Majalah Remaja Islam Drise

Catatan Penting dari Negeri Viking

Majalahdrise.com – Menjadi bagian dari komunitas Islam di denmark adalah pengalaman mengharukan bahagia untuk saya pribadi. Saya masih bisa membayangkan bagaimana kehangatan dan guncangan perasaan yang saya rasakan saat pertamakalinya menghadiri kajian mingguan yang di selenggarakan Sister-sister di Copenhagen. Disana juga saya seakan menyelami dunia impian saat-saat Negeri-negeri Muslim disatukan dalam Khilafah. Saya bertemu, berpelukan dan saling berbagi cerita dengan saudara-saudara yang tidak pernah saya jumpai sebelumnya, namun kami seperti dibesarkan dengan moral dan pemahaman yang sama, disatukan dengan bahasabahasa khas kitab yang sama-sama kami pahami hanya dengan menghadiri Halaqa.

 Sekilas Tentang Kehidupan Muslim di Denmark

Mayoritas Imigran Muslim pertamakali sampai ke Denmark sekitar tahun 1980-an sebagai Refugeedan Pekerja yang selanjutnya menetap di Denmark. Umumnya mereka berasal dari Negara-negara Tukri, Iraq, Bosnia, Pakistan, Lebanon, Yugoslavia, Maroko, Somalia dan Afganistan. Saat ini Muslim yang menetap di Denmark adalah generasi kedua artinya mereka lahir dan besar di Denmark, dengan kata lain sebenarnya mereka berbudaya dan berbahasa Denmark tetapi tidak putih dan berambut pirang. Maka mustahil bila berharap bahwa mereka dapat membaca dan menulis bahasa Arab dengan fasih atau memahami Islam dengan baik.

Danesdikenal sebagai pribadi tertutup dan tidak menyukai semua jenis imigran, tidak hanya yang beragaman Islam. Sebab Denmark memiliki sistem pensejahteraan warga yang terbangun rapi dari pajak yang diperoleh Negara. Seperti Negara Scandinavia lain, Para orang tua, Ibu yang tidak bekerja dan Pengangguran dari negara manapun namun legal tinggal di Denmark mendapatkan uang dari pemerintah daerah (Kommune)untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok. Hal ini kadang menimbulkan dengungan-dengungan yang menyatakan bahwa Negara Scandinavia pada umumnya sebagai negara yang lebih Islami daripada Negeri-negeri Muslim lainya. Namun perlu diperhatikan bahwa, memiliki status pengangguran adalah hal yang sangat hina di sini, ketinggian dan kehormatan diukur dari karir dan pekerjaan yang dipegang. Mudah ditemui Pengangguran dan Orang tua yang telah renta meneguk bir, menjadi pasien pengunjung setia psikiatri untuk memperoleh happy pilkarena perasaan tekanan hidup yang tidak memiliki arti atas status tanpa pekerjaan mereka.

Pemerintah Denmark sedemikian rupa dapat mengatur bagaimana financial sebuah keluarga yang baik sulit dibangun dengan one income. Artinya kedua Orang tua harus sama-sama bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan standar hidup masyarakat Denmark. Bahkan, Pemerintah akan senang hati membantu biaya daycareuntuk anak-anak yang orangtuanya dengan kondisi tersebut. Hal ini menjadi sebuah dilemma dan tekanan tersendiri bagi Ibu Muslim yang ingin mendidik anak-anaknya dengan TsaqafahIslam.

Nilai keberadaan Muslim di Denmark memang didukung pemerintah Denmark karena keberadaannya yang mendukung perekonomian. Terkisah sejak adanya warung-warung yang dikelola Muslim yang senantiasa beroperasi di hari-hari libur dan setiap hari Minggu, memudahkan masyarakat memperoleh stok makanan dan susu yang habis di hari libur. Umumnya Supermarket di Denmark akan tutup di hari Minggu. Prestasi inilah yang sering disebut-sebut Pemerintah atas dukungannya kepada warga Muslim. Dilain pihak, jelas terlihat bahwa ada gelombang besar masyarakat Denmark yang tidak menyukai Islam. Telah dilakukan survey bahwa 50% Danes menginginkan pembatasan jumlah warga Muslim di Denmark.

Disisi lain, kenyataan pahit yang harus diterima Muslim di Denmark adalah harus siap menerima pasangan gay. Pasangan gay di sini menikah secara legal, memiliki anak dan anak-anak mereka akan bergaul dengan anak-anak Muslim. Hal lain, shower bagi anak laki-laki dan perempuan di kelas-kelas renang disamakan artinya berada dalam ruang yang sama dan bercampur baur. Begitu juga toilet unisex untuk pria dan wanita sebagai pembekalan paham gender equality sejak dini.

Alhamdulillah, sejak 19 Juni 2014, telah diresmikan pendirian mesjid terbesar di Denmark meski mengumandangkan adzan di tempat umum masih dilarang. Masjid ini bernama Hamad Bin Khalifa, pembiayaanya didukung penuh Qatar dengan menghabiskan dana sebesar 150 juta krone atau sekitar 300 milyar rupiah. Selain Masjid ini, saat tinggal disini saya banyak menemukan masjid-masjid kecil yang berdiri random di wilayah Denmark dengan fungsi berbeda dan diperuntukan untuk komunitas Muslim yang berbeda juga, seperti Masjid Somalia, artinya jamaahnya pada umumnya warga keturunan Somalia atau Masjid Turkey yang sering dikunjungi warga keturunan Tukrey dll.

Akhir-akhir ini, isu seputar tingginya (mencapai 8%) warga asli Denmark memeluk Islam menajadi headline di beberapa surat kabar ternama di Denmark. Gelombang peningkatan jumlah ini, sebenarnya tidak direncanakan oleh komunitas Islam di Denmark. Komunitas Islam itu sendiri sudah sangat kewalahan mengedukasi Muslim itu sendiri untuk teguh memegang Islam dan mempertahankannya dalam kehidupan sehari-hari. Para Mualaf biasanya adalah mereka yang menyadari tidak mendapat kebahagian dan depresi atas standar kehidupan disekitar mereka yang akhirnya merasa kosong dan berburu alternatif-alternatif konsep hidup lain.

Driser, berbahagialah kita yang terlahir sebagai muslim. Jangan sampai disia-siakan kenikmatan terbesar ini. Biar hidup gak terasa kosong melompong bin kering kerontang kaya seperti dirasakan para penduduk negara Denmark. Kenali Islam lebih dalam, biar hidup kita adem dan menginspirasi. Yuk![]

Arwita Yunianti!, tinggal di Hillerød, Denmark!

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47