Majalahdrise.com – Tiga kali bertemu dan berbagi cerita, maka pada minggu ke 4 terjadi pertemuankku dengan saudari muslimku Manju. Maka dimulailah hidup baruku, terhitung Januari 2009 hingga Desember 2010 aku tinggal di Madrid dan Tenerife secara sembunyi-sembunyi dari sesama WNI, terlebih KBRI Madrid. Dokumen identitasku masih atas nama Diplomat, aku bekerja part time secara ilegal di sebuah restoran hotel di tenerife. Di sana pula aku belajar bahasa sepanyol (castellano). Kala itu usiaku baru genap ke 21 tahun. Aku serahkan semua pada Allah, kemana aku bermuara. Aku pun memutuskan memakai Hijab, walau pada saat itu motivasinya supaya tidak mudah dikenali atasan, hehe. Akhir tahun 2010 aku pindah ke Barcelona dan mulai berani menghubungi beberapa teman WNI.
Aku putuskan pindah karena mendapat tawaran kerja sebagai babysitter di sebuah keluarga Spanyol. Aku merasa betah dan nyaman, aku pun bekerja kepada keluarga tersebut sampai saat ini. Alhamdullah bekerja dengan orang Spanyol (espanyoles) jauh lebih enak dari segala sisi. Akhir pekan aku habiskan untuk masak pesenan catering kecil-kecilan bagi para pelajar Indonesia yg ada di Barcelona. Dan untuk Para ustadz yang datang dari Malaysia serta Indonesia dalam rangka tugas dakwah.
Tahun kedua di Barcelona tepatnya 2013, Allah menghadirkanku seorang suami yang kurasa selalu membawaku semakin dekat denganNya. Seorang lelaki dari tanah kelahiranku, dijodohkan oleh Allah. Kehadirannya menghapus kisah hampa dan sedihku yang lalu.
Betapa besar rasa syukur padaMu ya Allah. Masjid disini tidak memiliki kubah seperti masjid kebanyakan yang biasa di Indonesia, melainkan tempat ibadah yang memanfaatkan ruko biasa. Yang boleh shalat berjamaah hanya para lelaki muslim. Pekerjaan sebagai koki dadakan ini karena suamiku memiliki banyak kenalan termasuk dengan pengurus masjid. Aku dinilai bisa memasak cita rasa yang unik dan sesuai lidah. Orang Indonesia yang shalat disini sangat sedikit jumlahnya.
Paling hari jumat saja yang lumayan padat. Mungkin disebabkan posisi tinggal mereka yang jauh dari masjid. Saya dan Suami tinggal di Kawasan Rambla de Raval yang juga dekat dengan City Centre. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan Imigran Pakistan, Bangladesh, Maroco, Aljazair, India dan Filipina. Tak heran, disini menjadi tempat yang strategis mendapatkan makanan halal. Kadangkala kami mendapat kunjungan dakwah dari sesama muslim, untuk nasihat menasihati dalam kebaikan dan perihal agama.
Bagi para pembaca DRISE, aku ingin sampaikan satu hal yakni janganlah kita berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya putus asa itu tidak pantas dibandingkan nikmat Allah Swt yang luas tiada bandingnya. Tantangan dan rintangan yang ada dalam kehidupan, pada dasarnya merupakan lompatan demi lompatan menuju arah yang lebih baik, insyaallah. Bangga jadi muslim, islam rahmat lil’alamin.[] ** [Seperti yang dituturkan Cahyatun Aisya kepada Redaksi/Alga Biru]
di muat di majalah remaja islam drise edisi 51