Masbuloh…!

Masbuloh alias masalah buat lho! Lgi ngetrend dlm obrolan remaja. Klo remaja diingetin  trus doi gak suka, keluar deh kalimat ini dengan nada sinis.

Trus, masbuloh…. Masalah buat loh!  Ya iyalah masalah. Bukan buat yang ngingetin, tpi bener buat loh yg diingetin. Masbuloh melengkapi kosakata egp alias emang gue pikirin atau urus aja diri lu, gak usah mikirin orang laen. Koleksi kosakata yang nunjukin sikap egois remaja. Gak terima kalo diingetin kelakuannya yg salah.

Ogah bin risih kalo diajak ke jalan yang bener. Pengennya orang gak usah peduli urusannya. Maunya orang cuek dengan apa yang dikerjainnya. Doi ngerasa badan badan sendiri, tangan tangan sendiri, kaki kaki sendiri.

Ngapain juga orang lain yang repot.  Hey..! Jangan ngerasa geer ya. Klo aja Allah gak perintahkan kita untuk saling  mengingatkan dan menasihati, males juga kita negor ente yang egois dan sok jagoan. Inget bro, kemaksiatan yang ente kerjain akibatnya gak cuman ente yang nanggung. Tapi bakal ngerembet ke orang lain.

Malah bisa juga menimpa orangorang dekat yang ente sayangi. Tega  bener ente ngorbanin ortu, adek, kakak,  atau sohib demi menuhin syahwat  bertingkah seenak udel.  Nyadar bro, gak ada untungnya punya sikap egois.

Seorang muslim gak pernah diajarin sikap egois. Lantaran egois bakal nutup hati kita dari petunjuk Allah. Hidup kita makin suram dan dijejali banyak masalah. So, hapus deh kosakata masbuloh dan kawan-kawannya dari kamus hidup kita.

Biar kita bisa saling mengingatkan dan menguatkan. Jadi, kalo ada yg bilang masbuloh saat diingetin, jawab aja ‘Ya…Masalah buat loh..!!!’ [341]

Jari Tanpa tinta | Golput dalam Pemilu

Wacana Golput menjelang pelaksanaan pemilihan umum selalu jadi trending topic Baik di dunia maya apalagi dalam headline berita. Golpu dalam pemilu Mungkin akan dianggap sepele jika pemilih golput cuman seupil. Masalahnya, prosentasi golput pada setiap pemilu terus beranjak naik dari tahun ke tahun.

Saking populernya itu istilah, remaja sebagai bagian dari GOLongan Pinky dan imUT (GOLPUT) banyak yang nggak ngeh asal muasal golput itu sendiri. Padahal penting banget bagi kita yang udah termasuk usia pemilih, memahami hakikat golput.

Golput dalam Pemilu

Biar kita bisa mensikapi setiap pemilu lebih dewasa dan nggak asal ngikut. Golongan putih (golput) pada dasarnya adalah sebuah gerakan moral yang dicetuskan pada 3 Juni 1971 di Balai Budaya Jakarta, sebulan sebelum hari pemungutan suara pada pemilu pertama di era Orde Baru dilaksanakan .

Arief Budiman sebagai salah seorang eksponen golput berpendapat bahwa gerakan tersebut bukan untuk mencapai kemenangan politik, tetapi lebih untuk  melahirkan tradisi dimana ada jaminan perbedaan pendapat dengan penguasa dalam situasi apa pun. Menurut kelompok ini, dengan atau tanpa pemilu, kekuatan efektif yang banyak menentukan nasib negara ke depan adalah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).  

Kala itu, rezim yang berkuasa memanfaatkan militer untuk menekan rakyat agar memilih satu partai tertentu, suatu tindakan yang jelas bertentangan dengan prinsip bebas dalam LUBER JURDIL. Golpu dalam pemilu Sebagai bentuk protes, Arief Budiman dan kawan-kawan mengajak masyarakat memilih golput.

Mereka tetap datang ke tempat pemungutan suara, tetapi tidak mencoblos lambang partai melainkan bagian putih di sampingnya, sehingga surat suara dihitung tidak sah.  Sejak Pemilu 1955 angka golput cenderung terus naik.

Bila dihitung dari pemilih tidak datang dan suara tidak sah, golput pada pemilu 1955 sebesar 12,34%. Pada pemilu 1971, ketika golput dicetuskan dan dikampanyekan, justru mengalami penurunan hanya 6,67%. Pemilu 1977 golput sebesar 8,40%,  9,61% (1982), 8,39% (1987), 9,05% (1992), 10,07% (1997), 10.40% (1999), 23,34% (Pemilu Legislatif 2004), 23,47% (Pilpres 2004 putaran I), 24,95% (Pilpres 2004 putaran II).

Pada Pileg tahun 1999 angka golput 10,2 persen, pileg 2004 (23,3 persen) dan pada tahun 2009 menjadi 29 persen pemilih yang tidak menggunakan haknya. Golput adalah sebuah sikap moral yang dilindungi Undang-undang.

Hak pemilih untuk tidak memilih, yang dilindungi UUD 1945 Pasal 28E ayat (2): setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Jadi golput bukan gerakan ilegal yang mesti dibasmi bak nyamuk demam berdarah. Golpu dalam pemilu Apalagi sampe difatwakan haram. Terlalu gegabah mengharamkan golput di era demokrasi yang steril dari pemimpin berbasis religi.  

Semakin tingginya jumlah pemilih yang nggak ikut milih dalam pilkada, pileg, pilpres atau pil-pil lainnya seharusnya bikin pemerintah malu bin tengsin. Ngaca dong. Semakin banyak yang golput menunjukkan masyarakat udah nggak  percaya lagi ama para pejabat yang ikut audisi pemimpin. Saat kampanye, berkoar-koar mengumbar janji surga demi kepentingan rakyat.

Giliran udah berkuasa, janjinya udah keburu menguap. Yang ada, dianya sibuk kasak kusuk nyari obyekan biar bisa cepet balik modal ongkos politiknya. Endingya, kena ciduk KPK dan ngantor di hotel prodeo.

Ngenes! Jadi, sebagai remaja yang melek politik tunjukkin deh sikap dalam menghadapi pemilu dengan baik dan benar sesuai hukum syara. Nggak perlu tengsin bin minder kalo jari kita tanpa tinta saat hari pemilihan tiba.

Kalo pun harus masuk bilik suara, pilihlah dengan bijak seperti pertama kali gerakan golput itu ada. Kita sekedar ngingetin, setiap pilihan dalam hidup bakal dimintai pertanggungjawabannya. Tak terkecuali saat mencoblos surat suara.

Makanya, pilihlah pemimpin atau wakil rakyat yang taat sama Allah dan Rasul-Nya dan komitmen mau ngatur urusan rakyat pake aturan Allah. Kalo nggak ketemu kandidat pemimpinnya, ngapain juga ngotorin jari kita pake tinta? [341] 

Pemimpin blusukan adalah..

Keluar masuk gang atau tempat kumuh yang jarang dilewati, mungkin udah biasa bagi rakyat jelata. Pemimpin blusukan adalah yang demikian Namun jika yang melakukannya penguasa, akan lain ceritanya. Apalagi tanpa kawalan aparat dan sorotan media, tentu bakal jadi headline media massa.

Inilah fenomena blusukan yang lagi tenar di ibukota dan kota pahlawan Guna mengetahui secara langsung kondisi masyarakat, Jokowi kerap terjun ke lapangan dan berbaur dengan warga ibukota. Hal yang sama juga dilakukan Ibu Risma di kota Pahalawan.

Bedanya, yang di Ibukota lebih banyak di ekspos media massa sementara yang di kota kelahirannya Bung Tomo minim publikasi namun hasilnya maksi.  Di era demokrasi, blusukan pemimpin masyarakat boleh jadi dianggap unik. Jarangjarang lho ada pemimpin yang turun ke jalan bersihin got, ikut narik selang pemadam kebakaran atau ngatur lalu lintas di perempatan jalan.

Lantaran dalam sistem  sekuler ini, penguasa dan rakyat seperti  majikan dan buruh. Penguasa wajib dilayani sepenuh hati. Sehingga kalo lagi perjalanan dinas, mesti dapat jamuan istimewa, jalan raya wajib dikosongkan, spanduk selamat datang mesti dipasang di tempat strategis, dan media massa wajib memberitakan.  Sementara dalam Islam, blusukan adalah bagian dari tanggung jawab penguasa.

Nggak perlu ribet pake protokoler atau kawalan Voorijder untuk turun ke lapangan. Syukur-syukur rakyat nggak kenal ama penampakan penguasanya, biar saat cerita tentang masalah pribadi atau lingkungan sekitar lebih alami tanpa rekayasa. Seperti dicontohkan oleh khalifah Umar bin Khathab yang membawakan sekarung gandum untuk keluarga miskin yang ditemuinya tengah memasak batu saat blusukan. Dalam Islam, penguasa itu melayani, bukan dilayani.

Itulah karakter penguasa yang dibentuk dalam sistem pemerintahan Khilafah yang mengikuti jejak kenabian. Penguasa blusukan, itu memang sudah kewajiban![341]

Cewek Cabe-cabean

Setelah generasi alay, Ibu pertiwi kedatangan generasi baru penyuka sayuran. Cewek cabe-cabean namanya.  

Ups, mereka bukan golongan vegetarian tapi julukan bagi remaji yang pola pergaulannya bebas dan murahan.  Yup, fenomena cewek cabe-cabean sempat menyita perhatian media. Kehadiran mereka cukup bikin masyarakat bete ngeliatnya. Mulai dari dandanan ala kadarnya, hingga perilaku asusila yang bikin risih.

Doyannya pake baju super ketat yang menonjolkan aset berharganya. Dipadukan dengan celana hot pants menutupi bongkah bemper belakan dengan warna mencolok mata. Ditambah lagi senyum centil yang dihiasi behel gigi ala kadarnya. Bukan untuk kesehatan, tapi ikut-ikutan.

Jadinya pasang di ahli gigi pinggir jalan, bukan di dokter gigi. Walhasil, bukan senyum manis yang didapat. Tapi senyum kecut yang bikin orang lain semaput!  

Perilaku gadis cabe-cabean juga bikin risih. Tingkah polanya seperti ‘menjual diri’ ke lawan jenis. Apapun dijabanin asal bisa dapet  perhatian dari cowok sebaya. Romantisme bagi mereka lebih condong ke perilaku seks bebas.

Bahkan ada yang melakukan transaksi seksual di arena balap liar demi secuil rupiah. Makanya mereka dijuluki ‘cabe’ akronim dari ‘Cewek Alay Bahan Exxxan’! Cewek cabe-cabean adalah potret buram remaja yang menjadi korban gaya hidup hedonis yang memanjakan kesenangan dunia. Provokasi media yang menampilkan kehidupan materialis selebriti tak ayal bikin ngiler remaji untuk ikut mencicipi.

So, apapun dijabanin asal bisa eksis dan mendulang rupiah. Walaupun harus merendahkan derajatnya dengan ‘menjual diri’.  Cara terbaik merangkul remaja korban hedonis adalah dengan memahamkan mereka akan hakikat hidup yang tak hanya di dunia, tapi bakal ada kehidupan abadi di akhirat.

Kehidupan yang bakal meminta tanggung jawab atas setiap perilaku di dunia sebelum menempati kapling surga atau neraka. Sehingga mereka bisa berbenah diri untuk memperbaiki perilakunya dengan memegang prinsip, dunia sementara akhirat selamanya! [341]