Majalahdrise.com – Masih ingat Shinta-Jojo? Yang pasti mereka bukan sebangsa tokoh kartun Tom & Jerry atau Upin-Ipin. Mereka juga bukan duet maut musisi sekelas Dara – Mitha ‘The Virgin’ atau Tika-Tiwi ‘T2’. Tapi popularitas mereka cukup menghebohkan dunia maya. Gara-gara keduanya mengupload rekaman keisengan aksi gokil mereka saat menyanyikan secara lipsync lagu dangdut kopak ‘Keong Racun’ dengan ekspresi natural tanpa koreografi. Jadilah Shinta-Jojo Mendadal Nyeleb!
Jejak Shinta-Jojo yang menuai popularitas mulai banyak ditiru. Yup, karakter remaja yang ngebet banget pengen dikenal khalayak bakal rela ngapain aja biar populer. Mulai dari ikut ngantri dalam audisi ajang pencari bakat hingga bikin tingkah sensasi yang menuai pro dan kontra. Apalagi sekarang kemudahan koneksi internet gampang banget bikin remaja dikenal penduduk dunia maya. Tinggal rekam, upload ke youtube, terus ajak temen-temen buat ngasih komentar. Dan kalo kebeneran jadi trending topics of the week, popularitas pun sudah di ambang pintu.
Driser, sebagai remaja muslim mana yang akan kamu pilih: mengejar SENSASI atau mengukir PRESTASI? Kalo pilihan pertama yang kamu ambil, siap-siaplah menghabiskan waktu hidup kamu untuk something usefull alias kegiatan yang minim manfaat. Yup, karena sebuah sensasi cuman ngasih manfaat tuk diri sendiri dan lebih sering menuai suara sumbang. Pepatah bilang, biar tekor asal kesohor. Perkara pantas atau nggak, mulia atau hina, itu urusan belakangan. Yang penting dikenal orang.
Kalo PRESTASI yang pengen kamu ukir, tentukan dari sekarang potensi yang mau dipertajam. Sebuah prestasi tak melulu berbuah piala atau piagam penghargaan. Seperti kata Rasul, Khairunnas anfa’u linnaas (Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi sesama manusia). Jadikan prinsip ini sebagai pijakan untuk berprestasi. Baik di rumah, di sekolah, di kampus, di tempat kerja atau di lingkungan sekitar kita. Tunjukkan kalo kita punya nilai tambah di hadapan Allah dan manusia.
Keberadaan kita dimana pun ngasih kebaikan untuk orang lain. Adanya kita bikin temen-temen rajin shalat dan aktif ngaji, itu sebuah prestasi. Adanya kita banyak meringankan pekerjaan rumah ibu, itu sebuah prestasi. Kelak kita jadi pengusaha sukses dermawan yang menopang pembiayaan dakwah Islam, itu sebuah prestasi. Kita menjadi penerus Muhammad al-Fatih dan Thariq bin Ziyyad dalam mendakwahkan Islam, itu sebuah prestasi. Atau kita menjadi ilmuwan seperti Ibnu Sina atau Al-Khawarizmi, itu sebuah prestasi.
At least, coba sekarang kita pikirkan baik-baik pertanyaan berikut: MAU DIKENANG SEBAGAI APA ATAU SIAPA SETELAH KITA MATI NANTI? Sebagai penyanyi lipsynck keong racun atau tahfidz qur’an? Sebagai seleb bergelimang dosa atau pengemban dakwah yang mencerahkan banyak orang? Sebagai fakir miskin yang menghalalkan berbagai cara untuk bertahan hidup atau orang kaya yang membantu kesulitan ekonomi saudara-saudaranya? Mana yang akan kamu kejar: SENSASI atau PRESTASI? Tentukan pilihanmu, sekarang![341]
di maut di Majalah Remaja islam drise edisi 04