dari dulu sampe sekarang, penderitaan kaum muslim nggak pernah berhenti. Belum berakhir penganiayaan muslim di suatu negeri, dimulai Dlagi penganiayaan muslim di negeri yang lain. Miris banget deh ngeliatnya. Penganiayaan kaum muslim yang lagi hangat-hangatnya terjadi saat ini menimpa kaum muslim Rohingya yang tinggal di Myanmar (Burma). Islam mulai masuk ke wilayah ini sejak abad ke-7 M, udah lama banget kan.
Bahkan jauh-jauh hari sebelum negara Myanmar terbentuk. Sialnya, justeru umat Islam sebagai penduduk asli, sekarang malah diusir oleh pemerintahan militer Myanmar. Kebangetan! Presiden Myanmar Thein Sein mengatakan bahwa muslim Rohingya akan disuruh pergi jika ada negara ketiga yang mau menerima mereka, karena etnik Rohingya bukan termasuk etnik Myanmar.
Nestapa muslim Rohingya ini juga memperlihatkan kepada kita bahwa ajaran cinta kasih dalam agama Buddha hanyalah bullshit belaka. Karena ternyata umat Buddha yang didukung oleh pemerintah Myanmar-lah yang tela membantai kaum muslim Rohingya.
The Independent bahkan melaporkan bahwa para bikhu (pendeta dalam agama Buddha) memblokir bantuan kemanusiaan yang akan disampaikan untuk muslim Rohingya. Parah banget kan! Derita muslim Rohingya jadi lebih parah dengan adanya ide nasionalisme. Paham yang mengagung-agungkan kebangsaan ini telah sukses memecah-belah kaum muslim, sekaligus telah sukses memotong negeri-negeri kaum muslim. Ribuan muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh, negara yang berbatasan langsung dengan Myanmar.
Di sana, mereka bukannya ditolong dan dilayani dengan baik, eh malah dianggap sebagai pendatang ilegal dan akan dideportasi kembali ke Myanmar. Ya udah makin ancur aja mereka. Padahal orang Bangladesh kan muslim, pemerintahannya dipegang oleh orang Islam, anehnya Cuma gara-gara nasionalisme, mereka ogah menolong sesama muslim.
Kalau ada kaum muslim yang dianiaya dengan senjata, Allah mewajibkan kaum muslim untuk mengirimkan angkatan bersenjatanya untuk membela muslim yang ditindas itu. Tapi karena nasionalisme, kaum muslim nggak melaksanakan kewajiban itu. Alasannya, ah mereka kan bukan orang indonesia, ah itu kan urusan luar negeri, ah kita harus fokus dengan kepentingan nasional, ah di dalam negeri aja banyak urusan ngapain mau ngurusin negara lain, kan kacau kalo kaya gini. Karena itulah Allah dan RasulNya melarang keras nasionalisme (ashobiyah), dan mewajibkan kaum muslim bersatu di bawah kepemimpinan negara Khilafah Islamiyah.
Hanya dengan kehadiran seorang khalifah seluruh kaum muslim di dunia akan terlindungi. Seperti yang dilakukan oleh khalifah al-mu’tashim yang membela seorang muslimah dari tindakan pelecehan oleh penduduk negeri Amuria. Allahu akbar![Isa]