Majalahdrise.com – Tapi tentu saja mereka tidak bisa dibebaskan. Rabiah terus mengikuti kedua prajurit Persia itu melarikan diri dari penjara bawah tanah. Ketika mereka sedang melintasi sebuah koridor, mereka berpapasan dengan dua orang prajurit Persia yang segera menghadang mereka. Namun mereka segera tersungkur jatuh karena ditinju oleh kedua prajurit Persia yang hendak membebaskan Rabiah. Satu persatu koridor mereka lintasi.
Mereka pun terus mendaki undakan tangga untuk segera keluar dari ruang bawah tanah. Yang mereka tahu hanyalah lari sekencang-kencangnya. Rabiah dan kedua prajurit Persia tak dikenal yang sedang berusaha membebaskannya itu tibalah di bagian belakang istana, setelah menumbangkan prajurit-prajurit yang berusaha menghadang mereka. Di belakang mereka semakin banyak saja prajurit Persia yang mengejar.
Mereka melihat bahwa tiga orang buronan itu berbelok di depan. Ketika mereka ikut berbelok di tempat yang sama, para buronan itu sudah tak ada. Raib tanpa bekas. Apa pun yang mereka lakukan tak ada gunanya untuk menemukan Rabiah. Para buronan itu seolah menghilang seperti asap. 000 Ruangan itu tidak besar, dan sangat sederhana. Di dalamnya hanya ada sebuah meja dan beberapa kursi. Dindingnya dari batu yang dilapisi kapur tipis dan ruangan itu berbentuk persegi sederhana. Ruangan itu tersambung dengan dua buah lorong yang ada di kedua sisinya.
Di dalam ruangan itu hadirlah Rabiah bin Amir. Dia tidak sendirian, beberapa orang lagi menemaninya dan menyediakan minuman yang telah menawarkan dahaganya. Orang-orang itu adalah Mutsana bin Harits, Aswad bin Asadi, dan kedua prajurit Persia tak dikenal yang ternyata adalah agen rahasia anakbuah Aswad di Ubullah. Rabiah duduk bersandar di kursi. Aswad dan Mutsana pun duduk di kursi. Mereka mengelilingi meja persegi itu. Rabiah kembali meneguk minuman di dalam gelas itu setelah membisikkan basmalah. Tubuhnya didera kelelahan yang sangat.
“Aku akan segera berangkat ke Kazima, “kata Rabiah.
“Aku harus menyampaikan apa yang telah terjadi. “
“Bencana bagi Persia, “
kata Mutsana.
“Badzan mengulangi lagi apa yang dulu pernah dilakukan Kisra pada surat Rasulullah shallahu ‘alayhi wasallam. “
Aswad menatap Mutsana dan Rabiah bergantian.
“Insya Allah ini jadi tanda kemenangan kita melawan Persia. Kemenangan ini sudah digariskan oleh Rasulullah dahulu. Tinggal kitalah yang harus mengerahkan daya upaya untuk meraihnya. “
“Kalau begitu aku berangkat sekarang, “
Rabiah bangkit dari kursinya.
“Tunggu sebentar, Saudaraku, “
Aswad menyentuh lengan Rabiah.
“Kita memang harus bergerak cepat, tapi jangan terburu-buru. Persiapkan dulu perbekalan, senjata, dan segala hal yang kau butuhkan untuk perjalanan ke Kazima. “
“Aswad benar, “
tambah Mutsana.
“Aku akan berangkat hari ini juga untuk bergabung bersama pasukanku setelah mencukupkan perbekalan. “
“Aku mengucapkan terima kasih banyak kepadamu, Aswad, dan seluruh rekan kita di Ubullah, “
senyum terkembang di wajah Rabiah. “
Kalau bukan karena bantuanmu dan saudara-saudara kita, mungkin hari ini aku tidak ada sini. Seluruh sistem dan jaringan yang telah kau buat bersama saudara-saudara kita di Ubullah memang sangat luarbiasa. Sampai-sampai ada terowongan rahasia di balik istana Badzan. Itu sangat hebat!!! “
Aswad turut bangkit dari kursinya, dan melipat tangannya di depan dada.
“Semua itu adalah berkat pertolongan dan kuasa Allah ta’ala. Rasulullah-lah yang telah memerintahkan kami untuk membangun ini semua. Petunjuk dan arahan dari beliaulah yang hebat. “
“Memang tak salah Rasulullah melimpahkan tugas ini kepadamu, Aswad. Kau telah melaksanakan amanah Rasulullah dengan baik. Selamat! “
Rabiah menyodorkan tangannya kepada Aswad. Mereka saling berjabat tangan dan saling berpelukan. Mutsana menepuk-nepuk punggung Rabiah. Semua orang yang berada di ruangan sederhana itu saling berpelukan hangat. Bersambung,,,,,,,,,,,,,
Follow @sayfmuhammadisa
di muat di majalah remaja islam drise edisi 52
