Majalah Remaja Islam Drise

Berbagi Serantang Nasi Luthfia saparianti eps. 2

MajalahDrise.com – Pagi ini Rahmat sedang menonton tv sambil meminum susu di cangkir kecilnya sedang sang Ayah menggoreng keripik keripik yang nantinya akan di jual. Sebenarnya Rahmat sangat ingin membantu Ayahnya itu namun Ayahnya selalu melarangnya karena takut nanti Rahmat terkena pecikan minyak.

“Rahmat di atas meja makan ada rantang putih, tolong antarkan ke kakek Udin ya, kamu masih ingatkan rumah kakek di mana” teriak Ayah Rahmat dari dapur.

Tanpa aba aba lagi Rahmat langsung pergi, dia sangat semangat menerima perintah tesebut. Walaupun untuk membawa rantang itu dia sedikit keberatan tapi dia tidak merasa terbebani. Namun dalam perjaanan itu dia melihat ada seorang pengemis yang sudah tua terduduk dengan tangan memengangi perut Rahmat penasaran dengan nenek itu.

“ Nek, nenek kenapa? Kok nenek duduk disini sendirian?”

“Nenek tidak punya rumah dan perut nenek lapar sekali dari kemaren nenek belum makan” jawab nenek itu lirih menahan lapar.

Rahmat bingung harus bebuat apa, dia sama sekali tidak membawa uang, jika dia memberikan rantang yang berisi makanan ini kepada nenek lalu bagai mana dengan kakaek Udin mungkin saja beliau juga kelaparan. Tapi dia membuang semua pertanyaan yang membuatnya ragu tadi dan memberikan makanan itu pada nenek.

“Ini untuk nenek”

Nenek itu makan dengan lahapnya sampai kekenyangan dan tak lupa beliau mengucap kan terima kasih. Rahmat tersenyum bahagia karena bisa berbagi kepada orang yang membutuhkan tapi bagai mana jika Ayah tahu kalau maknan itu tidak di antar ke rumah kakek Udin, bisa bisa Ayah marah. Namun Rahmat mendapatkan sebuah ide.

Diam-diam Rahmat masuk ke dalam rumah dan memecahkan tabungan berbentuk ayam miliknya. Namun, suara pecahan tabungan itu sampai ke dapur dan membuat Ayah Rahmat panik.

“Rahmat ada apa? Rahmat!” dengan tergesa beliau lari menuju kamar Rahmat

“Ayah!” Rahmat menunduk dan ketakutan dia merasa benar-benar bersalah telah melakukan ini.

“Lho kok tabungan kamu dipecah?” Ayah Rahmat bingung, kenapa tabungan yang sangat disayangi Rahmat tiba tiba bisa pecah seperti itu.

“Anu…”

“Apa?” mendekati Rahmat.

“Itu Ayah….”

“Itu apa?”

“Ayah, Rahmat minta maaf karena makanan tadi tidak Rahmat antar ke kakek Udin.”

“Lalu kamu kasih ke siapa?”

“Ada nenek yang kelaparan di pinggir jalan, Rahmat kasihan dengan nenek itu Ayah. Jadi makanan itu Rahmat berikan ke nenek itu. Maafin Rahmat ya Ayah. Rahmat tidak akan melakukan hal itu lagi”

“Lho kok gitu. Apa yang kamu lakukan itu baik. Justru Ayah senang kamu memberikan makanan itu kepada nenek yang kamu temui di pinggir jalan tadi. Lalu kenapa kamu memecahkan tabungan kamu bukannya kamu sayang sekali dengan tabungan ini”

“Rahmat ingin mengganti dan membelikan makanan untuk kakek Udin jadi Rahmat memecahkan tabungannya. Ayah tidak marah kan?”

Ayah Rahmat mengambil uang yang berhamburan di lantai “kamu tidak perlu menggantinya dengan uang kamu. Di dapur nasi dan lauk masih banyak jadi kita bisa mengantar dan memberi kakek Udin. Ayah sudah selesai menggoreng keripik jadi kita bisa mengantar makanan itu bersama sama!”

“Benar Ayah?”

“Iya”

********************

21 tahun sudah kejadian itu berlalu namun memorinya masih tersimpan jelas. Usaha keripik singkong milik Ayahnya itu berkembang dengan pesat. Namun tak lama setelah Rahmat menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah, Ayahnya meninggal. Walaupun beliau sudah tiada, kebaikanya masih tersimpan dalam diri Rahmat dan akan diteruskan oleh anaknya itu. Cita cita kecilnya itu tidak terwujud namun tak perlu menjadi seorang pemimpin besar untuk bisa saling berbagi. Baginya menjadi seorang pemimpin untuk dirinya sendiripun sudah cukup dan yang terpenting adalah saling berbagi. Setiap dua minggu sekali dia mendatangi panti asuhan untuk berbagi apa saja yang dapat dia berikan terkadang uang atau hiburan untuk anak anak yang merindukan kasih sayang dari orang tuanya. Dia ingin anak-anak lain juga merasakan kasih sayang yang telah ayahnya berikan kepadanya.[]

di muat di Majalah remaja Islam drise Edisi 45