Majalahdrise.com – Kata orang, kau baru tahu manisnya iman saat tak tahu lagi kemana harus berpegang, saat tak ada arah lain selain menuju keimanan. Itulah yang aku rasakan dalam perjalanan hidupku. Rasanya baru kemarin tatkala pertama kuinjakkan kaki di Madrid, Spanyol. Bukan sebagai pelajar, apalagi pelancong, aku berada nun jauh disini dalam rangka mengadu nasib menjadi Asisten Rumah Tangga. Sebagai orang yang bermajikan, mestilah aku harus pintar-pintar menempatkan diri. Namun tetap jugalah, nasib tiap orang tidak ada yang bisa meraba dan menerka. Aku dikontrak oleh diplomat Indonesia untuk melakoni pekerjaan ini selama 4 tahun, dari tahun 2007 hingga 2011. Belum genap sesuai kontrak, aku minta izin mengundurkan diri dan bermohon pulang ke tanah air.
Aku berkeberatan dengan jam kerja yang aku pikir di luar kewajaran, ditambah gaji yang meleset dari akad di awal. Permintaan pengunduran diriku itu tertolak, dan awalnya menemukan kata damai. Namun tak seindah jalan musyawarah, dua bulan menjalani sesudahnya, tetap tidak ada perubahan. Bahkan semakin menjadi parah. Perlakuan mereka kepadaku tentang perkataan yang tidak pantas seperti makian dan omelan, kudapat setiap harinya. Berangkat dari keluarga yang tidak mampu dari Indonesia, tujuan utamaku bekerja dengan mereka memang supaya aku bisa mendapatkan uang untuk membantu kedua orang tuaku. Dan alasan itu seringkali di bahas dengan nada tinggi oleh Ibu Diplomat.
Akhirnya, di bulan ke-18 dari 4 tahun kontrak, aku mengundurkan diri secara paksa alias kabur! Tak kusangka langkah inilah yang akan kutempuh. Aku pikir kisah TKW yang kabur dari rumah majikan hanya akan kusantap di tayangan berita sore layar kaca. Ternyata, inipun menimpaku pula. Ya, aku kabur dari Rumah Keluarga Diplomat dan Lingkup Kedutaan Besar Republik Indonesia di Madrid. Entahlah, bisa apa aku di negara ini, mengingat KBRI adalah identitas yang tertulis dalam segala Dokumen yang membungkus raga ini. Bukan perkara gampang terlebih jika harus berhadapan dengan urusan di pintu KBRI, bisa di bayangkan. Saat kita memerlukan bantuan, KBRI tempat berpulang. Ahh, mungkin ini memang hanya masalah personal saja, yang tak pengertian dengan nasib orang sepertiku.
Perjalanan selanjutnya setelah kabur adalah Petualangan yang paling seru dan bermakna. Aku sendiri tidak paham dengan Bahasa Spanyol, tidak pula kenal banyak orang, sebab sehari-hariku hanya kerja dan kerja. Saat dilanda galau main kucing-kucingan di negeri orang, aku semakin nikmat berserah ke pada Allah. Berbekal satu tas ransel yang berisi Alquran, mukena dan dokumen identitaskku, aku keluar rumah di Madrid pada musim dingin yang membeku. Sungguh tidaklah Allah Swt menyiakan hidup seorang hamba, termasuk aku yang banyak dosa ini.
Aku dipertemukan dengan hamba Allah, berkebangsaan Pakistan. Siapakah dia? Bukan siapa-siapa. Sekadar orang yang aku kenal di masjid dalam hitungan minggu belakangan. Bisakkah aku kabur dari rumah itu, lalu Allah memberiku jalan dengan cara mengingat masjid, jaraknya 20 menit menggunakan bus dari depan Rumah, di kenal dengan Islamic Center de Madrid ( masjid M 30). Terhitung tiga kali aku datang ke sana secara diam-diam dari Majikkanku yang berbeda agama. Hari minggu ketika mereka ke gereja, aku memanfaatkan pergi ke Masjid dengan menghitung waktu sebelum mereka sampai ke rumah.
bersambung…
di muat di majalah remaja islam drise