Majalah Remaja Islam Drise

Kabar dari Istanbul: WAJAH ISTANBUL HARI INI (bagian I)

drise-online.com – Saat itu, sekitar pukul 02.00 dinihari EET (Eastern European Time), pesawat KLM Royal Dutch yang membawa kamidari Bandara Internasional Schippol, Amsterdam, mendarat di Bandara Internasional Atatürk Istanbul, Turki. Tak lama, supir shuttle travel hotel yang ditugaskan untuk menjemput membawa kami membelah kesunyian kota Istanbul menuju kawasan Kota Tua Sultan Ahmet,  tempat hotel kami berada. Tak jauh dari hotel terdapat sebuah Masjid kecil dengan menaranya yang tinggi, tipikal masjid-masjid Istanbul. Hotel ini juga cukup dekat dengan Masjid Sultan Ahmet (Blue Mosque),sehingga wajar saja bila suara adzanshubuh bersahutan memasuki kamar kami.

Pagi harinya, kami sarapan di rooftop terrace hotel yang menghadap ke Laut Marmara. Sesaat saya terhenyak, memandangi Laut Marmara yang luas membentang. Saya baru menyadari bahwa Kota Istanbul terletak di sebuah semenanjung yang diapit oleh Laut Marmaradan Laut Hitam. Selat Bosporus, sebagai salah satu jalur transportasi laut tersibuk di dunia, pun membelah kota ini menjadi dua, menguhubungkan Laut Marmara di sisi selatan dan Laut Hitam di sisi utara. Tak heran bila kota ini pernah menjadi pusat peradaban Byzantine dan Ottoman Empire (Kekhilafahan Ustmaniyah).

Saat mengikuti Bosphorus Cruising Tour, seorang guide menyebut tiga nama yang paling berpengaruh bagi pembangunan Turki. Ketiga tokoh tersebut adalah Sultan MehmedII The Conqueror (Fatih Sultan Mehmet), Suleiman The Magnificent (Kanunî Sultan Süleyman), dan Mustafa Kemal Father of the Turks (Mustafa Kemal Atatürk). Sultan Mehmet II adalah salah seorang Khalifah era Ustmaniyah yang berhasil membebaskan Konstantinopel dari Imperium Romawi (Byzantine). Selanjutnya beliau mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (sekarang dikenal dengan Istanbul) dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Khilafah Ustmaniyah. Sepanjang Khilafah Ustmaniyah berdiri, sejarah mencatat masa pemerintahan Sultan Süleyman sebagai masa puncak keemasan. Di bawah kekuasaannya, Khilafah Ustmaniyah menjadi salah satu negara terkuat di dunia yang mengendalikan sebagian besar Eropa Tenggara, Asia Barat, Afrika Utara, dan Tanduk Afrika (semenanjung Afrika Timur). Sultan Süleymanpulalah yang menyempurnakan pembangunan Kota Istanbul dengan tatakota yang artistik dan bernafaskan Islam, hingga Napoleon Bonaparte menjulukinya sebagai ibukota bagi seluruh dunia.

Berdiri di taman kota Istanbul (Sultan Ahmet Square), dan melihat sekelilingnya, mengingatkan saya bahwa penaklukan Konstantinopel yang dilakukan Sultan Mehmet II, semata-mata karena dorongan sabda Rasulullah SAW, “Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.” (HR Ahmad Bin Hanbal, Al-Musnad [4/335]).Beliau dan Sultan-sultan penggantinya memiliki dorongan yang sama dalam membangun Istanbul, yakni semata-mata untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin. Bangunan-bangunan yang masih tegak berdiri di sana menjadi bukti otentik bahwa pembangunan Istanbul sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam.

Sultan Mehmet II mengubah Hagia Sophia (Ayasofya) dari sebuah gereja menjadi Masjid dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan kaum muslimin di Istanbul. Beliau juga membangun tempat tinggal sekaligus pusat pemerintahannya, Istana Topkapi (Topkapı Sarayı), berdekatan dengan masjid ini. Sebagai penopang keberlangsungan Masjid Ayasofya, sebuah pasar yang menjadipusat perniagaan warga Istanbul pun dibangun di dekatnya. Hingga hari ini pasar tersebut masih dikenal di seluruh dunia dengan nama Covered Bazaar (Kapalıçarşı).

Dekat dengan Ayasofya terdapat tempat penyimpanan air bawah tanah terbesar di masa Byzantine, Basilica Cistern (Yerebatan Sarayı). Cistern ini mensuplai kebutuhan air penduduk Kota Konstantinopel pada masa itu. Tetapi, di masa Kekhilafahan  Ustmaniyah, tidak dipergunakan lagi. Sebagai gantinya, Sultan-Sultan yang memerintah di Istanbul dari masa ke masa, membangun fountain untuk menyediakan air bersih bagi warga Kota Istanbul. Fountain ini dibangun karena keyakinan Islam akan sifat air mengalir yang suci lagi menyucikan. Tercatat lebih dari 10.000 fountain telah dibangun, diantaranya dipergunakan untuk berwudlu dan minum para warga maupun musafir. Salah satu fountain yang terkenal dan masih berfungsi hingga sekarang adalah Fountain of Sultan Ahmet III yang berada di depan pintu gerbang Istana Topkapi. Konon fountain ini untuk menyambut para tamu Sultan (musafir).

Kebiasaan menyediakan air bersih untuk diminum para musafir, masih berlangsung hingga sekarang. Di beberapa tempat di Istanbul, terutama di pasar-pasar, tersedia tangki air minum lengkap dengan gelas plastiknya. Sehingga memudahkan para wisatawan yang kehausan. Kali pertama menjumpai tangki air minum ini, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Segelas air langsung saya minum dan botol-botol persediaan air yang kami miliki pun saya isi penuh.

Itulah sebagian kesan saya tentang kota Istanbul yang dibangun para Sultan di masa Khilafah Ustmaniyah. Mereka (para Sultan Ustmaniy), menjadikan nilai-nilai dan ajaran Islam sebagai pondasi dalam membangun tatakota dan masyarakatnya. Pondasi inilah yang mengantarkan kekhilafahan Ustmaniyah menjadi negara kuat, besar dan berpengaruh secara internasional. Kesan saya yang lain tentang Istanbul, akan saya tuangkan dalam tulisan berikutnya. Terutama kesan yang muncul akibat kebijakan yang diterapkan tokoh ketiga yang disebut oleh tour guide yang saya ikuti, yaitu Mustafa Kemal Atatürk. Tungguin yaa…

Kontributor: Siska Putri (Linköping, Sweden)

di muat di Majlah Remaja Islam  D’rise edisi #38