Rayah di tanah Suriah

Langit masih memerah. Perang masih berdarah-darah. Berkecamuk meski matahari sudah di ufuk. Ledakan,  jeritan, desingan, dan rentetan peluru masih membayang-bayang. Hari kian senja ketika sang surya berada di peraduannya.

Dan langit timur sudah membiru hampir manghitam seluruhnya.  “Allaahu Akbar..! Allaahu Akbar…!!”, pekik seruan itu masih menggantung di telingaku. Disamping suara bom yang menggelegar, menghantam, menghancurkan. Meskipun begitu, aku masih berada di pos jagaku, di garda belakang.  

“Tapi.., oh tidak.”, seorang teman yang berbicara dari jauh sana meninggalkan suara seperti kaset rusak, malang, lantas diiringi suara ledakan yang jelas kami dengarkan.  Salim menggeleng. Melepas tombol handytalknya. Dia menelungkup-kan muka di tangan, menyedihkan. Kami menatap wajahnya, muram.

Ternyata posisi kami dalam kepungan. Di garda depan, satu regu mungkin sudah diledakan oleh para serdadu.  “Tak ada pilihan…”, Salim mengadah, wajahnya dikeruhkan. “kita harus maju ke depan. Tak ada pilihan selain menyerang.”ia mengangkat senapan.

Lantas berpaling. “dan bukankah di sini,, kita mencari kesyahidan?” Bulu kuduku bergetar. Tapi, ia benar. Walaupun aku ragu ketika mendengar ledakan-ledakan menggelegar. Sniper Hatclif yang kupegang serasa ikut bergidik. Entah, apakah nanti ia diam saat membidik.  

 “Jadi, kita keluar?”, tanyaku ragu. Semua terdiam. Salim mengangguk yakin mengiyakan. Sebagai pimpinan, dia memang penuh keberanian. “Tapi Salim, bukankah kita kita ditugaskan di bagian berta..,” “Diam!!”, bentaknya keras.

Dengan wajah menatap tajam. “Tidakkah cukup keadaan disana sebagai sirine untuk menyerang? Itu sama saja dalam perang!”. Matanya melotot, nafasnya ngos-ngosan, jarinya menunjukku tajam. “Kita harus tetap maju, dan terus bertahan.”,dia menjelaskan, lagi-lagi wajahnya muram. Kami mengambil langkah dalam ragu dan bimbang tak menentu. Meskipun kami dari garda belakang.

Para pengecut yang tak hafal Al-Qur’an.  Aku menelan ludah. Yang benar saja, kami harus berhadapan langsung dengan mesin pembunuh milik bangsa babi dan kera. Tak ada pilihan lain, suasana sudah genting. Maka kami mempercepat langkah dengan setengah berlari. Belum jauh meninggalkan pos kami, aku mengadah, melihat langit yang benar-benar terparuh setengah, hitam dan merah. Kupicingkan mataku, aku seakan melihat sesuatu. Tidak, jangan lagi, itu si burung besi!   “Salim, cepat lari!! Sebuah jet menuju kemari!!”, mereka sigap menanggapi. 

Berlari. Mengambil langkah panjang dan cepat.  Sayang, tak kuperkirakan ada pesawat yang lebih dekat. Roket diluncurkan. Mendesing menciptakan kengerian. Kami masih cepat dalam pelarian. Roket itu meledak di belakang. Bumm!!, bangunan di sampingku hancur berantakan. Bumm!!, bukan hanya satu, kaum terlaknat tak akan puas dengan itu. Bumm!!, kami berusaha menghindari bangunan rubuh dari kanan dan kiri. Bumm!! Sekarang dia meledak 5 meter di belakang kami. Masih bertahan. Entah, apa yang akan terjadi nanti. Terakhir..

Bumm!! 2 meter dari belakang. Aku dan Salim terjungkal ke depan. Kepalaku membentur palang,  pelipis mengucurkan darah segar. Salim? Entah, aku tak tahu. Batang hidungnya tak terlihat olehku. Aku tengkurap terluka. Pelipis kembang kempis.senapan terlempar jauh tak bisa kuraih. Teman-temanku mungkin tewas sebagai syahid. Tapi , selain itu semua,  aku malihat sebuah bendera. Lafadz suci ‘Laa ilaaha illallaah’ berwarna putih terlukis disana. Dengan warna dasar hitam dan menandakan, itu rayah, panji Rasulullah saw.

Dia jatuh terhempas di tanah. Tanganku tak mampu menjangkaunya, apalagi menegakannya. Parahnya, mataku sayu, jantungku cepat memacu,darah masih mengucur deras dari pelipisku. Entah, apa yang akan menimpaku, apakah hidup, atau meninggal-kan hidup dan jasadku, Syahid.

 ***

“Allaahu Akbar..!!”, suara itu  menggema. Merasuki telinga membuatku bangun tiba-tiba. Aku kalap seperti orang yang  tenggelam saja. Lantas ku usap-usap muka dan mengucek mata. Kulihat sekitar, tubuhku terselimuti, dan kepalaku diperban melingkar. Apa? Dimana ini? Tenda? “Ahmad?”, seorang yang berseragam putih, dengan surban dan sabuk yang mengikat pedang. Dia? “Salim?”, aku bertanya, heran saja dengan apa yang dipakainya. Apalagi dengan pedang, tapi, mana senapan yang biasa ia pegang dan gunakan? “Tentu saja,”, dia menatap tak biasa, lantas menghampiriku yang bingung dan linglung. “hey, kau kenapa? Ah…, mungkin karena lukamu yang diperban. Apa itu terlalu erat, kawan?”, ia bergurau, tersenyum.

“Allaahu Akbar..!!!”, untuk kedua kali, pekik itu terdengar lagi. Seperti ribuan pasukan muslimin yang mengaum laksana singa-singa kelaparan. Gema menembus langityang menjulang. Salim menoleh ke tenda, memperhatikan hal yamg tak biasa.

 “Sudahlah, jika kau benar-benar sehat, ayo, pasukan menunggumu.”, seraya menyerahkan seragamku dan bilah pedang untukku. Dia melangkah keluar. Selangkah sebelum itu, dia kembali menoleh kepadaku, tersenyum simpul sinis, “Dan aku tahu, ini yang selalu menjadi angan-anganmu. Ya, saat kita berada di barisan Khalid bin Walid melawan serdadu.” Aku terhenyak. Ditinggal peryataan Salim yang membuat mataku kian membelak. Khalid bin Walid? Tapi, dimana ini? Kapan ini terjadi? Ah, sudahlah, aku mesti mempersiapkan diri. Kupakai seragam putih itu rapi, dengan kepala yang tersemat topeng  besi.

Bilah pedang pun menemaniku di pinggang kiri. Tersarung dan siap menebas lawan yang aku tak tahu, siapa yang kuhadapi kini. Dan setelah tirai tersingkap, diriku terkejut. Apa?! Padang pasir! Matahari kian menyengat, memancar dan melelehkan batuan arab. Tiupan angin berhembus hangat. Batuan dan cadas melepuh karena sinar surya yang ampuh. Aku melangkah seolah dalam keadaan sadar setangah. Benarkah? Tempat ini, berbukit-bukit, dengan lembah di belakang dan sungai di sebelah kanan.

Aku tak salah lagi, ini medan Yarmuk! “Allaahu Akbar..!”, pekik itu kembali terdengar, hatiku bergetar. Di belakang, aku bergabung sengan sebuah barisan. Seregu dengan Salim yang tersenyum di sampingku. Matanya nanar berkaca-kca melihat pemandangan itu. Khalid bin Walid berorasi di hadapan pasukan.

Mengangkat tinggitinggi pedang, menunggang kuda dan memegang tali kekang. Terkesima, aku masih tak percaya juga. Selain itu, bukan hanya para rijal disana, para muslimat pun ada. Ketika kutanya seorang di sampingku, “Mereka ditugaskan untuk melempar kayu dan batu”, jawabannya mengagetkanku, “untuk memukul para pasukan muslim yang mundur dari medan perang lantaran besarnya kekuatan musuh kita itu.” Sekali lagi, aku dibuat terkesima dengan ucapannya. Tak lama setelah itu, genderang perang ditabuh bergemuruh.

“Allaahu Akbar..!”, pekik Khalid selaku panglima pasukan. Aba- aba untuk maju dan menyerang. Serentak, pasukan menyerbu bagai air bah yang membandang. Pasukan Romawi bersenjata lengkap, penunggang kuda, bahkan berbaju besi semua menghantam pasukan ini.

Tentu saja, Heraklius tak tanggung-tanggug mengirim pasukannya. 240.000 pasukan dikirimkan dari negeri adidaya dari sana, Romawi. Aku mengenali ciri mereka berbaju dan berhelm besi yang menutupi hidung dan pipi, dengan celana seperti rok mini juga dari besi. Sedangkan kami, hanya terdiri dari 12.000 pasukan. Bayangkan. 1 banding 20 Dan tentu saja, senjata tak sepadan dengan lawannya. Ada 38 batalion dalam pasukan Islam. Beberapa termasuk veteran Badr, ksatria muslim, dan pasa sahabat nabi saw.

 Aku pun tak mau ketinggalan. Pedang berdentingan, kapak beraduan, tameng memercikkan api menahan gempuran, panah menembus tubuh mematikan. Korban-korban berjatuhan. Angin gurun berhembus, meniup sakaratul maut. Aku tenteng pedang di kanan dan tameng di kiri. Mencoba menghadapi musuh seorang diri. Tapi, tatkala aku mengadah ke depan, aku terperangah. Seorang yang lincah. Menebas, memenggal, menangkis, menyerang. Cepat dan tanggap. Sigap dengan lawan. Dia menari bersama pedang.

Mengayun, banyak musuh yang dibuatnya terembab jatuh tewas tak  terhitung. Belum saja yang lain menembus  dinding tebal Romawi, dia sudah tiba di ujung lain seorang diri. Lantas kembali dan muncul di sisi lain, kembali dan muncul di sisi lain.  Ganas seganas ayahnya saat memusuhi Nabinya, Muhammad. Abu Jahal nama ayahanda. Tapi tidak untuknya, dia berjihad membela agama Muhammad Al Mushthofa.

Ikrimah bin Abu Jahal namanya. Sungguh ketika melihat kepiawaiannya itu, aku terus ingin maju dan maju. Berdiri di garda depan bersama para sahabat yang dimuliakan. Kerena itu, pedang kuayunkan lebih tajam, tameng kuhadapkan. Walau memang, luka tak bisa dihindarkan. Tapi darah pejuang di jalan Allah, adalah tetes misk yang mengantarnya ke surga.

Syahdan, gelora takbir selalu dipekikkan. Membuat para kafir Romawi lari  ketakutan. Pasukan Islam terus maju tak gentar. Bahkan, setengah pasukan Romawi jatuh ke jurang lembah. Lantaran terdesak hanya oleh 12.000 pasukan Islam. “Allaahu Akbar..!”, untuk kesekian kali, lafadz ini membumbung ke langit yang tinggi. Aku berada di pusat ketegangan. Tak ada waktu untuk diam. Semangat jihad semakin berkobaran.

Menyala di sela-sela bayangan ayunan pedang. Beberapa musuh, meski dengan keringat darah dan peluh, berhasil kutumbangkan. Itu belum seberapa dibanding dengan para veteran Badar maupun ksatria muslim yang mengaum bagai singa. Diantara mereka, para sahabat, yang mulia, aku memang bukan bandingannya. Aku tak ragu tentang perang ini. Benar-benar pertempuran Yarmuk yang menakjubkan. Lebih dari apa yang diceritakan. Menunjukan keberanian, kegagahan, kemuliaan pasukan Islam. Dimana jumlah bukan ukuan kemenangan, tapi niat yang menurunkan pertolongan Allah berupa kemenangan.

Perang ini adalah gerbang bagi futuhat Islam di Romawi dan Persia, kedua negara adidaya yang waktu akan membalik mereka, menjadi bagian dari Islam suatu saat nanti. Akan tetapi, tepat sebelum aku menyaksikan kemenangan dan auman takbir yang dipekikkan, sebuah anak panah bersarang di badan. Tepat di dada, menembus punggung di belakang. Entah dari mana. Panah itu membuatku jatuh tak berdaya. Mataku sayup memandang, tubuhku lemah lemas sekarang. Di luar, telinga masih sempat mendengar Salim yang berteriak kencang. “Ahmad.. !!”. Hey, apa yang kau lakukan, sama saja, hidup dan mati tak bisa kita tentukan. Percuma. Jika datang kematian, biarkan surga jadi ganjaran.

***

 Aku terbaring terlentang. Luka di  pelipis masih kembang kempis. Kucoba bangkit. Memegang dahi, pening sekali. Apa? Dimana ini? Ah.., ternyata tadi hanya mimpi. Bukan mimpi biasa (Q.S. Ali Imron : 154). Aku  coba berdiri, walau masih sedikit lemah  tubuh ini. Di luar, masih saja ter dengar teriakan mengerikan setelah ledakan.  Aku melangkah di reruntuhan puing bangunan. Salim? Dimana ia? Entahlah, mungkin sudah mendahuluiku ke surga. Di puing-puing bangunan yang berserakan, aku masih dapat mengambil senapan.

Hatclif. Juga ‘sesuatu’ yang jatuh lalu kuambil dan kulipat. Lalu ku masukan ke kantung jaketku. Lantas ku gantung sniper di punggung. Berjalan menuju gedung. “Hei Bashar Asad, kembalilah kepada Allah segera. Sebelum nereka menjadi tempat kembalimu yang menyiksa.”, bisikku lirih. Aku teguhkan langkah seperti Ikrimah meneguhkan janjinya. Aku tegaskan azam seperti Georgius yang mengikrarkan syahadatnya di tengah kecamuk perang. Aku berdzikir selalu seperti pekikan kalimat langit bagiku.

Aku pimpim tubuhku seperti Abu Ayyub Al-Anshari yang membawa dirimya terjun kedalam syahid ketika itu. Aku eratkan kepalan seerat ingatan Muhammad Al-Fatih tentang bisyarah Nabinya. Aku tiba di atap. Semilir angin menelisik membasuh hati. Aku tak ingin jadi pasukan terbelakang lagi. Di balik laras panjang, aku membidik seraya tidur terlentang. Kuarahkan pucuk senapan ke langit yang hitam menunggu sasaran.

Berharap seperti Sa’ad bin Waqqash yang tak pernah meleset setelah dido’akan Nabi Muhammad saw. Dan ketika benda berkelip itu datang, kutarik pelatuk, dan sebuah peluru meluncur dari magasinku. Dia memburu. Lalu.., Ka-Bomm.. pesawat itu meledak berkeping- keping. “Allahu akbar..”. Hatiku bergetar. Jiwaku terbakar. Dan Rayah akan segera berkibar…[]

Klik Bait : Jebakan judul Berita Online !

Semakin ramainya persaingan konten di ranah digital menjadikan beberapa pembuat konten mengambil jalan  pintas demi meraup traffic dan page view dari situs yang mereka miliki. Salah satu upaya mereka adalah membuat artikel dengan judul yang bernuansa clickbait alias pancingan buat nge-klik. Pernah ngalamin?  

Apa Itu Click Bait

The Oxford English Dictionary  mendefinisikan clickbait sebagai “konten di internet (media online) yang bertujuan utama menarik perhatian dan mendorong pengunjung untuk mengklik sebuah link halaman situs tertentu”. Berikut ini contoh-contoh berita media online berupa clickbait:

  • Ditetapkan Jadi Tersangka Pembangunan Stadion, YAS Berkomentar Begini (Tribun Jabar)
  • Jadi Tersangka Korupsi Stadion Gede Bage, Ini Komentar Sekretaris Dinas (Kompas)
  • Ridwan Kamil Copot Pejabat Ini karena Tersangkut Korupsi (Harian Aceh)
  • Ini Setumpuk Izin yang Dilanggar PT Summarecon (Inilah Koran)
  • Dituding Buruk Layani Pasien BPJS, Ini Jawaban RS Imanuel Lampung (Kompas

Isi berita dengan judul berupa clikbait umumnya berita yang tidak begitu penting, bahkan sudah basi, tidak aktual lagi, kurang menarik. Dengan cara dijadikan judul yang menjebak itulah isi berita terkesan menarik dan update! Sebenarnya clickbait bukan hal baru.

Click bait berasal dari media lama, bukan website, yaitu dari gaya penyiaran berita dan televisi yang disebut Tease.

Tease adalah ungkapan kalimat yang disampaikan presenter sebelum jeda iklan agar penonton/pendengar stay tune alias “tidak ke mana-mana”. Misalnya, “usai jeda iklan berikut ini, sejumlah informasi menarik lain akan hadir untuk Anda, jadi tetaplah bersama kami!”. Jangan Terjebak!

 Berselancar di dunia maya, pastinya  memakan waktu kita dan tentunya kuota. Pengennya, setiap waktu yang kita pakai untuk cari informasi online, sebanding dengan hasil yang didapat. Nggak buang waktu. Tapi gara-gara clickbait, banyak waktu kita tercuri. Apalagi kalo kitanya punya radar kepo yang sensitif. Alamat jadi bulan-bulanan judul clickbait.

Capek deh! Biar nggak jadi korban, sebaiknya kita tahu tahu beberapa hal terkait clickbait berikut:  

  • Judul heboh bin bombastis clickbait itu adalah “modus” media online untuk meningkatkan traffic atau pengunjung websitenya. Buat apa? Eits..bagi internet mareket traffic alias  kunjungan ke web itu ladang emas. Jumlah kunjungan adalah sumber utama pendapatan (income). Kalo webnya kebanjiran traffic, berarti bakal banyak yang tertarik untuk pasang iklan di webnya. Itu berarti, kebanjiran order juga. Tajir bro!
  • Clickbait biasanya digunakan untuk berita yang tidak menarik, basi, bukan hal baru, dan isi beritanya “biasa-biasa saja”, bahkan tidak ada info baru dalam berita itu. Nggak penting isi beritanya, yang penting judulnya bikin pembaca kepo. Itu!
  • Clickbait merupakan polusi di internet khususnya media sosial. Nyampah banget di timeline kita.  
  • Clickbait merusak masa depan jurnalistik karena menganiaya pembaca -manipulasi, bahkan “menipu”.
  • Jurnalistik yang baik menyampaikan informasi, bukan meminta (baca: mengemis) pembaca untuk mengklik link judul berita.
  • Clickbait menjadikan jurnalisme sebagai “tricking people into pushing buttons”.
  • Clickbait adalah persuasive headlines dan “judul iklan”. Setelah memahami clickbait yang merupakan praktik buruk jurnalistik tersebut, maka agar tidak berkembang, kita harus mengabaikannya. Jangan Klik Link Judul Berita yang Menjebak (Clickbait)!

. Jadi, bijaklah dalam berselancar di sosial media. Jaga waktu hemat kuota. Jangan sampai waktu dan kuota habis karena kepancing clickbait. [@Hafidz341]  

Ciri-Ciri Clickbait

Secara teknis, ada beberapa ciri yang bisa dikenali ketika judul tulisan Anda, atau media yang Anda baca, bisa jadi  merupakan jebakan klik:

· Menggunakan judul  mencengangkan/sensasional. Cara ini biasa ditempuh dengan memelintir judul sedemikian rupa semata-mata agar terkesan heboh, padahal kontennya biasa saja.  

· Judul yang tidak sesuai isi (misleading).

 ·Ketika ada berita berjudul “Begini Cara Memuaskan Wanita” yang memanfaatkan dorongan orientasi seksual pembaca, meski isinya hanya membahas tas, bioskop, dan gadget. Kena deh! · Menggunakan kata-kata bombastis.

Penggunaan kata-kata atau frasa tertentu seperti ‘Wow!’, ‘Heboh!’, atau ‘Jangan Baca Ini!’ termasuk kategori jebakan klik. Tidak jarang berita-berita “wow” tersebut sebenarnya berisi informasi yang biasa saja, tidak berdasar fakta, bahkan pandangan pribadi.

 · Mengundang minat segmen pembaca tertentu. Pernah membaca judul-judul artikel dengan bubuhan tanda-tanda ini: (18+), (Khusus Dewasa), atau (Yang Merokok Jangan Baca!)? Pada kenyataannya, artikel-artikel publik semacam ini tidak bisa mengatur siapa yang membaca dan apa yang dibacanya.

 · Judul dilebih-lebihkan. Cara ini termasuk yang paling sering digunakan; biasanya akrab dengan kata-kata seperti ‘tercantik’, ‘terkaya’, ‘paling’, semua kata superlatif. Di dalam isi artikelnya, “orang itu” tidak benar-benar paling cantik/kaya.  

Awkarin Bukanlah Kita

Buat yang belum pernah denger istilah Awkarin, nggak usah kepo deh. Kita kasih tau aja ya. Singkatnya:  doi itu gadis yang baru 18 tahun dan tibatiba populer di media sosial. Ini karena  postingan foto atau videonya yang gaul: baju seksi, merokok, minum alkohol dan pacaran.

Nah, yang terakhir ini yang bikin enek: gaya pacaran yang vulgar.  Herannya, penduduk dunia maya tergila-gila memujanya. Mungkin karena ia sangat mewakili anak muda. Di saat remaja seusianya ragu-ragu dan malu mengekspresikan kebebasannya (entah karena jaim, segen ama temen dan takut dimarahi ortu), Awkarin melakukkannya tanpa beban. Berjiwa muda dan bergaya bebas.

Padahal, waktu masih SMP ke sekolah nutup aurat rapi jali. Masih lugu, imut dan polos banget. Lalu bertransformasi jadi “liar” seperti sekarang. Tanpa takut dan ragu.  Eits, tentu saja tulisan ini nggak bermaksud nge-judge si Awkarin. Udah cukup kok yang nyinyirin dia. Kita doakan aja, doi segera menemukan hidayah dan kembali polos seperti sedia kala.

Tulisan ini cuma mau ngingetin kamu-kamu, supaya jangan sampai terkena Awkarin effect. Apalagi sampai jadi “Awkarin-Awkarin” selanjutnya yang memenuhi sampah media sosial.

Salah Identitas

D’Riser, usia belasan seperti kamu,  pastinya belum punya banyak pengalaman hidup. Masih hobi ‘haha-hihi’ dengan mencoba berbagai identitas diri. Terkadang, kamu sengaja cari role model untuk mengekspresikan jati diri itu.  Sosok idola seperti artis, mungkin “terlalu” tinggi dijangkau. Terlalu idealis untuk menjadi role model di dunia nyata. Terlalu cantik, terlalu kaya, terlalu populer dan terlalu sempurna.

Tetapi tidak demikian jika role model itu adalah sosok orang kebanyakan. Tak heran bila Awkarin, yang notabene berangkat dari gadis biasa kebanyakan, sontak jadi idola.  Anak-anak muda merasa sangat bisa seperti Awkarin, karena relatif lebih “mudah”. Tinggal bergaya lebih kece dan sedikit pede. Bagi anak muda kebanyakan, Awkarin adalah dirinya. Itu sebabnya langsung dijadikan panutan.

 Apalagi para fans yang rata-rata remaja SMP dan SMA itu, memang masih punya pemikiran yang labil. Buktinya, tiap postingan doi, terutama saat bersama pacarnya yang intim, langsung menghimpun ribuan like. Komentar para followernya juga mendukung, seperti:

 “OMG, relationship goals banget!” Efek Awkarin,

akan semakin membeludak remaja yang bergaya bebas, eksis dan narsis dengan vulgar di media sosial. Memang masih banyak orang-orang terkenal yang lebih bejat dari dirinya yang juga menebar keburukan.

Tetapi, tidak boleh menutup mata bahwa dia telah terlanjur menjadi inspirasi. Sengaja atau tidak sengaja, niat atau tidak niat, sedikit atau banyak pasti ada yang menirunya.  

Waraslah

Kamu, ya, kamu, jangan pernah  bermimpi menjadi Awkarin. Benar, kamu emang remaja dan berjiwa muda. Tapi, bukan remaja gaul. Kamu adalah remaja muslim. Beda. Kalau masih terbersit dalam hatimu keinginan menjadi seperti Awkarin, itu mimpi buruk. Kamu butuh pertolongan. Pertama, perbaiki otakmu.

Pemahamanmu. Ngaji yang bener. Biar tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang sesuai Islam, mana yang bertentangan dengan Islam. Berpose seksi, mengumpat, merokok, minum alkohol dan pacaran bukanlah ajaran Islam.

Dosa. Kedua, mintalah nasihat. Orangtua jangan dimusuhi. Ayah ibu jangan dijauhi. Remaja sepertimu, membutuhkan support lingkungan yang baik. Orang-orang yang baik. Orang yang lebih pengalaman yang bisa mengarahkan hidupmu. Jangan sampai kelak masa mudamu jadi penyesalan. Hari ini, banyak orang dewasa yang menyesali masa suram remajanya.

Dulu, mereka juga labil seperti kamu. Banyak melakukan trial and error. Salah gaul, hura-hura, hihi-haha. Kini, sungguh tak mudah menghapus jejak-jejak  kejahiliyahan itu. Apalagi, jika terlanjur direkam media sosial.

Misal, ada artis yang sudah menutup aurat, sangat menyesal karena tak mampu menghapus foto-foto pamer auratnya yang terlanjur tersebar seantero jagat. Ada istri yang sudah bahagia bersama suami tercinta, goyah rumah tangganya garagara sepotong foto mesra dengan sang mantan yang masih gentayangan.  Maka, sungguh kamu membutuhkan nasihat dan dukungan dari orang-orang baik di sekitarmu.

Supaya kamu ‘waras’ sejak muda. Supaya kamu saleh secepatnya. Kalau bisa dan harus, tak perlu mengalami masa-masa kejahiliyahan. Karena, itu cuma buang-buang tenaga. Menebar kontroversi, sharing lebay dan mempertontonkan kejahiliyahan di media sosial memperpanjang daftar dosa. Semua itu kelak akan dipertanggungjawabkan.

Bukan hanya di hadapan para penduduk dunia maya, apalagi guru atau orangtua, lebih dari itu Allah SWT menyaksikannya. Ingatlah! Sekali menebar keburukan, lalu ditiru, saat bertobat, mungkin saja sudah terlambat. Persis seperti memaku kayu, lalu kau cabuti lagi paku-paku itu, lubang yang menganga tak akan bisa tertutup kembali. Jadi, tak usahlah bermimpi eksis seperti Awkarin. Karena, Awkarin bukanlah kita.(*)

Kelaparan Paling Memilukan

Pada isaran tahun 1943-44, lebih dari 3  juta orang meninggal karena kelaparan dan malnutrisi di provinsi Bengali, India. Walaupun paceklik memang sering terjadi di India karena pengaruh angin musim (monsoon), tragedi Bengali ini dianggap sebagai bencana kelaparan terburuk di abad 20.

Tragedi memilukan ini diakibatkan oleh perbuatan dan keserakahan manusia penjajah Inggris.  Dr Gideon Polya, seorang ahli biokimia dari Australia bahkan tak ragu menyebut kelaparan Bengali ini sebagai holocaust, karena sangat jelas penyebab utama bencana itu adalah kebijakan Inggris yang menguras habis hasil panen India dan mengirimkannya untuk cadangan makanan pasukan Inggris di seluruh dunia.

Padahal, Kabinet Perang Inggris sudah diperingatkan berkali-kali akan potensi terjadinya bencana kelaparan. Hasilnya, pemerintah Inggris membunuhi hampir 4 juta orang rakyat jelata di Bengali hanya dalam waktu 1 tahun. Sungguh kejaam!!

Para pengamat baik dari India maupun Inggris menuding bahwa dalang dari tragedi kelaparan ini adalah Winston Churchil, perdana menteri sekaligus pemimpin Kabinet Perang tahun 1940-45.

Tahun 2010, Madhusree Mukherjee, penulis sekaligus jurnalis Bengali menulis buku “Churchill’s Secret War” yang membongkar peran Churchill dalam bencana kemanusiaan itu. Dalam bukunya, Mukherjee juga menggambarkan keadaan Bengali ketika bencana kelaparan itu terjadi. Banyak dari mereka yang kelaparan akhirnya putus asa dan mengakhiri hidup mereka dengan melemparkan diri ke kereta yang sedang berjalan.

Para orang tua membuang anak mereka yang kelaparan ke sungai dan sumur. Anak-anak makan dedaunan dan tumbuhan merambat  bahkan rumput. Mayat-mayat bergelimpangan karena mereka yang hidup terlalu lemah untuk mengubur maupun mengkremasi mereka yang meninggal.

Bahkan banyak mayat yang akhirnya dimakan anjing. Mereka yang tidak ingin mengalami nasib serupa sampai rela melakukan apapun demi bertahan hidup. Para wanita melacurkan diri, dan para ayah menjual anak-anak mereka sendiri demi uang. Hii, ngeri.. Mukherjee mengungkap sikap Churchill yang sama sekali tak peduli dengan keadaan rakyat Bengali akibat strategi perangnya.

 Dalam salah satu rapat Kabinet Perang, Churchill justru menyalahkan rakyat India sendiri karena mereka “berkembang biak seperti kelinci”. Ketika pemerintah kolonial di Delhi mengirim telegram yang menceritakan bencana yang terjadi akibat kelaparan, Churchill hanya merespon dengan  pertanyaan ketus, “Lalu kenapa Gandhi belum juga mati?”.  Yang bikin geram, Mukherjee mengungkap dalam bukunya bahwa sebenarnya ada kapal yang mengangkut gandum dari Australia, tapi alih-alih diberikan pada rakyat Bengali yang kelaparan, Churchill malah mengalihkan gandum itu ke prajurit Inggris di Mediterania dan Balkan untuk persediaan makanan mereka.

Bahkan, seolah untuk melengkapi kekejaman Churchill, pemerintah kolonial Inggris pun menolak bantuan makanan untuk India dari Kanada dan Amerika! Sadis broo…!

D’Riser itulah kejamnya kaum penjajah. Mereka tak segan mengubur rasa kemanusiaan demi mendapat keuntungan dan keselamatan, walau orang lain harus mati bergelimpangan. Itu karena pandangan hidup mereka yang individualis dan materialistis, bahkan nggak sedikit juga dari mereka yang rasis! Seperti si Winston Churchill itu.  

Sementara Islam sudah pasti tidak begitu. Rasulullah Saw mengajarkan, politik luar negeri negara Islam dilakukan dalam rangka menyebarkan dakwah. Kalaupun terjadi perang, maka itu hanya untuk menghancurkan pihak-pihak yang menghalangi dakwah Islam dengan kekuatan senjata. Karena itu tak heran, walaupun menaklukkan banyak negeri, tapi Khilafah Islam tidak memperbudak apalagi membantai rakyatnya. Negara seperti ini baru top banget untuk diperjuangkan.[]

Ketika Rakyat Inggris Menderita Kelaparan

Negara Khilafah Utsmaniyah di abad 19, walaupun di ambang kemunduran, tapi masih termasuk  negara besar. Ketika terjadi kelaparan besar (Great Famine) yang melanda Irlandia di wala tahun 1845, Sultan Abdul Majid I menyatakan keinginannya untuk mengirimkan 10,000 poundsterling demi meringankan bencana kelaparan Irlandia yang sudah mengakibatkan lebih dari 1,000,000 orang meninggal. Menariknya, Ratu Victoria meminta Sultan untuk mengirim hanya 1,000 pound, karena dia telah mengirim hanya 2,000 pound. Sultan pun mengirim 1,000 pound, namun diam-diam juga mengirim 3 kapal penuh makanan. Inggris berusaha untuk memblokir kapal itu, tapi makanan sampai di pelabuhan Drogheda dan ditinggalkan di sana oleh para Pelaut Usmani.

Karena peristiwa ini rakyat Irlandia, khususnya mereka yang tinggal di Drogheda, menjadi bersahabat dengan orang Turki. Bahkan, sebagai ungkapan terima kasih pada Ustmani mereka menambahkan gambar bulan bintang pada lambang kota Drogheda, sampai sekarang. Simbol bulan  bintang ini juga  terpapang di logo klub sepak bola Drogheda United. []