Majalahdrise.com – kupandangi bunga Anthurium raksasa pemberian pertama dari kakakku, kak Raihan.Ia selalu memberikanku sepot bunga Anthurium setiap bulan karna aku sangat menyukai bunga itu. Entah dari segi mana aku bisa suka dengan bunga itu.
“Mungkin dari bentuknya yang bergelombang,” pikirku. Kak Raihan adalah seorang kakak yang selalu membantuku dalam segala hal dan ia tak pernah membentakku sama sekali. Setiap ia berkata padaku ia selalu lembut padaku. Dia bukan hanya seorang kakak bagiku tapi juga sebagai seorang sahabat yang selalu ada untukku.Dia selalu menasihatiku dan membimbingku terutama dalam urusan agama.Tapi, hal yang satu inilah yang aku tak suka darinya. Aku kadang marah ketika ia menasihatiku tentang agama. Dan kini aku mulai tak suka dengan sikapnya.
“Via…!” lamunanku dibuyarkan oleh suara kak Raihan.
“Eh, kak Raihan bikin kaget saja,” ujarku kesal.
“Heheh,,, maaf. Soalnya kamu, sih. Ngelamun di taman sore-sore gini. Lagi ngelamunin apa, sih?” tanyanya penasaran.
“Siapa yang ngelamun?Aku lagi sibuk memandangi keindahan dari bunga Anthurium ini,” jawabku.
“Oh, gitu. Oh, iya! Sekarang kamu lagi sibuk apa di sekolah?” tanya kak Raihan.
“Hmmm… Sekarang aku lagi sibuk buat lagu baru untuk bandku di sekolah, soalnya su…” belum selesai aku bicara kak Raihan udah memotong pembicaraan.
“Hah? Kamu ikut eskul band?Kok kamu nggak pernah ngomong sama kakak!” ujarnya heran.
“Aku juga baru masuk eskul band semester lalu kok, kak,” jawabku.
Iya, tapi… Kamu harus keluar dari eskul band itu! Kamu nggak cocok jadi anak band!” ujarnya agak tegas kepadaku.
“Kok, gitu?Kan eskul itu bagus, aku juga bisa mengembangkan kreatifitasku pada eskul itu,” jawabku heran.
“Pokoknya kamu harus keluar dari eskul itu! Kalo ngeband kan ada unsur 2 ikhtilatnya jadi nggak baik buat kamu, Via!” Aku tak menjawab dan aku berlari masuk ke kamar.
“Braakkk”. Pintu kamar kubanting dengan keras akibat kekesalanku pada kak Raihan.Terdengar dari luar, kak Raihan berusaha membujukku untuk berhenti dari eskul band.
“Via, Kamu inikan perempuan, nggak cocok jadi anak band.Nggak mungkinkan kamu terus-terusan bergaul dengan teman-teman bandmu yang mayoritas laki-laki itu,” ujarnya lembut padaku.
“Argghh! Kak Raihan memang udah nggak sayang sama aku, harusnya kak Raihan ngedukung aktivitasku bukannya ngelarang kayak gini. Terus siapa bilang kalo perempuan nggak cocok jadi anak band.Buktinya band KOTAK vokalis dan gitarisnya juga perempuan,” jawabku dengan nada kesal.
“Iya, kak Raihan juga tahu itu.Tapi, yang mereka lakukan itu salah dan tidak sesuai dengan akidah kita jadi jangan dicontoh. Kan masih banyak eskul lain yang bisa kamu ikutin,” ujarnya membujuk. Tapi, aku mulai tidak tahan dengan sikap kak Raihan. Ia benar-benar tidak mengerti keadaan.
“Sudahlah!Sampai kapanpun kak Raihan tidak pernah mengerti.Mulai sekarang, kak Raihan nggak usah campurin urusan aku!” bentakku.Tapi, setelah itu, tak ada lagi jawaban. Suara kak Raihan sudah tak terdengar lagi, mungkin ia marah atau mungkin ia juga sedih.
Bahkan aku sendiripun tak pernah menyangka akan melontarkan kalimat itu pada kak Raihan, seorang kakak yang selalu menasehati dan membimbingku terutama dalam urusan agama. Tapi, kali ini aku benar-benar tak bisa terima kelakuan kak Raihan.
“Ah, sudahlah!Maafkan aku kak Raihan,” batinku dalam hati.
Bersambung….
Di muat di majalah remaja islam drise edisi 53