MajalahDrise.com – Wanita yang seolah terbuat dari baja ini hidup sekitar 140 tahun yang lalu, amat jauh jaraknya dengan zaman kita sekarang. Namanya pun mungkin hampir saja dilupakan oleh generasi kita, dan kalau pun ada yang masih ingat, tak lebih sekadar karena ada nama jalan yang mengambil namanya. Padahal ketika namanya disebut, saat itulah akan tergambar tentang kegigihan dan perjuangan. Dialah sosok pejuang yang begitu ditakuti penjajah Belanda semasa dia masih hidup, dan namanya dikenang ketika dia sudah tiada. Dialah Cut Nyak Dien: Ratu Perang. Dan tulisan yang amat sederhana ini hendak mengisahkan kembali kegigihan dan perjuangannya yang mengagumkan.
Pada Maret 1873, Belanda mengumumkan perang secara resmi kepada Aceh (saat itu masih berbentuk kesultanan). Deklarasi perang yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, ini disusul oleh datangnya balatentara Belanda sebanyak 3000 prajurit. Di bawah kepemimpinan Jenderal Johann Harmenn Rudolf Kohler, Belanda membombardir Aceh, namun Muslim Aceh menolak menyerah. Dengan semangat jihad berkobar di dalam dada, mereka melawan dengan persenjataan yang mereka miliki. Belanda gagal menguasai Aceh setelah Kohler tertembak di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, dan seluruh kekuatan militer Belanda ditarik mundur ke Batavia.
Pada November tahun itu juga, Belanda kembali mengirimkan ekspedisi militer kedua ke Aceh. Dengan jumlah pasukan yang jauh lebih banyak, dan persenjataan yang jauh lebih lengkap, Belanda menyerbu Aceh. Di bawah kepemimpinan seorang Jenderal tua, Jan van Swieten, Belanda akhirnya berhasil merebut istana Sultan Aceh, Darud Dunya, dan merebut Banda Aceh.
Belanda mengira bahwa dengan dikuasainya Banda Aceh dan istana sultan berarti seluruh Aceh secara otomatis sudah ditaklukkan, padahal tidak. Sultan Mahmud Shah yang melarikan diri pada akhirnya wafat dan dikebumikan di Longbata. Setelah ini, dimulailah Perang Aceh yang bertahan hingga puluhan tahun.
Cut Nyak Dien: Ratu Perang
Seperti dikutip dari De Krijgsgeschiedenis van Nederlandsch Indie van 1811 tot 1894 karya G.B. Hooijer, di dalam pengantar penerjemah untuk buku Atjeh karya H.C. Zentgraff, terdapat gambaran tentang betapa gigihnya Muslim Aceh berperang: “Tidak ada pasukan Diponegoro atau Sentot, baik orang-orang Padri yang fanatik maupun rombongan orang-orang Bali atau massa berkuda orang-orang Bone, seperti yang pernah diperagakan oleh para pejuang Aceh yang begitu berani dan tak takut mati menghadapi serangan, yang begitu besar menaruh kepercayaan pada diri sendiri, yang sedemikian gigih menerima nasibnya, yang cinta kemerdekaan, yang bersikap sedemikian fanatik seolah-olah mereka dilahirkan untuk menjadi gerilyawan bangsanya. Oleh sebab itu, perang Belanda di Aceh akan tetap menjadi sumber pelajaran bagi pasukan kita. Dan karena itu pula saya menganggap tepat sekali jika jilid III atau terakhir sejarah perang (Belanda di Hindia Belanda) itu seluruhnya saya peruntukkan guna menguraikan peperangan di Aceh.” Perang Aceh, sebuah perang besar yang melibatkan Cut Nyak Dien di dalamnya.
Biografi Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien dilahirkan pada 1848 atau 1858 di Lampadang, wilayah Enam Mukim, di Banda Aceh. Dia adalah putri dari Teuku Nanta Seutia, Uleebalang Enam Mukim. Dididik dengan wawasan Islam yang kental semenjak kecil membuat Cut Nyak Dien mencintai agamanya dan negerinya sebagaimana diajarkan Islam. Ini pulalah yang membuatnya benci setengah mati kepada Belanda. Dia adalah wanita yang amat berpengaruh, dan sedemikian besarnya pengaruhnya sampai-sampai Belanda menyadarinya. Inilah yang dicatat oleh koran Bataviaasche Handelsblad yang terbit di Batavia sekitar tahun 1894: “Zoo, staat Teuku Umar de man van het oogenblik in Groot Atjeh, geheel onder den invloed van zijn Tjut Nya’ Din,” (demikianlah, Teuku Umar, orang paling penting dewasa ini di Aceh Besar, sepenuhnya berada di bawah pengaruh istrinya, Cut Nyak Dien) (Mohammad Said, hal. 247. 1965).
Mohammad Said juga menyatakan bahwa Belanda seringkali menyebut “Shruck” (bajingan) kepada Teuku Umar karena pengkhianatannya, tetapi mereka tidak pernah menyebut demikian kepada Cut Nyak Dien. Padahal sudah banyak nyawa prajurit Belanda yang melayang karena strategi-strateginya. C. van der Pol pun berkomentar tentang Cut Nyak Dien: “…een der merkwaardigeste vrouwen in Nederland Indie,” (salah seorang wanita yang paling menakjubkan di Hindia Belanda).
Bekas Residen Belanda Jongejans menulis tentang Cut Nyak Dien: “Sebagai istri-istri dari banyak pemimpin pejuang, Cut Nya’ Din lebih sangat fanatik lagi dari suaminya, dalam hal tidak mengenal takluk. Segala kisah tentang dia serupa ceritanya, terutama bagaimana Nya’ Din senantiasa mendorong dan menggosok suaminya supaya tetap jihad memerangi Belanda. Satu diantara sebab utama maka Umar balik lagi ke pangkuan perjuangan Aceh adalah karena Cut Nya’ Din. Dia menemani Umar ke mana saja, turut merasa pahit pedih perjuangan dan terus mengingatkan bahwa meski bagaimanapun tak bolehlah menyerah. Bahkan sejak Umar wafat, ruh suaminya memberi dorongan kepadanya untuk terus tabah menderita, menyambut kelanjutan pahit perjuangan bersama-sama dengan pengikutnya. Begitulah, masuk dan keluar desa, masuk dan keluar belantara, naik dan turun gunung, dia pun semakin uzur dan rabun, namun dia terus memimpin pengikutnya, diburu dan memburu, tiada waktu mengasoh dari menjaga terhindar dari sergapnya patroli Belanda.”
Lebih jauh lagi, Jongejans berkata: “Maar nog was haat wil niet gebroken.” Yang artinya “namun bencinya tidaklah padam.” Kemudian Jongejans menyimpulkan: “Zij is slechts eene in de rij der vrouwen,” (Hanya dia seoranglah satu-satunya dari antara kaum wanita).
Cut Nyak Dien : janda Teuku Umar yang ulet
Pengaruh Cut Nyak Dien yang amat besar dijelaskan lebih lanjut oleh C. van der Pol: “Apa yang mereka lakukan adalah pada pokoknya karya Cut Nyak Dien sendiri. Serangan-serangan klewang yang hebat-hebat yang dialami oleh Belanda umumnya digerakkan oleh pejuang-pejuang atas instruksi Cut Nyak Dien sendiri. Lebih lagi, di kemudian hari apa yang dikerjakannya terutama di Aceh Besar betul-betul menurut petunjuknya.”
Dalam Kolonial Verslag 1905, nama Cut Nyak Dien pun diabadikan sebagai janda Teuku Umar yang ulet. “Cut Nya’ Din, die energieke weduwe van Teuku Umar, werkte ons vooral in Boven Meulaboh krachtig tegen,” (Cut Nyak Dien, janda Teuku Umar yang enerjik itu merintangi kita dengan hebat terutama di Meulaboh Hulu). Betapa enerjiknya Cut Nyak Dien terlihat pada sebuah laporan resmi Belanda. Sebuah pertempuran pecah pada 30 September 1902 antara pasukan Komandan Scheepers melawan pasukan Sultan Aceh di Pameue, dan Cut Nyak Dien turut bertempur di sana.
Sudah banyak tokoh besar militer Belanda yang mati-matian menangkap Cut Nyak Dien, tetapi tetap saja tidak berhasil. Mereka adalah van Heutsz, van Daalen, van der Maaten, Veltman, H. Colijn, Christoffel, dan masih banyak lagi yang lainnya. Cut Nyak Dien tidak akan bisa ditangkap kecuali oleh pengkhianatan bangsanya sendiri.
Mungkin sedikit sekali yang mengetahui bahwa Cut Nyak Dien dengan Teungku Cik di Tiro punya hubungan besan. Anak lelaki Teungku Cik di Tiro yang bernama Teungku Cik Mahyed menikah dengan anak perempuan Cut Nyak Dien, yang bernama Cut Gambang. Pasangan pejuang ini mewarisi kegigihan orangtua mereka. Cut Gambang selalu menyertai ke manapun suaminya berjuang hingga akhir itu datang di tahun 1910. Zentgraff, seorang wartawan dan mantan prajurit Belanda, mengisahkan sekelumit tentang Cut Gambang dalam sebuah karyanya, Atjeh.
“Seperti telah diceritakan, pada tahun 1909 dimulailah pengejaran-pengejaran terhadap anggota-anggota terakhir keluarga ulama Tiro (keturunan Teungku Cik di Tiro) yang terkenal di gunung-gunung di sekitar Tangse. Schmidt (seorang komandan Marsose) telah mengetahui jejak-jejak mereka itu dan mengikutinya seperti seekor anjing buruan. Akhri tahun 1910 hampir-hampir saja ia dapat menangkap pasukan lawan; ia menyerbu ke tempat-tempat persembunyian mereka. Teungku Mahyed di Tiro dapat melepaskan dirinya, ini artinya penundaan hidupnya untuk beberapa hari lagi, tetapi istrinya jatuh ke tangan kita dalam keadaan luka parah.
Ketika pasukan selesai melakukan pembersihan di daerah itu barulah diketahui kehadiran wanita itu. Ia berseluar dan berbaju hitam, badannya tegap, berumur kira-kira tiga puluh tahun. Ia tertidur telentang dengan luka-luka akibat tembakan di perutnya. Juga dalam penderitaan ini ia menampakkan wajahnya yang gagah berani. Walau bagaimanapun sakit yang dideritanya, namun ia tidak mengerang dan tanpa bersuara ia menanti akhir hidupnya.
Schmidt mendekatinya dengan membawa air minum, dan secara sopan ia bertanya dalam bahasa Aceh apakah ia tidak ingin dibalut lukanya. Dengan membuang mukanya wanita itu menghardik: ‘Bek kamat kee, kaphe budok’ (jangan kau sentuh aku kafir kusta). Ia lebih menyukai kematian daripada hidup di tangan seorang kafir.”
Tentang Cut Nyak Dien, Zentgraff menggambarkan dengan lebih dramatis lagi. “Sesudah Teuku Umar tewas, wanita itu lebih suka hidup bertualang di hutan-hutan daripada menyerah kalah kepada musuhnya; ia telah bertahan demikian rupa, walaupun jumlah pengikutnya semakin mengecil. Ia menjadi tua, matanya buta, namun semua itu tidak menjadi penghalang untuk mematahkan semangatnya. Ia menderita kepalaran di hutan-hutan, sementara patroli Marsose memburunya dari satu tempat ke tempat pesembunyian lainnya. Pernah terjadi, bahwa sampai berminggu-minggu lamanya ia tak pernah merasakan sesuap nasi dan harus makan umbut pisang liar. Lebih kurang enam tahun lamanya ia bertahan dalam keadaan demikian. Pada masa jayanya ia berdiri di samping sederet nama-nama wanita paling hebat di daerahnya. Karenanya orang dapat membayangkan berapa besar pengorbanan yang telah diberikannya untuk kepentingan bangsanya.”
Seperti diceritakan oleh Zentgraff dan Muhammad Said, penangkapan Cut Nyak Dien terjadi dengan amat dramatis dan menyedihkan. Pada September 1905, pasukan Letnan Vastenou telah berhasil memergoki Cut Nyak Dien di suatu persembunyian yang disebut Jambo di Boer Berawan (Pameue). Pasukan Cut Nyak Dien melawan dengan hebat, tapi karena menghadapi jumlah pasukan yang jauh lebih besar, pasukan Cut Nyak Dien terpaksa mengundurkan diri. Ada lima orang lelaki yang tewas dan seorang wanita dari pasukan Cut Nyak Dien. Karena menyangka bahwa wanita yang tewas itu adalah Cut Nyak Dien sendiri, maka Vastenou melapor telah menewaskan Cut Nyak Dien.
Sebulan kemudian barulah ketahuan bahwa wanita yang tewas itu bukanlah Cut Nyak Dien, melainkan wanita yang sengaja dijadikan mirip dengan Cut Nyak Dien untuk melindungi tokoh besar itu. Tak lama kemudian, seorang pejuang Aceh mantan pengawal Teuku Umar yang kemudian menjadi pengawal Cut Nyak Dien, bernama Pang Laot, tiba-tiba muncul di sebuah bivak Belanda. Bivak itu dipimpin oleh Letnan van Vuuren. Pang Laot memberitahu bahwa kedatangannya bukan untuk menyerah. Kalau dia diserang maka dia akan melawan walau harus tewas. Dia mengatakan bahwa kedatangannya hendak menyerahkan Cut Nyak Dien kepada Belanda dengan syarat Belanda bersikap baik kepadanya.
Segeralah van Vuuren membawa Pang Laot kepada atasannya, Kapten Veltman. Pang Laot akan memandu pasukan Belanda untuk mencari Cut Nyak Dien di Pameue. Tanggal 23 Oktober 1905, Veltman menggerakkan pasukannya sebanyak 6 brigade (satu brigade sebanyak 20 bayonet). Dua hari berjalan barulah sampai di sebuah Jambo yang diduga oleh Pang Laot masih mungkin untuk menyergap Cut Nyak Dien di situ. Ternyata pasukan Belanda malah menemukan orang lain di situ, Panglima Habib Panjang, yang memang diperintahkan Cut Nyak Dien untuk bersiaga di daerah itu. Habib Panjang menyiapkan serangan dengan tergesa-gesa karena terlanjur ketahuan, pertempuran yang tidak seimbang pun terjadi dan saat itulah Habib Panjang tewas.
Perjalanan pun dilanjutkan, pasukan Belanda bersama Pang Laot melintasi hutan-hutan daerah Beutong yang liar dan dalam. Perjalanan ini amatlah berat karena rimba sangat rapat dan setelah tiga hari, barulah mereka tiba di Beutong. Pasukan Veltman tidak berhasil mencapai Jambo persembunyian Cut Nyak Dien, bekas jalan kaki tidak ada, semua jejak sudah dihilangkan, mereka seolah masuk rimba belantara yang tidak pernah dipijak umat manusia. Pang Laot pun bantu mencari kesana-kemari namun tidak menemukan apa-apa. Diputuskanlah untuk dengan sabar menunggu saja sampai beberapa hari sekuat perbekalan.
Pada 7 November 1905, tiba-tiba Pang Laot datang ke bivak pasukan Belanda bersama seorang anak kecil yang ternyata disuruh untuk mencari makanan. Setelah dibujuk dan diancam, anak itu akhirnya membeberkan tempat persembunyian Cut Nyak Dien. Setelah melakukan persiapan pasukan, Veltman memimpin menembus hutan untuk memburu Cut Nyak Dien. Pada salah satu sudut hutan, akhirnya Ratu Perang itu ditemukan hanya berdua dengan putrinya, Cut Gambang. Ketika sergapan itu datang, Cut Nyak Dien segera pasang badan dan mendorong putrinya agar segera melarikan diri. Karena sasaran sergapan itu adalah Cut Nyak Dien, maka Cut Gambang tidak dikejar.
Mati-matian Cut Nyak Dien melawan dengan rencong di tangan. Prajurit Belanda hanya menyaksikan Cut Nyak Dien mengibaskan rencongnya menerjang angin. Tiba-tiba Pang Laot melompat dan menerjang Cut Nyak Dien hingga rencong itu terlepas dari tangannya. Cut Nyak Dien menyumpah serapah atas pengkhianatan itu. Ketika ditemukan Belanda, kondisi Cut Nyak Dien memang amat memprihatinkan, tubuhnya lemah dan kurus. Cut Nyak Dien ditandu dan harus menempuh perjalanan beberapa hari untuk keluar dari hutan hingga tiba di Meulaboh. Pada tahun 1907 beliau dibuang ke Sumedang dan wafat di sana.