Majalah Drise Edisi 57 : Yuk Ngaji

Bebas euy! Spontan pelajar yang baru aja beres ngikut ujian nasional berhamburan keluar kelas. Lepas  udah tekanan ujian akhir yang selama ini bikin sutris. Meski belum tentu lulus, yang penting udah lewat dulu ujiannya. Urusan bagus atau pas-pasan hasilnya, belakangan aja dipikirinnya. Sekarang mah, happy!

 Banyak cara meluapkan kegembiraan untuk merayakan berakhirnya ujian nasional (UN) yang dilakukan para siswa. Namun, yang paling banyak diliput media justru yang negatif. Perilaku yang tak mencerminkan karakter pelajar yang terdidik. Bukannya menjadi bagian dari solusi, malah terhanyut dalam euforia dan menjadi bagian dari masalah. Berikut beberapa aksi pelajar yang dianggap ritual pasca ujian nasional.

1.Corat-coret Entah siapa yang pertama kali  memulai, budaya corat-coret pelajar pasca UN seolah tak terpisahkan. Saat hari terakhir UN usai, para pelajar tanpa komando langsung berhamburan ke lapangan. Berteriak kegirangan sambil sibuk mencorat-coret baju seragam yang dipakai teman. Siswa siswi berlarian ke sana ke sini membubuhkan tanda tangan secara bergantian dengan spidol atau menyemprot  wajah, rambut, dan seragamnya dengan pylox warna-warni.

Nggak jauh beda dengan supporter bola. Aksi ini dilakukan oleh banyak pelajar di setiap daerah. Menurut mereka aksi corat-coret ini merupakan ritual rutin kelulusan para siswa sebagai kenang-kenangan terakhir. Emang abis lulus mau pada ‘pamit’?

2. Konvoi kendaraan Tak cukup dengan aksi corat-coret,   para pelajar pun turun ke jalan. Beramairamai ikut konvoi kendaraan bermotor. Tanpa helm dan seragam penuh coretan,  mereka tumpah ruah memenuhi jalan raya.  Bunyi  klakson saling bersahutan memecah kesunyian jalan. Tak ketinggalan, suara  bising knalpot racing mengusik kenyamanan para pengguna jalan.

Tak ayal, ada pelajar yang nekat bawa senjata tajam dan melakukan tindakan kriminal. Mentang-mentang banyakan, berani  membajak kendaraan umum hingga kontainer. Bahkan tak sungkan memicu tawuran dengan pelajar lain yang mereka  temui di jalan.

 3. Pesta seks Ini perilaku bejat yang tak patut  ditiru. Tahun lalu, puluhan siswa-siswi di  Kendal tertangkap basah berbuat mesum di salah satu tempat wisata yang sering dipake remaja untuk mojok bareng pacarnya.

Pasca UN berakhir, pasangan pelajar tamasya ke pinggir Pantai Muara Kencan Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah Kamis (16/4/15) hingga sore. Menjelang malam, mereka lanjut check in dan berbuat mesum.Salah satu pelajar bernama Luluk mengaku sengaja menyewa kamar hotel usai UN.

Selain itu, ada pula pelajar yang dengan malu-malu mengaku menyewa hotel untuk berbuat mesum dan melakukan hubungan layaknya suami isti dengan alasan untuk melepas ketegangan usai melaksanakan UN. Astaghfirullah!

4. Splash after class Luapan kegembiraan pasca UN  seolah jadi legalisasi digelarnya pesta bagi remaja. Demi mengusir kepenatan, tahun lalu salah satu EO di ibukota mengundang pelajar tingkat SMA dan sederajat untuk menghadiri ‘Splash after Class’. Sebuah pesta bikini summer dress yang rencananya digelar di kolam renang di hotel berbintang di Jl Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada 25 April 2015 ini undangannya beredar luas via jaringan youtube dan sosial media.

Meski akhirnya dibatalkan, namun sempat menuai kritiktan pedas dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Pesta bikini, kolam renang, campur baur cewek cowok plus minumanberalkohol sama dengan memancing kemaksiatan. Waspadalah!

Buah Pendidikan Sekular

Kita nggak bisa nutup mata kalo  sistem pendidikan yang berjalan saat ini adalah sistem pendidikan yang sekularmaterialistik. Semua bagian dari sistem pendidikan, steril dari nilai-nilai ruhiyah yang berkaitan dengan aturan agama. Mulai dari penyusunan kurikulum, mata pelajaran, kualifikasi pengajar, hingga pola pergaulan antar pelajar.

Sistem pendidikan yang memisahkan aturan agama dari kehidupan ini mandul dalam melahirkan pelajar shaleh sekaligus melek sains dan teknologi. Pentingnya pendidikan agama bagi pelajar pun cuman diganjar dua jam pelajaran dalam satu minggu. Itu pun kalo  gurunya masuk. Giliran berhalangan, cuman ngerjain tugas dan waktu bebas. Cihuuy…! Materi pendidikan agama yang lebih banyak membahas tentang ibadah ritual, makin menjauhkan pelajar dari peran agama sebagai solusi masalah kehidupannya.

Itupun sekedar transfer ilmu pengetahuan tanpa mampu membentuk (transform) katakter anak didik. Aturan Islam dipake cuman untuk sholat, puasa, berzakat, dan pernikahan plus waris. Diluar itu, pelajar buta agama dan pake cara apa aja yang penting masalahnya selesai.  Pendidikan sekuler materialis tak mampu membendung pengaruh lingkungan dan media yang mendidik pelajar untuk berbuat semaunya. Budaya permisif yang serba boleh melakukan apa saja selama tidak menggangu orang lain tercermin dalam gaya hidup idola remaja dan tayangan sinetron yang membanjiri layar kata.

Sekolah pun tak peduli dengan keberadaan nilai akidah anak didiknya. Tak ada upaya untuk mengingatkan, apalagi menguatkan. Walhasil, para pelajar nggak punya pegangan akidah yang kuat buat menilai benar atau salah perilaku kesehariannya. Yang ada di otaknya, cuman nilai materi dan kesenangan dunia. Cara apapun bakal dipake untuk meraihnya. Hawa nafsu pun dijadikan Tuhan untuk menuntunnya beresin masalah.!

Cuma Taat Kalo Ada yang Liat

Salah satu hasil pendidikan sekuler  di kalangan pelajar adalah mental “taat kalo diliat’. Kalo nggak ada yang liat, terangterangan bermaksiat. Sikap mental ini tumbuh subur lantaran empat hal: niat, sanksi, pengawasan, dan kesadaran. 

Pertama, niat. Kita pasti tau kalo niat selalu ada di balik setiap perbuatan. Terlepas apa niat itu udah direncanain jauhjauh hari atau spontan. Untuk ketaatan  pada aturan, nggak semuanyaenjoyjalaninnya. Aturan udah kadung dianggap ngebatasin gerak. Kalo ngadepin aturan, bawaan niatnya jelek mulu. Pikirnya, aturan ada untuk dilanggar, bukan untuk ditaati.

Walhasil, kalo niat udah kuat, ngelanggar aturan jadi kebiasaan. Malah perbuatan dosa pun dianggap sepele. Dari sekedar nggak shalat, nggak nutup aurat, cabut dari sekolah, nongkrong di mall saat jam belajar, mesum bareng pacar saat weekend, atau nge-fly untuk ngusir rasa penat. Cuma lantaran nggak ada yang liat. Berabe kan?

Kedua, sanksi. Sebuah aturan bakal tegak en punya power buat ngatur kalo ada sanksi yang tegas. Tanpa itu, pelajar bisa setengah-setengah taat ama aturan. Pelajar yang bermasalah, terkadang hanya diberi peringatan atau surat panggilan untuk orang tua. Saat kena razia oleh aparat pun, hanya dipulangkan setelah dikasih pembinaan. Sanksi model gini sering dianggap sepele oleh pelajar. Walhasil, nggak ada kapoknya bikin masalah.  

Ketiga, pengawasan. Ketegasan sanksi nggak punya arti tanpa pengawasan. Makanya, pengawasan yang kendor baik oleh sekolah, guru, atau sesama siswa terhadap aturan, memancing pelajar untuk berbuat semaunya. Padahal itu masih di dalam lingkungan sekolah. Beberapa video pelajar yang beredar di dunia maya, bikin kita miris. Ada yang melecehkan gerakan shalat yang diiringi lagu Maroon 5, ada aksi bully secara fisik yang dilakukan pelajar SD, atau siswi yang merokok di dalam kelas. Kalo saja sesama siswa saling mengingatkan atau melaporkan kejadian kepada yang berwenang, akan lain ceritanya. Setidaknya, ada upaya untuk mencegah perilaku negatif dari pelajar.  

Keempat, kesadaran. Ini gerbang terakhir sebelum seeorang ngelanggar aturan. Niat udah kuat, sanksi nggak ketat, yang ngawasin juga nggak ada di tempat, berarti tinggal selangkah lagi. Kalo dia sadar ada beban moral untuk melanggar atau ngerasa bakal bikin rugi semua pihak, tentu mikir-mikir lagi untuk nggak taat. Sayangnya, beban moral terlalu lemah untuk mencegah pelanggaran. Di zaman nafsi-nafsi kayak sekarang, moral udah jadi almarhum.

 Yang ada tinggal kepentingan diri sendiri dan cuek dengan sekitarnya. Nggak asyik tuh! Driser, dari keempat faktor di atas, yang terakhir kudu dapet perhatiin khusus. Yup, soalnya kalo kesadaran seseorang dilandasi dorongan yang shahih, tentu nggak gampang tergoda melanggar aturan. Mesti niat, sanksi, atau pengawasan udah kondusif. Di sinilah pentingnya kita punya kesadaran shahih yang nggak cuma ngandelin beban moral. Dan itu ada dalam Islam. Yuk!

Ngaji Bagian dari Solusi

Hanya ada satu cara untuk  memperkuat kesadaran pelajar yang dilandasi dorongan yang bener yaitu dengan ngaji. Yup, dengan mengaji kita selalu diingatkan akan kebesaran Allah dengan sifat-sifatNya yang mulia, kelengkapan syariatNya untuk mengatur hidup kita, dan kasih sayang Allah bagi hamba-hambaNya yang selalu berusaha untuk taat di segala situasi dan kondisi.

Selalu pake ukuran dosa atau pahala sebelum berbuat. Sebagai seorang muslim, kita udah sering dengar sifat-sifat Allah yang biasa dikenal dengan sebutan asma’ul husna. Keyakinan terhadap asma’ul husna ini yang mengokohkan keimanan kita kepada Allah Swt. Keimanan yang akan melahirkan kesadaran akan adanya Allah dalam setiap perilaku kita di dunia. Penting nih! Salah satu sifat Allah yang mulia itu adalah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Itu artinya,

Allah bisa melihat dan mengetahui setiap perilaku hambaNya baik di tempat terang maupun tempat yang tersembunyi. Termasuk mengetahui letak semut hitam yang berjalan di atas batu hitam  di tengah malam yang gelap gulita. Tuh kan, makhluk kecil yang tak terjangkau penglihatan manusia aja dengan mudah diketahui Allah, gimana kita yang ukurannya beberapa ratus kali lipat dari ukuran semut. Makanya aneh kalo kita selaku muslim merasa nggak ada yang ngawasin perbuatan kita saat berbuat maksiat.

Pengawasan manusia terbatas, namun pengawasan Allah unlimited! Kita mungkin udah tau celah untuk lolos dari razia polantas. Ada juga yang mahir ngibulin guru biar bisa cabut tepat waktu. Atau mungkin udah terbiasa menghilangkan jejak agar tak terdeteksi oleh pengawasan ortu. Tapi siapa yang jamin kamu bisa sembunyi dari pengawasan Allah? Nggak ada.

Kalo kamu ngerasa aman dan bebas ngelanggar aturan Allah cuma lantaran Allah nggak terlihat, siap-siaplah menghadapi rasa takutmu yang menjadi-jadi di akhirat nanti. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., tentang perkara yang diriwayatkan beliau dari Tuhannya. Allah berfirman:

“Demi kemuliaanKu, aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepadaKu di dunia, maka Aku akan memberikannnya rasa aman di hari kiamat. Jika ia merasa aman dariKu di dunia, maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di hari kiamat.” (HR Ibnu Hibban)

Karena itu, agar kita nggak ngerasa  aman dari Allah di dunia, Allah udah ngasih  konsekuensi pahala dan dosa untuk ngukur ketaatan kita pada syariatNya. Kalo kita  senantiasa taat dan ikhlas dalam ngikutin tuntunan Allah dan RasulNya di hari-hari kita, kita bisa meraih pahala. Sebaliknya, kalo kita melanggar atau taat setengah hati terhadap Allah, dosalah yang kita dapetin.

Semuanya bakal diperlihatkan pada kita diakhirat nanti. Disinilah pentingnya kita ngaji. Biar melek pahala dan dosa serta sadar keberdaan surga dan neraka yang bakal mengerem perilaku maksiat saat nggak ada yang liat.  

Yuk Ngaji Tanpa Tapi

Ngaji itu hukumnya wajib. Rasulullah  saw  bersabda,“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR Ibnu Majah). Dalam hadits ini, Rasulullah saw dengan tegas menyatakan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib atas setiap muslim, bukan bagi sebagian orang muslim saja, lho. Tuh, catet ya. Yang namanya kewajiban itu untuk dilaksanakan. Bukan malah dihindari biar nggak jadi beban. Kewajiban ngaji sama dengan wajibnya shalat. Tanpa tapi.

Dalam kondisi apapun, kita upayakan tetap ngaji.  Ngaji bukan hanya sebatas baca alQuran tanpa ngerti maknanya, bukan sekadar tahu hadits tanpa paham maksudnya. Ngaji juga berarti terampil  membaca fakta dan menilainya dengan ukuran Islam dan ilmu dunia untuk menunjang utuhnya pemahaman. Misalnya nih, kenapa sih kasus terorisme selalu dihubungkan dengan Islam dan umatnya? Di sini kita perlu ngaji banyak hal selain ngaji seputar ajaran Islam, yakni ilmu komunikasi,  ilmu politik, ilmu sosial, ilmu ekonomi dan sebagainya.

Dukungan ilmu tersebut akan membantu menyusun kepingan puzzle informasi dan opini dan menilainya dari sudut pandang Islam. Sehingga bisa menyimpulkan dengan benar dan baik. Asik juga ya? Pastinya! Ayo, kapan mau ngaji? Hubungi rohis di sekolahmu ya! Atau bergabung dengan komunitas lembaga dakwah sekolah terdekat di kotamu. Jangan sampai hari-harimu kosong dari aktivitas mencari ilmu. Terutama ilmu agama yang bisa bikin hidupmu penuh makna. Karena bahagia tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat sana. #YukNgaji sampai nanti, sampai mati tanpa tapi. Yuk! [@Hafidz341]

Majalah Remaja Islam Drise edis 56 : High Quality Jomblowati

Apa bedanya remaja dulu dengan remaja sekarang? Yup bener banget. Remaja dulu,  sekarang sudah tua. Dan remaja sekarang, dulu belum ada. Hehehe…. yang pasti, perbedaan mencolok antara remaja dulu dan sekarang adalah pola asuh.

Seriusan! Remaja dulu, terutama yang putri, jauhjauh hari udah dibimbing untuk jadi seorang istri, ibu, dan pengatur rumah tangga. Sementara remaji sekarang,  jauh-jauh hari sudah diarahkan untuk jadi selebriti, penyanyi, atau pekerjaan yang berlimpah materi. Baik karena  dorongan keluarga atau terhanyut oleh opini media. Selebrity wanna be!

Sadari Fitrahmu Sis!

Driser, sebagai manusia kita nggak  akan selamanya remaja. Kalo ada umur, pasti kita juga bakal jadi orang tua. Tambah dewasa, tambah usia. Dan satu lagi yang pasti, kita juga nggak selamanya hidup di dunia. Kalo udah waktunya, bakal meninggalkan dunia fana dan berjumpa dengan-Nya.  Selama hidup di dunia, masa depan ada di tangan kita.

Apa yang kita lakukan sekarang, bakal kita tuai hasilnya suatu saat ketika jadi orang tua. Mungpung masih remaja, terutama untuk kaum hawa segera sadari 3 peran yang bakal diemban. Sebagai istri, ibu, dan pengatur rumah tangga. Ini penting biar hidup kami bernilai dan jelas tujuannya. Sebagai istri, ini mah nggak perlu diingatkan lagi ya. Kamu pasti udah nyadar sejak baligh. Rasa cinta pada lawan jenis, bikin hidup penuh warna.

Meski belon kepikiran untuk berkeluarga, tapi udah ngerasa pengen punya belahan jiwa. Bisa  bersama-sama berbagi suka dan duka. Pacaran not recommended! Peran istri dalam keluarga yang paling penting berkaitan dengan melanjutkan keturunan alias reproduksi. Kalo saat ini masih anak-anak, suatu saat ini akan punya anak. Untuk yang satu ini, Rasul bangga banget kalo umatnya punya anak-banyak.

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku.” (HR. An Nasa’I).

Seru banget kayaknya punya anak banyak ^_^ Sebagai ibu, kamu punya kepentingan untuk melahirkan generasi sholeh dan sholehah. Karena itu faktor pendidikan sangat berperan dalam menjalankan kewajiban sebagai ibu. Sedari kecil, udah mesti siap dengan urusan yang ribet dan repot oleh si kecil. Karena nggak ada ceritanya anak baru lahir terus udah bisa buang air sendiri. Ngeri! Mendidik anak memang tak mudah, tapi bukan berarti mustahil. Semuanya bisa kita jalanin dengan belajar dari orang tua juga teladan shahabiyah. Siapkan waktu lebih banyak untuk ngikutin perkembangan anak dari hari ke hari.

Itu fitrah seorang ibu. Jangan sampai jadi ibu setengah tiang, eh ibu setengah hati. Jalanin peran ibu sekedar sambilan. Ngerasa udah berjasa besar dengan melahirkan. Selanjutnya, sehari-hari biar si bibi aja yang urus.  Padahal, Ibu memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter anak. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak.

Ibu adalah sosok yang sangat dekat, yang pertama kali berinteraksi dengan anak. Bagaimana jadinya seorang anak jika ibu lebih memilih karir di luar rumah?  Sebagai pengatur rumah tangga, kamu punya kuasa agar suasana rumah nyaman dan para penghuninya betah di rumah. Meski nggak terjun langsung beres-beres rumah, setidaknya bisa mengarahkan ART untuk merapikan dan membersihkan tempat tinggal. Idealnya sih, kamu banyak turun tangan ikut mengatur rumah. Biar kecipratan pahala kalo suami dan anak-anak ngerasa nyaman menghabiskan waktu di dalam rumah. Asyik kan?

Yuk Pantaskan Diri

Driser, Rasul pernah bersabda,  Rasulullah Saw. bersabda : Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah. (HR. Muslim).Hadits ini ngingetin kita tentang masa depan. Siapa yang nggak ngiler dengan perhiasan dunia. Dan ternyata, sebaik-baiknya perhiasan dunia itu wanita sholehah. Itu kamu sis!  Salah satu ciri wanita sholehah itu memantaskan diri untuk menjadi muslimah sejati. Sadar dengan perannya di  masa depan sebagai istri, ibu, dan pengatuh rumah tangga.

Makanya dari sekarang ayo pantaskan diri menjadi muslimah sejati. Biar bisa masuk kategori sebaik-baiknya perhiasan dunia. Yuk! Driserwati, mulai deh asah beberapa kebiasaan biar masa depan kamu cerah. Ingat, apa yang terjadi di masa depan itu akibat perilaku kita di masa lalu. Apa yang terjadi hari ini, akibat kelakuan kita kemarin. Jadi, biar masa depan sebagai muslimah sejati sukses, beberapa keterampilan mesti kita kuasai.  Sebagai istri, kamu harus pandai menyenangkan suaminya kelak.

“Sebaikbaik isteri ialah yang menyenangkan-mu ketika engkau menatapnya, mematuhi-mu ketika engkau perintah; dan ketika engkau pergi, ia menjaga kehormatan-mu, yaitu dengan menjaga dirinya dan juga hartamu”. (H.R. Ath-Thabrânî. Lihat Al-FathulKabîr juz III hal. 126 no.: 3294)

Untuk urusan dandan, kayanya kamu lebih paham ya. Gimana berpenampilan menarik di hadapan suami. Tidak apa mengasah kemampuan untuk tampil menawan dengan balutan fashion yang nyaman dipandang namun tetap ngikutin kaidah syara. Nggak berlebihan.  

Oh ya, jangan sepelekan juga  kemampuan memasak untuk orang-orang  tercinta lho. Jangan sampai udah merit, disuruh masak lauk pauk harus tanya mbah google dulu. Giliran suami minta masakan yang enak, langsung ngibrit ke restoran terdekat.  Jadi, mulailah belajar masak dari sekarang. Recokin ibu di dapur saat lagi masak. Kalo perlu, bantu-bantu siapin bumbu. Sesekali, buat masakan spesial untuk orangtua atau saudara. Semakin banyak berlatih, semakin piawai kita menyajikan hidangan istimewa untuk suami tercinta. Urusan rasa, biar juri chef yang menentukan.

Eh.. ^_^  Sebagai ibu, kedekatan dengan anak jadi hal mutlak. Targetnya, setiap anak-anaknya yang lahir ke dunia ingin menjadi anak shalih shalihah dan generasi yang baik. Untuk itu, mulailah belajar mengenali karakter anak sedari lahir, balita, batita, abg, remaja, hingga dewasa dan bagaimana mendidik mereka sesuai tahapan usianya. Ya, meski sebatas informasi karena belum punya anak, tak ada salahnya mulai nabung wawasan. Syukur-syukur kamu bisa ikut rembug ngajarin anak-anak ngaji atau ngajar di PAUD.

Jadi mulai mengenal dunia anak. Ingat, mendidik anak adalah investasi akhirat. Catat! Sebagai gambaran hasil didikan ibu yang sholeh, tercermin dari kisah shahabiyah Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu anaknya masih remaja, Usianya baru 13 tahun. Dengan pedenya, itu anak datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah menolaknya karena saat itu syarat usia  anak laki-laki untuk perang adalah 15 tahun. 

Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Dia adalah Zaid bin Tsabit r.a. Keren! Terakhir, sebagai pengatur rumah tangga kamu bisa mulai membiasakan diri bersih-bersih ruang keluarga, kamar tidur hingga pekarangan rumah. Rasulullah saw. memuji seorang istri yang pandai merapikan rumah dengan mengatakan,

Ia tidak memenuhi rumah kita dengan sarang burung.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Jangan lupakan juga untuk belajar ngelola keuangan. Soalnya, nanti kamu bakal terima nafkah dari suami untuk kebutuhan sehari-hari. Mesti pandai mengatur pengeluaran biar cukup. Karena bisa jadi penghasilan suami tak seberapa besar. Dari sekarang bisa mulai membiasakan diri menyusun daftar rencana pemasukan dan pengeluaran dalam satu bulan, dengan prioritas pengeluaran yang dianggap paling penting. Good luck sis!

Jadi High Quality Jomblowati

Driserwati, kalo kamu sudah  nyadar peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga kelak, plus getol memantaskan diri menjadi muslimah sejati, tinggal tunggu datangnya sang buah hati. Ini yang lumayan perlu kesabaran. Tak ada yang tahu kapan datangnya. Masih menjadi sebuah misteri.  Menyiapkan diri untuk menyambut masa depan bisa dilakuan setiap remaja putri. Belajar memasak, berdandan, atau bantu-bantu ibu rapikan rumah.

Itu standar banget kalo mau jadi pasangan yang baik kelak. Namun, ada nilai lebih yang bikin kualitas jomblowati kamu tinggi tak tertandingi.  Kuncinya ada dalam pemaman Islam kamu. Yup, Rasul udah ngingetin kaum adam dalam sabdanya kalo nyari pasangan hidup. Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata:

 “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan  beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin”.

Hadits di atas jelas-jelas ngasih tahu kita kalo high quality jomblowati itu dilihat dari agamanya. Bukan sekedar Islam KTP. Tapi pemahaman terhadap Islam yang akan memberikan kebaikan pada dirinya, keluarganya, lingkungan sekitar dan kelak keluarga kecilnya.  Jomblowati yang paham agama nggak akan mengumbar aurat dengan dandanan menor bin seksi. Dia akan berusaha menjaga kemuliaannya dalam balutan busana muslimah yang sempurna.

Nggak pake parfum yang bikin jakun kaum adam naik turun ketika mencium wanginya yang menggoda. Nggak juga memamerkan foto selfie yang sok imut bin kiyut khas alay semaput.  Jomblowati yang paham agama nggak akan tinggal diam dengan kondisi umat yang tengah terpuruk. Belajar agama bukan semata untuk perbaikan diri dan pembekalan menjadi istri. Tapi sebagai bagian dari aktifitas dakwah. Menyeru umat pada kebaikan dan  mencegah mereka dari kemunkaran.  

Mulai dari sekarang, ayo kejar predikat jomblowati berkualitas tinggi. Ikut ngaji, demi mengejar ridho illahi. Ketika keluar rumah berbusana syar’i. Tak lupa menjaga jarak pergaulan dengan laki-laki. Plus menjaga diri dari virus merah jambu yang menyerang hati. Biar tak terjerumus dalam budaya pacaran meski dikasih label islami.  Phew!..Berat banget ya? Hehehe….itu pilihan sis. Pilihan terbaik yang tak boleh kamu lewatkan. Itu juga kalo kamu mau jadi high quality jomblowati. Yang disayang Allah dan penduduk bumi. Bonusnya, Insya Allah bakal dijemput pujaan hati sholeh yang kelak jadi suami. Mau? #YukNgaji! [@Hafidz341]

Majalah Drise edisi 55 : LGBT buruan tobat

Nama lengkapnya Samuel David Alexander Brodie. Pria nashrani kelahiran Medan 14 Maret 1987 ini  terlahir sebagai laki-laki tulen. Pada usia 11 tahun, orangtua Sam membawanya hijrah ke Inggris. Ketika memasuki usia 12 tahun, Sam Brodie memutuskan menjadi perempuan setelah sebelumnya mengalami kekerasan seksual.

Samantha, itu nama yang dipilih. Hal inilah yang membuat dia tidak diterima oleh keluarganya.  Kisah Sam di atas, melengkapi pemberitaan seputar LGBT yang lagi marak belakangan ini. Sejak mencuatnya kiprah Kelompok Support Group and Resource Center On Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia (UI), isu LGBT bergulir bak bola salju. Opini pro dan kontra silih berganti menghiasi media massa. Komunitas LGBT dan para pendukungnya seolah dapat angin surga dengan makin merebaknya isu LGBT. Mereka mulai berani nongol ke permukaan. Nggak lagi gerilya biar nggak dikejar tramtib.  

LGBT Memangsa Remaja

Sudah sejak tahun 90-an organisasi  yang mewadahi kaum LGBT kian menjamur. Di awali Lamda Indonesia pada tahun 1982, Ikatan Persaudaraan Orang-orang Sehati (IPOS) di Jakarta; Gaya Dewata di Bali; Komunitas Pelangi dan PLUSH (People Like Us Satu Hati) di Yogya; Gaya Priangan di Bandung; atau Gaya Nusantara di Surabaya; Di Lampung ada GayLam (Gaya Lentera  04 d’rise #55 maret 2016 Muda Lampung).

Kaum lesbiannya banyak yang gabung di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Swara Srikandi, Jaringan Kerja WarnaWarni, atau Persatuan Lesbian Indonesia. Semua institusi di atas mengadakan advokasi, seminar, pendidikan tentang hakhak politik dan sosial, kampanye anti narkoba  dan bahaya HIV, pemberian beasiswa, hingga kegiatan pengajian.  

Keberadaan komunitas LGBT so pasti bikin resah masyarakat. Kehadirannya bukan sekedar kumpul bareng. Tapi juga ngadain aktifitas kampanye dibarengi dengan edukasi kalo LGBT itu dianggap normal dan nggak perlu risau untuk tunjukkan jati diri. Walhasil, remaja yang labil dan latah trendi gampang banget terpengaruh. Apalagi kalo sudah diiming-imingi dengan duit, gadget, atau fasion model baru.

Nggak pake lama mikir dan akhirnya bergabung dengan komunitas. Ngeri! Buktinya, sekitar 3.000 pelajar di Kota Batam Kepulauan Riau diketahui sebagai lelaki penyuka lelaki (LSL). Selain di Batam, anak dengan perilaku LSL juga banyak terdapat di Tanjungpinang dan Bintan. Berdasarkan hasil survei AUSAID yang diterimanya, 700 anak usia 16-20 tahun di  Tanjungpinang dan Bintan berperilaku LSL.  (Okezone.com, 12/02/16)

 Sementara di Ciamis, ketua LSM Wisma,  Deni Wahyu, mengungkupakan, saat pihaknya melakukan pembinaan HIV/AIDS ke komunitas LSL (Lekaki Suka Lelaki), sempat terkejut ketika melihat komunitas itu di dominasi usia remaja. Dari 1440 komunitas LSL di Ciamis, ujar dia, 70 persennya  berumur 15-24 tahun. (harapanrakyat.com, 17/01/2015) Keadaan di Cirebon pun tak jauh beda. Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon, Sri Maryati, jumlah gay yang beraktivitas di Kota Cirebon setidaknya tercatat 900 orang.

Dari jumlah tersebut sebanyak 70 persennya merupakan gay berusia muda. Salah satu faktor yang bikin remaja dekat dengan perillaku LGBT adalah kemudahaan mereka mengakses info seputar LGBT via sosial media atau aplikasi gadget. Awal cuman pengen tahu, lalu penasaran, temenan, akhirnya ketularan.  

Jangan Dibiarin..

 Sebagai seorang muslim, kita wajib  ngeliat masalah LGBT pakai kacamata Islam. Biar jelas penyebabnya dan ketemu solusi jitunya. Jangan terjebak oleh opini pendukung LGBT yang menghalalkan segala cara dan mengobral alasan demi membela perilaku kaumnya nabi Luth itu. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengembalikan pelaku LGBT ke jalan yang benar.

 Pertama, pelaku, masyarakat, keluarga, dan negara mesti menyadari bahwa LGBT itu menyalahi syariah, tak sesuai fitrah, dan bakal menuai banyak masalah. Itu berarti, perilaku menyukai sesama jenis yang berorientasi seksual seperti hombreng atau lesbong termasuk maksiat. Allah swt berfirman:  

“(Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya, kamu melampiaskan syahwatmu kepada sesama lakilaki, bukan kepada perempuan. Kamu benarbenar kaum yang melampaui batas’.” (al-A’raf:  80-81)

Bagi aktivis LGBT yang mendapat julukan waria, bencis, bencong, lekong, pewong, hunter, butch, stoone dan sejenisnya, rasul saw mengingatkan,  

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat kaum laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat pula kaum wnaita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari)  

Kalo perbuatan udah terkategori maksiat, udah pasti menuai mafsadat alias  musibah. Allah swt nggak main-main lho untuk mengingatkan hambanya kalo tetep ngeyel bermaksiat. Seperti kejadian pada kaumnya nabi Luth yang melakukan penyimpangan. Allah timpakan azab yang sangat besar dan dahsyat, membalikan tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri hujanan batu yang membumihanguskan mereka, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Hijr ayat 74.

Kalo udah gitu, yang kena getahnya bukan cuman pelaku dan pendukungLGBT, tapi semua masyarakat. Ngeri! Kedua, kalo udah paham dahsyatnya musibah yang bakal terjadi akibat maraknya perilaku LGBT, kita nggak boleh berdiam diri. Bukan untuk ngerecokin urusan pribadi. Tapi sebagai bentuk peduli untuk kebaikan bersama. Makanya jangan berhenti menyuarakan penolakan terhadap LGBT biar para pelaku dan pendukungnya mikir dan dapat hidayah. Kalo kita mundur karena dianggap melanggar HAM, cuekin aja.

Ingat perkataan Rasulullah saw:  “Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata: ‘Andai saja kami lubangi (kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami’. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), akan binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan,  maka akan selamatlah semuanya”.  (HR. Bukhari)

Ketiga, kalo perilaku LGBT udah marak  maka mesti ada tindakan tegas untuk mengatasinya. Di sini  peran negara sangat diperlukan untuk terus membina keimanan dan memupuk ketakwaan rakyat. Hal itu akan menjadi kendali diri dan benteng yang menghalangi muslim terjerumus pada perilaku LGBT.

Negara akan menghilangkan rangsangan seksual dari publik termasuk pornografi dan pornoaksi. Nggak ketinggalan segala bentuk tayangan dan sejenisnya yang menampilkan perilaku LGBT juga akan dihilangkan. Tak lupa, Islam juga menetapkan aturan berupa hukuman berbentuk siksaan/deraan yang bersifat menyembuhkan, menghilangkan homoseksual dan memutus siklusnya dari masyarakat dengan menerapkan hukuman mati bagi pelaku sodomi baik subyek maupun obyeknya. Rasulullah bersabda :

“Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi).” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi).

Dengan tiga hal di atas, umat akan bisa diselamatkan dari perilaku LGBT dan bahayanya. Kehidupan umat pun akan dipenuhi oleh kesopanan, keluhuran, kehormatan sebagai manusial. Dan semuanya hanya bisa terwujud jika Syariah Islam diterapkan secara total di bawah naungan institusi Khilafah. Catet!

Buruan Tobat Selagi Sempat

Untuk remaja yang terjerumus dalam  komuntias LGBT atau terjerat opini sesat LGBT, buruan tobat selagi sempat. Sebelum masalah bertambah gawat. Atau ajal keburu mendekat. Caranya, mulailah dengan mengaji. Kenali Islam lebih dalam. Pahami gimana Islam ngatur pergaulan dengan lawan jenis. Yakinkan diri kalo Allah bakal bantu nunjukkin jalan keluarnya.  Seperti yang dialami oleh Sam Brodie. Meski tenar dan memiliki uang banyak, Brodie merasa hidupnya kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang. Kegelisahan ini menuntunnya dalam pencarian jati diri lagi. Saat itulah, ia berkenalan dengan al-Quran, sekitar tahun 2009.

Saat membaca isinya, Brodie tertegun karena merasa ditegur. “Saya buka Al Qur’an, ada sesuatu yang kayak bilang bahwa hidup saya selama ini tuh dosa.” Setahap demi setahap, Brodie mulai melazimkan dirinya sebagai pria. Dia meninggalkan perilaku seperti wanita. Hingga akhirnya Sam Brodie pun menikah pada tahun 2010, usai bersyahadat. Masuk Islam, menjadi muallaf. “Islam itu luar biasa, pelanpelan saya berubah. Saya merasa lengkap sekarang. I have family dan nggak kekurangan. Alhamdulillah.” Driser, kisah Brodie bisa meyakinkan kita bahwa semua orang bisa berubah. Dia bisa kembali berubah mendekat pada Allah Swt. Kata Sam Brodi, “Tidak ada kata terlambat untuk kembali,”. LGBT, buruan tobaat! [@Hafidz341]

Majalah Drise Edisi 36 Cewek cenat cenut (kemuliaan wanita dalam islam)

kemuliaan wanita dalam islam Gliat kaum hawa tak ayal selalu menyita perhatian media. Jumlahnya yang melebihi kaum adam, so pasti banyak ditemui di dunia nyata  maupun dunia maya dengan segudang tingkahnya yang menarik. Apalagi pihak media paling getol nyari berita yang berkaitan dengan sensasi wanita. Pasti laku dijual dan layak jadi headline media massa.

Sialnya, cerita perempuan yang naik ke permukaan, lebih banyak mengurai air mata. Ada berita TKW yang disiksa, pelecehan seksual di ibukota, atau korban kekerasan rumah tangga. Fisiknya yang lemah, seolah menakdirkan perempuan jadi objek penderita. Masa sih? Bisa jadi…bisa jadi..! lantaran dari dulu, tiap bangsa seolah punya kesepatakan yang sama dengan memandang sebelah mata terhadap wanita.

Kalo kita tengok sejarah, pada masa peradaban Roma, kedudukan wanita disamain dengan barang dagangan. Bebas diperjualbelikan sebagai pemuas nafsu syahwat laki-laki.  Mereka menganggap perempuan yang lemah itu nggak produktif. Cuman jadi beban kaum laki-laki aja.

Prof  Will Durrant bilang “..Proses kelahiran menjadi suatu perkara yang mendebarkan di Roma. Jika anak yang dilahirkan dalam keadaan cacat atau berjenis kelamin perempuan, sang Ayah diperbolehkan oleh adat untuk membunuhnya”.  Waduh! Sementara dalam peradaban Yunani, tempat wanita di kasta ketiga (status sosial paling rendah) dalam masyarakat. 

Karena orang Yunani menilai wanita sebagai makhluk yang tidak berarti dan nggak bakal dikasihi ama dewa. Saking rendahnya, seorang Hippolytus ngomong kasar pada Tuhannya.  “Wahai Zeus, apakah engkau kemasukan setan ketika menimpakan kemalangan kepada kami dengan mendatangkan kaum perempuan di tengah-tengah kaum lelaki?” Deeu..segitunya? Dalam agama Hindu, seorang istri mesti nurut abis bak kerbau dicocok hidungnya terhadap suami.

Wanita nggak punya hak atas kehidupan pribadinya. Seperti dijelaskan dalam buku tentang aturan keagamaan sansekerta kuno, Draramasastra. Sementara agama Nasrani juga memandang wanita nggak jauh beda. Menurut Encyclopedia Britannica “Sejak awal, lembaga gereja telah menempatkan kaum perempuan dalam posisi yang rendah”. Kasian banget ya nasib kaum hawa. Zaman dulu selalu jadi objek penderita. Gimana nasibnya di era modern ya?

Pelecehan Perempuan di Sekitar Kita

Memasuki peradaban modern,  ternyata nasib kaum wanita masih gelap bin  kelabu. Segelap jaman jahiliyah dulu. Prostitusi dan pornografi plus pornoaksi yang jelas-jelas merendahkan martabat wanita malah dilegalisasi. Para aktivisnya pun berlindung dibalik profesi pekerja seni atau Pekerja Seks Komersil. Belon lagi fenomena aborsi akibat gaya hidup seks bebas yang mengancam kehidupan wanita dan janin  yang dikandungnya. Nggak ketinggalan kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual di tempat kerja yang sering menimpa wanita jadi langganan berita.  Yang lebih parah, ketika kaum hawa kehilangan harga dirinya. Upayanya untuk menepis anggapan sebagai makhluk lemah, malah menjerumuskannya dalam gaya hidup yang menginjak-injak martabatnya. Berikut beberapa gaya hidup kaum hawa yang terekspos oleh media. Yuk simak!

1. Cewek cabe-cabean. Fenomena kehadiran cewek cabecabean banyak diberitakan media. Tingkah  polahnya yang nakal dan liar tentu bikin gak  nyaman penduduk sekitar. Usia mereka yang  masih belia dihabiskan untuk bersenangsenang menggoda lawan jenisnya. Kesan  genit dan seksi seolah jadi bagian dari setiap  penampilannya.

Atasan tank top dan bawahan hot pants jadi busana kebangsaannya. Satu sama lain berlombalomba mengumbar aurat dan berperilaku  alay. Biar cowok-cowok pada melongo dan ngiler ngelamun jorok. Demi laki-laki, sampe rela ‘menjual diri’. Ngenes!

2. Cewek selfish. Cewek selfish doyannya foto-foto sendiri pake smartphone. Sesuai dengan sifatnya yang cinta banget ama diri sendiri, gak kenal tempat dan waktu asyik aja dengan dunianya sendiri. Berfoto dengan berbagai pose dan penampilan.

Gak papa sih kalo mau narsis untuk konsumsi pribadi. Masalahnya, cewek selfish suka banget mengupload foto selfishnya yang sok imut di sosial media. Dari yang wajar sampe yang terkesan exhibisionist. Berpose dengan menonjolkan daya tarik seksualnya demi menuai pujian dari cowok gatelan. Merendahkan harga diri, demi sebuah sensasi. Waduh!

3. Tukang asongan cantik. Tukang asongan yang biasa nawarin rokok di perempatan lampu merah sepertinya bakal dapat saingan. Lantaran belakangan banyak ditemui tukang asongan rokok cantik yang turun ke jalan.

Ya, SPG rokok yang biasanya cuman nawarin produknya di pameran atau stand pusat perbelanjaan, kini banyak bekeliaran di perkantoran dan pusat keramaian. Dengan seragam seksi, cewek-cewek bening ini aktif menawarkan sebungkus rokok kelas kakap ke karyawan,  06 tukang jualan, atau siapa saja yang ditemuinya. Rayuannya yang menggoda kaum pria jadi senjata andalannya demi mengejar target penjualan.   

4. Caleg perempuan minim pengalaman. Kursi di gedung senayan banyak diperebukan menjelang pemilu legislatif mendatang. Dari masyarakat bawah hingga  kalangan selebritis yang biasa hidup wah juga pengen ngerasain empuknya kursi legislatif.

Jatah 30% anggota legislatif perempuan banyak dimanfaatkan artis idola dan cewek belia untuk ambil bagian. Meski karir politiknya pas-pasan, yang penting bisa jadi anggota dewan. Kesan asal comot caleg perempuan yang dilakukan parpol untuk memenuhi kuota terlihat dari kapasitas calegnya yang buta politik. Kebanyakan bermodal popularitas atau kecantikan, giliran ditanya visi dan misi jika terpilih pada gelagapan.  

5. Cewek dan lingkaran korupsi. Kasus korupsi yang terjadi di negeri ini seringkali melibatkan kaum hawa. Mulai dari anggota Dewan yang terlibat langsung hingga  cewek-cewek cantik dan selebriti yang kena seret lantaran ikut ‘menikmati’ uang hasil korupsi. Seperti kasus Tb.

Chaeri Wardana alias Wawan yang mengalirkan uang hasil korupsinya ke beberapa selebriti di balik bisnis production house sebagai kedoknya. Begitu juga dengan berbagai kasus skandal anggota dewan dengan cewek panggilan sebagai gratifikasi seks biar kejahatan korupsinya berjalan mulus. Parah!

Driser, beberapa fakta di atas yang terkait dengan kondisi kaum hawa pantas bikin kepala cenat-cenut mikirinnya. Gimana nggak, wanita yang sejatinya punya kedudukan mulia malah banyak yang terhanyut dalam gaya hidup sekuler dengan ‘menjual’ harga dirinya demi materi. Semuanya berlombalomba untuk eksis semampunya. Dari kelas  bawah model cabe-cabean hingga kelas atas  yang ikut audisi anggota dewan. Duuh.. bener-bener bikin cenat-cenut mikirinnya.  Gimana nasibnya bangsa ini kalo wanita yang  jadi tulang punggung peradaban malah terhanyut dalam gaya hidup hedonis. Miris!

Janji Manis Kaum Feminis

Siapa sih yang betah hidup tertindas? Dipandang sebelah mata? Dinjak-injak martabatnya? Pastinya nggak ada dong. Kucing aja bakal berteriak kalo buntutnya nggak sengaja kita injak. Gitu juga dengan kaum perempuan. Meski wanita dikenal akan kelembutannya, bukan berarti mereka nggak punya kekuatan untuk berontak.

Yap, itulah yang pengen ditunjukkin oleh aktivis feminisme. Bergerak melawan dominasi lakilaki. Tapi nggak pake acara tomboytomboyan lho.  Feminisme menurut kamus wikipedia online berati suatu gerakan perempuan yang menuntut kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Aktivisnya disebut feminis. Feminisme pertama kali lahir di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet.

Mereka bikin Perkumpulan perempuan pertama di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda  pada tahun 1785 yang memperjuangkan kesamaan hak perempuan. Soalnya waktu itu, kaum perempuan (feminin) dirugikan oleh kaum laki-laki (maskulin) di semua bidang. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, politik, sampe agama. Gimana nggak bete coba. Dalam perjalanannya, gerakan feminisme banyak melahirkan aliran-aliran baru. Ada feminisme liberal, radikal, post modern, marxis, sosialis, hingga postkolonial.

Masing-masing aliran ini punya ciri khas dalam kegiatannya. Ada yang menuntut kebebasan total bagi perempuan (liberal); memperjuangkan hak pribadi perempuan termasuk lesbianisme (radikal); penyetaraan gender (post modern); menghancurkan dominasi laki dalam kursi pemerintahan (anarkis); anti kapitalisme (marxis); menghapusken ‘kepemilikan’ pria atas perempuan (sosialis); menggugat penjajahan fisik yang bikin kaum perempuan di dunia ketiga hidup nelangsa (post kolonial).  

Nikmati aja kalo kamu mengernyitkan dahi ngunyah bahasan feminisme ini. Yang penting kamu tahu. Soalnya, hari gini feminisme nongol ke permukaan dengan penampilan yang menawan. Dalam kesehariannya, para feminis getol menyuarakan ide-ide emansipasi agar perbedaan jenis kelamin nggak dijadikan alasan untuk melecehkan perempuan. Kalo laki bisa jadi presiden, perempuan juga dong. Kalo cowok bisa berlagak di panggung politik, cewek juga harus punya kesempatan yang sama. Kalo pria boleh poligami, mestinya perempuan juga boleh poliandri. Nah lho? Emangnya kucing!

Be Carefull Sis!

Driser, kita turut prihatin dengan nasib perempuan yang hidupnya sering jadi bulanbulanan. Seperti kasus kekerasan dalam rumah tangga yang gencar menghiasi layar  kaca. Siapa sih yang nggak terusik dengan  berita-berita menyedihkan itu. Cuman masalahnya, apa bener gerakan feminisme  layak kita jadikan kendaraan buat  memperbaiki hidup kaum hawa? Atau kamu  yang cewek ngerasa ‘kurang beruntung’  dilahirkan sebagai wanita? Hmm… kayanya  kita mesti jeli nih. Coba tengok, dari sejarahnya udah keliatan kalo gerakan feminisme lahir dan berkembang di Eropa yang hidup dengan prinsip sekuler.

Nggak ngasih ruang bagi aturan agama dalam kesehariannya. Otomatis, standar yang mereka pake  dalam perjuangannya adalah untung rugi dalam kacamata manusia. Jauh dari pertimbangan akherat. Hasilnya, mereka bakal ngotot untuk melabrak setiap aturan yang dianggap bisa merendahkan wanita. Termasuk aturan Islam. Nah lho? Feminisme menganggap banyak aturan Islam yang berat sebelah terhadap perempuan.

Soalnya, Islam cuman ngasih  08 kesempatan ama laki-laki untuk duduk di kursi kepemimpinan negara. Kewajiban wanita untuk taat pada suami dan menjalani perannya sebagai Ibu sekaligus pengurus rumah tangga dinilai memasung produktifitas kaum hawa. Pada akhirnya, feminisme getol mengajak muslimah untuk keluar dari kerangkeng aturan Islam, hidup bebas sesuai keinginannya, dan melepaskan ketergantungannya pada pria.

Waduh bahaya tuh! Padahal, banyaknya penindasan terhadap kaum hawa justru akibat sistem kapitalis sekuler yang ngatur hidup kita. Bukan lantaran aturan Islam yang sangat memuliakan wanita. Kalo aturan Islam diterapkan dalam bingkai Daulah Khilafah, niscaya kehidupan wanita terjamin dunia akherat.

Seperti pengakuan seorang Anna Rued, penulis buku—Eastern Mail.  ia menyebutkan “Kita harus iri kepada bangsabangsa Arab yang telah mendudukkan  wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilangkilang minyak—yang tidak saja menyalahi  kodrat—tetapi bisa menghancurkan kehormatannya.” 

Satu lagi yang mesti kita inget baikbaik. Kalo perlu, dicatat dalam reminder  smartphone. Biar nggak lupa. Allah swt nggak  akan menjebloskan kita ke neraka cuman  karena kita wanita. Asli, nggak bo’ong. Karena jenis kelamin itu kodrat, udah dari sononya sesuai kehendak Allah. Jadi, buat yang cewek nggak usah ngiri ya ama cowok. Justru mesti bersyukur dilahirkan sebagai makhluk cantik yang dimuliakan Allah swt dan Rasul-Nya. Allah swt berfirman:  

 “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah Allah berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa`: 32)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan, dan persaksian dua orang wanita sebanding dengan persaksian seorang laki-laki.

 Apakah dalam perkara amalan kami juga demikian? Jika ada seorang wanita berbuat kebaikan hanyalah dicatat untuknya separuh dari kebaikan tersebut?” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat: “Janganlah kamu iri terhadap karunia yang telah Allah berikan berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain.” Sesungguhnya ini adalah keadilan dari-Ku dan Aku yang membuatnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/462)

So, buat driser cewek yang cantik bin imut hati-hati ya dengan ide feminis. Jangan mau dikibulin harus eksis, narsis bin selfish  biar setara dengan anak cowok. Itu cuman akal-akalan musuh Islam biar remaji muslim terjerumus dalam gaya hidup hedonis yang bikin masa depan dunia akhirat kita suram. Secara gitu lho, cewek dan cowok udah dari sononya lahir dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Nggak usah minder dengan perbedaan jenis kelamin atau paras yang pas-pasan. Yakin deh, Allah nggak menilai kita dari penampilan fisik. Tapi ketakwaan. Rasul saw bersabda:  “Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa/fisik dan harta kalian, tetapi Allah memandang hati dan amal kalian.” [HR. Muslim] Allah swt juga berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling  mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Cara pandang masyarakat yang merendahkan wanita emang mesti diubah. Kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga emang kudu dilawan. Sikap  diskriminasi yang dialami wanita di luar rumah juga wajib dihilangkan.

Untuk itu, ayo kita sama-sama perjuangkan hak wanita dengan getol mengkampanyekan penerapan syariah Islam oleh negara yang akan menjaga, melindungi, dan memuliakan wanita dan kehidupannya. Biar cewek cenatcenut pada cabut. Mulia bersama  Islam. Yuk![341]