The Miracle of Badr

Perang Badr adalah sebuah perang besar pertama yang terjadi dalam sejarah perjuangan Islam. Perang  ini terjadi pada 13 Maret 624 Masehi, bertepatan dengan 17 Ramadhan 2 Hijriyah. Sebagaimana yang sudah samasama kita ketahui, pasukan Islam berjumlah jauh lebih sedikit daripada pasukan kafir Quraisy.

Pasukan Islam sekitar tiga ratusan orang, sementara  pasukan Quraisy berjumlah seribuan orang. Jelas saja, secara matematis, pasukan Islam pasti akan dengan mudah dikalahkan. Rasulullah Saw. sendiri, dikisahkan dalam berbagai riwayat, merasa khawatir kepada pasukan Islam berhubung jumlah pasukan Islam yang jauh lebih sedikit.

Beliau tidak hentihentinya berdoa kepada Allah di dalam tendanya, memohon kemudahan,  pertolongan, dan kemenangan. Bahkan saat itu, beliau menyampaikan doa yang terkesan ‘agak maksa’ kepada Allah.

Begini doa beliau: “Ya Allah, tunaikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, seandainya sekelompok umat Islam ini musnah, maka Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi selamanya.” Maka Allah Swt. memenuhi janjiNya, dengan mengirimkan angkatan perang dari langit, pasukan malaikat berjumlah seribu personel dan bersenjata lengkap. Di dalam Alquran,  18 d’rise

Allah berfirman: “(Ingatlah) ketika kalian meminta pertolongan kepada Tuhan kalian, lalu diperkenankannya bagi kalian, ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut,’” (Al-Anfal: 9). Berbagai riwayat yang dikisahkan oleh para veteran Perang Badr ini memperlihatkan bagaimana pasukan malaikat turut bertempur bersama pasukan Islam.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra., dia mengatakan: “Ketika seseorang dari kaum Muslimin melawan seseorang dari kaum musyrikin di depannya, tiba-tiba dia mendengar pukulan dengan cambuk dari atasnya dan suara pasukan berkuda yang mengatakan, ‘Majulah Hayazum.’ Kemudian dia melihat orang musyrik di depannya ternyata sudah tergeletak.

Dia kemudian menceritakan kejadian itu kepada Rasulullah Saw. dan beliau bersabda: ‘Engkau benar, itu adalah bantuan dari langit ketiga.’” Selain pasukan malaikat, Allah swt juga menurunkan pertolongannya dalam bentuk rasa Kantuk dan Turunnya Hujan. Allah telah mengaruniakan rasa kantuk kepada pasukan mukminin sebelum pertempuran, sehingga mata mereka tertidur, fisik mereka beristirahat, dan jiwa mereka menjadi tenang.

Ketika bangun seolah-olah mereka baru diciptakan dengan kejiwaan yang baru,mantap,tenang dan bersemangat  menyala-nyala. Tentang nikmat rasa kantuk ini Allah berfirman mengingatkan karuniaNya kepada kaum mukminin “(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya” (QS Al Anfal ayat 11) Sedangkan musuh mereka telah menghabiskan waktu mereka sebelum peperangan dengan senantiasa berjaga, letih dan lesu, sehingga mereka menjadi tegang, lemas, labil, loyo fisik dan tidak tenang. Hal ini semua menyebabkan kemampuan berperang mereka menjadi lemah.  

Saat perang Badar, pasukan mukminin tidak memiliki persediaan air padahal mereka sangat memerlukannya untuk berwudhu dan menunaikan shalat yang diwajibkan atas mereka. Kebutuhan mereka terhadap air semakin terasa ketika sebagian mereka bangun dalam keadaan junub dan tidak mendapatkan air untuk bersuci.

Kemudian syaitan pun mulai membisikkan kepada sebagian mereka, bagaimana kamu akan shalat dalam keadaan junub tanpa mandi? Tetapi Allah memuliakan para hambaNya yang beriman dan berjihad, dengan menghapuskan bisikan keraguan dari jiwa mereka lalu Allah menurunkan hujan kepada mereka sehingga mereka bisa wudhu, mandi, minum, dan memenuhi tempat-tempat air mereka.

Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan  hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu) (QS Al Anfal ayat 11).

 Allah menurunkan hujan dalam ukuran sedang kepada kaum mukminin lalu membuat tanah semakin rekat dan gerak langkah mereka menjadi lebih mudah dan cepat, sehingga mereka bisa sampai ke Badar mendahului kaum musyrikin lalu memilih posisi yang cocok dan mengatur pertahanan di tempat tersebut.

Sedangkan hujan yang turun pada pihak Musyrikin sangat lebat lalu membuat tanah becek sehingga gerak langkah mereka menjadi lamban dan sulit. Hal ini menimbulkan pengaruh pada jiwa pasukan yang berperang. Karena pada saat ia kesulitn untuk bergerak ketempat yang di inginkan, ia melihat musuhnya bergerak dengan mudah dan cepat lalu memilih posisi yang diinginkannya. Allah memang berkehendak atas segala sesuatu, dan kepada Dia kita serahkan segala-galanya.

Sepanjang sejarah perjuangan Islam, pasti telah banyak pasukan langit yang langsung diterjunkan untuk membantu kaum Muslimin. Semoga pertolongan itu turun juga kepada aktifitas dakwah kita demi tegaknya hukum syariah di bumi Allah ini. []

Islam Memuiakan Wanita

Wanita itu mulia. Bukan basa basi lho. Tapi memang kenyataannya  seperti itu. Kemuliaan wanita tercermin dari perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Nggak ada yang bisa membalas ketulusan seorang ibu dan kasih sayangnya terhadap anak.

Tugasnya nggak gampang untuk membina anak-anak mereka, menggelorakan semangat mereka, menanamkan kepada mereka kecintaan kepada Allah, Rasul dan al-Quran serta menempa kepemimpinan mereka. Dari sinilah bakal lahir generasi umat terbaik. Makanya, Islam peduli banget dengan kedudukan seorang wanita.  Baginda Nabi saw. bersabda,

“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara  kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap istrinya.  Aku adalah yang terbaik perlakuannya terhadap istri di  antara kalian.” (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Pernah ada seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, “Ya, Rasulullah, saya hendak ikut berperang.” Beliau lalu bertanya, “Apakah kamu punya ibu?”  Dia menjawab, “Ya.” Beliau pun segera bersabda, “Tetaplah bersama ibumu karena surga itu ada di bawah kedua kakinya.” (HR an-Nasa’i, hadis hasan shahîh).

Selain sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, wanita juga punya hak untuk berperan di luar rumah.  Dengan keahliannya, wanita bisa terjun dalam bidang pertanian, industri, bisnis, pendidikan, kesehatan, dakwah, partai, dan sebagainya. Pada zaman Nabi saw., kemah Rufaidah al-Aslamiyah merupakan rumah sakit pertama yang dibangun pada zaman Rasulullah saw. Kemah ini dibangun oleh seorang perempuan bernama Rufaidah binti Kaab al-Aslamiyah.

Beliau mempunyai ilmu pengobatan dan telah mewakafkan dirinya untuk membantu umat Islam yang memerlukan, terutama bagi para tentara yang mengalami cedera pada saat pertempuran.  Pekerjaan beliau dibantu oleh beberapashahabiyah lain. Khilafah, kepala negara Islam, pun memberikan jaminan bagi perempuan di tempat umum. Seperti Khilafah tercatat dengan baik dalam sejarah. Sebut saja Syifa binti Sulaiman yang pernah diangkat oleh Khalifah Umar ra.

Sebagai qadhi hisbah (hakim yang mengurusi pelanggaran  terhadap peraturan yang membahayakan hak masyarakat). Perempuan mendapat hak yang sama dengan laki-laki tanpa harus mengembor-gemborkan ide emansipasi. Dalam pendidikan, Rasulullah saw. mengabulkan permintaan hari khusus bagi para perempuan untuk belajar dari beliau.

Aisyah ra. dan istri-istri Rasulullah saw. mengajarkan agama kepada para sahabat.  Ash-Shiwa binti Abdullah pernah bertugas sebagai guru yang mengajar wanita-wanita Islam membaca dan menulis ketika Baginda Nabi Muhammad saw. masih hidup.  Pada masa Kekhilafahan telah didirikan sekolahsekolah khusus perempuan yang terkenal  dengan kemajuan ilmu dan teknologinya. Salah satunya, Universitas khusus kaum hawa di Puncak Gunung Fasiyun, Damaskus yang didirikan oleh Rabi’ah Khatun binti Ayyub.

Bahkan Raja Inggris pernah mengirim putri-putri Kerajaan untuk bersekolah di Negara Khilafah. Perlindungan dan penjagaan kehormatan perempuan oleh Negara Khilafah telah banyak dibuktikan dalam sejarah pemerintahan Islam. Tidak dijumpai pada masa Khilafah berbagai tindak kekerasan dan pelecehan, apalagi kepada perempuan.  Ketika  seorang Muslimah berbelanja di pasar Bani Qainuqa, seorang Yahudi mengikat ujung pakaiannya tanpa dia ketahui sehingga ketika berdiri aurat perempuan tersebut tersingkap diiringi derai tawa orang-orang Yahudi di sekitarnya.

Perempuan  tersebut berteriak. Kemudian salah seorang Sahabat datang menolong dan langsung membunuh pelakunya. Namun kemudian, orang-orang Yahudi mengeroyok dan membunuh Sahabat tersebut. Ketika berita ini sampai kepada Nabi Muhammad saw., beliau langsung mengumpulkan tentaranya. Pasukan Rasulullah saw. mengepung mereka dengan rapat selama 15 hari hingga akhirnya Bani Qainuqa menyerah karena ketakutan.  

Begitu juga yang terjadi pada masa Khalifah al-Mu’tashim Billah berkaitan dengan pembelaan Khilafah terhadap kehormatan perempuan. Ketika seorang  perempuan menjerit di Negeri Amuria karena dianiaya dan dia memanggil nama Al-Mu’tashim, jeritannya didengar dan diperhatikan. Dengan serta-merta Khalifah al-Mu’tashim mengirim surat untuk Raja Amuria “…Dari Al Mu’tashim Billah kepada Raja Amuria. Lepaskan wanita itu atau kamu akan berhadapan dengan pasukan yang kepalanya sudah di tempatmu sedang ekornya masih di negeriku. Mereka mencintai mati syahid seperti kalian menyukai khamar…!

”Singgasana Raja Amuria bergetar ketika membaca surat itu. Lalu perempuan itu pun segera dibebaskan. Kemudian Amuria ditaklukan oleh tentara kaum Muslim.  Driser, demikianlah sekelumit gambaran ketika syariah Islam diterapkan oleh negara bakal membawa keberkahan dan ketinggian kehormatan bagi perempuan.

Jadi nggak ada ceritanya kampanye emansipasi yang digawangi kaum feminis untuk menyuarakan persamaan hak perempuan. Itu cuman rekayasa musuh Islam yang malah bikin kaum hawa terhina, kedudukannya dilecehkan dan melupakan perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Catet![]

Mengapa Nabi orang Arab ?

Drises pernah nggak bertanya, kenapa sih kok Nabi kita orang Arab? Kenapa bukan orang Sunda  atau orang Jawa? Kalau Nabi kita orang Sunda atau orang Jawa kayaknya bakalan lebih enak deh, kita bisa memahami wahyu Allah pake bahasa Sunda atau bahasa Jawa. Pokoknya pake bahasa yang langsung bisa kita ngerti.

Hehehe, tapi itu cuma khayalan kita doang, karena kenyataannya Nabi kita, Rasulullah Muhammad Saw., adalah orang Arab. Dan kenyataan bahwa Nabi kita berasal dari Arab ternyata memiliki hikmah yang sangat banyak lho. Apa aja sih hikmahnya? Let’s cekidot! Pertanyaan, kenapa sih Nabi kita orang Arab, sebenernya udah dijawab oleh Allah Swt. sendiri melalui firman-Nya di dalam Alquran surah al-An’am ayat 124.

Ayat itu menyatakan: “Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulanNya.” Nah, jadi jawaban atas pertanyaan tadi adalah, wallahu a’lam, hanya Allah yang mengetahui. Tetapi tentu saja nggak sembarangan Allah mengutus Nabi-Nya di tanah Arab dan nggak sembarangan juga kenapa Allah menjadikan Nabi-Nya yang pamungkas berasal dari bangsa Arab. Kalo ada orang nyari pegawai buat perusahaannya, pastinya nggak mau dong orang sembarangan. Nah tentunya nggak sembarangan juga kenapa Nabi kita orang Arab.

Para ulama dan sejarahwan Muslim menelusuri jawaban tentang mengapa Nabi kita orang Arab. Di dalam Alquran surah at-Taubah ayat 97 Allah Swt. menjelaskan: “Orang-orang Arab Badui itu lebih kuat kekafiran dan kemunafikannya dan sangat wajar mereka tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.” Terus apa hubungannya fakta tentang orang Arab Badui ini dengan pertanyaan kenapa Nabi kita orang Arab?

Di dalam ayat itu, Allah sendiri yang mengabarkan bahwa masyarakat tempat diutusnya Rasulullah Saw. adalah masyarakat yang sangat kafir dan sangat munafik. Jangankan mengenal hukumhukum Allah, bahkan mereka hampir nggak punya peradaban. Untuk hal-hal paling sederhana saja bahkan mereka harus diajari. Misalnya, tersenyum, orang-orang Arab  Badui sangat jarang tersenyum. Kebayang banget gimana sepetnya tu muka, dan Rasulullah Saw. datang kepada mereka  kemudian mengajarkan bahwa tersenyum itu adalah sedekah. Contoh lain, orang Arab Badui bahkan harus diajarkan mencium anak-anak mereka.

Padahal kalau di sini kita kan udah biasa banget mencium anak atau adik kita. Suatu kali, ada seorang dari Arab Badui yang datang kepada Rasulullah Saw. Saat itu, Rasulullah sedang bermain dengan cucunya. Terlihatlah canda tawa mereka, dan Rasulullah mencium cucu-cucunya itu. orang Arab Badui ini terlihat heran saat menatap Rasulullah mencium cucu-cucunya. Dia kemudian bertanya:

“Apakah engkau juga melakukan ini wahai Rasulullah?” (maksudnya mencium anak kecil). Nabi pun heran dengan pertanyaan model begini, lha wong orang nyium anak kok ditanya. Maka Rasulullah pun balik bertanya: “Apakah engkau tidak punya anak?”

Si Arab Badui ini  menjawab: “Aku punya sepuluh orang anak dan aku tidak pernah sekali pun menciumnya.” Maka Rasulullah segera menyuruh orang itu pulang ke rumahnya dan mencium anaknya. Beliau bersabda: “Aku takut rahmat akan dicabut dari hatimu.”

Begitulah keras dan bengisnya masyarakat tempat pertama kali Rasulullah diutus. Dari sini bisa kita ambil kesimpulan, apabila Islam sanggup mengubah masyarakat yang kasar dan keras ini menjadi masyarakat yang indah, yang dari mereka terlahir para pemimpin luar biasa, dan lahir sebuah negara besar yang juga luar biasa, tentunya Islam pasti akan bisa mengubah bentuk masyarakat di luar jazirah Arab yang tidak serusak orangorang Arab Badui.

Islam telah diujicoba dalam sebuah masyarakat yang disebut oleh Allah sangat kafir dan sangat munafik, dan Islam berhasil mengubah mereka menjadi masyarakat baru.

Tentunya hanya Islam pula yang sanggup untuk mengubah negeri ini dari keadaan yang rusak dan bobrok, menuju keagungan dan kemuliaan. Perjuangan dan perubahan terletak di dalam genggaman tangan kita, generasi Islam.[]

Bulan sabit di medan perang

islam punya orang-orang hebat yang  amat menakjubkan di sepanjang sejarahnya. Di bidang militer, sosok yang  paling menonjol adalah, tak lain dan tak bukan, Khalid bin Walid. Ia adalah seorang jenderal besar yang telah membawa pasukan Islam memenangkan berbagai pertempuran.

Sehingga Rasulullah menggelarinya “Pedang Allah yang Terhunus” (Sayfullah al-Maslul), dan gelar ini bukan gelar omong kosong.  Prestasi besar Khalid bin Walid bukan cuma dikagumi oleh kaum Muslim, tetapi juga oleh orang kafir. Zahid Ivan Salam, dalam sebuah karyanya, mengatakan bahwa seorang Jenderal Nazi Jerman, Erwin Rommel, mencontek strategi perang Khalid dan itu membuatnya selalu menang dalam pertempuran melawan sekutu di front Afrika.

Di edisi ini D’Rise pengen ngebahas salah satu strategi perang Khalid bin Walid yang diterapkannya di Perang Walaja melawan Persia. Strategi ini biasa disebut taktik ‘Bulan Sabit’. Perang Walaja terjadi pada bulan Mei 633 Masehi di sebuah daerah bernama Walaja (sekarang Irak). Waktu itu jumlah pasukan Islam hanya 15.000 prajurit, sementara jumlah pasukan Persia lebih banyak tiga kali lipatnya. Pasukan Persia dipimpin oleh seorang jenderal bernama Andarzaghar, pasukan Islam tentu saja dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Andarzaghar dengan pongah sesumbar bahwa dia akan mengalahkan pasukan Islam. Dia menetapkan sasaran  untuk tiba di Walaja lebih dahulu daripada pasukan Islam. Sayangnya, pasukan Persia bergerak amat lambat karena membawa peralatan perang yang berat. Pasukan Islam mendahului pasukan Persia tiba di Walaja.

Berdasar informasi dari agen rahasia yang disebar oleh Khalid bin walid, diketahuilah bahwa pasukan Persia berjumlah lebih banyak dari pasukan Islam, maka Khalid pun memasang strategi. Ia memerintahkan pasukannya berkemah di sekitar Walaja sambil terus mengawasi medan. Akhirnya terlihatlah pasukan Persia datang berduyun-duyun dengan seluruh peralatan perang mereka yang berat. Lokasi perang Walaja ini adalah sebuah padang rumput yang luas, yang berada di antara dua lereng bukit yang tingginya 20 sampai 30 kaki.

Saat Khalid melihat pasukan Persia sudah memasuki medan perang, ia menyaksikan bahwa kebanyakan pasukan Persia adalah infanteri (pasukan jalan kaki), dan jumlah kavaleri (pasukan berkuda) Persia jauh lebih sedikit daripada pasukan kavaleri Muslim. Jumlah kavaleri Muslim adalah 5.000 personil, dan Khalid membagi pasukan ini menjadi dua detasemen.  Pada malam sebelum pertempuran, Khalid memerintahkan kedua pasukan berkuda ini untuk bergerak ke belakang lereng bukit itu.

satu detasemen di belakang bukit sebelah kanan, dan sisanya di belakang lereng bukit sebelah kiri. Khalid menempatkan pasukan berkudanya di belakang barisan pasukan Persia tanpa sepengetahuan mereka. Khalid memerintahkan mereka untuk tetap bersembunyi di belakang kedua lereng bukit itu dan hanya menyerang jika diberi tanda. Pertempuran pun dimulai. Andarzhagar menerapkan strategi bertahan pada awal peperangan itu.

Dia amat percaya diri dengan kekuatan pasukannya, dan dia berharap pasukan Islam akan cepat kehabisan tenaga dan kelelahan. Barulah setelah itu dia akan melancarkan serangan balasan dan menghancurkan pasukan Islam sekaligus. Khalid memerintahkan pasukannya untuk berhadap-hadapan dengan pasukan Persia dan menyerang dengan sengit.

Mereka berjihad di jalan Allah dengan gigih. Benar saja, pasukan Persia punya pertahanan yang cukup kuat, walaupun pasukan Islam terus menekan, mereka tetap bisa bertahan. Maka tiba-tiba Khalid memerintahkan pasukannya untuk mundur perlahan-lahan.

Bagian tengah pasukan Islam pun mundur, dan terus mundur, hingga perlahan-lahan bentuk barisan pasukan Islam jadi melengkung seperti bulan sabit (karena yang diperintahkan mundur hanya bagian tengah saja, pasukan sayap diperintakan untuk tetap mempertahankan posisinya, dan bahkan meluaskan jangkauan). Andarzaghar melihat pasukan Islam mundur, dan dia seolah menyaksikan kesempatan emas. Dia melancarkan serangan umum untuk mengejar pasukan  Islam dan menghancurkannya sekaligus.

Pasukan Persia pun mengejar pasukan Islam. Saat itulah pasukan Persia masuk ke dalam jebakan pasukan Islam. Dengan semakin dalam mengejar pasukan Islam, Pasukan Persia makin terjebak di dalam lengkungan berbentuk bulan sabit yang dibuat pasukan Islam, sehingga mereka hampir terkepung oleh pasukan Islam. Saat itulah Khalid memberi tanda kepada pasukan kavaleri yang berada di balik kedua bukit itu.

Sekonyong-konyong pasukan kavaler Muslim bergerak dengan sangat cepat dari balik bukit dan memukul bagian belakang pasukan Persia. Formasi bulan sabit itu pun ditutup dengan datangnya pasukan kavaleri Muslim dari balik bukit, membuat pasukan Persia terjebak dalam lingkaran pasukan Muslim. Mereka dikelilingi pasukan Muslim dan tidak ada lagi tempat melarikan diri.

Saat itulah pasukan Persia digempur dan dihabisi. Dan kemenangan pun kembali diraih para kesatria Muslim. Khalid bin Walid kembali berhasil membawa pasukan Islam pada kemenangan, namun mereka yakin bahwa semua ini adalah karunia Allah ‘azza wajalla.[]