Majalahdrise.com – Tubuhnya sampai-sampai gemetar karena menahan amarah, sebab surat itu benar-benar telah menginjak-injak kedudukannya yang tinggi. Badzan berdiri dan menatap pejabat yang membacakan surat dari Khalid itu. Dia memanggil pejabat itu dengan lambaian tangan dan mengambil surat itu dari tangannya. Peristiwa yang pernah terjadi beberapa tahun silam terjadi lagi. Badzan merobek-robek surat itu persis seperti sepupunya, Kisra, merobek-robek surat dakwah dari Rasulullah. Setelah surat itu berubah menjadi serpihan kecil-kecil, ditiupnya surat itu hingga melayang-layang di antara udara. Dia duduk kembali di atas singgasananya sambil menyunggingkan seringai yang memuakkan kepada Rabiah. Dalam aturan protokoler surat-menyurat pada Kekaisaran Persia, nama Kaisar Persia mestilah disebut pertama kali sebelum nama-nama yang lain.
Karena Kaisar Persia bergelar Syahansyah, raja di atas raja, maka namanya mesti disebut pertama kali sebelum nama-nama yang lain. Surat dakwah itu jelas saja melanggar aturan ini dan dianggap sebagai sebuah penghinaan. “Kau tahu kenapa aku merobek-robek surat itu?” Tanyanya. Rabiah mengangguk saja dengan tenang. “APA KAU TAHU???!!!” Tiba-tiba Badzan berdiri dan mengacungkan telunjuknya lurus kepada Rabiah. Semua orang tersentak kaget, kecuali Rabiah yang tetap berdiri tenang. “Aku tahu,” sahut Rabiah. “Kalau tidak ada aturan tidak boleh membunuh utusan, sudah kupenggal lehermu dari tadi,” sergah Badzan. “Sejak pertama kau menginjakkan kaki di ruangan ini dan berhadapan denganku, kau sudah tidak sopan.
Orang Arab memang biadab, tak tahu sopan santun.” “Hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi atas seruan kami ini, diterima atau ditolak. Karena anda telah menolak seruan kami, maka tunggulah akibat yang akan terjadi,” suara Rabiah mengalir dengan tenang dari mulutnya. “APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN??!!” Badzan berteriak-teriak saja, ini menunjukkan siapa sebenarnya yang tidak kenal sopan santun. Rabiah menatap Badzan tajam-tajam. Dia membusungkan dada dan mengangkat dagunya. “Kami datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia, menuju penyembahan hanya kepada Allah, Tuhannya manusia. Dan hanya kepada Allah saja. Kami datang untuk mengubah penindasan manusia, menjadi keadilan Islam.” Semua mata tertuju dan membelalak kepada Rabiah.
Sebelum itu tidak pernah terjadi penghinaan sebesar itu di hadapan singgasana Badzan. “Karena jawabannya sudah jelas, aku mohon diri.” Kata Rabiah. Dia berbalik begitu saja dan melangkah pergi. Tindakan Badzan ini kembali menyulut api kemurkaan di hati Badzan. Setiap tamu yang datang dan pergi dari singgasana Persia, harus menyeret tubuhnya. Tetapi Rabiah, bahkan menunduk di hadapan Badzan pun dia tidak pernah. “PEDULI SETAN DENGAN ATURAN! PRAJURIT TANGKAT DIA!!!” Telunjuk Badzan terarah pada Rabiah. Dengan sigap empat orang prajurit Persia bersenjata tombak dan pedang segera meringkus Rabiah. Wajahnya dipukul gagang pedang hingga berdarah dan tersungkur di lantai. “Besok pagi penggal dia, dan hidangkan kepalanya di atas piring. Sajikan bersama dengan sarapanku,” perintah Badzan. “KAU BISA LAKUKAN APA YANG MAU KAU LAKUKAN!!!” Tiba-tiba Rabiah berteriak. “KAU AKAN DICABIK-CABIK SEPERTI KAU MENCABIK SURAT ITU.” “Singkirkan dia dari hadapanku.” [Bersambung..
di muat di majalah remaja islam drise 51
