Majalah Remaja Islam Drise

Writer isn’t Bibliomania

Majalahdrise.com – d’Riser, kali ini kita mo nerusin soal hobi  penulis, yaitu suka berkutat dengan  buku, dunia literasi dan penerbitan. Di  edisi sebelumnya, kan kita ngebahas soal  penulis sebagai seorang booklovers alias  pencinta buku. Nah, pada edisi kali ini, kita mo  ngangkat soal penulis yang terjebak jebakan  Betmen! Halah, bukan itu, ding! Maksudnya  adalah booklovers yang kejebak jadi seorang  bibliomania! Awas lho, seorang penulis juga  bisa jadi seorang bibliomania. Maksudnya  gimana, neh?

Yok, kita jabanin bareng-bareng… Bibliomania itu sebenarnya apaan, seh?  Bibliomania itu berasal dari dua kata, yaitu  bibliotheque yang artinya perpustakaan dan  maniac yang artinya penggemar berat. Kalo  dua kosa kata itu digabung (bibliotheque  maniac) maka artinya jadi penggemar berat  perpustakaan, ya?! Nah, kalo maknanya kek  gitu, tentu sangat bagus, dunk, jika seorang  penulis itu adalah seorang bibliomania.  Seorang penulis memang kudu jadi seorang  penggemar berat buku, hobi datang ke  perpustakaan, and kegemaran kek gini sangat  berarti bagi karier kepenulisannya kelak! Namun, benarkah bibliomania itu  maknanya adalah penggemar berat  perpustakaan? Ternyata, bibliomania itu  merupakan istilah bagi para pecandu berat  buku, artinya mereka yang terkategori  bibliomania ini sangat gandrung dengan buku,  mereka tak peduli apakah buku itu mereka  baca ataukah tidak? Mereka masa bodoh,  apakah mereka ngerti isi buku ataukah tidak?  Mereka sama sekali cuek bebek dengan segala  manfaat dari buku. So, kalo gitu bibliomania itu  kek semacam virus, ya? Bisa jadi, jack!

Fakta empirik di dunia literasi, orang-orang yang terjangkit virus bibliomania ini  hanya terobsesi dengan buku, mereka  mendapatkan kepuasan tersendiri saat  mendapatkan buku ataupun mengoleksi  buku. Virus bibliomania ini kerap  menghinggapi para book collector, bahkan  booklovers seperti para penulis. Nah, lho!  Mo buktinya, gak? Saya punya  seorang kawan di komunitas interpreter  sejarah yang gila buku, khususnya buku-buku yang memiliki nilai historis tinggi, kek  buku-buku yang terbit di masa kolonial  Belanda.

di muat di majalalah remaja islam drise edisi 49