















Pagi ini tgl 28 september tagar #OTWParadeTauhid #BismillahKibarkanLiwaRayah
Menjadi trending di twitter
Kemungkinan aksi hari ini akan jauh lebih besar daarena umat terpanggil untuk turun bersama menyelamatkan bangsa dengan islam
















Pagi ini tgl 28 september tagar #OTWParadeTauhid #BismillahKibarkanLiwaRayah
Menjadi trending di twitter
Kemungkinan aksi hari ini akan jauh lebih besar daarena umat terpanggil untuk turun bersama menyelamatkan bangsa dengan islam
Islamic Book Fair terbesar di Jakarta kembali menyapa para pecinta buku. Tahun 2013 menjadi agenda penyelengaraan ke-I12 pesta buku tahunan yang selalu penuh kejutan. Gimana nggak, IBF kali ini pun menyemarakkan semangat dunia perbukuan dengan membanting harga dengan diskon hingga 70%! Belum lagi kehadiran banyak penulis dan pembicara yang sudah malang melintang di dunia perbukuan dan pastinya tak lagi diragukan kemampuannya. Wajar kalo IBF 2013 bikin ngiler redaksi D’Rise tuk mampir.
Go! IBF 2013 yang bertempat di Stadion Gelora Bung Karno, Istora Senayan Jakarta lebih besar dari IBF yang terjadi di kota-kota lain. Waw oh waw, ramainya ampun-ampunan deh. Saat melewati pintu masuk saja, kerumunan orang membuat pengunjung begitu susah untuk berjalan. Di kanan kiri stand-stand menyambut, mengiring langkah dan pemandangan pengunjung hingga memasuki panggung utama.
How crowded, SubhanALLAH! Lebih Semarak Dari Konser Tak ada suara musik yang berarti. Entah panitianya perhatian terhadap hal itu atau tidak, tapi yang jelas, panggung utama digilai para pengunjung saat Ustadz Felix Siauw menguasai acara bedah buku terbarunya, “#UdahPutusinAja! (UPA)” pada pukul 11 tepat. Menarik. Karena beberapa menit sebelum beliau naik panggung, banyak sekali pengunjung yang sudah bersiap duduk manis untuk mendengar penuturan beliau tentang segala hal kontroversial tentang dunia pacaran. Canggih benar memang Ustadz bermata sipit yang satu ini.
Mungkin sedari rumah sebelum berangkat, sarapan magnet dulu kali ya, hehehe.. Joudan desu (just joke), peace! Satu per satu baik ikhwan mau pun akhwat yang baru datang dan kecewa tak kebagian tempat duduk rela ngampar, bersila di depan panggung. Sungguh antusiasme yang patut disyukuri. Biar lebih afdhol, redaksi sempat nodong salah satu pengunjung yang ngetem depan panggung. Mahasiswi Psikologi UIN Jakarta, Nisaul-begitu ia biasa dipanggil-cewek manis berkacamata ini mengaku memang sudah meniatkan diri untuk hadir di acara bedah buku Ustadz Felix,
“Mizan ngasih tau Ahad lalu (tanggal 3,) pas aku mau beli buku UPA. Katanya hari ini akan ada bedah buku UPA. Makanya aku bela-belain datang sekarang cuma mau lihat ini. Ngena bangeeet bedah bukunya. Penyampaian materinya enak. Cocok buat semua kalangan!”
tuturnya dengan sipu dan gebu yang tak bisa disembunyikan. Bukan hanya ramai. Kualitas bedah buku Ustadz Felix Siauw memang lain dari yang lain. Entah sudah berapa banyak orang yang memutuskan pacarnya setelah membaca buku beliau, barakALLAH! Beliau bilang, beliau begitu prihatin dengan banyaknya perempuan yang menggadaikan dirinya demi seorang lelaki yang sebenarnya secara mental dan pemikiran sangat menyedihkan. Data yang Ustadz Felix sampaikan, 94% orang pacaran pasti putus. 6%nya? Nikah karena kecelakaan (hamil di luar nikah). Miris kan? Istighfar.
Ustadz Felix bilang, “Makanya kenapa buku saya ini berjudul Udah Putusin Aja!, bukannya Udah Nikahin Aja. Karena memang dimana-mana orang pacaran itu nggak ada kesiapan dan persiapan untuk menikah. Karena kalau orang yang siap pasti bukan pacaran tetapi menikah. Jadi mending, putusin, pantaskan diri dulu, ketahui hal yang benar dalam Islam seperti apa, bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik di dalam Islam, yang perempuan juga belajar masak dulu, kalau siap, baru menikah.”
Yosh! Ini memang bedah buku spektakuler. Lebih ranggi dari konser deh! Karena selain provokasi untuk putus, Ustadz Felix juga menjernihkan paradigma tentang sebuah pernikahan. Ada sebuah konsep yang beliau namakan, unreasonable fear (ketakutan yang belum pasti di masa depan) pada orang yang ingin menikah. Contoh, takut miskin sebelum nikah, padahal itu belum terjadi. Padahal harusnya yang paling ditakutkan adalah saat berpacaran kemudian kehilangan segala-galanya (kehormatan dan kemuliaan). Jadi, jika memang bertekad mau menikah, jangan takutkan apa pun. Wuih, merinding deh. JLEB abis! Menurut catatan, selama seminggu penjualan buku UPA mencapai 10.000 copy.
D’Rise ikut mendo’akan, semoga buku UPA benar-benar sangat menginspirasi dan penuh dengan keberkahan. Sungguh apresiatif juga dengan tampilan yang disajikan secara menarik oleh designer ideologis sekaligus Ibu Rumah Tangga, Emeralda Noor Achni. Untuk ketahui ulasan buku UPA, D’Riser silahkan lihat rubrik recommended ya, untuk lebih mengenal lebih dalam?! So, salam JOSH, ah! JOmblo Sampai Halal! Hehehe. Karena, seperti kata Ustadz Felix Siauw, kita harus jaga diri kita dengan ta’at pada ALLAH. Menyendirinya kita saat ini karena ta’at pada ALLAH, bukan karena tidak laku. Percayalah, orang baik pasti akan berjodoh dengan orang baik juga. Sholehkan diri. Hmm! []
“Bukan tidak adanya jodoh yang harus kita takutkan. Melainkan kehilangan kehormatan dan kemuliaan diri yang seharusnya kita takutkan.” [Felix Siauw]
remaja, idealnya menjadi harapan bangsa, negara, dan agama. Seiring bertambahnya usia, kelak mereka yang bakal dapat giliran untuk memimpin umat. Jika masa R remaja gencar diisi dengan kegiatan positif dan menebar manfaat, tentu kebangkitan Islam dan kaum Muslimin yang dimotori para pemuda tinggal tunggu waktu.
Namun kalo yang terjadi sebaliknya, remaja pada galau dihantam virus hedonis alamat kebangkitan cuman jadi khayalan. Remaja ideal sejatinya selalu punya rencana dalam menjalani hidupnya. Lantaran hidup cuman sekali kudu dioptimalkan untuk meraih prestasi. Makanya wajar kalo memasuki awal tahun, remaja antusias bikin resolusi. Sebuah resolusi adalah semacam planning alias perencanaan untuk mewujudkan mimpi di tahun ini.
Saat bikin resolusi, kita mesti perhatikan dua hal. Pertama, mengevaluasi langkah, peristiwa, fakta yang telah terjadi di tahun sebelumnya. Kedua, merencanakan atau memproyeksi apa yang akan terjadi dan dilakukan di tahun depan. Yup, biar kegambar jelas bagian mana yang mesti diperbaiki dan langkah strategis apa yang mesti dijalani demi meraih mimpi. Untuk itu, penting kita evaluasi kondisi remaja sebelum membuat resolusi. Yuk mari! Tahun 2012, dunia remaja masih belepotan tinta hitam yang menambah buram potret generasi muda.
Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan, 51 persen remaja di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek telah berhubungan seks pranikah. “Artinya dari 100 remaja, 51 sudah tidak perawan,” kata Kepala BKKBN Sugiri Syarief usai memberikan sambutan pada acara grand final Kontes Rap memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Ahad (28/11/2012) Data BKKBN mengenai estimasi aborsi di Indonesia per tahun mencapai 2,4 juta jiwa, sebanyak 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja.
“Dari 2,5 jutaan pelaku aborsi tersebut, 1 – 1,5 juta di antaranya adalah remaja. Remaja sudah bisa aktif secara seksual, namun sulit memperoleh alat kontrasepsi. Akibatnya terjadi kehamilan yang tidak diinginkan,” kata Sudibyo Alimoesa, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Potret Buram Remaja 2012 BKKBN saat dihubungi detikHealth, Rabu (30/5/2012) Dari total kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dilaporkan pada 1 Januari-30 Juni 2012 tercatat sebanyak 9.883 kasus HIV dan 2.224 kasus AIDS, dengan 45 persen di antaranya diidap oleh kaum muda. Masalah narkoba juga nggak kalah hebatnya seperti dikutip detikhealth (6/6/2012), bahwa BNN melansir 50-60% pengguna narkoba adalah remaja.
Tahun 2012 lalu, tawuran pelajar kembali naik daun pasca perseterua pelajar SMAN 70 dengan SMAN 6 yang menewaskan Alawi, siswa kelas X SMA 6. Tawuran pelajar seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perilaku pelajar. Meski sudah banyak jatuh korban, ‘perang kolosal’ ala pelajar terus terjadi. Data dari Komnas Anak, jumlah tawuran pelajar sudah memperlihatkan kenaikan pada enam bulan pertama tahun 2012. Hingga bulan Juni, sudah terjadi 139 tawuran kasus tawuran di wilayah Jakarta. Sebanyak 12 kasus menyebabkan kematian. Pada 2011, ada 339 kasus tawuran menyebabkan 82 anak meninggal dunia (Vivanews.com, 28/09/12)
Jika mau diurai lebih detail lagi, masih cukup panjang daftar kebobrokan dunia remaja selama tahun 2012. Data di atas cukup mewakili untuk menggedor keprihatinan kita akan nasib calon pemimpin bangsa. Idealnya, pemerintah selaku instusi tertinggi yang ngurus rakyat bergerak cepat untuk menyelamatkan generasi muda. Cari deh tuh akar masalah yang menjerat remaja. Terus segera ambil kebijakan untuk memangkas akar masalah biar nggak mewabah. Sialnya, pemerintah kita lebih banyak ngobatin gejala dibanding penyebab utamanya. Walhasil, potret buram remaja tak kunjung kinclong! Sekadar contoh, Menteri Kesehatan Nafsiyah Mboi, usai membuka seminar Peringatan Hari Anak Nasional 2012 di gedung Kementerian Kesehatan, Jumat (13/7/2012) malah menyarankan ‘pacaran sehat’ ala Menkes dengan menggunakan kondom. Tidak bermaksud pesimis, tapi menilik program penanggulangan AIDS selama ini, tidak cukup berdampak pada jumlah kasus prevalensi dan insidensi AIDS.
Kasus AIDS di Indonesia, trendnya makin meningkat. Data dari Kementerian Kesehatan, jumlah kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan di Indonesia meningkat tajam dari 7.195 di tahun 2006 menjadi 76.879 di tahun 2011 (Kemkes, Laporan Situasi HIV dan AIDS di Indonesia, tahun 2006 dan 2011). Kondomisasi cuma sebuah solusi pragmatis yang sangat menyesatkan. Pasalnya, kondomisasi bukan menghilangkan akar masalah sesungguhnya, yakni seks bebas yang kian beringas di kalangan remaja. Sebaliknya, kondomisasi makin menambah masalah, karena secara tidak langsung melegalisasi seks bebas. Bukannya mengantisipasi, malah memfasilitasi. Akibatnya, kampanye kondom berpotensi menguatkan gaya hidup seks bebas. Hal ini pernah diungkapkan oleh Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California.
Berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today, 14/4/1998). Ketika potret dunia remaja kian hari memburam, masih ada secercah harapan dari potensi remaja yang belum dioptimalkan. Pertama: potensi ‘alami’ yang dimiliki oleh Harapan Itu Masih Ada remaja sebagai pribadi yang energik, letupan semangat yang berapi-api, intelektualitas muda yang bisa diandalkan, serta kekuatan fisik yang masih prima. Kedua: adanya pergerakan dari remaja muslim yang mencerminkan perlawanan terhadap dominasi pemikiran dan budaya sekuler. Juga gaung kebangkitan yang gencar disuarakan dalam bentuk kegiatan nyata serta opini di dunia maya.
Dalam catatan kaleidoskop 2012, masih cukup hangat dalam ingatan kita tentang isu ‘rohis sarang teroris’ yang diopinikan oleh salah satu stasiun teve swasta. Tak ayal, serentak semangat pembelaan untuk melawan opini itu bermunculan dari aktivis Rohis sampai alumni Rohis. Hingga terwujud dalam aksi damai pada hari Minggu (23/9) yang diikuti oleh sekitar 2 ribu pelajar dari berbagai sekolah tumpuk di Bundaran Hotel Indonesia. Mereka menuntut agar Metro TV meminta maaf. Hal senada juga muncul dalam galang opini via page facebook bertajuk “1.000.000 Gerakan Tuntut Metro Tv Minta Maaf Kpd Rohis Se-Indonesi”. Perlawanan terhadap ide-ide sesat dan menyesatkan dari kaum Jaringan Islam Liberal (JIL) gencar disuarakan generasi muda muslim dalam tagline “Indonesia Tanpa JIL (ITJ)”. Opini dengan cepat menyebar melalui sosial media.
Page ITJ dipadati facebooker yang mendukung perlawanan terhadap celoteh Ulil Abshar dan konco-konconya. Bahkan pergerakan ITJ secara massif ditunjukkan dengan aksi sebar flye yang berisi alasan menolak JIL di berbagai kota dan tempat. Tanggal 14 Februari 2012 lalu muncul pergerakan kampanye #MenutupAuratSedunia di berbagai negara. Mulai dari Indonesia, Malaysia, Inggris, Hongkong, Macau, dan Thailand. Gerakan Menutup Aurat (GERAK) dicetuskan oleh sahabat aktivis Jakarta yang diketuai Herry Nurdi (Penulis/PresidenTeachers Working Group Indonesia).
Gerakan ini mendapat sambutan hangat dari remaji untuk menunjukkan eksistensinya dibalik hijab syar’I dengan mengadakan aksi turun ke jalan dan kajian Islam. Fakta lain yang tak kalah menggembirakan adalah pergerakan remaja yang berkomitmen untuk berjuang membela Islam serta penerapan syariah sebagai sebuah sistem aturan negara. Setidaknya itu terwakili oleh acara yang diprakarsai oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) dalam bentuk Konferensi Remaja Islam di berbagai kota dan puncaknya diadakan di Jakarta. Yel – yel “Al-Fata yuriid Khilafah Islamiyah” bergemuruh dalam acara Konferensi Remaja Islam yang berlangsung Ahad (16/12/2012).
Acara yang bertajuk “Khilafah, Negara yang Melindungi dan Menyejahterakan Remaja” tersebut dihadiri lebih dari 1500 siswi muslimah dari SMP – SMA se-Jabodetabek dan Banten. Dalam acara tersebut, para oratornya terdiri dari par remaja, sebut saja Khonsa RD, siswi kelas X berorasi tentang remaja dalam budaya yang merusak dalam bahasa Inggris, kemudian Azkia Rizka, siswi kelas XI berorasi tentang Remaja dalam Pendidikan Sekuler yang BerorientasI Ekonomi. Kegiatan ini menjadi momentum bersatunya semangat para remaja untuk memperjuangkan Islam.
Remaja harus menyadari bahwa mereka adalah generasi penerus umat yang agung. Oleh karena itu, remaja harus terlibat dalam perjuangan menegakkan kembali Khilafah. Menjadikan hidup bergairah hanya dengan dakwah. Yess! Resolusi sejatinya nggak cuman untuk diri sendiri. Tapi dijadikan gerakan bersama kebangkitan remaja.
Yup, gerakan resolusi remaja muslim. Biar gaungnya lebih terasa dan beban yang berat bisa ditanggung bersama-sama. Karena kita sadar sepenuh hari, kita hidup sebagai seorang muslim yang menjadi bagian dari masyarakat. Maka sangatlah layak, kalo Resolusi harus bernafaskan ‘KITA’ dan beraroma ‘kebermanfaatan’. Why? Coz, Rasulullah Saw sudah mengingatkan: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia” (HR. Thabarani, Daruqutni)
“Barangsiapa bangun di waktu subuh (pagi), tidak memikirkan masalah kaum muslimin, maka dia bukan termasuk golongan kaum muslimin” (HR. Ahmad) Resolusi bernafaskan ‘KITA’ adalah saatnya kita tidak hanya berpikir nafsi-nafsi, saatnya meninggalkan sikap dan sifat cuek. Stop berpikir “ini urusan gue, masalah buat loe?”, sebab pemikiran gitu hanya melahirkan manusia-manusia individualis, yang merupakan karakter masyarakat kapitalis kita sekarang ini.
Dan nyadar atau nggak, masyarakat individualis, nggak ada nyetelnya dengan Dakwah, Resolusi Remaja 2013! karakter kaum muslimin. Resolusi beraroma ‘kebermanfaatan’ berarti keberadaan kita di tengah masyarakat, jangan malah bikin ulah bin masalah, tapi justru keberadaan kita harus memberi energi positif. Jadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Saatnya kita bergerak menggandeng tangan saudara kita yang lain untuk berbuat al-khair (kebaikan).
Dua rumus sederhana di atas (Kita dan Kebermanfaatan) akan terlihat nyata saat kita wujudkan dalam aktivitas full manfaat bin berkah yang disebut dengan dakwah. Ya, dakwah selain sebagai sebuah kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang muslim, dakwah juga merupakan kebutuhan kita semua, tak bisa dibayangkan jika hidup tanpa dakwah, hanya memanen masalah! Dakwah jualah sebagai bukti kepedulian kita terhadap sesama, karena di dalam dakwah ada aktivitas saling menasehati dalam kebaikan. Maka jika menginginkan kebaikan di masa datang, jika kita sedang menyusun resolusi, maka dakwah adalah jalan yang harus kita agendakan.
Dakwah akan lebih optimal jika dibangun tidak hanya bermodalkan semangat. Tapi dakwah yang bercermin pada dakwah Rasulullah Saw ketika beliau membangkitkan masyarakat. Beliau berdakwah secara fikriyah alias berdakwah secara pemikiran, menyerang pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam, seraya menyodorkan pemikiran-pemikiran Islam. Mulai dari akidah, muamalah, syariah, akhlak, hingga daulah (negara). Dakwah tersebut dilakukan tanpa kekerasan, meskipun untuk mendakwahkannya butuh kegigihan, kesabaran.
Klop dengan kondisi saat ini, ketika banyak remaja tak bisa menunjukkan tajinya, saatnya remaja memilih untuk bangkit membingkai masa depan bersama Islam melalui jalan dakwah. Teman-teman kita, seperti sudah disebutkan tadi, sudah ada yang berani memilih berkomitmen memperjuangkan Islam dan syariahnya, maka kita hanya tinggal menyusulkan diri di barisan berikutnya. Sebab, pilihan hidup bersama kapitalisme-sekularisme, seperti saat sekarang ini, tak kunjung menyudahi masalah remaja dan masalah-masalah lainnya. Pilihan yang terbaik jika menginginkan masa depan yang lebih baik adalah hanya dengan Islam. [twitter @LukyRouf]