Buletin Teman Surga 008. Berhijab Karena dan Untuk Allah

Ngomongin hijab ga bakalan lepas dari yang namanya cewek yah ga siiihh?? So pasti, karena hijab adalah style yang diperuntukkan buat para muslimah. Dan buat kamu para cowok ga usah sedih gitu yak karena bahasan kita kali neh sory..sory neh lebih ke para cewe. Tapi tenang bro.. ini masih termasuk bahasan yang kamu juga harus tau n wajib nyampein ke ibumu, saudara perempuanmu, calon istrimu eaeaea….  #udah ga usah baper.

Tau ga sihhh..teman, beberapa tahun belakangan ini, hijab mulai jadi tren. Dulu waktu jaman old mitosnya kalo pake hijab susah dapet kerjaan, gak keliatan cantik, ribet, dan sebagainya. Sekarang lain soal hijab.. sudah menjadi trend busana muslimah yang paling keren kayaknya, makanya banyak juga tuch komunitas hijabers dengan berbagai gayanya.  Bahkan kalangan artis pun yang akrab dengan dunia serba bebas n berkiblat ke dunia gemerlap barat, sekarang satu persatu banyak yang udah istiqomah buat pake hijab.

Perkembangan fashion hijab di jaman now pun sangat beragam. Berbagai gaya busana didesain untuk menambah keelokan paras dan menambah pesona para kaum hawa berhijab ini. Ada model dengan ornamen bunga, serut, beling-beling, ada juga dengan polesan berbagai corak dan warna mulai yang namanya polkadot, garis, abstrak dan lainnya. Kerudung panjang dan gamis lebar pun udah ga asing menghiasi foto majalah, tabloid, brosur, katalog, iklan di sosial media. Semua wira wiri dengan berbagai perpaduan warna mulai yang eksotik sampai warna yang lembut. Model dan jenis kainnya pun  beraneka ragam.

Pertinyiinnyi….upz maksudnya pertanyaannya teman, apakah pemakaian hijab nya sudah sesuai dengan hukum Islam atau belum yah? Cuma sekedar tren n budaya atau karena keimanan? Masalahnya survei membuktikan bahwa banyak juga yang masih ketuker antara hijab, jilbab, n khimar.  Hayoo, teman surga semua penasaran kan.. Yok let’s check this out.

Antara  Hijab, Khimar dan Jilbab

Yang harus temen surga tau neh, dalam Islam Pakaian yang dikenakan oleh seorang muslim or muslimah adalah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukkan kepada Allah, yang menghasilkan keimanan dan ketakwaan disisi Allah. Why? Karena Allah memiliki aturan dalam berpakaian yang ketika aturan itu dilaksanakan maka kita mendapatkan pahala. Jadi ga boleh tuh hanya sebatas tren n budaya doang tapi harus didasari dengan keimanan. So kita wajib tau perbedaan hijab, jilbab n khimar

Teman surga, makna Hijab Secara bahasa, hijab artinya penutup, Secara istilah, makna hijab adalah sebagaimana dijelaskan Al Munawir berikut ini: “Hijab adalah segala hal yang menutupi sesuatu yang dituntut untuk ditutupi atau terlarang untuk menggapainya. Diantara penerapan maknanya, hijab dimaknai dengan as sitr (penutup), yaitu yang mengalangi sesuatu agar tidak bisa terlihat.

Hijab Utamanya terkait dengan perintah Allah kepada para istri-istri Nabi untuk tidak berinteraksi secara terbuka kepada lawan jenisnya, tapi harus dilakukan di balik hijab.  Hal ini terjadi pada pemaknaan surat Al-Ahzab ayat 53 yang memerintahkan istri Rasulullah saw untuk tidak berbicara kepada selain mahram kecuali dengan menggunakan tirai penghalang terhadap kontak langsung, atau dengan menutup wajah mereka.

…Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…”

Ayat ini  terkait dengan masalah etika ketika bersama istri-istri Nabi. Karena itu, hijab di atas bermakna penutup kontak langsung.

Nah qlo Makna Khimar neh teman, Allah Ta’ala menyebutkan istilah khimar dalam firman-Nya :

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar kedadanya…” (QS. An Nuur: 31)

Dalam Tafsir Jalalain, “Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar ke dadanya” dijelaskan maksudnya: “yaitu menutup kepala-kepala, leher-leher dan dada-dada mereka dengan qina‘ (semacam kerudung)”. Ibnu Katsir menjelaskan makna khimar, “yaitu qina‘ (kerudung) yang memiliki ujung-ujung, yang dijulurkan ke dada wanita, untuk menutupi dada dan payudaranya” (Tafsir Ibni Katsir, 6/46). Para ulama menjelaskan bahwa khimar adalah kerudung yang menutup bagian kepala hingga dada wanita.

Nah sedangkan makna Jilbab neh teman, Allah menyebutkan nya dalam Firman Nya :

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS al-Ahzab [33]: 59)

Tafsir Ayat ini Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk menyampaikan suatu ketentuan bagi para Muslimah. Ketentuan yang dibebankan kepada para wanita Mukmin itu adalah: yudnîna ‘alayhinna min jalâbîbihinna “ (hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka)”. Kata jalâbîb merupakan bentuk jamak dari kata jilbâb. Terdapat beberapa pengertian yang diberikan para ulama mengenai kata jilbab. Ibnu Abbas menafsirkannya sebagai ar-ridâ’ (mantel) yang menutup tubuh dari atas hingga bawah, Al-Qasimi menggambarkan, ar-ridâ’ itu seperti as-sirdâb (terowongan). Adapun menurut al-Qurthubi, Ibnu al-’Arabi, dan an-Nasafi jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh. Ada juga ulama yang mengartikannya sebagai milhafah (baju kurung yang longgar dan tidak tipis) dan semua yang menutupi, baik berupa pakaian maupun lainnya, Sebagian lainnya memahamin sebagai mulâ’ah (baju kurung) yang menutupi wanita, Al-qamîsh (baju gamis), Meskipun berbeda-beda, menurut al-Baqai, semua makna yang dimaksud itu tidak salah.

So, Guys,  dah jelas kan apa perbedaan dari hijab, khimar dan jilbab, jangan mpe ketuker yak… baiknya sihh selain tau makna hijab, khimar dan jilbab, kita juga harus tau syarat-syarat  pakaian muslimah  yang syar’i. Misalnya kalo kamu yang  muslimah tahu bahwa salah satu makna kerudung adalah “kain yang menutupi kepala, leher, hingga ke dada” bukan berarti kamu bisa mengenakan kerudung alakadarnya sebatas menutup kepala hingga dada, and than pakainnya ketat, transparan, atau masih menampakkan perhiasan-perhiasan wanita yang seharusnya ditutupi.

Syarat pakaian yang syar’i

Jadi kayak gimana sih seharusnya pakaian muslimah yang  sya’i kalau keluar rumah?  Gini loh sobat.

  1. Pakaian muslimah itu harus menutupi seluruh tubuh, terdiri dari khimar (kerudung) di bagian atas dan Jilbab di bagian bawahnya seperti yang dijelaskan dalam QS Al – Ahzab : 59 dan QS An – nuur : 31.
  2. Bahannya harus tebal (tidak tipis) supaya ga menggambarkan apa yang ada di baliknya. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan dua golongan penghuni neraka yang salah satunya adalah para perempuan yang berpakaian tapi telanjang (sebagaimana tercantum dlm Shahih Muslim). Maksud dari hadits itu adalah para perempuan yang mengenakan pakaian yang yang menerawang seperti aquarium sehingga justru bisa menggambarkan lekuk tubuh. Dengan kata lain, mereka itu berpakaian, namun pada hakikatnya mereka itu telanjang.
  3. Harus longgar, tak boleh sempit atau ketat bak lemper karena akan menampakkan bentuk tubuhnya.
  4. Tidak perlu diberi wangi-wangian. Dalilnya adalah sabda Nabi: “Perempuan manapun yang memakai wangi-wangian kemudian berjalan melewati sekelompok orang agar mereka mencium keharumannya maka dia adalah perempuan pezina.” (HR. An-Nasa’i, Abu Dawud & Tirmidzi dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari). Bahkan Al-Haitsami menyebutkan bahwa keluarnya perempuan dari rumahnya dgn memakai wangi-wangian & bersolek adalah tergolong dosa besar, meskipun dia diizinkan oleh suaminya. Wadow.. padahal berapa banyak perempuan muslim yang terbiasa pakai minyak wangi cap goodbye..  orangnya sudah entah ke mana wanginya masih menebar. Astagfirullah…
  5. Tidak boleh menyerupai pakaian orang kafir. Ketentuan ini berlaku bagi kaum lelaki dan perempuan. Dalilnya banyak sekali, diantaranya adalah kejadian yang menimpa Ali. Ketika itu Ali memakai dua lembar baju mu’ashfar. Melihat hal itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini adalah pakaian kaum kafir. Jangan kau kenakan pakaian itu.” (HR. Muslim, Nasa’i & Ahmad).

 

Busana Muslimah bagian dari Syari’at

Kamu pernah  dengar komenter macam ini:  “Ngapain pake busana muslimah kalo akhlaknya masih buruk?” “Yang penting hati aja dulu di jilbab”, “ Aduh belum alim, jadi belum bisa dech pake busana muslimah”, “ Nunggu hijrah dulu baru pake busana muslimah”,  dan lain lain.  Kamu tahu, ini adalah salah kaprah mendudukan syari’at dan mencampuradukan aturan, akhirnya jadi keliru dalam pelaksanaan syariah. Jilbab  itu perintah untuk menutupi tubuh muslimah, bukan nutupi hatinya dengan jilbab.  Berjilbab satu kewajiban, menjaga akhlaq juga satu kewajiban lain yang sama kedudukannya harus ditunaikan. Seperti sholat  dan puasa Ramadahan, dua-duanya wajib dilaksanakan. Justru dengan berjilbab kamu akan terjaga untuk tidak berbuat maksiat

Ironisnya lagi,  sering kita saksikan busana muslimah itu hanya digunakan dalam momentum tertentu saja seperti di bulan Ramadhan sebagai bulan mulia sehingga kita harus taat sampai urusan berpakaian.  Kadang digunakan tatkala akan menghadiri undangan, reuni, atau yang semisal itu. Kadang juga digunakan saat di sekolah, mengantar anak ke sekolah, perjalanan keluar kota yang cukup jauh, etece. Kalau Cuma keluar rumah untuk nyapu halaman, atau beli peniti di warung, rambut dan sebagian tubuh tetap terbuka. Lho kok?

Sebagai muslimah yang beriman kepada Allah SWT tentu kita akan menjalankan perintah berbusana syar”i  ini dengan keikhlasan dan ketaatan karena aturan busana ini merupakan kewajiban. Jika hati sudah mantap, kewajiban adalah kewajiban. Males ? Lawan dong… Takut dicela ekstrim? Toh gak terbukti nyata. Yang pasti, berbusana syar’i itu tetap wajib.

Man-teman, khusus nya para muslimah, dengan berhijab itu ada kebaikan buat kamu.. Jadi lebih cantik? Bisa jadi. Tapi cantik itu sebenarnya hanyalah bonus, karena yang terpenting (dan sering dilupakan) adalah cantik perilakunya, mulia akhlaknya  serta kesolehannya. Yang jelas, dengan berhijab maka kita akan terjaga kehormatan dan harga diri, mengingatkan kita untuk terus berprilaku baik, juga dimuliakan sebagai seorang muslimah. Jadi tunggu apa lagi? Yuuk kita berhijab karena Allah dan sesuai dengan Aturan Allah.

Buletin Teman Surga 007. Jangan Lelah Berhijrah

“Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari).

Man-teman, kalo menyimak hadits di atas, apa yang ada dalam benakmu dan apa reaksimu? Ngerasa tertampar, atau biasa-biasa aja? Hemm… harusnya sih kita merasa orang yang merugi kalo nyatanya kita hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin. Sebaliknya, kita bakal bahagia banget kalo hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin. Nah, makanya itu berubah menjadi lebih baik dari hari sebelumnya harus jadi komitmen kita. Kalo, bahasa yang lagi fenomenal saat ini, disebut dengan istilah “Hijrah”.

Yes. Secara bahasa, kata al-hijrah merupakan isim (kata benda) dari fi’il hajara, yang bermakna dlidd al-washl (lawan dari tetap atau sama). Kalo dibentuk dalam kalimat kayak “al-muhajirah min ardl ila ardl” (berhijrah dari satu negeri ke negeri lain); maknanya adalah “tark al-ulaa li al-tsaaniyyah” (meninggalkan negeri pertama menuju ke negeri yang kedua). [Imam al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal. 690; Imam Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, juz 3, hal. 48]

Sedangkan secara istilah, al-hijrah bermakna berpindah (al-intiqaal) dari satu tempat atau keadaan ke tempat atau keadaan lain, dan tujuannya adalah meninggalkan yang pertama menuju yang kedua. Adapun konotasi hijrah menurut istilah khusus adalah meninggalkan negeri kufur (daar al-Kufr), lalu berpindah menuju negeri Islam (daar al-Islaam).[Al-Jurjaniy,al-Ta’rifaat, juz 1, hal. 83]. Pengertian terakhir ini juga merupakan definisi syar’i dari kata al-hijrah.

Kalo disederhanakan, hijrah artinya adalah pindah, dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Ash-Shihhah fi al-Lughah, II/243, Lisan al-‘Arab, V/250; Al-Qamus Al-Muhith, I/637). Sehingga kallo kita bilang kita berniat hijrah, atau kita sudah berhijrah, tapi faktanya kita masih diam saja alias nggak tergerak untuk berbuat baik, itu belum masuk kategori hijrah menurut arti di atas. Kita nggak akan disebut hijrah, kalo kita masih tetap di tempat yang lama. Pun kita belum bisa dikatakan hijrah, kalo ternyata kita masih sama dengan sebelum kita hijrah.

Koreksi Niat Hijrah

Kenapa sih kita harus koreksi niat hijrah kita? Ya, kalo niat hijrah kita bener maka kita nggak capek alias bisa istiqomah berhijrah. Nggak mood-moodan hijrah, kalo lagi mood aja semangat hijrah tapi, kalo lagi bete, hijrahnya jadi futur. Nah, tentu kita nggak mau seperti itu kan? Makanya penting kita koreksi nih, niat hijrah kita karena apa, atau karena siapa. Yuk coba kita simak hadits berikut.

Dari Amirul mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab ra. berkata,

“Aku mendengar Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) dari apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari dunia atau untuk seorang perempuan yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya hanya untuk itu”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ulama memasukkan hadits niat ini di awal pembahasan kitab-kitab mereka. Hal ini dilakukan tentu bukan tanpa maksud dan tujuan. Bahkan hadits ini masuk dalam 70 bab masalah fiqh. Imam Syafi’i rahimahullahu mengatakan bahwa hadits ini merupakan sepertiga dari ilmu. Dan Imam Abu Dawud rahimahullahu bahkan mengkategorikan sebagai separuh dari agama. Abdullah Bin Mubarak berkata :

“Berapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niatnya, dan berapa banyak amalan yang remeh menjadi besar karena niatnya”.

So, niat memiliki peranan penting dalam aktivitas kita sehari-hari. Karena niat meskipun letaknya di awal dalam setiap perbuatan yang hendak kita lakukan, akan tetapi niat juga menentukan tujuan akhir dari hidup kita. Ibarat kita berpergian, niat adalah bekal yang kita akan bawa, jika bekal yang kita bawa salah dan kurang, maka akan memperburuk perjalanan dan bisa jadi nggak sampai pada tujuan yang benar.

Gimana niat itu penting apa penting banget? Pastilah penting banget ya, karena niat menjadi salah satu komponen suatu aktivitas disebut perbuatan baik (khayr) ataukah buruk (syahr). Komponen yang lain adalah kesesuaiannya aktivitas kita dengan perintah dan larangan Allah SWT. Dua komponen ini tidak boleh terpisah satu sama lain. Salah satu saja tidak benar alias tidak sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits, bisa tidak tergolong amal (perbuatan) yang shalih (amal baik). Misalnya, niatnya salah meskipun aktivitasnya sudah sesuai dengan tuntunan, tetap aja nggak bisa terkategori amal shalih. Pun sebaliknya, niatnya udah lurus mencari ridha Allah, tapi caranya nggak berkesesuaian dengan cara yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya, itu pun bukan amal shalih, tapi amal salah, hehe…

Jadi niat itu penting sekali apa penting banget? Penting banget ya, bukan penting sekali, kalau penting sekali berarti pentingnya hanya sekali, hehe…. Makanya gimana cara kita tahu kalo niat kita hijrah itu bener atau kagak? Yes, sesuai dengan hadits yang dikutip di atas tadi, bahwa niatkan hijrah kita karena Allah, bukan karena seseorang atau karena sesuatu. Sebab kalo niat hijrah karena seseorang atau karena sesuatu, ketika sesuatu itu nggak kita dapatkan atau sesuatu hilang, maka hilang pulalah niat atau semangat kita untuk hijrah. Itu tanda yang paling mudah untuk mengetahui niat hijrah kita.

Nah, kenapa kita lelah berhijrah, putus asa atau putus di tengah jalan hijrah kita? Karena niat atau harapan kita gantungkan kepada selain Allah. Maka benarlah apa yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib ra. bahwa “Aku sudah pernah merasakan kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”. So, yuk luruskan niat kita hijrah semata-mata karena Allah.

What’s Next?

Trus, apa langkah selanjutnya biar hijrah kita istiqomah? Apakah cukup meluruskan niat? Nggak dong, niat itu hanya sebagai langkah awal, selanjutnya kan kita pasti action. Nah, di tataran action ini kita harus ngapain agar kita bisa istiqomah atau nggak lelah berhijrah?

Tapi sebelum itu, kita mau ngajak teman-teman semua sadar diri kira-kira selama ini posisi kita sudah hijrah atau belum? Terutama ketika ngeliat fakta-fakta kerusakan yang ada disekitar kita. Jujur aja, setuju banget kan kalo kita sampaikan bahwa fakta yang ada di sekitar kita ini rusak, wa bil khusus tentang fakta remaja. Ada pergaulan bebas yang nggak bisa direm lajunya, narkoba, perkelahian antar sekolah, pelecehan seksual, dan masih banyak lagi fakta rusak di sekitar kita.

Nah, ngeliat fakta yang kayak gitu, kita memilih untuk hijrah, maksudnya hijrah dari perbuatan yang kayak gitu, menjadi muslim yang lebih baik. Tapi persoalannya, kita hijrah nggak bisa dan nggak boleh sendiri, berat, kamu nggak akan sanggup, makanya hijrah kudu rame-rame. Kalo kita sedang dan sudah hijrah maka kita nggak boleh nafsi-nafsi mikirin diri sendiri, kita kudu peduli dengan keadaan sekitar kita, teman-teman kita yang belum hijrah. Sebab, bisa jadi hijrahmu jadi berat atau lelah, karena masih terpengaruh oleh keadaan atau teman-teman lama kamu. Makanya, kita nggak boleh cuek EGP sama keadaan sekitar kita.

Kalo boleh diibaratkan, masyarakat kita ketika ngeliat fakta-fakta yang tadi disebutkan, bisa dikelompokkan jadi 3: kelompok pemain, penonton, dan masyarakat luar.

Pertama “pemain”, mereka yang sadar dan siap serta udah bergerak bersama untuk menyelesaikan masalah di atas. Bahkan mereka berjibaku, layaknya pemain bola professional, membina dan melatih dirinya dalam ilmu, sehingga nanti ketika benar-benar terjun ke masyarakat bisa ngasih problem solving persoalan masyarakat. Mereka inilah yang memilih Move On. Dalam khazanah Islam, mereka disebut pengemban dakwah. 

Kedua “penonton” alias komentator, mereka ngeliat sih fakta kerusakan di tengah masyarakat, tapi mereka suka banget komentar terhadap perjuangan yang dilakukan oleh kelompok pertama. Ada yang komentarnya mendukung, tapi nggak sedikit yang jorokin, sok pinter, sok jago, padahal dia sendiri aksinya nggak pernah ada. Ada juga penonton di sini yang layaknya supporter fanatik, kalo menang ikut senang, giliran kalah bikin ulah dan masalah. 

Ketiga “masyarakat luar”, mereka nggak ngeliat atau bahkan cuek dengan kondisi di sekitarnya. Persis kayak masyarakat di luar stadion yang nggak ambil pusing dengan apa yang terjadi di dalam stadion, saat pertandingan berlangsung. Entah mau rusuh kek, menang kek, kalah kek, bodo amat, emang gue pikirin. Nah, kira-kira begitu di kelompok yang ketiga ini, menyaksikan kerusakan masyarakat, cuek aja, “yang penting nggak nimpa gue dan keluarga gue”, gitu pikirnya.

Idih jangan sampe ya, kita ada di kelompok ketiga maupun kedua, yang sekedar komentar apalagi cuek dengan kondisi kerusakan di sekitar kita. Kita kudu di kelompok pertama, karena hijrah itu menunjukkan care kita. Hijrah itu kontribusi yang bisa kita sumbangkan atas problematika di negeri ini. So, apakah kita masih diam saja, layaknya kelompok ketiga tadi? Atau hanya jadi penonton, kayak kelompok kedua? Kalo iya, maka itu tandanya kita masih belum hijrah.

Tips Hijrah Istiqomah

  1. Pastikan kamu tidak berada di comfort zone (zona nyaman) yang keliru . Maksudnya seseorang ngga akan merubah posisinya kalo dia merasa bahwa posisinya sekarang nyaman-nyaman aja sehingga ngga perlu untuk berubah. Padahal posisinya saat ini sama sekali ngga Allah ridhoi. Inget ya sob, kita hanya bersandar pada standar Allah yang ngga pernah salah. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (TQS. Al Baqarah: 216)
  2. Azzamkan hati untuk ikhlas hanya mengharap ridho Allah semata. Karena dengan azzam ini Insyaa Allah kita hanya fokus pada apa yang kita tuju dan lakukan, jadi apa yang dikatakan orang lain dan seperti apa penilaian mereka terhadap kita ngga akan mempengaruhi keputusan hijrah yang kita ambil. “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukan karena mengharap ridho Allah semata”. (HR. An Nasai dan Abu Dawud)
  3. Carilah lingkungan teman atau komunitas yang bisa mendukung perubahanmu ke arah yang lebih baik. Berkumpul dengan orang-orang sholih akan menjaga dan mengistiqomahkan kesholihan yang akan kamu mulai.
  4. Mulailah untuk rajin menghadiri kajian-kajian keislaman yang akan menambah ilmu (agama) yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul . Karena ini akan menjadi bekalmu saat melangkah dan berbuat sesuatu.
  5. Teruslah mendekat untuk taat pada Allah swt. Karena Allah-lah yang akan memberimu kekuatan dan memudahkan segala urusanmu. “…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. (TQS. Ath thalaq: 4)

Buletin Teman Surga 004. Jangan Maksiat, Dosanya Berat, Kamu Gak Akan Kuat

Makjleb yak liat judulnya? Jangan baper dulu dund. Itu slogan yang perlu kita inga inga mulai saat ini dan seterusnya. Kenapa? Ehm. Karena eh karena, godaan akhir zaman semakin menggeliat dan bertaburan di mana-mana. Oiya, judul di atas adalah salah satu plesetan dari gombalannya tokoh film remaja saat ini yang lagi in. Salah satu gombalan yang receh, so ngga ada yang perlu kita ambil.

Antara Kita, Baligh dan Mukallaf

Apa itu Baligh dan Mukallaf? Sama ngga sih keduanya? Ayo kita cari tau. Ternyata ada dua istilah yang seringkali disebut kalo kita lagi ngomongin hukum dalam fikih, yaitu baligh dan mukallaf. Kadang-kadang ada yang suka ketuker atau ngga salah memaknai kedua kata tersebut.

Dalam pandangan fikih, secara tegas baligh adalah kondisi di mana seseorang sudah mencapai usia dewasa secara biologis. Bagi perempuan, berupa haid dan bagi laki-laki berupa mimpi basah. Bagi seseorang yang sudah mencapai usia 15 tahun tetapi belum menemui tanda-tanda kedewasaan secara biologis di atas tadi, maka Fikih menyebutkan bahwa orang tersebut secara otomatis dianggap baligh. Hayo, kalian udah pada baligh apa belum?

Nah sekarang kita kenalan sama mukallaf. Ternyata baligh merupakan salah satu kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang mukallaf selain muslim dan berakal sehat. Muslim adalah kondisi di mana seseorang sudah mengikrarkan syahadat. Sedangkan berakal sehat adalah kondisi ketika akal seseorang berfungsi secara normal. Jika ketiga kriteria ini terpenuhi mulai dari muslim, berakal sehat, dan baligh, maka orang tersebut masuk dalam klasifikasi mukallaf.

Lalu apa itu mukallaf? Mukallaf adalah seseorang yang sudah mendapatkan beban (taklif) berupa syariat. Ia sudah berkewajiban menunaikan seluruh perintah dan menjauhi larangan syariat Islam. Baginya, syariat sudah berlaku, baik hukum yang bersifat taklifi (wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram) dan seluruh dimensi syariat. Singkatnya, ia sudah menjadi subjek hukum yang sempurna.

Sebagai subjek hukum yang sempurna, maka mukallaf terikat dengan ketentuan syariat yang mengatur mana yang boleh dan mana yang tidak, mana yang dianjurkan untuk dilaksanakan dan mana yang dianjurkan untuk dijauhi. Ia juga sudah mendapatkan hak dan kewajiban secara sempurna. Maka setiap tindak tanduknya hanya akan dapat dua kemungkinan. Pahala dan dosa.

Maksiat Versus Taat

Hidup ini kalo ngga maksiat, ya taat. Kalo ngga maksiat, ya melakukan aktivitas yang bernilai ibadah. Maka kalau ngga dapet pahala ya dapet dosa. Lalu apa aja sih yang masuk kategori maksiat n taat? Sebenernya gampang bener. Kalo kita ngelakuin yang diperintahkan Allah, maka disebut taat berbuah pahala. Nah kalo kita ngelanggar yang Allah larang itulah yang disebut maksiat dan berbuah dosa. Easy kan yak?

Nah, Allah itu Maha Baik. Allah menyembunyikan segala aib kita selama di dunia. Kebayang ngga sih kalo Allah nandain kita pake 1 titik untuk 1 dosa di wajah kita. Macamnya, ngga bakalan berani kita keluar rumah karena banyak titik-titiknya. Aib kita, dosa kita selama ini ditutup sama Allah. Ngerasa sering buat salah ngga sih? Mulai dari boong sama orangtua mungkin, minjem uang gopek sama temen tapi ngga dikembaliin dari tahun lalu mungkin, suka ngebully temen mungkin, atau kita suka ghosob. Do you know what is ghosob? Ghosob is you, you, and you minjem barang orang lain tanpa izin. Hayo lho…

Oiya, jangan kelupaan. Bisa jadi kita selama ini seriiiiiiiiing banget maksiat sama Allah. Contohnya, kita ninggalin solat 5 waktu. Ehm. Padahal nanti ibadah yang paling pertama dihisab itu solat. Eh tapi yang ngerasa udah solat 5 waktu, ngga boleh lho ongkang ongkang kaki gitu aja. Karena banyak kewajiban lain yang harus kita lakukan. Misalnya, puasa dan bayar utang puasa. Udah pada bayar belon? Ramadhan sebentar lagi lho.

Atau yang udah pada solat 5 waktu, bukan berarti ngga ada kewajiban nutup aurat. Menutup aurat adalah kewajiban ketika kita berada di luar rumah dan bertemu orang yang bukan mahrom kita. Nah kita ngga boleh milih-milih ibadah yang kita senengin aja. Ada lho yang getol banget solat karena doi percaya banget sama penelitian kalo solat itu bisa menyehatkan badan. Tapi dia buka lagi auratnya begitu beres solat. Atau ada juga yang seneng shaum sunnah. Shaum daud malahan. Tapi dia bukan ngejer sunnahnya. Tapi ngejer langsingnya. Hadeuh hadeuh… Padahal Allah akan ngasih kita imbalan sesuai niat awal kita doing something. Kalo mau solat niatnya cuma sehat dan niat shaum cuma langsing singset, ya bakal itu doang yang didapat.

Emang maksiat endingnya happy?

Ngga banget. Mana ada maksiat yang endingnya happy. Meskipun ketika kita melakukan maksiat, kesenangan sesaat yang akan kita dapatkan. Pak De Rhoma Irama juga pernah bilang, kenapa yang enak-enak itu diharamkan. Eaaakkk. Ada yang tau ngga tuh ama lagu itu? Hati-hati dengan kesenangan sesaat dari yang kita lakukan. Karena balasan atas kemaksiatan kita itu banyakan dipending sampai di akhirat. Oh wooww.

Mungkin kita pernah nanya, “Emang seberat apa sih dosa kalo kita bermaksiat itu?”. Well, emangnya mau masuk neraka? Do you know kalo api di neraka itu beribu kali lipat panasnya di dunia. Buat kamu yang ngerasa udah ga mempan sama yang namanya api, yang suka gaya-gayaan matiin api di lilin, ngga bakalan sama deh. Buat kamu yang selama ini jago debus, sama punya tenaga dalem, juga ngga bakalan mempan sama panasnya api neraka.

Mau tau hukuman di neraka yang paling ringan? Nih dia nih…. Disebutkan dalam Shahihain, dari hadits Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang diletakkan dua buah bara api di bawah telapak kakinya, seketika otaknya mendidih.” (Muttafaq ‘Alaih, sebagian tambahan Al-Bukhari, “sebagaimana mendidihnya kuali dan periuk.”

Dalam   redaksi lain, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang memiliki dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka, seketika otaknya mendidih karena panasnya sandal tersebut sebagaimana kuali mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tak ada seorang pun yang siksanya lebih pedih daripadanya, padahal siksanya adalah yang paling ringan di antara mereka.” (HR. Muslim)

Nah, di neraka nanti bakalan banyak yang keGeeRan kalo siksaan buat dia udah pedih bener. Kalo makan yang pedes tuh semacam udah level paling tinggi, padahal eh padahal justru itu siksa yang paling ringan di neraka. Pada merinding ngga sih baca terjemahan hadis di atas? Kalo ada yang masih bilang, ah itu mah urusan ntar, bakalan didoain deh supaya yang maksiat segera kembali ke jalan yang bener.

Penyesalan di akhirat adalah penyesalan yang tiada terkira. Sampai-sampai digambarkan, mereka menggigit tangannya sendiri sebagai bentuk penyesalan dan kerugian. Berangan-angan kalau saja ia dikembalikan lagi ke dunia maka ia akan menjadi orang beriman yang baik. Namun penyesalan itu tak lagi ada gunanya. Sebagaimana dalam ayat

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27). “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta kami akan menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am: 27)

 

Taqwa wanna be.

Menjadi orang yang bertaqwa adalah cita-cita yang harus kita raih sekuat tenaga. Mau lulus UN aja kita sampe kursus di bimbel sama privat segala. Apalagi kita yang mau meraih syurga firdaus Allah SWT. Godaan pasti ada dan ngga jarang kita harus menahan diri dari kesenangan yang bersifat sementara. Kita punya pacar yang kita idam-idamkan hanyalah kesenangan sesaat. Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah status *in a relationship* kalau di facebook. Apalagi kita sampai bermuram durja seolah-olah kita adalah jomblo paling ngenes di seantero sekolahan hehe. Tenang bro sist, kita masih bisa kok menjadi para johap alias jomblo happy. Kita bisa berkreasi dengan banyak aktifitas positif yang berpahala. Contohnya, banyak-banyak ikut kajian keislaman. Udahlah nambah temen, nambah ilmu lagi.

Supaya kita makin kuat dan bisa meringankan langkah kita menjadi seorang individu yang taqwa, maka carilah teman yang juga taat kepada Allah swt. Karena seorang teman adalah cerminan bagi yang lainnya. Maka, carilah teman yang sholih/sholihah, mereka adalah seorang teman yang in syaa Allah akan bisa saling menguatkan satu sama lain sehingga mudah-mudahan bisa menjadi teman di dunia dan teman di surga nanti. Maka carilah teman surga. Wah, sama seperti nama buletin kesayangan kita ini ya? hehe…

Maka jika kalian telah menemukan teman sholih/ah itu, peganglah erat-erat mereka. Bisa saja karena nasihatnya, kita bisa meraih syurga Allah. Bisa jadi teman yang kadang kita anggap menyebalkan karena selalu mengajak pada kebaikan itu justru yang menyelamatkan kita di akhirat. Dan pada saat itu mungkin kita bersyukur, alhamdulillaah selalu diingatkan pada kebaikan. Temen surga itu temen yang selalu ngajak kita kepada kebaikan. Bukan mereka yang selalu iya in kemaksiatan kita. Karena sesahabat-sahabatnya kita sama sahabat kita, kalau ada sahabat yang tinggal kelas, ngga bakalan deh ada yang mau nemenin. Apalagi klo sahabat kita masuk nereka, ih ngga banget deh mau nemenin ke sana. Na’udzubillaah.

Maka, mengajilah, karena dengan ngaji kita akan tau mana maksiat mana yang taat. Dan dengan ngaji, akan buat hidup kita jauh lebih bermakna. Dan percayalah, karena dosa itu berat, jadi jangan coba-coba bercita-cita mau jadi orang pendosa atau mau lama-lama di neraka. Na’udzubillaah.. So, ngga usah baper sama celaan orang ketika kita berusaha  jadi muslim/ah yang taat. Kita doakan agar orang yang mencela itu segera berubah dan menjadi baik  dan kita bisa barengan endingnya di syurga Firdaus Allah swt. Tetap semangat menebar kebaikan kawan.

Buletin Teman Surga 004. Jangan Maksiat, Dosanya Berat, Kamu Gak Akan Kuat