MajalahDrise.com – Ngomongin cinta emang nggak ada abisnya. Karya seni yang terinspirasi dari cinta pun nggak ada matinya. Mulai dari lagu, puisi, novel, hingga film layar lebar nggak pernah sepi dari tema cinta. Sebut saja Yovie Widianto atau Melly Guslaw, dua musisi kenamaan ini paling piawai menciptakan lagu-lagu cinta. Duet Riri Riza dan Mira Lesmana pernah sukses ngegarap film remaja bertajuk “Ada Apa Dengan Cinta”. Dan seorang Habiburrahman el-shirazi alias kang ebik berhasil mengguncang pecinta novel cinta dengan karya best sellernya, “Ayat-Ayat Cinta”. Cinta!
Kenapa Obrolan Soal Cinta Nggak Ada Abisnya?
Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya sehingga terlihat indah. Ibaratnya kalo kita ngeliat mawar, nggak ambil pusing dengan durinya yang berbahaya, tapi justru lebih asyik merhatiin bunganya yang indah mempesona. Makanya, bagi orang yang lagi kasmaran, pepatah nobody’s perfect sementara di-disabled. Karena dimatanya, pujaan hati selalu terlihat sempurna. Itu dia jawabannya. Karena cinta begitu indah! Cinta terasa indah karena mengandung kebahagiaan (happines), menyenangkan (comfort), dan kepercayaan (trust). Ketiga perasaan indah itu ngasih sugesti positif yang melahirkan sikap optimis dan positif thinking. Nggak heran kalo pengidap virus merah jambu hatinya selalu berbunga-bunga. Keliatan tuh dari bahasa tubuhnya. Yang tadinya pendiem, jadi nggak mau diem kaya cacing kepanasan.
Gelisah terus. Yang tadinya doyan pasang muka jutek, jadi hobi obral senyum dan sksd sama semua orang. Hatihati kebanyakan senyumnya, entar dikira pasien RSJ yang kabur lagi. Kan berabe. Kita memang nggak pernah tahu wujud keindahan cinta yang abstrak. Sehingga banyak yang bilang, indahnya cinta itu lebih mudah dialami daripada dijelaskan. Bener juga sih. Tapi bagi para ilmuwan, seluk beluk cinta kudu bisa dijelaskan secara ilmiah. Hasilnya, muncullah istilah Feromon, yaitu zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Berbeda dengan hormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang spesies (wikipedia).
Ternyata, feromon pada manusia juga berfungsi sebagai daya tarik seksual. Para ahli kimia dari Huddinge University Hospital di Swedia malah mengklaim kalo feromon juga punya andil dalam menghasilkan perasaan suka, naksir, cinta, bahkan gairah seksual seorang manusia pada manusia lainnya. Ini mereka buktikan saat melakukan penelitian terhadap reaksi otak 12 pasang pria-wanita sehabis mencium bau senyawa sintetik mirip feromon. Bebauan tersebut langsung bereaksi terhadap hormon estrogen (pada wanita) dan hormon testoteron (pria). Nah, ternyata memang obrolan seputar cinta tak sebatas lisan saja. Tapi juga memancing hormon tubuh dan pastinya bikin nyaman perasaan. Makanya wajar kalo udah ngobrolin cinta, terutama remaja, suka lupa diri saking asyiknya.
Ekspresi Cinta Remaja
Serunya remaja ngobrolin perkara cinta, tak cukup sekedar kata. Apalagi hanya terhias dalam status sosial media. Remaja ngerasa belon afdhol kalo rasa cintanya nggak keliatan di dunia nyata. Jadi sebisa mungkin dikasih ekspresi biar cinta tak bertepuk sebelah tangan. Seperti apa ekspresi cinta remaja, mereka belajar dari tayangan media. Mulai dari sinetron, reality show, hingga acara gosiptainmen yang terus meneror tayangan remaja. Kalo kita liat, serial sinema elektronik alias sinetron nggak pernah absen mengisi jam tayang utama setiap harinya. Baik produk lokal maupun interlokal.
Dan pastinya, persoalan cinta masih jadi bahasan utama. Yang bikin beda paling cuman wajah-wajah baru pemainn ya. Alur ceritanya juga gitu-gitu aja. Diawali perkenalan yang nggak sengaja, terus jatuh cinta, ada pihak ketiga yang nggak suka, dibuat deh konflik antar pemain yang mengada-ada, endingnya damai semua. Wajar kalo mental remaja kita pada letoy. Wong tiap hari hiburannya dicekokin cerita cinta melulu.
Kaya nggak ada tema lain yang lebih mendidik. Selain sinetron, tiap hari remaja juga dicekokin tayangan gosip seputar kehidupan cinta kaum idola. Dari Ayu Ting-ting, Pevita Pearce hingga al-Ghozali. Gak ada bosennya menghiasi layar kaca. Pokoknya semua ada. Remaja tinggal duduk, diam, dan terima dengan pikiran terbuka semua mata pelajaran cinta dari para idola. Mulai dari bab pedekate, bab jalan bareng, bab mengumbar kemesraan di depan publik, sampe bab gonta-ganti pasangan.
Gencarnya tayangan yang mengupas cinta semakin menghanyutkan remaja dalam buaian asmara dalam balutan budaya pacaran. Walhasil, remaja seolah tak punya pilihan untuk mengekspresikan rasa cintanya kecuali dengan pacaran. Waduh!
Ekspresi Cinta di Atas Garis
Rasa cinta itu anugerah. Jadi nggak ada alasan untuk membencinya apalagi sampai menolak kehadirannya.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah AlMuhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang. Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah” . Yang harus kita lakukan adalah menjaga cinta agar tetap berkah. Bukan malah berbuah masalah. Lantaran sebagai manusia, kita selalu disodorkan dua pilihan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri. Sebagaimana Allah swt berfirman: Dan telah Kami tunjukkan (kepada manusia) dua jalan” (QS. Al-Balad: 10)
Yup, Allah swt udah ngasih kita dua jalan. Jalan kebaikan dan jalan keburukan. Itu artinya, jika kita dihadapkan pada garis yang memisahkan baik dan buruk, kita harus memilih salah satu. Jika di atas garis adalah taat, maka dibawah garis adalah maksiat. Jika di atas garis adalah surga, maka di bawah garis tentu neraka.
Jika di atas garis warna putih, maka di bawah garis warna hitam. Nggak ada pilihan di tengah-tengah. Karena tak ada area abu-abu dalam Islam. Untuk urusan cinta, remaja banyak terhanyut dalam area di bawah garis alias maksiat. Budaya pacaran yang merajalela menjerumuskan kawula muda dalam gaya hidup pemuja syahwat. Ujung-ujungnya bisa kualat. Hidup di dunia minim manfaat, masuk neraka pula di akhirat. Alamaaak…! Karena itu, udah waktunya remaja muslim move on dari ekspresi cinta maksiat yang di bawah garis, menjadi cinta mulia tanda taat yang di atas garis. Biar bisa lolos dari ujian cinta dan nggak jadi pemuja cinta, berikut tips dari kita: Pertama, cintai sewajarnya.
Cinta itu perilaku hati yang bisa berubah sewaktuwaktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Jadi, kalo kita poling in lop (baca: jatuh cinta) ama seseorang, cintai aja sewajarnya karena Allah swt. Nggak usah didramatisir layaknya kisah cinta cinderella atau Romeo dan Juliet. Karena boleh jadi suatu saat perasaan itu berbalik seratus tujuh puluh sembilan koma sembilan derajat. Saat itu terjadi, kita akan lebih siap menerima kenyataan. Rasul saw bersabda: “Cintailah orang yang engkau cintai sewajarnya saja, karena boleh jadi dia akan menjadi orang yang engkau benci suatu saat nanti. Bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saja karena boleh jadi dia akan menjadi orang yang engkau cintai suatu saat nanti” (HR. Tirmidzi)
Kedua, kendalikan dengan Islam. Jangan biarkan rasa cinta yang datang menjadi liar. Kita bakal kewalahan ngadepinnya. Segera kendalikan dengan aturan Islam. Kasih tau dari awal kalo ekspresi cinta dalam Islam hanya diperbolehkan setelah khitbah (pinangan) menuju pernikahan. Itupun tetep ngikutin aturan gaul Islam yang melarang mojok berduaan (berkhalwat) tanpa disertai mahrom. Nggak ada ruang sedikitpun bagi perilaku pacaran. Kalo tetep ngotot pengen pacaran. Entar kalo udah merit, puaspuasin deh tuh pacarannya! Ketiga, pupuk cinta sesama muslim. Rasa cinta nggak melulu kepada lawan jenis. Rasa cinta juga berwujud kasihsayang kita pada sesama muslim sebagai saudara satu akidah.
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45). Ekspresi cinta sesama muslim itu bentuknya dengan saling menasihati untuk mengingatkan dan menguatkan. Karena nasehat berarti menginginkan kebaikan pada orang lain. Kita ingin saudara kita itu jadi baik ketika dinasehati, bukan ingin mereka direndahkan atau disalahkan. Keempat, Cinta Allah paling atas. Sebesar apapun rasa cinta kita berikan, tetep nggak boleh lebih tinggi dari kecintaan kita kepada Allah swt. Itu artinya, kalo pasangan kita mengajak bermaksiat (contohnya pacaran), wajib ditolak tuh.
Lalu bilangin kalo nggak ada pacaran dalam Islam dan nggak ada pacaran Islami. Sama seperti yang terjadi pada putranya khalifah Abu Bakar. Abdullah bin Abu Bakar cinta banget ama istrinya yang cantik, luhur budinya dan agung akhlaknya. Namun ternyata, kecintaannya tersebut malah melalaikannya dalam berjihad di jalan Allah. Lalu Abdullah pun menceraikan istrinya seperti yang diperintahkan Ayahnya. Ini bukan berarti Abdullah anak papih lho.
Tapi sebagai bentuk kecintaannya kepada Allah swt. Rasul saw ngingetin kita: “Ada tiga hal dimana orang yang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi segala-galanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan enggan untuk menjadi kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya sebagaimana enggannya kalau dilempar ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Cinta pada Allah swt dan Rasul-Nya, bukan berarti kita musuhan dengan rasa cinta pada manusia, harta benda, atau yang lain. Justru, kecintaan kita pada Allah swt bakal ngejaga ketulusan cinta kita. Cinta pada manusia apa adanya. Nggak berlebihan apalagi sampe pacaran atau ikut valentinan. Cinta pada harta benda sesuai kebutuhan.
Nggak diperbudak harta sampe mengorbankan harga diri. Keren kan? Driser, hanya Islam yang menjadikan rasa cinta dan orang-orang yang jatuh cinta terjaga kemuliaannya. Nggak kaya aturan sekuler kapitalis yang menjadikan cinta sebagai komoditi bisnis untuk meraih materi dan kepuasan jasmani. Makanya, penting banget bagi kita untuk mengenal Islam lebih dalam. Agar ekspresi cinta kita, di atas garis..![@hafidz341]
DI MUAT DI MAJALAH REMAJA ISLAM DRISE EDISI 54