<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Tutorial menulis Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/tag/tutorial-menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Nov 2019 23:43:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>Writer isn’t Bibliomania 2</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2016 13:20:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[drise online]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1857</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Saat maen ke rumahnya yang juga  bergaya kolonial, saya dibuat takjub  menyaksikan sekian banyak koleksi bukunya  yang luar biasa, rata-ratakoleksi bukunya itu  berusia antara 60 s.d ratusan tahun! Artinya  buku-bukunya itu terbit taon 1950 ke bawah!  Bahkan, ada yang terbit sebelom taon 1800.  Waouw… harta karun, tuh! Kawan saya yang penggila buku itu &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Writer isn’t Bibliomania 2</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/">Writer isn’t Bibliomania 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Saat maen ke rumahnya yang juga  bergaya kolonial, saya dibuat takjub  menyaksikan sekian banyak koleksi bukunya  yang luar biasa, rata-ratakoleksi bukunya itu  berusia antara 60 s.d ratusan tahun! Artinya  buku-bukunya itu terbit taon 1950 ke bawah!  Bahkan, ada yang terbit sebelom taon 1800.  Waouw… harta karun, tuh! Kawan saya yang penggila buku itu  rela ngeluarin jutaan rupiah duitnya demi  mendapatkan semua buku klasik tersebut.  Dia ngaku gemar berburu buku buluk  (sebuah istilah yang ngetrend di kalangan  para kolektor dan kurator untuk menyebut  buku lama ato jadul) itu, setelah  menggandrungi kajian teosofi yang populer  di masa pemerintahan Hindia Belanda.  Buku-buku bertema teosofi dari beragam  bahasa di bawah taon 1950, pasti dia embat  untuk dikoleksi di perpustakaan pribadinya.  Namun, saat saya bertanya apakah  dia membaca semua buku koleksiannya itu?</p>
<p>Kawan saya itu hanya menjawab  diplomatis dengan senyum dan  gelengan kepala. Dia mengaku  tak punya kemampuan untuk  membaca semua buku  berbahasa asing tadi, dia hanya  tetarik untuk berburu dan  mengoleksinya saja. Saat saya  iseng bertanya, bolehkah saya  memiliki atau membeli salah  satu buku koleksinya itu, dengan  tanggap dia menyatakan tidak  akan pernah melepas bukunya itu dengan  harga berapapun! Nah, lho?!</p>
<p>Jujur aja neh, kekaguman saya langsung  nguap begitu saja. Kawan di<a href="http://majalahdrise.my.id/habits-penulis-5-menjalin-komunitas/"> komunitas interpreter</a> sejarah ini hanya memperlakukan  buku sebatas koleksi tanpa mengambil manfaat  dari buku tersebut. Ia tidak dapat memahami  isi buku koleksiannya itu karena tidak mampu  membacanya, ia tidak mengerti bahasanya. Ia  hanya terobsesi untuk memilikinya saja. Kawan  saya ini sudah terjangkit virus bibliomania! Trus, apakah seorang penulis juga dapat  terjangkit virus bibliomania kek tadi? Hehehe…  seorang penulis yang gandrung sama buku  sebagai bagian dari habitsnya itu, sangat  mungkin terjangkit virus bibliomania ini,  ngoleksi buku tanpa tahu isinya, nyimpen  banyak buku tanpa sedikit pun membacanya!</p>
<p>Nah, bibliomania itu tak selayaknya  menghinggapi para <a href="http://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/">penulis</a> karena bagi  seorang penulis, buku adalah kawan setia  untuk menyelami ilmu dan mendalami  pengetahuan, buku bukanlah sekadar pajangan  yang hanya menghiasi rak-rak perpustakaan,  namun buku adalah amunisi paling dahsyat  yang dimiliki oleh para penulis. Catet, ya?! []</p>
<p>di muat di majalah Remaja islam Drise 49</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/">Writer isn’t Bibliomania 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1857</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Writer isn&#8217;t Bibliomania</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2016 13:14:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[TABLOID]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1854</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; d&#8217;Riser, kali ini kita mo nerusin soal hobi  penulis, yaitu suka berkutat dengan  buku, dunia literasi dan penerbitan. Di  edisi sebelumnya, kan kita ngebahas soal  penulis sebagai seorang booklovers alias  pencinta buku. Nah, pada edisi kali ini, kita mo  ngangkat soal penulis yang terjebak jebakan  Betmen! Halah, bukan itu, ding! Maksudnya  adalah booklovers &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Writer isn&#8217;t Bibliomania</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/">Writer isn&#8217;t Bibliomania</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; d&#8217;Riser, kali ini kita mo nerusin soal hobi  penulis, yaitu suka berkutat dengan  buku, dunia literasi dan penerbitan. Di  edisi sebelumnya, kan kita ngebahas soal  penulis sebagai seorang booklovers alias  pencinta buku. Nah, pada edisi kali ini, kita mo  ngangkat soal penulis yang terjebak jebakan  Betmen! Halah, bukan itu, ding! Maksudnya  adalah booklovers yang kejebak jadi seorang  bibliomania! Awas lho, seorang penulis juga  bisa jadi seorang bibliomania. Maksudnya  gimana, neh?</p>
<p>Yok, kita jabanin bareng-bareng… Bibliomania itu sebenarnya apaan, seh?  Bibliomania itu berasal dari dua kata, yaitu  bibliotheque yang artinya perpustakaan dan  maniac yang artinya penggemar berat. Kalo  dua kosa kata itu digabung (bibliotheque  maniac) maka artinya jadi penggemar berat  perpustakaan, ya?! Nah, kalo maknanya kek  gitu, tentu sangat bagus, dunk, jika seorang  penulis itu adalah seorang bibliomania.  Seorang penulis memang kudu jadi seorang  penggemar berat buku, hobi datang ke  perpustakaan, and kegemaran kek gini sangat  berarti bagi karier <a href="http://majalahdrise.my.id/habits-penulis-5-menjalin-komunitas/">kepenulisannya kelak!</a> Namun, benarkah bibliomania itu  maknanya adalah penggemar berat  perpustakaan? Ternyata, bibliomania itu  merupakan istilah bagi para pecandu berat  buku, artinya mereka yang terkategori  bibliomania ini sangat gandrung dengan buku,  mereka tak peduli apakah buku itu mereka  baca ataukah tidak? Mereka masa bodoh,  apakah mereka ngerti isi buku ataukah tidak?  Mereka sama sekali cuek bebek dengan segala  manfaat dari buku. So, kalo gitu bibliomania itu  kek semacam virus, ya? Bisa jadi, jack!</p>
<p>Fakta empirik di dunia literasi, orang-orang yang terjangkit virus bibliomania ini  hanya terobsesi dengan buku, mereka  mendapatkan kepuasan tersendiri saat  mendapatkan buku ataupun mengoleksi  buku. Virus bibliomania ini kerap  menghinggapi para book collector, bahkan  booklovers seperti para penulis. Nah, lho!  Mo buktinya, gak? Saya punya  seorang kawan di komunitas interpreter  sejarah yang gila buku, khususnya buku-buku yang memiliki nilai historis tinggi, kek  buku-buku yang terbit di masa kolonial  Belanda.</p>
<p>di muat di majalalah remaja islam drise edisi 49</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/">Writer isn&#8217;t Bibliomania</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/writer-isnt-bibliomania/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1854</post-id>	</item>
		<item>
		<title>HABITS PENULIS #3 Si Peneliti Bak Sosok Politisi</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-3-si-peneliti-bak-sosok-politisi/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-3-si-peneliti-bak-sosok-politisi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 May 2016 03:39:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1610</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com  &#8211; D’Riser,  edisi kali ini kita mo ngebahas habits penulis yang ketiga, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang gemar meneliti. Catet ya, penulis itu hobi meneliti, menyelidiki, sekaligus mendetili sebuah persoalan hingga ia menemukan simpulan, bahkan mendapatkan jawaban atas persoalan yang ia selidiki itu. Jadi, ia meneliti sekaligus memberi solusi, bukan meneliti untuknyari &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-3-si-peneliti-bak-sosok-politisi/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">HABITS PENULIS #3 Si Peneliti Bak Sosok Politisi</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-3-si-peneliti-bak-sosok-politisi/">HABITS PENULIS #3 Si Peneliti Bak Sosok Politisi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com  &#8211; D’Riser,  edisi kali ini kita mo ngebahas <a href="http://majalahdrise.my.id/habits-penulis/">habits penulis</a> yang ketiga, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang gemar meneliti. Catet ya, penulis itu hobi meneliti, menyelidiki, sekaligus mendetili sebuah persoalan hingga ia menemukan simpulan, bahkan mendapatkan jawaban atas persoalan yang ia selidiki itu. Jadi, ia meneliti sekaligus memberi solusi, bukan meneliti untuknyari masalah, apalagi kalo sampai bikin masalah baru!Gawat banget kalo gitu!</p>
<p>Seorang kawan di komunitas kepenulisan pernah berseloroh, bahwa penulis yang baik layaknya seorang detektif, ia adalah seorang yang peka dan peduli, ia sanggup mendeteksi gejala sosial di sekelilingnya, ia selalu tergerak untuk mencari, meneliti dan mendetili persoalan. Ia pun mampu menuliskan hasil penelitiannya dan penyidikannya, sekaligus memberikan jawaban atas persoalannya secara solutif. Wah… selorohannya itu keren juga. Bener banget, penulis tuh adalah seorang detektif!</p>
<p>Oleh karena itulah, seorang penulisakan berupaya untuk mengetahui fakta, data dan berita yang ada di sekelilingnya. Apalagi, bagi seorang penulis tipe pelapor, seperti reporter ataupun wartawan, mencari kelengkapan berita mutlak dibutuhkan oleh mereka demi akurasi informasi yang disampaikannya. Mereka dapat menghimpunnya dengan teknik wawancara kepada para nara sumber, berdiskusi dengan para pakar di bidangnya atau bahkan turba (turun ke bawah) untuk melihat langsung keadaan di masyarakat. Teknik menghimpun informasi ini biasa dipakai dalam jurnalisme investigatif.</p>
<p>Saya punya beberapa kawan reporter di beberapa surat kabar dan majalah. Salah seorangnya menjadi wartawan di salah satu media nasional. Saat ia diamanahi untuk meliput latihan gabungan trimatra di lingkungan militer, ia tidak hanya menginput data dari informasi resmi para komandan. Namun, ia sengaja mencari sisi human interest para prajurit yang terlibat dalam latgab yang melibatkan kesatuan elit tempur dari masing-masing angkatan itu. Hasilnya, ia tidak hanya mampu memberitakan bagaimana kesiapan para prajurit menjaga teritorial negara kesatuan ini, namun juga mengungkap kecemburuan di antara mereka, apalagi setelah dilibatkannya pasukan burung hantu yang dibiayai Aussie dalam latgab itu.</p>
<p>Demikian pula bagi penulis tipe pengkaji, ia membutuhkan kajian fakta, data, dan berita yang lengkap dan akurat sebagai bahan untuk dikaji dan dianalisanya. Sebagai contoh, kawan penulisyang lain, ia adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Ia tergerak untuk menulis dampak sosial akibat kenaikan BBM. Sambil berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar, ia bertanya harga ini-itu kepada para pedagang, sekaligus menghimpun keluhan di antara para pembeli. Nyaris satu pekan, ia menginput bayak hal di lapangan, ia pun segera menuliskan hasil investigasinya sekaligus memberikan jawaban atas dampak sosial akibat kenaikan BBM tersebut. Ia mengajak para pembacanya tidak hanya untuk bersabar dan berhemat, tetapi juga untuk bergerak berjuang bersama-sama mengubah keadaan dengan solusi ideologis.</p>
<p>Jadi, Driser, kesibukan keseharian kita gak bisa dijadikan alasan kita untuk gak nulis. Lihat, tuh, ibu dengan tiga anak tadi, sambil berbelanja, ia dapat sekaligus investigasi, mengamati fakta di pasar, mendetili perkembangan harga-harga, sekaligus meneliti dampak sosialnya selama sepekan itu. Jadi, sambil menyelam minum aer! Halah… kembung, dunk?! Harusnya diganti, ding, sambil nyelam dapet kerang… kerang mutiara lagi!</p>
<p>Demikian pula yang dilakukan oleh Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail, syaikh mujtahid mutlaq dari al-Quds, Palestina yang diburu aparat intelejen di seluruh Timur Tengah, setelah mendirikan partai Islam ideologisnya itu, kerap mendengarkan berita-berita politik melalui radio ditempat persembunyiannya.Ia juga mengamati berbagai persoalan di negeri-negeri kaum Muslim, menganalisa permasalahan utamanya, kemudian memberikan solusinya secara praktis dan ideologis. Setiap peristiwa politis di dunia, khususnya Dunia Islam tak lepas dari analisanya, hingga aparat intelejen mengira Syaikh Abu Ibrahim ada dimana-mana karena partainya bergerak dimana-mana. So, gemar meneliti ternyata bukan hanya habits seorang penulis, namun juga tabiat seorang politisi dan pejuang revolusioner. Keren! []</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>BOX:</p>
<h2><strong>Tips Agar Gemar Meneliti </strong></h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oke driser, soal habits penulis yang ketigaini emang tabiat asasi bagipara penulis. Kini, saya mo berbagi tips, biar kamu padagemar meneliti:</p>
<p>Pahamidulu, masalah apaan yang ingin kamu amati dan kamu teliti?Kalo gak paham masalahnya apa, malahkamu yang bakal dapat masalah baru!</p>
<p>Cari tahutempat atau lokasi dimana kamu akan mengamati, menyelidiki atau investigasi? Jika perlu, kamu nyiapin peta, browsing via google earth atau google map, manfaatin teknologi, cuy!</p>
<p>Siapin hal apa aja yang kamu butuhin di lapangan, buku catetan, alat tulis, alat rekam, etc. Jangan hanya ngandelin hapalan di memori, apalagi kalo loading memorinya lemot!</p>
<p>Seleksi siapa aja yang akan kamu tanyai, fakta apa aja yang akan kamu amati. Jangan sembarang orang yang kamu tanyai dan amati, fokus pada masalah yang ingin kamu selidiki.</p>
<p>Segera himpun apapun yang kamu dapet, apalagi info-info penting and krusial harus segera kamu catet, selanjutnya silahkan menganalisa dengan berkarya&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Congrat’s&#8230; kini kamu sudah jadi penulis pengkaji sekaligus peneliti, bahkan belajar jadi politisi&#8230;.! Salut, angkat topi, deh![]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-3-si-peneliti-bak-sosok-politisi/">HABITS PENULIS #3 Si Peneliti Bak Sosok Politisi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-3-si-peneliti-bak-sosok-politisi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1610</post-id>	</item>
		<item>
		<title>HABITS PENULIS #2 Dari Hobi Diskusi Jadi Penulis Ahli</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 May 2016 05:29:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1553</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; D’Riser, pada edisi kali ini, kita mo ngelanjutin bahasan soal habits penulis yang kedua, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang senang berdiskusi. Inget, lho, penulis itu senang diskusi, bukan ngobrol ngalor ngidul, apalagi sampai ngegosip gada ujung! Seorang penulis yang baik adalah sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, lapar akan informasi, sekaligus &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">HABITS PENULIS #2 Dari Hobi Diskusi Jadi Penulis Ahli</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/">HABITS PENULIS #2 Dari Hobi Diskusi Jadi Penulis Ahli</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; D’Riser, pada edisi kali ini, kita mo ngelanjutin bahasan soal <a href="http://majalahdrise.my.id/habits-penulis/">habits penulis</a> yang kedua, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang senang berdiskusi. Inget, lho, penulis itu senang diskusi, bukan ngobrol ngalor ngidul, apalagi sampai ngegosip gada ujung!</p>
<p>Seorang penulis yang baik adalah sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, lapar akan informasi, sekaligus gundah akan ketidaksinkronan antara idealita yang dia punya dengan realita yang dia hadapi.Dia selalu kebelet untuk “menuangkan” apa yang dia lihat, dia dengar dan yang dia rasakan. Oleh karena itu, dia suka berupaya untuk mengetahui fakta, data dan berita yang ada di sekelilingnya. Apalagi, bagi seorang penulis yang memiliki tipe pelapor, layaknya seorang reporter ataupun jurnalis investigatif. Mencari kelengkapan berita adalah mutlak dibutuhkan oleh seorang reporter ataupun wartawan demi akurasi informasi yang disampaikannya. Dia dapat menghimpunnya dengan teknik wawancara kepada para nara sumber ataupun berdiskusi dengan para pakar di bidangnya.</p>
<p>Di sinilah urgensitas berdiskusi bagi seorang penulis. Apalagi bagi para pemula yang masih gagap dalam bertutur dan bernarasi dalam tulisannya. Informasi berupa fakta, data dan berita, sekaligus ilmu, pengetahuan dan tsaqafah sungguh sangat dibutuhkan demi menambah bobot tulisan yang dihasilkan. Setelah kita memiliki kebiasaan membaca sebagai habits pertama bagi seorang penulis, maka kebiasaan keduanya adalah senang berdiskusi.</p>
<p>Jujur saja, Bro and Sist, membaca buku ataupun literatur klasik di perpustakaan saja gak cukup bagi seorang penulis handal. Dia masih membutuhkan pendalaman materi sekaligus pengayaan dalam detil bahasan. Coba, deh, setelah membaca buku, kamu lihat daftar referensi yang disajikan Si Penulis, maka akan kamu dapatkan sejumlah buku yang menjadi bahan tulisan Si Penulis dalam menuliskan bukunya. Terkadang juga, Si Penulis mengutip sejumlah surat kabar ataupun majalah sebagai referensinya. Bahkan, dalam beberapa buku, Si Penulis juga mencantumkan teknik wawancara dan diskusi dengan tokoh-tokoh tertentusebagai referensi tulisan.</p>
<p>Kebiasaan senang berdiskusi ini akan jadi hal positif bagi seorang penulis, dia dapat menguliti habis satu tema tertentu dengan berbagai sudut pandang. Coba, deh, kamu buktikan sendiri, datangi seorang expert pada bidang tertentu, kemudian kamu ajak diskusi pada bidang yang dikuasainya itu. Kamu juga harus sudah siap dengan sejumlah pertanyaan untuk mendetili persoalan. Saya juga sudah membuktikan habits penulis yang kedua ini dengan mengajak diskusi para expert yang umumnya bertitel doktor dan professor. Hasilnya pun, memang langsung terasa, ilmu dan pengetahuan saya jadi semakin kaya, kualitas dan ragam tulisan saya pun semakin berkelas!</p>
<p>Sebagai contoh, saya pernah berdiskusi dengan seorang miltech expert yang gape persoalan teknologi militer mutakhir, dia juga mahir menguraikan kecanggihan alutsista berbagai negara produsen war machine di seluruh dunia, khususnya Amrik dan para pesaingnya dari benua Eropa. Dia juga begitu terampil menjelaskan persoalan alutsista di Dunia Islam, khususnya di negeri Si Komo ini yang sudah jauh tertinggal.</p>
<p>Hasil dari diskusi intens itu pun, saya dapat menyajikan secara maksimal makalah berjudul <em>Membangun Kekuatan Militer Berbasis Ideologi Islam</em>, sekaligusmempresentasikan secara optimal file power point dengan tema <em>Militer dalam Islam</em>. Bahkan, saya pun mampu untuk mempresentasikan tema <em>Future War</em>, sebuah kajian perang di masa depan dengan teknologi militer paling modern yang sungguh berbeda dengan analisis perang akhir zaman atau al-Malhamah al-Kubro.</p>
<p>Oke, deh, Bro and Sist, soal habits penulis kedua ini emang hal yang kudu dijabanin oleh para penulis. Seorang penulis yang baik, dia akan selalu merasa kekurangan ilmu. Apa yang dia dapatkan dari membaca buku, akan dia dalami dan detili lagi dengan banyak berdiskusi dengan para ahli. Tabiat positif ini akan semakin mengasah kualitas tulisannya, sekaligus mengasah keterampilannya dalam menuangkan ide, pemikiran dan pendapatnya. Bukankah, dalam berdiskusi, kita pun berbicara, bertutur, berdiplomasi, bahkan mungkin berdebat? Artinya, kebiasaansenang berdiskusi ini merupakan tabiat yang emang kudu dimiliki oleh seorang penulis. Catet, tuh?![]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><u>BOX</u></strong></p>
<p>Kini, saya mo berbagi tips, biar kamu semua senang berdiskusi:</p>
<ol>
<li>Ketahui dulu, tema apa yang ingin kamu diskusikan?Kalo gak nyiapin tema, halah&#8230; alamat ngobrol ngalor ngidul, tuh!</li>
<li>Cari tahu juga, siapa tokoh yang akan kamu ajak diskusi? Gawat banget, kan kalo kamu ngajak diskusi soal gimana sakitnya sakaratul maut kepada pasien yang divonis dokter sudah tidak ada harapan tertolong?</li>
<li>Cari momen yang asyik buat diskusi, bayangin kalo kamu ngajak diskusi orang yang tengah emosional, wah bisa berabe, euy!</li>
<li>Pilihlah tempat yang nyaman saat diskusi, kamu bisa milih rumah, restoataopun tempat fave yang adem, biar diskusinya juga enak tenan.</li>
<li>Kamu harus aktif berkarya agar ada output positif dari kreativitasmu selama ini. Inget lho, ilmu tuh harus dishare pada banyak orang sebagai bagian dari amal saleh kita (ilmu yang bermanfaat). Ilmu yang kita punya, jangan hanya untuk diri sendiri, apa enaknya masturbasi intelektual? Dosa, tau!</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan tetap kreatif menulis, hobi diskusimu akan menghantarkanmu jadi penulis ahli! Inget, tuh?![]</p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #44</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/">HABITS PENULIS #2 Dari Hobi Diskusi Jadi Penulis Ahli</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/habits-penulis-2-dari-hobi-diskusi-jadi-penulis-ahli/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1553</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tips Menulis Dari Sayf Muhammad Isa : Menebar Karya</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2016 00:26:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[MUDA]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1419</guid>

					<description><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; Bagi seorang penulis, karya yang harus ia buat tentunya dalam bentuk tulisan. Bisa berupa artikel maupun buku. Bisa dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi. Menulis adalah sebuah proses yang cukup rumit dan panjang, dan untuk menempuhnya dibutuhkan, konsistensi, kesabaran, dan ketekunan. Jika tidak ada hal-hal tadi, maka karya-karya itu tidak akan selesai. Kalaupun kita &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Tips Menulis Dari Sayf Muhammad Isa : Menebar Karya</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/">Tips Menulis Dari Sayf Muhammad Isa : Menebar Karya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>MajalahDrise.com &#8211; Bagi seorang penulis, karya yang harus ia buat tentunya dalam bentuk tulisan. Bisa berupa artikel maupun buku. Bisa dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi. <a href="http://majalahdrise.my.id/salman-iskandar-penulis/">Menulis</a> adalah sebuah proses yang cukup rumit dan panjang, dan untuk menempuhnya dibutuhkan, konsistensi, kesabaran, dan ketekunan. Jika tidak ada hal-hal tadi, maka karya-karya itu tidak akan selesai. Kalaupun kita bisa memulai sebuah tulisan, jika tanpa konsistensi, kesabaran, dan ketekunan, maka tulisan itu tidak akan bisa kita tuntaskan. Padahal penulis yang baik itu bukan hanya bisa memulai sebuah tulisan, tetapi juga mesti bisa mengakhirinya. Tulisan ini ingin memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana proses terbentuknya sebuah karya.</p>
<p>Hal yang paling pertama harus dilakukan seorang penulis adalah memunculkan ide cerita yang hendak ia tulis. Proses ini harus terjadi, jika tidak, proses-proses selanjutnya tidak akan pernah ada. Seorang penulis mesti tahu apa yang hendak ia tulis. Cukup banyak orang yang bertanya bagaimana caranya agar seorang penulis selalu memiliki ide-ide tulisan yang segar dan unik? Sebagian lainnya merasa pusing tentang apa yang mesti mereka tuliskan. Sebenarnya jawabannya cukup sederhana, selama ada kehidupan pasti akan selalu ada kisah yang menarik untuk dituliskan.Sesederhana apa pun kisah itu, pasti ia akan selalu memiliki daya tarik. Ide-ide cerita itu akan selalu ada di sekitar kita, dan kita bisa mengambilnya dari mana saja.</p>
<p>Ketika ide cerita itu sudah muncul di benak kita, berupa gambaran global dari kisah yang akan kita garap, langkah selanjutnya adalah menuangkan ide besar itu dalam bentuk kerangka dasar. Kerangka dasar inilah yang berperan besar untuk menentukan seperti apa tulisan yang akan kita buat. Kerangka pula yang akan memandu kita dalam menuangkan isi pikiran kita berupa tulisan sejak awal hingga selesai.</p>
<p>Sumber-sumber kepustakaan tentunya amat penting dan amat kita butuhkan. Langkah selanjutnya setelah kerangka dasar terbentuk adalah berburu berbagai referensi yang berhubungan dengan tulisan yang akan kita garap. Sumber-sumber rujukan ini bisa dalam berbagai bentuk, umumnya berupa buku, artikel, dan berbagai bentuk tulisan lainnya. Jika diperlukan, bisa pula diburu informasi dengan cara mewawancarai narasumber. Sumber rujukan lainnya bisa pula didapat dari melakukan riset atau penelitian. Setelah berbagai data yang kita perlukan berhasil dihimpun, langkah selanjutnya adalah mempelajari berbagai data tersebut. Langkah ini tentu saja akan memperkaya wawasan tentang tema yang sedang digarap. Di sanalah relevansinya sebuah pepatah: “Untuk menulis, maka haruslah membaca.”</p>
<p>Setelah semua proses di atas kita jalankan dengan baik, saatnya kita meramu kata-kata dan dirangkaikan dengan berbagai data yang sudah kita olah dan pelajari. Dengan menjadikan kerangka dasar tersebut sebagai panduan, maka tentu saja akan lebih memudahkan kita menuangkan berbagai ide dalam benak kita. Seluruh tahapan ini dari awal sampai dengan akhrinya haruslah dijalankan dengan sabar, tekun, dan konsisten. Sebagaimana sudah disebutkan tadi, tanpa kesabaran, ketekunan, dan konsistensi, maka karya yang sedang digarap ini tidak akan bisa diselesaikan dengan baik. Apa yang sudah kita kerahkan sedari awal tentunya akan sia-sia belaka. Menghasilkan sebuah karya mirip sekali dengan seorang ibu yang sedang mengandung janin di dalam rahimnya. Dia harus menjaganya dengan baik dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, sekaligus menggenapkan waktu persemayaman janin itu di dalam rahimnya. Ia harus menjalankan semua itu dengan sabar, tekun, dan konsisten, kelak ketika waktunya sudah tiba, karya itu akan lahir dan membawa barokah, kebahagiaan, dan manfaat bagi semua. Insya Allah.[]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/">Tips Menulis Dari Sayf Muhammad Isa : Menebar Karya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/tips-menulis-dari-sayf-muhammad-isa-menebar-karya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1419</post-id>	</item>
		<item>
		<title>MITOS PENULIS #2 Menepis Stigma Penulis Fiksi Tukang Boong</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-2-menepis-stigma-penulis-fiksi-tukang-boong/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-2-menepis-stigma-penulis-fiksi-tukang-boong/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Mar 2016 04:00:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1352</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Salam kreatif bagi fans rubrik writerpreneur. To the by point aja ya, pada edisi kali ini, kita mo ngebahas mitos keempat penulis, yaitu para penulis (fiksi) tuh tukang ngibul bin tukang bo’ong alias suka ngadalin para pembacanya, nyambung juga sama mitos ketiga sebelumnya, yaitu penulis tuh tukang ngarang bin tukang ngedongeng! Hehehe&#8230; kita &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-2-menepis-stigma-penulis-fiksi-tukang-boong/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">MITOS PENULIS #2 Menepis Stigma Penulis Fiksi Tukang Boong</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-2-menepis-stigma-penulis-fiksi-tukang-boong/">MITOS PENULIS #2 Menepis Stigma Penulis Fiksi Tukang Boong</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Salam kreatif bagi fans <a href="http://majalahdrise.my.id/menumpas-mitos-writes-block-nentuin-judul-tulisan/">rubrik writerpreneur</a>. To the by point aja ya, pada edisi kali ini, kita mo ngebahas mitos keempat penulis, yaitu para penulis (fiksi) tuh tukang ngibul bin tukang bo’ong alias suka ngadalin para pembacanya, nyambung juga sama mitos ketiga sebelumnya, yaitu penulis tuh tukang ngarang bin tukang ngedongeng! Hehehe&#8230; kita ulik bareng-bareng, yuk?!</p>
<p>Sebenernya, kalo penulis fiksi dianggap sebagai tukang bo’ong seh, ada benernya juga, kalo yang baca karya fiksinya itu adalah orang yang nggak berpendidikan ataunggak nyadar bahwa karya yang dibacanya adalah kisah rekaan, hasil imajinasi seorang penulis. Namun, kalo Si Pembaca itu nyadar bahwa apa yang dibacanya adalah sebuah karya fiksi maka dia akan memahami bahwa itu adalah cerita rekaan yang belum tentu ada dalam kenyataan. Artinya, dia sadar sepenuhnya bahwa dia bersedia untuk dikelabui atau dibo’ongi oleh Si Penulis.</p>
<p>Kesediaan Si Pembaca untuk dikelabui oleh Si Penulis inilah yang membedakannya dengan fakta kebohongan karena sebuah kebohongan terjadi ketika seorang komunikator (penyampai pesan) mengomunikasikan pesan yang tidak sesuai dengan faktanya kepada komunikan (penerima pesan). Si Komunikan pun nggak nyadar bahwa informasi dari Si Komunikator itu sebuah kebohongan. Nah, ketauan kan, dimana letak perbedaannya?!</p>
<p>So, siapapun di antara kita yang berkenan untuk membaca cerita fiksi, baik itu berupa cerpen, cerbung, novelet dan novel, sudah sejak awal bersedia untuk dikelabui. Tidak ubahnya kita nonton film ataupun pertunjukan drama (teater). Pada saat kita membayar harga buku cerita atau membeli karcis masuk, tanpa diberitahu pun kita akan paham bahwa cerita dalam buku ataupun film dan teater itu hanyalah rekaan belaka. Berbeda halnya kalo buku yang kitabaca adalah otobiografi atau film yang kita tonton adalah film dokumenter yang didasarkan pada fakta sebenarnya.</p>
<p>Namun, kesediaan kita dikelabui oleh penulis fiksi ataupun penulis skenario/sutradara tentu ada batasnya, yaitu ketika cerita itu nggak membangkitkan tanggapan emosional atau nggak logis alias nggak masuk akal jalan ceritanya. Seperti apa yang diungkap oleh Mohammad Diponegoro, penulis novel <em>Siklus</em> yang memenangkan Sayembara Menulis DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) taon 1997, ia menyatakan bahwa, “batas kesediaan orang dikelabui adalah ketika ketidaksungguhan cerita khayal itu muncul telanjang sebagai ketidaksungguhan yang betul-betul tak sungguh. Ketika itulah, hubungan antara cerita dan pembaca menjadi patah.”. Artinya, selama cerita itu masih tampak sungguhan, para pembaca atau para penontonnya mau saja dikelabui.</p>
<p>Pendapat Diponegoro ini sudah jadi konvensi umum di jagat sastra dunia, seperti apa yang diungkap oleh Bapak Cerpen Modern, Edgar Allan Poe, bahwa salah satu dari lima aturan cerpen adalah dia harus tampak sungguhan. Menurut Poe, “tampak sungguhan” ini adalah dasar dari semua seni mengisahkan cerita. Semua fiksi nggak boleh kentara hanya bikinan, sekalipun semua orang tahu bahwa itu adalah kisah rekaan belaka. Semua tokoh ceritanya harus keliatan sungguhan, bicara dan berlaku seperti manusia yang bener-bener hidup.</p>
<p>Oleh karena itu, seorang penulis fiksi jangan nyari plot atau alur yang mustahil. Jangan pula melebih-lebihkan tokoh ceritanya seperti karikatur atau kartun. Trus…, jangan pula membiarkan tokoh ceritanya itu berlaku atau bicara plin-plan, tak konsisten, ungkap Poe menguraikan teorinya itu.</p>
<p>Mau contoh kongkretnya, Bro and Sist? Baca deh, cerita <em>Winetou</em> dan <em>Old Shatterhand</em> karya fenomenal dari Karl May. Ceritanya asyik banget, mengisahkan persahabatan penuh nuansa heroisme antara kepala suku Indian Apache dengan petualang kulit putih di Benua Amerika. Padahal saat nulis ceritanya itu, Karl May belum pernah datang ke tanah kediaman orang-orang Indian itu. Tapi, dia sanggup membingkai fakta-fakta kehidupan orang Indian yang diketahuinya jadi sebuah cerita fiksi yang tampak hidup dan sungguhan sehingga banyak para pembaca ceritanya itu bersedia untuk dikelabui.</p>
<p>Saya juga pernah menulis karya seperti apa yang ditulis Karl May, yaitu menulis buku kumpulan cerita islami <em>Impian Terindah</em> yang meraih predikat best seller di masa booming fiksi Islami. Setengah dari isi buku itu berlatar Turki dan Timur Tengah, padahal saya sama sekali belum pernah singgah ke jantungnya umat Islam itu. Saya hanya menghimpun fakta, data dan berita tentang Turki dan Timur Tengah melalui buku, gugling dan bertanya plus diskusi dengan sohib-sohib yang pernah kesana. Selanjutnya, saya membangun dunia rekaan dengan memadupadankan fakta, data dan berita yang berhasil dihimpun tadi untuk menghadirkan ”tampak sungguhan” demi meyakinkan para pembaca. Hasilnya, <em>Impian Terindah</em> menembus angka penjualan 5.000 exp sekaligus repeat order kurang dari sebulan!</p>
<p>Jadi, inti dari semua seni bercerita fiksi adalah tampak sungguhan. Para penulisnya memiliki tugas membuat cerita khayalan yang tampak sungguhan, meskipun dia menulis cerita-cerita fabel atau cerita tentang dunia binatang. Tokoh-tokoh binatang yang diceritakannya itu harus “tampak manusiawi” (dalam berbicara dan bertingkah laku) untuk dapat “dipercaya”, dengan kata lain agar tampak sungguhan di mata para pembacanya.</p>
<p>Kini, apakah kamu masih nganggap penulis (fiksi) itu sebagai tukang bo’ong? Kalo masih berasumsi gitu, baca lagi deh, tulisan ini dari awal?! Atau mulai deh belajar bikin tulisan fiksi yang menginspirasi. Yuk ya yuk&#8230;! []</p>
<p>di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-2-menepis-stigma-penulis-fiksi-tukang-boong/">MITOS PENULIS #2 Menepis Stigma Penulis Fiksi Tukang Boong</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-2-menepis-stigma-penulis-fiksi-tukang-boong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1352</post-id>	</item>
		<item>
		<title>MITOS PENULIS : ngeblok mental blok para pemula</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-ngeblok-mental-blok-para-pemula/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-ngeblok-mental-blok-para-pemula/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2016 08:58:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1263</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Salam jumpa lagi D’Riser, semoga tetap semangat dalam menulis kreatif, ya? Oke, deh, dalam kesempatan kali ini, kita monyinggung soal mitos-mitos penulis yang berimbas pada mental kamu-kamu hingga bikin semangat menulismu menguap begitu aja. Bahkan, para penulis senior bilang, mitos penulis inilah yang disebut sebagai mental blok yang katanya bisa membuat kamu emoh &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-ngeblok-mental-blok-para-pemula/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">MITOS PENULIS : ngeblok mental blok para pemula</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-ngeblok-mental-blok-para-pemula/">MITOS PENULIS : ngeblok mental blok para pemula</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Salam jumpa lagi <a href="http://majalahdrise.my.id/"><em>D’Riser</em></a>, semoga tetap semangat dalam menulis kreatif, ya? Oke, deh, dalam kesempatan kali ini, kita <em>monyinggung</em> soal mitos-mitos penulis yang berimbas pada mental kamu-kamu hingga bikin semangat menulismu menguap begitu <em>aja</em>. Bahkan, para penulis senior bilang, mitos penulis inilah yang disebut sebagai mental blok yang katanya bisa membuat kamu <em>emoh</em> jadi penulis. Ok, deh, kita <em>jabanin</em> satu persatu, ya?</p>
<h2><em>Pertama</em>, penulis itu kerjaan yang <em>gak</em> menjanjikan!</h2>
<p>Hus! Kata <em>sapa</em>, tuh? <em>Kalo</em>celoteh orang <em>males</em>, <em>gada</em> kerjaan alias pengangguran, kita masih bisa maklum. Tapi, <em>kalo</em> itu masih ada dalam benak para pembaca <em>D’Rise</em>, buang jauh-jauh ya, pikiran <em>ngacokekgitu</em>. Soalnya kata para pakar komunikasi, menulis adalah aktivitas yang membutuhkan <em>high-creativity</em> karena menulis memiliki tingkat aktivitas lebih daripada sekadar mendengar, membaca ataupun bicara. Ringkasnya, menulis adalah olah keterampilan yang tidak semua orang dapat menguasainya dengan baik. <em>Catet</em>, tuh!</p>
<p>Nah, <em>kalo</em> masih ada yang berceloteh, penulis itu kerjaan yang <em>gak</em> menjanjikan, bisa dipastikan orang <em>kekginigak</em> suka baca, <em>gak</em> berwawasan, <em>gak</em> gaul, bahkan pemalas dan pengangguran. Fakta empiris membuktikan bahwa menulis adalah pekerjaan yang menjanjikan secara finansial, juga sosial. Contohnya, kini tengah menjamur komunitas kepenulisan di tanah air, trus <em>training-training</em> kepenulisan juga tengah mewabah di negeri ini. Bahkan, sejumlah perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta mulai bergiat membuka program studi ataupun jurusan yang fokus dalam aktivitas menulis ini. Apalagi untuk menakar intelektualitas pelajar ataupun kecendikiaan para mahasiswa sebagai tanda kelulusannya, mereka diuji dengan membuat karya tulis, berupa paper, literatur, skripsi, tesis ataupun disertasi. Termasuk untuk mendapatkan gelar doktor honoris causa (Dr.Hc.) dan pengukuhan professor (Prof.) juga diuji dengan karya ilmiah. <em>Hayo</em>, masih mau mendebat, <em>kalo</em> nulis itu <em>kerjaan</em> yang <em>gak</em> menjanjikan?</p>
<h2><em>Kedua</em>, penulis tuh <em>idupnyasenen-kemis</em> alias melarat!</h2>
<p>Walah&#8230; itu <em>mah</em>, celoteh <em>ngawur</em> alias tudingan <em>ngasal</em>. Coba <em>aja</em> kamu <em>liat</em> orang-orang beken di jagat kepenulisan, <em>kek</em> JK.Rowling yang kini pundi-pundi poundsterlingnya diperkirakan melampaui kekayaan ratunya sendiri, Elizabeth II dari monarki Inggris. <em>Ato</em> ada fakta yang lebih mencengangkan lagi sekaligus sadis <em>abis</em>, Adolf Hitler yang nulis otobiografiny</p>
<p class="hide-if-no-js"><a id="set-post-thumbnail" class="thickbox" title="Set featured image" href="http://majalahdrise.my.id/wp-admin/media-upload.php?post_id=1263&amp;type=image&amp;TB_iframe=1"><img class="attachment-266x266 alignright" src="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2016/02/MITOS-PENULIS-MAJALAHDRISE.COM_-300x254.jpg?resize=266%2C225" alt="MITOS PENULIS ngeblok mental blok para pemula - MAJALAHDRISE.COM" width="266" height="225" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>a plus ideologi politiknya dalam <em>Mein Kampf</em>. Hasil penjualan bukunya itu <em>gak</em> sekadar mampu menghidupinya tapi juga menghidupi mesin politiknya, <em>Die Nationalsozialistische Partei</em> alias Nazi. Bahkan, hingga kini dalam sejarah dunia, <em>Mein Kampf</em> tercatat sebagai buku terlaris sepanjang masa, mengalahkan angka penjualan Bible dan al-Qur’an sekalipun! Padahal, buku itu sudah diharamkan terbit semenjak Nazi Jerman takluk oleh sekutu dalam Perang Dunia II<em>taon</em> 1945.</p>
<p><em>Kalo</em> di negeri Si Komo ini, tercatat nama-nama <em>kek</em> Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Habiburrahman el-Shirazy sampai Raditya Dika yang karya-karya kreatifnya <em>gak</em> hanya <em>nampang</em> di etalase toko buku, tapi sudah merambah ke layar kaca dan layar lebar. Soal keuntungan materinya jangan ditanya, <em>dah</em>!Mereka <em>ngaku</em> dari menulis saja, mereka dapat melanjutkan studi, umrah, naik haji, beli mobil baru, rumah baru, hingga keliling dunia! Wah&#8230; bikin kamu <em>ngiler</em>, kan?</p>
<h2><em>Ketiga</em>, penulis <em>tuh</em> tukang <em>ngarang</em> bin tukang <em>ngedongeng</em>!</h2>
<p>Hehehe&#8230; <em>benergak</em>, <em>seh</em>, tudingan miring ini pantas dialamatkan kepada penulis? Kita bikin ilustrasi saja, ya&#8230; <em>kalo</em> kamu-kamu dikenal sebagai anak yang suka <em>ngelesato</em> mengada-ngada, pasti kamu sering <em>denger</em> kawan bicaramu <em>ngomel</em>, ”Jangan <em>ngarang</em>, lu?!”<em>ato</em>, ”Lu, <em>ngedongeng</em> lagi, ya?!”.</p>
<p>Nah, <em>ngarangtuh</em> terkesan diada-adakan atau asal <em>nyablakalias gak ada</em> faktanya. <em>Ngedongeng</em> juga sebelas-dua belas <em>kekgitu</em>. <em>Halah</em>, <em>kalo</em>kamu masih<em>kekgini</em>, harus masuk ruangan uji kejujuran plus antikebohongan di ruang penyidikan kriminal, <em>tuh</em>! <em>Truskalo</em> ada yang <em>ngaku</em> sebagai penulis, wah <em>keknya</em> harus dijebloskan ke ruang UGD <em>ato</em> ICU, <em>dah</em>!</p>
<p>Seorang penulis yang baik, dia dituntut untuk dapat meyakinkan para pembacanya bahwa informasi yang diberitakannya adalah kebenaran, menginspirasi kebaikan dan kebahagiaan. Jadi fakta, data dan berita yang diungkapkannya didasarkan pada kenyataan yang dapat diindera dan dirasa. <em>Kalogak</em> dapat memenuhi kedua hal itu, wah&#8230; bisa-bisa kita terjebak dengan <em>khurafat</em> (cerita-cerita dusta) dan <em>takhayul</em> (khayalan <em>kek</em> dongengan), <em>tuh</em>!</p>
<p><em>Trus</em>, <em>kalo</em> kamu berdalih penulis fiksi juga tukang ngarang <em>gimanadunk</em>? Nah, pasti deh, Si Penulis Fiksi bakal meradang <em>abis</em> dituding <em>gitu</em>&#8230;. <em>Ntar</em> di edisi <em>D’Rise </em>y.a.d, kita bahas khusus tentang menulis fiksi, ya? Sekaligus membahas mitos keempat yang menyatakan bahwa penulis <em>tuh</em> tukang <em>ngibul</em> bin tukang <em>bo’ong</em> alias suka <em>ngadalin</em> para pembacanya! Yang pasti <em>mah</em>, <em>kalo</em> diungkap <em>semua-mua</em>di edisi ini, <em>ntar</em>editor dan layouter<em> D’Rise ngomel-ngomel</em> ke saya karena <em>space</em> naskah rubrik <em>writepreneur</em> ini kepanjangan&#8230;. <em>So</em>, cegat di edisi <em>D’Rise</em> brikutnya, ya&#8230;.yuk![]</p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #41</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-ngeblok-mental-blok-para-pemula/">MITOS PENULIS : ngeblok mental blok para pemula</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/mitos-penulis-ngeblok-mental-blok-para-pemula/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1263</post-id>	</item>
		<item>
		<title>PENULIS TIPE MANAKAH KAMU? Melacak Karakter Kepenulisanmu Selama Ini</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/penulis-tipe-manakah-kamu-melacak-karakter-kepenulisanmu-selama-ini/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/penulis-tipe-manakah-kamu-melacak-karakter-kepenulisanmu-selama-ini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2016 10:38:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[drise online]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1196</guid>

					<description><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; Dalam setiap pelatihan kepenulisan, saya nyaris selalu mendapatkan pertanyaan serupa dari para peserta, khususnya mereka yang baru memasuki dunia kepenulisan. Mereka yang tak sungkan mengaku sebagai pemula itu, bertanya soal kreativitas menulis sehubungan dengan pencarian identitas kepenulisannya. Pertanyaan yang berulang ini berkutat pada masalah karakter kepenulisan bagi seorang pemula. Saya kira, pertanyaan ini &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/penulis-tipe-manakah-kamu-melacak-karakter-kepenulisanmu-selama-ini/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">PENULIS TIPE MANAKAH KAMU? Melacak Karakter Kepenulisanmu Selama Ini</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/penulis-tipe-manakah-kamu-melacak-karakter-kepenulisanmu-selama-ini/">PENULIS TIPE MANAKAH KAMU? Melacak Karakter Kepenulisanmu Selama Ini</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; Dalam setiap pelatihan kepenulisan, saya nyaris selalu mendapatkan pertanyaan serupa dari para peserta, khususnya mereka yang baru memasuki dunia kepenulisan. Mereka yang tak sungkan mengaku sebagai pemula itu, bertanya soal kreativitas menulis sehubungan dengan pencarian identitas kepenulisannya. Pertanyaan yang berulang ini berkutat pada masalah karakter kepenulisan bagi seorang pemula.</p>
<p>Saya kira, pertanyaan ini sungguh wajar bagi mereka yang serius menekuni dunia kreatif ini karena karakter kepenulisan merupakan kekhasan tersendiri bagi seorang penulis, sekaligus keistimewaannya yang membedakan dirinya dengan penulis lain.</p>
<p>Dalam memberikan jawaban sekaligus penjelasan kepada para pemula itu, saya sering mengutip apa yang pernah diuraikan oleh seorang trainer dan motivator bidang jurnalistik kaliber nasional, Paulus Wijayanto yang mengatakan bahwa karakter atau tipologi seorang penulis itu ada lima, yaitu: <strong>pengajar, pelapor, penjahit, perakit dan yang terakhir adalah seorang pengkaji.</strong></p>
<p>Kelima karakter kepenulisan itu, tidak lantas lebih baik satu dibanding dengan yang lainnya karena masing-masing karakter memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri, sekaligus memiliki khalayak sasaran yang berbeda pula, alias di antara tipologi penulis ini memiliki para pembacanya masing-masing. Namun, kalau parameternya adalah performa penjualan di pasaran, hal itu tentu akan berbeda pembahasannya.</p>
<p>Secara ringkas, tipe penulis pengajar adalah <em>style</em> atau gaya kepenulisannya seperti seorang pengajar/pendidik yang mengajari peserta didiknya layaknya seorang guru kepada murid-muridnya atau seorang dosen kepada para mahasiswanya. Sedangkan pelapor adalah gaya kepenulisan seperti layaknya seorang wartawan atau reporter yang tengah memberikan reportase atau liputan di lokasi acara. Isinya penuh dengan informasi atau berita, berupa data ataupun fakta di lapangan.</p>
<p>Sedangkan tipe penulis penjahit ataupun perakit ada kemiripan dan kesesuaian dalam beberapa hal. Penulis penjahit memiliki karakter kepenulisan layaknya seorang penjahit yang menjahitkan pakaian untuk orang lain. Ia sekadar menjahitkan atau merekonstruksi tulisan dari tulisan-tulisan orang lain. Artinya bahan-bahan tulisannya, ia dapatkan dari penulis lain. Bahasa kerennya, ia mengadopsi beberapa tulisan menjadi sebuah tulisan baru.</p>
<p>Demikian pula dengan penulis perakit, ia pun merekonstruksi tulisannya dari bahan-bahan tulisan orang lain. Namun, penulis tipe perakit ini sedikit memiliki kreativitas lebih dibanding dengan tipe penulis penjahit, ia punya model atau pola sendiri dalam merekonstruksi tulisannya alias ia merakit sendiri. Bahan-bahan tulisan dari penulis lain, ia adopsi dan diadaftasinya dalam tulisan baru yang berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya.</p>
<p>Persamaan dan kesesuaian antara tipe penulis penjahit dan perakit ada dalam hal merekonstruksi tulisan. Penulis tipe ini memiliki keterampilan memadukan tulisan satu dengan tulisan lainnya menjadi tulisan baru, sekalipun tulisan-tulisan yang mereka himpun memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, mereka memiliki kepekaan dan ketelitian dalam menyeleksi bagian mana dalam tulisan orang lain yang dapat diadopsinya.</p>
<p>Perbedaan elementer di antara mereka hanya terletak dalam proses adaftasi tulisan orang lain, setelah mereka memilih dan memilah bagian mana yang akan diadopsinya, penulis perakit mengadaftasinya lagi dengan kekhasan yang ia miliki. <em>Just it</em>, tidak lebih, tidak pula kurang!</p>
<p>Oya, jujur <em>ajaneh</em>, berdasarkan fakta empirik di lapangan, banyak para pemula yang <em>gak</em> sabar menjalani proses, mereka lebih nyaman dengan jadi penulis penjahit <em>ato</em> juga perakit ini. Mereka menjahit tulisannya dari kreativitas penulis lain, bahkan tidak jarang asal comot <em>ato</em> terjebak dengan <em>pemeo</em> kopas alias <em>copy-paste</em> karena <em>gakmo</em> ribet <em>nyusun</em> struktur tulisan. Gawat, deh <em>kalo</em> begitu, dia bisa terjebak dengan pelanggaran kode etik kepenulisan, dia mengklaim tulisan orang lain sebagai karya kreatifnya. <em>Kalogitu</em>, <em>mending</em> kelaut <em>aja</em>, deh!</p>
<p>Berbeda halnya dengan tipologi penulis pengkaji, ia memiliki kekhasan sendiri dalam menyusun konstruksi tulisannya, ia sama sekali tidak mengajari, melapor, menjahit ataupun merakit tulisan orang lain dalam karya kreatifnya. Sekalipun ia menjadikan karya tulis orang lain sebagai <em>maroji’</em> atau <em>reference</em>. Ia hanya mengambil intisari, alur atau arus utama dari karya orang lain tadi sebagai bentuk pengayaan dalam tulisannya.</p>
<p>Pertanyaannya sekarang, mungkinkah seorang pemula dapat menjadi seorang penulis pengkaji? Sungguh, saya berani menyatakan bahwa seorang pemula dalam dunia kepenulisan dapat menjadi seorang pengkaji sekaligus. Asalkan dia memiliki keterampilan mengolah tulisan dengan baik dan memiliki kekhasan dalam menganalisa. Saya tidak mengada-ada, saya berkawan akrab dengan seorang penulis kandidat doktor dalam bidang <em>urban housing</em> dari sebuah universitas ternama di tanah air.</p>
<p>Sepanjang pengetahuan saya tentangnya, bukunya yang terbit baru berjumlah tujuh! Tiga buku terbit di tanah air, sisanya diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di luar negeri. Semua bukunya menembus angka penjualan <em>best seller</em>. Bahkan, di negeri jiran, bukunya masuk kategori <em>mega best seller</em>, terjual lebih dari 70.000 eksemplar kurang dari satu tahun, sekaligus menjadi sebuah fenomena baru di sana. Luar biasa!</p>
<p>Keterampilannya dalam mengolah tulisan dan kekhasannya dalam menganalisa menjadikan dirinya sebagai seorang pengkaji, sekalipun buku-bukunya masih terhitung dengan jari. Namun, keterampilannya dalam bidang <em>quranic archeology</em> dengan memadukan analisa sinkronik-diakronik dalam buku-bukunya, menjadikan dirinya berbeda dibandingkan dengan penulis pada umumnya.</p>
<p>Nah, sekarang, saya <em>mo</em> nanya kepada D’Riser <em>semua-mua</em>, penulis tipe manakah kamu?[]</p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/penulis-tipe-manakah-kamu-melacak-karakter-kepenulisanmu-selama-ini/">PENULIS TIPE MANAKAH KAMU? Melacak Karakter Kepenulisanmu Selama Ini</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/penulis-tipe-manakah-kamu-melacak-karakter-kepenulisanmu-selama-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1196</post-id>	</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS #2</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2015 08:40:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[drise online]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1109</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tulisan Yang Sistematis Sekaligus Sistemis &#160; drise-online.com &#8211; Pada edisi D’Rise sebelumnya, kita sudah ngebahas gimana membangun tubuh tulisan yang dinamis bagian pertama, yaitu pembahasan yang sistematis alias sesuai dengan sistematika penulisan yang baik dan benar. Pada edisi D’Rise kali ini, kita akan ngebahas bagaimana membangun tubuh tulisan yang dinamis bagian kedua, yaitu pembahasan isi &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS #2</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis-2/">MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS #2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Tulisan Yang Sistematis Sekaligus Sistemis</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>drise-online.com</strong> &#8211; Pada edisi <a href="http://majalahdrise.my.id"><em>D’Rise</em> </a>sebelumnya, kita sudah <em>ngebahas</em> <em>gimana</em> membangun tubuh tulisan yang dinamis bagian pertama, yaitu pembahasan yang sistematis alias sesuai dengan sistematika penulisan yang baik dan benar. Pada edisi <em>D’Rise</em> kali ini, kita akan <em>ngebahas</em> bagaimana membangun tubuh tulisan yang dinamis bagian kedua, yaitu pembahasan isi tulisan yang sistemis. Maksudnya adalah bagaimana agar tulisan kita itu <em>gak</em> sekadar menyajikan fakta, data dan berita saja, ataupun mengandung unsur informasi dan edukasi semata. Namun juga, inspiratif sekaligus solutif. Walah&#8230; <em>kek</em>nya berat, ya? Iya <em>dunk</em>, kan, tulisan kita <em>kudu</em> jelas <em>gimana</em> bobotnya!</p>
<p>Ok deh, <em>Bro and Sist</em>&#8230; kita ambil <em>sample</em> saja, ya, agar kita mudah memahami <em>gimana</em> tulisan yang sitematis <em>plus</em> sistemis itu? <em>Bro and Sist D’Riser</em> tentu <em>dah</em> tahu karya <em>best seller</em> Felix Y. Siauw yang berjudul <em>Muhammad Al-Fatih 1943</em>, kan, ya? <em>Gimana</em> seru, <em>ga</em> kisah heroik Fetih Sultan Mehmed dalam menaklukkan ibukota Romawi Byzantium, Konstantinopel itu?</p>
<p>Nah, buku karya Ustadz Felix yang ia dedikasikan khusus untuk kedua puteranya; Shifr &amp; Ghazy sebagai bekal untuk membuka Kota Roma itu, dapat kita jadikan sebagai contoh dari tulisan yang sistematis, sekaligus sistemis.</p>
<p>Sebelum <em>ngebahas</em> lebih lanjut, kita <em>mo</em> sedikit <em>ngasih</em> bocoran, <em>gimana</em> proses kreatif Ustadz Felix menghasilkan buku fenomenal ini. <em>Gimana</em> <em>gak</em> jadi fenomena, <em>MAF 1453</em> itu ditulis oleh seorang <em>engineer</em> bidang pertanian, bukan seorang sejarawan ataupun lulusan ilmu sejarah. Terlebih lagi, Ustadz Felix adalah seorang <em>mualaf</em>. Bahkan, saat diskusi bukunya di Bandung, seorang doktor sejarah menyatakan, melalui karyanya ini, Ustadz Felix dapat disejajarkan dengan para sarjana ilmu sejarah.</p>
<p>Saat itu, saya yang mendapatkan amanah sebagai penyunting buku <em>MAF 1453</em> mengetahui betul proses kreatif Ustadz Felix sejak awal. Bahkan, mendapat kesempatan menjadi <em>first reader</em> dan mengawal prosesnya dari naskah mentah menjadi sebuah buku. Proses kreatif menulis <em>MAF 1453</em> itu digarap dengan sungguh-sungguh oleh penulisnya, Ustadz Felix berulang kali merevisi naskah tulisannya, ia tidak sungkan menerima kritik konstruktif dari saya demi kesempurnaan <em>MAF 1453</em>.</p>
<p>Di antara masukan yang saya berikan kepada Ustadz Felix adalah ia harus berani tega untuk memangkas 2/3 isi naskah yang telah ia tuliskan. Saat itu, saya berargumentasi bahwa tidak semua orang suka membaca sejarah karena bagi sebagian orang, sejarah adalah sesuatu yang memberatkan karena harus mengingat rumus 5W+1H: <em>What</em>: Apa peristiwa sejarahnya? <em>Who</em>: Siapa para pelaku sejarahnya? <em>When</em>: Kapan peristiwa sejarah itu terjadi? <em>Where</em>: Dimana peristiwa sejarah itu terjadi? <em>Why</em>: Mengapa hal itu dapat terjadi?, dan <em>How</em>: Bagaimana proses terjadinya? Waduh, sebegitu banyak yang harus diingat dan diketahui para pembaca, mulai nama orang, nama peristiwa, nama tempat, tanggal kejadian, analisa peristiwa, <em>etc</em>.</p>
<p>Selanjutnya, saya bertanya secara retoris kepada Ustadz Felix, apakah ia bermaksud menulis biografi Sultan Mehmed II, ataukah menuliskan prestasi terbesar Sultan Mehmed II bagi Islam dan Kaum Muslim? Pertanyaan itu dilatarbelakangi karena judul awal naskah Ustadz Felix adalah<a href="http://felixsiauw.com/home/"> <em>The Great Inspirator: Muhammad Al-Fatih</em></a>. Jadi, sudah dapat ditebak, isinya banyak menguraikan sosok Sultan Mehmed II.</p>
<p><a href="https://twitter.com/felixsiauw">Ustadz Felix</a> sendiri menerima usulan kongkret itu dengan antusias, ia berani merombak kembali <em>content</em> tulisannya dengan menyederhanakan bahasannya tentang Sultan Mehmed II, sekaligus memperkaya bahasan tentang prestasi terbesar Sultan Mehmed II dalam penaklukkan Konstantinopel, bahwa penaklukkan pada 29 Mei 1453 itu tidak berdiri sendiri. Namun, ada banyak faktor pendukung yang menyempurnakan pembuktian <em>nubuwwah</em> Rasul sekaligus <em>bisyarah</em>nya itu. Saking bersemangatnya, Ustadz Felix sampai mematok 29 Mei 2011 pukul 14:53 sebagai momen menyelesaikan naskah tulisannya.</p>
<p>Akhirnya, kita dapat membaca buku kedua Ustadz Felix setelah <em>Beyond The Inspiration</em> ini dengan renyah bak kacang garing, sekaligus mendapatkan <em>ibrah</em> dan inspirasi terpenting, bagaimana mengaktualisasikan sosok penakluk terbaik yang dijanjikan Nabi itu dalam konteks kekinian, karena <em>MAF 1453</em> tak melulu berkisah tentang Sultan Mehmed II, namun juga mengetengahkan <em>gimana</em> cara kita meneladani prestasinya.</p>
<p>Nah, inilah, esensi dari membangun tubuh yang dinamis dalam konteks pembahasan isi tulisan yang sistemis. Buku <em>MAF 1453</em> telah mewakili bagaimana sebuah tulisan <em>gak</em> sekadar menyajikan fakta, data dan berita, namun juga, inspiratif dan solutif. <em>Ok, Bro and Sist,</em> semoga kamu-kamu <em>ngerti</em>, maksud dari tulisan yang sistemis itu. <em>Cag, ah</em>! []</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis-2/">MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS #2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1109</post-id>	</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2015 13:50:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Writepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1059</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8211; D’Riser, pada edisi D’Rise kali ini, kita mo ngebahas tahapan saat menulis poin yang ketiga, yaitu “pembahasan”, sekaligus nerusin jurus ampuh menumpas virus write’s block. Dalam proses kreatif menulis, kita harus mampu membangun tubuh yang dinamis, tulisan yang kita bikin itu koheren dan kohesif. Maksudnya adalah adanya keterpaduan makna, sekaligus adanya kesatuan bentuk tulisan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/">MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image"><img src="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2015/12/Screenshot_34.jpg?w=660" alt="" data-recalc-dims="1"/></figure>


<p><em>&#8211; D’Riser, </em>pada edisi<a href="http://majalahdrise.my.id/"> <em>D’Rise</em></a> kali ini, kita <em>mo</em> <em>ngebahas</em> tahapan saat menulis poin yang ketiga, yaitu “pembahasan”, sekaligus <em>nerusin</em> jurus ampuh menumpas virus <em>write’s block</em>.</p>
<p>Dalam proses kreatif menulis, kita harus mampu membangun tubuh yang dinamis, tulisan yang kita bikin itu koheren dan kohesif. Maksudnya adalah adanya keterpaduan makna, sekaligus adanya kesatuan bentuk tulisan yang kita bangun.</p>
<p><em>Gak</em> lucu, kan, <em>kalo</em> tulisan kita <em>gak</em> nyambung? Misalnya <em>kek</em> <em>gini</em>, niatnya bikin tulisan artikel bergaya deskriptif, <em>eh</em> saat kita nulis, kita malah keasyikan sendiri bernarasi panjang lebar. Akhirnya, tulisan kita mewujud jadi artikel naratif, malah bisa jadi <em>feature</em> atau yang lebih parah, jadinya kisahan faksi atau bahkan tulisan fiksi. Kacau, kan?</p>
<p>Selain itu, demi membangun tubuh yang dinamis dalam proses kreatif menulis, kita pun harus benar-benar memahami persoalan yang kita ajukan dalam tulisan dengan pembahasan yang kita kedepankan. Mulai persoalan keseharian maupun persoalan keumatan dan kebangsaan sampai pada pembahasan yang sistematis dan sistemis. Walah…, bahasanya ideologis <em>bangeud</em>, <em>ye</em>? Gapapa <em>ding</em>, kita kan <em>mo</em> jadi seorang yang totalitas dalam berkarya sebagai wujud aktualisasi Muslim <em>kaffah</em>.</p>
<p>Nah, soal <em>ngebangun</em> tubuh tulisan yang dinamis itu, dimulai dari maksud kita bikin tulisan. Jenis tulisan apa dulu yang <em>mo</em> kita bikin. Artinya, kita <em>mo</em> nulis artikel, berita, <em>feature</em>, fiksi atau faksi?</p>
<p><em>Kalo</em> jenis tulisan, <em>dah</em> <em>clear</em>, lanjut deh ke <em>outline</em>, kita bikin kerangka tulisan agar kita punya panduan yang terarah dalam menulis. Bikin <em>outline</em> <em>kek</em> <em>gini</em> penting banget, lho, bagi para pemula karena akan membuat kamu-kamu terhindar dari <em>write’s block</em> yang sering jadi alasan kamu <em>gak</em> <em>nerusin </em>tulisan bahkan parahnya,<em> gak nuntasin</em> tulisan!</p>
<p>Makanya penting banget kita bikin <em>outline</em>, khususnya bagi para <em>new comer</em> dalam jagat kepenulisan. Hal ini bukan tanpa alasan, karena faktanya banyak di antara para pemula itu yang begitu bersemangat nulis hingga mereka terjebak dengan bahasa lanturan. Tulisannya <em>ngelantur</em> kemana-mana, boros kosa kata dengan kalimat yang <em>gak</em> efektif. Nah, lho, jadi dalam menulis jangan modal semangat doang, ya?</p>
<p>Walah&#8230;, kita <em>dah</em> masuk ke area bahasa dalam pembahasan, ya?</p>
<p>Oke deh, sebelumnya kita <em>mo</em> <em>nanya</em>, neh, <em>Bro and Sist D’Riser</em>, pernah baca <em>ato</em> sekadar <em>liat-liat</em> majalah mingguan berita (MBM) <em>TEMPO</em>, kan? Tuh, majalah yang digawangi Goenawan Mohamad itu punya <em>tagline</em> atau slogan yang mereka usung sejak awal penerbitannya sebagai pemantik minat baca para penggemarnya, <em>tagline</em>nya <em>kek gini</em>, <em>enak dibaca dan perlu</em>.</p>
<p>MBM <em>TEMPO</em> sepertinya <em>pengen</em> <em>ngikut</em> kesuksesan <em>the weekly newsmagazine TIME</em> di Amrik sana yang jadi barometer pemberitaan, <em>gak</em> hanya di dunia Barat, tapi juga jadi rujukan media berita seluruh dunia. Coba, liat <em>tagline TIME</em> ini, <em>there’s never been a better</em>.</p>
<p>Terlepas dari ide maupun ideologi yang diusung kedua majalah berita tersebut, tapi <em>tagline</em> dua majalah yang katanya mengusung model jurnalisme investigatif itu keren-keren, ya?</p>
<p>Kalo diperhatikan, karakter tulisan mereka, baik itu artikel, berita, <em>feature</em>, <em>etc</em> yang <em>nampil</em> di majalahnya itu, <em>emang</em> enak dibaca, bahasanya lugas, bernas dan kaya. Oya, maksud “kaya” di sini adalah kaya dalam menyajikan fakta dan data, sekaligus “kaya” dalam bahasa. <em>Kalo</em> “kaya” dalam analisa. Wah, nanti dulu, soal analisa, kan,  bergantung sepenuhnya pada ideologi yang mereka usung. Jadi, cukuplah kita terkesan dengan kekayaan fakta, data dan bahasa yang mereka punya.</p>
<p>Coba, deh, kamu baca <em>Catatan Pinggir</em>nya Mas Goen di majalah <em>TEMPO</em> atau yang sudah dibukukan oleh Penerbit Gramedia sebanyak 6 jilid. Simak dan perhatikan cara Mas Goen memulai hingga mengakhiri tulisannya, dia menulisnya dengan bahasa yang kaya, Dewan Redaksi Majalah <em>TEMPO</em> ini menulis dengan energi, setiap kalimatnya penuh dengan muatan informasi.</p>
<p>Di sini, kita <em>mo</em> <em>ngebuka</em> soal kekayaan berbahasa ini karena dalam membangun tubuh yang dinamis, seorang penulis yang baik tentu akan memerhatikan kualitas dari bahasa yang ia <em>pake</em>, sekaligus dengan kalimat yang efektif alias tepat sasaran.</p>
<p>Bahasa yang ia <em>pake</em> akan menyesuaikan dengan khalayak pembacanya, bahasa yang tepat sasaran dan tepat guna, tepat kepada yang dituju dan berdampak langsung pada perubahan sikap maupun karakter pembacanya.</p>
<p><em>Kalo</em> kita nulis untuk remaja maka bahasa yang kita <em>pake</em> pun, ya bahasa keseharian mereka, <em>dunk</em>! Kita harus tahu dunia mereka untuk menyelami kebiasaan, tabi’at dan kehidupan anak-anak muda kekinian, termasuk soal gaya berbahasa mereka yang kata penyanyi <em>en</em> psikolog, Tika Bisono <em>mah</em>, bahasa yang dinamis, sering berubah sesuai zamannya, <em>funky</em>&#8230; bahkan, terkesan <em>slank</em> alias seenaknya.</p>
<p>Melalui pemahaman terhadap dunia remaja dengan karakter bahasanya yang <em><a href="https://www.facebook.com/MajalahRemajaIslamDRise">funky</a></em> dan <em>slank</em> tadi, tentu akan memudahkan kita untuk menyapa mereka dengan bahasanya sendiri, bahasa yang mereka fahami. Di sinilah misi <em><a href="https://www.facebook.com/MajalahRemajaIslamDRise">da’wah</a> bi lisani qaumih</em> sudah terpenuhi, menyampaikan dakwah dengan bahasa yang dimengerti kaumnya.</p>
<p>Nah, itulah maksud dari pembahasan yang sistematis alias sesuai dengan sistematika penulisan yang baik dan benar. <em>Kalo</em> untuk pembahasan yang sistemis, <em>gimana</em>? Cegat di edisi <em>D’Rise</em> berikutnya, ya&#8230;.[]</p>
<p>Di muat di Majalah Remaja Islam Drise edisi #38</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/">MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/membangun-tubuh-yang-dinamis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1059</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
