Majalahdrise.com – Dia seringkali menghabiskan waktu yang lama untuk duduk di depan cermin dan merias diri. Di situlah dia mengagumi parasnya sendiri. Seiring berjalannya waktu jelas saja usianya jadi semakin tua, saat itulah terjadi sesuatu yang paling ditakuti kaum wanita: muncul kerutan di wajah. Kecantikannya yang mulai pudar karena munculnya kerutan itu tentu saja menjadi mimpi buruk di siang bolong bagi Elizabeth.
Suatu hari, Elizabeth sedang duduk di depan cermin dan seorang pelayan wanita berdiri di belakangnya sambil menyisirkan rambut Elizabeth yang panjang. Tanpa sengaja, si pelayan menarik rambut Elizabeth dengan sisir di tangannya dan bangsawan itu mengaduh. Elizabeth murka dan menampar wajah pelayan itu sekeras-kerasnya hingga darah membuncah dari hidung si pelayan. Darah pun menetes ke punggung tangan pelayan itu dan Elizabeth menyaksikan semuanya. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba bagian kulit yang tertumpah oleh darah itu terlihat kembali meremaja di mata Elizabeth. Sebuah gagasan gila segera muncul dalam benaknya, jika seluruh tubuhnya dilumuri darah perawan, maka dia akan selalu muda dan cantik.
Elizabeth segera mencengkeram tangan pelayannya yang malang dan memerintahkan agar lehernya disayat. Darah segar pun memancar dan ditampung di sebuah tong. Elizabeth segera masuk ke dalam tong itu dan mandi darah perawan selagi masih hangat. Berbagai isu pun berembus bahwa dia tidak mencukupkan diri pada mandi darah saja, tetapi juga menyeruput darah tadi dan memakan daging para perawan yang malang itu, demi mempertahankan kemulusan kulit dan kemudaannya.
Wanita bangsawan yang sadis ini semakin liar. Awalnya satu per satu pelayannya yang masih perawan menjadi korbannya. Dia mempekerjakan lima orang pelayan yang paling dipercayai untuk membantunya melaksanakan hobinya yang kejam dan tidak masuk akal itu. Para pelayannya yang lain tidak berani buka mulut untuk membongkar keanehan dan kesadisan majikan mereka. Jika ada yang berani macam-macam, maka mereka akan menerima hukuman yang amat kejam. Elizabeth pernah menjahit mulut seorang pelayan yang banyak bicara. Para gadis pelayan itu dipukuli hingga berdarah-darah, dan tubuhnya digosok daun jelatang yang menyengat.
Semakin hari berlalu, Elizabeth semakin pintar menyiksa orang. Berbagai cara dia lakukan untuk menjalankan kesenangannya itu dan apa yang disebutkan tadi belumlah seberapa. Pelayan yang dituduh mencuri akan ditelanjangi dan keping logam yang panas membara akan ditempelkan ke kulit mereka. Bisa kita bayangkan bagaimana jeritan pilu para pelayan yang malang itu. Namun seorang pelayan tidak perlu melakukan kesalahan terlebih dahulu untuk mendapatkan perlakuan keji seperti itu, Elizabeth bisa dengan bebas berbuat apa saja kepada siapa pun pelayannya. Dia memilih sekehendak hati pelayan yang ingin disiksa atau dibunuhnya. Dia pernah memecahkan kepala seorang pelayan dengan menekan kedua pipinya, hingga otaknya berhamburan dan lehernya terbelah. Dia begitu terobsesi pada jeritan dan kematian.
Elizabeth pun mengoleksi berbagai alat penyiksaan yang mengerikan. Dia punya penjepit dan tang yang digunakan untuk mengupas kulit gadis-gadis yang disiksanya, setelah sebelumnya alat-alat itu dibakar hingga merah membara. Dia juga punya kerangkeng dengan duri-duri yang akan menusuk para gadis itu hidup-hidup. Tongkat-tongkat besi panas pun dia gunakan untuk menandai kulit korbannya. Dia seringkali membakar korbannya, sementara dia mengawasi dengan penuh perhatian, seolah jeritan-jeritan kesakitan itu adalah simfoni yang indah di telinganya. Ferenc Nadasdy, suami Elizabeth, yang telah terbiasa dengan medan perang, pun keluar dari ruang penyiksaan itu dan tidak sanggup menyaksikan kengerian itu.