Edisi # 35 Politik Milenial atau Politik bagi remaja (Remaja Ngompol -ngomong Politik)

Saat dengerin lagu ‘Sumbang’di atas, boleh jadi tanpa disadari kepala kita mengangguk-angguk tanda setuju.

Yup, lagu lawas debutan musisi legendaris,  Iwan Fals ini emang pas banget gambarin kondisi politik dalam negeri. Politik Milenial atau Politik bagi remaja di maknai Perebutan kursi kekuasaan menjadi ajang pertarungan antar partai dan politikus. Saling sikut, membongkar skandal hingga menebar fitnah seolah jadi hal yang lumrah dilakukan mereka yang bermain di panggung politik.

Korban pun berjatuhan. Mulai dari yang bunuh diri, jadi korban  tindakan kriminal, berurusan  dengan KPK hingga menyandang predikat narapidana.  Wajar kalo masyarakat banyak yang alergi dengan dunia politik. Kalo ngomongin  politik (ngompol), kulit langsung terasa gatal. Kepala pusing. Perut mual dan mata berkunang-kunang. Apalagi remaja.

Politik Milenial atau Politik bagi remaja

Kayanya nggak penting banget remaja ikut nimbrung ngobrolin soal politik. Masih dianggap bau kencur bin minim pengalaman. Akibatnya, nggak ada kamus politik dalam otak remaja. Politik Milenial atau Politik bagi remaja ngompol dinilai sok tahu bin belagu. Masa sih?! Politik Itu Kejam! Kata Siapa?

Politik Milenial atau Politik bagi remaja

Dunia politik itu kaya arena tinju ala smackdown. Kalo udah di dalam ring, nggak peduli dia kawan atau sodara pasti bakal jadi lawan. Lantaran politik penuh rekayasa dan intrik. Orang baik-baik selagi belum terjun dalam dunia politik, bisa tiba-tiba diciduk KPK karena terlibat korupsi. Orang yang sholeh aja bisa berubah seratus delapan puluh derajat perilakunya setelah masuk dunia politik. Entah lantaran fitnah atau emang bermasalah.

Yang pasti, kalo terjun ke dunia politik harus siapin dana, tenaga dan energi ekstra. Bahkan mempertaruhkan nyawa.  Bukannya kita mau nakut-nakutin lho ya. Faktanya politik itu emang kejam. Nggak  ada lagi toleransi atau persahabatan, yang ada adalah kepentingan. Banyak pihak yang bakal menghalalkan segala cara agar kepentingannya tetap terjaga.

Kalo ada penguasa atau birokrat yang mengusik bisnisnya, urusannya bisa perang. Baik lewat jalur hukum atau gunakan jasa preman.  Seperti cerita Ibu Risma, Walikota Surabaya yang lagi buah bibir lantaran hendak membubarkan Gang Dolly, sebuah lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Dalam sebuah wawancara stasiun televisi swasta, Ibu Risma bilang dia udah pamitan dan minta keluarganya ikhlas jika terjadi apa-apa dengan dirinya.

Jika dia mati, jangan ada yang menuntut. Bayangin aja, banyak pihak yang berkepentingan dengan keberadaan gang dolly. Mulai dari mucikari, preman, PSK, hingga tukang jualan. Tak heran jika Ibu Tri Rismaharini kerap mendapat ancaman dan teror jika programnya membebaskan kota pahlawan dari prostitusi tetap berjalan.  

Kekejaman dunia politik kerap meminta korban nyawa. Seperti dialami oleh Munir Said Thalib (1965 – 2004) aktivis HAM Indonesia yang tewas dalam pesawat perjalanan Jakarta – Amsterdam. Atau Marsinah (1969 – 1993), seorang aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari.  

Kekejaman dunia politik nggak cuman fisik. Tapi juga mental. Nggak sedikit politikus atau caleg yang stress bahkan gila lantaran nggak kesampaian duduk di kursi senayan.  Bayangin aja, jumlah kursi legislatif yang bakal direbutkan bulan April mendatang jumlahnya secara nasional adalah 19.699 unit kursi. Sementara caleg yang terdaftar lebih dari 200 ribu. Artinya, udah pasti 180 ribu caleg bakal tereliminasi sambil gigit jari.

Ngenes! Padahal, untuk biaya kampanye dana yang kudu dirogoh nggak sedikit. Untuk jadi caleg DPR, mesti siap minimal 1 Miliar rupiah bagi mereka yang belum dikenal publik. Untuk kalangan selebritis, minimal 600 juta udah bisa kampanye dibantu popularitasnya. Kebayang, kalo ternyata nggak kepilih. Tuh duit bakal hangus.

Masih mending kalo duit sendiri. Lah kalo tuh dana boleh minjem ke rentenir atau dari kucuran sponsor yang nuntut balas budi, dijamin stress tuh para caleg gagal mikirin cara balikin modal kampanyenya. #tepokjidat! Terus kalo ternyata kepilih, dana kampanye tetap harus balik modal. Waktu menjaring simpati pemilih berbicara demi rakyat, giliran sudah duduk di kursi kekuasaan bicaranya demi modal. Kalo nggak bisa nutup dari gaji bulanan, mesti pinter cari obyekan. Korupsi berjamaah pun dijabanin.

Hasilnya, kementerian Dalam Negeri mencatat sebanyak 309 kepala daerah di Tanah Air terjerat kasus korupsi sejak pemilihan kepala daerah secara langsung pada 2005, baik berstatus tersangka, terdakwa maupun terpidana. Ngeri!  Driser, kejamnya dunia politik bukan bawaan lahir lho. Tapi disebabkan aturan yang dipake buat jalanin aktivitas politiknya bermasalah. Ibaratnya sebuah pisau, bisa dipake buat motong bawang merah. Bisa juga buat bunuh orang.

Tergantung siapa yang pake itu pisau. Seperti itulah politik, sebagai alat bantu buat ngurus rakyat. Kalo yang pakenya bener, politik jadi dambaan. Sebaliknya, kalo yang pakenya error, hasilnya seperti lirik lagu Sumbang di atas. Politik itu kejam! Pengertian Politik Biar nggak salah persepsi tentang politik, ada baiknya kita pahami dulu maknanya. Politik berasal dari bahasa Yunani politeia, yang artinya kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri.

Polis artinya negara, teia artinya urusan.  Dalam bahasa Inggris, politics adalah suatau rangkaian asa atau prinsip, keadaan, cara dan alat untuk mencapai cita-cita dan tujuan tertentu. Secara garis besar, politik itu adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat.  

Sementara dalam Islam, disebutkan dalam kamus Al-Muhit bahwa As-Siyasah (politik) berasal dari kata: Sasa –Yasusu – Siyasatan bi ma’na ra’iyatan (pengurusan). Dalam kitab Mafahim Siyasiyah dijelaskan bahwa politik adalah ri’ayatusy syu’unil ummah, alias pengaturan urusan ummat berdasarkan suatu aturan tertentu yang tentu berupa perintah dan larangan.

 Rasulullah SAW menggunakan kata siyasah (politik) dalam sabdanya: “Adalah Bani Israil, urusan mereka diatur (tasusuhum) oleh para Nabi. Setiap seorang Nabi wafat, digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada Nabi sesudahku, dan akan ada para khalifah yang banyak” (HR. Bukhari).

Politik dalam Islam nggak ngasih kesempatan bagi penguasa dan umat untuk saling berebut kekuasaan. Sebab, dalam Islam, kekuasaan itu sendiri ditujukan untuk melayani umat. Artinya, penguasa Islam (khalifah) sesungguhnya adalah pelayan/pengurus umat, bukan gila hormat. Karena itu, politik dalam Islam begitu mulia lantaran bagian dari ajaran Islam yang sempurna. Pertanyaannya, kalo emang politik itu mulia seperti ajaran Islam, kenapa yang terjadi sebaliknya?  Jawabannya tentu lantaran bukan ajaran Islam yang dipake buat ngatur negeri ini. Tapi aturan sekuler yang justru steril dari aturan agama.

Jadinya, sistem politik yang dipake seperti ajarannya Machiavelli. Eits, sapa tuh? Niccolo Machiavelli (1469-1527) adalah filsuf dan ahli politik dari Italia. Salah satu teorinya yang terkenal adalah bagaimana cara merebut dan mempertahankan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Machiavelli menginginkan negara yang kuat, sehat, dan  tidak korup.

Lucunya, untuk mewujudkan negara yang tidak korup, ajaran Machiavelli justru menawarkan cara-cara manipulatif. Jika perlu dengan menggunakan kekuatan senjata dan uang. Bahkan demi stabilitas negara raja boleh melalukan kekejaman, asal dilakukan dengan tepat. Tuh kan, persis seperti yang terjadi di negeri kita.  Jangan salahkan politik kalo tampil dalam wujud yang menyeramkan.  Remaja Ngompol? Siapa Takut!

Driser, kalo kata bang Iwan politik itu kejam itu lantaran aturan sekular machiavelis yang dipake. Tapi kalo aturan Islam yang dipake buat ngatur urusan umat, dijamin aman dan nyaman. Ini bukan kampanye lho. Sekedar ngasih kabar gembira buat kawula muda. Bahwa ngomongin Politik Milenial atau Politik bagi remaja justru ngasih banyak kebaikan. Simak nih! Pertama, merangsang daya pikir. Remaja yang membiasakan diri peduli dunia politik, cara berpikirnya lebih maju dan matang.

Nggak cuman mikirin diri sendiri, tapi juga urusan umat. Otomatis daya pikirnya lebih terasah lantaran sering dipake buat mikirin masalah umat dan solusinya. Berpikir lebih panjang sebelum ngasih suaranya di ajang pemilu. Rasul saw bersabda: ”Barang siapa bangun di pagi hari, tapi tidak memikirkan nasib kaum Muslimin, maka dia bukan termasuk golonganku.” (H.R Ahmad) Kedua, solving problem. Politik Milenial atau Politik bagi remaja yang terbiasa ngomongin politik jadi terlatih untuk selalu berusaha memecahkan setiap masalah  yang dihadapi.

Bukan malah menghindari atau malah lari. Lantaran politik adalah solusi, bukan cuman mengkritisi masalah. Tak hanya pandai mengkritisi kebobrokan penguasa, tapi juga piawai menawarkan solusi yang oke punya.  Ketiga, bertanggung jawab. Remaja yang terbiasa ngomong politik nggak akan lari dari tanggung jawab. Dia sadar, setiap perkataan maupun perbuatannya bakal ada itungannya di akhirat nanti. Bukan hanya di hadapan manusia. Jadinya, lebih berhati- hati dalam mengkritisi dan menawarkan solusi.

Termasuk nggak asal nyoblos atau ikut-ikutan masuk bilik suara.  Keempat, awareness/kepedulian. Politik Milenial atau Politik bagi remaja yang terbiasa ngomong politik otomatis rasa pedulinya terhadap lingkungan dan urusan umat lebih terasah. Sikap egp alias egois bin individualis nggak ada dalam kamus hidupnya. Dia peduli dengan pilihannya saat pemilu apakah bisa memberikan maslahat bagi umat atau malah menjadi mudharat.  Kelima, agent of change.

Remaja yang ngomong politik memantaskan diri menjadi agen perubahan. Sebagaimana Mushab bin Umar, Thariq bin Ziyad atau Muhammad Al-Fatih yang menjadi ujung tombak penyebaran Islam di usia mudanya.  Ngomong politik bukan berarti ngoceh tentang penguasa dan kekuasaan semata. Tapi lebih luas dan lengkap mencakup kepedulian terhadap masalah mahalnya biaya pendidikan, krisis ekonomi, seks bebas remaja, hingga gonjang-ganjing perebutan kursi kekuasaan di ajang pemilu legislatif.

Nggak perlu takut bin minder mentang-mentang masih pemula. Cukuplah Allah yang menilai sikap kita, bukan manusia.  Jadi, nggak ada alasan bagi kita untuk alergi ngomongin politik. Kalo ngerasa belum pantas, ayo sama-sama pantaskan diri dengan ikut ngaji. Bukan ngaji yang cuman membenahi akhlak pribadi tapi dilengkapi dengan kajian Islam sebagai ideologi. Islam sebagai solusi masalah pribadi, masyarakat, dan juga negara. Remaja ngomong politik, siapa takut![341

Majalah Drise Edisi 33 : Hedonisme Valentine day

Bagi remaja muslim kebanyakan, hari raya mereka bukan cuman idul fitri dan idul adha. Tapi juga di bulan  Januari dan februari. Ya, euforia yang biasanya gencar ditunjukkan generasi muda muslim menjelang hari raya Islam, juga keliatan banget menjelang tahun baru dan valentine days.

Nggak pake ribet, semua terhanyut oleh tayangan media yang menggiring remaja ikut perayaan tahun baru dan valentinan.  Prihatin deh ngeliat fakta remaja yang gampang kebawa oleh kehidupan pesta pora. Terutama dalam perayaan ‘hari besar’ yang dimeriahkan seluruh penduduk dunia. Lintas negara bahkan lintas agama. Menjelang pergantian kalender, remaja sibuk bikin rencana perayaan tahun baru yang unforgetable.

Hang out bareng berbekal petasan, kembang api, dan tentunya ditemani pujaan hati. Kini memasuki bulan Februari, remaja juga banyak yang sibuk berburu pernakpernik valentine. Gelisah kalo pas hari H nggak ngasih persembahan spesial buat  pacar.

Dari sekedar bingkisan cinta yang  dibungkus kertas kado merah muda bergambar hati hingga candle light dinner di  cafe bersama pujaan hati. Biar kata keuangannya masih disubsidi, pantang menyerah merengek ke ortu biar dapet uang lebih. Malah ada remaja yang bela-belain mencuri biar punya duit buat nraktir pacar dihari valentine. Waduh!

Apa Itu Hedonisme?

Perayaan hari kasih sayang yang identik  dengan pesta pora bin hura-hura menjadi media efektif untuk menanamkan virus hedonisme di kalangan remaja. Lantaran having fun seolah sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Padahal, virus hedonisme bakal bikin kehidupan remaja mati suri. Masa depan dunia akhiratnya suram tak berarti. Sayangnya, banyak remaja yang nggak ngeh dengan gaya hidup hedonis. Ikut aja kaya sapi kena hipnotis.

Catet nih penjelasannya!  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Sedangkan menurut kamus online wikipedia, hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan  yang menyakitkan. Seo rang penganut paham hedonisme akan melakukan halhal yang dianggapnya  menyenangkan seperti hidup dengan glamour, seks  bebas, clubbing, pesta pora. 

Kalo kita ulik dari sejarahnya, hedonisme adalah sebuah aliran filsafat Yunani yang dicetuskan oleh Aristipos dan Epikuros. Hedonisme bertujuan menghindari kesengsaraan dan penderitaan dengan menikmati kebahagiaan hidup duniawi sebanyak mungkin. Ketika kekaisaran Romawi menguasai Eropa dan Afrika, muncullah semboyan baru hedonisme, yaitu carpe diem, yang berarti ‘raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi engkau hidup’. Sejak itu dalam hedonisme kebahagiaan dimaknai sebagai kenikmatan duniawi semata-mata.

Intinya, hedonisme berarti menjadikan kesenangan dan kenikmatan dunia sebagai tujuan hidup yang utama. Bagi para penganut paham ini, kehidupannya dijejali oleh kegiatan senang-senang, pesta-pora bin hurahura, seks bebas, atau hingar-bingar konser  musik. Perduli amat dengan pandangan orang  lain. Yang dipikirin cuman kebahagiaan dirinya  sendiri aja. Apapun kata orang, yang penting  happy! 

Generasi Pemuja Syahwat

Remaja penganut hedonisme hidup dalam kendali hawa nafsu. Apa pun yang dikerjain, tujuannya untuk mengejar kesenangan dunia. Euforia dalam perayaan valentine days pastinya nggak lepas dari jeratan hawa nafsu. Tanda cinta  hari kasih sayang cuman kedok untuk menutupi akal bulusnya. Padahal isi kepalanya udah dijejali rencana ekspresi cinta yang mengarah pada perilaku seks bebas. Bilangnya cinta suci pada si doi, nggak tahunya yang diumbar nafsu hewani. Jijay deh! Inilah sepenggal kisah seorang gadis yang telah kehilangan keperawannnya usai merayakan Valentine’s Day tahun 2010 lalu.

Sebut saja Bunga (15), warga Kampung Simpar Kabupaten Subang, yang diperkosa oleh empat remaja. Peristiwa yang menimpa siswi kelas II SMP di Subang itu, terjadi saat korban berencana merayakan Valentine Day bersama pacarnya. Setelah dipaksa pacarnya menenggak miras, korban merasakan pusing  kepala. Kondisi seperti itu rupanya malah dimanfaatkan pacar dan teman-temannya yang ikut merayakan valentine untuk melampiaskan nafsu hewannya. Setelah puas mereka langsung pergi dan membiarkan korban tergeletak di pinggir gang. Tahun 2013, fenomena sex on valentine malah kian tak tak terkendali.

Seperti kejadian di kota pahlawan. Remaja di Surabaya dan sekitarnya sudah salah  kaprah memaknai hari kasih sayang (valentine day) yang dirayakan, Kamis (14/2/13). Berdalih membuktikan cinta, mereka malah ‘menghalalkan’ seks bebas. Buktinya, belasan pasangan mesum di Jombang dan Bojonegoro berhasil diciduk aparat. Pelakunya mulai mahasiswa, guru hingga pegawani negeri sipil (PNS). Sementara sejumlah hotel kelas melati atau hotel short time di Surabaya sudah dipenuhi pasangan tak resmi.

Tak terkecuali pasangan muda-mudi yang masih bau kencur. Tak ada filter di hotel yang melayani check in per enam jam ini. Ironisnya lagi, penjualan kondom di beberapa mini market mengalami kenaikan. (suaralamongan.blogspot.com/2013/02). Yang mengejutkan, temuan Yayasan Hotline Pendidikan. Sebuah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan ini menemukan sebanyak 20% pelajar Surabaya yang hamil sebelum nikah, ternyata melakukan hubungan seks ketika perayaan valentines day.

Ini dibenarkan Isa Ansori, Ketua Yayasan Hotline Pendidikan. Ia menjelaskan selama tahun 2012 lalu, yayasan yang dia pimpin menerima sebanyak 84 kasus pelajar SMP hingga SMA di Surabaya yang mengalami hamil sebelum nikah.

Dari jumlah itu, kata Isa, sekitar 15 anak mengaku berhubungan saat valentine day. “Mereka  ngakunya hanya sekali saja berhubungan saat merayakan valentine day dan langsung hamil,” (idem). Perayaan valentine days yang jorjoran dikampanyekan media massa turut membidani lahirnya generasi pemuja syahwat.

Perayaan VD dengan pacar seolah menjadi legalisasi remaja untuk mengekpresikan cinta sesuai petunjuk setan. Dari sekedar jalan bareng, dilanjut kissing, necking, petting, hingga intercourse alias tidur bareng. Naudzubillah! Masihkah kita berdiam diri dengan gencarnya perayaan VD?

Jauhi VD, Ikut Ngaji!

Gencarnya serangan pemikiran dan budaya yang menggempur remaja tak lagi terelakkan. Remaja muslim udah kaya cemilan aja yang dihidangkan di hadapan anak kost yang kelaparan. Dicomot dari segala arah sampe ludes tak bersisa. Sehingga remaja muslim kehilangan jati dirinya. Nggak kenal lagi dengan identitasnya sebagai muslim. Cara berpikir dan berperilakunya udah berkiblat pada kehidupan masyarakat barat yang sekuler.  

Perayaan valentine days seolah lumrah. No hard feeling. Meski udah jelas bukan budaya muslim, tetep aja dijabanin lantaran provokasi media yang menganggapnya biasa. Ditambah lagi sohibnya pada ngajakin. Kayanya kuper kalo nggak ikut ngerayain. Padahal, kalo remaja muslim terhanyut dalam gelombang kehidupan hedonis, bisa-bisa masa depan Islam tinggal batu nisan. Kebangkitan Islam di tangan para pemuda islam tinggal angan-angan. Ngenes! Karenanya masalah remaja nggak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi oleh mata kaki. Negara harus segera bergerak menyelamatkan remaja. Benahin deh tuh aturan tayangan media yang dijejali oleh acara gak jelas.

Joget sepanjang hari, banyolan gak bermutu, lawakan slapstik, sinetron pengumbar syahwat, talent search yang menjadi jalan pintas meraih popularitas hingga hingar-bingar pesta musik yang menghanyutkan remaja dalam kesenangan dunia. Jangan tunggu teguran KPAI atau  gebrakan dari ormas Islam untuk mencekal tayangan bengal.

Kewajiban negara untuk menjaga akidah dan mental rakyatnya dari sumber informasi menyesatkan seperti tayangan liberal yang memadati siaran televisi.  Lebih joss lagi kalo nggak cuman tayangan media yang dibenahi. Kebijakan pemerintahnya juga sekalian dipermak. Aturan sekuler dalam balutan demokrasi, bikin negara nggak punya nyali. Mau aja diatur oleh negara adidaya untuk meliberalisasi sumber daya alam dan dipaksa ngutang ke lembaga keuangan dunia. Akibatnya, kas negara tekor setiap tahun diporotin utang riba. Subsidi rakyat dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan migas dicabut. Hasilnya, kualitas SDM merosot.

Setiap tahun lahir pelajar sekuler bin materialis dengan minim skill tapi maksi gengsi. Inilah yang menjadi sasaran empuk terjangkiti virus hedonis.  Masyarakat juga mesti ikut ambil bagian. Perilaku remaja yang nyeleneh nggak boleh didiemin aja. Kemaksiatan mesti dicegah dengan dakwah. Lantaran, akibatnya bukan cuman mereka yang rasain. Masyarakat juga bakal kena batunya. Rasul mengingatkan,

“Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat umum karena perbuatan orangorang tertentu, hingga masyarakat umum melihat kemunkaran di hadapan mereka  sedang mereka mampu mengingkarinya  tapi mereka tidak mengingkarinya. Jika mereka  berbuat demikian, maka  Allah akan menyiksa masyarakat umum dan orang-orang tertentu itu.” [HR.  Ahmad dan Ath-Thabrani, dalam Al-Awsath]

Nah buat remaja en remaji, biar nggak  jadi korban sapuan gelombang hedonis, perkuat benteng pertahanan kita. Virus hedonis akan menjangkiti remaja yang lemah iman. Remaja yang cuman mikirin mikirin diri sendiri sepanjang hidupnya. Remaja yang maunya hidup senang, nggak mau ribet, dan serba boleh ngapain aja. Cara memperkuat benteng pertahanan kita dengan mengenal Islam lebih dalam. Mesti ada anti virus yang akan melawan pemikiran liberal yang sesat. Biar nggak latah ngikutin budaya sekuler barat dan ritual keyakinan orang kafir.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya” (QS. Al Isra’ : 36).

Driser, sejatinya kita hidup untuk beribadah. Bukan cuman shalat, puasa, zakat atau pergi haji. Tapi mencakup setiap aktifitas kita dalam keseharian. Belajar, bekerja, berteman, dan berdakwah akan menjadi ibadah kalo niatnya ikhlas dan caranya ngikutin teladan Rasul saw. Kenapa kita mesti ngotot pake aturan Islam dalam sehari-hari? Lantaran kebahagiaan hidup paling mentok seorang muslim adalah ketika ridho Allah selalu menyertai. Selamat di dunia, aman di akhirat. Dan bisa menangkal virus hedonis yang menjadikan kesenangan materi dan kenikmatan dunia sebagai tujuan hidup utama. So, jauhi ViDi, ikut ngaji. Yuk! [341]

Majalah Drise Edisi #33 : REMAJA LATAH “Kelihatan Gaul Padahal Amburadul”

Sorry brada…gw gak bisa ikut goyang caesar. Lg ada konspirasi hati yg menyebabkan cinta terkudeta sehingga berujung pada labil ekonomi di usia twenty one my age”. Sms EMEn ke temannya di ujung sana. Rupanya Emen termasuk salah satu korban Vicky.

 Eits, bukan korban cintanya lho ya. Tapi korban virus bahasa sok intelek vicky yang tengah mewabah. Enggak cuman gaya bahasa, Emen juga lagi demam goyang Caesar yang mengguncang trans studio. Saban denger suara seruling sakti tangannya otomatis menirukan gaya peniup seruling. Saat kupingnya mendengar lantunan lagu ‘goyang dikit joss!’seluruh persendian tubuhnya tanpa dikomando yang bergerak bak cacing kepanasan.

Goyang maang…! Emen cuman satu dari sekian juta remaja en remaji negerinya Ivan Dimas yang latah ngikutin tren. Berlagak intelek ngomongnya bertaburan istilah asing padahal ilmunya cetek. Belagu pake kawat gigi atau kamera DLSR padahal kualitas KW. Meski duitnya cekak, Emen bela-belain ngutang atau merengek ke emaknya biar bisa tampil trendi dengan aksesoris masa kini. Padahal keseharian Emen hidupnya susah, rumahnya dari bilik reot yang udah hampir rubuh, dan makan senin-kamis. Bapaknya cuman jadi sekuriti dengan gaji nggak pernah pas, dan ibunya cuman buruh cuci yang harus membanting cucian demi mendapat beberapa lembar recehan. Sialnya, Emen selalu ngotot ngikutin tren.

Kalo diingetin jangan terlalu ngoyo kalo emang duit tak ado, emen malah jawab. Kalo nggak ngikut tren, apa kata dunia…!!! *tepok jidat!* Penyakit latah terhadap berbagai hal yang dianggap gaul tengah menjangkiti remaja-remaji Islam. Sekedar ngingetin, berikut penjelasan tentang latah dari wikipedia. “Latah dari Asia Tenggara, adalah sebuah kondisi ketika seseorang mengalami kekagetan yang kemudian menghasilkan perilaku yang abnormal. Ketika kaget, orang yang menderita latah ini akan mengalami perilaku seperti menjerit, mengutuk, bergerak seperti menari, dan tertawa yang tidak bisa dikontrol.

” Nggak jauh beda sih dengan pengertian latah yang udah umum. Orang latah biasanya akan ngikutin perintah apapun saat dia kaget atau tak bisa mengendalikan diri. Kalau kita kagetkan orang latah sambil bilang “lari”, nanti dia akan lari sekencang-kencangnya. Kalau dia kita kagetkan sambil bilang “dor”, maka dia juga akan meniru. Kasian banget ya orang latah. Sering dijadikan objek tertawaan dan hiburan. Padahal bisa jadi mereka ngikutin perintah tanpa sadar alias bukan kemauan sendiri. Ternyata, ada yang lebih kasihan dari mereka yang latah secara harfiah. Yaitu kawula muda di negeri kita yang terjangkiti bukan cuman latah penyakit syaraf yang ngikutin perintah atau meniru perkataan. Tapi latah tingkah dewa yang lebih parah.

Gaya Hidup Remaja LatahLatah meniru gaya hidup, budaya dan kebiasaan yang menjadi trend setter dalam keseharian. Mulai dari gaya berbicara, berbusana, berperilaku, hingga cara berfikir agar bisa tetep eksi dalam pergaulan. Dalam kamus gaul remaja, berbagai hal yang terkesan trendy dan keren wajib mereka ikuti tanpa pikir panjang lagi. Perkara bener atau salah itu urusan belakangan. Apakah pantas atau nggak, bukan jadi pertimbangan. Yang penting nggak ketinggalan jaman dan tetep nyambung dalam setiap obrolan. Kalo kita ulik, ternyata remaja latah ngikutin gaya hidup yang lagi trendi nggak jauh karena alasan berikut: Pertama, karena dorongan teman. Ketika seorang teman menggunakan sebuah barang baik itu gadget maupun aksesoris, teman tersebut akan mendorong mereka untuk menggunakan barang yang sama.

Apalagi saat ini banyak yang terjebak pola pertemanan yang sering mengharuskan mereka mempunyai sesuatu yang sama untuk bisa berteman atau bergabung dalam kelompok pertemanan tertentu, sehingga mau tidak mau mereka akan Latah atau mengikuti apa yang temannya pakai atau perbuat. Dalam kasus narkotika yang mewabah di kalangan remaja, seringkali berawal dari tekanan teman sebaya (peer pressure). Kalo gak nyobain lintingan cimenk (ganja) atau sedotan shabu, dianggap belon afdhol jadi anak gaul. Dalam gaya berbicara juga sama. Kalo temennya kena virus bahasa vickysasi, nggak matching dong kalo dianya pake bahaya EYD.

Otomatis yang lain menyesuaikan pake bahasa istilah asing yang dipaksain nyambung dengan kalimat ala vicky. Kacau blast! Kedua, karena merasa tersaingi. Dimana remaja nggak pengen temannya menggunakan aksesoris atau gadget terbaru yang menarik perhatian teman yang lain. Doi bakal ngerasa tersaingi dan kemudian akan menggunakan sesuatu yang sama atau lebih agar mendapat perhatian yang sama. Kemajuan teknologi sering dijadikan ukuran buat menilai ‘status sosial’ dikalangan remaja. Remaja dianggap paling gaul kalo pake gadget yang terbaru, tercanggih, bahkan termahal. Dari smartphone sampe kamera DLSR dijabanin untuk dibeli meski harus merengek ke ortu. Padahal cuman gaya-gayaan. Gayanya jepret sana jepret sini pake DLSR, gak tahunya tutup lensanya belon dibuka!

*Gubrak..!*

Dalam gaya hidup, anak yang paling keren diukur dari daya tahan dan keberanian melakukan sesuatu yang ekstrim. Otomatis, satu sama lain akan saling berlomba berebut perhatian dengan busana yang mengumbar aurat atau perilaku yang nyeleneh. Kalo temennya udah gak perjaka atau perawan lagi, dianggap keren dan dewasa seperti dalam film American Pie. Akhirnya ikutikutan terjun dalam kubangan seks bebas yang dibalut dalam kisah-kasih pacaran. Gombal…! Ketiga, iseng aja. Ketika ada satu tren yang berkembang dia akan mengikuti tren tersebut. Bukan karena dorongan teman atau karena tersaingi. Tapi asyik aja biar tetep ngeksis gitu. Pengen nyobain gimana sih rasanya pake sepeda fixie walau akhirnya kaki jadi gempor karena setiap hari mengayuh pedal. Atau penasaran dengan gigi behel yang menghiasi senyum para selebriti. Meski ngerasa tersiksa karena banyak daging kambing kurban idul adhakemaren yang nangkring di kawat gigi pasca pesta sate. Kawat gigi berubah jadi etalase bumbu makanan.

Ada potongan cabe merah, cabe ijo, bawang merah, sambel kacang, sampe dipasangin tulisan ‘Obral..!’ Halah…! Lebay dot kom. Orang yang latah, bersikap spontan meniru. Nggak pake mikir dulu halal atau haram, pantas atau nggak. Yang penting kalo keliatan keren dan gaul maka akan diikuti. Mereka juga tidak berpikir lagi tentang konsekuensi apa yang akan mereka dapat dengan mengikuti gaya hidup sekuler dan menyesatkan yang dijajakan media massa. Karakter spontan itu yang lekat dengan remaja. Demi eksistensi, lebih mengedepankan gengsi demi menuai sensasi yang akibatnya bikin hidup malah tak berarti. Cuman dosa dan penyesalan yang dibawa mati. Rugi..rugi..rugi..! (Mode Upin-Ipin: ON)

Padahal dibalik gaya hidup latah yang menyerang remaja, ada bahaya yang mengancam kehidupannya di dunia dan di akhirat. Waduh! Pertama: Kecemburuan sosial. Gaya hidup remaja latah itu ongkosnya mahal banget. Padahal nggak semua bisa beradaptasi secara ekonomi. Pernah trend gelang power balance yang katanya baik untuk menjaga stamina tubuh (padahal hoax). Harganya lumayan jebret dengan 150 ribu per buah.

Kalo maksain, remaja pasLatah Menuai Masalah pasan yang kondisi perekonomiaannya tergantung dari suplai ortu bisa-bisa gak jajan sebulan. Akhirnya, cari produk KW yang harganya 20 ribu per buah. Biar imitasi, yang penting keliatan rendy. Masih mending kalo cuman beli barang KW, nah kalo ternyata duit bener-bener gak punya. Sementara tuntutan pergaulan seolah mengharuskan tampil jumawa, akhirnya gelap mata. Tindakan kriminalitas jadi jalan keluarnya dengan mencuri atau merampok. Sehingga pernah ada remaja yang bela-belain menjambret biar punya duit buat beli kado hadiah valentine.

Yang lebih parah, tergambar dalam film remaja yang menuai kontroversi. Virgin, ketika keperawanan diperjualbelikan. Pelajar sekolah menengah yang rela menjual kegadisannya biar bisa borong busana yang lagi trendi, nyicipin fast food yang populer, hingga pakai gadget mahal yang banyak digandrungi. Ngeriii….! Kedua, wasting time. Waktu termasuk sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Waktu akan terus berjalan dan nggak mungkin balik lagi. Siapa yang menghargai waktu, dia akan menuai kesuksesan di dunia dan akhirat. Gaya hidup latah, memaksa remaja untuk meremehkan arti waktu. Lantaran ngikutin trend itu bakal banyak menyita waktu hidup untuk sesuatu yang minim manfaat atau malah bergelimang maksiat.

Nongkrong di café atau pinggir jalan untuk habiskan waktu luang seolah jadi kegiatan favorit. Sambil cekakak cekikik cekukuk dengan teman sebaya, seolah waktu hanya untuk tertawa. Ada yang bela-belain mangkal di studio seharian biar bisa ikut tayangan joget gak karuan yang tengah mewabah dan melenakan. Coba bayangin kalo waktu buat nongkrong, ikut joget kaya cacing kepanasan, atau nonton konser musisi idola dikonversi menjadi waktu belajar dan beribadah. Dijamin… kita bakal dicintai penduduk bumi dan langit. Itu baru keren! Ketiga, akidah dicacah. Tren yang gencar menyapa remaja banyak didominasi oleh gaya hidup barat yang sekuler danmenyesatkan. Lantaran kita hidup dalam dunia yang menjauhkan aturan agama dari kehidupan. Keseharian kita steril dari aturan Islam.

Otomatis, media yang saat ini dikuasai oleh orang-orang sekuler telah sukses mengendalikan alam berpikir dan bertingkahlaku kita. Baik secara sadar maupun nggak sadar kita digiring untuk hanya asyik memerhatikan hal-hal yang tak berguna dan remeh temeh. Bahkan akidah kita dipaksa untuk mengakui semua ajaran agama itu benar dan wajar jika sudah dibalut dalam kemasan trendi. Ngakunya remaja muslim. Pengennya masuk surga. Ogah kalo harus mendekam di neraka bersama orang-orang kafir dan aktivis dosa. Tapi masih latah ikut perayaan tahun baru masehi, natalan bersama, valentine days, april mop, halloween dan budaya kufur lainnya. Lantaran hari-hari besar orang kafir itu dipopulerkan oleh media seolah hanya budaya yang nggak ada hubungannya dengan agama. Padahal, latah ngikutin budaya kufur sama saja memantaskan diri masuk neraka. Rasul saw mengingatkan, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Driser, jelas-jelas gaya hidup latah itu bikin tekor waktu, doku, dan harga diri. Masih mau latah? Pikir deh dalam-dalam. Akui aja kalo gaya hidup yang banyak digandrungi oleh kawula muda saat ini, belum tentu baik buat kita selaku remaja muslim yang oke punya. Malah cenderung merugikan. Karena itu, kendalikan diri biar gak gampang terhanyut oleh gaya hidup trendi yang melenakan. Sebagai muslim, kita diwanti-wanti untuk menjaga setiap perbuatan kita. Agar selalu menjadi amal sholeh bukan amal salah. Lantaran setiap perilaku di dunia bakal dimintai tanggung jawab di akhirat nanti. Allah swt berfirman: Jangan Ikut kebanyakan.. “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak ketahui tentangnya. Sesungguhnya penglihatan, pendengaran, dan hati masing-masing akan dimintai pertanggungjawabannya.“ (QS. Al-Isra: 36)

Berhati-hati dalam mensikapi setiap trendi, harga mati bagi setiap muslim. Cari tahu dulu ilmunya sebelum berbuat. Pake standar hukum Islam buat menilai apakah suatu perbuatan itu boleh atau nggak dikerjain. Kalo nggak boleh, segera jauhi dan jangan coba-coba mendekati karena setan akan menggoda dan menjerumuskan kita. Kalo boleh, liat lagi apakah perbuatan itu mendatangkan kebaikan atau keburukan dihadapan Allah. Digandrungi banyak orang atau gencar diopinikan media massa, bukan standar untuk ngikutin trend. Bahaya. Bisabisa kita kebawa sesat. Allah swt mengingatkan: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am : 116)

Terakhir, tanyain pada diri sendiri. Hidup ini untuk apa sih? Pola hidup kita akan sangat ditentukan oleh jawaban dari pertanyaan ini. Kalau hidup kita untuk memberikan pengabdian yang terbaik kepada Allah dan RasulNya, tentunya kita akan mengisi kehidupan dengan berbagai aktifitas yang berguna dan berpahala. Tapi kalau hidup hanya untuk meraih kesenangan dengan menjauhkan diri dari aturan agama, kehidupan akan banyak diisi dengan hurahura dan foya-foya. Bergelimang kemaksiatan dan dosa. Biar nggak gampang dimangsa gaya hidup latah yang menyesatkan, ikut ngaji. Selain membentengi diri, ngaji juga bakal menjadikan kita pribadi para penghuni surga. Keren kan. Mau? Yuk ngaji![341]

Majalah Edisi 32 : Move On from Jahiliah to Khilafah

Move-#on. Kata ini belakang banyak diomongin di twitterland maupun dinding facebook. Entah lantah atau emang ngerti, banyak remaja yang ikut menyuarakan Move-On. Kalo diartikan secara harfiyah sih terjemah bebasnya move berarti pindah dan on berarti nyala. Jadi move-on berarti pindah nyala. Nggak pindah berarti mati.

Halah… kaya maen catur aja! Setelah ngubek-ngubek perpustakaan google, ternyata istilah MOVE ON populer dipakai sebagai ucapan pendongrak semangat bagi mereka yang ditolak atau putus cinta. Tahu sendiri, orang yang baru putus cinta tanda-tanda kehidupannya mendadak meredup kaya orang mati suri gitu. Hidup segan mati ogah. Makanya muncullah istilah penyemangat “MOVE ON” yang menandakan hidup itu harus terus bergerak dan berlanjut.

Tapi seiring waktu, istilah MOVE ON, dipakai secara umum untuk siapa aja yang mengalami kondisi down, mandeg, atau galau, trus memilih untuk bangkit dan bergerak biar tanda-tanda kehidupanya nyala kembali. Yeah… MOVE ON! Ini baru bener pengertiannya. Catet! Sebagai remaja, wajib bagi kita untuk ngeh dengan kondisi lingkungan sekitar, khususnya dunia anak muda. Karena setiap hari kalo kita kebeneran nonton berita di tv atau baca di koran, Remaja Wajib Move On! potret buram remaja sering mengisi ruang headline media massa. Seperti kasus terbaru yang melibatkan seorang siswi SMP di Surabaya yang menjadi mucikari bagi teman-teman sekolahnya. Parah tenan! Kita gak bisa tutup mata dengan potret buram remaja.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Hanya menikmati berita? Cukup bersikap prihatin dengan mengusap dada? Atau malah nggak peduli karena tidak terjadi pada kita. Coba deh tanya pada diri sendiri. Apakah kita termasuk kelompok pemain, penonton, atau masyarakat luar dalam mensikapi kondisi lingkungan sekitar? “pemain”, mereka yang sadar dan siap serta udah bergerak bersama untuk menyelesaikan masalah di atas. Bahkan mereka berjibaku, layaknya pemain bola professional, membina dan melatih dirinya dalam ilmu, sehingga nanti ketika benar-benar terjun ke masyarakat bisa ngasih solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

 Mereka inilah yang disebut pengemban dakwah. “penonton” alias komentator, mereka ngeliat sih fakta kerusakan di tengah masyarakat, tapi mereka suka banget komentar terhadap perjuangan yang dilakukan oleh kelompok pertama. Ada yang komentarnya mendukung, tapi nggak sedikit yang jorokin, sok pinter, sok jago, padahal dia sendiri aksinya nggak pernah ada. Ada juga penonton disini yang layaknya supporter fanatik, kalo menang ikut senang, giliran kalah bikin ulah dan masalah.

“masyarakat luar”, mereka nggak ngeliat atau bahkan cuek dengan kondisi disekitarnya. Persis kayak masyarakat diluar stadion yang nggak ambil pusing dengan apa yang terjadi di dalam stadion, saat pertandingan berlangsung. Entah mau rusuh kek, menang kek, kalah kek, bodo amat, emang gue pikirin. Nah, kira-kira begitu di kelompok yang ketiga ini, menyaksikan kerusakan masyarakat, cuek aja, “yang penting nggak nimpa gue dan keluarga gue”, gitu pikirnya. Driser, kalo kita ada di kelompok ketiga maupun kedua, yang sekedar komentar apalagi cuek dengan kondisi kerusakan di sekitar kita, itu tandanya kita mesti Move-On.

Naik peringkat jadi kelompok pemain yang menunjukkan sikap peduli kita. Move On berarti menjadikan diri kita bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Joss! Move on bukan asal bergerak atau yang penting pindah tempat. Kalo asal bergerak, kita mirip ayam yang baru aja disembelih ketika nunggu ajalnya Pertama Kedua Ketiga Jangan Asal Move Ondatang. Klepek-klepek meregang nyawa, bergerak tak tentu arah kesana-kemari. Selain menguras energi, gak jelas juga apa yang dicari. Rugi. Makanya, biar Move on nggak menyimpang dan bener-bener setelah move kita On, mesti pake panduan. Panduan yang tokcer dan terbukti bikin On dunia akherat. Al-Quran. Coba kita tengok dalam al-Qur’an maupun hadis kita bakal temukan bahwa al-Qur’an maupun hadis mengatur hidup manusia dari tidur sampe masalah dapur.

Masalah ibadah sampe urusan pemerintah. Mulai dari kita bayi sampe urusan mati. Semua diatur Islam secara syamilan wa kamilan (lengkap dan menyeluruh). Allah swt berfirman: “ … Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (Al-Maa’idah: 3)

Ayat di atas menegaskan, Islam bukan hanya agama ritual, tapi Islam sebagai way of life alias jalan hidup seorang muslim. Sehingga Islam tidak mengenal istilah sekularisme, pemisahan aturan agama (Islam) untuk mengatur kehidupan. Nah, sebelum Move on, kita mesti kenal Islam lebih dalam. Biar bisa keluar dari masalah tanpa meninggalkan masalah baru. Sialnya, sekarang banyak umat Islam yang memposisikan Islam di pojokan masjid nemenin sapu ijuk, bacaan quran keluar cuman untuk doain orang mati, hafalan surat hanya dibawa ketika pergi haji.

Itulah yang terjadi jika umat menyamakan Islam dengan agama lain yang hanya ngatur masalah ibadah. Maka, sudah saatnya umat Islam menyadari kesalahan ini dengan menjadikan Islam sebagai ideologi (way of life). Karena umat Islam dulu pernah berjaya, sejahtera, mulia ketika jadikan Islam sebagai ideologi. Baca sejarah Islam yang jujur pasti akan menemukan bahwa Islam pernah menaungi dunia selama berabab-abad.

Sejarawan Barat. Seperti Carleton S pernah mengakui: “Peradaban Islam sanggup menciptakan sebuah negara adidaya kontinental yang terbentang dari satu samudera ke samudera yang lain, dari iklim utara hingga tropik dan gurun dengan ratusan juta orang tinggal di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan asal suku”. Nah, sekarang udah ketemu kan panduan Move On yang terbukti tokcer bin ampuh. Hanya syariah Islam yang bisa bikin Move On pribadi muslim, masyarat islam, dan negara. Benerbener Move dari kondisi jahilyah menuju On di bawah naungan khilafah. Kehidupan Rasulullah saw di Mekkah dikelilingi oleh budaya jahiliyah (kebodohan).

Sebuah kultur masyarakat yang menunjukkan rendahnya taraf berpikir masyarakat Mekkah. Dalam hal agama, mereka masih menyembah berhala. Patung buatan manusia yang dianggap punya kekuatan, padahal kenyataannya lemah tak berdaya. Mereka juga menganggap kelahiran bayi perempuan sebagai musibah, sehingga harus dimatikan. Padahal, tanpa kehadiran seorang wanita, manusia tak akan pernah ada di dunia. Kondisi ini yang hendak dirubah dengan hadirnya agama Islam melalui perantaraan Muhammad saw.

 Kalo kita jeli, ternyata keadaan di sekitar kita saat ini mirip dengan masa jahiliyyah. Cuman beda tempat dan waktu aja. Jaman jahiliyah, kepercayaan masyarakat kepada selain Allah masih kental. Hari gini gak jauh beda. Banyak remaja yang masih percaya dengan ramalan zodiak, kartu tarot atau penerawangan garis tangan. Begitu juga dengan politisi, selebritis, atau public From Jahiliyah To Khilafah figure yang manggut-manggut dengar celotehan paranormal terkait masa depan karir politik atau popularitasnya. Masa jahiliyah, malu punya bayi perempuan. Hari gini, malu punya anak setelah enak-enakan tanpa pernikahan. Bukan cuman bayi perempuan yang dimatikan, bayi laki juga kebagian. Bahkan sebelum mereka dilahirkan. Aborsi!. Jaman jahiliyah, perempuan hanya dianggap dan dipaksa jadi pemuas hasrat seks kaum adam.

Hari gini, tanpa perlu dipaksa, banyak remaji yang memantaskan dirinya sebagai objek seksual. Malah ngerasa bangga kalo berbusana minim, mengumbar aurat, dan memancing syahwat. Rasulullah tak berdiam diri dengan kondisi masyarakat Mekkah yang musyrik. Setelah 13 tahun berdakwah di kota kelahirannya, ternyata hasilnya tak memuaskan. Masyarakat Mekkah masih banyak menyembah berhala dan memusuhi Rasul dan para Shahabat. Akhirnya, dengan bimbingan Allah, Rasul Move On ke Madinah untuk menyiapkan masyarakat yang rela menerima Islam secara kaffah. Walhasil, peristiwa hijrah Rasul dari Mekkah ke Madinah berakhir dengan berdirinya negara Islam di Madinah yang menerapkan aturan islam secara menyeluruh untuk mengatur urusan rakyatnya.

Move on Rasulullah ke madinah menjadi pijakan kebangkitan Islam dari masyarakat jahiliyah menuju kehidupan penuh berkah. Inilah yang patut kita teladani dalam aktifitas dakwah. Sebagaimana diperintahkan Allah: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..” (QS al-Ahzab [33]: 21) Rasul menunjukkan, satu-satunya cara yang baik dan benar agar bisa move on dari kondisi jahiliyah sekarang menuju kehidupan penuh berkah dalam naungan khilafah hanya dengan dakwah yang mendongrak cara berpikit umat. Bukan aktifitas sosial atau ngumpul tasyakuran yang bisa meninabobokan umat.

Tapi, aktifitas dakwah yang menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Cuman ngomong tapi nggak asal bunyi. Ngomongin cacatnya sistem demokrasi, kebobrokan ekonomi kapitalis, brengseknya gaya hidup liberal disertai ajakan pada umat untuk kembali pada hukum Islam sebagai solusi tokcer bin jitu. Untuk memuluskan jalan Move On from Jahiliyah to Khilafah, mau nggak mau seluruh umat Islam harus ikut ambil bagian.

Termasuk kita-kita, remaja muslim yang cakep bin unyuunyu. Bukan karena ajakan kawan atau ikut keramaian, tapi murni lahir dari kesadaran hamba yang beriman. Curahkan energi untuk mengkaji islam lebih dalam, berdiskusi dengan masyarakat awam, dan menyampaikan koreksi pada para penguasa zalim. Nggak usah ribet dengan omongan orang-orang dengki yang cuman bisa komentarin dakwah sementara dirinya diam seribu basa. Nggak perlu panik juga dengan hambatan dan masalah yang menghadang, Allah pasti bakal tolong kita dan tunjukkan jalan keluar. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)

So, nggak pake lama bin tarsok. Ayo kita ikut ambil bagian jadi pejuang Islam yang turut mengawal Move On umat from Jahiliyah to Khilafah. Kalo kita istiqomah di jalan dakwah, bukan cuman umat yang Move On. Kita juga ikut kebawa. Karena dakwah bikin kita dekat dengan Allah. Sampai jumpa di garda terdepan pejuang syariah dan khilafah. Allahu akbar! [@LukyRouf]