat. Mohon maaf, saya punya banyak pekerjaan. Pintu keluar di sebelah sana.”

 

Dengan geram, Berlusconi melangkah. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan.

 

000

Prajurit Angkatan Bersenjata Khilafah Islamiyah berjajar dengan rapi. Keagungan dan kewibawaan menyelubungi mereka. Sebuah parade militer sedang dilaksanakan dengan megah di jalan-jalan yang melintasi Istana Topkapi dan Hagia Sofia di kota Istanbul. Derap langkah tentara Khilafah merawankan hati dan melumuri kebanggaan ke seluruh tubuh. Pakaian seragam mereka yang berwarna putih-putih dengan baret hijau begitu berwibawa. Senapan laras panjang dipanggul di bahu mereka. Di belakang barisan infanteri yang  mengular panjang itu membentang pula barisan tank-tank yang kokoh. Puluhan tank berjalan dengan laras-laras yang hitam. Kaum muslim memadati kiri-kanan jalan menyoraki dengan gembira parade itu.

 

Di barisan paling depan, di atas sebuah jip hitam, berdirilah Khalifah Muhammah Hasanuddin. Dia berdiri di bagian belakang jip yang terbuka itu dan melambaikan tangannya kepada rakyatnya sambil mengumbarkan senyum manis. Di sisi Khalifah tegaklah Jenderal Sayf Ali Khan. Dia berdiri saja seperti patung dengan ekspresi wajah galak sambil berpegangan kepada pilar-pilar besi jip itu. Sekilas Khalifah mendekat kepada Ali Khan. Dia bicara di antara keramaian rakyat Negara Khilafah itu.

 

“Penyerbuan kita ke Roma sebentar lagi, bagaimana persiapannya?” Tanya Khalifah.

 

Dengan tenang Ali Khan mengangguk. “Semua persiapan telah rampung dan operasi Futuh Ruum siap diberangkatkan kapan saja.”