MajalahDrise.com – “Namaku Azka, dan ini adalah cerita tentang seorang anak yang mengalami broken home. Ibu dan ayah bertemu, lalu jatuh cinta dan memutuskan untuk punya seorang anak. Aku lahir 4 Juni 2006 dan mereka menamaiku Azka. Semua berjalan baik-baik saja sampai aku berusia 6 tahun. Kita punya keluarga yang sangat bahagia.
Ibu dan ayah mulai bertengkar hebat mengenai banyak hal. Dan mereka akhirnya memutuskan untuk bercerai. Mereka bilang aku tak perlu khawatir dan tak perlu memilih tinggal dengan siapa. Aku masih tinggal di rumah yang sama dan ayah ternyata sosok yang sangat menyenangkan. Jadi aku pilih tinggal dengannya.
Ibuku tinggal sangat dekat dengan rumahku dan selalu mengunjungiku hampir setiap hari. Mereka tak pernah bertengkar lagi dan kita masih pergi ke mal dan ke luar negeri bersama. Banyak orang yang bertanya padaku bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang mengalami broken home. Tapi faktanya, tidak ada yang broken. Statusnya saja yang bukan suami-istri lagi, namun mereka tetaplah orangtuaku. Aku menikmati hubungan ini lebih dari sebelumnya karena mereka tak pernah bertengkar lagi. Ketika orang-orang bertanya apakah aku ingin mereka menikah lagi, aku bilang, ‘TIDAK’. Aku cuma ingin mereka bahagia. Bukan broken home namanya kalau kamu masih menerima cinta yang sama dari kedua orangtuamu. Aku cinta kamu ibu. Aku cinta kamu ayah. Aku bahagia. Terima kasih sudah menjadi orangtua terbaik yang pernah ada.”
Begitu curhatan Azka Nikola Corbuzier dalam video You Tube yang belum lama ini jadi trending topic sampai di BBC London itu. Sampai tulisan ini dibuat, udah lebih 500 ribu netizen yang nonton gambar-gambar lugu goresan Azka yang bikin nangis itu.
Azka mungkin beruntung, ortu cerai tapi masih merasa bahagia secara kasat mata. Walaupun, yakin deh, dia nulis curhatan kayak gitu, juga karena dorongan perasaan galaunya sebagai pemilik label “anak broken home”. Capek dianggap tak bahagia.
Tapi, di luar sana, masih banyak anak-anak korban broken home yang tidak seberuntung Azka. Anak yang tidak bahagia. Tahu kan, hidup dengan satu ortu, rasanya pasti pincang. Kurang kasih sayang dan perhatian, juga kesepian. Gimana nggak, setelah terjadi perceraian, pasti ortu tunggal jadi sibuk nyari nafkah karena harus berperan ganda: jadi ayah sekaligus ibu. Duh!
Bukan Cita-cita
DRiser, emang dunia kadang nggak seadil dan seideal yang kita mau. Ada kalanya takdir berkata lain. Nggak ada satupun anak di dunia ini yang bercita-cita jadi korban broken home. Karena, jadi anak broken home itu nggak enak.
Ada rasa kehilangan sebelan orangtua, sedih, kecewa, sepi, dan kurang perhatian. Belum lagi pandangan orang sekitar yang selalu memandang sebelah mata, mengejek dan menggunjingkan. Akibatnya, nggak sedikit anak-anak korban broken home melarikan diri ke hal-hal negatif. Merokok, narkoba, miras, dugem, gaul dan seks bebas.
Mereka lalu tumbuh jadi anak-anak bermasalah. Kepribadiannya labil. Jadi egois, ugal-ugalan, suka cari perhatian, kasar, tidak peduli dengan sekitarnya, dan tidak mendengar nasihat orang lain. Sebaliknya, ada juga yang menjadi sangat pendiam, tertutup, menarik diri dari pergaulan dan bahkan sampai bunuh diri. Miris memang. Tapi, begitulah skenario kehidupan yang terpaksa mereka jalani. Sebab jika bisa memilih, pasti nggak mau jadi anak broken home. Betul?
Lebih Dewasa
Broken home pastinya bukan kondisi ideal bagi seorang anak. Namun, jika kondisi itu menimpa, jangan sampai jadi alasan untuk terjerembab dalam lembah nista. Apalagi kalo kita adalah muslim. Nggak ada alasan saat ortu cerai terus kita hancur.
Seharusnya, anak-anak muslim tidak terlarut dalam kesedihan terus menerus. Tetap ada pelajaran terbaik dalam proses hidup yang digariskan Allah SWT melalui perceraian orang tua. Misalnya, lebih mamahami konsep ikhlas dalam penerimaan ketetapan-Nya. Yup, kita juga musti percaya, bahwa orangtua pun nggak ada yang bercita-cita untuk bercerai. Jangan dendam dan benci pada mereka.
So, terimalah kenyataan. Mungkin itu jalan terbaik. Ada rencana indah yang hendak diberikan Allah SWT melalui jalan ini. Misal lagi, anak-anak broken home biasanya menjadi anak yang memiliki pola pikir lebih dewasa. Pada akhirnya lebih mengerti tentang makna kehidupan. Seperti Azka yang tampaknya telah bisa menerima kenyataan di usianya yang baru 9 tahun.
Kehilangan salah satu orangtua, juga mengajarkan diri menjadi pribadi lebih mandiri. Tidak lagi serba tergantung pada sosok orangtua. Menjadi anak yang lebih sabar dan ulet, tidak suka merepotkan orangtua yang sudah begitu repot. Tidak menambahi beban orangtua yang sudah berat beban di pundaknya.
Broken home seharusnya menjadi penyemangat dalam kesungguhan untuk mewujudkan mimpi. Menanamkan optimisme bahwa siapapun berhak bahagia dan sukses, asal dengan sungguh-sungguh. Broken home semestinya menjadi pelecut untuk menata masa depan dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Bukan berarti membanggakan diri sebagai anak broken home, tapi membuktikan bahwa pribadi muslim itu tetap tangguh dalam kondisi apapun. Sembari membina diri untuk berbenah menjadi manusia berkualitas, agar kelak menjadi pribadi terbaik, menemukan jodoh terbaik dan mewujudkan rumah tangga yang harmonis.
Iya dong, jadi korban broken home kelak jangan sampai mengulang kisah kegagalan orangtua dalam rumah tangga. Itu pelajaran berharganya. Jadi, tetaplah tersenyum bahagia. Ini bukan berarti kita mendukung supaya para orangtua pada enjoy bercerai ya, karena toh setelah bercerai anak-anak bisa bahagia seperti Azka. Titik tekannya adalah: Islam memang membolehkan perceraian meski itu dibenci Allah. Dan jika itu menimpa keluarga kita, terimalah. Berbaiksangkalah.
Bersyukur
Semua pasti ingin memiliki keluarga yang lengkap, rukun, dan harmonis. Memiliki orangtua selalu perhatian, dan penuh kasih sayang. Makanya, terakhir nih, pesan buat kamu-kamu yang masih punya ortu utuh. Jangan kalian sia-siakan kasih sayang dan perhatian mereka. Bersyukurlah. Nasib kalian jauh lebih baik dibanding anak-anak korban broken home. Yuk peluk ayah bunda dan katakan, “Aku sayang kalian berdua..!” *ambiltissue. []
di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 48
