Cukai Rokok Naik Bikin Panik

Isu kenaikan cukai rokok bikin belingsatan beberapa pihak yang berhubungan dengan industri rokok. Gimana nggak,  kalo cukai rokok jadi naik alamat harga sebungkus rokok juga ikut tergeret naik. Di satu sisi, naiknya harga rokok bagus untuk mengerem para perokok pemula yang koceknya pas-pasan. Tapi di sisi lain, industri rokok dan petani tembakau meradang. Berikut sebuah catatan menarik dari seorang penulis beken, Tere Liye di halaman facebooknya tentang kenaikan cukai rokok. Yuk simak!

Apakah cukai rokok naik, maka buruh pabrik rokok akan dipecat?  

Jawabannya, bisa iya, bisa tidak. Tapi yang pasti, tanpa kenaikan cukai rokok, buruh pabrik rokok memang sudah dipecatin. Tahun 2014, Sampoerna memPHK 4.900 buruhnya, Bentoel menutup 8 pabriknya (dari 11, sisa 3), juga mem PHK ribuan karyawan, Gudang Garam mem-PHK 4.000 lebih buruhnya. Belum terhitung pabrik2 lainnya. Perusahaan beralih ke mesin. Yang tidak perlu digaji tiap bulan, yang produktivitasnya tinggi, yang cepat dan efisien.

Itu fakta semua, loh. Perusahaan rokok peduli sama buruh? Hehe, kalian naif jika percaya 100%. Di mana2, bisnis adalah bisnis. Dulu, klaim tentang 6 juta tenaga kerja bekerja di industri rokok mungkin masuk akal, tapi please, silahkan buka data terbaru, berapa persen yg telah di PHK dan digantikan oleh mesin?

Apakah cukai rokok naik, maka petani tembakau akan kehilangan pekerjaan?  

Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak. Tapi yang pasti, tanpa kenaikan cukai rokok, petani tembakau Indonesia memang perlahan tapi pasti telah tersingkir. Tahun 2011, menurut data dari Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), impor tembakau Indonesia hanya 64,8 ribu ton. Setahun kemudian, 2012, nilainya melesat tidak terkendali 104,4 ribu ton. Dan naik lagi tahun 2013, sebesar 133,8 ribu ton.

Kebutuhan industri  tembakau Indonesia itu ada di angka 250rb ton per tahun, itu berarti, separuh lebih tembakau diimpor dari luar negeri. Bisnis adalah bisnis, jika tembakau luar negeri lebih murah, ngapain pabrik rokok harus beli tembakau petani Indonesia?  

Harga tembakau?

 Wah, ijinkan sy  memberitahu, di China, harga tembakau bisa 1-2 dollar/kg. Di Indonesia saat ini diangka  34.000 – 47.000/kg, dan petani sudah megap-megap dengan harga segitu. Dulu, idealnya harga tembakau adalah 80.000120.000/kg. Tapi bagaimana mau jadi 120rb? China mau dilawan? Silahkan lawan harga tembakaunya yg hanya 14.000/kg.

 Tambah biaya logistik, dll, itu tembakau sampai di Indonesia cuma 20-30rb/kg. Pembela rokok itu koar2 bilang ada 6 juta petani tembakau di Indonesia. Ah masa’  sih? Kok bisa produksi tembakau-nya cuma 170.000 ton per tahun saja? Lahan tembakau saja semakin berkurang, paling tinggal 190.000 hektare, karena petani mulai mikir menanam tanaman lain.

Apakah pabrik rokok memang peduli dgn petani Indonesia? Peduli dgn buruh pabrik?  

Waduh, sy lebih suka melihat faktanya saja. Yang saya tahu, sejak jaman dulu, hingga jaman mobil terbang, juga kejadian di negara2 maju (sebelum pabrik rokok terpaksa menyingkir ke negara berkembang karena perokoknya berkurang), ‘petani’ dan ‘buruh’ memang menjadi argumen yg paling seksi sebagai tameng.

Hingga kita lupa, Sampoerna, untung setahunnya bisa 10 trilyun loh. 10.000.000.000.000, tuh nol-nya banyak banget. Kalau gaji kalian dikantor ‘cuma’ 10 juta per bulan, kalian butuh 1.000.000 bulan untuk dapat uang ini. Pemilik perusahaan rokok tajir super gila, sekali tepuk dapat untung 10 trilyun, nasib ‘6 juta’ petani tembakau cuma dapat remah-remahnya, ‘6 juta’ tenaga kerja pabrik rokok cuma dapat ampasnya saja.

Kita bahkan belum bicara tentang berapa besar biaya kesehatan yg harus dikeluarkan gara2 rokok. Kita bahkan belum bicara jutaan remaja usia SMP, SMA, tergoda merokok. Kita belum bicara biaya2 berobat akibat penyakit rokok. Saya tahu, kalian tidak akan percaya rokok itu penyebab penyakit kanker, jantung, dll. Saya tahu banget, setahu bahkan ada perokok yg percaya merokok itu baik untuk kesehatan.  

Tetapi lewat tulisan ini, ijinkanlah sy berterus-terang: Sy tidak peduli kalian mau terus merokok atau berhenti (bahkan i dont care kalian mau mati atau sehat gara2 rokok). Yg saya peduli, di page ini, 2/3 anggotanya adalah remaja, merekalah tujuan sy menulis. Saat mereka memikirkan tulisan ini, akan lahir jutaan generasi baru yg tahu persis jika merokok itu tidak bikin jantan, macho, cowboy, dsbgnya, merokok itu justeru bikin impoten. Jadi tidak perlu GR ngamuk2 nulis komen marah, tulisan ini bukan untuk kalian. 🙂 *Tere Liye

Ngerokok kelar Hidup loe!

…Aku bukan menakutnakuti kalian. Saya cuma berkata kami adalah contoh
korban kenikmatan rokok yang mengisi waktu luang biar kita nggak stres.
Dan rasanya mantab setelah habis makan…” begitu tulisan Robby di laman
akun media sosialnya.

Robby, lengkapnya Robby Indra Wahyuda. Cowok kelahiran 12 Oktober 1988 ini mulai aktif ngepulin  asap rokok sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Akibatnya, doi divonis mengidap kanker larynk. Kanker tenggorokan akibat ngerokok sejak usia muda. Parahnya, kanker yang diidapnya sudah stadium 3. Sehingga dia terpaksa harus kehilangan pita suaranya. Nggak bisa bicara padahal dia salah satu vokalis band. Ngeri! Robby nggak tinggal diam.

Sejak Oktober 2014, Robby terlibat dalam kampanye anti rokok. Usai menjalani operasi yang meninggalkan lubang di tenggorokan akibat diangkatnya pita suara, Robby kemudian giat berkampanye antirokok. Dia kerap mengunggah fotofotonya di media sosial untuk menunjukkan betapa bahayanya dampak yang ditimbulkan rokok terhadap kesehatan.  Sampai akhirnya, kabar duka datang hari Selasa, 23 Juni 2015.

Di usianya yang menginjak 27 tahun, Robby menghembuskan napas terakhir setelah berjuang keras melawan kanker larynk dan paru-paru akibat kebiasaannya merokok.  Nggak cuman Robby, dari dulu rokok udah memakan banyak korban. Anggota Tim Monitoring Iklan rokok di sekitar sekolah  Hendriyani, mengatakan, sekitar 200 ribu orang di Indonesia meninggal dunia karena sakit yang disebabkan rokok.  

Parahnya, Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok aktif terbanyak ketiga di dunia. Diperkirakan terdapat 66 juta perokok aktif di Indonesia, dan 3,9 juta diantaranya adalah anak berusia 10 sampai 14 tahun. (republika.co.id, 15/06/15) Waduh!  

Rokok Kian Menjerat Remaja

Ngerokok alias ngudud bin nyemok  udah jadi rutinitas di sekitar kita. Nggak  mandang usia, status sosial, status pendidikan, atawa jenis kelamin, rokok  temenan ama siapa aja. Nggak di kampus, warteg, sekolah, dalam rumah, atau toilet, asap rokok pun ngebul dimana-mana. Padahal dulu, nggak sembarang orang bisa ngerokok.  

Waktu di SMP, temen-temen pada ngumpet di belakang sekolah pas jam istirahat agar bisa ngisep rokok. Satu batang dikeroyok rame-rame biar cepet abis dan irit. Abis itu, pada beli permen penyegar mulut untuk ngilangin bau asbak, eh rokok. Padahal mah, boro-boro wangi. Apalagi kalo dari pagi belon sikat gigi. Rokok + permen + ‘bau naga’. Whueks..!

Menurut data terbaru Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2014, 18,3 persen pelajar Indonesia sudah punya kebiasaan merokok, dengan 33,9 persen berjenis lakilaki dan 2,5 persen perempuan. GYTS 2014 dilakukan pada pelajar tingkat SLTP berusia 13-15 tahun. GYTS 2014 juga menunjukkan bahwa sebagian besar perokok pelajar tersebut masih merokok kurang dari lima batang sehari. Tapi, ternyata 11,7 persen perokok pelajar laki-laki dan 9,5 persen pelajar perempuan sudah mulai merokok  sejak sebelum usia 7 tahun.

Itu kan setara  kelas 2 SD! (cnnindonesia.com, 31/05/2015) Berdasarkan penelitian di Universitas Andalas, motivasi anak merokok di usia dini adalah coba-coba, pengaruh teman, untuk meningkatkan kepercayaan diri ketika bergaul dengan teman, teladan orang tua, dan ingin terlihat lebih gagah kaya dalam iklan ( Jambi Online,11/01/03).

Rupanya tren merokok bagi remaja kian menjadi tuntutan pergaulan. Terutama kalangan anak cowok. Kalo ada temennya yang anti rokok,  dibilang banci. Walhasil, ada rasa gengsi dan malu kalo mulut nggak ikut ngebul pas lagi kumpul bareng. Tetep pede meski diselingi batuk-batuk dikit. Maklum pemula!

Nggak cuman anak cowok, remaja putri juga mulai banyak yang deket ama lintingan tembakau. Sebuah riset menemukan, rata-rata remaja merokok agar berat badannya turun dan langsing! Riset ini dirilis oleh Profesor Jenny O’Dea dari Universitas Sydney, Australia seperti dilansir ABC News Online, Rabu (13/7/2005).

Keinginan ingin langsing itu diakui oleh 3% remaja perokok berusia 11 hingga 14 tahun dan 7% pada gadis muda sekitar 20 tahun yang dirisetnya (Detik.com, 13/07/05). Makin lengketnya remaja dengan rokok banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lantaran mereka hidup diantara para perokok aktif.

Di rumah, bokap sering keliatan asyik ngepulin asap rokok sehabis makan atau selagi santai. Di sekolah, mulai dari tukang dagang sampe guru pun nggak ketinggalan merokok. Akhirnya, aturan larangan merokok dari guru atau ortu dianggap angin lalu. Ya iyalah, wong yang bikin aturannya sendiri ngerokok.

Masuk akal dong kalo anak didik ikut meniru. Betul? Pancingan untuk jadi perokok bagi remaja juga datang dari industri rokok. Tiap hari remaja dicekokin oleh iklan rokok yang menggoda dengan label keren, macho, en bikin confident. Menurut riset yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2006, sebanyak 9.230 iklan rokok terdapat di televisi, 1.780 iklan di media cetak, dan 3.239 iklan di media luar ruang, seperti umbul-umbul, papan reklame, dan baliho (Kompas, 09/11/07).

Hasilnya, penelitian Komnas Anak Jakarta menunjukan bahwa 99,7% remaja Jakarta terpapar iklan rokok lewat televisi; 36,7% terpapar iklan baliho di jalan dan media cetak; dan 81% pernah menghadiri kegiatan yang diselenggarakan atau disponsori industri rokok. Dan sialnya, justeru kegiatan remaja yang paling banyak didukung sepenuh hati oleh industri rokok. Lantaran bagi produsen rokok, remaja adalah calon pelanggan tetap di hari esok.

Dukungannya juga nggak setengah-setengah, dari promosi acara hingga pembagian rokok gratis di ‘TKP’. Otomatis makin tak ada alasan bagi remaja untuk ‘musuhan’ ama rokok. Padahal kalo udah kecantol ngerokok, susah berhentinya.

Awalnya tuntutan pergaulan, terus jadi kecanduan. Lantaran dalam rokok ada kandungan nikotin yang bersifat adiktif alias bikin ketagihan. Bawaannya mulut asem kalo sehari nggak ngerokok. Apalagi rokok dijual bebas. Dengan modal 2000 perak aja bisa dapet sebatang. Atau kalo lagi cekak, banyak temen yang nawarin gratisan. Gimana bisa berhenti kalo kebutuhannya selalu terpenuhi dengan mudah dan murah!

Rokok dan Kesehatan Kita

Label peringatan akan bahaya rokok  jelas-jelas tercantum di bungkus rokok meski dengan tulisan kecil. Tapi kayanya, ditemukan pada aki mobil; karbon monoksida yang ditemukan pada asap knalpot mobil; serta toluen yang juga dipakai sebagai pelarut industri. Gile bener, emangnya tubuh kita tempat sampah? Selain kanker paru-paru, kebiasaan ngerokok juga ngasih efek buruk pada kesehatan gigi dan mulut.

Lidah jadi susah ngerasain rasa pahit, asin, dan manis, karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa (tastebuds) akibat tumpukan hasil pembakaran rokok yang berwarna hitam kecoklatan. Jumlah karang gigi yang bisa bikin gusi berdarah pada perokok cenderung lebih banyak daripada yang bukan perokok.

Gigi dapat berubah warna karena tembakau. Dan perubahan mukosa (selaput lendir) akibat merokok menyebabkan kanker mulut (Gizi.net, 06/03/2003) . Bahkan kebiasaan ngerokok mengancam kesehatan organ seksual. Untuk cowok, bisa mengalami disfungsi ereksi alias impotensi kalo udah tua. Makalah ahli jantung dari RS Jantung Nasional Harapan Kita, Dr. Santoso Karo Karo, SpJP., menyebutkan rokok meningkatkan risiko terkena disfungsi ereksi hingga 50% -terutama berkaitan dengan masalah pada pembuluh darah (Rileks.com, 18/02/03) .

Sementara wanita yang saat remaja diketahui menjadi penghisap rokok dikemudian hari akan mengalami resiko 21% terkena kanker payudara bila dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok. Demikian hasil penelitian Dr Janet E Olson dari Mayo Clinic College of  Medicine di Rochester Minnesota (AS) yang dipublikasikan dalam ‘the journal, Mayo Clinic Proceedings’ ( JakNews.com, 16/12/05).

Saking banyaknya dampak buruk rokok bagi kesehatan kita, nggak heran kalo setiap tahunnya angka kematian yang diakibatkan berbagai penyakit yang disebabkan rokok, seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung terus meningkat. Di Indonesia sendiri, menurut Demografi Universitas Indonesia, sebanyak 427.948 orang meninggal rata-rata  per tahunnya.

Dan angka kematian ini secara keseluruhan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi 10 juta orang di tahun 2030, dengan jumlah korban terbanyak berasal dari negara berkembang. Demikian menurut data Organisasi Paru Internasional (World Lung Foundation/WLF) (Kompas.com, 02/02/03) .

Driser, masa iya sih kita masih anggap omong kosong bahaya rokok terhadap kesehatan kita. Jangan tertipu ama produk rokok rendah tar dan nikotin yang menyesatkan. Bahaya rokok nggak jadi berkurang dengan diturunkannya kadar tar dan nikotin. Yang ada, merokok produk ini cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama. Bisa-bisa kita jadi awet muda alias nggak akan pernah tua lantaran keburu tutup usia selagi belia. Masih ngeyel ngerokok? Kelar hidup loe! [@Hafidz341]

Cowok Ganteng di Negeri Homo

Ini dia satu lagi karya unik dari seorang kru D’Rise, Sayf Muhammad Isa, sebuah buku berjudul Cowok Ganteng di Negeri Homo.  Dari judulnya aja udah mengundang tanda tanya, emangnya lagi ngapain itu cowok ganteng di negeri homo?

Kok beraniberaninya sih berkunjung ke negeri homo? Apa nggak takut digodain sama para homo? Ini judulnya beneran apa cuman kiasan aja sih? Nah tentunya pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul jika kita membaca judul buku ini.

Cowok Ganteng di Negeri Homo ternyata adalah sebuah kenyataan sejarah lho. Itulah yang diceritakan oleh Sayf di dalam karya terbarunya ini. Pada zaman dahulu kala, pernah ada sebuah negeri yang penduduknya kufur kepada Allah. Selain kufur, mereka pun menjadi pelopor sebuah perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka, homoseksual. Negeri itu adalah negeri Sodom (Arab: Shadum).

Sebagaimana diungkapkan oleh Alquran, Allah Swt. mengutus nabi Luth untuk menyadarkan kembali penduduk negeri Sodom. Sayangnya, kebanyakan dari mereka lebih memilih tetap tenggelam dalam hawa nafsu mereka yang bejat itu. Allah pun mengirimkan tiga orang malaikat yang menyamar menjadi cowokcowok ganteng untuk mengabarkan kepada  nabi Luth bahwa azab akan segera  diturunkan kepada mereka.

Bukan cuma mengutip informasiinformasi dari Alquran, Sayf juga mengutip penelitian ahli bumi dan ahli sejarah tentang bagaimana azab yang sangat mengerikan itu ditimpakan kepada kaum Sodom. Dengan memaparkan kisah-kisah ini, semoga ada hikmah berharga yang bisa dipetik, bahwa setiap tindakan pelanggaran terhadap syariat pasti akan ada konsekuensinya, jika bukan di dunia maka di akhirat.

Ada banyak kisah  di dalam buku ini, yang tentunya  dimaksudkan untuk dipetik hikmahnya. Beberapa diantaranya  adalah bagaimana kisah terjadinya pembunuhan pertama;  kisah Iblis yang terusir dari surga; kisah seorang putri yang gemar mandi darah; kisah kejeniusan Imam Syafi’i yang berhasil menganalisis dan menuntaskan sebuah kasus, seperti detektif; kisah seorang wanita cantik yang berhasil mengacaukan sebuah kerajaan; dan banyak lagi kisah lainnya.

Syarbaini Abu Hamzah yang dahulu lebih dikenal sebagai Abay Abu Hamzah pun terlibat dalam penggarapan buku ini dan menuangkan pula kisah-kisahnya. Makin lengkaplah karya ini untuk dipersembahkan kepada generasi Islam agar semakin waspada dalam menjalani kehidupan.

Dari pengalaman orang-orang di masa lalu itulah kita akan mendapatkan pelajaran berharga, bahwa ketaatan dan kesabaran pasti akan berbuah manis, dan pembangkangan pasti akan berbuah bencana besar. Dari dulu memang seperti itu!

Judul: Cowok Ganteng di Negeri Homo

Penulis: Sayf Muhammad Isa dan

Syarbaini Abu Hamzah

Penerbit: Mabda’ Publishing

Tebal: 210 halaman.

Harga: Rp. 39.000

Pemesanan ke 0898 2700 920 (Dian)

i am Pround To be A Moslem

London & Ramadan Mubarak

Gambar-gambar ini bukan foto di  Ramayana Department Store. Ini foto dari beberapa Hypermart di London, seperti Supermarket ASDA dan Sainsbury, yang udah sejak awal Mei pasang plang “Ramadhan Mubarak”.

Nggak jauh-jauh yang dipromokan juga mirip-mirip ala Indonesia. Sebut saja, Sirup ABC ala Londoners, minyak goreng, sembako, dan lainnya. Nggak ketinggalan NHS (Departemen Kesehatan-nya Inggris) memanfaatkan momentum Ramadan untuk kampanye stop rokok dengan menempel poster-poster Ramadan di toko-toko. Warning, Budaya kita mulai dicuri bule Gan!!! Hehe. Untung mereka nggak doyan pasang mercon. Hayo selamatkan Ramadan sampai hari terakhir. Marhaban Yaa Ramadan.

Inferiority Complex

Cerita hari ini rada sedih. Saya  ditugaskan buat jaga satu stand Indonesia di dekat icon utama kota london, yaitu London Bridge. Para pemilik stand pameran minta ada penjaga dari mahasiswa Indonesia untuk membantu komunikasi dengan pengunjung. Pas sampai disana, pemilik stand, yang namanya berbau Sunda, disana tampangnya terlihat asem begitu saya datang. Satu kawannya, seorang cewek, bertanya, “Mas ikhwan ya?”.

Hah, emangnya kenapa pikir saya. Lalu nggak berapa lama, satu mahasiswi yang akan berganti shift dengan saya mengajak bicara. “Mas, bapak itu maunya stand dijaga perempuan”. Okeylah, mungkin saya bisa ajak tukeran dengan  kawan lain. Pas sudah cari-cari, eh ternyata  nggak ada yang bisa diajak tukeran. Baliklah saya ke pemilik stand dan saya sampaikan bahwa tidak ada pengganti penjaga wanita. Dengan “cold blood” dia bilang, “Ya udah saya sendiri aja, Mas”.

Saya perhatikan gerak-geriknya, lho kok rada melambai!!! Pahamlah saya alasan sebetulnya dibalik penolakannya. Orang  macam gini biasanya baru pontang-panting cari makhluk berjenggot pas menjelang sakaratul maut, sekalian minta disolatin jenazah. Kita nggak usah heran.  Lebih menyedihkankan lagi, buat transport ke lokasi acara saja secara normal sehari ini bisa habis 10 pound (silakan kalikan dengan rupiah).

Kok iya membatalkan sepihak dengan alasan yang dibuat-buat. Istri saya nasibnya lebih baik, meskipun nampaknya juga kurang diterima lantaran berjilbab dan bergamis lebar. Pemilik stand kain batik tempat dia berjaga kurang ramah melihat penampilannya. Tapi satu yang ajib ya ikhwan, wanita-wanita bule lebih banyak menghampiri istri saya dan tanpa canggung bertanya panjang lebar tentang batik selama berjam-jam ketimbang nyamperin penjaga dari kalangan mahasiswa yang seksi-seksi. Subhanallah.

Saya heran, tapi tidak terlalu heran. Orang-orang asli Inggris sangat ramah, jauh lebih welcome dari orang Indonesia sendiri terhadap muslim berjilbab, bercadar, berjenggot, dan bergamis. Itu pengalaman saya membandingkan hidup di Indonesia, Jerman, dan Inggris. Kampus saya sendiri berusaha menghindari jadwal kuliah sampai bentrok sama shalat jumat, demi menghormati kaum muslimin. Kampus menerbitkan angket pertanyaan tentang waktu-waktu apakah Anda ingin kuliah tidak ada karena alasan relijius.

Minggu lalu pihak kampus meminta saya mengajar satu hari kuliah animasi 3D untuk  bulan Juni ini khusus untuk mahasiswa PhD. Mereka bertanya, menu makanan apa yang saya inginkan setelah saya ngajar agar bisa disiapkan kampus. Saya jawab bulan Juni saya puasa Ramadhan, jadi nggak perlu nyiapin menu buat saya. Diluar dugaan, staff kampus tersebut membalas bahwa dia tahu lalu ikutan puasa Ramadhan juga, padahal beliau non muslim.  

Acara yang diselenggarakan kementrian KUKM ini kalo mau jujur, sangat membuat kita malu. Tidak satu pun acara begini berani menampilkan identitas kita sebagai negara muslim terbesar. Saya datang ke KBRI Jerman, melulu isinya arca dan patung Bali.

Sampai-sampai seorang bule muallaf Jerman ketika saya temani untuk mengurus visa Indonesia di Berlin bertanya dengan heran, “Zico, negaramu ini betulan negara muslim???”. Saya jawab, Ya.  “Kenapa ada patung-patun dewa ini di embassy kamu?” sahutnya.  Saya terdiam nggak bisa jawab. Pertanyaannya sangat menohok. KBRI yang seharusnya jadi simbol yang menggambarkan wajah utama negeri Indonesia dan penduduknya, jadi diwakili oleh gambaran tanah secuil yang orang namai pulau Bali.

Dan patung-patung itu bukanlah representasi penduduk Indonesia. Dan bule ini bertanya tepat di simbol tersebut. Silakan survey, berapakah banyak penduduk Indonesia yang dirumahnya  menyimpan arca Bali dibanding penduduk Indonesia yang di rumahnya menyimpan Al-Quran? Apakah arca Bali ini mewakili gambaran mayoritas Indonesia?  Saya injakkan kaki di KBRI London, yah mirip-mirip juga nasibnya dengan KBRI Berlin.

Meski saya tahu sebagian karyawan KBRI disana sudah menjalankan ibadah haji.  Inferiority complex. Rasa malu dengan indentitas. Urusan identitas begini, saya lebih salut sama manusia yang asalnya dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Jumlah mereka bejibun di London. Mereka sukses taklukkan London. Orang-orang kaya penguasa ritel di London adalah mereka. Bahkan mereka pilih sendiri Gubernur mereka untuk London, Sadiq Khan!!! Sukses mereka bukan dengan menanggalkan identitas mereka. Bukan. Mohon maaf bangsaku. Mereka ini puluhan tahun seliweran di London dengan mengenakan peci, gamis, dan wanitanya sebagian malah bercadar.

Nggak malu mereka dengan identitas. Sering saya melihat seorang yang saya kira dia Imam mesjid, karena air mukanya nampak seperti orang saleh dan berjenggot lebat. Ternyata dia seorang polisi, lengkap dengan pistol dan lencananya. Sejumlah petugas pemerintah di London ini nggak canggung sehari-hari bekerja dengan memakai peci. Mulai dari petugas kereta api, bis, pengatur lalu lintas dan lainnya. Daerah Barking tempat saya tinggal beberapa minggu lalu lebih ganas.

Cuman jarak radius 1 kilo dari rumah terdapat 5 mesjid ke segala arah penjurunya. Restoranrestoran ayam “KFC” India dan dan toko  daging halal bertebaran. Mereka nggak canggung pasang tulisan ayat Al-Quran  selebar plang Toko. Kadang gede-gede ditulis kalimat syahadat persis didepan pintu kaca restoran.

Toko daging halal dekat rumah saya unik lagi, Murattal disetel sangat nyaring di toko tersebut. Anda pernah lihat pemandangan tersebut di pasar-pasar Indonesia? Buat shalat jumat di mesjid terdekat rumah saya, saya harus tiba satu jam sebelum khutbah dimulai jika ingin kebagian tempat solat di dalam mesjid. Kalo nggak, pasti saya salat di halaman mesjid, padahal mesjidnya 3 tingkat. Kalo apes, saya terpaksa ikut jumatan kloter kedua sejam kemudian.

Sembari memperhatikan tingkah  bangsa kita di pameran ini, tiba-tiba saya disampiri seorang security. “Are you an Indonesian?”.. “Are you an Imaam here”. “No, I am just visitor”. Hah, justru, sang sekuriti dengan jenggotnya dan jambangnya yang lebat itu jauh lebih pas sebagai imam dari pada saya. “Where are you come from”, tanyaku. “I was born here, but my parents came from Bangladesh”. Saya katakan dalam bahasa Bangladesh “Vallo Achi (Apa kabarmu?)”.  

Kaget si Bangladesh ini dengan sapaan saya dalam bahasa ibunya. Ini emang kunci untuk mencairkan hati orang Bangladesh. Tapi saya pun nggak kalah kaget. Seorang yang lahir di negara Inggris, tapi nggak kagok sama krisis identitas.  “Saya malu dengan Bangladesh. Disana mesjid banyak dan azan terdengar dimana2, tetapi mesjid sepi. Di Inggris, azan tidak terdengar, tapi salat jamaah di mesjid selalu penuh”.  “Sialan!!!” pikir gw dalam hati. Itu mah Indonesia banget.  

“Muslim Indonesia jauh lebih baik dari Muslim Bangladesh”, ujarnya penuh semangat. Tetes air segede kepala turun dikepala saya, persis kayak Nobita diceramahin Suneo. Puas lihat gonjrang-gonjreng, tari-tari, dansa-dansi, dan segala aksi ala Guruh Soekarno Putra di pameran Indonesia, seorang turis mendekati saya, “Are you Indonesian?”.

 “Yes”, I said. “Apakah acara seperti ini rutin diadakan  setiap bulan?”, tanyanya. Setelah menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya, “Where are you come from”. Dijawab, “Saudi!”. Oh great, mari kita buka kunci hati orang ini.  “Ah, takallamta bi lughatil arabiyah ( Jadi kamu berbicara dengan bahasa Arab)”. “Naam”. “Fushah (Fasih dalam Bahasa Arab Asli)?”, tanyaku.

“Aiwah”, katanya. Benar saja dia terlihat senang ada orang  Indonesia bicara dalam bahasa dia. Celakanya dia mulai menyangka bahasa Arab saya level native. Lalu dia bicara dengan cepat dan bertanya macam-macam. Untung dia pakai bahasa Arab asli.

Umumnya kawan-kawan kami dulu orangorang Arab Maroko dan Aljazair bicara  dengan bahasa arab dialek darijah atau dialek alien lain.  “Apa rencanamu jika selesai kuliah disini nanti?”, katanya Saya balas, “Orang-orang Indonesia butuh orang seperti kami sebagai pengajar dalam bidang komputer dan sains”. Dalam hati gue mikir nasibnya Dr. Warsito, Ricky Elson, dan jenius lain yang harus kick ass dari Indonesia, ato nggak kudu ngajar di mana aje ada kampus yang metromini lewat didepannya. Tapi udah telat rasanya mo coba eksis di jalur artis.

“Nak, apakah kamu sudah mendakwahi orang-orang disini?”, katanya. Wah, pertanyaan berat ini. Saya jawab sebisanya terkait kegiatan kaum muslimin Indonesia di London. Orang seperti kamu harusnya  ngajar di Saudi. Allah akan memuliakanmu. Negara kami akan sangat memuliakanmu. Saya berdoa semoga kuliahmu dan istrimu segera selesai dan bisa bermanfaat bagi bangsamu. Nggak lama beliau pun pamit. Lalu menjelang maghrib, tibalah waktunya pulang. Security Bangladesh itu menghampiri,  “Brother, will you again tomorrow?”.

 “I will, Insha Allah”. Dan beliau pun  nampak senang. Saya habiskan sisa hari berdua istri  melihat-lihat London Bridge yang indah ini dengan lampunya yang warni-warni. Malamnya bahkan jembatan ini nampak jauh lebih indah. Ternyata, tidak perlu krisis identitas untuk dihormati orang. Bahkan waktu kita malu dengan identitas bangsa, itulah nampak mental asli kita sebagai negara bekas jajahan.