<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>novel islam Archives - Majalah Remaja Islam Drise</title>
	<atom:link href="https://majalahdrise.my.id/tag/novel-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahdrise.my.id</link>
	<description>Majalah Remaja Islam Drise</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Dec 2016 16:34:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.10</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142086167</site>	<item>
		<title>REMAJA BER-MUKA TUA</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/remaja-ber-muka-tua/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/remaja-ber-muka-tua/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2016 16:34:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Share Your Mind]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[MUDA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=2198</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Jangan salah arti, muka tua disini  adalah REMAJA BER MUTU DAN KUA  LITAS TINGGI ,hehe Padahal aku masih  U-17 loh!! Jikalau kaum barat  memberikan kebebasan memilih  kasarnya sih, me-liarkan anak remajanya  di usia yang ke 17, semestinya kita  remaja ber-muka tua harus berfikir ulang  dengan adat buruk pihak barat ini. Berpikir, bro&#8230; berpikir. &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/remaja-ber-muka-tua/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">REMAJA BER-MUKA TUA</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/remaja-ber-muka-tua/">REMAJA BER-MUKA TUA</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Jangan salah arti, muka tua disini  adalah REMAJA BER MUTU DAN KUA  LITAS TINGGI ,hehe Padahal aku masih  U-17 loh!! Jikalau kaum barat  memberikan kebebasan memilih  kasarnya sih, me-liarkan anak remajanya  di usia yang ke 17, semestinya kita  remaja ber-muka tua harus berfikir ulang  dengan adat buruk pihak barat ini.</p>
<p>Berpikir, bro&#8230; berpikir. Karena  berpikir itu tanda orang beriman. Seperti  yang ditulis oleh As-Syeikh Taqiyuddin  an-nabhani RahimahuAllah dalam  kitabnya Nidzomul Islam “orang yang  beriman adalah orang yang berfikir”. Jadi,  ga ada lagi nih alesan yang ter-cuap  “aduh kan aku belum tau hukumnya”.  Padahal kan sudah jelas, kebebasan  liar ala Barat alias wild life yang  menginternalisasi dalam kehidupan  remaja barat telah membawa &#8216;bad  benefit&#8217; dalam bumi ini. Kenapa aku  bilang masih ada benefitnya? Ia jelas aja  ada, karena di dalam kebebasan itu  diselipkan kenikmatan duniawi. Tapi  ingat  kenikmatan sesaat yang sesat.  Pada gilirannya  berujung pada  penderitaan yang panjang.  Bagaimana  tidak panjang, dari dunia hingga akhirat,  lho!</p>
<p>Kita juga harus berpikir untuk  melawan ide-ide liberal yang rusak. Lihat  saja ide LGBT yang saat ini marak dikampanyekan orang-orang liberal. Kita  nih , para pemuda, Islam, disuruh  nerima, LGBT itu fitrah manusiawi.  Padahal jelas prilaku LGBT , prilaku lebih  rendah dari binatang yang diharamkan  Islam. Buktinya hewan saja tidak ada tuh  yang kita dengan suka sama sejenis.  Belum lagi rencanya membangun  Disneyland di sebuah kota di Indonesia  ini. Wahana yang isinya tentu saja hanya  hura-hura, mengumbar sex and fun. Ya  Salaaaam, kita remaja bermuka tua  harus berifikir kritis itu semua adalah  senjata barat untuk membuai para agent  of changes dengan hal-hal duniawi. Perlu &#8216;Berwajah Tua” Walhasil, para remaja berwajah tua,  bermutu dan berkualitas tinggi.  Merekalah pemuda pemudi yang sholih  dan sholihah yang selalu dalam  menentang kebatilan!</p>
<p>Di masa mudanya  ini dia mencari petunjuk untuk  memahami ideologi yang benar, ia menjadi remaja yang  cemerlang agar  memiliki solusi yang  ideal untuk  merontokkan  kebijakan kapitalisme.  Ia juga mampu  terbang tinggi melihat  fakta saat ini sehingga  ia tidak tersibukkan  dengan hal-hal sepele  anak remaja yang sekedar cinta ekhem.  Ditambah lagi tumpuan remaja bermuka  tua itu adalah aqidah yang mantap  sehingga akan istiqomah dan bersandar  pada kaidah yang tetap. Lah gimana gak  mantap orang dia rajin pemantapan di  kajian-kajian intensif Islam..</p>
<p>Lagi-lagi gerakan remaja bermuka  tua ini terarah dia sibuk mengkaji islam  dan mengikat ilmu tersebut di otaknya  lalu menabur ilmunya untuk ummat.  Mereka selalu cekatan memastikan opini  dakwah tersebar sehingga remaja  menjadi solutif dalam  menyikapi problem  saat ini. Misi Hidup  Dunia Akhirat Bro,  berwajah tua,  artinya kita  kudu sadar misi  hidup kita dunia  akhir. Yaps, misi hidupnya gak lain gak bukan yaitu  menjadi remaja ber muka tua yang  ditinggikan derajatnya oleh Allah.</p>
<p>Seperti  yang dikatakan oleh syeikh taqiyuddin an  nabhani rahimahullah “hanya ada dua  macam orang yang di tinggikan  derajatnya yaitu orang yang ber iman  dan berilmu”. Makanya remaja bermuka  tua kudu sibuk menuntut ilmu agama  sebagai bekal menangkan ilmu-ilmu  dunia yang kebanyakan materi nya  sudah di racuni oleh para ilmuan kufur Bermuka tua berarti  menjadikan  pola hidupnya berlandaskan hukum  syara&#8217;, baik diam nya, pekerjaannya,  ucapannya. Dakwah, tentu menjadi  aktifitas utamanya.</p>
<p>Berjuang terus untuk  meneruskan kehidupan dunia islam. Ayo guys, sadari dan bangkit jangan  ter blokade pada kekurangan yang kita  miliki, yakinlah kamu punya potensi, jika  kamu pernah merasa use-less di kelas, di  antara teman-teman lain atau di keluarga  hmm itu salah besar! Itu hanyalah ruang  lingkup kecil, tapi berjuta-juta ummat  membutuhkan penyadaran dengan  ideologi islam mu. Takbir!!![]</p>
<p>di muat di majalah remaja islam drise edisi 51</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/remaja-ber-muka-tua/">REMAJA BER-MUKA TUA</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/remaja-ber-muka-tua/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2198</post-id>	</item>
		<item>
		<title>DERAP RANTAI EPISODE 20</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2016 07:03:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[derap rantai]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[MUDA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1940</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Aku akan menugaskanmu untuk  kembali lagi ke Madinah. Temui Khalifah  dengan tenang dan ceritakan kepada  beliau semua peristiwa yang kita alami.  Tetaplah ada di sisi Khalifah dan  lindungilah beliau sampai ada perintah  baru dari Khalifah kepadamu.  Rekomendasikan saja kepada Khalifah  agar menyerbu benteng terkutuk itu.” episode sebelumnya “InsyaAllah,” Jabal mengangguk  teguh. “Sementara aku &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">DERAP RANTAI EPISODE 20</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/">DERAP RANTAI EPISODE 20</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Aku akan menugaskanmu untuk  kembali lagi ke Madinah. Temui Khalifah  dengan tenang dan ceritakan kepada  beliau semua peristiwa yang kita alami.  Tetaplah ada di sisi Khalifah dan  lindungilah beliau sampai ada perintah  baru dari Khalifah kepadamu.  Rekomendasikan saja kepada Khalifah  agar menyerbu benteng terkutuk itu.”</p>
<p><a href="http://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20/">episode sebelumnya </a></p>
<p>“InsyaAllah,” Jabal mengangguk  teguh.</p>
<p>“Sementara aku akan melanjutkan  perjalanan ke Yamamah menyelesaikan misi yang telah tertunda. Semoga Allah  memberi aku kemudahan sehingga aku  bisa sampai dengan selamat dan tidak  terlalu terlambat.”</p>
<p>“Tapi bagaimana kita bisa  melaksanakan tugas? Semua hewan  tunggangan kita raib entah kemana!”  Keluh Jabal. “Kita berdoa kepada Allah,  mohonlah kemudahan dariNya,” sahut  Mutsana enteng saja.</p>
<p>Kemudian alis Mutsana berkerut,  dia mengangkat telinganya karena  mendengar sesuatu. Pelan-pelan dia  merayap menuju tepian celah, di sana dia  saksikan ada dua orang prajurit hitam  yang sedang menunggang kuda.</p>
<p>Kedua  prajurit hitam itu pasti sedang berpatroli  untuk menemukan di mana Mutsana dan  Jabal. Kaki-kaki kuda itu melangkah  pelan. Para prajurit hitam penunggangnya  sibuk mengawasi sekitar. Salah seorang  dari mereka menoleh ke celah tempat  persembunyian Mutsana dan Jabal.</p>
<p>Dia  menunjuk-nunjuk celah gelap itu  kemudian melambai pada temannya.  Mereka pun menjalankan kudanya  menghampiri celah itu. “Lihat! Saat kita membutuhkan  kendaraan, Allah mengirimkan kendaraan  untuk kita,” gumam Mutsana sambil  tersenyum tipis.</p>
<p>Jabal mengangguk pelan sambil  menyeringai, tangannya sudah  menggenggam sebongkah batu. Mutsana  pun memungut sekeping batu, lalu  menyembunyikan dirinya di dalam celah.  Mereka bersiap! Ketika waktunya telah  tepat, mereka menembakkan batu itu  kepada sasaran masing-masing Sehelai perkamen kekuningan  telah terhampar di atas telapak tangan  seorang jenderal besar. Cemerlangnya  kedua bola mata sang jenderal sedang  memerhatikan tulisan-tulisan yang  terpahat di atas perkamen itu. Alisnya  berkerut, bibirnya mengatup rapat,</p>
<p>sementara ketajaman intuisinya  berkelebat cepat menyusun rencana di  saat yang sama ketika dia baca perkamen  itu. Napasnya tenang dan degup  jantungnya meyakinkan. Jenderal besar itu  adalah Khalid bin Walid.</p>
<p>Bayang-bayang tenda menaungi  Khalid dari teriknya matahari  semenanjung Arab. Tidak ada waktu-waktu yang paling dia sukai kecuali berada  di dalam tenda di tengah-tengah derap  langkah jihad fi sabilillah. Satu malam  yang dingin di medan tempur lebih dia  sukai daripada seribu malam dalam  pelukan bidadari.</p>
<p>Khalid bin Walid, terlahir  untuk menjadi Pedang Allah yang selalu  terhunus. Tubuh yang besar, kuat, dan kokoh  dianugerahkan Allah untuk Khalid. Sejak  kecil, medan perang telah menjadi  tempatnya bermain. Dia dididik dengan  kecintaan kepada bangsanya melebihi apa  pun, yang ketika dia masuk Islam,  sentimen kufur itu digantinya dengan  kecintaan kepada Islam. Untuk Islam, dia  rela mengorbankan apa pun yang  dimilikinya. Berbagai jenis senjata piawai  dia mainkan. Sasarannya jarang sekali  meleset ketika dia memanah.</p>
<p>Tombak  yang dilemparnya jarang sekali lari dari  tujuan. Dan kemampuannya memainkan  pedang membuatnya hampir tak  terkalahkan. Setiap kali mata pedang itu  diayunkan, dia selalu menjadi pemenang.</p>
<p>Di dalam tenda, Khalid tidak  sendirian. Dia duduk bersila berhadap- hadapan dengan Mutsana bin Harits.  Perkamen itu masih terselip di antara  jemarinya dan tatapan matanya masih  tertuju ke sana, sementara derap jihad  telah menari-nari di hadapannya.</p>
<p>“Subhanallah walhamdulillah,”  gumam Khalid dengan suaranya yang  berat ketika dia mengakhiri bacaannya. Suara itulah yang sering kali  menyemangati kaum muslim di medan  perang. Suara itu pula yang telah menjadi  halilintar yang menyambar hati pasukan  musuh. Allah telah menyisipkan rasa takut  di sanubari tentara kafir setiap kali Khalid  membuka suaranya.</p>
<p>Mutsana  memerhatikan Khalid dengan saksama.  Hatinya berdebar-debar menunggu  perintah dari jenderal yang telah lama  dikenalnya itu.</p>
<p>“Kau tahu, Mutsana,” tanya Khalid,  “surat ini adalah salah satu hal yang paling  aku tunggu-tunggu dalam hidupku. Di  dalamnya terkandung perintah dari  Khalifah untuk menaklukkan Persia.  Artinya, sebentar lagi, kita akan  mewujudkan janji Rasulullah tentang  kemenangan melawan Persia. Singgasana  Persia akan tercabik-cabik, sebagaimana  kaisar mereka dahulu mencabik-cabik  surat dakwah Rasulullah shallahu &#8216;alayhi  wasallam. Subhanallah walhamdulillah.” “Insya Allah, semoga Allah  memberikan kemudahan,” kata Mutsana.</p>
<p>di muat di majalah remaja islam drise edisi 49</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/">DERAP RANTAI EPISODE 20</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-20-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1940</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Love Communication PART 4 (tamat)</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-3-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-3-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2016 23:13:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[drise online]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1919</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Pihak  sekolah pun ikut disalahkan. Sekolah Ramya  pun diliput sebagai sekolah yang muridnya  resmi berpacaran semua kecuali satu orang  dari pihak cewek dan tiga orang dari pihat  cowok. Dan itu pun terjadi karena alasan  mulia mereka  yang menolak pacaran karena  hukum syara. Benar-benar, manusia itu tak  bisa dinilai hanya karena fisiknya. Serupa  dengan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-3-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Love Communication PART 4 (tamat)</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-3-2/">Love Communication PART 4 (tamat)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Pihak  sekolah pun ikut disalahkan. Sekolah Ramya  pun diliput sebagai sekolah yang muridnya  resmi berpacaran semua kecuali satu orang  dari pihak cewek dan tiga orang dari pihat  cowok. Dan itu pun terjadi karena alasan  mulia mereka  yang menolak pacaran karena  hukum syara. Benar-benar, manusia itu tak  bisa dinilai hanya karena fisiknya. Serupa  dengan pepatah yang mengatakan, don&#8217;t  judge the book by the cover.</p>
<p>Setelah kejadian itu, berbondong-bondong siswa siswi sekolah Ramya terkena  demam #udahputusinaja ala Ustadz yang lagi  panas belakangan ini. Tapi, Insya Allah mereka murni melakukan itu karena Allah.  Hanya ada satu yang masih sulit  melakukannya. Ia adalah Millie. Ramya yang tentu saja masih sayang  pada sahabatnya itu tak kenal putus asa  serta lelah untuk mengingatinya. Akhirnya,  Ramya berniat memberikan hadiah sebuah  buku berjudul #UdahPutusinAja karya  seorang ustadz yang diberikan bunda  sebagai solusi untuk kasus Ramya baru-baru  itu dijadikan sebagai hadiah ulang tahun  Millie. Dan karena mengetahui kerja keras  Ramya yang gigih untuk terus membawa  Millie pada kebaikan, Millie pun terenyuh dan  segera memeluk Ramya selepas membuka  dan mengetahui isi kado Ramya untuk Millie. “Ram, makasih banyak ya.</p>
<p>Makasih  untuk semuanya. Millie sadar, Millie-lah yang  jahat. Millie jahat karena seharusnya Millie-lah yang tak pantas menceritakan hal  memalukan itu kepada Ramya. Millie sadar,  manusia memang terkadang sudah  dibutakan oleh cinta. Kak Sofyan juga khilaf.  Kemarin kita resmi putus benar-benar murni  karena Allah. Dan berkat Ramya, Millie janji,  Millie benar-benar senang karena Millie  sudah bisa meluruskan niat Millie untuk  berhijab 100 persen murni karena ingin  menjalankan syariat Allah. Begitu juga untuk  menolak berpacaran. Millie janji, itu semua  benar-benar 100 persen karena Allah, bukan  karena kasus yang menimpa sekolah kita,  perintah guru, apalagi karena manusia.  Semua asli karena Allah Ram, asli!” tukas  Millie haru bahagia sambil menepuk-nepuki  pundak Ramya dan memeluknya erat. Ramya  terenyuh sedih.</p>
<p>Bunda tersenyum lega. Lega karena  mengetahui anaknya mengaku malu dan  bersalah atas persangkaannya terhadap  Allah selama ini.  Ya, itu benar. Itu benar jika Allah pasti  akan mengabulkan doa hambanya yang  menengadahkan kedua tangannya untuk  meminta kepada Allah. Tapi … Ramya lupa  satu hal. Ramya lupa bahwa …. Tidak semua  yang terlihat baik bagi Allah itu baik bagi  manusia dan tidak selamanya sesuatu yang  terlihat baik di mata manusia itu baik bagi  Allah. Ramya juga lupa bahwa setiap doa  seorang hamba itu memang memiliki potensi  kemungkinan yang besar untuk dikabulkan.  Tapi … Allah tetaplah Tuhan yang Maha  Mengetahui, Tuhan yang Tak Pernah Lupa  terhadap kebutuhan hamba-hambaNya.   Tuhan tahu kapan saatnya Tuhan  mengabulkan (mewujudkan) doa kita.</p>
<p>Atau  bahkan, Tuhan tahu bahwa jawaban yang  berbeda dari yang diinginkan hambaNya itu  lebih baik bagi hambanya. Tuhan  mewujudkan doa-doa hambaNya karena  Tuhan sayang dan cinta terhadap hambanya.  Tapi … Tuhan tidak mengabulkan permintaan  (doa) Ramya untuk mendapatkan pacar itu  bukan berarti karena Tuhan tak sayang atau  bahkan lupa dengannya … Tuhan menunda atau bahkan sama  sekali tidak mewujudkan doa Ramya adalah  sebagai bentuk kasih sayang dan rasa  cintanya pada Ramya. T</p>
<p>uhan tak mau Ramya  terjerumus dalam lubang kemaksiatan.  Karena Tuhan memang masih sayang  padanya. Karena Tuhan tak pernah  melupakan hambanya—apalagi hamba yang  sudah terlanjur taat. Dengan tidak  terwujudnya doa Ramya itu sebenarnya  adalah sebagai bentuk komunikasi cinta  Tuhan pada Ramya. Love Communication.  Karena Tuhan tak mau Ramya seperti Geisha  atau yang lainnya. Love Communication.  Karena Tuhan memang masih  menyayanginya. <a href="http://majalahdrise.my.id/love-communication/">Love Communication. </a>Karena  Tuhan itu memang benar-benar Maha  Penyayang.  Dan Tuhan itu adalah …. Allah</p>
<p>Kirim naskah cerpenmu ke email  D’Rise di drise.redaksi@gmail.com dengan subject “monogatari” atau  “cerpen” dalam file Word dengan  panjang maksimal 10 ribu karakter.  Ditunggu lhoo!</p>
<p>di muat di majalah remaja islam drise edisi 49</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-3-2/">Love Communication PART 4 (tamat)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-3-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1919</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Love Communication PART 2</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-2/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2016 23:07:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[MUDA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1915</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Yah. Maklum. Namanya juga anak yang  bersekolah di luar. Lingkungan dengan  pergaulan bebas. Jadi … setinggi-tingginya  benteng, sekokoh-kokohnya bangunan, pasti  ada saja celah kecil yang dapat berakibat  fatal jika tidak segera ditangani dengan  sergap, tangkas dan bijak. Seperti Ramya. Anak alim yang sedikit  polos dan taat itu, baru saja naik ke kelas 2  &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-2/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Love Communication PART 2</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-2/">Love Communication PART 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Yah.<a href="http://majalahdrise.my.id/love-communication/"> Maklum. Namanya juga anak yang</a>  bersekolah di luar. Lingkungan dengan  pergaulan bebas. Jadi … setinggi-tingginya  benteng, sekokoh-kokohnya bangunan, pasti  ada saja celah kecil yang dapat berakibat  fatal jika tidak segera ditangani dengan  sergap, tangkas dan bijak. Seperti Ramya. Anak alim yang sedikit  polos dan taat itu, baru saja naik ke kelas 2  tingkat SMA dan dia baru merasa bahwa  menahan diri dari virus merah jambu itu  memang rada terbilang susah. Gimana engga  susah coba? Kalau satu kelas atau bahkan  satu sekolah tak ada yang menyabet predikat  jomblo kecuali kamu (dari kalangan anak  cewek)?  Gimana engga susah coba kalau  harus sabar diejek anak-anak kalau kamu  engga laku dan sok ngalim. Pake bawa-bawa  alasan agama cuma untuk nutupin  ketidaklakuannya dirimu. Gimana engga  nyesek coba, kalau sejelek-jeleknya teman  cewekmu—dibanding kamu—aja juga punya  gebetan. Dan terakhir, gimana engga dongkol  coba, kalau guru-guru di sekolahmu aja kepo  dengan masalah cinta murid-muridnya dan  suka godain anak-anak yang belum punya  pacar. And last, gimana enggak bingung,  kalau kamu yang selama ini berdalil engga  pacaran karena hukum syara&#8217; tapi ketua rohis  di skulmu aja malah pacaran.</p>
<p>Lantas, mau  dibawa kemana wajahmu? Wah, apalagi  kalau jadi Ramya, terasa banget deh  nyeseknya. Saat skull lagi ada acara kemah,  study tour dan lainnya, semua bakal sama  gebetannya masing-masing. Sahabat pun  sampai terlupakan. Lalu sisanya, tinggal  Ramya dipacok-pacokin dan digoda-godain  sama si lelaki jerawat batu yang cupu abis. 2  dari 3 orang cowok yang masih memilih  untuk menyandang status jomblo. Yah, gitulah sekolah luar dengan  lingkungan pergaulan rusak yang memang  sudah bobrok dari dasarnya. Yang so pasti  udah jauh banget dari nilai-nilai Islam. Jadi,  jangan heran kalau sampai anak yang paling  taat dan alim satu skulmu pun bisa sedikit  terjerumus ke dalam perkara bathil itu. Atau  malah terbenam ke dalamnya. Naudzubillah</p>
<p>Aku sih Ram, ya sebenarnya juga agak  anti sama yang namanya pacaran. Karena  setahuku, cowok itu … sukanya gombal, gak  setia dan tukang ngibul. Tapi …. Ada  benarnya juga sih kalau pacaran itu gak bisa  dilihat dari sebelah mata doang.</p>
<p>Karena,  pacaran itu sebenarnya punya banyak  dampak positifnya kok. Contohnya kayak aku  Ram. Gara-gara pacaran sama ketua rohis,  aku jadi termotivasi untuk menggunakan  hijab. Selama aku gak mau pakai hijab, Kak  Sofyan maunya kita itu backstreet-an. Tapi  kalau aku udah mau pake hijab … Aaah … Ya  gitulah Ram. You know that! I can&#8217;t talk  anymore …. This enough of excitement! I&#8217;m  happy because him! Oh God!” ujar Millie yang  lama-lama histeris sendiri ketika bercerita  dengan Ramya. “Jadi … Kamu berhijab gara-gara dia  Mil? Bukan karena kau tahu bahwa menutup  aurat itu kewajiban bagi seluruh kaum  muslimat?” Tanya Ramya hati-hati. Tapi itu  sudah cukup membuat Millie terhenti dari  aktivitas jerit-jerit menyebalkannya. Kini  menatap Ramya tajam. Agak terkejut dengan  pertanyaan yang dilontarkan Ramya rupanya.</p>
<p>“Jadi kamu berhijab benar-benar bukan  karena Allah? Kamu berhijab karena perintah  dia? Lantas, kamu anggap apa Ramya selama  ini Mill? Ramya sudah mengingatkan Millie  bahwa menutup aurat itu wajib baki kita  kamu wanita. Dan mengenakannya karena  iman dan keyakinan serta berlandaskan  karena rasa kecintaan dan ketoatan kita  kepada Allah itu jauh lebih penting daripada  menggunakan hijab karena orang lain!” ujar  Ramya kecewa. Millie yang sebelumnya sibuk  bercermin—melihat penampilan barunya  yang telah mengenakan hijab—kini berkaca-kaca.  “Ram, sebenarnya … Apa sih maksud  kamu ngomong kayak gitu? Kamu iri ya sama  aku yang sekarang sudah punya pacar.</p>
<p>Cowok yang kita berdua sama-sama sukain  lagi. Memangnya aku gak tahu kamu juga  suka sama Kak Sofyan? Tapi seharusnya  kamu mikir Ram, kamu gak berhak menyakiti  perasaaanku seperti itu. Seharusnya kamu  senang sahabatmu sudah tergerak hatinya  untuk mengenakan hijab walau belum  karena Allah! Kamu jahat Ram, jahat!!” Millie  histeris. Marah. Membanting meja lalu  meninggalkan Ramya pergi.</p>
<p>di muat di majalah remaja islam drise edisi 49</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-2/">Love Communication PART 2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/love-communication-part-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1915</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai Episode 19</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-19/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-19/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2016 07:15:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1763</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Tertatih-tatih langkah Jabal saat dipapah Mutsana melewati Gerbang Neraka. Mutsana melingkarkan sebelah lengan Jabal ke pundaknya. Jabal mengernyit menahan sakit sesekali dia merintih. “Bersabarlah, kita akan keluar dari sini sebentar lagi, insya Allah,” Mutsana menghibur. “Alhamdulillah mereka belum melukai kakiku, jadi aku masih bisa melangkah dengan baik. Hanya agak ngilu saja,” kata Jabal. &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-19/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai Episode 19</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-19/">Derap Rantai Episode 19</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Tertatih-tatih langkah Jabal saat dipapah Mutsana melewati Gerbang Neraka. Mutsana melingkarkan sebelah lengan Jabal ke pundaknya. Jabal mengernyit menahan sakit sesekali dia merintih.</p>
<p>“Bersabarlah, kita akan keluar dari sini sebentar lagi, insya Allah,” Mutsana menghibur.</p>
<p>“Alhamdulillah mereka belum melukai kakiku, jadi aku masih bisa melangkah dengan baik. Hanya agak ngilu saja,” kata Jabal.</p>
<p>Perlahan-lahan Jabal berdiri di atas dua kakinya. Kepalanya pening karena berkali-kali ditinju oleh para prajurit hitam tadi. Mutsana datang tepat waktu sehingga Jabal tidak perlu mengalami apa yang dialami oleh tawanan yang lain.</p>
<p>Walau berat, Jabal telah bisa berjalan sendiri. Mereka berdua menyusuri koridor-koridor panjang yang remang-remang itu.</p>
<p>“Kita harus bergegas,” kata Mutsana. “Tempat ini tidaklah aman bagi kita.”</p>
<p>“Bagaimana cara kita keluar dari tempat ini?” Tanya Jabal.</p>
<p>“Tak ada jalan keluar!”</p>
<p>Mata Jabal menatap tajam kepada Mutsana, langkahnya terhenti. Kalimat Mutsana yang pendek itu memang amat mengejutkan. “Apa maksudnya tidak ada jalan keluar?”</p>
<p>Mutsana menoleh ke kedua ujung lorong, dia tetap waspada akan keadaan. “Setelah seseorang masuk ke dalam sini dia tidak akan bisa keluar lagi. Tapi pasti akan selalu ada jalan keluar! Ayo!!!”</p>
<p><a href="http://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-18/">kisah sebelumnya</a></p>
<p>Tangan Mutsana menggandeng lengan Jabal untuk membantunya melangkah. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri koridor-koridor yang gelap itu. Pelan-pelan Jabal telah sanggup berjalan sendiri tanpa perlu dipapah lagi oleh Mutsana. Tibalah salah satu hal terberat yang harus mereka lakukan, mendaki anak-anak tangga yang melingkar itu.</p>
<p>Beberapa kali Mutsana harus kembali memapah Jabal. Setelah memerah keringat dan mengerahkan tenaga, akhirnya mereka sampai juga di puncak tangga. Perjalanan belum berakhir, mereka melangkah lagi.</p>
<p>Beberapa orang prajurit hitam berpapasan dengan mereka, namun tak ada seorang pun yang menaruh perhatian kepada mereka. Mereka hanya mendapatkan tatapan mata penuh tanda tanya. Berbeloklah Mutsana dan Jabal, menuju ke bagian lorong yang berbatasan dengan taman yang indahnya seperti surga itu. Di ujung lorong, terkejutlah mereka berdua ketika tiba-tiba muncul sekelompok prajurit hitam. Mutsana mengenali seorang yang berdiri paling depan, dialah prajurit yang tadi disergap oleh Mutsana di tengah-tengah padang pasir.</p>
<p>Prajurit hitam itu mengacungkan telunjuknya lurus kepada Mutsana dan Jabal. Mulutnya menganga dan matanya membelalak. “ITU MEREKAAA…”</p>
<p>Jantung mereka berdua mencelos, seolah-olah hendak melompat keluar. Dari ujung lorong di hadapan mereka sekelompok prajurit hitam sedang berlari mengejar mereka, sementara mereka terpenjara oleh dinding-dinding lorong. Mutsana bergerak cepat ke depan Jabal. Dia berdiri menghadap dinding yang berbatasan dengan taman, memasang kuda-kuda, berkonsentrasi kepada dinding itu, kemudian menghantamkan tendangannya ke sana. Dinding itu hancur berkeping-keping membentuk sebuah lubang besar.</p>
<p>Jabal melotot takjub, tapi Mutsana langsung merenggut lengannya dan menariknya masuk ke dalam lubang di dinding itu, memasuki taman. Mereka berlari sekencang-kencangnya melintasi taman itu tanpa sempat mengagumi keindahannya. Hamparan rumputnya yang hijau sebenarnya amat lembut di kaki mereka, tapi mereka tak bisa merasakannya sebab mereka harus mengambil langkah seribu.</p>
<p>Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Jabal bisa berlari dengan cepat, bahkan menyejajari kecepatan lari Mutsana. Mereka berlari bersisian menerjang apa pun yang ada di hadapan mereka. Dalam sekejap, taman yang tenang dan damai itu menjadi riuh. Para prajurit hitam yang mengejar di belakang mereka berteriak-teriak.</p>
<p>“TANGKAP MEREKAAA&#8230;!!! JANGAN BIARKAN LOLOSSS&#8230;”</p>
<p>Para pemuda yang sedang duduk di taman sambil mendengarkan tausiyah dari sang orangtua itu langsung tersentak kaget. Mereka melihat ada dua orang lelaki menghambur ke hadapan mereka sambil berteriak, merekalah Mutsana dan Jabal. Sang Orangtua terlihat heran, alis dan dahinya yang mengkilap berkerut. Tongkatnya teracung sambil meracaukan sesuatu yang tak jelas.</p>
<p>Mutsana mengangkat kepalannya dan menghantamkan tinjunya ke hidung sang Orangtua hingga Orangtua itu jatuh terjengkang dan pingsan. Sementara Jabal mengenali seorang pemuda yang ada di hadapannya, pemuda dengan luka di betis yang berhasil mengelabuinya dan Mutsana di tengah-tengah gurun. Tanpa pikir panjang, Jabal menabrakkan badannya yang besar dan berat ke tubuh pemuda yang sedang duduk di atas rumput itu. Tubuh Jabal menimpa tubuh pemuda itu dan pemuda-pemuda lain yang ada di sekitarnya, persis seperti bola bowling menghantam bidak-bidak pin di ujung lintasan.</p>
<p>Mutsana dan Jabal melanjutkan pelarian mereka melintasi taman indah yang disorot cahaya matahari itu, sementara semakin banyak orang yang mengejar mereka. Taman yang tadinya tenang itu menjadi ribut.</p>
<p>Taman itu berbentuk persegi, disorot langsung sinar matahari, dan sepertinya dia berada di tengah-tengah benteng dengan dikelilingi tembok. Bunga-bunga beraneka warna yang jarang terlihat di daratan Arab bertumbuhan di taman itu. Di sudut-sudutnya ada pilar-pilar tinggi yang berukir dan dilapisi sulur-sulur tumbuhan. Seluruh dasarnya ditutupi rerumputan yang hijau, benar-benar meniru taman surga. Ada sebuah sungai berair jernih yang membentang di tengah-tengah taman itu, dan ke sanalah Mutsana dan Jabal sedang menuju.</p>
<p>Ketika mereka sudah mendekati tepian sungai, mereka menghentikan langkah mereka. Mutsana dan Jabal saling pandang, kemudian mereka menoleh ke belakang mereka hanya untuk mengetahui seolah-olah seisi benteng itu kini sedang mengejar mereka saking banyaknya para pengejar itu. Para pengejar itu semakin dekat.</p>
<p>“Sekarang apa? Jatuhkan diri ke sungai?” Tanya Jabal dengan gusar.</p>
<p>Mata Mutsana terbuka lebar menatap aliran sungai yang deras itu. “Ikuti aku!!!”</p>
<p>Mutsana melompat dan menjatuhkan dirinya ke dalam sungai yang deras itu. Tak menunggu lama, Jabal segera melompat mengikuti perintah Mutsana sambil memekikkan takbir. Aliran sungai yang cepat luas itu dengan sigap menyeret tubuh mereka berdua. Mati-matian Mutsana dan Jabal menggerakkan tubuh mereka agar tetap berada di atas air. Mereka membiarkan saja tubuh mereka hanyut dibawa aliran sungai.</p>
<p>Di tepian sungai, para pengejar itu sudah ramai menyoraki Mutsana dan Jabal, namun mereka tidak berani menceburkan diri mereka ke dalam sungai. Mereka mengatakan berbagai hal yang tidak bisa dipahami oleh Mutsana dan Jabal.</p>
<p>Tubuh Mutsana dan Jabal terombang-ambing di atas aliran air yang deras. Mereka menahan napas dan membuka mulut mereka kemudian bernapas dari sana. Di hadapan mereka tegaklah dinding pembatas taman, mereka akan segera terbentur dengan keras ke dinding itu. Namun yang terjadi tidak terduga. Ada lubang menganga di dinding itu, sebuah lubang besar yang gelap. Aliran air sungainya jatuh ke dalam bumi, terjun bebas ke dalam ceruk gelap yang dasarnya tak kelihatan. Tubuh Mutsana dan Jabal terjatuh ditelan kegelapan.</p>
<p>Bersambung</p>
<p>di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 48</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-19/">Derap Rantai Episode 19</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-19/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1763</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Merah  Saga Bumi Suriah</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2016 06:21:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1450</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com 10 Muharram 1436 H, disalah satu sudut markas mujahidin aku menatap keluar dengan pandangan yang penuh harap, saat musim dingin mulai menusuk tulangku, aku mencoba mengingat mimpiku tadi malam. Ada rasa rindu yang mendalam direlung hatiku, rindu akan keluargaku, rindu akan tanah kelahiranku, rindu akan Indonesia. “Nak, hati-hati kamu di sana… Ibu dan Bapakmu &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Merah  Saga Bumi Suriah</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/">Merah  Saga Bumi Suriah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com 10 Muharram 1436 H, disalah satu sudut markas mujahidin aku menatap keluar dengan pandangan yang penuh harap, saat musim dingin mulai menusuk tulangku, aku mencoba mengingat mimpiku tadi malam. Ada rasa rindu yang mendalam direlung hatiku, rindu akan keluargaku, rindu akan tanah kelahiranku, rindu akan Indonesia.</p>
<p><em>“Nak, hati-hati kamu di sana… Ibu dan Bapakmu selalu melantunkan do’a untukmu, kami semua menunggumu”, </em>kata-kata Ibuku dalam mimpi tadi malam mengiang ditelingaku.</p>
<p>Aku mencoba menepis rinduku walau sebenarnya aku memang sangat rindu dengan orang tuaku. Semenjak 4 tahun keberadaanku di Suriah, aku belum pernah pulang ke Indonesia. Masih ku ingat awal kali keberangkatanku ke Suriah untuk meneruskan pendidikan dengan bantuan beasiswa dari pondok pesantrenku, aku optimis untuk mendalami ilmu Syariah. Entah kenapa aku lebih memilih Universitas Damaskus, daripada Universitas Al-Azhar yang ada di Kairo, Mesir. Ada keinginan yang tersimpan dalam hati sejak masih berada di pesantren untuk menelusuri jejak peradaban islam yang gemilang di bumi Suriah.</p>
<p>Perlahan aku mencoba membuka mushaf al-qur’an yang terselip disaku bajuku, mataku menetes saat membaca surat At-Taubah ayat 111, yang dalam surat tersebut Allah berfirman, “<em>Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Aquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.</em></p>
<p>Ku resapi pelan-pelan ayat ini, maka apakah aku hendak lari dari perjuangan revolusi di Suriah hanya karena rindu kepada keluarga, ah… begitu hinanya jika aku lari dari revolusi ini. Ya revolusi yang berawal sejak kondisi arab spring tahun 2011 dan pernah bergejolak di tahun 2012-2013. Revolusi yang menjadi perbincangan masyarakat dunia, namun seolah di tahun 2014 masyarakat tidak begitu membicarakannya lagi padahal di Suriah revolusi ini belum berakhir, syariah belum diterapkan sempurna, khilafah belum tegak namun seolah masyrakat dunia terlupa dengan kondisi ini. Kondisi di Suriah adalah sebuah revolusi bukan sekedar reformasi seperti di Mesir, Tunisia, Libya yang kondisinya hanya berakhir dengan ganti rezim saja. Rakyat Suriah menginginkan penerapan Syariah dalam bingkai Khilafah, bukan sekedar ganti rezim untuk urusan pemerintahan. Hal ini terbukti dengan meluasnya tuntutan dan perjuangan rakyat Suriah yang meneriakkan <em>al-ummah turid khilafah islamiyah </em>yang berdengung di kota-kota yang ada di Suriah. Jika di Suriah kondisinya belum stabil, bom-bom masih sering berjatuhan maka di Indonesia ramai dengan carut marut pemerintah baru yang sebenarnya hanya ganti rezim tidak akan membawa perubahan yang lebih baik. BBM kabarnya mau dinaikkan, tata kelola laut diserahkan kepada asing, dan MEA segera akan terlaksana, sungguh yang terjadi di Indonesia adalah perang pemikiran yang juga jauh berbahaya namun masyarakatnya kurang menyadarinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertempuran Di Jabal Akrod</strong></p>
<p><em>Blaaar…</em> sebuah roket jatuh di jabal Akrod tidak jauh dari markas mujahidin. Seketika buyarlah semua kerinduanku tentang keluarga dan Indonesia. Tanah tempat berpijak pun tergoncang sesaat, aku segera berdiri dan ku lihat asap hitam mengepul di udara.</p>
<p>“Ihsan…. Ihsan&#8230; Ihsan, segera kumpul di ruang tengah, rezim Bashar Assad masuk menyerang pertahanan garis depan mujahidin,” teriak Zubair kepadaku.</p>
<p>Zubair adalah seorang pemuda asli Suriah, lewat dialah aku bergabung dengan salah satu gerakan dakwah yang ada di Suriah yang konsisten menyeru penerapan Syariah dan penegakkan Khilafah. Aku yang bernama lengkap Muhammad Ihsan mengenal Zubair di kampus saat dia dan teman-temannyamembagikan undangan seminar yang membahas Syariah dan pentingnya Khilafah.</p>
<p>Segera ku langkahkan kakiku ke ruang tengah, disana syeikh Yusuf Abdullah telah mengomando para mujahidin untuk segera mengambil posisi.</p>
<p>“<em>Wahai pemuda Islam, sungguh kematian akan menghampiri kalian baik cepat atau lambat. Maka jangan sia-siakan kesempatan kalian semua sebelum ajal tiba, jadilah penjaga Islam yang terpercaya. Sungguh perang masih berkecamuk, segera bebaskan negeri ini dari kedholiman. Syariah islam harus di terapkan, Khilafah harus segera di tegakkan. Bersihkan diri kalian semua dari perbuatan dosa karena sesungguhnya yang aku khawatirkan adalah bukanlah Allah tidak mau menolong kita, namun dosa-dosa kita yang menghambat kejayaan akan perjuangan ini. Maka bila hari ini adalah hari terindah dalam hidup kalian, sungguh syahid adalah jawabannya. Jangan gentar akan kekuatan musuh, karena sesungguhnya musuh yang terbesar adalah ketakutan kalian untuk berjuang meninggikan kalimah Allah. Sungguh diri kalian telah di beli Allah dengan SurgaNya, jangan lepas dari perjuangan yang suci ini. Kalian lari atau tetap pada pejuangan ini maka Khilafah pasti tetap akan berdiri, karena Khilafah merupakan janji Allah dan Allah tidak pernah ingkar terhadap janjiNya.” </em></p>
<p>Kata-kata SyaikhYusuf Abdullah menancap kuat dalam benakku. Rinduku kepada tanah kelahiran kupendam dalam-dalam. Ada perkara yang lebih penting yang harus segera di tunaikan. Dan sungguh hina apabila menyerah dan meniggalkan perjuangan yang suci ini.</p>
<p>Aku segera berlari mengambil senapan AK47, Zubair pun berlari memimpin pasukan. Dia bak singa padang pasir yang tidak takut akan dentuman peluru, tidak mundur karena ganasnya roket rezim Bashar Assad, dan tidak gentar bila maut harus menjemput. Pesawat tempur rezim nushoiriyyah melakukan terror di wilayah kami, terbang bolak-balik lebih 10 kali dan menembakan 4 buah rudal pada tempat ribath mujahidin garis depan. Di susul dengan rentetan senapan yang terdengar di beberapa tempat.</p>
<p>&#8220;Wahai singa-singa Allah teruslah berjuang, jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh Allah akan menolong hambaNya yang memperjuangkan agamanya!&#8221; seru Syaikh Yusuf Abdullah mengobarkan semangat diantara kami.</p>
<p>Kami terus merangsek maju kedepan, mencoba melawan sniper-sniper Bashar Assad dan serangan semakin membuncah di garis pertahanan depan. Perang benar-benar semakin pada puncaknya, <em>duaar… duaar… duaar</em> tembakan terdengar bersahut-sahutan hingga akhirnya salah seorang komandan dari tentara nushoiriyyah rezim Bashar Assad harus terpelanting dan <em>buuuuk</em>…., jatuh tersungkur oleh tembakan Zubair yang tepat mengenai jantung komandan tersebut. Musuh terpukul mundur dan kemenangan berada di tangan para mujahidin.</p>
<p>Allahu Akbar… Allahu Akbar…. Berkali-kali para mujahidin meneriakkan takbir, tanda kemenangan di pihak mujahidin. Namun kemenangan kali ini harus di tebus dengan meninggalnya Syaikh Kholid yang ahli dalam mengatur strategi perang. Kami semua berduka atas meninggalnya Syaikh Kholid, kami merasa kehilangan. Namun terlihat di wajahnya senyum yang mengembang tanda sebuah kebahagiaan. Syaikh Kholid adalah salah satu daftar orang yang sangat dicari oleh rezim Bashar Assad. Rezim laknatullah itu mengincar Syaikh Kholid karena beliau dirasa sangat berbahaya bagi mereka. Masa lalu Syaikh kholid sebelum revolusi ini pecah, beliau adalah seorang anggota militer Suriah. Tahun 2012 Syaikh Kholid membelot dari pemerintahan dholim Bashar Assad dan memilih bergabung dengan para mujahidin.Hal ini sangat dikhawatirkan oleh rezim Bashar Assad karenaSyaikh Kholid sangat mengetahuisecara persis tentang kondisi militer Bashar Assad. Kami membuat 2 kuburan untuk Syaikh Kholid, kuburan yang pertama adalah kuburan tanpa nisan yang benar-benar kami mengubur Syaikh Kholid dikuburan tersebut. Kuburan kedua adalah kuburan dengan nisan bertuliskan nama beliau, yang sebenarnya itu bukanlah jasad Syaikh Kholid melainkan senapan yang biasa beliau pakai di beberapa pertempuran.</p>
<p>11 Muharram 1436 H, aku berbincang dengan Zubair membahas pertempuran yang baru saja pecah dan merusak beberapa bagian desa Mughoiriyyah.</p>
<p>“Ihsan… apa kau tau mengapa mereka menyerang Jabal Akrod?” Tanya Zubair kepadaku.</p>
<p>“Aku kira mereka hendak menguasai Jabal Akrod karena mereka punya misi hendak mengontrol Allepo.” Jawabku Singkat</p>
<p>“Ya kamu tepat, mereka hendak mengusai Jabal Akrod karena wilayah ini sangat strategis untuk menghubungkan Lattakia dan Allepo, sehingga mereka dengan mudah akan dapat memasok logistik, senjata, dan lainnya.” Tegas Zubair kepadaku.</p>
<p>“Zubair bagaimana kondisi keluargamu sekarang, apa ibumu sudah ridho dengan kepergian kakakmu…?” Tanyaku dengan penuh penasaran.</p>
<p>“Alhamdulillah bapakku telah syahid mendahuluiku, adapun kakakku insyaAllah syahid juga walau jasadnya belum ditemukan sejak hilangnya beliau dari jajaran mujahidin setelah perang pecah di Allepo 2013, dan ibuku sangat ridho dengan kepergian satu persatu keluargaku. Ibuku berharap aku dapat mengikuti jejak mereka berdua dengan tetap berpegang teguh di jalan Allah sampai revolusi ini menemui kejayaannya. Masih ku ingat masa kecilku, kakakku selalu sabar membimbingku untuk mengajakku mengahafal Al-Qur’an di masjid di dekat rumah, kami berdua juga bermain bersama ditemani suburnya buah apricot dan anggur yang tumbuh di halaman rumah kami. Dari kecil aku selalu bersama dengan kakakku, maka harapanku aku dapat menyusul syahid dan bisa berkumpul dengan kakakku di SurgaNya…aamiin” jawab Zubair sambil menunduk.</p>
<p>“Aamiin… semoga Allah mengabulkan do’amu wahai sahabatku,” aku menyambung cerita Zubair.</p>
<p>“Ihsan, jika aku syahid lebih dulu maka bawalah senapanku sehingga kau tetap merasa aku ada disampingmu dan sampaikan surat ini kepada ibuku, surat ini aku taruh di saku bajuku maka jika aku syahid lebih dulu tolong liat saku bajuku” pinta Zubair kepadaku.</p>
<p>“<em>gleeeek</em>…. InsyaAllah” jawabku singkat. Aku tercengang dengan permintaan Zubair dan aku menganggukkan kepala tanda aku menyetujui permintaannya.</p>
<p>Kami berdua pun larut untuk mengatur strategi pertahanan, Zubair adalah seorang sniper yang handal, lewat dialah aku belajar menembak. Setiap hari kami berlatih perang, untung saja ketika aku mondok di salah satu pesantren yang ada di Jawa Timur, aku sudah belajar bela diri sehingga cukup menjadi bekal untuk berjihad disini. <a href="http://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah-eps-2/"> lanjut</a>&#8230;&#8230;.[<em>Oleh: </em><em>Ana Al-izzah]</em></p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/">Merah  Saga Bumi Suriah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/merah-saga-bumi-suriah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1450</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai Episode 13</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2016 01:43:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[derap rantai]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[MAJALAH REMAJA]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1278</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Langit biru dan sendu, sang matahari masih malu-malu di sudut situ. Dua ekor unta sedang berjalan menapak padang pasir yang masih dingin di daratan Arabia. Yang menungganginya adalah dua orang agen rahasia Khilafah Islamiyah, Mutsana bin Harits, dan Jabal bin Abdul’uzza. Mereka baru saja keluar dari kota Madinah selepas solat subuh. Khalifah Abu &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai Episode 13</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/">Derap Rantai Episode 13</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Majalahdrise.com &#8211; Langit biru dan sendu, sang matahari masih malu-malu di sudut situ. Dua ekor unta sedang berjalan menapak padang pasir yang masih dingin di daratan Arabia. Yang menungganginya adalah dua orang agen rahasia Khilafah Islamiyah, Mutsana bin Harits, dan Jabal bin Abdul’uzza. Mereka baru saja keluar dari kota Madinah selepas solat subuh. Khalifah Abu Bakar Shiddiq memerintahkan kepada mereka untuk keluar dari Madinah menuju arah Yamamah. Misi apa lagi yang telah mereka terima?</p>
<p>“Seperti biasa,” kata Mutsana, “Kita sudah keluar dari Madinah, kita harus membuka surat Khalifah.”</p>
<p>“Baiklah,” gumam Jabal.</p>
<p>Mereka dikelilingi oleh gurun pasir yang tandus, yang ketika itu sang gurun pasir masih ramah karena hari masih pagi. Langit sudah cukup terang dan berwarna biru tapi matahari belum keluar dari balik cakrawala. Namun tak perlu menunggu waktu lama, hanya dalam beberapa jam saja, padang pasir itu akan menjadi ganas. Gunung-gunung cadas yang diam membisu tegak di kiri-kanan jalan. Batu-batu dan kerikil menjadi penghias mata, menggantikan rerumputan. Hampir tak ada yang hidup di padang pasir itu, kecuali binatang-binatang dan tumbuhan-tumbuhan yang sudah tercipta untuk hidup di sana.</p>
<p>“Ayo kita menepi,” kata Mutsana.</p>
<p>Dia dan Jabal berbelok sejenak ke tepi jalan, mendekat pada sebuah gunung karang yang tertutup oleh pasir. Ada bagian yang kasar pada permukaan gunung karang itu, sebagian halus karena terkikis angin semenjak waktu yang tidak bisa diduga-duga. Mereka turun dari unta masing-masing dan mengikatkannya ke sebatang pohon kurma kering yang merana di dekat gunung karang itu, mereka mencari tempat yang agak tersembunyi. Kehati-hatian dan kewaspadaan harus selalu ada di setiap langkah mereka.</p>
<p>Setelah duduk bersandar pada batu karang, Mutsana mengeluarkan surat dari Khalifah. Dibukanya amplop pembungkus surat itu, yang bagian tutupnya disegel lilin berwarna merah dengan stempel Khilafah Islamiyah tercetak di atasnya. Stempel itu adalah cincin Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam yang di atasnya terukir lafaz “Allah”, “Rasul”, dan “Muhammad”. Setelah Rasulullah wafat, cincin stempel kenegaraan itu kemudian dipegang oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq.</p>
<p>Sepucuk surat yang lebih kecil melompat keluar, persis seperti misi mereka sebelumnya. Jabal memungut surat itu yang terjatuh di dekatnya dan mengangkatnya di depan dadanya.</p>
<p>“Ada surat kecil lagi,” gumamnya.</p>
<p>Mutsana memerhatikan surat itu dan berdeham. Entah apa maksud dari dehamnya itu. Dia kembali beralih kepada surat yang besar.</p>
<p>“Baiklah, akan kubacakan,” kata Mutsana, sambil memerhatikan surat yang sudah terhampar di hadapannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</p>
<p>Kepada Saudaraku,</p>
<p>Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza,</p>
<p>Pergilah kalian ke Yamamah dalam waktu dua hari. Temuilah komandan kita, Khalid bin Walid, yang telah selesai betugas memberantas Musailamah al Kadzab, kemudian serahkan surat kecil yang aku lampirkan di surat kalian.</p>
<p>Surat kecil itu amat penting untuk segera berada di tangan Khalid, sebab itulah yang menentukan dimulainya futuhat pertama kita ke Persia. Semoga Allah selalu bersama kalian, insya Allah. Bakarlah surat ini, setelah kalian memahami isinya.</p>
<p>Saudaramu,</p>
<p>Khalifaturasulillah</p>
<p>Abu Bakar</p>
<p>Wassalamuaialaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sepertinya misi kali ini cukup mudah,” kata Jabal, “Hanya mengantarkan surat.”</p>
<p>“Sesuatu yang kelihatan mudah tidak akan menjadi mudah jika Allah berkehendak menyulitkannya, begitu juga sebaliknya,” kata Mutsana. “Intinya, kita hanya bisa bergantung kepada Allah subhanahu wata’ala agar mempermudah misi kita. Memohon kemudahan dariNya adalah hal yang amat penting.”</p>
<p>Mereka menengadahkan tangan ke langit, memohon pertolongan kepada Allah yang kepadaNya bergantung segala sesuatu. Tidaklah makhluk memiliki kuasa apa-apa, kecuali apa yang dikehendaki Allah saja.</p>
<p>“<em>Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la hawla wala quwwata illabillah</em>,” seru Mutsana, “Semoga Allah memberikan kemudahan serta keselamatan bagi kita semua. Sebab tanpa hal itu kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan misi kita. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan dan dosa-dosa kita.”</p>
<p>Setelah membakar surat sebagaimana perintah dan mengamankan surat kecil di dalam saku celana, Mutsana dan Jabal melompat ke punggung unta mereka masing-masing, kemudian memacunya selagi hari masih pagi.</p>
<p>Terhamparlah jejak cepat kaki unta di atas butiran-butiran pasir. Angin dingin berembus lagi seiring dengan melatanya ular-ular dan kadal-kadal. Mutsana dan Jabal menggenggam erat tali kekang unta-unta itu untuk mengendalikan pacunya. Mereka sedang berada dalam sebuah misi penting.</p>
<p>Matahari pun terbit dan membuat bayang-bayang menghitam panjang. Dari balik gunung-gunung karang dia muncul dengan gagah dan berwibawa. Seakan-akan dia sajalah yang ditunggu oleh seluruh makhluk selaksa alam. Dia memancarkan energi kepada semesta sejak dahulu kala.</p>
<p>Satu jam telah berlalu sejak Mutsana dan Jabal meninggalkan Madinah. Pelita matahari semakin terik dan mengalirkan bulir-bulir keringat di wajah mereka. Fatamorgana makin mengambang dan apa yang terlihat di depan seolah-olah hanya khayalan. Mereka mengatur kecepatan pacu unta-unta mereka agar mereka bisa selalu bersisian, hingga tiba-tiba mata Mutsana menangkap sebuah bayangan.</p>
<p>Jauh di depan sana, di antara fatamorgana, dia melihat ada seseorang. Hatinya bertanya-tanya apakah yang sedang dia saksikan adalah kenyataan atau khayalan. Dia berteriak kepada Jabal untuk mengalahkan deru angin.</p>
<p>“Ada orang di depan! Kau melihatnya??”</p>
<p>“Aku melihatnya,” seru Jabal. Ternyata dia pun melihat apa yang dilihat Mutsana. “Tapi kita belum tahu apa yang kita lihat itu benar atau tidak.”</p>
<p>Mereka memacu unta-unta mereka agar berlari semakin cepat. Dan semakin dekat mereka dengan apa yang mereka lihat, kian nyata bahwa apa yang mereka lihat bukanlah tipuan fatamorgana.</p>
<p>Bersambung…</p>
<p>di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/">Derap Rantai Episode 13</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-episode-13/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1278</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sadarlah Wahai Berlian Yang Tersingkap!</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2016 07:55:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[CERPEN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1239</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Majalengka memasuki musim hujan. Cakrawala memuntahkan airnya di tengah petala langit. Awan hitam terbalut kabut yang sangat pekat. Hembusan angin terus menusuk-nusuk kulit disertai guntur yang putih-mengilat. Suasana semakin bergemuruh, membuncah hamparan khatulistiwa. Menambah dingin udara yang semakin tinggi dari detik ke detik. Serasa hidup berada di dataran kutub yang suhu kedinginannya kurang dari &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Sadarlah Wahai Berlian Yang Tersingkap!</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/">Sadarlah Wahai Berlian Yang Tersingkap!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Majalengka memasuki musim hujan. Cakrawala memuntahkan airnya di tengah petala langit. Awan hitam terbalut kabut yang sangat pekat. Hembusan angin terus menusuk-nusuk kulit disertai guntur yang putih-mengilat.</p>
<p>Suasana semakin bergemuruh, membuncah hamparan khatulistiwa. Menambah dingin udara yang semakin tinggi dari detik ke detik. Serasa hidup berada di dataran kutub yang suhu kedinginannya kurang dari 0 derajat <em>celcius.</em></p>
<p>Di dekat jendela kamarnya, Haura masih termangu memandangi lekat-lekat rinai hujan yang terus-menerus menghujami genting rumahnya. Keras, mengalir, membasahi rerumputan yang terhampar di depan beranda rumahnya.</p>
<p>Dari jendela kamarnya, Ia pun menyaksikan sihir itu. Di matanya, Majalengka malam itu telah membuatnya seolah tak lagi berada di dunia. Namun di sebuah alam yang hanya dipenuhi kegundahan dan carut-marut saja.</p>
<p>Sesungguhnya bukan semata-mata cuaca dan suasana musim hujan yang membuat Majalengka malam itu begitu penuh kebimbangan. Bukan semata-mata sihir rembulan malam yang membuat Majalengka begitu hitam. Pekat. Menakutkan. Bukan semata-mata rinai hujan yang bening yang membuat Majalengka begitu dingin. Menggigil.</p>
<p>Akan tetapi, lebih dari itu, yang membuat segala yang dipandangnya tampak menggamangkan adalah karena musim hujan sedang bertandang di hatinya. Hujan kesedihan sedang berguyur deras di sana. Bunga bunga harap di hatinya sedang terkatup tak memekarkan indahnya. Layu.</p>
<p>Dan penyebab itu semua, tak lain dan tak bukan adalah semua teman yang ada di sekolahnya senantiasa menjauhi dan memberi jarak dengannya.Karena Haura seorang perempuan yang pendek lagi buta.Ia sedih kenapa semua temanyang ada di sekolahnya,hanya memandangnya dari segi fisik tanpa melihat dari segi potensi yang dimilikinya.</p>
<p>Memori ingatannya berputar kembali ke suatu peristiwa, ketika Ia mengungkapkan cita-citanya di depan kelas, bahwa Ia ingin menjadi seorang dosen dan penulis buku yang mendunia. Lantas teman-temannya tertawa terbahak-bahak dan mengolok-oloknya. Tanpa ampun.</p>
<p><em> “Haha, dasar pemimpi ulung! Mustahil itu terjadi! Dasar perempuan buta. Perempuan pendek!”</em></p>
<p>Setetes, dua tetes, air matanya kian mengalir, menganak sungai.</p>
<p><em>“Aku akan buktikan pada kalian. Aku bisa meraih mimpiku itu. Dan Aku pun akan buktikan. Bahwa cacatku adalah kelebihanku!”</em> desisnya begitu yakin.</p>
<p><em>“Nak, ada apa denganmu? kok meneteskan air mata?”</em>ucap ibunya menempelkan tangannya di atas pundak Haura. Sontak Haura kaget bukan main.</p>
<p><em>“Oh ibu, mengangetkan saja. Kirain siapa?” </em>kaget Haura lekas menyeka air matanya.</p>
<p><em>“Nak , ibu sudah tahu masalah yang menimpamu saat ini,” </em>kata ibunya mengawali percakapan.Haura hanya mengangguk dengan lelehan air mata mengalir dari sudut matanya.</p>
<p>Ibunya tersedu lantas mengayunkan telunjuknya untuk membasuh air mata anaknya yang sedari tadi terus mengalir.</p>
<p><em>“Nak, dengarkan dan camkan nasehat dari Ibu ini. Berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama yang menunjukkan cinta dan perhatian kitakepada orang lain. Jangan menuntut perhatian dan cinta mereka untuk diperlihatkan lebih dahulu. Itulah satu-satunya cara agar kita bisa ke luar dari kegelapan hidup.”</em></p>
<p>Lagi-lagi Haura hanya manggut-manggut saja. Tanpa ada kata yang ikut mengiringi. Ibunya hanya tersenyum melihatnya.</p>
<p><em>“Nak, Seringkali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita. </em></p>
<p><em>Ibu yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.”</em>pungkas ibunya kembali tersenyum.</p>
<p>Haura bergeming sesaat.Ada benarnya juga apa yang dikatakan ibunya. <em>Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.</em></p>
<p><em>“Nak, bolehkah ibu mengajukkan sebuah cerita padamu?”</em>ungkap ibunya memotong lirihan Haura.</p>
<p><em>“Dengan senang hati bu. Boleh,”</em>jawab Haura menerbitkan sebuah senyuman.</p>
<p><em>“Baiklah. Dengarkan baik-baik ya. Terus Kau ambil dan simpulkan sendirihikmah yang terkandung dalam cerita yang akan ibu ceritakan. Setuju?” </em></p>
<p><em>“Setuju!”</em>timpal Haura sangat antusias. Karena Ia sudah tahu, ketika Ibunya bercerita, pasti ceritanya itu berbobot dan dapat menyengat semangat hidupnya.</p>
<p>Ibunya merapihkan posisi duduknya, yang Ia rasa kurang nyaman.</p>
<p>“Alkisah. . . Suatu ketika, ada seorang perempuan yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang laki-laki berjanggut yang duduk di halaman depan. Perempuan itu tidak mengenal mereka semua.</p>
<p><em>“Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut,” </em>ujar si perempuan.</p>
<p><em>“Apakah suamimu sudah pulang?”</em>si lelaki berjanggut malah balik bertanya.</p>
<p><em>“Belum, dia sedang keluar,”</em>balas si perempuan mengernyit.</p>
<p><em>“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali.”</em></p>
<p>Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang istrimenceritakan semuakejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian yang diceritakan si istri, lalu ia berkata pada istrinya,</p>
<p><em>&#8220;Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.”</em></p>
<p>Perempuan itu kemudian keluar dan mengundang mereka yang sedari tadi tengahmenunggu, untuk masuk ke dalam.</p>
<p><em>“Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama,”</em>kata laki-laki itu hampir bersamaan.</p>
<p><em>&#8220;Lho, kenapa</em>?” tanya perempuan itu keheranan.</p>
<p>Salah seorang laki-laki itu berkata,<em> “Nama dia Kekayaan,&#8221;</em>katanya sambil menunjuk seorang laki-laki berjanggut di sebelahnya<em>, </em></p>
<p><em>“dan yang ini bernama Kesuksesan,”</em>sambil memegang bahu laki-laki berjanggut lainnya,</p>
<p><em>“sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu!?”</em></p>
<p>Perempuan itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan laki-laki di luar. Suaminya pun merasa heran.</p>
<p><em>“Oh&#8230;menyenangkansekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”</em></p>
<p>Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya,<em> “sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita.”</em></p>
<p>Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.</p>
<p><em>&#8220;Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta.”</em></p>
<p>Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka.</p>
<p><em>&#8220;Baiklah, ajak masuk si Cinta itu ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita.” </em>seru sang ayah.</p>
<p>Perempuan itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 laki-laki itu.</p>
<p><em>“Siapa diantara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silakan masuk!Anda menjadi tamu kita malam ini.”</em></p>
<p>Si Cinta bangkit, dan berjalanmenuju beranda rumah.Ternyata, kedua laki-laki berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, perempuan itu bertanya kepadasi Kekayaan dan si Kesuksesan.</p>
<p><em>“Maaf, Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kalian berdua ikut juga?”</em></p>
<p>Kedua laki-laki yang ditanya itu menjawab bersamaan.</p>
<p><em>&#8220;Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. </em></p>
<p><em>Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Sebenarnya kami bisu, dan hanya si cinta yang bisa bercakap. </em></p>
<p><em>Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”</em></p>
<p><em>“Dan itulah ceritanya. Semoga engkau dapat tersadar dan mata hatimu dapat terbuka. Silakan engkau sendiri nak, yang menyimpulkannya!”</em></p>
<p>Air mata Haura kembali berderai, setelah mendengarkan cerita dari ibunya. Ia sekarang tersadar, bahwa Kekayaan dan Kesuksesan bukanlahfaktor determinan dalam hidup ini. Melainkan cinta-lah yang harus ada dalam setiap perbuatan yang akan Ia lakukan.</p>
<p>Justru keduanya akan berbanding lurus dengan rasa cintanya pada sesama dan utamanya, rasa cintanya pada Dia yang Maha menghembuskan rasa Cinta, pada setiap hati Hamba-hamba-Nya yang beriman lagi mulia.</p>
<p><em>“Nak, sadarlah! bahwa engkau-lah berlian di hati ibu. Engkau-lah segalanya buat Ibu. Jangan dengarkan dan acuhlah! terhadap celotehan orang-orang pengecut yang sukanya menggembosi semangat hiduporang! Singkaplah tirai dogma itu nak! Kamu bisa! Ibu yakin itu!”</em>ucap Ibunya meletup-letup bak motivator.</p>
<p>Semangat Haura pun seketika tersengat. Aliran darahnyaseketika mendidih. Berlian itu tersadar akan potensi yang dimilikinya. Dan tidak dimiliki orang lain. Ia tidak akan lagi mengkhianati, mengerdilkandan mempercundangi potensi yang ada. Akhirnya, Ia kembalitersenyum penuh keyakinan. Menatap dunia.</p>
<p>Sejurus kemudian, Ia peluk ibunya begitu erat. Air matanya Ia sembunyikan dibalik bahu perempuan yang terkuat se-jagat raya. Ibu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><u>EPILOG</u></strong></p>
<p><strong><u> </u></strong></p>
<p><strong>UNTUK BERLIAN YANG TERTUTUP!</strong></p>
<p><strong>Wahai berlian yang tertutup!</strong></p>
<p>Memandangmu sungguh menggetarkan mataku. Karena dirimu begitu teguh memegang prinsip hidup yang teramat fundamental.</p>
<p>Walau raga selalu tercaci, engkau balas dengan senyuman tulus penuh arti.</p>
<p>Walau petir ancaman menghujam jantungmu, engkau payungi dengan kesabaran tiada semu.</p>
<p>Walau kegagalan bertubi menghantam diri, engkau bersikeras bahwa kegagalan itu bukanlah akhir, namun awal dari kesuksesan diri.</p>
<p>Walau sumpah serapah memenuhi pundak, engkau bersihkan dengan ikhlas tanpa harus diri menyalak.</p>
<p><strong>Wahai berlian yang tertutup!</strong></p>
<p>Aku tak tahu kata apa yang layak aku sematkan padamu. Karena dirimu bak cahaya di atas ribuan kaca yang menyilau.</p>
<p>Aku tak tahu bait apa yang bisa menggambarkan tentangmu. Karena dirimu sukar tergambar oleh tinta dan kain kanvas di dunia ini.</p>
<p>Aku pun belum bisa bersenandung mengisahkanmu. Karena dirimu adalah bait-bait liar dan irama-irama misteri yang terus mengalunkan melodi-melodi ketegaran.</p>
<p><strong>Wahai berlian yang tertutup!</strong></p>
<p>Hari ini! Menit ini! Dan detik ini juga! engkau harus berani menyingkap tirai dogma yang terus meng-stagnankan hidupmu. Agar kilaumu dapat terlihat dan nantinya membawa manfaat. Agar diri tak lagi dicaci laksana makhluk kerdil yang ternista diri. Agar diri tak lagi dipandang rendah bak sebongkah sampah! Musnah!</p>
<p>Aku tahu. Memulai itu memanglah sulit. Tapi lebih sulit jikalau diri tak mau memulai. Mulailah sekarang juga! Tak apa, meskipun dengan langkah gontai dan merangkak. Mulailah berbenah dari hal yang dianggap kecil, karena suatu yang besar berawal dari yang kecil.</p>
<p><strong>Wahai berlian yang tertutup!</strong></p>
<p>Sibukkan diri dengan perkara yang menjanjikan. Agar kilaumu menjadi sapaan pengetahuan. Agar prestasi yang didambakan terasa mudah untuk didapatkan.</p>
<p>Ayunkan langkahmu. Singkapkan silaumu. Berjalanlah dengan kedua malaikat yang senantiasa hadir menemani langkahmu. Ajaklah mereka untuk bersenandung penuh optimis. Bersahabatlah dengan mereka. Rangkul-lah mereka. Dan bisik-kan pada mereka.</p>
<p>MALAIKAT. AKU BUKAN LAGI BERLIAN YANG TERTUTUP. <em>TRAP!</em> DAN INILAH AKU. BERLIAN YANG PENUH KEMENANGAN.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kelar deh. Ploooong banget euy. Suer.J</p>
<p>O ya maaf ya baru di share sekarang, soalnya kemarin malem lagi disibukkan buat Liqo Syawal bersama Tokoh dan Ulama 1435 H.</p>
<p>Semoga temen-temen enggak pada manyun.J</p>
<p>di muat di Majalah Remaja islam Drise Edisi #41</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/">Sadarlah Wahai Berlian Yang Tersingkap!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/sadarlah-wahai-berlian-yang-tersingkap/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1239</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Derap Rantai Sebuah fiksi-sejarah   Episode 12</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah-episode-12/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah-episode-12/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2016 09:34:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Epik]]></category>
		<category><![CDATA[drise online]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1203</guid>

					<description><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; Persaudaraan terasa amat indah dan hangat. Persaudaraan itu menembus sekat-sekat darah dan bangsa yang telah membuat manusia jadi sedemikian egois dan kerdil. Padahal tak ada seorang pun yang bisa memilih darah dan bangsanya. Islam telah menghapuskan persaudaraan hanya karena darah dan bangsa itu, menjadi persaudaraan karena aqidah, karena keyakinan. Siapa pun orangnya, yang &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah-episode-12/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Derap Rantai Sebuah fiksi-sejarah   Episode 12</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah-episode-12/">Derap Rantai Sebuah fiksi-sejarah   Episode 12</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; Persaudaraan terasa amat indah dan hangat. Persaudaraan itu menembus sekat-sekat darah dan bangsa yang telah membuat manusia jadi sedemikian egois dan kerdil. Padahal tak ada seorang pun yang bisa memilih darah dan bangsanya. Islam telah menghapuskan persaudaraan hanya karena darah dan bangsa itu, menjadi persaudaraan karena aqidah, karena keyakinan. Siapa pun orangnya, yang mengakui bahwa tak ada dzat yang patut disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, menjadikan Alquran sebagai petunjuk hidupnya, dan menjadikan Rasulullah Muhammad sebagai suriteladannya, maka dia adalah saudara. Saudara yang wajib dibantu jika dia sedang berada dalam kesulitan, dan harta serta jiwanya wajib dijaga.</p>
<p>“Mutsana dan Jabal, saudaraku,” Khalifah Abu Bakar Shiddiq berseri-seri menyambut Mutsana dan Jabal. Dia rentangkan kedua belah tangannya untuk memeluk kedua saudara seimannya itu. “Subhanallah walhamdulillah kalian tiba dengan selamat. Semoga Allah selalu melindungi kalian.”</p>
<p>“Barakallahu lakum,” kata Umar bin Khathab, wajahnya berseri-seri.</p>
<p>Mereka saling berpelukan dan berjabat tangan. Itulah hal amat berharga yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, jika seorang muslim bertemu saudaranya, kemudian saling berjabat tangan, maka dosa-dosanya berguguran di bawah tangan yang sedang berjabat itu.</p>
<p>“Terima kasih banyak,” kata Mutsana. “Tadi baru saja kami dari rumah Khalifah, tapi ternyata Khalifah sedang keluar.”</p>
<p>“Seperti biasa, pemeriksaan rutin,” sahut Abu Bakar. Terlihat gurat-gurat kelelahan terpahat di wajah Khalifah Abu Bakar. Malam itu dia mengenakan sorban putih dan mantel putih. Sebatang tongkat menjadi penopang badannya yang telah tua, namun hal itu tak mengurangi wibawanya. Ketenangan dan kebijaksanaan terpancar dari wajahnya, tubuhnya yang kurus tersamarkan oleh pakaiannya yang tebal.</p>
<p>“Kalian pasti lelah, lebih baik kita masuk ke dalam masjid,” Umar mengajak mereka semua.</p>
<p>Seorang penjaga masjid bernama Aswan datang menyambut mereka. Dialah yang mengurus unta-unta para tamu itu. Dia pulalah yang melayani kebutuhan orang-orang yang menginap di shuffah.</p>
<p>Abu Bakar, Umar, Mutsana, dan Jabal, duduk di bagian dalam masjid Nabawi. Di hadapan mereka telah terhidang makanan dan minuman yang disiapkan oleh Aswan. Dalam limpahan rahmat Allah mereka makan bersama di tengah keheningan malam itu. Jabal terlihat lahap sekali seolah-olah tidak makan selama bertahun-tahun. Selesai makan, Aswan datang kembali untuk merapikan gelas-gelas dan piring-piring.</p>
<p>“Alhamdulillah, aku bahagia sekali menyambut kedatangan kalian,” kata Abu Bakar. “Syukurlah kalian bisa tiba kembali di sini dengan selamat.”</p>
<p>“Alhamdulillah! Setiap misi pasti memiliki risiko dan bahaya tertentu,” tambah Umar. “Kepulangan kalian memang sudah sepatutnya disambut baik dan disyukuri terlepas bagaimana hasilnya.”</p>
<p>“Terima kasih banyak telah mendoakan kami. Kami berhasil menjalankan misi, dan kami telah berhasil melaksanakan seluruh amanah dari Khalifah,” kata Mutsana, dia tersenyum lebar karena melaporkan sesuatu yang baik.</p>
<p>“Walau pun sebenarnya hampir saja kami gagal,” timpal Jabal. “Prajurit Persia dan hampir seisi pasar Ubullah mengejar kami. Kalau bukan karena pertolongan Allah dan kesigapan dari orang-orang kita di Ubullah, pastilah kami sudah mendekam di penjara Persia menunggu eksekusi.”</p>
<p>“Wahai Jabal, sudahlah, yang buruk jangan diingat-ingat lagi. Yang penting sekarang kita sudah tiba di Madinah dengan selamat,” kata Mutsana.</p>
<p>“Tak apa-apa, Mutsana, ceritakanlah seluruh proses pelaksanaan misi, jangan hanya ceritakan yang enak-enak saja,” Umar menepuk bahu Mutsana.</p>
<p>“Benar, hal buruk pun sebenarnya penting untuk kita jadikan pelajaran,” Abu Bakar menambahkan.</p>
<p>“Jika Khalifah menambahkan satu hal saja tentang ciri-ciri Aswad, bahwa dia bertubuh kurus, mungkin apa yang terjadi akan sangat berbeda,” Jabal bercerita dengan menggebu-gebu sebagaimana biasa. “Karena ternyata di pasar Ubullah ada seorang pedagang kain yang kondisi wajahnya mirip dengan wajah Aswad, hanya saja tubuh orang itu gemuk. Ditambah lagi seorang anak kecil menipu kami dengan menunjukkan bahwa orang yang gemuk itu adalah Aswad, jadilah kami datang kepada orang yang salah. Tiba-tiba orang itu meneriaki kami sebagai muslim, kami pun dikejar-kejar.”</p>
<p>“Ternyata orang itu adalah saingan bisnis Aswad dan amat membencinya. Dia juga sudah curiga bahwa Aswad adalah muslim, sehingga dia meneriaki kami sebagai muslim karena sedang mencari Aswad,” akhirnya Mutsana ikut bercerita.</p>
<p>“Tapi Alhamdulillah, Aswad dan timnya dengan sigap bergerak dan berhasil menolong kami,” kata Jabal. “Mereka telah berhasil membangun fasilitas rahasia di kota Ubullah yang terdiri dari terowongan-terowongan dan jalan-jalan masuk rahasia yang akan memudahkan kita masuk ke kota itu dan menaklukkannya.”</p>
<p>“Kami juga telah menyerahkan surat kecil amanah dari Khalifah, langsung kepada Aswad, dan Aswad sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakannya,” kata Mutsana.</p>
<p>“Subhanallah walhamdulillah,” Abu Bakar mengembuskan napasnya sambil tersenyum. “Semoga Allah memberikan balasan yang banyak kepada kalian atas semua yang telah kalian lakukan.”</p>
<p>“Keberhasilan kalian adalah kemajuan besar bagi futuhat yang akan kita lancarkan kepada Persia,” kata Umar. “Mengetahui kekuatan musuh dan mengetahui kekuatan kita sendiri adalah salah satu jalan menuju kemenangan. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk meraih kemenangan itu.”</p>
<p>Umar bin Khathab mengenakan sorban hijau. Matanya tajam, setajam elang, dan kegigihan serta keteguhannya mengguncangkan singgasana setan, sampai-sampai tak satu setan pun berani dekat-dekat dengan Umar. Tubuhnya masih tegap dan atletis walau usianya telah cukup lanjut. Di tengah-tengah pemerintahan Khilafah Islamiyah yang sedang tumbuh itu, dia menjadi orang penting kedua setelah Khalifah Abu Bakar. Dia menduduki jabatan sebagai Mu’awin Tanfidz, wakil Khalifah untuk urusan pemerintahan.</p>
<p>“Aku ada bersama Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam ketika beliau memberikan perintah rahasia itu kepada Aswad,” Abu Bakar berkisah. “Ketika aku bertemu dengannya lagi, dia mengatakan bahwa tidaklah sulit untuk menemukannya di pasar Ubullah. Tanya saja kepada sembarang orang di pasar itu tentang siapa pedagang kain yang wajahnya paling buruk, semua orang akan langsung menunjuk kepadanya. Karena itulah aku memberikan satu-satunya ciri itu kepada kalian. Ternyata ada seorang lagi yang wajahnya seperti Aswad dan aku tidak tahu sama sekali.”</p>
<p>“Sebenarnya kalau kami bertanya kepada orang yang tepat mungkin kejadiannya akan lain, Khalifah,” kata Mutsana. “Kami bertanya kepada seorang anak kecil, dan anak kecil itu menipu kami, dengan gegabah kami langsung saja mengikuti informasi palsu dari anak kecil itu. Kamilah yang kurang cermat dan kurang teliti. Semoga di kemudian hari tidak terjadi lagi, insya Allah.”</p>
<p>“Apa pun yang terjadi, semua itu adalah kehendak Allah. Kita semua telah berusaha keras untuk meraih hasil yang kita harapkan, tapi apapun yang terjadi tetaplah kehendak Allah. Yang harus kita lakukan hanya bersabar dan bersyukur. Sekarang Mutsana dan Jabal telah hadir di sini dengan sehat dan tak kurang suatu apapun, terlebih lagi kalian berhasil menjalankan misi, hal itulah yang harus kita syukuri.” Umar meneduhkan dengan suaranya yang berat dan berwibawa.</p>
<p>Mutsana membuka bungkusan tas kain yang ada di dekatnya, yang sedari tadi selalu dijaganya dengan ketat. Dia membuka tas itu dan mengeluarkan isinya, sebuah tas kulit yang terlihat agak tebal.</p>
<p>“Khalifah, inilah yang diserahkan Aswad kepada kami, sebuah laporan lengkap tentang pelaksanaan misi,” katanya. “Sekarang kami sampaikan amanah ini kepada Khalifah.</p>
<p>“Subhanallah walhamdulillah, baiklah,” kata Abu Bakar. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. Bagaimana mungkin dia tidak bahagia jika dikelilingi oleh orang-orang yang luarbiasa di tengah-tengah pemerintahannya! “Tentunya misi untuk kalian belum akan selesai, Mutsana, Jabal. Insya Allah besok aku akan jelaskan misi baru kalian. Kita akan segera lancarkan futuhat kepada Persia untuk mewujudkan apa yang pernah disabdakan Rasulullah dahulu.”</p>
<p>“Tentunya kalian letih karena perjalanan jauh. Beristirahatlah, insya Allah Aswan akan mengurus semua keperluan kalian,” tambah Umar.</p>
<p>“Terima kasih banyak,” kata Mutsana….. [@sayfmuhammadisa]</p>
<p><em>Bersambung</em></p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #41</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah-episode-12/">Derap Rantai Sebuah fiksi-sejarah   Episode 12</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/derap-rantai-sebuah-fiksi-sejarah-episode-12/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1203</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Finding Hikmah on Dakwah’s Trip</title>
		<link>https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/</link>
					<comments>https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Majalah Drise]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2016 06:27:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Drise Online]]></category>
		<category><![CDATA[Monogatari]]></category>
		<category><![CDATA[cerpan islam]]></category>
		<category><![CDATA[majalah drise]]></category>
		<category><![CDATA[majalah online]]></category>
		<category><![CDATA[novel islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://majalahdrise.my.id/?p=1163</guid>

					<description><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; Namanya juga Bogor, kota hujan. Meski prakiraan cuaca di tipi bilang kalo hari ini cerah, nyantanya siang ini air langit tetap tumpah membasahi tanah Bogor. Brrrr, dingiiin! Imam memarkirkan motornya di samping rumah. Basah kuyup. Ia baru pulang sekolah. Tadinya sih, mau neduh. Tapi kepalang basah, ya, mandi saja sekalian. “Umiiii, Mamsky hujan-hujanan &#8230; <a href="https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/" class="more-link">Continue reading <span class="screen-reader-text">Finding Hikmah on Dakwah’s Trip</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/">Finding Hikmah on Dakwah’s Trip</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>drise-online.com &#8211; Namanya juga Bogor, kota hujan. Meski prakiraan cuaca di tipi bilang kalo hari ini cerah, nyantanya siang ini air langit tetap tumpah membasahi tanah Bogor.</p>
<p>Brrrr, dingiiin! Imam memarkirkan motornya di samping rumah. Basah kuyup. Ia baru pulang sekolah. Tadinya sih, mau neduh. Tapi kepalang basah, ya, mandi saja sekalian.</p>
<p>“Umiiii, Mamsky hujan-hujanan tuuuuh!” teriak Dian, adik Imam yang berusia tujuh tahun, laporan pada Umi yang lagi sibuk menanggulangi titik-titik kebocoran di rumah. Menadahinya dengan baskom.</p>
<p>“Heh! Mamsky, Mamsky!” Imam melotot sambil mengigil di depan pintu. Sumpah! Imam sebel banget. Gara-gara adik perempuan satu-satunya itu keranjingan nonton GGS, Dian memanggilnya Mamsky. “Ambilin anduk!” perintahnya pada Dian.</p>
<p>“Dian, gera ambilin anduk buat Aa Imam,” ucap umi.</p>
<p>Dian manyun, <em>kok Umi nggak marahin A Imam?</em>Tapi, kalau udah Umi yang ngomong, terpaksa deh, nurut.Umi tersenyum simpul melihat tingkah anaknya.</p>
<p>***</p>
<p class="hide-if-no-js"><a id="set-post-thumbnail" class="thickbox" title="Set featured image" href="http://majalahdrise.my.id/wp-admin/media-upload.php?post_id=1163&amp;type=image&amp;TB_iframe=1"><img class="attachment-266x266 aligncenter" src="https://i0.wp.com/majalahdrise.my.id/wp-content/uploads/2016/01/Finding-Hikmah-on-Dakwah-Trip-drise-online.com--300x192.jpg?resize=304%2C194" alt="Finding Hikmah on Dakwah Trip - drise-online.com" width="304" height="194" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>Pukul 13.30 WBR (Waktu Bogor Raya). Langit masih menurunkan berkahnya. Selesai membersihkan diri dan sholat Dzuhur, Imam menginvestigasi dapur. Hmm, dinginnya hujan di luar, paling pas dikombinasikan dengan mie instant rasa soto pake telor <em>plus</em> cabe. Dilanjutkan dengan <em>sleepinghandsome</em> bersama seperangkat alat tidur dibayar tuuunai. Eh &#8230;.</p>
<p>***</p>
<p>“Mam! Banguuun!”</p>
<p>“Siaga! Ada penyerangaan! Invasi ruang privaaat!” mendengar teriakan yang lumayan menyakitkan telinganya, Imam refleks berdiri memasang kuda-kuda. Mengira ada penyerangan sungguhan.</p>
<p><em>Buk!</em>Imam tersuruk. Serangan tak terduga datang dari arah belakang. Hebatnya, ia sama sekali tidak merasakan sakit–soalnya senjata yang digunakan cuma bantal guling kesayangannya-. Sedetik kemudian Imam menoleh untuk mencaritahu siapa pelaku penyerangan yang berani-beraninya mengganggu <em>sleeping handsome</em>nya &#8230;.</p>
<p>“Aduuuh Rif! Ngapain sih antum teriak-teriak! Nggak bisa pake cara halus banguninnya?!” Imam bersungut-sungut kesal begitu tahu pelakunya adalah Arif, teman sekelasnya, satu pengajian juga, dan yang Imam syukuriadalah mereka nggak tetanggaan. He &#8230;.</p>
<p>“Cara halus?! Asal antum tahu, ana udah dua puluh menit bangunin antum! Dari cara halus sampe yang sedikit nggak halus!” sahut Arif sebal.</p>
<p>Imam menguap, beranjak malas duduk di sebelah Arif. “Terus, antum ngapain ganggu tidur suci ana, heh?”</p>
<p>“Tidur suci? Tidur beruang yang kayak gitu mah!” sembur Arif, “antum lupa ya, sore ini kita kan ada rapat buat dauroh bulan depan. Makanya ana kesini, soalnya ana udah <em>feeling</em> antum bakalan lupa. Beneran kan <em>feeling</em> ana,” Arif menghentikan khotbahnya. Curiga. Ia segera menoleh ke sebelah.</p>
<p>“Yee, sare deui! Banguun!” Arif menyenggol lengan Imam. Membuat Imam akhirnya tersadar.</p>
<p>“Antum udah melakukan pelanggaran sore ini, menginvasi ruang privat ana tanpa izin,” Imam mengoceh. Antara sadar dan tidak sadar.</p>
<p>“Haha, mana ada invasi minta izin dulu!” Arif tertawa</p>
<p>“Ya udah, antum aja yang berangkat. Nanti hasilnya kasih tahu ana,” ucapnya lagi.</p>
<p>“Ana juga nggak berangkat kalo antum nggak berangkat,” gumam Arif sejurus kemudian berdehem. “Gimana? Nggak enak kan diinvasi? Saudara-saudara kita di Palestina lebih parah. Dari dulu sampe sekarang diinvasi sama Zionis Yahudi, ribuan nyawa syahid, tapi mereka lebih kuat dari kita. Keloyalan mereka pada Islam udah nggak perlu kita raguin lagi. Lha kita? Ngakunya sih pengemban dakwah &#8230;..”</p>
<p>“Pengemban dakwah juga manusia, Rif,” Imam buru-buru memotong kalimat Arif. Kalo nggak, satu jam lagi khotbahnya baru selesai.</p>
<p>Sahabatnya ini, memang paling bisa bikin Imam mati kutu. Imam tahulah maksud Arif. <em>Masa kita yang keadaannya jauh lebih baik, ngaku sebagai pengemban dakwah, malah lalai sama amanah dan dakwah</em>. Tapi, ia setuju dengan Arif. Jadi malu, barusan malas-malasan. Padahal merapatkan agenda dakwah kan juga penting. Ingat kata sahabat, kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir.</p>
<p>Tanpa banyak omong, Imam beranjak mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamar. Mau mandi, siap-siap sebelum Arif khotbah lagi.</p>
<p>***</p>
<p>Motor matic yang ditunggangi Imam dan Arif membelah jalan yang padat merayap serta bonus genangan air. Membuat ujung celana mereka, mau nggak mau, ikutan basah. Lagi asyik-asyiknya melaju, tiba-tiba Imam merasa ada yang nggak beres dengan motornya. Imam menepi.</p>
<p>“Kok berhenti, Mam?” Arif bertanya.</p>
<p>“Liatin ban belakang dong, Rif.”</p>
<p>Arif langsung melaksanakan intruksi Imam, melongok ban belakang. “Waaah, kempes, Mam! Bocor ini sih kayaknya!”</p>
<p>“Ya Allah &#8230;,” desis Imam.</p>
<p>Keduanya langsung celingukan cari-cari tukang tambal ban. Arif tersadar, “Di sini sih nggak ada tambal ban. Kayaknya di depan ada.”</p>
<p>Imam menghela napas, “ya udah, ana ke tambal ban dulu. Antum tunggu di sini, ya? Atau sambil jalan aja pelan-pelan. Sekalian telepon Ustadz, kita telat.”</p>
<p>“Ya udah, ana tunggu di sini,” Arif menyetujui.</p>
<p>Satu kali. Dua kali. Tiga kali. “Eeh, kenapa lagi nih motor, kok nggak mau nyala?” Imam kebingungan berkali-kali men-starter motornya tapi nggak nyala-nyala.</p>
<p>“Ya Allah &#8230;,” desis Arif. “Bensinnya ada nggak?”</p>
<p>“Hehe, iya Rif, bensinnya udah di garis <em>end</em>,” Imam nyengir sambil garuk-garuk kepala.</p>
<p>“Astaghfirullah! Ini sih udah jatuh tertimpa tangga pula!” Arif menarik napas-sambil nahan emosi juga-, dasar Imam! Adaaa aja yang lupa.“Pom bensin juga masih di depaaan, Imam!”</p>
<p>Sabar. Sabar. Namanya juga manusia, punya kekurangan dan kelebihan. Gitu-gitu, Imam sahabatnya yang paling solid. Dengan motornya, Imam siap nganterin kemana aja. Gak itung-itungan, apalagi buat dakwah.</p>
<p>“Nah, berarti Allah lagi kasih kesempatan buat kita olahraga Masbro!”</p>
<p>“Olahraga, alesan wae!”</p>
<p>“Stay woles, Masbro!Ini tanda kalo Allah mencintai kita,” Imam masih nyengir. Santai menghadapi Arif yang napasnya udah kembang-kempis nahan emosi. “<em>Innallaha ma&#8217;ashobirin</em> &#8230;,” tambah Imam. Kalau tadi Arif sudah mengingatkan Imam, sekarang gantian Imam yang mengingatkan Arif.</p>
<p>Arif menghela napas. Ikut nyengir juga. <em>That’s right</em>, saat Allah mencintai hamba-Nya, maka Allah akan mengujinya. Dan Allah selalu bersama hamba-Nya yang bersabar. Hidup ini kan, emang buat diuji. Apa lagi mereka sedang dalam perjalanan untuk dakwah. Harus ekstra sabarnya. Dakwah memang butuh pengorbanan.</p>
<p>“Bismillaah &#8230;,” gumam keduanya.</p>
<p>Imam memimpin di posisi depan. Sementara Arif mendorong dari belakang.</p>
<p>“Semangaat! Allahuakbar!” seru Imam sambil mengangkat tangan kanannya.</p>
<p>“Mam, antum udah minum obat belum sih?”</p>
<p>“Udah, ana kan minum obat antum tadi,” sahut Imam, lagi-lagi dengan gayanya yang santai. “Ayo, Rif, semangaat! Allahu akbar!”</p>
<p>“Harus, ya, nyemangetinnya begitu?” Arif bergidik. Jadi khawatir beneran sama Imam.</p>
<p>***</p>
<p>Alhamdulillaah, dua puluh menit kemudian akhirnya Imam dan Arif menemukan solusi atas dua masalahnya. Allah mempertemukan mereka dengan pom bensin dan tukang tambal ban yang berdampingan. Saking semangatnya, habis ngisi bensin, mereka langsung lari ke tukang tambal ban. Eh, dasar Imam!Kok, yang lari orangnya aja? Motornya &#8230;.</p>
<p>“Assalamu’alaikum Ustadz&#8230;,” Imam mengucap salam. Sambil menunggu ban ditambal, Imam menelepon Ustadz. Mau ngabarin. “Iya Ustadz, afwan, kita lagi dapet bonus nih. Ban bocor, bensin habis // Oh, kitu? Alhamdulillaah // Ya, syukron, Tadz // Wa’alaikumsalam.”</p>
<p>“Antum kenapa? Jangan bikin ana khawatir dong, dari tadi nyengiir aja,” tanya Arif sambil merapatkan jaketnya. Menghalau dinginnya angin sore kota Bogor.</p>
<p>Imam malah nyengir lebar, “setelah kesulitan ada dua kemudahan. Janji Allah emang nggak pernah salah ya, Rif? Barusan Allah kasih kita pom bensin sama tukang tambal ban deketan. Sekarang, Allah mudahkan kita dengan agenda rapatnya diundur habis Maghrib. Jadi, kita nggak telat. Soalnya, yang lain juga kejebak macet.”</p>
<p>Arif mengerlingkan mata, “itu kata Ustadz?”</p>
<p>“Kata tukang bensin, tadi. Ya, kata Ustadz lah, Rif!”</p>
<p>“Alhamdulillaah &#8230;,” ucap Arif, “bener yang antum bilang. Janji Allah selalu benar. Setelah kesulitan ada dua kemudahan, semua umat Islam percaya sama janji Allah yang ini. Seharusnya, semua umat Islam juga percaya dengan janji kemenangan Islam. Kan, sama-sama janji Allah,” tambahnya.</p>
<p>“Jang, rebes bannya!” seru si Mamang tambal ban separuh baya.</p>
<p>“Alhamdulillah, baraha, Mang?” tanya Imam sambil merogoh sakunya.</p>
<p>“Tilu puluh ribu.”</p>
<p>“Hah?! Tilu puluh?!” Imam dan Arif <em>shock</em> mendengarnya. Nggak salah?!</p>
<p>“Hehehe, heureuy! Delapan rebu.”</p>
<p>Hh, Imam dan Arif menghembuskan napas lega. “Ah, si Mamang, seenaknya wae naikin harga. Untung teu jantungan urang,” ujar Imam sambil menyerahkan empat lembar uang dua ribuan.</p>
<p>“Ah, da’ pemerintah juga seenaknya naikin harga BBM,” sahut si Mamang, “nyesel euy, milih yang polkadot. Sama wae. Nggak mikirin rakyat kecil.”</p>
<p>Arif dan Imam mengerutkan dahi. <em>Polkadot? Ari si Mamang milih naon?</em></p>
<p>“Emang nggak akan ada bedanya, Mang. Soalnya cuma beda orang aja, peraturan yang diterapin mah sama &#8230;,” Arif mencoba menjelaskan.</p>
<p>“Teuing. Sekarang mah, Mamang nggak mau mikirin pemerintah. Kajen jadi urusan orang-orang atas. Yang penting mah, Mamang masih bisa nyari makan buat anak-istri,” Mamang menyela tidak peduli.</p>
<p>Glek! Ini bukan pertama kalinya Imam dan Arif mendengar orang mengeluhkan pemerintah yang pada faktanya tidak juga pro rakyat. Mereka bosan dengan janji-janji manis sang penguasa yang manisnya kayak gulali. Sekali emut, langsung hilang.Parahnya, bukannya mencari solusi. Mereka malah memilih menjadi apatis. Cuek bebek dengan kondisi yang ada. Dan akhirnya bikin mereka jadi individualis. Cuma mikirin diri sendiri.</p>
<p>Ini dia pe-er besar para pengemban dakwah. Menyadarkan umat Islam tentang kebobrokan sistem yang ada, Kapitalisme beserta anak-cucunya (Demokrasi, Sekulerisme, dll). Dan menyadarkan mereka akan kewajiban untuk terikat pada ajaran Islam kaaffah. Menyeluruh. Nggak setengah-setengah. Yang hanya bisa diterapkan dengan Khilafah. Tapi, Karena yang akan kita ubah adalah umat. Jadi, pe-er besar ini nggak bisa kalau hanya dipikul per orang. Supaya bisa mengubahnya, kita harus bergabung bersama jamaah dakwah yang benar-benar memperjuangkan Islam kaaffah.</p>
<p>Imam dan Arif amat bersyukur telah menemukan kelompok tersebut.</p>
<p>“Muhun, Mang, pamit dulu. Besok kita mampir lagi, lanjutin ngobrolnya,” ujar Arif.</p>
<p>Berhubung sudah hampir setengah enam, mereka harus pamit. Agenda dakwah selanjutnya menunggu. Tak lupa mereka menyalami si Mamang. Tanpa banyak bicara, Imam segera memutar kunci. Ditariknya rem. Ditekannya strater. Dan, ngeeeng &#8230; kali ini tanpa hambatan.</p>
<p>***</p>
<p>Alhamdulillah. Dua puluh enam menit, lima belas detik kemudian Imam dan Arif sampai di rumah Ustadz, tempat rapat digelar. Yang lain juga sudah datang. Lengkap. Hanya satu orang yang tidak datang karena sakit.</p>
<p><em>Gimana tadi? Katanya kehabisan bensin? Bannya juga bocor? Bukannya telepon saya, biar saya dorongin pake kaki. Jadi, kalian gak usah dorong</em>. Tiba-tiba Imam dan Arif dihujani pertanyaan. Karena perjalanan mereka yang paling dramatis di antara yang lain. Hampir-hampir mereka mau buat konferensi pers untuk mengklarifikasi.Tapi, berhubung adzan Maghrib sudah mengumandang. Mereka urungkan niat itu.</p>
<p>Usai shalat berjamaah, rapat pun dimulai.Adalah sekitar dua jam mereka duduk membuat lingkaran. Bertukar pikiran sambil sesekali diselingin gurauan. Saling memberi masukan. Hingga akhirnya didapati sebuah kesepakatan.</p>
<p>“Alhamdulillah, jadi sepakat ya, ikhwan fillah, dengan susunan acara dan panitia yang kita tentukan hari ini. Semoga Allah memudahkan urusan kita.Dan semoga nashrullah semakin dekat. <em>Jazakumullah Khoiron Katsiran</em> untuk antum semua yang sudah bersedia datang, meski dihadapi dengan berbagai hambatan.Kehadiran satu dari kalian adalah penguat bagi semua. Semoga itu menjadi tiket untuk kita masuk syurga &#8230;.”</p>
<p>Seketika suara, “amiiin,” terucap dari semua yang hadir. Imam dan Arif yang paling khusyuk mengucapkannya.Dalam hati terus merapalkan kalimat pujian serta mohon ampunan pada-Nya. Seketika menyadari betapa pentingnya kehadiran mereka dalam rapat ini.Imam menyesal tadi sempat malas-malasan saat dibangunkan Arif. Begitu pula dengan Arif yang menyesal sempat menggerutu dalam hati saat perjalanannya diuji. Kelak, mereka akan melakukannya lebih baik. Karena dakwah memang butuh pengorbanan, kesabaran dan kebersamaan.</p>
<p>***</p>
<p><em>Oleh : Maswha Faizah</em></p>
<p>di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #40</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/">Finding Hikmah on Dakwah’s Trip</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://majalahdrise.my.id">Majalah Remaja Islam Drise</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahdrise.my.id/finding-hikmah-on-dakwahs-trip/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1163</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
