MAJALAHDRISE.COM – ‘Anggota keluarga’ yang satu ini sangat disayangi anak dan orang tua. Di setiap rumah, kehadirannya menguatkan sinyal tanda-tanda kehidupan. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, dia setia menemani. Tak heran kalo ayah, ibu, adik, kakak, nenek, kakek, hingga paman dan bibi bisa berantem gara-gara pengen selalu dekat dengan si dia. Tahu dong siapa dia?
Yup, dialah si kotak ajaib televisi (tv). Media telekomunikasi yang pertama kali dibuat oleh John Logie Baird tahun 1923 ini udah jadi perlengkapan wajib di setiap tempat hunian. Kayanya hidup garing bin kering kerontang tanpa kehadiran tv di ruang tengah atau dalam kamar. Berdasarkan survei yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Penyelenggaraan Pos dan Informatika pada tahun 2011, hasil survei menunjukkan kepemilikan tv di sektor rumah tangga yang mencapai 95.56%.
Beragam hiburan dan informasi yang disajikan bikin betah anggota keluarga duduk berlama-lama di depan tv. Hasil riset Nielsen tentang pengukuran pemirsa TV 2012, menunjukkan bahwa sampai saat ini, konsumsi media tv masih memimpin total konsumsi media, yaitu sebesar 94 persen dari total populasi media konvensional di Tanah Air. Dalam sehari, pemirsa bisa menghabiskan sekitar 4,5 jam duduk di depan TV atau 31,5 jam/minggu atau 945 jam/bulan.(Mix.co.id, 06/03/13). Ups, tepos-tepos dah tuh….!
Plus Minus Tayangan Televisi
Sebagai media telekomunikasi yang memadukan suara (audio) dan gambar (visual), televisi paling banyak diminati. Tiada hari tanpa tv. Sajian hiburan berupa sinetron, film layar lebar, reality show hingga acara musik menjadi andalan pemirsa untuk mengusir penat, nemenin ibu-ibu ngegosok pakaian, atau sahabat mereka yang nggak ada kerjaan. Update informasi dunia olahraga, politik, selebriti, hingga ekonomi terus menghiasi layar kaca. Penonton jadi banyak tahu kondisi dalam negeri atau perkembangan teknologi. Biar nggak dianggap kuper kalo lagi ngobrol sana-sini.
Sayangnya, tayangan televisi nggak semuanya mendidik. Perlahan namun pasti, unsur edukasi yang seharusnya jadi bagian yang terpisahkan dari tayangan tv mulai meredup. Pemirsa lebih banyak disodorkan acara hiburan dengan segudang iklan di dalamnya. Dari mulai sinetron kacangan hingga film kartun yang kental dengan adegan kekerasan seperti serial Tom and Jerry atau khrisna yang mengisi jam tayang utama. Anak-anak belum bisa memisahkan antara adegan di layar kaca dan kejadian di dunia nyata. Sehingga menganggap apa yang ditontonnya dari atraksi hiburan smakcdown hal yang biasa dan bisa dilakukan siapa saja. Awalnya hanya tontonan, karena sering dilihat jadi tuntunan. Akhirnya, anak pun jadi pelaku dan korban kekerasan. Waduh!
Sudah banyak kasus yang menunjukkan dampak tayangan televisi kepada anak. Baik dampak secara fisik, psikis maupun perilaku. Salah satunya menimpa Heri Setiawan (12) yang diduga tewas karena keingintahuannya mempraktikkan trik sulap dari Limbad, tokoh favoritnya di televisi. Bocah itu ditemukan tewas tergantung di ranjang tingkat. Pengakuan keluarga, ia tidak pernah melewatkan acara sulap dan selalu menirukan atraksi sulap. (Kompas.com, 16/12/2009)
Ada juga tragedi tewasnya Renggo Khadafi (11), siswa kelas lima SDN Makasar 09, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Korban tewas setelah sebelumnya diduga dianiaya kakak kelasnya, SY (12) pada Senin (28/4/2014). Dan baru-baru ini, wajah pendidikan ibu pertiwi kembali tercoreng oleh video kekerasan siswa SD terhadap temannya di Sumatra Barat 18 September 2014 lalu. Tim pemeriksa kondisi psikologis korban dan pelaku kekerasan di Sekolah Dasar (SD) Trisula Perwari Bukittinggi, Sumatera Barat, mengatakan para siswa pelaku penganiayaan terhadap rekan mereka bersikap brutal karena terpengaruh tayangan televisi.Inilah dampak buruk tayangan televisi bagi anak-anak. Masihkah kita merasa aman ‘menitipkan’ anak-anak pada tayangan tv biar nggak nangis? Atau membiarkan adik tersayang hanyut dalam cerita fim kartun dan sinetron yang dipenuhi adegan kekerasan? Hati-hati ah!
Bahaya Dibalik Layar Kaca
Para produsen nggak sembarangan membelanjakan iklan durasi minimal 15 detik pada sebuah tayangan. Mereka mesti lihat dulu, sepopuler apa acara buat nayangin iklannya. Disinilah peran rating tayangan tivi berbicara. Rating dijadikan indikator untuk mengukur popularitas acara tivi. Kalo ratingnya tinggi, berarti penontonya banyak. Acara model gini yang dicari oleh para produsen untuk pasang iklannya. Pemasukan dari iklan ini yang jadi ladang uang bagi para pengelola tv.
Buntutnya, pengelola televisi menuntut rumah produksi untuk bikin acara tv yang layak tayang. Syaratnya cuma satu: banyak diminati dan memiliki rating tinggi meski minim atau kagak ada unsur edukasi. Rumah produksi pun berlomba-lomba melakukan investigasi di lapangan. Nyari penampakan yang unik sekaligus menggelitik di lingkungan pemirsa tv. Duplikasi film sana-sini untuk bikin sinetron kejar tayang. Dengan dalih merespon keinginan pemirsa, mereka pun sekenanya bikin acara.Nggak peduli lagi ama kualitas acara yang disiarkan. Biar miskin unsur pendidikan, yang penting…rating man… ratiiing! Ciloko!
Walhasil, makin hari tayangan tv sarat dengan iklanyang bikin bete. Belum lagi nilai-nilai sekuler dan budaya barat yang dengan bebas dijajakan dalam setiap tayangan. Berikut beberapa bahaya dibalik layar tv yang wajib diwaspadai.
-
Mengancam Akidah
Belakangan, film produksi bollywood kembali marak tayang di layar kaca. Dari film kartun Bima Sakti, Serial Krisna, hingga Mahabrata banyak yang setia menanti jam tayangnya. Padahal film-film India itu sarat dengan muatan kepercayaan terhadap dewa yang menyalahi hukum syara. Bagi seorang muslim, tentu gak ada pantasnya melototin itu sinetron apalagi sampe terhanyut dalam rangkaian ceritanya. Allah swt ngingetin kita, “. . .Maka jauhilah penyembahan berhala yang najis itu dan jauhilah pula qaula az-zur.” (QS al-Hajj: 30)
Para ulama menyebutkan bahwa makna “qaul az-zur” adalah semua ungkapan-ungkapan yang diharamkan termasuk pula ungkapan dusta. Para ulama juga menjadikan tontonan terhadap “qaul az-Zur” adalah hal yang haram.Lihatlah Allah menggandengkan larangan terhadap “qaul az-zur” dengan larangan menjauhi sesembahan dan berhala. Anehnya, justru sebagian kaum muslimin menjadikan kisah Mahabarata dan sejenisnya yang lebih dari “qaul az-zur” sebagai hiasan mata dan telinga di depan layar kaca. Catet!
-
Mendorong pergaulan bebas
Selain kekerasan, unsuk pornografi dan daya tarik seksual menjadi menu utama dalam sinetron remaja. Dilansir sebuah media nasional, Republika (Ahad 9 maret 2008), bahwa hasil riset 67 peneliti dari 18 perguruan tinggi di Indonesia menemukan fakta bahwa berjubelnya adegan-adegan seks dalam tayangan sinetron remaja. Menurut mereka peneliti tersebut sebagian besar berpusat pada adegan hubungan seks (57%). Adegan tersebut memang tidak secara langsung memperlihatkan hubungan seks, namun shots pembukanya sudah mengasosiasikan bahwa hubungan tersebut akan terjadi. Jenis adegan seks lainnya adalah ciuman (18%) pemerkosaan (12%) dan kata-kata cabul (10%). Ditemukan pula adegan telanjang (2%) dan seks menyimpang (1%). Porsinya memang kecil, namun fakta bahwa adegan semacam ini muncul secara bebas di layar kaca adalah fenomena yang perlu dicermati.
Pembiasaan remaja yang dicekoki gaya hidup bebas dan pornografi terselubung pada tayangan sinetron membentuk perilaku permisif alias serba boleh. Ngerasa cuek aja gaul bebas dengan lawan jenis dan berbusana yang mengumbar aurat. Boro-boro inget dosa saat dibukaan pintu maksiat oleh pujaan hati dengan pdkt. Pacaran menjadi hal yang lumrah bahkan wajib. Lanjut ke ekspresi cinta dari sekedar jalan berduaan, pegangan tangan, berpelukan, ciuman, hingga perzinaan. Ngeri!
-
Menyuburkan tindakan kekerasan
Melalui tayangan sinetron yang biasa mempertontonkan adegan bullying, remaja diperkenalkan dengan budaya saling menindas dan menjadikan kekerasan sebagai solusi. Kalo benci sama teman sekolah, solusinya dengan kekerasan verbal berupa caci maki dan umpatan. Atau malah tindakan fisik. Meski cuman skenario, tapi dibenak penonton itu terlihat nyata dan terus diulang dalam setiap sinetron remaja. Otak remaja menjadi tumpul dalam mencari solusi untuk masalah yang dihadapi. Karena yang ada dibenaknya, cuman berantem, bully, atau malah lari. Cupu!
Massifnya tayangan film layar kaca yang mempertontonkan kekerasan secara kasat mata, berakibat fatal. Masyarakat pun akhirnya menjadikan kekerasan sebagai hiburan. Sama seperti di AS. Tahun 1999 keluarlah buku berjudul Mayhem: Violence As Public Entertainment yang meneliti dampak jangka panjang tayangan kekerasan kepada pemirsa. Muncullah ‘monster-monster’ kecil berupa pelajar yang melakukan penembakan terhadap kawan-kawannya dan guru-gurunya di sekolah.Seperti pernah terjadi di di Kota Newton, Negara Bagian Connecticut di Sekolah Dasar Sandy Hook yang menewaskan 28 orang, termasuk 14 anak SD. Tragedi ini terjadi pada 14 Desember 2012.Ngeri!
-
Mendongkrak budaya konsumtif
Gencarnya tayangan iklan yang kerap menyapa di jam tayang utama bikin sinyal sophaholic remaja kian menguat. Mulai dari obat anti jerawat hingga gadget terbaru dan pulsa paket hemat. Godaan iklan menampilkan idola remaja dan model yang penampakannya oke punya. Walhasil, remaja kian sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Udah punya smartphone yang masih berfungsi baik, ngerasa ketinggalan jaman kalo nggak pake smartphone terbaru yang bisa jofie alias joget selfie.
Padahal jelas banget perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan sifatnya terbatas. Sementara keinginan nggak kenal rasa puas. Makin dimanja, makin menggila. Rasa inilah yang dibidik produsen dengan balutan aksesoris trendy bin gaul. Beli barang bukan karena butuh, tapi demi gengsi. Bukan karena manfaat, tapi potongan harga yang memikat. Nggak peduli dengan isi, yang penting kemasannya menarik hati. Remaja pun terhanyut dalam gaya hidup gila belanja alias sophaholic. Kondisi ini didukung dengan kemudahan akses belanja secara online. Ini terungkap dari survei yang dilakukan oleh perusahaan penyedia teknologi pembayaran global, Visa.Sekitar 76 persen dari pengguna internet di Indonesia berusia 18 sampai 30 tahun belanja online dengan jumlah belanjaan rata-rata Rp 5,5 juta per tahun.(tribunnews.com, 01/28/2014)
-
Mendewakan gaya hidup hedonis
Kehidupan mewah bin glamour artis yang setiap hari mengisi layar kaca, menebarkan virus hedonisme di kalangan remaja. Gaya hidup hedonis nan glamour yang mengejar kesenangan duniawi kerap dipertontonkan dengan provokatif oleh selebritis. Lihat saja pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang merampok hak siar publik selama 2 hari tayang di televisi. Biaya yang dikeluarkan untuk pernikahan glamour ini sekitar 10,3 Miliar (http://celebrity.okezone.com, 17/10/2014). Belum lagi biaya hidup artis lainnya yang setali tiga uang. Syahrini yang selalu bikin trendsetter merogoh kocek Rp. 1 Miliar untuk kebutuhan panggungnya. Ada juga Krisdayanti di era kejayaannya, rela ngeluarin duit Rp. 100 juta untuk perawatan giginya biar rata dan bersinar.
Nggak masalah, kalo gaya hidup mewah selebriti dinikmati sendiri. Sialnya, justru jadi incaran berita para juri pena. Tiap hari remaja disuapin indahnya hidup mewah ala artis. Walhasil, tayangan kehidupan glamour artis bikin penonton remaja tak kuasa menahan keinginannya untuk bisa mencicipi hidup mewah. Caranya, ada yang ikut ajang pencarian bakat atau menghalalkan segala cara demi meraih popularitas. Miris!
Makanya kita mesti bisa kendalikan diri dan waktu biar nggak abis melotototin tv. Walau hukum nonton tv itu mubah, tetep harus dijaga jangan sampai jadi masalah. Kalo ternyata acara tv bikin kita terlena atau malah menjerumuskan, pilihan terbaik adalah dengan mematikan atau meninggalkannya.
Dari Abu Hurairah ra dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya . (Hadits Hasan riwayat Turmuzi dan lainnya) [Tirmidzi no. 2318, Ibnu Majah no. 3976]
Musuhi Televisi Aja Yuk!
Tenang…tenang…nggak usah pake nyolot gitu. Sebenarnya bukan tv-nya yang jadi musuh, tapi acara-acaranya yang makin amburadul. Dari berita kriminal yang belepotan darah, informasi seputar seks yang diumbar, hingga penampakan makhluk gaib, semua deh ada di situ. Termasuk sinetron remaja yang mengumbar gaul bebas dan kekerasan. Kudu dihentikan!
Yang paling bahaya dari televisi adalah pengkondisian untuk membenarkan sesuatu yang salah atau nggak wajar. Dalam ilmu komunikasi, kesalahan bisa menjadi maklum jika diopinikan terus-menerus sebagai sesuatu yang benar dan wajar. Dan televisilah ujung tombak untuk pengopinian itu. Seperti kampanye gaul bebas remaja dan aksi bulying pada teman sebaya. Anak dan remaja jadi terbiasa meniru apa yang dilihatnya di layar kaca. Bermesraan di sekolah, tonjok-tonjokan, menghina guru, pelecehan seksual sampe tindakan kriminal. Karena bentuk penerimaan seperti itulah yang sampe kepada mereka melalui sinetron GGS, Manusia Harimau, atau Cakep-Cakep Sakti. Waduh!
Upaya protes terhadap tayangan televisi yang cuma ngejar rating udah sering dilontarkan. Sampe-sampe Komisi Penyiaran Indonesia berulang kali mengeluarkan rekomendasi tayangan yang tak layak tonton. Tapi tetep aja, tuh acara nongol bebas. Protes masyarakat dan teguran dari KPI seolah tak digubris pihak pengelola televisi. Kalo rating acaranya tinggi, gimana caranya the show must go on. Kalo perlu, ganti judul. Stop sebentar terus tayang lagi. Ibarat pepatah, anjing mengonggong, Pak Bolot tetep berlalu. Gubrak!
Untuk beresin masalah tayangan televisi, kita mesti lebih jeli. Karena yang terlibat dalam masalah acara tv ini nggak cuma pengelola tv, rumah produksi, atau rating yang tinggi. Tapi juga melibatkan pemerintah sebagai instansi negara tertinggi. Makanya ada dua jalan keluar yang bisa kita tempuh.
Pertama, secara praktis kita kudu meminta pemerintah untuk memproduksi atau memilih tayangan cerdas berkualitas. Penuh unsur pendidikan tanpa harus kehilangan sentuhan hiburan. Film dokumenter Harun Yahya, sejenis sinetron Keluarga Cemara yang pernah ada, atau kartun animasi seperti Syamil dan Dodo bisa menjadi salah satu contoh. Catet!
Syukur-syukur kalo diputar tayangan cerdas yang islami yang menumbuhkan semangat berjuang mengingat mayoritas penduduk negeri ini muslim. Seperti film ar-Risalah (The Message) garapan Mustafa Akkad yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad saw.; Children of Heaven yang bercerita tentang adik-kakak yang pake sepatu gantian biar bisa sekolah; kisah khalifah Umar Bin Khathab, atau pengajaran tata cara berwudhu, shalat, dan doa sehari-hari.
Ditambah kisah-kisah perjuangan para pahlawan Islam yang kini makin banyak dibuat dalam bentuk VCD seperti Khulafa ar-Rasyidin atau The Lion of Desert. Malah ada yang kartun juga lho seperti Hancurnya Pasukan Gajah, Nabi Ibrahim dan Namrudz, atau Petualangan Si Salman. Bagusnya lagi kalo disiarin pada jam-jam pas anak-anak betah di depan TV. Kalo begini kan asyik. Generasi muda muslim jadi nggak asing ama agamanya sendiri. Dan tontonan layak jadi tuntunan. Betul?
Yang kedua, dan ini yang terpenting yang akan mengokohkan solusi pertama. Negara kudu berani menolak kapitalisme, mengubur sekulerisme, dan menerapkan aturan Islam. Dengan aturan Islam negara akan melarang beredarnya tayangan berbau syirik, mengumbar seks, eksploitasi idiot dan banci, atau gambaran gaya hidup sekuler orang-orang Barat. Tayangan cerdas berkualitas seperti yang diharapkan, akan menemani hari-hari kita di ruang keluarga. Hmm… indahnya. Karena itu nggak bosen-bosennya kita ngajak semuanya untuk aktif dalam dakwah. Terapkan syariah, tegakkan khilafah. Biar kita semua dapet berkah. Yuk ah, jangan tunggu hari esok! [@hafidz341]