Heka Eps 03 Ank Dalam Api

Lelaki berpakaian putih yang basah  kuyup itu berdiri di hadapan perapian yang hangat dan terang, tepat di  hadapan lelaki bertampang merengut. Sang Hekau tegak membelakangi tamunya. Jelas saja pakaian basah yang membalut tubuhnya mendaratkan dingin pada kulitnya, namun pancaran hangat dari perapian sedikit mengobati rasa dingin itu.

Kedua tangannya yang kokoh terangkat pelan-pelan, tatapan matanya terpaku dengan khidmat kepada Patung Amun yang dipandangnya suci itu. Berbagai tali dan serabut yang bergelantungan di langit-langit membuat suasana semakin seram. Lelaki bertampang merengut sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi tak lama lagi. Simbol-simbol Heka dari akar, batang, dan dedaunan menguarkan kemisteriusan.

“Letakkan persembahannya,” kata Sang Hekau tanpa menoleh sedikit pun. Lelaki bertampang merengut dengan tampang masih merengut, segera melaksanakan perintah Sang Hekau. Dia tidak punya pilihan lain. Dia segera bangkit dan meraih senampan sesajian, kemudian diletakkannya nampan yang penuh itu di atas lantai tanah, tepat di belakang Sang Hekau. Lelaki bertampang merengut duduk bersila di hadapan sesajian itu.

Heka bukan saja mengerikan dan aneh, tetapi juga menjijikkan. Sebuah nampan dari tanah liat berukuran sedang memuat bendabenda yang tidak masuk akal. Seekor kepala  kambing tertata di sana dan ditata dengan amat anggun. Pada tepian kepala kambing itu, pasir dari gurun Mesir mengelilingi. Bukan cuma itu, di bagian depan moncong kambing yang malang itu ada bangkai kadal berwarna hitam pekat. Tak ada warna lain pada bangkai kadal itu.

Di sekitarnya ditaburi bunga-bunga yang langka dan sulit ditemukan di Mesir, hingga memenuhi seluruh nampan. Di dalam rumah yang diterangi cahaya remang itu memang sulit terlihat, tetapi ada beberapa benda kecil yang juga amat penting di atas nampan. Ada empat batang paku besi yang juga berwarna hitam tepat di bagian atas kepala kambing.

Beberapa helai bunga menutupi batang-batang paku itu hingga keberadaannya makin tersamarkan. Sang Hekau pun perlahan membalikkan tubuhnya menghadap sesajian itu, juga berhadapan dengan lelaki bertampang merengut. Kedua tangannya masih terangkat ke atas dan perlahan dia duduk bersila di situ, di depan sesajian dan tamunya.

Saat dia telah benar-benar bersila, kedua tangannya turun perlahan dan diletakkannya di atas lututnya. Beberapa butir tetesan air masih jatuh dari ujung-ujung rambutnya yang panjang sebahu, perapian di belakang tubuhnya cukup menghangatkan. Mata Sang Hekau menatap tajam kepada kepala kambing di hadapannya lalu meniup-niup pelan sambil merapalkan mantra.

Dia mengucapkan kata-kata yang tidak bisa dimengerti, membuat lelaki bertampang merengut semakin merengut. “Sebutkan lagi namamu!” Perintah Sang Hekau. “Ramzi Yassa!” Sahut si lelaki bertampang merengut. Wajahnya jadi sedikit lebih cerah ketika dia menyebutkan namanya. “Nyatakan siapa musuhmu!” “Abdemelek Acheri!”

“Nyatakan dosa-dosa musuhmu!” “Dia menghinaku di depan orang  banyak,” bola mata Ramzi seolah dibakar oleh dendam. Ingatannya menjalar, menapaki peristiwa kelam di masa lalu. “Kesalahanku tak seberapa, hanya tak sengaja menjatuhkan sebutir telur, tetapi dia menistakan aku di hadapan semua orang, dia menamparku hingga hidungku berdarah.

Tubuhku diinjak-injak tanpa ampun, kepalaku dipijaknya hingga wajahku terbenam di pasir. Semua orang menertawakan aku. Abdemelek harus mendapat ganjarannya, dia harus mati dengan mengerikan.” Mata hitam dan tajam sang Hekau menatap Ramzi dengan menyeramkan. Tiba-tiba kedua mata itu terbalik, menyisakan hanya bagian putihnya.

Ramzi mengernyitkan alisnya dan hatinya diselimuti kengerian. Dia kembali bertanyatanya apa yang akan terjadi. Tubuh sang Hekau bergetar, tapi perlahan getarangetaran itu semakin keras dan berubah menjadi guncangan. Ramzi kebingungan,  dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan. Mata putih sang Hekau membelalak dan wajahnya menengadah pada langit malam. Mulutnya menganga lebar, mengeluarkan suara serak seperti lembu yang disembelih, sementara  tubuhnya terus berguncang. Tiba-tiba dia terdiam!

Guncanganguncangan itu berhenti. Kepala sang Hekau terkulai jatuh ke dadanya dengan lemas, tubuhnya membungkuk walau dia masih dalam posisi bersila. Ramzi tercengang,  hampir-hampir dia kabur dari rumah itu karena ketakutan, dia sudah mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri. Tetapi  dia urungkan niatnya ketika melihat gelora  tubuh sang Hekau yang sudah mereda. Pelan-pelan sang Hekau mengangkat wajahnya dan menegakkan kepalanya.  Matanya yang tadinya sangat menyeramkan sudah kembali seperti semula, hitam. Dia memandang Ramzi dengan lebih lembut dan alis tebalnya berhenti berkerut.

Lalu dengan penuh makna diapun menunduk, menatap sesajian yang mengerikan di hadapannya. Dia memberi tanda kepada Ramzi, untuk juga menatap senampan sesajian itu. Dengan anggun, tangan sang Hekau tergerak kepada sesajian itu, mengambil helaian-helaian mahkota bunga, dan meletakkannya di telapak tangannya. Ramzi mengerti isyarat itu dan dia pun memandang dengan segan kepada nampan. Terungkaplah keanehan di sana, di atas kepala kambing yang tadinya terhampar empat batang paku hitam yang tajam, kini sudah tiada lagi.

Paku-paku itu sudah menghilang. “Amun telah mengabarkan kepadaku, Abdemelek Acheri sudah mati,” bisik sang Hekau sambil merentangkan kedua tangannya seolah-olah hendak memeluk seorang saudara. Sebaris senyum seram terhampar di wajahnya. “Perutnya terbelah, darahnya membuncah, apakah itu kurang mengerikan?” Ramzi melongo menatap sang Hekau lalu mengangguk pelan, berbisik, “Dendamku sudah terbalas.

Aku akan mengetahui apa yang terjadi padanya.” Bersujudlah Ramzi kepada sang Hekau, seolah bersujud kepada Tuhan. Saat dia duduk kembali, dia berkata, “Aku bersyukur atas semua bantuan ini.”  Ramzi kembali duduk bersila sambil menghadap sang Hekau, saat itulah matanya menangkap suatu imaji yang membuat alisnya kembali mengernyit.

Ada sebuah simbol aneh yang terpahat di dada sang Hekau. Simbol itu terlihat samarsamar di balik jubah putihnya yang basah kuyup, menyembul sedikit ke permukaan. Ramzi tahu betul simbol macam apa itu,  dan tidak seorang pun di Mesir yang  memiliki simbol itu kecuali dia seorang Menkheperesseneb. Simbol itu adalah Ankh. To be continued…

Heka Eps. 01

kegelapan malam kembali merajai  dunia. Memang waktu silih berganti, namun keindahan malam tiada  terperi. Hawa dingin menjadi sedemikian pilu ketika setan-setan keluar dari sarangnya dan bergentayangan di muka bumi. Manusia hidup pada dua sisi wajah malam, pada keelokan dan ketenangannya, yang di sana manusia merasakan kebahagiaan, dan pada kesuraman dan kengerian, yang di sana manusia berlindung darinya.

Betapa tenang dan nyamannya malam itu menyelubungi bumi Mesir, namun di dalamnya terselip hitam yang mencekam, dan kematian. Ada seorang lelaki berwajah senang yang amat dihormati di Mesir. Dia seorang pedagang besar yang tinggal di Thebes, namanya Abdamelek Acheri. Perawakannya akan mendeklarasikan kepada siapa saja bahwa dia adalah seorang saudagar besar. Abdamelek berbadan besar dan gendut. Kepalanya botak, tak ada rambut sehelai pun di sana. Bahkan tak ada alis dan bulu mata sejumput pun pada wajahnya. Kulitnya putih, bagi orang-orang Qibthi dia amat putih.

Matanya yang sipit membuat dia terlihat seperti orang Cina dan bukan orang Qibthi. Dia begitu baik kepada keluarganya, hanya saja tak ada yang tahu, malam itu ada dendam yang mengambang di udara hendak merenggut nyawanya. Sebuah jamuan makan sedang digelar di kediaman Abdemelek yang  megah. Ada meja panjang di ruang makan yang sudah penuh dengan hidangan. Berbagai masakan sudah tersedia, dikelilingi oleh seluruh keluarganya. Abdemelek sendiri dengan sumringah duduk di ujung meja, dan setelah beramahtamah sejenak dengan anak-anaknya yang masih belia, perjamuan makan itu pun dimulailah.

Semuanya makan dengan lahap, irisan-irisan dagingnya menggugah selera, dan helaian-helaian sayur-mayurnya membangkitkan rasa lapar. Semuanya sibuk mengunyah, menyuap, memotong, dan mengiris. Mereka tenggelam dalam hindangan yang enak-enak, sementara ada banyak orang di Mesir yang hampir mati kelaparan. Jurang antara yang kaya dan miskin menganga lebar dan hampir tidak bisa lagi diseberangi. Abdemelek menyuap daging panggang itu dengan tangan kirinya. Tanpa mengenal adab dan kesopanan, dia makan dengan tangan kirinya.

Dia tersenyum saja sedari tadi sambil memandang seluruh anggota keluarganya yang mengelilingi meja, kemudian menyuapkan lagi irisan daging panggang itu ke mulutnya, hingga dia merasa ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. Napas Abdemelek seketika terputus, seolah ada bongkahan batu sebesar kepalan tangan yang menyumbat tenggorokannya. Dia ambruk dari kursinya  dan terjengkang ke belakang.

Tubuhnya menggelepar hebat karena paru-parunya mencari-cari udara. Matanya membelalak lebar dan memperlihatkan dengan jelas pembuluh darah di mata itu terpecah, membuat matanya merah suram. Semua orang terperanjat, geger. Dengan amat tergesa dan terburuburu, semua anggota keluar Abdemelek di meja makan itu melompat dan berhamburan ke sekitar Abdemelek yang sedang sekarat.

Tubuh tambun itu terus saja menggelepar seperti seekor ayam yang meregang nyawa. Mulutnya menganga lebar sekali, seakan hendak menelan sepuruh kepalanya yang botak. Tak ada orang yang berani menyentuhnya, melihat Abdemelek seperti melihat kematian. Tibatiba terjadilah sesuatu yang lebih aneh lagi.

Perut Abdemelek yang sudah buncit terlihat semakin buncit. Perut itu terus mengembang, membesar, dan membesar, seolah ada sesuatu yang hendak mendesak keluar. Semua orang bergidig ngeri. Tibatiba perut Abdemelek meletus, dengan memuncratkan darah ke segala arah. Tak  ada seorang pun yang menyangka hal itu akan terjadi, hanyalah percikan darah  merah yang melumuri wajah-wajah mereka  yang penuh tanda tanya suram.

Tubuh Andemelek pun terdiam dan kaku. Perutnya meletus, menyisakan lubang besar menganga yang berwana merah, darah berlumuran di mana-mana, dan semua mata menyaksikan ada paku-paku besi berkarat di perut Abdemelek. Seakanakan setiap jantung di dalam ruangan itu berhenti berdetak karena ditikam tanda tanya. Semua mata membelalak lebar dan dicekam kengerian. Suara ratap yang muram pun terdengar!

“Heka… Heka…” “Ini Heka!” “Abdemelek kena Heka…” “Heka…!” Namun sekeras apapun mereka  meratap, Abdemelek sudah tidak bisa mendengar.

000

Pada tempat yang jauh, jauh dari Thebes, di sebuah desa bernama Meroe di  pedalaman Nubia dan di tepi Sungai Nil, sebuah peristiwa yang hitam terjadi. Malam membelai permukaan Sungai Nil yang agung, yang untuk membuatnya terus mengalir, nyawa dan darah mesti selalu dikorbankan. Terkadang ada pengorbanan hasil panen, kadang hewan ternak, dan bahkan kadang gadis perawan. Ada sebuah rumah yang tegak di tepi Sungai Nil. Rumah itu amat sederhana dan tenggelam dalam kegelapan malam.

Tak ada penerangan sama sekali di bagian luar gubug itu, hanya cahaya bulan yang keperakan. Tetapi dari sela-sela jendelanya terlihat pucuk-pucuk cahaya, yang menandakan ada kehidupan di dalam sana. Di bagian atap rumah itu ada sebuah cerobong asap sederhana yang dilumuri jelaga. Asap tipis mengepul dari sana dan segera menyatu dengan keremangan malam. Pada bagian dalam rumah itu hadirlah seorang lelaki bertampang merengut.

Dia duduk di atas sebuah dipan sederhana. Dia menatap kobaran api yang meretih-retih, tepat di hadapannya. Ada dua pintu di rumah itu, pintu belakang yang menghadapi ke Sungai Nil, dan pintu depan. Rumah itu mungil, namun padat dan sesak. Barang-barang yang sebagian besarnya tak masuk akal dan mengerikan memenuhi rumah itu. Seluruh bagian lantainya dilapisi tikar dari jerami, dan bagian rumah itu yang paling melegakan adalah perapian batu di dinding. Perapian yang hitam itu menebarkan kehangatan pada malam yang dingin.

Tepat di hadapan perapian itu ada sebuah dipan yang rapat ke dinding di seberang ruangan. Di sanalah lelaki bertampang merengut itu duduk. Hanya ada satu ruangan di dalam rumah itu, tak ada lagi kamar atau yang semacamnya. Di seluruh dindingnya tertempel rak-rak buku kumal yang dipenuhi buku-buku tebal dan berat. Bukubuku itu disusun dengan sembarangan,  sekadar ditumpuk, dan debu-debu tebal sudah menghuni permukaannya entah sejak kapan.

Meja-meja dan rak-rak pun berjajar di tepi ruangan, yang di atasnya tersimpan berbagai gerabah dari tanah liat. Semua gerabah kecil itu tidak tertutup dan  isinya menyembul keluar. Beberapa di antaranya berisi daun-daun misterius, ada juga benda-benda kenyal yang tak jelas. Tumpukan-tumpukan kulit yang kering pun tersedia di atas meja.

Semua bahan yang entah untuk apa itu terletak dengan menakutkan. Sulur-sulur, tali, dan simpulsimpul menjulur dari langit-langit yang sederhana. Ada tulang-tulang yang terikat dan tergantung di situ, ada juga simbolsimbol Heka yang rumit. Sebuah patung Dewa Amun pun hadir tepat di atas perapian.

Suasana hening, lelaki bertampang merengut tetap duduk di tempatnya, hampir tanpa bergerak. Pandangan matanya tertuju kepada gejolak api di perapian. Mengapa tampangnya seburuk itu pastilah karena suatu alasan, dan untuk alasan itulah dia hadir di tempat yang amat tidak menyenangkan itu. Kobaran api dari perapian menari di wajahnya,  makin menambahkan kesuraman pada matanya yang hitam.

Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Sebuah suara daun pintu membuka, ketika lelaki bertampang merengut itu menoleh ke pintu, muncullah seorang lelaki yang tak kalah anehnya. Lelaki itu mengenakan pakaian putih panjang, dan basah kuyup.

Tetes-tetes air berhamburan di kakinya yang telanjang, dan matanya yang menyeramkan menatap kepada lelaki  bertampang merengut. Rambut lelaki aneh itu panjang hingga ke bahu, basah kuyup, seakan dia baru saja menceburkan dirinya ke Sungai Nil pada malam yang dingin itu. Di waktu-waktu yang tidak masuk akal bagi seseorang untuk mandi di sungai.

Atau mungkin dia benar-benar baru saja mandi di Sungai Nil? “Kalau bukan karena tujuanmu juga amat penting bagiku, pasti aku takkan mau melakukan semua ini,” kata lelaki aneh di ambang pintu. Dia melangkah pelan dengan menggigil ke tengah ruangan. Tangannya terlihat gemetar karena kedinginan, memang tidak masuk akal berendam di Sungai Nil pada waktu-waktu seperti itu.

“Air Sungai Nil dingin sekali, tetapi jika tidak membersihkan diri, ritual Heka takkan bisa dijalankan.” “Terima kasih banyak, Hekau , aku akan membayar banyak untuk bantuanmu,” kata lelaki bertampang merengut. “Ada hal lain yang lebih berharga daripada uang,” sahut sang Hekau. “Apakah itu? Aku akan memenuhinya.” “Nyawa,” Mata Hekau mendelik, memantulkan nyala api yang kejam.[]

Derap Rantai eps 6

“Sebenarnya aku masih cukup bingung dengan instruksi dari Khalifah,” kata Jabal bin Abdul’uzza. “Bagaimana kita menemukan Aswad kalau informasi tentang dia hanya segini?” “Kita harus tetap besyukur kepada Allah, semoga Dia memberikan petunjuk kepada kita untuk menemukan Aswad walau petunjuk hanya segini,” kata Mutsana bin Harits.

Kedua agen rahasia yang dikirimkan oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq itu berada di tengah-tengah ramainya pasar di kota Ubullah. Mereka berjalan bersisian sambil terus merapat dan bicara dengan amat hatihati, sekaligus dengan mengatur seberapa  kuat suara mereka. Sebab pada misi ini Mutsana harus berpura-pura menjadi seorang yang bisu.

Hanya Jabal yang boleh mengeluarkan suara sebab hanya dialah yang mengerti bahasa Persia. “Pasarnya seluas dan seramai ini, bagaimana cara kita menemukan pedagang kain yang wajahnya paling jelek?” Jabal menyapukan pandangannya, kepalanya menoleh kesana-kemari.

 “Tampan atau jelek tergantung mata siapa yang melihatnya, kalau di mataku ada banyak orang jelek di sini, bagaimana cara kita menemukan orang jelek di tengah-tengah orang jelek?” Mutsana tersenyum simpul mendengar kegalauan mitranya. “Tenang saja, Allah akan memberikan petunjuk kepada kita, insya Allah.

Pedagang kain yang wajahnya jelek, kurasa itu adalah sebuah  34 petunjuk yang cukup baik. Sebab jika seseorang telah mengatakan bahwa wajah seseorang itu jelek, maka biasanya secara umum orang-orang juga akan memandang wajahnya jelek. Petunjuk lain, Aswad adalah seorang muslim yang saleh, yang harus kita lakukan adalah mencari cara bagaimana kita mengetahui bahwa pedagang kain berwajah jelek itu adalah seorang muslim. Jika semua ciri ada padanya, maka dialah Aswad.” Cuaca yang terik memayungi pasar di kota Ubullah itu.

Kios-kios dan lapak-lapak pedagang berderet-deret diteduhkan oleh tenda-tenda yang terbuat dari kain. Tiangtiang dari kayu dan tambang-tambang terikat  di sudut-sudut tenda itu, kemudian diikatkan  pada pancang yang tertanam di tanah.  Lapak-lapak dan kios-kios itu membentuk  lorong-lorong yang berliku-liku.

Berbagai  barang dijual di pasar itu, biasanya pedagang  yang menjual satu jenis barang tertentu  berkumpul di suatu sudut dari pasar itu,  sementara pedagang-pedagang jenis barang  yang lain berkumpul di sudut pasar yang lain. Sudah beberapa lama Mutsana dan Jabal menyusuri pasar itu, namun mereka belum juga menemukan pedagang kain. Mereka berada di tengah-tengah pedagang emas. “Di mana pedagang kain?” Gumam Mutsana.

Dia berkacak pinggang sambil memandang ke sekitarnya. “Ini pedagang emas.” “Setahuku, pedagang kain letaknya tidak jauh dari pedagang emas,” sahut Jabal. “Tapi sepertinya para pedagang kain sudah  dipindahkan entah kemana. Dari tadi sudah kita susuri pedagang emas, tapi tidak bertemu juga pedagang kain.”

 “Mungkin kau sebaiknya bertanya pada seseorang,” usul Mutsana sambil menoleh pada Jabal. “Tapi tetaplah hati-hati, dari tadi aku melihat prajurit Persia ada di mana-mana, sepertinya mereka memang alergi dengan orang Islam, penjagaannya ketat sekali.” Jabal mengangguk dengan penuh makna kepada mitranya.

Mereka tetap merapat di antara kerumunan pasar itu, Mutsana mengikuti langkah Jabal. Mereka keluar dari kerumunan dan berjalan menuju pedagang emas yang terdekat dengan mereka, seorang lelaki bertampang masam. Jabal segera memerlihatkan kemampuannya berbahasa Persia, sementara Mutsana diam seribu bahasa. “Hey tuan, di mana pedagang kain?” Tanya Jabal.

Pedagang emas itu menyahut dengan acuh tak acuh. “Di bagian barat pasar.” Mutsana dan Jabal bergegas pergi tanpa berterimakasih sama sekali kepada pedagang emas itu. Mereka memang amat terburu-buru, sebab waktu mereka sangat sempit. Mereka cepat-cepat membelah kerumunan pasar itu menuju bagian pasar yang tadi ditunjukkan pedagang emas. Setelah berbelok beberapa kali, bertanya lagi beberapa kali, tersandung, tersenggol, saling dorong, dan terinjak kakinya, sampailah mereka di wilayah pedagang kain.

Di  hadapan mereka telah membentang kioskios dan lapak-lapak pedagang kain pasar Ubullah. “Ayo kita telusuri dengan saksama,” kata Mutsana. “Aku yakin wajah jelek yang dimaksud bukanlah karena ras atau etnis. Jadi tentunya bukan selalu orang berkulit hitam atau berbibir tebal. Aswad bisa jadi berasal dari ras mana saja, dan kemungkinan ada semacam cacat atau penyakit tertentu di wajahnya yang karena itulah dia disebut berwajah jelek.”

“Cukup masuk akal,” balas Jabal. “Agar lebih efektif bagaimana kalau kita berpencar saja?” Mutsana menggeleng. “Itu bukan ide bagus. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, lebih baik kita terus bersama karena akan selalu ada kemungkinan kita sulit berkumpul kembali nantinya.”

“Baiklah,” Jabal menerima keputusan komandannya itu. Mereka melangkah pelan-pelan, menyusuri deretan toko-toko dan lapaklapak pedagang kain itu. orang-orang ramai  tawar-menawar harga, hal itu membuat  mereka kesulitan menjalankan misi mereka.  Sering kali mereka terombang-ambing  karena kerumunan begitu ramai.

Mereka  mengamati pedagang kain yang sedang sibuk melayani pembeli satu persatu. Ada yang berkulit hitam, cokelat, dan kuning.  Ada yang berasal dari Afrika dan Asia. Namun sejauh ini wajah para pedagang kain  itu normal-normal saja. Kawasan pedagang kain di pasar Ubullah itu memang cukup luas. Selama  sekitar setengah jam mereka menyusuri kawasan pedagang kain itu. Kalau bukan karena sedang menjalankan misi penting dari Khalifah kaum Muslim, pastilah mereka tidak akan mau dekat-dekat dengan tempat yang menyebalkan itu.

Mereka lagi-lagi harus merasakan bagaimana berhimpit-himpitan dengan kerumunan orang yang berbelanja, mereka terdorong, kaki mereka terinjak, dan tentu saja mereka selalu berada di bawah ancaman dari prajurit-prajurit Persia yang selalu waspada. Mutsana dan Jabal menyingkir menuju sudut pasar yang lebih sepi, mereka masih berada di kawasan pedagang kain. Orang-orang hilir-mudik di hadapan mereka, sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Napas mereka terengah-engah, keringat bercucuran di sekujur tubuh mereka bercampur dengan debu-debu pasar. Lengkaplah sudah. “Sepertinya kita dapat masalah,” kata Mutsana. “Inilah yang aku khawatirkan,” sahut Jabal. “Kita menemukan dua orang pedagang kain berwajah jelek yang diduga adalah Aswad bin Asadi. Bagaimana sekarang, waktu kita makin sempit.” Jabal melempar pandang ke seberang, kepada seorang pedagang kain yang sedang bersemangat menjajakan dagangannya.

Dia terus mengamati pedagang kain itu. Memang ada sesuatu di wajah pedagang kain itu yang kurang enak  dipandang, banyak kutil menggelantung di  wajahnya. Pedagang kain itu memang selalu terlihat tersenyum, namun senyum yang seharusnya terlihat manis itu tenggelam di bawah kutil-kutil berbagai ukuran yang memenuhi wajahnya. Usia pedagang kain itu kira-kira empat puluh tahun, tubuhnya kurus, kulitnya cokelat, berkumis dan berjenggot.

Sementara Mutsana menatap ke sisi lain, tak jauh dari situ, ada seorang pedagang kain yang juga sedang sibuk menjual barang dagangannya. Yang cukup menarik perhatian adalah, wajahnya juga ditumbuhi kutil. Pedagang kain yang satu ini bertubuh gemuk, lehernya bergelambir, suaranya lantang. “Ada dua orang pedagang kain berwajah jelek,” gumam Jabal.

 “Bagaimana sekarang? Kalau berpencar, kita bisa menemui dua orang itu sekaligus. Kita bisa tentukan tempat kita berkumpul kembali di Rumah Kematian.” Mutsana menggeleng, “Aku masih tetap cenderung pada keputusanku di awal tadi, kita tetap bersama untuk menghadapi berbagai kemungkinan.” “Berarti siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Jabal menjadi agak gusar. Dia mengkhawatirkan sesuatu…

Bersambung

Derap Rantai

Seorang muslim memang seharusnya menjadikan malam sebagai teman Sebab di dalam malam itu ada waktu-waktu yang terbaik, di mana Allah azza wajalla menebarkan kedamaian kepada seluruh bumi dan mengabulkan doa-doa. Disanalah saatnya umat manusia bersimpuh dan mengiba, karena Tuhan berdiri tegak dihadapannya.

Petiklah setangkai rahmat yangdimekarkan Tuhan di langit malam. Itulah yang sedang dilakukan oleh Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza, tahajud.

Pada salah satu sudut kota Ubullah yang tak jauh dari tembok kota, membentanglah sebuah reruntuhan rumah. Rumah itu telah lama diabaikan dan terletak agak jauh dari rumah-rumah yang lain. Batu-batu dan sisa-sisa dinding berserakan di sekitar reruntuhan rumah itu. Sebagian atapnya telah hancur, dan pintunya telah hilang entah kemana.

Jika reruntuhan rumah itu diperhatikan lebih saksama, sepertinya rumah itu cukup besar sebelum diruntuhkan. Beberapa bagian dari rumah itu ternyata luput dari penghancuran, Mutsana dan Jabal bersembunyi pada bagian rumah yang pada awalnya, sepertinya, adalah sebuah kamar.

Mereka berdiri dan bersujud kepada Tuhannya, di tengah kegelapan malam dan kegelapan reruntuhan rumah itu. Bintangbintang beredar, dan waktu pun berlalu, ketika mereka mengucapkan salam, malam masih menghitam. Doa-doa mereka pun menguap ke udara, seiring hasrat yang murni akan keberhasilan misi. Siapakah yang  menentukan gagal atau berhasilnya sesuatu,  hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka  paham betul hal itu. Setelah semuanya  selesai, mereka menyandarkan diri ke  tembok reruntuhan rumah yang gelap itu.

 “Ada sedikit waktu untuk beristirahat, mungkin waktu subuh sebentar  lagi datang,” kata Mutsana dengan memelankan suaranya.

Dia memandang wajah Jabal, namun yang terlihat hanyalah siluet gelap.

 “Tidurlah, aku yang akan berjaga.”

“Kalau sedang menjalankan misi seperti ini, aku jadi sulit tidur,” sahut Jabal. Mereka sengaja tidak menyalakan api untuk penerangan, sebab persembunyian mereka bisa segera diketahui.

“Kita akan menyamar seperti orang Persia dengan cara berpakaian mereka ketika pagi menjelang. Kemudian kita segera bergerak ke pasar Ubullah dan mencari Aswad sampai dapat. Setelah misi selesai, saat malam tiba kita akan bergerak lagi ke tempat ini dan keluar melintasi tembok.”

“Siap!” kata Jabal.

Keheningan kemudian menjalar,  hingga desau angin saja yang terdengar. Mereka merapatkan mantel tebal ke tubuh mereka untuk mencari kehangatan. Pujipujian kepada Allah tak henti mereka  gumamkan. Allah-lah yang akan melindungi dan menjaga mereka.

 “Sebenarnya ini rumah siapa?” Tanya Mutsana.

 “Kenapa diruntuhkan dan dibiarkan terlantar seperti ini?” Hembusan napas mengabut di depan hidung Jabal. Sebenarnya dia tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan Mutsana, hanya saja gelap menyembunyikannya.

 “Aku sangat yakin, insya Allah tempat inilah yang paling aman sebagai tempat persembunyian kita.

” “Sepertinya kau yakin sekali!” Mutsana penasaran.

 “Benar, sangat yakin. Takkan ada seorang pun yang berani mendekati rumah ini.”

 “Kenapa begitu?” “Karena rumah ini berhantu! Semua  orang di kota ini  memercayai hal itu.” “Berhantu?” “Ya, berhantu!”

“Masih ada saja orang berpikiran  primitif seperti itu,” kata Mutsana. “Seluruh kota telah mengenal  keangkeran rumah ini,” Jabal berkisah. Dia tetap memelankan suaranya.

Mereka harus tetap berhati-hati. “Orang-orang menjuluki rumah ini dengan julukan yang tidak enak.” “Julukan apa?” Mutsana penasaran. Kisah-kisah hantu selalu saja membuat penasaran.

“Rumah Kematian! Julukannya memang seram sekali, seseram peristiwa yang pernah terjadi di rumah ini.”

 “Bagaimana ceritanya?”

“Aku mengobrol dengan seorang  penduduk asli kota ini, cerita ini dia dapat dari bapaknya, sepuluh tahun yang lalu ada sebuah keluarga yang tinggal di rumah ini, keluarga seorang saudagar yang bernama Kourosh.

Dia memiliki sebuah keluarga yang bahagia, dengan seorang anak lelaki yang tampan. Anak lelaki itu tumbuh dengan baik, tangkas dan pintar, namun di usianya yang ke-16, pada suatu malam, dia membunuh kedua orangtuanya, dan seluruh pelayan di rumah ini dengan alasan yang tidak jelas.

Dia tidak pernah mengatakan kepada siapa pun apa alasan dia melakukan perbuatan keji itu hingga dia dijebloskan ke dalam penjara. Akhirnya dia sendiri bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke jeruji penjara.

” Mutsana mengernyitkan alisnya kemudian mendecakkan lidahnya. Jabal melanjutkan. “Setelah penguasa kota ini mengambil seluruh harta, rumah ini  dibiarkan kosong. Sejak saat itulah orang-orang  mulai banyak bercerita bahwa mereka melihat hantu dan hal-hal semacam itu ketika berada dekat dengan rumah ini. Terdengar jeritan-jeritan, terlihat hantu tanpa kepala, sebab anak itu memenggal kepala kedua orangtuanya, dah hal-hal semacam itu. Penguasa kota ini kemudian menghancurkan rumah ini, dan hal itu tidak membuat orang-orang berhenti membicarakan hantu yang katanya ada di rumah ini.”

 “Begitulah orang-orang primitif, masih saja berpikir seperti itu,” timpal Mutsana.

 “Allah-lah yang menguasai segala sesuatu. Dialah yang mengetahui semua hal gaib. Kepada Dia kita memohon perlindungan atas kejahatan makhluk. Setan akan selalu menggoda manusia, memang itulah pekerjaannya, mereka akan selalu berusaha menggelincirkan kita dari jalan keimanan. Kepada Allah-lah kita mohon perlindungan.”

 “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Islam kepada kita, yang dengannya hidup kita ditunjuki. Subhanallah walhamdulillah.” Kata Jabal. “Tapi sepertinya kita harus berterimakasih kepada hantu-hantu itu,” Mutsana tergelak.

“Mereka telah menyediakan persembunyian yang aman untuk kita.” Pagi pun menjelang, mereka melaksanakan solat subuh dalam persembunyian. Sudah semalaman mereka berada di rumah yang terbengkalai itu, tak ada sesuatu pun yang disebut sebagai hantu.

000

Bersambung Follow @sayfmuhammadisa