Majalahdrise.com – Pada abad 16 sampai 18 Masehi, di tengah-tengah masyarakat benua Eropa menyebar ketakutan terhadap suatu zat yang konon sangat berbahaya bagi tubuh. Ambroise Pare, tabib raja-raja Perancis, pada tahun 1568 memperingatkan masyarakat akan bahaya zat tersebut, yaitu “bisa membuat badan jadi lembek dan membuka pori-pori kulit, sehingga bisa menyebabkan berbagai uap yang berbahaya memasuki tubuh, yang bisa mengakibatkan kematian mendadak”.
Senada dengan Pare, Theophraste Renaudot, yang juga dokter dari Perancis menjelaskan bahwa zat berbahaya ini merupakan “musuh dari jaringan syaraf dan otot, yang bisa melemahkan badan”. Tahukah D’Riser zat berbahaya yang dimaksud? Zat itu ialah air! Yup, itulah kepercayaan orang Eropa di abad pertengahan akan bahaya air bila menyentuh kulit. Akibatnya, orang-orang Eropa di masa itu jarang mandi. Frekuensi mandi mereka rata-rata beberapa kali dalam setahun, yang paling rajin dan elite adalah sebulan sekali. Yaiks…!
Masyarakat kelas bawah lebih parah lagi karena mereka tak pernah mandi sama sekali, dan hanya mencukupkan diri dengan mencuci tangan, muka, dan kumur-kumur. Mencuci muka seluruhnya pun masih dianggap berbahaya karena dianggap bisa melemahkan penglihatan, jadi cuci muka pun agak jarang. Bahkan mereka percaya bahwa lapisan daki pada kulit justru melindungi tubuh dari penyakit. Hiiy…! Selain ketakutan terhadap penyakit, ternyata ada alasan lain yaitu alasan keagamaan. Sebelum abad pertengahan, fasilitas pemandian umum sebenarnya sudah biasa dijumpai, mengingat pada masa itu masih jarang rumah yang di dalamnya ada kamar mandi, kecuali di rumah-rumah para bangsawan dan orang kaya.
Namun pihak Gereja memberi stigma negatif terhadap pemandian umum, karena dianggap menyebabkan perbuatan amoral dan seks bebas. Dari waktu ke waktu pembatasan itu semakin banyak, bahkan sampai ada larangan untuk mandi telanjang. Stigma negatif terhadap aktivitas mandi ini juga diyakini oleh kalangan bangsawan dan aristokrat. Beberapa penguasa yang jarang mandi itu diantaranya adalah Raja Ferdinand dan Ratu Isabella dari Spanyol. Menurut kedua penganut agama Kristen fanatik ini, mandi itu dekat dengan kefasikan, karena orang yang mandi biasanya tidak pakai baju. Ketika duo jarang mandi ini menaklukkan Andalusia, penduduk muslim di sana tak hanya dipaksa pindah agama, mereka juga dilarang untuk mandi.
Isabella sendiri dengan bangga menyebutkan bahwa seumur hidupnya ia hanya mandi dua kali, pada saat dilahirkan dan ketika menikah. Masih di Spanyol, Putri Isabella, anak dari raja Felipe II bahkan pernah bersumpah untuk tidak mengganti baju hingga pengepungan Ostend (1601 M) selesai. Namun ternyata pengepungan itu baru berakhir 3 tahun kemudian.
Wueks…! Para penguasa Prancis pun, walau dandanannya paling flamboyan, ternyata kebiasaannya tak jauh beda. Raja Louis XIV yang dianggap raja Perancis paling agung, ternyata menurut seorang diplomat Rusia, bau badannya seperti binatang liar. Dibanding bangsa Eropa lainnya, frekuensi mandi orang Rusia masa itu memang agak lebih sering. Sebagai gantinya mereka dicap sebagai bangsa yang paling mesum dan amoral di mata bangsa Eropa lain. Untuk mengatasi masalah bau badan tanpa harus mandi, para bangsawan Eropa menggunakan parfum dan bedak wangi untuk menyembunyikan busuknya bau badan mereka. Alasan lainnya, konon istana-istana di Perancis walaupun mewah, tapi seringkali dikotori oleh perilaku jorok penghuninya, yakni sering BAB sembarangan. Tak jarang seonggok kotoran manusia ditemukan di atas karpet di koridor maupun tangga.
Itulah kenapa Perancis terkenal dengan parfumnya, demi menangkal segala macam bau yang menusuk hidung. Selain memakai parfum, solusi lain adalah dengan sering mengganti baju dalam sehari. Sayangnya, harga parfum dan pakaian sangat mahal, sehingga, parfum dan pakaian yang putih bersih merupakan simbol kekayaan.
Sementara rakyat jelata harus puas dengan baju yang tak pernah diganti bertahun-tahun serta harus terbiasa dengan berbagai macam bau menyengat di sekitar mereka. Iya sob, seakan bau badan saja gak cukup, lingkungan pun beraroma neraka akibat gaya hidup yang tidak higienis. Jalanannya becek dan dipenuhi dengan kotoran dan air kencing, karena mereka biasa menumpahkan isi chamber pots (belanga tempat buang air) mereka ke jalanan.
Ugh…! Kita semua patut bersyukur karena memeluk agama Islam yang sangat menghargai kebersihan. Kita tentu hafal dengan ungkapan “Kebersihan adalah sebagain dari iman” (an-nadhafatu minal iman). Meskipun ungkapan ini bukan hadits, tapi maknanya tidak menyimpang karena Islam memang menyeru kepada kebersihan. Ada banyak aturan dalam Islam terkait dengan kebersihan, misalnya saja perintah istinjak, perintah menjauhi najis, perintah membersihkan pakaian, larangan untuk buang air sembarangan, juga perintah untuk wudhu dan mandi. Inilah salah satu ajaran Islam yang mulia. Tentunya kita bangga dong jadi seorang muslim. Betul?! [].
Di muat di majalah remaja islam drise edisi 52
