Majalah Remaja Islam Drise

MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS

– D’Riser, pada edisi D’Rise kali ini, kita mo ngebahas tahapan saat menulis poin yang ketiga, yaitu “pembahasan”, sekaligus nerusin jurus ampuh menumpas virus write’s block.

Dalam proses kreatif menulis, kita harus mampu membangun tubuh yang dinamis, tulisan yang kita bikin itu koheren dan kohesif. Maksudnya adalah adanya keterpaduan makna, sekaligus adanya kesatuan bentuk tulisan yang kita bangun.

Gak lucu, kan, kalo tulisan kita gak nyambung? Misalnya kek gini, niatnya bikin tulisan artikel bergaya deskriptif, eh saat kita nulis, kita malah keasyikan sendiri bernarasi panjang lebar. Akhirnya, tulisan kita mewujud jadi artikel naratif, malah bisa jadi feature atau yang lebih parah, jadinya kisahan faksi atau bahkan tulisan fiksi. Kacau, kan?

Selain itu, demi membangun tubuh yang dinamis dalam proses kreatif menulis, kita pun harus benar-benar memahami persoalan yang kita ajukan dalam tulisan dengan pembahasan yang kita kedepankan. Mulai persoalan keseharian maupun persoalan keumatan dan kebangsaan sampai pada pembahasan yang sistematis dan sistemis. Walah…, bahasanya ideologis bangeud, ye? Gapapa ding, kita kan mo jadi seorang yang totalitas dalam berkarya sebagai wujud aktualisasi Muslim kaffah.

Nah, soal ngebangun tubuh tulisan yang dinamis itu, dimulai dari maksud kita bikin tulisan. Jenis tulisan apa dulu yang mo kita bikin. Artinya, kita mo nulis artikel, berita, feature, fiksi atau faksi?

Kalo jenis tulisan, dah clear, lanjut deh ke outline, kita bikin kerangka tulisan agar kita punya panduan yang terarah dalam menulis. Bikin outline kek gini penting banget, lho, bagi para pemula karena akan membuat kamu-kamu terhindar dari write’s block yang sering jadi alasan kamu gak nerusin tulisan bahkan parahnya, gak nuntasin tulisan!

Makanya penting banget kita bikin outline, khususnya bagi para new comer dalam jagat kepenulisan. Hal ini bukan tanpa alasan, karena faktanya banyak di antara para pemula itu yang begitu bersemangat nulis hingga mereka terjebak dengan bahasa lanturan. Tulisannya ngelantur kemana-mana, boros kosa kata dengan kalimat yang gak efektif. Nah, lho, jadi dalam menulis jangan modal semangat doang, ya?

Walah…, kita dah masuk ke area bahasa dalam pembahasan, ya?

Oke deh, sebelumnya kita mo nanya, neh, Bro and Sist D’Riser, pernah baca ato sekadar liat-liat majalah mingguan berita (MBM) TEMPO, kan? Tuh, majalah yang digawangi Goenawan Mohamad itu punya tagline atau slogan yang mereka usung sejak awal penerbitannya sebagai pemantik minat baca para penggemarnya, taglinenya kek gini, enak dibaca dan perlu.

MBM TEMPO sepertinya pengen ngikut kesuksesan the weekly newsmagazine TIME di Amrik sana yang jadi barometer pemberitaan, gak hanya di dunia Barat, tapi juga jadi rujukan media berita seluruh dunia. Coba, liat tagline TIME ini, there’s never been a better.

Terlepas dari ide maupun ideologi yang diusung kedua majalah berita tersebut, tapi tagline dua majalah yang katanya mengusung model jurnalisme investigatif itu keren-keren, ya?

Kalo diperhatikan, karakter tulisan mereka, baik itu artikel, berita, feature, etc yang nampil di majalahnya itu, emang enak dibaca, bahasanya lugas, bernas dan kaya. Oya, maksud “kaya” di sini adalah kaya dalam menyajikan fakta dan data, sekaligus “kaya” dalam bahasa. Kalo “kaya” dalam analisa. Wah, nanti dulu, soal analisa, kan,  bergantung sepenuhnya pada ideologi yang mereka usung. Jadi, cukuplah kita terkesan dengan kekayaan fakta, data dan bahasa yang mereka punya.

Coba, deh, kamu baca Catatan Pinggirnya Mas Goen di majalah TEMPO atau yang sudah dibukukan oleh Penerbit Gramedia sebanyak 6 jilid. Simak dan perhatikan cara Mas Goen memulai hingga mengakhiri tulisannya, dia menulisnya dengan bahasa yang kaya, Dewan Redaksi Majalah TEMPO ini menulis dengan energi, setiap kalimatnya penuh dengan muatan informasi.

Di sini, kita mo ngebuka soal kekayaan berbahasa ini karena dalam membangun tubuh yang dinamis, seorang penulis yang baik tentu akan memerhatikan kualitas dari bahasa yang ia pake, sekaligus dengan kalimat yang efektif alias tepat sasaran.

Bahasa yang ia pake akan menyesuaikan dengan khalayak pembacanya, bahasa yang tepat sasaran dan tepat guna, tepat kepada yang dituju dan berdampak langsung pada perubahan sikap maupun karakter pembacanya.

Kalo kita nulis untuk remaja maka bahasa yang kita pake pun, ya bahasa keseharian mereka, dunk! Kita harus tahu dunia mereka untuk menyelami kebiasaan, tabi’at dan kehidupan anak-anak muda kekinian, termasuk soal gaya berbahasa mereka yang kata penyanyi en psikolog, Tika Bisono mah, bahasa yang dinamis, sering berubah sesuai zamannya, funky… bahkan, terkesan slank alias seenaknya.

Melalui pemahaman terhadap dunia remaja dengan karakter bahasanya yang funky dan slank tadi, tentu akan memudahkan kita untuk menyapa mereka dengan bahasanya sendiri, bahasa yang mereka fahami. Di sinilah misi da’wah bi lisani qaumih sudah terpenuhi, menyampaikan dakwah dengan bahasa yang dimengerti kaumnya.

Nah, itulah maksud dari pembahasan yang sistematis alias sesuai dengan sistematika penulisan yang baik dan benar. Kalo untuk pembahasan yang sistemis, gimana? Cegat di edisi D’Rise berikutnya, ya….[]

Di muat di Majalah Remaja Islam Drise edisi #38