Majalahdrise.com – D’Riser, pada diri seorang penulis, ia pasti ingin dikenal sebagai seorang writer, not is a boxer or a fighter! Seorang penulis juga adalah sosok penggemar buku alias bookslover.
Di edisi sebelumnya, kita sudah ngebahas tuntas soal bookslover yang satu ini. So, kali ini, kita masih mo ngebahas hobi penulis pada buku, namun lebih khusus pada kebiasaan mengoleksi buku, writer as books collector alias penulis sebagai seorang kolektor buku. Nyok, kita bahas kebiasaan asyik ini… Apa seh, perbedaan mendasar antara bookslover dan books collector?
Jawaban sederhananya, kalo books collector sudah pasti dia adalah seorang books lover, tapi seorang books lover belom tentu dia seorang books collector. Jawaban kek gini saya dapat dari seorang penggiat literasi di Kota Bandung, Deny Rachman yang lebih dikenal sebagai bandar buku dan owner LawangBuku, sebuah toko buku langka, antik dan jadul.
Seorang kolektor buku juga biasa menghimpun dan mengoleksi satu judul buku lebih dari 1 exp, bahkan setiap cetakannya pun dia biasa menyimpannya. Dalam beberapa tema tertentu, dia bisa mengoleksi buku yang sama dari beberapa penerbit berbeda, termasuk buku terjemahannya dari berbagai penerbit luar negeri. Nah, sudah semakin jelas, kan letak perbedaannya ada dimana?
Jujur saja, neh, menjadi seorang books collector itu dapat meningkatkan prestise di tengah masyarakat. Kita akan dikenal sebagai kaum intelek yang mampu bicara berdasarkan referensi. Bahkan lebih daripada itu, bila benar-benar diseriusi, dapat meningkatkan strata sosial juga, lho. Kita dianggap sebagai kaum “the have” oleh masyarakat, karena sejumlah buku tertentu memiliki nilai jual tinggi secara ekonomi. Mo buktinya, gak, bray?
Saya mengenal seorang kawan penulis sekaligus seorang books collector, khususnya buku-buku sastra klasik dan melayu, teristimewa buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer. Sejak keranjingan buku-buku Pram, dia rajin hunting buku ke sentra-sentra buku bekas di kota-kota besar hingga ke pelosok daerah. Saat itu, dia mengaku memiliki puluhan buku Pram dari berbagai penerbit, baik cetakan lama maupun cetakan baru, termasuk buku-buku terjemahannya. Saat dia melancong ke negeri jiran Malaysia, delapan buku Pram dalam bahasa melayu koleksiannya ditawar jutaan ringgit oleh seorang kurator di Kuala Lumpur.
Awalnya, dia enggan melepas buku-bukunya tadi, apalagi koleksiannya itu ada signature asli dari penulisnya. Namun, setelah nego, akhirnya dia melepaskannya dengan senyum bahagia. Hasil menjual delapan bukunya tadi, kawan penulis itu, kini mukim di Singapura dan punya usaha penerbitan sendiri di Negeri Singa itu. Wah, bikin ngiler, ya? Selain itu, saya juga mengenal sosok books lover, sekaligus books collector bernama Kiki Adrianto, penggiat literasi ini mulai mengoleksi sejumlah literatur soal Jerman ini sejak kuliah di jurusan Bahasa & Sastra Jerman STBA Bandung. Suatu hari, ia mendapatkan buku Mein Kampf asli berbahasa Jerman tahun 1944 seharga 2 juta rupiah dari Ridwan Saidi, seorang tokoh nasional dan budayawan Betawi.
Dia pun menamatkan membaca buku kontroversial karya Sang Fuehrer, Adolf Hitler itu dengan antusias. Kiki pun terinspirasi untuk menambah koleksi bacaannya hingga dia pun tergerak untuk menggagas toko buku dan perpustakaan Der Mutterland berbasis komunitas. Kini, Kiki dikenal sebagai kolektor buku-buku berbahasa Jerman terlengkap di negeri ini. Bahkan, melampaui isi perpustakaan Goethe Institute di Bandung dan Jakarta.
Keren! Demikian pula, seorang penulis berkaliber internasional seperti Ajip Rosidi. Sastrawan dan budayawan Sunda yang lama menetap di negeri Sakura, Jepang ini, dikenal mengoleksi sejumlah buku dan literatur klasik tentang sastra dan budaya di Indonesia, khususnya naskah-naskah Sunda dan Jawa kuno. Kini, Pak Ajip menghimpun semua koleksiannya itu di perpustakaan Rumah Belajar Rancage yang diinisiasi langsung oleh Pak Ajip dan inohong Sunda lainnya. Saking lengkap koleksi buku-bukunya itu, Pak Ajip dkk dapat menyusun Kamus Lengkap Basa Sunda sebanyak enam jilid, melampaui Kamus Sundanya Satjadibrata yang hanya terbit satu jilid.
Tidak hanya itu, ada kandidat doktor linguistik yang mendapatkan literatur klasik di perpustakaan tadi, setelah sekian tahun lamanya dia berburu di sejumlah perpustakaan dalam dan luar negeri. Waouw!
Nah, terbukti, kan dengan mengoleksi sejumlah buku tertentu, akan meningkatkan prestise dan strata sosial kita di masyarakat, bahkan lebih daripada itu, buku dapat membuat kita kaya, tidak hanya kaya akan wawasan dan ilmu pengetahuan. Namun juga, kaya ide-ide kreatif, bahkan kaya secara materi dan finansial. Minat? []
di muat di majalah remaja islam drise edisi 50