Ella ella, ay ay ay, under my umbrella..
tahu kan, ini bukan lagu rayuan buat Pok Ela penjual nasi uduk, Tapi buntut chorus dari lagu Umbrella. Lewat tembang yang dinyanyikan bareng Jay-Z inilah, Rihanna penyanyi dari ndeso Barbados jadi superstar di dunia lepas suara. Umbrella menduduki peringkat pertama di tangga lagu Inggris selama 10 minggu berturut-turut.
Menjadikannya lagu paling lama yang bisa bertengger di puncak. Rihanna juga menciptakan rekor jumlah pemirsa konsernya. Album yang memuat Umbrella terjual 6,2 juta kopi di seluruh dunia. Menjadikan Rihanna menyabet Platinum Award dari Amrik, Rusia, Inggris, dan Irlandia. Umbrella pun ditembang ulang oleh 19 penyanyi di seluruh dunia. Wow, musiknya memang asyik, beat-nya rancak, dan ekor chorus-nya itu lho yang ela ela tea.
Tapi ntar dulu, inget pesan Bang Haji Rhoma Irama: Kenapa yang asyik-asyik itu diharamkan? Itulah perangkap setan. Ya, ternyata kalau kita geledah lirik Umbrella, mengandung pesan kejayaan Yahudi (Zionisme Internasional). Coba simak:
When the clouds come we gone/we Rocafella/We fly higher than weather….
Rocafella di dalam lirik itu melafalkan Rockefeller. Rockefeller salah satu dari 13 garis keturunan (marga) illuminati yang menguasai dunia. Di antaranya John Davis Rockefeller, pengusaha Yahudi-Amerika. Keluarga Yahudi lain yang menguasai dunia adalah Rotschild, yang sejak 2010 memborong sebagian saham Grup Bakrie milik Abu Rizal Bakrie.
Melalui Rockefeller, ekonomi Indonesia dikendalikan Mafia Berkeley. Itu dimulai ketika Presiden Soeharto mengirim Tim Perekonomian yang terdiri Prof Sadli, Prof Soemitro Djoyohadikusumo, dan sejumlah profesor alumnus Berkeley University, AS, ke Swiss berembug dengan konglomerat Yahudi dunia yang dipimpin Rockefeller. Lirik berikutnya menegaskan pesan Yahudi:
Said I’ll always be a friend/Took an oath I’m a stick it out till the end…
Aku setia dalam cengkeramanmu, bersumpah selalu bersamamu sampai akhir. Umbrella bukan sekadar bermakna payung, tapi mengandung arti alegoris (perlambang) yakni ”Dajjal” sebagaimana lambang masonik berbentuk payung. Weis, kok jadi serius banget urusannya? Masih banyak, Bro and Sis, pesan Yahudi yang terselip di dunia musik, baik dalam asesoris penyanyi, perilaku vokalis, lirik lagu, sampai sampul kaset.
Raihanna misalnya, dalam aksi teatrikal saat manggung di Amerika, melakukan gerakan yang mewujudkan All Seeing Eye. Ini dikenal sebagai simbol A-ok, yakni lingkaran dua jari yang dilekatkan ke mata. Mata melambangkan Horus Eye atau Dewa Matahari (Ra). Nama Dewa ini pun terselip dalam salah satu bait lagu Bad Romance yang ditembangkan Lady Gaga:
Rah-rah-ah-ah-ah-ah/Roma-roma-mamaa/Ga-ga-ooh-la-la/Want your bad romance.
Artis dan grup ”Wabah Korea” (Hallyu) yang populer juga membawa pesan Yahudi seperti A-ok. Misalnya Dong Hae, Lee Joon, SNSD, Browned Eye Girls, dan Shinee MV. Di Indonesia, semua tahu lagu Dewa dan Ahmad Dhani asyik-asyik. Tapi ya itu, sarat dengan pesan Yahudi dalam berbagai bentuknya. Kalau di genre rock sih sudah jelas, misalnya simbol-simbol yang dibawakan pemusik yang memang berdarah Yahudi macam David Lee Roth (Van Halen), Gene Simmon dan Paul Stanley (Kiss) serta Ozzy Osborne (Black Sabbath).
Eh, di lagu balada juga ada lho. Misalnya, siapa sih yang tak terkesima menyimak lagu ”Donna Donna” yang dibawakan Joan Baez dengan suara emasnya. Beuh, jangankan yang generasi ABG (Angkatan mBah Gue), generasi anak baru gede jaman sekarang pun pasti akan terpesona mendengarnya, asalkan hatinya selembut sutera seperti kata Jamal Mirdad (waks, jadul nian!). Gak tahunya, setelah dilacak di Wikipedia, lagu itu aslinya berjudul “Dana Dana”. Bukan ya dana ya dana yang dinyanyikan Wafiq Azizah itu.
Dana-Dana adalah sebuah lagu teater Yidish dari Bahasa Yahudi Ashkenazi (Yahudi keturunan Khazar yang sekarang wilayah negara Georgia). Lagu yang ditulis Aaron Zeitlin dan dikomposeri Sholom Secunda ini menceritakan tragedi pembantaian anak sapi, yang merupakan alegori atas ”Holocoust”. Drama pembantaian Yahudi ini belakangan ketahuan hanyalah kisah-kisah lebay belaka. Eh, ternyata, Donna-Donna nama lain dari ”Adonai” yang merupakan sebutan Kaum Yahudi untuk tuhannya. Musik: Jalan Yahudi Menggenggam Dunia Ironisnya, produk industri musik kapitalisme itu lahap ditelan jutaan orang Islam utamanya kaum belia. Sebagian mereka mungkin tidak ngeh dengan misi Yahudi di dalamnya. Sebagian lain ngeh tapi tidak tahu harus berbuat apa.
Tapi yang mengerikan, sebagian yang tahu tapi tidak mau tahu alias cuek bebek, karena tak mau kehilangan yang asyik-asyik. Padahal, dari intervensi atas hal-hal sepele itulah, Yahudi ingin menggenggam dunia. Belum lama ini, eks Presiden Kuba Fidel Castro, melalui tulisannya mengingatkan bahwa Bilderberg Group, sebuah organisasi bayangan, telah bertransformasi menjadi semacam pemerintahan global dan mengendalikan berbagai hal. Tidak hanya dalam bidang politik dan ekonomi internasional, bahkan budaya pun tak luput dari kendali organisasi tersebut. Hal itu diungkap Castro pada Rabu, 18 Agustus 2012, dalam tiga halaman surat kabar milik Partai Komunis Kuba, Granma. Sebagian besar tulisan Castro mengutip buku “Rahasia Kelompok Bilderberg” (2006) karya Daniel Estulin.
Seperti dikutip Castro, dalam buku itu Estulin menyebut golongan jahat dan para pelobi Bilderberg memanipulasi publik “untuk menciptakan sebuah pemerintahan global yang tidak kenal batasan dan tidak bertanggung jawab pada siapa pun kecuali dirinya sendiri.” Situs Bilderberg menyebut para anggotanya “hampir tiga hari mengadakan diskusi secara informal dan rahasia mengenai topik-topik yang dikhawatirkan” setahun sekali.
Pertemuan-pertemuan itu, katanya, ditujukan untuk mendorong masyarakat bekerja sama mengatasi permasalahan kebijakan besar. Nah, anggota Bilderberg kebanyakan tokoh berdarah yahudi dan pro-Zionis antara lain Keluarga Rockefeller, Henry Kissinger, pejabat senior AS dan Eropa serta pengusaha dan pimpinan media internasional. Estulin juga mengungkap bagaimana Rockefeller Family pada 1950-an mempromosikan musik rock untuk mengendalikan massa dengan mengalihkan perhatian mereka dari hak-hak sipil dan ketidakadilan sosial. “Orang yang ditugasi memastikan agar rakyat Amerika menyukai the Beatles adalah Walter Lippmann,” ungkap Estulin, menunjuk filosof politik dan mantan kolumnis surat kabar yang meninggal pada 1974. “Di AS dan Eropa, banyak konser besar musik rock yang digelar di tempat terbuka digunakan untuk meredam rasa tidak suka masyarakat.” Estulin dalam situs pribadinya menyebut bahwa serangan 9/11 kemungkinan disebabkan oleh sejumlah bom nuklir kecil dan bukan tubrukan pesawat Boeing.
Driser, dari yang asyik sampe yang berisik, musik emang pantas jadi teman setia dalam situasi apapun. Tapi inget, musik yang banyak beredar pastingga nggak bebas nilai. Ada aja misi terselubung yang tanpa kita sadari ternyata bermuatan iluminati dan ajaran Yahudi. Makanya kita harus hati-hati. Buka mata, buka telinga, buka pikiran, dan buka internet. Jadilah remaja melek media. Cari tahu latar belakang musik yang lagi hit. Jangan mentang-mentang kedengeran di kuping enak, terus kita ikut jingkrak-jingkrak. Bisa-bisa kita kebawa ikut ajaran di luar Islam. Nggak lah yauw![]