Majalahdrise.com – Imam Jalaluddin al-Sayuti menjelaskan bahwa mukjizat itu adalah “Suatu hal atau peristiwa luar biasa yang disertai tantangan dan selamat (tidak ada yang sanggup) menjawab tantangan tersebut”. Walid bin al-Mughirah, dedengkot kafir Quraisy pun mengakui keindahan Al-Qur’an; “Demi Allah, sungguh aku baru saja mendengar dari Muhammad suatu perkataan yang bukan merupakan perkataan manusia maupun jin. Sungguh ia berasa manis dan penuh pesona, bagian atasnya berbuah dan bagian bawahnya subur.
Ia tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya”. Al-Qur’an juga jelas bukan karangan Nabi Muhammad, biar gimana pun juga, beliau kan tetap orang Arab, apalagi beliau nggak dikenal sebagai seorang penyair. Ditambah lagi ada perbedaan besar antara gaya bahasa Al-Qur’an dengan sabda-sabda beliau. Jauh banget. Jadi kalau ada yang bilang Al-Qur’an itu bikinan Nabi Muhammad, itu fitnah banget! Apalagi kalau ada yang bilang Al-Qur’an itu karangan orang non-Arab atau jiplakan dari kitab non-Arab. Lah orang Arab paling fasih aja nggak bisa bikin, apalagi orang ‘ajam (non-Arab), ya nggak sih.
Jadi, Al-Qur’an itu perkataan siapa dong? Hmm… nampaknya kemungkinan terakhir yang bisa diterima akal sehat cuma satu, yaitu kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw(QS Al-Insan:23). Kalau boleh ngutip kata-katanya Sir Arthur Conan Doyle melalui karakter Sherlock Holmes; “when you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth”. Ketika kamu sudah menyingkirkan (kemungkinan-kemungkinan) yang mustahil, maka apapun yang kemungkinan tersisa, walaupun kelihatannya gak mungkin, tapi pasti itulah yang benar! Yup! Ketika ada wahyu turun kepada Rasulullah Saw, beliau memerintahkan para sahabat dan juru tulisnya untuk menghafal dan menuliskan ayat tersebut, sambil menunjukkan dimana ayat itu ditempatkan dalam surat.
Jadi, susunan ayat dan surat Al-Qur’an itu juga merupakan tuntunan wahyu, bukan asal-asalan. Hanya saja, pada masa Rasulullah Saw hidup, tulisan-tulisan ayat itu masih berceceran, walaupun banyak di antara para sahabat yang hafal seluruh ayat Al-Qur’an.
Sepeninggal Rasulullah, Allah Swt mengilhamkan kepada para sahabat terkemuka di masa Khalifah Abu Bakar ra. untuk mengumpukan dan merapikan tulisan-tulisan Al-Qur’an yang berceceran itu dalam satu tempat. Tugas mulia ini diemban oleh Zaid bin Tsabit ra. dengan amat sangat teliti banget. Walaupun banyak penghafal, namun pengumpulan ini nggak cukup mengandalkan hafalan para huffazh saja, tetapi harus didukung dengan adanya manuskrip tertulis. Manuskrip ini pun nggak akan diterima, kecuali setelah disaksikan oleh dua orang saksi bahwa lembaran ini ditulis di hadapan Rasulullah saw. Masya Allah.
Pada masa Khalifah Utsman ra., mushaf Al-Qur’an kemudian ditulis ulang untuk mengatasi perbedaan cara membaca Al-Qur’an dan mengantisipasi fitnah yang bisa timbul akibat perbedaan bacaan itu. Setelah selesai ditulis ulang, mushaf ini disalin sebanyak 7 buah dan dikirimkan masing-masing ke kota Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan Madinah, agar orang-orang tidak berbeda pendapat lagi tentang al-Qur`an. Mushaf inilah yang dikenal dengan mushaf Utsmani.
Salah satu langkah antisipasi yang lain adalah perintah untuk memusnahkan selain mushaf Utsmani, yang diamini para sahabat radhiallahu ‘anhum ‘ajmain. Selanjutnya kaum muslimin menyalin mushaf-mushaf lainnya dari mushaf Utsmani, dengan tulisan dan bacaan yang sama hingga sampai kepada kita sekarang. Pada masa Khalifah berikutnya Al-Qur’an diberi tanda baca untuk menghindari kesalahan bacaan bagi yang kurang mengerti tata bahasa Arab. Benarlah firman Allah Swt, “Sesungguhnya Kami menurunkan adz-Dzikru (Al-Qur’an) dan susungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS al-Hijr:9).
Sudah lebih dari seribu tahun lamanya kitab ini mempunyai bacaan dan tulisan yang sama di seluruh dunia. Coba, kitab mana yang lebih otentik dari Al-Qur’an?[]
di muat di majalah remaja islam drise edisi 49