Majalahdrise.com – Sis, coba sejenak buka mata dan pikiranmu. Lihat berita baca koran. Perhatikan dengan jeli gimana kondisi kaum muslimin saat ini? Kemiskinan meningkat, Kriminalitas kian parah, komunias lesbi, homo, gay plus transgender kian beringas nunjukin eksistensinya. Kaum perempuan ogah-ogahan menjaga kehormatan mereka. Anak kecil kian banyak jadi korban kekerasan dan pelecehan seksual. Angka perceraian kian meningkat. Masalah pendidikan gak pernah berakhir.
Negeri muslim terus menerus manut sama Negara kafir, dan sederet permasalahan kaum muslim lainnya yang jika saya tuliskan disini, selain bikin tangan saya pegel, juga gak bakal ketampung saking banyaknya. Sekilas kalian mungkin mengatakan, “itu udah biasa kali. Gak usah mikir kemana-mana. Urus diri sendiri aja dulu. Masa bodo. Boro-boro Nyibukin mikir orang lain. Gue aja banyak masalah gini”. Hmmm, kalau ada yang jawabnya gitu, kasian banget. Cuman mikirin diri sendiri. Belon aja kalo mati nggak ada yang mandiin, nyolatin, atau nguburin. Mau? Masalah yang dihadapi umat itu tanggung jawab kita. Lantaran kita bagian dari umat sedunia. Itu artinya, kita bakal terkena getahnya meski berdiami diri.
Sekarang, coba kita berpikir lebih kritis. Harusnya kan gak ada kemiskinan, karena negeri kita kaya sumber daya alamnya. Kriminalitas bisa diminimalisir, karena hukum dalam Islam tegas. Harusnya gak ada lesbi, gay, transgender, karena fitrah manusia suka ama lawan jenis. Ayam jantan aja doyannya betina, bukan jantan,betul? Harusnya perempuan dan anak-anak nggak mengalami berbagai pelecehan dan kekerasan, karena dalam Islam mereka dilindungi oleh pihak laki-laki dan negara. Harusnya pendidikan menjadi sarana untuk mencetak generasi cemerlang, bukan generasi yang doyan narkoba, tawuran, free seks, apalagi keranjingan nonton konser musik. Masih banyak harusnya-harusnya lain yang mesti kita pertanyakan. Kenapa kondisi umat jadi terpuruk kaya gini padahal kita sebaik-baik ummat, dan agama kita adalah sebaik-baik agama??
Ketika Ajaran Islam Dicuekin Sis, kondisi di atas kejadian lantaran ajaran Islam dicuekin. Yang namanya seperangkat aturan, emang nggak akan diketahui kalau dicuekin. Apalagi jika kita meyakini sesuatu itu sebagai aturan hidup. Mempelajarinya emang kudu. Nah, Islam sebagai aturan hidup, hanya akan jadi seonggok kitab jika nggak dipelajari untuk kemudian diterapkan. Islam itu sistem hidup lho. Bukan sekedar agama seperti ajaran agama yang lain. Islam beda. Islam adalah agama sekaligus pandangan hidup ummat manusia. Jadi, First of all, kalian kudu membenahi diri. Mulai detik ini, kuatkan tekad untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Nah, untuk tahu gimana caranya jadi orang baik, maka kalian kudu ngaji. Nggak bisa nggak. Harga pas. Nggak bisa ditawar lagi. Ngaji di sini bukan ngaji sekadar baca al-Quran tanpa paham maknanya. Tapi mengenal Islam yang mendalam hingga kalian dapetin ilmunya dan paham untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Faham Islam adalah satu-satunya cara agar hidup kalian ke depan jelas arahnya. Gimanapun, kelak kalian bakal jadi Ibu lho. Menjadi seorang Ibu, tentu membutuhkan ilmu, apalagi kalau udah punya anak. Eits, ini kok udah ngomong jadi ibu-ibu ajah sih? Kita kan masih punya cita-cita laen. Ya gak papa dong. Ngaji, mendalami islam untuk mempersiapkan ilmu dalam rangka mendidik anak kelak agar terwujud generasi cemerlang. Ini bukan perkara gampang dan butuh waktu yang gak sebentar lho. Apalagi berharap anak cerdas dan faham agama. Itu semua Gak akan terlahir dari didikan seorang Ibu yang gak faham ilmu agama.
Ini butuh perhatian serius, Sis. Ditangan kalianlah, peradaban Islam sedang di persiapkan, sehingga generasi mendatang betul-betul mendapatkan ilmu mumpuni yang siap menorehkan tinta emas peradaban Islam untuk kedua kalinya. Dua hal yang perlu kalian sadari. Kalian punya dua peran penting bin genting untuk saat ini. Apa peran itu? Kalian adalah generasi muda, arsitek peradaban untuk kejayaan Islam dimasa depan. Selain itu, kalian adalah calon Ibu pendidik generasi cemerlang. Bercita-citalah untuk menjadi Ibu yang memiliki anak pemberani penakluk konstantinopel, Muhammad Al-Fatih. Bayangkanlah bagaimana bahagianya menjadi Ibu seperti Ummu Imaarah yang merelakan anak-anaknya menjadi syuhada.
Bercita-citalah, menjadi Ibu yang memiliki anak cerdas seperti Ibu Imam As-Syafi’i. Itulah sebaik-baik cita-cita. Dan itulah sebaik-baik prestasi. Masa iya sih pengen jadi Ibu dan berharap punya anak seperti Imam Asy-Syafi’I, tapi kerjaannya hang out, demen konser plus doyan jogetan? Itu mah mimpi kali yee… so, biar cita-cita plus tujuan kamu jelas, Ngaji yuks! [Juanmartin]
di muat di majalah remaja islam drise edisi 52
