“Ayolah Ir, sekali ini saja. Nanti nyesel, lho!” bujuk Mia, entah sudah ke berapa kalinya. Namun aku tetap kukuh dengan pendirianku.
“Jarang – jarang lho kita bisa ngumpul teman – teman sekelas, momentnya pas banget, acaranya pasti seru!” Nina ikut mengompor – ngomporiku. Aku menggeleng pelan ‘anak ini, sudah dibilangin nggak, tetap nggak’ aku berujar dalam hati, sudah beberapa kali kukatakan alasanku untuk tidak ikut merayakan malam pergantian tahun yang direncanakan teman – teman sekelasku yang tinggal dua minggu lagi, namun beberapa di antara mereka tetap berharap dan membujuk agar aku ikut. Pasalnya, mereka kekurangan dana untuk biaya transportasi ke puncak. Mereka memang merencanakan untuk merayakan malam pergantian tahun di puncak dan setiap orang harus mengumpulkan uang seratus ribu rupiah.
Ada lima orang yang tidak bisa ikut, salah satunya aku. Namun empat yang lainnya tidak ikut karena larangan orang tua mereka, jadi tidak ada kemungkinan lagi untuk mengikutkan mereka, lain dengan aku, aku tidak ikut karena memang aku sendiri yang tidak berniat untuk ikut. Inilah yang membuat beberapa temanku, terus membujukku untuk ikut, karena merasa masih ada kemungkinan untuk mengubah keputusanku.
“Merayakan malam pergantian tahun dengan berhura – hura seperti yang kalian rencanakan itu, sama sekali tidak ada manfaatnya. Menjelang pergantian tahun, seharusnya kita sibuk mengintropeksi diri, hal – hal apa saja yang perlu diperbaiki tahun mendatang, bukannya sibuk berpesta kembang api. Lagian, kita ini Muslim, tahun baru kita sudah lewat, malam 1 Muharram kemarin, itulah malam tahun baru kita,” aku mencoba berpendapat ketika hari itu teman – teman sekelasku mengadakan rapat tentang rencana perayaan pergantian tahun. Ada yang mengangguk – angguk tanda setuju, namun tetap saja ingin ikut. Ada juga yang melengos tanda tak setuju. Minimal aku sudah berusaha untuk menyampaikan apa yang seharusnya kusampaikan. Anehnya, walaupun sudah begitu, masih ada teman – teman yang berusaha membujuk, bahkan ada yang berkata, “Kalau kami sudah mulai pesta kembang apinya, kamu nggak apa – apa kok tidur duluan Ir, asalkan kamu ikut kami ke puncak.” Gubraks!
***
Malam pergantian tahun masehi seminggu lagi. Teman – teman sekelasku masih dalam masalah yang sama, biaya transportasi mereka minus seratus ribu rupiah. Aku merasa ada yang berbeda dari sikap teman – teman kelasku. Tidak ada yang ingin duduk dekatku, termasuk Mia, teman sebangkuku sejak menjadi siswa baru di SMA ini tiga bulan yang lalu, tidak ada yang mengajakku berbicara seharian, tidak ada yang mengajakku jajan di kantin dan yang paling membuatku terheran – heran sekaligus sedih, tidak ada yang membalas senyumku. Saat jam istirahat tiba, aku memilih untuk berdiam di mushalla sekolah. Inilah tempat terbaik untukku saat ini. Aku duduk menyandar di dinding mushalla, kusadari dua anak sungai mulai mengalir perlahan di pipiku dan jatuh menitik di kerudung putih yang kukenakan ke sekolah. Makin lama, aku makin terisak. Keadaan ini mengingatkanku pada kejadian di sekolahku dulu sebelum aku pindah ke sekolah ini.
“Di sini bukan pesantren! Kamu harus mematuhi peraturan di sekolah ini! Untuk mengikuti mata pelajaran Pendidikan Jasmani, harus memakai pakaian olahraga, termasuk celananya, bukan ‘daster’ yang setiap hari kamu kenakan ke sekolah!” bentak salah satu guru yang bertanggung jawab di bidang konseling (BK).
Ini sudah ke sekian kalinya aku menghadap ke ruang BK, jilbab yang kukenakan ke sekolah tiap harinya menjadi sumber permasalahan ini, apalagi ketika guru Pendidikan Jasmani di kelasku lagi – lagi mendapatiku tidak memakai celana saat olahraga di lapangan. “Maaf Bu, bukannya saya membantah. Tapi seperti inilah yang saya pahami Bu, seorang Muslimah wajib hukumnya untuk mengenakan kerudung dan jilbab setiap keluar rumah. Jika Ibu mau, saya bisa menunjukkan dalilnya dalam Al Qur’an, surah Al Ahzab ayat 59. Jilbab diartikan sebagai baju yang mengulur tanpa potongan layaknya terowongan, atau seperti istilah ibu tadi, baju daster. Peraturan sekolah memang untuk ditaati, tapi peraturan Allah di atas segalanya, Bu. Sekali lagi saya minta maaf Bu, jika saya tetap memakai jilbab saya ini ke sekolah.” Aku mencoba membela diri seperti sebelum – sebelumnya.
Namun penjelasanku itu, sama sekali tidak bisa menggoyahkan guru BK yang memang terkenal hanya sekali dalam berkata, apapun itu, sekali tidak, tetap tidak! Akan tetapi, bukan itu sebenarnya yang membuatku pindah sekolah. Tidak lama setelah itu, berhembus kabar tentang adanya jaringan teroris di sekolah – sekolah. Kebanyakan teman – teman dan guru – guruku yang dulunya begitu baik padaku, sepertinya terprovokasi dengan kabar itu. Aku kembali dipanggil ke ruang BK. “Maafkan Ibu, Ira. Keputusan ini bukan semata – mata keputusan Ibu, namun berdasarkan hasil rapat guru – guru kemarin, kamu terpaksa dikeluarkan dari sekolah,” ujar Ibu Tika pelan. Guru BK yang kemarin – kemarin membentakku, kali ini berujar lembut padaku. Aku tersentak kaget. Mengapa? Karena jilbab ini? Atau karena kabar tentang terorisme itu? Aku bertanya – tanya dalam hati. Ingin aku bertanya langsung, namun percuma saja, Ibu Tika beranjak dari tempat duduknya, meninggalkanku sendirian yang termangu dan pelan – pelan meneteskan air mata. Hari itu kalender menunjukkan tanggal 11 September. Bel masuk nyaring terdengar. Aku cepat – cepat menyeka air mataku dengan ujung kerudungku, kemudian segera menuju kelas, kembali mengikuti pelajaran.
***
Pesan pendek yang kuterima dari Kak Hikmah saat hendak ke sekolah pagi itu membuatku senang. Beliau adalah seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas ternama di kota ini. Beliau memberiku kajian – kajian Islam sejak enam bulan yang lalu. Aku mengenal beliau saat sedang berselancar di warnet. Saat itu, aku sedang kebingungan mencari bahan untuk tugas makalah sejarah. Mungkin Kak Hikmah melihat dari raut wajahku yang kebingungan, beliau lalu menghampiriku dan membantuku mencari bahan makalah. “Bagaimana kalau adik mengangkat sejarah tentang masa kejayaan Islam yang berlangsung selama 13 abad?” usul Kak Hikmah saat itu. “Memangnya ada ya Kak, sejarah kayak gitu?” tanyaku polos. Kak Hikmah tersenyum manis. Kemudian mulai mengetik kata kunci di kolom pencarian.
Beliau juga meminjamkan sebuah buku yang katanya bisa menjadi referensi tambahan. Sebuah pertemuan yang sampai saat ini begitu aku syukuri. Pertemuan yang membawaku mengenal Islam yang sesungguhnya. Tersadar aku dari lamunanku. Setelah memasukkan handphone ke dalam tas, aku segera beranjak menuju sekolah. “Masih belum mau ikut kamu, Ir?” Mia menodongku dengan pertanyaannya di depan kelas saat aku baru saja ingin masuk. “Eh Mia! Alhamdulilllah, akhirnya kamu ngomong juga ke aku,” Aku tersenyum sambil merangkul bahunya. Mia melepaskan rangkulanku dan mengulangi pertanyaannya. “Kamu belum mengubah keputusan kamu setelah dicuekin teman – teman sekelas?” kali ini tekanan suaranya lebih tinggi. Aku menggeleng. “Nggak, Mia. Aku tetap nggak mau ikut. Aku juga Assalamu’alaikum Wr.Wb. Kaifa haluk, dik? Semoga sehat selalu ya. Afwan infonya telat, tanggal 31 Desember nanti, ada mabit (malam bina taqwa) di rumah. Mudah – mudahan bisa ikut, dik. Ok. Jazakillah khairan katsiran. sudah punya agenda tanggal 31 Desember nanti,” kataku tegas seraya berjalan meninggalkannya memasuki kelas.
***
“Cobaan tidak henti – hentinya menimpa orang Mukmin laki – laki maupun Mukmin perempuan; baik menimpa dirinya, anak – anaknya maupun hartanya hingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun.” (HR. At Tirmidzi) “Cobaan atau ujian yang kita dapati adalah sarana yang diberikan Allah untuk meninggikan derajat serta menghapus dosa kita, asalkan kita senantiasa berpegang teguh pada agama ini. Ujian yang pernah Ira hadapi, mulai dari dikeluarkan dari sekolah dan dicuekin teman – teman, bukankah itu semua untuk mempertahankan aturan Allah? Insya Allah, Ira mendapatkan derajat yang spesial di sisi Allah,” kata Kak Hikmah lembut. Kusempatkan untuk berbincang dengan Kak Hikmah saat selesai menunaikan shalat sunnah tahajjud. Rumah Kak Hikmah begitu ramai, mabit diikuti puluhan akhwat dari kampus Kak Hikmah.
Baru saja aku beranjak untuk tadarrus Al Qur’an, handphoneku bergetar, ada SMS masuk. Pukul 12.20, siapa? Kubuka pesan itu, dari Mia. Innalillah… Mereka ternyata tetap berangkat tadi. Mungkin mereka sudah mendapatkan uang untuk mencukupkan biaya transportasi. Semoga Allah memberikan mereka kemudahan dan ampunan. Aamiin. Malam ini, 31 Desember, satu lagi tanggal yang menjadi saksi betapa Allah menyayangiku….[]